Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Gaya Kepemimpinan : Studi Kasus Billy Beane Pada Film Moneyball Assita, Rodhatul; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Amalia Sinulingga, Rizky; Gayuh Aji, Gagas
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5508

Abstract

ABSTRAKKepemimpinan merupakan faktor kunci dalam menentukan arah, motivasi, dan kinerja organisasi, terutama ketika menghadapi keterbatasan sumber daya dan dinamika perubahan yang cepat. Film Moneyball menggambarkan tokoh Billy Beane sebagai General Manager Oakland Athletics yang berani mengambil risiko melalui penerapan strategi sabermetrics di tengah keterbatasan finansial. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui implementasi gaya kepemimpinan Billy Beane dalam film Moneyball serta dampaknya terhadap kinerja dan pencapaian tim. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan observasi film. Data diperoleh melalui pengamatan berulang pada adegan-adegan yang menunjukkan gaya kepemimpinan Billy Beane, dilengkapi dengan literatur akademis terkait teori kepemimpinan visioner,transformasional, dan otoriter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Billy Beane mengadopsi gaya kepemimpinan multidimensi, yaitu kepemimpinan otoriter, kedua gaya kepemimpinan visioner, ketiga gaya kepemimpinan transformasional. Selain itu, motivasi personal maupun kolektif yang diberikan Billy Beane terbukti meningkatkan kinerja individu dan kolektif tim. Dampaknya, Oakland Athletics berhasil mencetak20 kemenangan beruntun dan warisan strateginya kemudian diadopsi tim lain. Namun, pada penerapan gaya otoriter Billy Beane terbilang efektif dalam situasi krisis, gaya ini juga menimbulkan resistensi dan konflik internal dengan staf bawahan yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini memberi kontribusi pada pemahaman bahwa efektivitas kepemimpinan terletak pada kemampuan adaptif dalam menggabungkan berbagai gaya sesuai situasi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian pada perbandingan gaya kepemimpinan tokoh lain dalam film bertema olahraga atau organisasi nyata untuk memperkuat pemetaan teori kepemimpinan dalam praktik. ABSTRACTLeadership is a key factor in determining the direction, motivation, and performance of an organization, especially when facing resource constraints and rapid change. The film Moneyball depicts Billy Beane as the General Manager of the Oakland Athletics who dared to take risks byapplying sabermetrics strategies amid financial constraints. This study aims to examine the implementation of Billy Beane's leadership style in the film Moneyball and its impact on team performance and achievements. The research method used is descriptive qualitative with filmobservation. Data was obtained through repeated observation of scenes that show Billy Beane's leadership style, supplemented with academic literature related to visionary, transformational, and authoritarian leadership theories. The results of the study show that Billy Beane adopted amultidimensional leadership style, namely authoritarian leadership, visionary leadership, and transformational leadership. In addition, the personal and collective motivation provided by Billy Beane was proven to improve individual and collective team performance. As a result, theOakland Athletics managed to score 20 consecutive wins, and his strategic legacy was later adopted by other teams. However, while Billy Beane's authoritarian style was effective in crisis situations, it also caused resistance and internal conflict with subordinate staff who felt they werenot involved in decision-making. This research contributes to the understanding that leadership effectiveness lies in the adaptive ability to combine various styles according to the situation. Further research could expand the study by comparing the leadership styles of other figures in
Representasi Krisis Integritas Kepemimpinan Politik dalam Film Dirty Vote Alfarisi, Salman; Assita, Rodhatul; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5513

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan berperan besar dalam menentukan arah bangsa, namun krisis integritas pemimpin kerap menjadi hambatan serius bagi legitimasi demokrasi. Fenomena tersebut tampak jelas dalam film dokumenter Dirty Vote karya Dandhy Laksono yang mengungkap praktik penyalahgunaan kekuasaan pada Pemilu 2024, termasuk sikap tidak netral Presiden Joko Widodo. Dengan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menelaah representasi Jokowi dalam film yang digambarkan berupaya mempertahankan kekuasaan melalui politik dinasti, intervensi kebijakan, distribusi bansos, serta pemanfaatan fasilitas negara untuk kepentingan politik. Hasil kajian menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan Jokowi sebagai pemimpin pragmatis yang lebih berorientasi pada warisan politik ketimbang etika kepemimpinan, sehingga memperlihatkan krisis integritas di level nasional. Temuan tersebut sejalan dengan fenomena global berupa menurunnya kepercayaan publik terhadap pemimpin yang tidak etis dan tidak bertanggung jawab. Dengan demikian, Dirty Vote dapat dipahami sebagai teks sosial yang menyoroti bagaimana ketidaknetralan kepemimpinan melemahkan demokrasi, memperkuat politik dinasti, serta memperparah krisis kepercayaan publik. ABSTRACT Leadership plays a crucial role in determining the direction of a nation, yet a crisis of integrity among leaders often becomes a serious obstacle to democratic legitimacy. This phenomenon is clearly reflected in the documentary Dirty Vote by Dandhy Laksono, which exposes the misuse of power in the 2024 Indonesian election, including President Joko Widodo’s lack of neutrality. Using a descriptive qualitative method, thisstudy examines Jokowi’s representation in the film, portraying him as a leader striving to preserve power through political dynasties, policy interventions, social assistance distribution, and the use of state facilities for political purposes. The findings reveal that the film depicts Jokowi as a pragmatic leader more focused on securing political legacy than upholding ethical leadership, thereby highlighting a national-level integrity crisis. This resonates with the global phenomenon of declining public trust in unethical and irresponsible leaders. Thus, Dirty Vote functions as a social text that demonstrates how non-neutral leadership undermines democracy, strengthens political dynasties, and exacerbates the crisis of public trust.
Tantangan Guru dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas pada Film Guru-Guru Gokil Fajar Arrasyid, Mohammad; Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Amaliyah, Amaliyah; Dimisqiyani, Erindah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5524

Abstract

ABSTRAK Pendidikan merupakan upaya terencana untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kepribadian yang baik dan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan kesejahteraan guru dalam mewujudkan pendidikan berkualitas sebagaimana direpresentasikan dalam film Guru-Guru Gokil (2020). Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis naratif terhadap film dan kondisi sosial nyata guru di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru, terutama guru honorer, menghadapi kesejahteraan yang rendah dengan gaji minim dan beban kerja tinggi, yang berdampak pada motivasi dan kualitas pengajaran. Film ini mengangkat solidaritas dan dedikasi guru yang tetap tinggi meskipun menghadapi kesulitan ekonomi serta perubahan pandangan negatif terhadap profesi guru menjadi penghargaan atas pengabdiannya. Penelitian ini menegaskan pentingnya kesejahteraan guru sebagai faktor utama dalam pencapaian pendidikan berkualitas yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan SDGs 4. Implikasi temuan ini mendorong pemerintah dan pemangku kebijakan untuk memperhatikan kesejahteraan guru secara serius demi masa depan pendidikan yang lebih baik dan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan kontribusi akademis bagi studi pendidikan, media, dan pembangunan berkelanjutan, sekaligus sebagai refleksi sosial terhadap kondisi guru di Indonesia. ABSTRACT Education is a planned effort to develop students’ potential so they have good character, skills, and benefit society. This study aims to analyze the challenges of teacher welfare in realizing quality education as represented in the film Guru-Guru Gokil (2020). Using a descriptive qualitative method, the study examines the narrative of the film alongside the real social conditions faced by Indonesian teachers. Results show that many teachers, especially honorary ones, face low welfare marked by insufficient salaries and high workloads, impacting their motivation and teaching quality. The film highlights teachers' solidarity and dedication despite economic hardships and a shift in perception of the teaching profession towards greater appreciation. The study emphasizes the critical role of teacher welfare aligned with Sustainable Development Goals (SDGs) 4 in achieving equitable and quality education. The findings encourage policymakers to prioritize improving teacher welfare for a sustainable and better education future. This research contributes academically to education, media, and sustainability studies and serves as social reflection on teachers’ conditions in Indonesia.
Kepemimpinan Informal dalam Dinamika Pengambilan Keputusan Kelompok: Studi Kasus Film 12 Angry Men(1957) Wulandari, Catur; Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Dimisqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5528

Abstract

ABSTRAK Kepemimpinan informal yang tidak bergantung pada struktur formal organisasi menjadi semakin penting dalam konteks organisasi kontemporer yang mengadopsi struktur lebih datar dan kolaboratif. Dinamika kepemimpinan ini berperan krusial dalam pengambilan keputusan kelompok, namun penelitian tentang kepemimpinan informal dalam konteks representasi film masih jarang dilakukan, padahal film dapat memberikan gambaran kaya mengenai dinamika diskusi kelompok dan pengaruh non-formal yang relevan untuk merefleksikan praktik kepemimpinan dalam kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana figur informal memengaruhi dinamika diskusi kelompok, membangun kepercayaan antar anggota, dan mengarahkan kelompok menuju konsensus melalui studi kasus film 12 Angry Men(1957). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data primer berupa adegan dandialog dalam film 12 Angry Men, serta data sekunder dari literatur akademik tentang kepemimpinan dan pengambilan keputusan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Juri 8, meskipun tidak memiliki posisi formal, mampu memimpin kelompok melalui lima karakteristik utama pengaruh interpersonal, kemampuan komunikasi persuasif, membangun konsensus, kepercayaan dan keteguhan moral, serta kemampuan menghadapi perbedaan pendapat. Temuan ini memperkuat bahwa kepemimpinan informal bergantung pada keterampilan interaksi sosial, kredibilitas personal, dan pengaruh sosial daripada otoritas formal. Penelitian ini berkontribusi pada literatur kepemimpinan dengan menawarkan implikasi praktis bagi organisasi dalam memanfaatkan potensi kepemimpinan informal untuk menghasilkan keputusan yang inklusif, adil, dan efektif, selaras dengan SDG 16 dan SDG 4.
Representasi Kepemimpinan Tokoh Raja dalam Kajian Kualitatif dan Semiotik Visual (Film The King 2019) Rizqi Faradisa, Adinda; Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5530

Abstract

ABSTRAK Artikel ini membahas representasi kepemimpinan tokoh raja dalam film The King (2019) melaluipendekatan kualitatif dan analisis semiotik visual. Penelitian ini bertujuan untuk memahamibagaimana konstruksi visual, simbol, dan narasi membentuk citra Henry V sebagai pemimpin yangkompleks, menggabungkan legitimasi formal, kharisma personal, kemampuan militer, sertaintegritas moral. Metode penelitian menggunakan analisis kualitatif deskriptif yang mendalamimakna-makna yang muncul dari tanda-tanda visual dalam film, termasuk kostum, atribut kerajaan,ekspresi wajah, dialog, dan pencahayaan. Pendekatan semiotika Roland Barthes digunakan untukmenguraikan makna denotatif, konotatif, dan mitos dari setiap tanda, sehingga terlihat hubunganantara simbol, konteks budaya, dan ideologi yang membentuk citra kepemimpinan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa representasi Henry V menekankan keseimbangan antara kekuasaan formal,tanggung jawab moral, dan kharisma personal, sehingga kepemimpinan efektif dipahami bukanhanya dari kekuatan militer atau posisi resmi, tetapi juga dari kualitas etis dan humanis. Penelitianini memberikan kontribusi bagi kajian komunikasi visual, film, dan budaya dengan menunjukkanbahwa media audiovisual dapat membentuk persepsi publik tentang nilai-nilai kepemimpinan,legitimasi, dan moralitas. ABSTRACT This article discusses the representation of royal leadership in the film The King (2019) through aqualitative approach and visual semiotic analysis. This study aims to understand how visualconstructions, symbols, and narratives shape the image of Henry V as a complex leader, combiningformal legitimacy, personal charisma, military prowess, and moral integrity. The research methoduses descriptive qualitative analysis that explores the meanings that emerge from visual signs in thefilm, including costumes, royal attributes, facial expressions, dialogue, and lighting. RolandBarthes' semiotic approach is used to decipher the denotative, connotative, and mythical meaningsof each sign, revealing the relationship between symbols, cultural context, and ideology that shapethe image of leadership. The results show that the representation of Henry V emphasizes a balancebetween formal power, moral responsibility, and personal charisma, so that effective leadership isunderstood not only in terms of military strength or official position, but also in terms of ethical andhumanistic qualities. This study contributes to the study of visual communication, film, and cultureby showing that audiovisual media can shape public perceptions of leadership values, legitimacy,and morality.
Eksplorasi Karakter Kepemimpinan Hua Mulan melalui Nilai Kejujuran, Keberanian, Loyalitas dalam Film “Mulan 2020” Ulfa, Dita Fachriza; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Sinulingga, Rizky Amalia; Dewi, Indri Mustika
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5531

Abstract

Kepemimpinan merupakan proses penting dalam mengarahkan individu maupun kelompok untukmencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinanyang tercermin pada tokoh Hua Mulan dalam film Disney Mulan (2020), dengan menitikberatkanpada keberanian, kejujuran, dan loyalitas. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisisstrategi kepemimpinan karismatik yang ditampilkan Mulan dalam menghadapi tantangan. Metodepenelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi melaluipengamatan adegan dan dialog yang relevan, kemudian diinterpretasikan berdasarkan teorikepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberanian Mulan tercermin ketika ia beranimengambil risiko besar demi menggantikan ayahnya, kejujuran terlihat saat ia memilihmengungkapkan identitas meskipun berpotensi menimbulkan konsekuensi serius, dan loyalitastergambar dalam kesetiaannya kepada kaisar dan tanah air. Namun, nilai-nilai tersebut pada awalnyatidak sepenuhnya diterima lingkungannya karena dianggap melanggar norma. Konsistensi dankharisma Mulan dalam memegang prinsip akhirnya membuatnya diakui sebagai pemimpin sejati.Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan karismatik efektif bukan hanya karena posisi formal,melainkan karena kekuatan nilai personal dan kemampuan menginspirasi. Leadership is an essential process in guiding individuals and groups to achieve common goals. Thisstudy aims to describe the leadership values reflected in the character of Hua Mulan in Disney’sMulan (2020), focusing on courage, honesty, and loyalty. In addition, this study seeks to analyze thecharismatic leadership strategies demonstrated by Mulan in facing challenges. The research methodemployed a descriptive qualitative approach with content analysis techniques through observationsof relevant scenes and dialogues, which were then interpreted based on leadership theories. Thefindings reveal that Mulan’s courage is evident when she dares to take a great risk by replacing herfather, honesty is shown when she chooses to reveal her identity despite serious consequences, andloyalty is reflected in her devotion to the emperor and her homeland. However, these values wereinitially not fully accepted by her surroundings as they were considered to violate prevailing norms.Mulan’s consistency and charisma in upholding her principles eventually led her to be recognizedas a true leader. This study emphasizes that charismatic leadership effectiveness lies not merely informal positions but in personal values and the ability to inspire.
Dampak Pola Asuh pada Tokoh Awan dalam Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Angraeni, Navelsa; Dimisyqiyani, Erindah; Aji, Gagas Gayuh; Sinulingga, Rizky Amalia; Amaliyah, Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5534

Abstract

Kepemimpinan bukan hanya mmapu untuk memimpin orang lain, tetapi juga kemampuan untuk mengeloladiri sendiri, mengambil keputusan secara mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Bahkanketika menghadapi tekanan dalam keluarga, individu juga perlu mengembangkan keterampilankepemimpinan. Dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu memotivasi, menginspirasi, danmemberikan perhatian pribadi kepada orang lain agar dapat mencapai tujuannya. Namun, ini tidak selalumudah dilaksanakan terutama dalam situasi yang penuh tantangan dan tekanan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk menentukan apakah tekanan dan tuntutan dari orang tua dapat mempengaruhi perkembangan psikologisdalam kepemimpinan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan film sebagai objek pengamatanmelalui perilaku dan dialog. Pengamatan dilakukan melalui studi literatur dan pengamatan melalui film, NantiKita Cerita Tentang Hari Ini (We'll Talk About Today Later). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaseorang pemimpin bernama Awan berhasil memberikan perhatian pribadi, memotivasi, dan menginspirasikeluarganya untuk berani menghadapi perubahan. Awan berhasil mengatasi konflik keluarga yangdisebabkan oleh gaya pengasuhan otoriter yang diterapkan orang tuanya kepadanya dan dua saudarakandungnya yang lebih tua. Keterampilan kepemimpinan transformasional Awan mengingatkan kita bahwasetiap orang harus siap menghadapi perubahan. Leadership is not only the ability to lead others, but also the ability to manage oneself, make independentdecisions, and take responsibility for one's life choices. Even when facing pressure within the family,individuals also need to develop leadership skills. It can be said that a leader must be able to motivate,inspire, and give personal attention to others in order to achieve their goals. However, this is not always easyto do, especially in challenging and stressful situations. The purpose of this study is to determine whetherpressure and demands from parents can affect psychological development in leadership. This study uses aqualitative method with film as the object of observation through behavior and dialogue. Observations weremade through literature studies and observations through the film, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (We'llTalk About Today Later). The results of this study show that a leader named Awan succeeded in givingpersonal attention, motivating, and inspiring his family to dare to face change. Awan managed to overcomefamily conflicts caused by the authoritarian parenting style applied by his parents to him and his two oldersiblings. Awan's transformational leadership skills remind us that everyone must be prepared to face change.
Representasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Tokoh Oh Gu Tak Dalam Film The Bad Guys: Reign Of Chaos Dewi, Indri Mustika; Dimisyqiyani, Erindah; Amaliyah, Amaliyah; Sinulingga, Rizky Amalia; Aji, Gagas Gayuh
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 1 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i1.5537

Abstract

Kepemimpinan yang efektif sangat penting bagi keberhasilan organisasi, namun masih diperlukanpemahaman mendalam tentang implementasi kepemimpinan transformasional dalam konteks kehidupansehaari-hari. Film sebagai media populer dapat menjadi sarana eksplorasi konsep kepemimpinan yangrelevan dengan dunia nyata. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gaya kepemimpinan transformasionalkarakter Oh Gu-tak dalam film "The Bad Guys: Reign of Chaos" (2019) dan menganalisis relevansiimplementasinya dalam konteks organisasi. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui kombinasi studiliteratur dan analisis konten film. Adegan-adegan kunci yang menggambarkan praktik kepemimpinan OhGu-tak dianalisis berdasarkan empat dimensi kepemimpinan transformasional. Oh Gu-takmendemonstrasikan keempat dimensi kepemimpinan transformasional: inspirational motivation(memberikan insentif dan mengaitkan misi dengan aspirasi), intellectual stimulation (mendorong pemikirankritis), individual consideration (bertindak sebagai mentor), dan idealized influence (menjadi teladan moralmelalui pengorbanan diri). Kepemimpinan transformasional Oh Gu-tak berhasil menciptakan tim yang soliddan termotivasi. Temuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional efektif dalam membangunsolidaritas tim dan dapat menjadi inspirasi praktis bagi pemimpin organisasi. Effective leadership is crucial to organizational success, but a deeper understanding of the implementationof transformational leadership in everyday life is still needed. Film, as a popular medium, can be a means ofexploring leadership concepts that are relevant to the real world. This study aims to explore thetransformational leadership style of the character Oh Gu-tak in the film “The Bad Guys: Reign of Chaos”(2019) and analyze the relevance of its implementation in an organizational context. A qualitative approachwas used through a combination of literature study and film content analysis. Key scenes depicting Oh Gutak'sleadership practices are analyzed based on the four dimensions of transformational leadership. Oh Gutakdemonstrates all four dimensions of transformational leadership: inspirational motivation (providingincentives and linking the mission to aspirations), intellectual stimulation (encouraging critical thinking),individual consideration (acting as a mentor), and idealized influence (being a moral role model through selfsacrifice).Oh Gu-tak's transformational leadership successfully created a solid and motivated team. Thesefindings confirm that transformational leadership is effective in building team solidarity and can be apractical inspiration for organizational leaders.
Analisis Kepemimpinan Inklusif dan Strategi Komunikasi Bisnis: Studi Kualitatif pada Tokoh Seo Dal-Mi dalam Serial Start-Up Rintaati Putri, Allea; Assita, Rodhatul; Amaliyah, Amaliyah; Dimisyqiyani, Erindah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5542

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menganalisis kepemimpinan inklusif dan strategi komunikasi bisnis yang diterapkanoleh Seo Dal-Mi, tokoh utama sebagai wirausaha muda dalam drama Korea Start-Up, yang berupayamembangun startup berbasis teknologi melalui inspirasi tim, pembangunan kepercayaan investor,dan negosiasi efektif dengan mitra. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi pengaruh gayakepemimpinannya terhadap dinamika tim dan keberlanjutan bisnis di tengah persaingan ketat.Dengan pendekatan kualitatif berbasis analisis isi, studi ini mengungkap bahwa Dal-Mi menerapkankepemimpinan transformasional yang mendorong motivasi, partisipasi, dan kolaborasi melaluikomunikasi persuasif, termasuk storytelling dan visi yang jelas, untuk memperkuat keterlibatanstakeholder. Namun, pendekatan ini juga menimbulkan ketidakpastian dan konflik internal yangberpotensi menghambat inovasi serta mengancam kelangsungan usaha. Penelitian menyimpulkanbahwa integrasi kepemimpinan inklusif dengan strategi komunikasi bisnis yang efektif berperankrusial dalam memupuk ketahanan dan inovasi di sektor startup yang kompetitif. ABSTRACT This study analyzes the inclusive leadership and business communication strategies employedby Seo Dal-Mi, the central character as a young entrepreneur in the Korean drama Start-Up, whostrives to establish a technology-based startup by inspiring her team, building investor trust, andconducting effective negotiations with partners. The objective is to examine how her leadership styleimpacts team dynamics and business sustainability amid intense competition. Utilizing a qualitativecontent analysis approach, the research reveals that Dal-Mi adopts a transformational leadershipmodel that promotes motivation, participation, and collaboration through persuasivecommunication techniques, such as storytelling and clear vision, to enhance stakeholderengagement. However, this approach also generates internal uncertainty and conflicts that mayimpede innovation and threaten venture viability. The study concludes that integrating inclusiveleadership with effective business communication strategies is essential for fostering resilience andinnovation in the competitive startup sector.
Interpretasi Perilaku Organisasi dalam Budaya dan Etika Kerja pada Film Human Resources (2023) Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad; Arlinda Dwi Ariyani, Diva; Dimisqiyani, Erindah; Gayuh Aji, Gagas; Amalia Sinulingga, Rizky; Amaliyah, Amaliyah
IKRAITH-EKONOMIKA Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikraith-ekonomika.v9i2.5543

Abstract

ABSTRAK Dinamika lingkungan kerja kontemporer di hadapkan pada tantangan kompleks yang menuntut pemahaman mendalam mengenai aspek manusiawi dalam organisasi. Studi mengenai perilaku, budaya, dan etika organisasi menjadi relevan untuk dibedah melalui berbagai perspektif, termasuk media populer yang merefleksikan wacana sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan representasi perilaku organisasi, budaya, dan etika kerja dalam serial animasi satir Netflix "Human Resources" (2023). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dan metode analisis semiotika Roland Barthes pada adegan-adegan kunci, penelitian ini membongkar makna denotatif dan konotatif dari narasi visual dan verbal serial tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa serial ini secara alegoris menggambarkan konsep-konsep teoretis seperti fungsi manajemen (POAC), level budaya organisasi Schein, dan dilema etika kerja melalui interaksi para makhluk fantasi di lingkungan kantor. Konflik antar departemen, gaya kepemimpinan, dan proses evaluasi kinerja disajikan secara satiris untuk mengkritik disfungsi di tempat kerja modern. Penelitian ini memberikan dampak pada pemahaman bahwa media populer dapat menjadialat analisis yang kuat untuk merefleksikan realitas organisasi dan menekankan pentingnya kemitraan internal yang solid sebagai fondasi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Penelitian di masa depan disarankan untuk dapat melakukan analisis komparatif dengan media lain atau mengukur persepsi audiens secara kuantitatif terhadap isu-isu kerja yang direpresentasikan. ABSTRACT The dynamics of the contemporary work environment face complex challenges that demand a deepunderstanding of the human aspects of organizations. The study of organizational behavior, culture,and ethics is relevant to examine through various perspectives, including popular media that reflectssocial discourse. This study aims to interpret the representation of organizational behavior, culture,and work ethics in the Netflix satirical animated series "Human Resources" (2023). Using aqualitative descriptive-interpretive approach and Roland Barthes's semiotic analysis method in keyscenes, this study uncovers the denotative and connotative meanings of the series' visual and verbalnarratives. The analysis shows that the series allegorically depicts theoretical concepts such asmanagement functions (POAC), Schein's levels of organizational culture, and work ethics dilemmasthrough the interactions of fantasy creatures in the office environment. Interdepartmental conflicts,leadership styles, and performance evaluation processes are presented satirically to critiquedysfunction in the modern workplace. This research impacts the understanding that popular mediacan be a powerful analytical tool to reflect organizational realities and emphasizes the importanceof solid internal partnerships as a foundation for achieving the Sustainable Development Goals.Future research is suggested to conduct comparative analysis with other media or quantitativelymeasure audience perceptions of the work issues represented.
Co-Authors Abdullah, Syahidah Al Mustofa, Muhammad Ubaidillah Aldila Deselma Mubarrokah Aly, Muhammad Nilzam Amalia, Nayla Lisda Amaliyah Amaliyah, Amaliyah Ameziziana, Ameziziana Amillia Kartika Sari Ananda Lutfitami, Ratu Hemas Titalya Anatasya Permatha Bayu, Jezicka Andria Kusuma, Vicky Anggraeni, Novi Dwi Angraeni, Navelsa Anisa Fitri Sya'bania Anwar, Hidan Razan Apsari, Citra Widhi Arif Fatchurahman Arlinda Dwi Ariyani, Diva Assita, Rodhatul Auliya, Sinta Rahmah Bambang Suharto Bambang Suharto Berliana Devianti Putri Bilqis Kinanti, Amara Calista, Ellysia Dea Catur Wulandari Chandra, Bintang Adi Claresta, Eilen Dewi, Indri Mustika Dien Mardhiyah Dimisqiyani, Erindah Dwi Ariani, Novita Indah Eka Setyawati, Riska Elfira Nanda Virgyta Saputra Elvara Norma Aroyandini Erindah Dimisyqiyani Erindah Dimisyqiyani Erindah Dimisyqiyani Fadli Ama Fahria Herlambang, Ivan Fajar Arrasyid, Mohammad Fardana, Valdavi Rachma Otta Ferdian, Fina Ayu Firdaus, Aji Akbar Gagas Gayuh Aji, Gagas Gayuh Gayuh Aji , Gagas Gayuh Aji, Gagas Hamzah Arof Hardiansyah, Putri Imam Mubaligh Gaffar, Muhammad Imron Mawardi Indah Dwi Ariani, Novita Kinanti, Amara Bilqis Kirana, Angkita Wasito Kristanto, Damar Marischa Resmana, Sheila Maysura, Suci Qaulan Muhaimin Muhaimin Muhammad Fikri Muqmiroh, Lailatul Mustika Dewi, Indri Nor Kholis Nugroho, Dewa Rizky Nur Hamid NURUL AZIZAH Primavera Rizka Nalarsari Putri Ramadhani, Dinar Rachman Sinatriya Marjianto Rahmadani, Putri Nia Rintaati Putri, Allea Rizky Hidayatullah Al Huda, Muhammad Ainur Rizqi Faradisa, Adinda Romadhoni Sasongko, Nandamar Safitri, Yunita Eka Salman Alfarisi Saptowati, Errin Dwi Sedianingsih, Sedianingsih Seisha Hariono, Emely Septyani Prihatiningsih Suharno, Novianto Edi Sumardiko, Dwi Setiani Suprapto, Sena Sukmananda Tika Widiastuti Triwastuti, Amaliyah Ria Ulfa, Dita Fachriza Vicky Andria Kusuma Virelita Maharani, Armaniella Wafiq Luthfiya Tahta Salsabila Wardani , Nazhifah Wardani, Nazhifah Wicaksono, Herlyanto Doni Winda Kusumawardani Wishelda Izdihar, Damara Yuniati, Anggita Dwi Yunita Eka Safitri Zahra Hasoloan, Hanifah Az Zahroh, Arina Saffanah