Claim Missing Document
Check
Articles

Eksplorasi Karakter Kepemimpinan Hua Mulan melalui Nilai Kejujuran, Keberanian, Loyalitas dalam Film “Mulan 2020” Dita Fachriza Ulfa; Amaliyah Amaliyah; Erindah Dimisyqiyani; Rizky Amalia Sinulingga; Indri Mustika Dewi
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5531

Abstract

Kepemimpinan merupakan proses penting dalam mengarahkan individu maupun kelompok untukmencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinanyang tercermin pada tokoh Hua Mulan dalam film Disney Mulan (2020), dengan menitikberatkanpada keberanian, kejujuran, dan loyalitas. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisisstrategi kepemimpinan karismatik yang ditampilkan Mulan dalam menghadapi tantangan. Metodepenelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi melaluipengamatan adegan dan dialog yang relevan, kemudian diinterpretasikan berdasarkan teorikepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberanian Mulan tercermin ketika ia beranimengambil risiko besar demi menggantikan ayahnya, kejujuran terlihat saat ia memilihmengungkapkan identitas meskipun berpotensi menimbulkan konsekuensi serius, dan loyalitastergambar dalam kesetiaannya kepada kaisar dan tanah air. Namun, nilai-nilai tersebut pada awalnyatidak sepenuhnya diterima lingkungannya karena dianggap melanggar norma. Konsistensi dankharisma Mulan dalam memegang prinsip akhirnya membuatnya diakui sebagai pemimpin sejati.Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan karismatik efektif bukan hanya karena posisi formal,melainkan karena kekuatan nilai personal dan kemampuan menginspirasi. Leadership is an essential process in guiding individuals and groups to achieve common goals. Thisstudy aims to describe the leadership values reflected in the character of Hua Mulan in Disney’sMulan (2020), focusing on courage, honesty, and loyalty. In addition, this study seeks to analyze thecharismatic leadership strategies demonstrated by Mulan in facing challenges. The research methodemployed a descriptive qualitative approach with content analysis techniques through observationsof relevant scenes and dialogues, which were then interpreted based on leadership theories. Thefindings reveal that Mulan’s courage is evident when she dares to take a great risk by replacing herfather, honesty is shown when she chooses to reveal her identity despite serious consequences, andloyalty is reflected in her devotion to the emperor and her homeland. However, these values wereinitially not fully accepted by her surroundings as they were considered to violate prevailing norms.Mulan’s consistency and charisma in upholding her principles eventually led her to be recognizedas a true leader. This study emphasizes that charismatic leadership effectiveness lies not merely informal positions but in personal values and the ability to inspire.
Dampak Pola Asuh pada Tokoh Awan dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga; Amaliyah Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5534

Abstract

Kepemimpinan bukan hanya mmapu untuk memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk mengeloladiri sendiri, mengambil keputusan secara mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Bahkanketika menghadapi tekanan dalam keluarga, individu juga perlu mengembangkan keterampilankepemimpinan. Dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu memotivasi, menginspirasi, danmemberikan perhatian pribadi kepada orang lain agar dapat mencapai tujuannya. Namun, ini tidak selalumudah dilaksanakan terutama dalam situasi yang penuh tantangan dan tekanan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk menentukan apakah tekanan dan tuntutan dari orang tua dapat mempengaruhi perkembangan psikologisdalam kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan film sebagai objek pengamatanmelalui perilaku dan dialog. Pengamatan dilakukan melalui studi literatur dan pengamatan melalui film, NantiKita Cerita Tentang Hari Ini (We'll Talk About Today Later). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaseorang pemimpin bernama Awan berhasil memberikan perhatian pribadi, memotivasi, dan menginspirasikeluarganya untuk berani menghadapi perubahan. Awan berhasil mengatasi konflik keluarga yangdisebabkan oleh gaya pengasuhan otoriter yang diterapkan orang tuanya kepadanya dan dua saudarakandungnya yang lebih tua. Keterampilan kepemimpinan transformasional Awan mengingatkan kita bahwasetiap orang harus siap menghadapi perubahan. Leadership is not only the ability to lead others, but also the ability to manage oneself, make independentdecisions, and take responsibility for one's life choices. Even when facing pressure within the family,individuals also need to develop leadership skills. It can be said that a leader must be able to motivate,inspire, and give personal attention to others in order to achieve their goals. However, this is not always easyto do, especially in challenging and stressful situations. The purpose of this study is to determine whetherpressure and demands from parents can affect psychological development in leadership. This study uses aqualitative method with film as the object of observation through behavior and dialogue. Observations weremade through literature studies and observations through the film, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (We'llTalk About Today Later). The results of this study show that a leader named Awan succeeded in givingpersonal attention, motivating, and inspiring his family to dare to face change. Awan managed to overcomefamily conflicts caused by the authoritarian parenting style applied by his parents to him and his two oldersiblings. Awan's transformational leadership skills remind us that everyone must be prepared to face change.
Representasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Tokoh Oh Gu Tak Dalam Film The Bad Guys: Reign Of Chaos Indri Mustika Dewi; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5537

Abstract

Kepemimpinan yang efektif sangat penting bagi keberhasilan organisasi, namun masih diperlukanpemahaman mendalam tentang implementasi kepemimpinan transformasional dalam konteks kehidupansehaari-hari. Film sebagai media populer dapat menjadi sarana eksplorasi konsep kepemimpinan yangrelevan dengan dunia nyata. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya kepemimpinan transformasionalkarakter Oh Gu-tak dalam film "The Bad Guys: Reign of Chaos" (2019) dan menganalisis relevansiimplementasinya dalam konteks organisasi. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui kombinasi studiliteratur dan analisis konten film. Adegan-adegan kunci yang menggambarkan praktik kepemimpinan OhGu-tak dianalisis berdasarkan empat dimensi kepemimpinan transformasional. Oh Gu-takmendemonstrasikan keempat dimensi kepemimpinan transformasional: inspirational motivation(memberikan insentif dan mengaitkan misi dengan aspirasi), intellectual stimulation (mendorong pemikirankritis), individual consideration (bertindak sebagai mentor), dan idealized influence (menjadi teladan moralmelalui pengorbanan diri). Kepemimpinan transformasional Oh Gu-tak berhasil menciptakan tim yang soliddan termotivasi. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional efektif dalam membangunsolidaritas tim dan dapat menjadi inspirasi praktis bagi pemimpin organisasi. Effective leadership is crucial to organizational success, but a deeper understanding of the implementationof transformational leadership in everyday life is still needed. Film, as a popular medium, can be a means ofexploring leadership concepts that are relevant to the real world. This study aims to explore thetransformational leadership style of the character Oh Gu-tak in the film “The Bad Guys: Reign of Chaos”(2019) and analyze the relevance of its implementation in an organizational context. A qualitative approachwas used through a combination of literature study and film content analysis. Key scenes depicting Oh Gutak'sleadership practices are analyzed based on the four dimensions of transformational leadership. Oh Gutakdemonstrates all four dimensions of transformational leadership: inspirational motivation (providingincentives and linking the mission to aspirations), intellectual stimulation (encouraging critical thinking),individual consideration (acting as a mentor), and idealized influence (being a moral role model through selfsacrifice).Oh Gu-tak's transformational leadership successfully created a solid and motivated team. Thesefindings confirm that transformational leadership is effective in building team solidarity and can be apractical inspiration for organizational leaders.
Peran Motivasi Meraih Impian Bermusik Tokoh Miguel Dalam Film “Coco” Nayla Lisda Amalia; Navelsa Angraeni; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5544

Abstract

Setiap individu berusaha mencapai tujuan hidup, tetapi jalan ini sering terhambat oleh konflik dalam lingkungansosialnya. Studi ini mengkaji karakter Miguel dalam film Coco untuk menganalisis motivasinya melalui HirarkiKebutuhan Maslow. Pendekatan yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif, di mana adegan-adegankunci dalam film dipetakan ke setiap tingkat kebutuhan Maslow. Analisis ini mengungkap sebuah perjalananmotivasi yang sistematis. Kebutuhan dasar Miguel akan rasa aman dalam keluarga pembuat sepatu berfungsisebagai fondasi. Namun, penolakan keluarganya terhadap musik menciptakan konflik dengan kebutuhannya akancinta dan rasa memiliki. Untuk mengatasi hal ini, ia mencari pengakuan yang memenuhi kebutuhan harga dirinyadalam sebuah kompetisi musik. Puncak dari perjalanannya adalah aktualisasi diri, di mana ia tidak hanya menjadiseorang musisi tetapi juga menggunakan bakatnya untuk menyatukan kembali keluarganya. Studi inimenyimpulkan bahwa motivasi seseorang untuk mengaktualisasikan diri sangat dipengaruhi oleh dukungan danvalidasi dari lingkungan sosialnya. Temuan-temuan ini menawarkan wawasan berharga untuk pendidikankarakter. Penelitian di masa depan dapat melakukan studi perbandingan dengan menggunakan teori motivasi lain,seperti Teori Dua Faktor atau Teori Kebutuhan McClelland, untuk memperluas analisis motivasi dalam narasifilm. Every individual strives to achieve life goals, but this path is often hampered by conflicts in their socialenvironment. This study examines the character of Miguel in the film Coco to analyze his motivation throughMaslow's Hierarchy of Needs. The approach used is descriptive qualitative analysis, where key scenes in the filmare mapped to each of Maslow's levels of needs. The analysis reveals a systematic motivational journey. Miguel'sbasic need for security within a shoemaker family serves as a foundation. However, his family's rejection of musiccreates a conflict with his needs for love and belonging. To overcome this, he seeks recognition that fulfills hisself-esteem needs in a music competition. The culmination of his journey is self-actualization, where he not onlybecomes a musician but also uses his talent to reunite his family. This study concludes that a person's motivationto self-actualize is strongly influenced by support and validation from their social environment. These findingsoffer valuable insights for character education. Future research may conduct comparative studies using othermotivational theories, such as the Two-Factor Theory or McClelland’s Needs Theory, to broaden the analysis ofmotivation in film narratives.
Persepsi Penggemar terhadap Sistem Kepemimpinan Manajemen Idol Group JKT48 dalam Pengambilan Keputusan Bintang Adi Chandra; Hanifah Az Zahra Hasoloan; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5641

Abstract

Twitter/X dan platform sejenis kini menjadi medium utama bagi penggemar JKT48 dalammenyampaikan kritik maupun saran kepada manajemen. Ungkapan tersebut lahir tidak sematakarena ketidakpuasan terhadap harga tiket, kualitas acara, atau janji yang tidak ditepati, melainkanjuga karena kepedulian terhadap keberlanjutan grup dalam jangka panjang. Respons manajemencenderung reaktif dan tidak konsisten, biasanya baru muncul ketika kontroversi meluas di ruangpublik, sehingga menurunkan persepsi transparansi dan akuntabilitas. Meski demikian, masukanpenggemar terbukti memengaruhi kebijakan strategis seperti pemilihan lagu maupun pengelolaanevent dan menegaskan posisi penggemar sebagai pemangku kepentingan aktif, bukan sekadarkonsumen. Loyalitas emosional yang tetap terjaga meski disertai kekecewaan menegaskan peranganda penggemar sebagai pengkritik sekaligus penjaga legitimasi. Oleh karena itu, diperlukanmekanisme komunikasi yang transparan dan partisipatif untuk memperkuat kepercayaan, menjagalegitimasi, serta memastikan keberlanjutan jangka panjang. Studi komparatif pada ekosistem idoladi Asia Tenggara dapat membantu menilai apakah dinamika ini bersifat kultural atau memilikirelevansi global. Platforms such as Twitter/X have emerged as the dominant medium through which JKT48 fansarticulate criticism and suggestions toward management. These expressions arise not only fromdissatisfaction with ticket prices, event quality, or unmet commitments, but also from a genuineconcern for the group’s long-term sustainability. Management responses, however, are largelyreactive and inconsistent, often appearing only when controversies escalate publicly, therebyweakening perceptions of transparency and accountability. Even so, fan input demonstrably shapesstrategic decisions ranging from song selection to event policies positioning fans as activestakeholders rather than passive consumers. The persistence of emotional loyalty amiddissatisfaction illustrates their dual role as critics and sustainers of legitimacy. Establishingtransparent and participatory communication mechanisms is thus essential for building trust,maintaining legitimacy, and ensuring sustainable growth. Comparative studies within SoutheastAsian idol ecosystems may further illuminate whether these dynamics are culturally specific orglobally resonant.
Representasi Kepemimpinan Transformasional dalam Memotivasi Kerja Karyawan pada Film The Intern Sinta Rahmah Auliya; Hanifah Az Zahra Hasoloan; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5642

Abstract

Kepemimpinan merupakan faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif dan kolaboratif.Seorang pemimpin tidak hanya berperan dalam memberikan arahan, tetapi juga dalam menumbuhkan motivasi,semangat, dan kepercayaan diri sehingga anggota tim mampu menghadapi tantangan bersama. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis penerapan kepemimpinan transformasional yang ditampilkan oleh tokoh Ben dalamfilm The Intern. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui analisis deskriptif, menggunakanpengamatan terhadap adegan dan dialog yang merepresentasikan gaya kepemimpinan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Ben berhasil menerapkan empat dimensi kepemimpinan transformasional, yaitu pengaruhideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan perhatian individual. Perilaku teladan serta dukungan yangia berikan tidak hanya membantu Jules, selaku pemimpin perusahaan, untuk kembali percaya diri, tetapi jugamendorong karyawan menjadi lebih partisipatif, percaya diri, dan optimis dalam bekerja. Film ini menekankanbahwa kepemimpinan sejati tidak semata ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh integritas, empati, dankemampuan untuk memberi inspirasi. Temuan ini memberikan pemahaman bahwa setiap individu memilikipotensi untuk menjadi pemimpin transformasional yang mampu menciptakan perubahan positif, baik dalamkonteks organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Leadership is an important factor in creating a positive and collaborative work environment. Leaders not onlyplay a role in providing direction, but also in fostering motivation, enthusiasm, and confidence so that teammembers are able to face challenges together. This study aims to analyze the application of transformationalleadership displayed by the character Ben in the film The Intern. The study was conducted using a qualitativeapproach through descriptive analysis, using observations of scenes and dialogues that represent leadershipstyles. The results show that Ben successfully applied the four dimensions of transformational leadership, namelyideal influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration. His exemplarybehavior and support not only helped Jules, as the company's leader, regain her confidence, but also encouragedemployees to be more participatory, confident, and optimistic in their work. This film emphasizes that trueleadership is not solely determined by position, but by integrity, empathy, and the ability to inspire. These findingsprovide an understanding that every individual has the potential to become a transformational leader capable ofcreating positive change, both in an organizational context and in everyday life.
Representasi Navigasi Ketidaktahuan dan Adaptasi Risiko Karakter Yuri Orlov dalam Film “Lord of War” Dewa Rizky Nugroho; Hanifah Az Zahra Hasoloan; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5644

Abstract

Penelitian ini menelaah lebih dalam bagaimana film "Lord of War" merepresentasikan strategiadaptasi cepat Yuri Orlov sebagai bentuk menavigasi ketidaktahuan (navigating ignorance) untukmengelola risiko dalam lingkungan yang tidak pasti. Dengan menggabungkan konsep rasionalitasterbatas (bounded rationality), pemaknaan (sensemaking), dan heuristik, menavigasi ketidaktahuanmenjadi strategi bertahan hidup yang mengandalkan adaptasi, intuisi, dan pemahaman cepatterhadap situasi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif pada film "Lord ofWar" (2005), penelitian ini menerapkan analisis konten tematik untuk menginterpretasikan adeganadegankunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi strategi menavigasi ketidaktahuanYuri Orlov diwujudkan melalui serangkaian tindakan adaptif yang melampaui manajemen risikokonvensional, yang juga berfungsi sebagai kritik naratif. Pada akhirnya, film "Lord of War"menggambarkan Yuri Orlov bukan sebagai penyebab utama ketidakstabilan, melainkan sebagaigejala dari sistem dunia yang cacat, di mana kesuksesannya menjadi dakwaan atas kegagalaninstitusi global. This study delves deeper into how the film "Lord of War" represents Yuri Orlov's rapid adaptationstrategy as a form of navigating ignorance to manage risk in an uncertain environment. Bycombining the concepts of bounded rationality, sensemaking, and heuristics, navigating ignorancebecomes a survival strategy that relies on adaptation, intuition, and a swift understanding of thesituation. Using a qualitative approach with descriptive analysis on the film "Lord of War" (2005),this study applies thematic content analysis to interpret key scenes. The results show that therepresentation of Yuri Orlov's strategy of navigating ignorance is manifested through a series ofadaptive actions that transcend conventional risk management, which also functions as a narrativecritique. Ultimately, the film "Lord of War" portrays Yuri Orlov not as the main cause of instability,but as a symptom of a flawed world system where his success serves as an indictment of the failureof global institutions.
Interpretasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Dalam Perjuangan Kemerdekaan Pada Film Kadet 1947 Herlyanto Doni Wicaksono; Hanifah Az Zahra Hasoloan; Amaliyah Ria Triwastuti; Gagas Gayuh Aji; Rizky Amalia Sinulingga; Erindah Dimisyqiyani
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5647

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan kepemimpinan transformasional dalam film Kadet 1947melalui metode deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan terlihattidak hanya lewat keputusan strategis, tetapi juga melalui tindakan simbolis dan emosionalyang menumbuhkan solidaritas dan komitmen taruna. Namun pendekatan sinematis yangdramatis membatasi pemahaman objektif tentang kompleksitas kepemimpinan dalamsejarah nyata. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya menghubungkannarasi film dengan praktik kepemimpinan historis serta relevansinya bagi organisasimodern. This study explores the application of transformational leadership in the film Kadet 1947 using aqualitative descriptive method. The analysis shows that leadership is demonstrated not onlythrough strategic decision-making but also through symbolic and emotional actions that buildsolidarity and commitment among the cadets. However, the film’s dramatic cinematic approachlimits an objective understanding of the complexity of leadership in historical reality. Therefore,this study emphasizes the importance of connecting the film’s narrative with historical leadershippractices and its relevance to modern organizations.
Interpretasi Gaya Kepemimpinan Transformasional oleh Tokoh Genta pada Film 5cm Amara Bilqis Kinanti; Erindah Dimisyqiyani; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga; Gagas Gayuh Aji
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5654

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan gaya kepemimpinan transformasional yangditunjukkan oleh tokoh Genta dalam film 5 cm. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptifkualitatif dengan pendekatan naratif, melalui observasi adegan yang merepresentasikan empatdimensi kepemimpinan transformasional: idealized influence, inspirational motivation, intellectualstimulation, dan individualized consideration. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Genta mampumenjadi teladan, memberikan motivasi, mendorong pemikiran kritis, serta memperhatikankebutuhan individu anggota kelompok. Keempat dimensi tersebut berperan penting dalam menjagakekompakan dan semangat kelompok hingga berhasil mencapai puncak Mahameru. Temuan inimembuktikan bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya relevan dalam organisasi formal,tetapi juga dapat diaplikasikan dalam dinamika sosial sehari-hari, termasuk dalam narasi film. This study aims to interpret the transformational leadership style demonstrated by Genta in the film5 cm. The research method used is descriptive qualitative with a narrative approach, focusing on theobservation of scenes that represent the four dimensions of transformational leadership: idealizedinfluence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individualized consideration. Thefindings indicate that Genta serves as a role model, provides motivation, encourages criticalthinking, and shows concern for the individual needs of group members. These four dimensions playa crucial role in maintaining group cohesion and enthusiasm, enabling them to reach the peak ofMahameru. This study highlights that transformational leadership is not only relevant in formalorganizations but can also be applied in everyday social dynamics, including within film narratives.
Representasi Kesadaran Gender dan Budaya Patriarki Jawa Melalui Analisis Naratif pada Film Kartini 2017 Muhammad Ainur Rizky Hidayatullah Al Huda; Amara Bilqis Kinanti; Erindah Dimisyqiyani; Gagas Gayuh Aji; Amaliyah Amaliyah; Rizky Amalia Sinulingga
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5656

Abstract

Film berperan sebagai media visual yang kuat yang tidak hanya menghibur tetapi juga berfungsisebagai alat edukasi dan platform untuk refleksi sosial dan budaya, khususnya terkait isu kesadarangender. Film Kartini (2017) menggambarkan perjuangan historis Raden Adjeng Kartini melawanbudaya patriarki Jawa yang mengakar yang membatasi peran, kebebasan, dan akses pendidikanperempuan. Karya sinematik ini menyoroti baik representasi simbolis maupun naratif tentang relasigender dalam masyarakat tradisional serta mengungkap kompleksitas emansipasi perempuan ditengah keterbatasan budaya. Namun, penelitian-penelitian sebelumnya cenderung lebih berfokuspada perlawanan pribadi dan sikap ideologis Kartini, sering kali mengabaikan analisis menyeluruhterhadap strategi visual dan naratif film yang merepresentasikan kesadaran gender dan budayapatriarki secara holistik. Penelitian ini bertujuan mengisi kekosongan tersebut dengan menggunakanpendekatan analisis naratif kualitatif untuk mengeksplorasi bagaimana film Kartini membangun danmenyampaikan kesadaran gender serta dinamika patriarki Jawa melalui alur cerita, pengembangankarakter, dan mise-en-scène. Dengan mengintegrasikan teori sosial-budaya dan naratologi, studi inidiharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana representasisinematik berkontribusi memperluas kesadaran masyarakat tentang kesetaraan gender serta secarakritis menantang norma patriarki dalam masyarakat Jawa. Temuan penelitian diharapkan dapatmengembangkan diskursus dalam kajian media, representasi gender, dan kritik budaya, sekaligusmenegaskan relevansi film sebagai media perubahan sosial di Indonesia. Film serves as a potent visual medium that not only entertains but also functions as an educationaltool and a platform for social and cultural reflection, especially regarding issues of genderawareness. The 2017 film Kartini portrays the historical struggle of Raden Adjeng Kartini againstthe entrenched Javanese patriarchal culture that restricts women's roles, freedoms, and access toeducation. This cinematic work highlights both the symbolic and narrative depictions of genderrelations within a traditional society and sheds light on the complexities of female emancipationamid cultural constraints. However, prior studies tend to concentrate predominantly on Kartini'spersonal resistance and ideological stance, often overlooking a comprehensive analysis of the film'svisual and narrative strategies that represent gender consciousness and patriarchal culture in aholistic manner. This research aims to fill this gap by employing a qualitative narrative analysisapproach to explore how the film Kartini constructs and conveys gender awareness and Javanesepatriarchal dynamics through its storyline, character development, and mise-en-scène. Byintegrating socio-cultural theory with narratology, this study seeks to offer a nuanced understandingof how cinematic representations contribute to broadening public awareness of gender equality andcritically challenge patriarchal norms in Javanese society. The findings are expected to advancediscourse in media studies, gender representation, and cultural critique, underscoring the relevanceof film as a medium for social change in Indonesia.
Co-Authors Agung, Chris Petra Aldila Deselma Mubarrokah Aly, Muhammad Nilzam Amaliyah Amaliyah Ria Triwastuti Amaliyah, Amaliyah Amara Bilqis Kinanti Ameziziana, Ameziziana Amillia Kartika Sari Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Andria Kusuma, Vicky Anggita Dwi Yuniati Anisa Fitri Sya'bania Apsari, Citra Widhi Arif Fatchurahman Arlinda Dwi Ariyani, Diva Aroyandini, Elvara Norma Assita, Rodhatul Az Zahra Hasoloan, Hanifah Bambang Suharto Bambang Suharto Berliana Devianti Putri Bilqis Kinanti, Amara Bintang Adi Chandra Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari CITRA WIDHI APSARI Claresta, Eilen Dewa Rizky Nugroho Dimisqiyani, Erindah Dita Fachriza Ulfa Eka Setyawati, Riska Elfira Nanda Virgyta Saputra ERINDAH DIMISQIYANI Erindah Dimisyqiyani Erindah Dimisyqiyani Fadli Ama Fahria Herlambang, Ivan Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Feby Astrid Kesaulya Ferdian, Fina Ayu Firdaus, Aji Akbar Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Hamid, Nur Hamzah Arof Hanifah Az Zahra Hasoloan Hardiansyah, Putri Herlyanto Doni Wicaksono Hidan Razan Anwar Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Indah Dwi Ariani, Novita Indri Mustika Dewi Kirana, Angkita Wasito Kristanto, Damar Labibul Hilmi, Harun Marischa Resmana, Sheila Maysura, Suci Qaulan Muhaimin Muhaimin Muhammad Ainur Rizky Hidayatullah Al Huda Muhammad Fikri Muqmiroh, Lailatul Mustika Dewi, Indri Navelsa Angraeni Nayla Lisda Amalia Niza Unnavi, Ningrum Nor Kholis Novi Dwi Anggraeni Novia Indah Lestari Novita Indah Dwi Ariani Primavera Rizka Nalarsari Putri Nia Rahmadani Putri Ramadhani, Dinar Rachman Sinatriya Marjianto Ratu Hemas Titalya Ananda Lutfitami Ria Triwastuti, Amaliyah Ridila Novita Rintaati Putri, Allea Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Safitri, Yunita Eka Salman Alfarisi Sedianingsih, Sedianingsih Seisha Hariono, Emely Septyani Prihatiningsih Sinta Rahmah Auliya Suharno, Novianto Edi Sumardiko, Dwi Setiani Suprapto, Sena Sukmananda Vicky Andria Kusuma Virelita Maharani, Armaniella Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Winda Kusumawardani Wishelda Izdihar, Damara Yunita Eka Safitri