Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI SELF-CARE DALAM PENANGANAN STRES PASCA PENSIUN MELALUI TEORI COPING LAZARUS PADA FILM THE INTERN Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 9 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi September 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i9.979

Abstract

Retirement is a significant life transition often accompanied by psychological stress due to the loss of role, routine, and identity. However, many retirees lack effective strategies to manage this stress, leading to decreased well-being. This study aims to interpret the self-care strategies employed by the character Ben Whittaker in the film The Intern (2015) to cope with post-retirement stress, analyzed through the lens of Lazarus & Folkman's coping theory. Using a qualitative descriptive case study design, the data from the film were analyzed through thematic analysis based on Lazarus & Folkman's coding framework (primary appraisal, secondary appraisal, problem-focused coping, emotion-focused coping). The results show that Ben's self-care process begins with an honest primary appraisal of his losses as a threat, triggering reflective emotion-focused coping. He then proactively engages in problem-focused coping by creating new routines and seeking challenging roles, while simultaneously maintaining emotional balance through social connectivity and positive nostalgia. The pinnacle of his adaptation is the mature integration of both coping strategies to navigate complex interpersonal dilemmas. Theoretically, this study enriches the transactional model by illustrating the dynamic, non-linear integration of coping strategies in later life. Practically, it offers a narrative model for developing psychosocial interventions that emphasize agency, social reconnection, and holistic self-care for retirees, suggesting that educational modules based on this film could facilitate healthy coping discussions.
Perspektif Nilai Kekeluargaan dalam Pengasuhan Alternatif pada Film 1 Kakak 7 Ponakan Fardana, Valdavi Rachma Otta; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Aji, Gagas Gayuh; Sinulingga, Rizky Amalia
Jurnal Pusat Studi Pendidikan Rakyat Volume 5 Nomor 4 November 2025
Publisher : CV. PUSDIKRA MITRA JAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jpspr.v5i4.2881

Abstract

Keluarga merupakan institusi sosial dasar yang berperan penting dalam membentuk nilai, norma, dan identitas individu. Nilai kekeluargaan, seperti tanggung jawab, kasih sayang, solidaritas, dan pengorbanan, menjadi pondasi utama dalam menjaga kesejahteraan anggota keluarga, khususnya anak-anak. Namun, tidak semua anak dapat tumbuh di bawah asuhan orang tua kandung, sehingga pengasuhan alternatif atau kinship care menjadi bentuk praktik yang sering ditemui, terutama dalam keluarga besar di Indonesia. Kondisi ini menuntut keterlibatan penuh dari anggota keluarga lain yang mengambil alih peran pengasuhan dengan menghadirkan dukungan emosional, sosial, maupun ekonomi. Media populer, khususnya film, dapat menjadi sarana representasi sosial yang memperlihatkan bagaimana praktik pengasuhan alternatif sekaligus nilai kekeluargaan dijalankan dalam keseharian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi nilai kekeluargaan dalam pengasuhan alternatif melalui kajian terhadap film “1 Kakak 7 Ponakan”. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi, di mana data primer bersumber dari adegan-adegan film, sementara data sekunder diperoleh dari literatur relevan mengenai keluarga dan pengasuhan alternatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menekankan empat nilai kekeluargaan utama, yaitu tanggung jawab, kasih sayang dan kepedulian, pengorbanan, serta gotong royong dan solidaritas. Keempat nilai tersebut membentuk gambaran utuh tentang bagaimana keluarga besar menjaga keberlangsungan pengasuhan anak meski dalam keterbatasan. Temuan ini memperlihatkan bahwa film sebagai media populer bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana refleksi sosial yang menegaskan pentingnya nilai kekeluargaan bagi ketahanan keluarga dan keberlanjutan generasi.
Representasi Motivasi Intrinsik Perkembangan Karier pada Karakter Rara dalam “Film Imperfect” Ferdian, Fina Ayu; Amaliyah, Amaliyah; Sinulingga, Rizky Amalia; Dimisyqiyani, Erindah; Aji, Gagas Gayuh
Journal of Educational Research and Humaniora (JERH) Volume 3 Nomor 3 September 2025
Publisher : CV. Pusdikra Mitra Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jerh.v3i3.2888

Abstract

Intrinsic motivation plays an important role in encouraging individuals to grow both personally and professionally in order to achieve their desired careers. This study aims to explore the representation of intrinsic motivation as portrayed by the character Rara in the film 'Imperfect' in the process of career development and audience perception. Using a descriptive qualitative method, this research provides in-depth observations on how intrinsic motivation plays a crucial role in the formation of professional identity, resilience in facing external pressure, and success in developing an authentic career. The character Rara is depicted as an individual whose physical appearance does not meet beauty standards, who constantly faces discrimination, and struggles with low self-esteem. Rara's intrinsic motivation is evident in her career development, where the drive to change and improve her quality comes from internal needs. Her decision to change her appearance to attain a managerial position is based on a personal desire to prove her abilities and gain recognition for her competence as well as achieve self-growth. Intrinsic motivation can clash with workplace norms when personal values conflict with organizational expectations. Through the film, viewers are introduced to the importance of intrinsic motivation in shaping an authentic career journey and social criticism regarding beauty standards. This research shows that the role of visual media, such as film, plays a crucial role in shaping society's understanding of intrinsic motivation, providing an opportunity to educate viewers about the importance of intrinsic motivation in career development.
Interpretasi Strategi Manajemen Diri dalam kesuksesan Merry Riana (Studi Kualitatif dalam Film Mimpi Sejuta Dolar) Calista, Ellysia Dea; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Sinulingga, Rizky Amalia; Aji, Gagas Gayuh
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesuksesan sering dikaitkan dengan ketekunan dan kemampuan manajemen diri. Namun, tidak semua individu mampu menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan psikologis yang dapat menghambat pencapaian tujuan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi strategi manajemen diri dalam film Mimpi Sejuta Dolar serta mengaitkannya dengan perspektif teoretis. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menafsirkan adegan-adegan film yang merefleksikan lima komponen manajemen diri: pengetahuan diri, regulasi diri, perencanaan diri, motivasi diri, dan evaluasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama, Merry Riana, secara konsisten menerapkan kelima komponen tersebut sehingga mampu menjaga fokus, ketangguhan, dan kemajuan meski menghadapi berbagai kesulitan. Studi ini menegaskan bahwa film dapat menjadi media pembelajaran non-formal yang relevan, sekaligus menyoroti pentingnya manajemen diri dalam kehidupan nyata. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dengan menganalisis representasi media lain untuk memperkaya pemahaman keterampilan manajemen diri abad ke-21.
Representasi Nilai Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Pada Fi lm The Lion King Ameziziana, Ameziziana; Bilqis Kinanti, Amara; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji , Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5317

Abstract

ABSTRAK Saat ini, penggunaan teknologi digital membuka banyak peluang dalam membentuk karakter dan membangun kepemimpinan, terutama melalui platform belajar online dan media sosial yang mendorong partisipasi generasi muda. Namun, pengembangan ini sering kali hanya fokus pada aspek teknis dan kecepatan dalam menyampaikan informasi, sehingga kurang memperhatikan pembentukan nilai moral, etika, dan tanggung jawab sebagai bagian penting dari kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai kepemimpinan transformasional ditunjukkan oleh tokoh Simba dalam film The Lion King, sebagai upaya memahami bagaimana cerita populer bisa menjadi media untuk membangun kepemimpinan yang jujur dan bermoral. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan fokus pada empat aspek utama,yaitu pengaruh ideal, motivasi yang memotivasi, pengembangan intelektual, dan pertimbangan individual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Simba dari sosok yang menghindari tanggung jawab menjadi seorang pemimpin yang berani dan adil memberikan contoh kuat tentang pentingnya kepemimpinan yang didasari nilai. Penelitian ini diharapkan bisa melengkapi pendekatan teknologi dalam pembentukan kepemimpinan dengan memperkuat aspek karakter dan moralitas. ABSTRACT Currently, the use of digital technology opens up many opportunities in shaping character and building leadership, especially through online learning platforms and social media that encourage youth participation. However, this development often focuses only on technical aspects and speed in delivering information, thus neglecting the formation of moral values, ethics, and responsibility as important parts of leadership. This study aims to analyze how transformational leadership values are demonstrated by the character Simba in the movie The Lion King, in an effort to understand how popular stories can be a medium for building honest and moral leadership. This study uses a descriptive qualitative method with a focus on four main aspects, namely idealinfluence, motivating motivation, intellectual development, and individual consideration. The results show that Simba's transformation from a figure who avoids responsibility to a brave and fair leader provides a strong example of the importance of values-based leadership. This research is expected to complement the technological approach to leadership development by strengthening character and morality aspects.
Representasi Kepemimpinan pada Karakter Alif (Film Menolak Diam!) Niza Unnavi, Ningrum; Bilqis Kinanti, Amara; Dimisqiyani, Erindah; Gayuh Aji, Gagas; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga , Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5323

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan dan mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin idealnya tidak hanya memberi arahan, tetapi juga mampu menjadi inspirasi dan penggerak perubahan. Dalam prosesnya, nilai integritas, keberanian, dan rasa tanggung jawab memiliki peran penting dalam membentuk kepemimpinan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kepemimpinan transformasional dalam film Menolak Diam! yang menyoroti perjuangan melawan ketidakadilan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif, melalui pengamatan adegan serta kajian teori kepemimpinan dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama berhasil mempengaruhi lingkungan sekitarnya melalui semangat perubahan, kejujuran, dan kepedulian terhadap keadilan sosial. Namun, pendekatan tersebut juga memunculkan tantangan karena tidak semua pihak dapat menerima perubahan yang ditawarkan, seperti Alif yang akhirnya harus menghadapi tekanan dari pihak sekolah dan lingkungan sekitar saat memperjuangkan keadilan. ABSTRACT Leadership is the ability of a person to direct and influence others to work together to achieve predetermined goals. An ideal leader not only gives directions but is also able to inspire and drive change. In the process, the values of integrity, courage, and responsibility play an important role in shaping effective leadership. This study aims to analyze the representation of transformational leadership in the film Menolak Diam! (Refusing to Be Silent!), which highlights the struggle against injustice in schools. This study uses a descriptive qualitative method with a narrative approach, through observation of scenes and a review of leadership theory from various sources.The results of the study show that the main character successfully influences his surroundings through his spirit of change, honesty, and concern for social justice. However, this approach also presents challenges because not everyone can accept the changes offered, such as Alif, who ultimately has to face pressure from the school and his surroundings while fighting for justice.
Implementasi Gaya Kepemimpinan Visioner Pada Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta Romadhoni Sasongko, Nandamar; Fikri, Muhammad; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji , Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5332

Abstract

AbstractLeadership is a factor that can determine the success of an organization in achieving its goals. This study aims to analyze the implementation of visionary leadership in the film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018), on Sultan Agung’s character as a historical leader with long-term vision, moral courage, and a deep commitment to Javanese cultural values. Using a descriptive qualitative approach, the research examines key scenes that depict Sultan Agung’s political strategies, inspirational communication, and personal sacrifices in resisting VOC colonialism. The film illustrates that visionary leadership is not solely about power, but also about shaping the people’s character through education and cultural preservation. Sultan Agung is portrayed as a religious, humanistic, and strategic leader who integrates local wisdom with sustainable development principles, aligning with SDG 16. This analysis affirms that film can serve as an effective educational medium to foster public understanding of leadership that is just, inclusive, and future-oriented. The representation of Sultan Agung also demonstrates how visionary leadership can build collective solidarity and historical awareness in the face of socio-political challenges. Thus, his character becomes a compelling reflection of leadership that remains relevant and inspirational within the contemporary Indonesian context. AbstrakKepemimpinan merupakan faktor yang dapat menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam pencapaian tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi gaya kepemimpinan visioner dalam film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018), dengan fokus pada karakter Sultan Agung sebagai representasi pemimpin historis yang memiliki visi jangka panjang, keberanian moral, dan komitmen terhadap nilai-nilai budaya Jawa. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengkaji adegan-adegan kunci yang menampilkan strategi politik, komunikasi inspiratif, dan pengorbanan pribadi Sultan Agung dalam menghadapi kolonialisme VOC. Film ini menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada pembangunan karakter rakyat melalui pendidikan dan pelestarian budaya. Sultan Agung digambarkan sebagai pemimpin religius, humanis, dan strategis yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, selaras dengan tujuan SDG 16. Analisis ini menegaskan bahwa media film dapat menjadi sarana edukatif yang efektif dalam membentuk pemahaman publik tentang kepemimpinan yang adil, inklusif, dan berorientasi masa depan. Representasi Sultan Agung dalam film ini juga memper-lihatkan bagaimana kepemimpinan visioner mampu membangun solidaritas kolektif dan kesadaran historis dalam menghadapi tantangan sosial-politik. Dengan demikian, karakter Sultan Agung menjadi refleksi dari kepemimpinan yang relevan dan inspiratif bagi konteks Indonesia masa kini.
Representasi Kepemimpinan Transformasional Pada Karakter Abah dalam Film Keluarga Cemara 1 Seisha Hariono, Emely; Indah Dwi Ariani, Novita; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5391

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan sering kali dikaitkan dengan organisasi dan institusi, tetapi juga muncul di dalam keluarga. Film Keluarga Cemara 1 menggambarkan Abah sebagai sosok ayah yang membimbing keluarganya melalui masa krisis setelah kehilangan stabilitas keuangan. Penelitian ini menganalisis bagaimana kepemimpinan Abah mencerminkan prinsip-prinsip kepemimpinan transformasional. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan naratif, adegan-adegan dalam film diteliti untuk menginterpretasikan perilakuAbah berdasarkan empat dimensi inti dari kepemimpinan transformasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Abah mencerminkan integritas, memotivasi anak-anaknya dengan optimisme, mendorong tanggung jawab dan pemikiran kritis, serta memberikan perhatian individu untuk membangun kepercayaan. Karakteristik ini memungkinkan keluarga untuk menyesuaikan diri dan tetap bersatu dalam situasi sulit. Penelitian ini menyarankan bahwa film-film populer dapat berfungsi sebagai media pendidikan dengan menyajikan contoh konkret kepemimpinan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. ABSTRACT Leadership is often associated with organizations and institutions, yet it also emerges within families. The movie Keluarga Cemara 1 presents Abah as a father who guides his family through crisis after losing financial stability. This research examines how Abah’s leadership reflects the principles of transformational leadership. Applying a qualitative descriptive method with a narrative approach, film scenes were analyzed to interpret Abah’s behaviors based on four core dimensions of transformational leadership. The results indicate that Abah exemplifies integrity, inspires his children with optimism, encourages responsibility and critical thinking, and provides individual attention to build trust. These qualities enable the family to adapt and remain united in difficult situations. The study suggests that popular films can serve as educational media by portraying practical examplesof leadership that are relevant to everyday life.
Kepemimpinan Perempuan Dalam Lingkungan Maskulin: Representasi Ketangguhan Bu Broto Dalam Film Losmen Bu Broto Putri Ramadhani, Dinar; Assita, Rodhatul; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5430

Abstract

ABSTRAK Latar belakang penelitian ini adalah adanya stereotip gender yang membatasi ruang kepemimpinan perempuan, khususnya dalam lingkungan yang maskulin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi ketangguhan kepemimpinan transformasional Bu Broto dan kaitannya dengan prinsip SDG 5. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis wacana kritis dan semiotika terhadap film Losmen Bu Broto. Hasil penelitian menunjukkan Bu Broto direpresentasikan sebagai pemimpin transformasional yang tangguh melalui empat dimensinya, mampu menghadapi tantangan patriarki dengan memadukan ketegasan dan empati. Temuan ini memperkaya wacana kepemimpinan perempuan dan media studies dengan menawarkan modelrepresentasi alternatif yang memberdayakan. Implikasinya, film berpotensi menjadi alat edukasi untuk mendorong kesetaraan gender dan kepemimpinan perempuan dalam masyarakat. ABSTRACT The background of this research is the persistent gender stereotypes that constrain women's leadership spaces, particularly in masculine environments. This study aims to analyze the representation of Bu Broto's transformational leadership resilience and its reflection of SDG 5 principles. Using a qualitative approach, critical discourse analysis and semiotics were applied to the film Losmen Bu Broto. The results reveal Bu Broto is represented as a resilient transformational leader through its four dimensions, capable of confronting patriarchal challenges by blending assertiveness and empathy. These findings enrich the discourse on women's leadership and media studies by offering an empowering alternative representation. The film's potential implication is asan educational tool to promote gender equality and women's leadership in society.
Representasi Kepemimpinan dan Kekuasaan Dalam Film “Menolak Diam (2019)” Hardiansyah, Putri; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Amalia Sinulingga, Rizky; Mustika Dewi, Indri
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5445

Abstract

ABSTRAK Representasi kepemimpinan merupakan konstruksi simbolis dan naratif tentang kepemimpinan dalam berbagai medium budaya, termasuk sinema, yang tidak hanya merefleksikan realitas historis atau sosial, tetapi juga membentuk persepsi publik mengenai otoritas, pengaruh, dan tanggung jawab pemimpin. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis representasi kepemimpinan dan kekuasaan yang tergambar dalam film Menolak Diam (2019), dengan menem patkannya dalam konteks perjuangan sosial-politik serta narasi sejarah Indonesia yang lebih luas. Fokus penelitian menyoroti bagaimana film ini menggambarkan kepemimpinanbukan sebagai posisi formal otoritas semata, melainkan sebagai proses dinamis yang penuh dengan keberanian moral, perlawanan, dan tanggung jawab etis dalam menghadapi struktur kekuasaan represif. Tema sentral analisis mencakup otoritarianisme, aktivisme akar rumput, serta interaksi kompleks antara dominasi dan emansipasi. Metodologi yang diterapkan adalah kualitatif, menggabungkan analisis mendalam terhadap adegan-adegan film, tinjauan pustaka komprehensif, dan triangulasi data, untuk mengkaji strategi naratif serta visual yang digunakan dalam mengilustrasikan ketegangan antara rezim represif dan kehendak kolektif untuk keadilanserta partisipasi demokratis. Temuan utama penelitian mengungkap bahwa Menolak Diam secara kuat menggambarkan kepemimpinan sebagai bentuk perlawanan aktif yang menantang legitimasi kekuasaan otoriter, sekaligus mengekspos kontradiksi inheren dalam kekuasaan tersebut—di mana upaya membungkam dissent dan mempertahankan kontrol justru memicu kesadaran sosial serta mobilisasi massa. Representasi dalam film ini menekankan dampak negatif dari kekuasaan yang menindas, seperti pengekangan kebebasan berekspresi, marginalisasi suara-suara minoritas, dan erosi ruang demokrasi yang sehat. Di sisi lain, filmmenyoroti potensi transformatif kepemimpinan yang berlandaskan integritas pribadi, solidaritas komunal, dan pemberdayaan kelompok marjinal. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan pada diskursus kepemimpinan dan kekuasaan dengan menunjukkan bagaimana narasi sinematik dapat berfungsi sebagai alat kritis untuk refleksi sosial dan edukasi politik. Ia mengajak penonton serta pembaca untuk mempertimbangkan ulang nilai-nilai kepemimpinan partisipatif dan tata kelola yang akuntabel dalam masyarakat kontemporer Indonesia, di tengah tantangan demokrasi yang sedang berlangsung. ABSTRACT Representation of leadership Refers to the symbolic and narrative construction of leadership in various cultural media, such as cinema, which not only reflects historical or social realities, but also shapes society's perception of the authority, influence, and responsibility of leaders.This study aims to critically analyze the representation of leadership and power as depicted in the film Menolak Diam (2019), situating it within the broader context of Indonesia’s socio-political struggles and historical narratives. The research focuses on how the film portrays leadership not merely as a formal position of authority but as a dynamic and morally charged process involvingcourage, resistance, and ethical responsibility in confronting oppressive power structures. Central to this analysis are the themes of authoritarianism, grassroots activism, and the complex interplay between domination and emancipation. Employing a qualitative methodology that combines detailed film scene analysis, comprehensive literature review, and data triangulation, the study investigates the narrative and visual strategies used to depict the tensions between repressive regimes and the collective will for justice and democratic participation. The findings reveal that Menolak Diam powerfully illustrates leadership as an active form of resistance that challenges the legitimacy of authoritarian power, exposing its inherent contradictions—where power seeks to silence dissent and maintain control, yet simultaneously provokes social awakening and mobilization. The film’s representation underscores the detrimental effects of oppressive power, such as the suppression of freedom, marginalization of voices, and erosion of democratic spaces, while also highlighting the transformative potential of leadership grounded in integrity, solidarity, and empowerment of the marginalized. This study contributes to the discourse on leadership and power by demonstrating how cinematic narratives can function as critical tools for social reflection and political education, encouraging audiences to reconsider the values of participatory leadership and accountable governance in contemporary society.
Co-Authors Agung, Chris Petra Aldila Deselma Mubarrokah Aly, Muhammad Nilzam Amaliyah Amaliyah Ria Triwastuti Amaliyah, Amaliyah Amara Bilqis Kinanti Ameziziana, Ameziziana Amillia Kartika Sari Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Andria Kusuma, Vicky Anggita Dwi Yuniati Anisa Fitri Sya'bania Apsari, Citra Widhi Arif Fatchurahman Arlinda Dwi Ariyani, Diva Aroyandini, Elvara Norma Assita, Rodhatul Az Zahra Hasoloan, Hanifah Bambang Suharto Bambang Suharto Berliana Devianti Putri Bilqis Kinanti, Amara Bintang Adi Chandra Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari CITRA WIDHI APSARI Claresta, Eilen Dewa Rizky Nugroho Dimisqiyani, Erindah Dita Fachriza Ulfa Eka Setyawati, Riska Elfira Nanda Virgyta Saputra ERINDAH DIMISQIYANI Erindah Dimisyqiyani Erindah Dimisyqiyani Fadli Ama Fahria Herlambang, Ivan Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Feby Astrid Kesaulya Ferdian, Fina Ayu Firdaus, Aji Akbar Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Hamid, Nur Hamzah Arof Hanifah Az Zahra Hasoloan Hardiansyah, Putri Herlyanto Doni Wicaksono Hidan Razan Anwar Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Indah Dwi Ariani, Novita Indri Mustika Dewi Kirana, Angkita Wasito Kristanto, Damar Labibul Hilmi, Harun Marischa Resmana, Sheila Maysura, Suci Qaulan Muhaimin Muhaimin Muhammad Ainur Rizky Hidayatullah Al Huda Muhammad Fikri Muqmiroh, Lailatul Mustika Dewi, Indri Navelsa Angraeni Nayla Lisda Amalia Niza Unnavi, Ningrum Nor Kholis Novi Dwi Anggraeni Novia Indah Lestari Novita Indah Dwi Ariani Primavera Rizka Nalarsari Putri Nia Rahmadani Putri Ramadhani, Dinar Rachman Sinatriya Marjianto Ratu Hemas Titalya Ananda Lutfitami Ria Triwastuti, Amaliyah Ridila Novita Rintaati Putri, Allea Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Safitri, Yunita Eka Salman Alfarisi Sedianingsih, Sedianingsih Seisha Hariono, Emely Septyani Prihatiningsih Sinta Rahmah Auliya Suharno, Novianto Edi Sumardiko, Dwi Setiani Suprapto, Sena Sukmananda Vicky Andria Kusuma Virelita Maharani, Armaniella Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Winda Kusumawardani Wishelda Izdihar, Damara Yunita Eka Safitri