Claim Missing Document
Check
Articles

Representasi Gaya Kepemimpinan Tokoh Raya Pada Film Raya And The Last Dragon Terhadap Perilaku Organisasi Di Era Modern Novita Indah Dwi Ariani; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5667

Abstract

Dalam konteks organisasi modern, kepemimpinan dianggap sebagai faktor strategisdalam menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perbedaan generasi. Studi inimenganalisis representasi gaya kepemimpinan Raya dalam film Raya and The LastDragon dan relevansinya dengan praktik kepemimpinan kontemporer. Menggunakanmetode kualitatif dan analisis konten, data utama diperoleh dari film animasi Disney(2021), yang menggambarkan dinamika kepemimpinan, kolaborasi, dan perilakuorganisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Raya mewakili keberanian dalampengambilan keputusan, konsistensi dalam mencapai tujuan, motivasi kelompok,apresiasi terhadap anggota lain, dan kemampuan belajar dari kesalahan. Temuan inisejalan dengan kebutuhan organisasi modern yang menekankan kepercayaan, empati, dankolaborasi lintas generasi. Implikasi penelitian ini bersifat teoretis, memperkaya studikepemimpinan dengan perspektif media populer, dan praktis, memberikan inspirasi bagiorganisasi untuk membangun budaya kerja yang adaptif, kolaboratif, dan inovatif. Studilebih lanjut direkomendasikan untuk membandingkan representasi kepemimpinan diberbagai media budaya guna menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. In the context of modern organizations, leadership is considered a strategic factor infacing the challenges of globalization, digitalization, and generational differences. Thisstudy analyzes the representation of Raya's leadership style in the film Raya and The LastDragon and its relevance to contemporary leadership practices. Using qualitativemethods and content analysis, the main data was obtained from the Disney animated film(2021), which depicts the dynamics of leadership, collaboration, and organizationalbehavior. The results show that Raya represents courage in decision-making, consistencyin achieving goals, group motivation, appreciation for other members, and the ability tolearn from mistakes. These findings are in line with the needs of modern organizationsthat emphasize trust, empathy, and cross-generational collaboration. The implications ofthis research are theoretical, enriching leadership studies with a popular mediaperspective, and practical, providing inspiration for organizations to build an adaptive,collaborative, and innovative work culture. Further studies are recommended to comparerepresentations of leadership in various cultural media to produce a more comprehensiveunderstanding.
Representasi Kepemimpinan Manipulatif: Studi Kasus Jordan Belfort dalam Film The Wolf of Wall Street Hidan Razan Anwar; Novita Indah Dwi Ariani; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5668

Abstract

Kepemimpinan merupakan faktor penting bagi keberhasilan organisasi karena tanpa kepemimpinanyang baik, tujuan bersama sulit tercapai. Fenomena kepemimpinan manipulatif dalam film The Wolfof Wall Street memberikan gambaran bagaimana kekuasaan dapat disalahgunakan untukkepentingan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kepemimpinanmanipulatif Jordan Belfort serta relevansinya dengan teori kepemimpinan dan kekuasaan. Metodeyang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi, melalui pengkajian adeganadegankunci film dan literatur pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Belfortmenerapkan tiga bentuk utama manipulasi, yaitu bahasa persuasif, manipulasi emosional, daniming-iming finansial. Strategi tersebut menimbulkan dampak berbeda pada tiga level: karyawanyang termotivasi secara emosional namun tereksploitasi, investor yang mengalami kerugianfinansial, serta organisasi Stratton Oakmont yang runtuh akibat praktik ilegal. Analisis jugamenegaskan keterkaitan gaya kepemimpinan Belfort dengan teori power bases French & Raven,konsep kekuasaan Weber, dan perspektif Foucault mengenai kontrol. Temuan ini menunjukkanperlunya organisasi menghindari gaya kepemimpinan manipulatif demi menjaga reputasi dankeberlanjutan, serta mendorong penelitian lebih lanjut untuk membandingkan fenomena serupadalam film atau konteks nyata. Leadership is a crucial factor for organizational success, as without effective leadership, shared goals aredifficult to achieve. The phenomenon of manipulative leadership in The Wolf of Wall Street illustrates howpower can be misused for personal gain. This study aims to analyze the representation of Jordan Belfort’smanipulative leadership and its relevance to leadership and power theories. The research employs adescriptive qualitative method with content analysis, examining key scenes from the film alongside supportingliterature. The findings reveal that Belfort applied three main forms of manipulation: persuasive language,emotional manipulation, and financial incentives. These strategies had distinct impacts at three levels:employees who were emotionally driven yet exploited, investors who suffered financial losses, and theorganization Stratton Oakmont which collapsed due to illegal practices. The analysis further highlights theconnection between Belfort’s leadership style and French & Raven’s power bases, Weber’s concept ofauthority, and Foucault’s perspective on control. The study underscores the importance of avoidingmanipulative leadership to safeguard organizational reputation and sustainability, while suggesting furtherresearch to compare similar phenomena in other films or real contexts
Eksplorasi Strategi Manajemen Stres pada Tokoh Moko dalam Film 1 Kakak 7 Ponakan Ratu Hemas Titalya Ananda Lutfitami; Novita Indah Dwi Ariani; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5669

Abstract

Penelitian ini mengamati manajemen stres yang dialami oleh Moko dalam film “1 Kakak 7Ponakan”, yang merefleksikan beban peran ganda pada generasi sandwich. Tujuan penelitian adalahmengidentifikasi dan menganalisis strategi koping yang digunakan Moko untuk menghadapitanggung jawab merawat tujuh keponakan sambil menjalani peran sebagai mahasiswa dan pekerja.Metode yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dengan observasi film berulang, dokumentasiadegan, dan analisis tematik berdasarkan teori problem focused dan emotion focused coping. Hasilmenunjukkan bahwa Moko menerapkan strategi koping, problem focused coping dan emotionfocused coping. Adegan-adegan konkret membatalkan pembelian laptop untuk biaya pengobatan,curhat kepada Maurin, dan menilai ulang keadaan mengilustrasikan adaptasi praktis dan emosionalyang mengurangi tekanan langsung dan membantu fungsi sehari-hari. Meskipun strategi koping initerlihat membantu dalam jangka pendek, beberapa situasi juga menunjukkan tanda-tanda kelelahan,gangguan, dan pengorbanan kebutuhan pribadi, yang menunjukkan bahwa efektivitasnya mungkinbersifat sementara dan berisiko menimbulkan dampak negatif jangka panjang. Temuan inimenegaskan peran dukungan sosial dan penataan prioritas dalam efektivitas koping. Implikasipenelitian menunjukkan bahwa analisis film dapat menjadi sumber pemahaman tentang manajemenstres dalam konteks keluarga besar dan relevan dengan tujuan kesehatan mental (SDGs 3). Untukpenelitian selanjutnya disarankan studi lapangan yang melibatkan responden nyata dan evaluasiintervensi jangka panjang untuk menguji efektivitas strategi koping yang teridentifikasi. This study examines the stress management experienced by Moko in the film "1 Kakak 7 Ponakan",which reflects the burden of a dual role on the sandwich generation. The research aims to identifyand analyze the coping strategies Moko uses to handle the responsibility of caring for seven niecesand nephews while juggling his roles as a student and an employee. The method used is a qualitativeapproach involving repeated film observation, scene documentation, and thematic analysis basedon the theory of problem focused and emotion focused coping. The results show that Moko appliesboth problem-focused coping and emotion focused coping strategies. Concrete scenes canceling alaptop purchase to cover medical bills, confiding in Maurin, and reassessing the situation illustratespractical and emotional adaptations that reduce immediate stress and aid daily functioning.Although these coping strategies appear helpful in the short term, some situations also show signsof burnout, distraction, and the sacrifice of personal needs, indicating that their effectiveness maybe temporary and risks causing negative long-term impacts. These findings confirm the role of socialsupport and priority setting in coping effectiveness. The research implications suggest that filmanalysis can be a source of understanding about stress management in the context of an extendedfamily and is relevant to mental health goals (SDGs 3). For further research, field studies involving real respondents and evaluations of long term interventions are recommended to test theeffectiveness of the identified coping strategies.
Interpretasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Tokoh Utama Dalam Film Jumbo Novi Dwi Anggraeni; Novita Indah Dwi Ariani; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5670

Abstract

Kepemimpinan transformasional dipandang mampu meningkatkan motivasi, kreativitas,dan memperkuat hubungan sosial. Film, sebagai bagian dari budaya populer, juga berperandalam merepresentasikan nilai kepemimpinan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada organisasi formal,sehingga belum banyak yang mengkaji representasi kepemimpinan dalam film lokal.Penelitian ini bertujuan menganalisis kepemimpinan transformasional yang ditampilkantokoh utama dalam film animasi Jumbo produksi Visinema. Metode yang digunakan adalahkualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif melalui observasi film, dokumentasi dialog,dan telaah pustaka. Hasil menunjukkan tokoh Don menampilkan empat dimensikepemimpinan transformasional: pengaruh ideal, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual,dan perhatian individual. Nilai-nilai tersebut dibentuk melalui pengalaman keluarga,konflik dengan sahabat, serta simbol budaya berupa warisan lagu. Penelitian inimemperluas literatur dengan menghubungkan teori kepemimpinan, komunikasi, danbudaya populer. Implikasinya, film dapat menjadi sarana pendidikan nilai kepemimpinansekaligus relevan dengan pencapaian SDG 16 mengenai perdamaian dan keadilan. Transformational leadership is considered capable of enhancing motivation, creativity, andstrengthening social relationships. Film, as part of popular culture, also plays a role in representingleadership values that resonate with everyday life. However, most previous studies have focused onformal organizational contexts, leaving limited exploration of leadership representation in localfilms. This study aims to analyze the transformational leadership displayed by the main characterin the animated film Jumbo produced by Visinema. The research employed a descriptive qualitativemethod with a narrative approach through film observation, dialogue documentation, and literaturereview. The findings reveal that Don, the protagonist, demonstrates four dimensions oftransformational leadership: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation,and individualized consideration. These values are shaped by family experiences, conflicts withfriends, and cultural symbols such as a song inherited from his parents. This study expands theliterature by linking leadership theory, communication, and popular culture. The implication is thatfilms can serve as a medium for leadership education while also aligning with the achievement ofSDG 16 on peace and justice.
Fenomena Kepemimpinan Tokoh Utama Perempuan Colored People dalam Film Hidden Figures Berdasarkan Contemporary Leadership Theory Anggita Dwi Yuniati; Novita Indah Dwi Ariani; Gagas Gayuh Aji; Amaliyah Amaliyah; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia Sinulingga
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5690

Abstract

Kepemimpinan perempuan dalam karya sastra maupun film menjadi isu penting karena masih seringterpinggirkan oleh dominasi laki-laki, sementara representasi perempuan dalam film dapat menjadisarana untuk menegaskan kesetaraan serta membuka ruang diskusi mengenai keberanian perempuandalam menghadapi diskriminasi berbasis gender maupun ras. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis tokoh Katherine Johnson dalam film Hidden Figures sebagai perwujudankepemimpinan perempuan kulit hitam yang mampu menembus batasan sosial dan profesionaldengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan kritik sastra feminis, yang menempatkanKatherine dalam kerangka feminisme gelombang ketiga, yaitu feminisme yang menonjolkanketangguhan, keberanian, dan perjuangan perempuan di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kepemimpinan Katherine tercermin dari tiga aspek utama, yaitu perannya dalam menghitunglintasan roket NASA secara akurat, usahanya memperoleh pengakuan di ruang rapat strategis yangsebelumnya tertutup bagi perempuan kulit hitam, serta konsistensinya dalam melawan diskriminasirasial dan gender. Temuan ini menegaskan bahwa film Hidden Figures menghadirkan representasikepemimpinan transformasional yang menekankan pada semangat kesetaraan, inspirasi, danperubahan sosial, sekaligus dapat menjadi inspirasi bagi pembahasan kepemimpinan perempuankontemporer serta memiliki relevansi dengan isu kesetaraan gender dalam kerangka SDGs.Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dengan membandingkan representasikepemimpinan perempuan dalam film lain atau dalam konteks budaya yang berbeda, namunpenelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada satu tokoh sehingga belummenggambarkan kompleksitas kepemimpinan perempuan secara menyeluruh. Women’s leadership in literature and film remains a crucial issue, as it is often overshadowed bymale dominance, despite the fact that female representation on screen can serve as an importantmedium to affirm equality and foster discussions on women’s courage in facing gender- and racebaseddiscrimination. This study aims to analyze the character of Katherine Johnson in the filmHidden Figures as a representation of Black women’s leadership that succeeds in transcending socialand professional barriers. The research employs a descriptive method with a feminist literarycriticism approach, situating Katherine within the framework of third-wave feminism, whichemphasizes resilience, courage, and women’s struggles in the public sphere. The findings revealthree main aspects of Katherine’s leadership: her accuracy in calculating NASA’s rocket trajectories,her efforts to gain recognition in strategic meeting rooms previously closed to Black women, andher persistence in resisting racial and gender discrimination. These findings highlight that Hidden Figures portrays transformational leadership that emphasizes equality, inspiration, and socialchange, while also serving as an inspiration for contemporary discussions of women’s leadershipand showing relevance to gender equality issues within the framework of the SDGs. Future researchmay broaden the scope by comparing women’s leadership representations in other films or culturalcontexts; however, this study remains limited by its focus on a single character, which does not fullycapture the complexity of women’s.
Representasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Oleh Tokoh Ucup Pada Film Mencuri Raden Saleh Putri Nia Rahmadani; Amara Bilqis Kinanti; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5692

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi gaya kepemimpinan transformasional yang diwujudkan olehkarakter Ucup dalam film Mencuri Raden Saleh. Di era digital, film sebagai produk media populertidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk menyampaikan nilainilaisosial dan kepemimpinan kepada generasi muda melalui platform teknologi seperti layananstreaming dan media sosial. Namun, meskipun teknologi telah memperluas akses dan jangkauanterhadap konten film, kajian akademik yang secara mendalam menyoroti bagaimana kepemimpinantransformasional direpresentasikan dalam film-film lokal Indonesia masih tergolong minim.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menganalisis beberapa adegankunci untuk mengidentifikasi empat dimensi kepemimpinan transformasional: pengaruh ideal,motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual. Temuan menunjukkan bahwaUcup menunjukkan kepemimpinan karismatik, memotivasi timnya melalui visi bersama,merangsang kreativitas dalam pemecahan masalah di bawah tekanan, dan mengakui potensi uniksetiap anggota. Representasi ini menyarankan bahwa kepemimpinan transformasional tidak terbataspada organisasi formal tetapi juga dapat tumbuh dalam kelompok informal, dan melalui mediadigital, nilai-nilai ini dapat menjangkau audiens yang lebih luas serta menjadi sumber inspirasikepemimpinan dalam konteks sosial kontemporer. This study examines the representation of transformational leadership style embodied by thecharacter Ucup in the film Mencuri Raden Saleh. In the digital age, films as popular media productsnot only serve as entertainment but also become an effective means of conveying social andleadership values to the younger generation through technological platforms such as streamingservices and social media. However, even though technology has expanded access to and the reachof film content, there is still a lack of in-depth academic studies highlighting how transformationalleadership is represented in Indonesian local films. This study uses a descriptive qualitative approachby analyzing several key scenes to identify four dimensions of transformational leadership: idealinfluence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. Thefindings show that Ucup exhibits charismatic leadership, motivating his team through a sharedvision, stimulating creativity in problem-solving under pressure, and recognizing the uniquepotential of each member. This representation suggests that transformational leadership is notlimited to formal organizations but can also grow in informal groups, and through digital media,these values can reach a wider audience and become a source of leadership inspiration in thecontemporary social context.
Peran Kepemimpinan Situasional dalam Menginspirasi Solidaritas kelompok pada Film Animasi A Bug’s Life Ridila Novita; Amaliyah Amaliyah; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.4125

Abstract

Perubahan lingkungan organisasi menuntut pemimpin yang adaptif dalam mengelola resistensi, menyesuaikan gaya kepemimpinan, dan membangun solidaritas kelompok. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan kepemimpinan situasional dalam merespons tingkat kesiapan kelompok serta kontribusinya terhadap transformasi solidaritas organisasi pada film animasi A Bug’s Life. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode naratif. Populasi penelitian mencakup seluruh karakter dan dinamika organisasi dalam film, sedangkan sampel dipilih secara purposif dengan menempatkan tokoh Flik dan sejumlah adegan kunci sebagai fokus analisis. Data dikumpulkan melalui observasi berulang terhadap film, studi literatur, dokumentasi dialog, dan tangkapan visual, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan indikator gaya kepemimpinan situasional, yaitu telling, selling, participating, dan delegating, serta konsep solidaritas mekanik dan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Flik menyesuaikan gaya kepemimpinannya secara bertahap sesuai perubahan kesiapan koloni semut. Gaya telling pada tahap awal menghadapi resistensi karena bertentangan dengan tradisi kelompok, sedangkan gaya selling dan participating mulai membangun pemahaman, keterlibatan, dan pembagian peran. Pada tahap delegating, anggota kelompok mampu bertindak mandiri berdasarkan visi bersama. Proses tersebut mendorong pergeseran solidaritas dari mekanik yang berorientasi pada keseragaman menuju solidaritas organik yang menekankan diferensiasi fungsi dan interdependensi. Penelitian menyimpulkan bahwa kepemimpinan situasional dapat memperkuat kohesi, kreativitas, keberanian, dan kemampuan kelompok menghadapi perubahan serta penindasan. Temuan ini memberikan gambaran praktis bagi organisasi modern mengenai pentingnya fleksibilitas kepemimpinan dalam membangun solidaritas yang adaptif dan berkelanjutan.
Co-Authors Agung, Chris Petra Aldila Deselma Mubarrokah Aly, Muhammad Nilzam Amaliyah Amaliyah Ria Triwastuti Amaliyah, Amaliyah Amara Bilqis Kinanti Ameziziana, Ameziziana Amillia Kartika Sari Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Andria Kusuma, Vicky Anggita Dwi Yuniati Anisa Fitri Sya'bania Apsari, Citra Widhi Arif Fatchurahman Arlinda Dwi Ariyani, Diva Aroyandini, Elvara Norma Assita, Rodhatul Az Zahra Hasoloan, Hanifah Bambang Suharto Bambang Suharto Berliana Devianti Putri Bilqis Kinanti, Amara Bintang Adi Chandra Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari CITRA WIDHI APSARI Claresta, Eilen Dewa Rizky Nugroho Dimisqiyani, Erindah Dita Fachriza Ulfa Eka Setyawati, Riska Elfira Nanda Virgyta Saputra ERINDAH DIMISQIYANI Erindah Dimisyqiyani Erindah Dimisyqiyani Fadli Ama Fahria Herlambang, Ivan Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Feby Astrid Kesaulya Ferdian, Fina Ayu Firdaus, Aji Akbar Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Hamid, Nur Hamzah Arof Hanifah Az Zahra Hasoloan Hardiansyah, Putri Herlyanto Doni Wicaksono Hidan Razan Anwar Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Indah Dwi Ariani, Novita Indri Mustika Dewi Kirana, Angkita Wasito Kristanto, Damar Labibul Hilmi, Harun Marischa Resmana, Sheila Maysura, Suci Qaulan Muhaimin Muhaimin Muhammad Ainur Rizky Hidayatullah Al Huda Muhammad Fikri Muqmiroh, Lailatul Mustika Dewi, Indri Navelsa Angraeni Nayla Lisda Amalia Niza Unnavi, Ningrum Nor Kholis Novi Dwi Anggraeni Novia Indah Lestari Novita Indah Dwi Ariani Primavera Rizka Nalarsari Putri Nia Rahmadani Putri Ramadhani, Dinar Rachman Sinatriya Marjianto Ratu Hemas Titalya Ananda Lutfitami Ria Triwastuti, Amaliyah Ridila Novita Rintaati Putri, Allea Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Safitri, Yunita Eka Salman Alfarisi Sedianingsih, Sedianingsih Seisha Hariono, Emely Septyani Prihatiningsih Sinta Rahmah Auliya Suharno, Novianto Edi Sumardiko, Dwi Setiani Suprapto, Sena Sukmananda Vicky Andria Kusuma Virelita Maharani, Armaniella Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Winda Kusumawardani Wishelda Izdihar, Damara Yunita Eka Safitri