Claim Missing Document
Check
Articles

Analgesic Drug Use for Carpal Tunnel Syndrome Tamara Audrey Kadarusman; Hanik Badriyah Hidayati; Paulus Sugianto
JUXTA: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga Vol. 10 No. 1 (2019): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6.45 KB) | DOI: 10.20473/juxta.V10I12019.1-4

Abstract

Introduction: Carpal tunnel syndrome (CTS) is a group of neuropathic symptoms regarding to the compression of median nerve which passing through carpal tunnel. There has been a great number of prevalence of CTS in Indonesia, which leads to decreasing quality of life, lack of work productivity, and increasing health cost. Analgesic treatments have been drug of choice for carpal tunnel syndrome for years. However, the effectiveness of the drug and the risk of adverse effect of drugs have always been an issue for analgesic use. An observational study on profile of analgesic drugs administration for carpal tunnel syndrome patients in Dr. Soetomo General Hospital SurabayaMethod: A descriptive observational retrospective study has been conducted to observe the profile of analgesic drugs administration, including type and dosage of drugs, classification of drugs, drugs administration route, early and advanced type of analgesics, and duration of analgesic administration. Sociodemographic data and clinical characteristics (main symptoms) of carpal tunnel syndrome patients are also included in this study.Results: Out of 202 subjects of this study, most patients are women (84,16%), the group age of 50-59 to years old, and the most frequent job is household wife (43,56%). The most common analgesic drugs used for carpal tunnel syndrome patients is 50 mg sodium diclofenac for 78 patients (38.61%). All of those subjects are administered with oral analgesic (100%). 185 patients (91.59%) are administered with analgesic combinations. The duration of analgesic usage are 7 days as an early analgesic in 82 patients (40.59%).Conclusion: CTS is a syndrome due to median nerve compression of the hand, Women, household wife, and age of 50-59 years old are found to be vulnerable to this syndrome. Analgesic drugs mostly used is 50 mg natrium diclofenac, orally, combined, with the period of 7 days for early medication
Analisa Learning Rate dan Batch Size pada Klasifikasi Covid Menggunakan Deep Learning dengan Optimizer Adam Naim Rochmawati; Hanik Badriyah Hidayati; Yuni Yamasari; Hapsari Peni Agustin Tjahyaningtijas; Wiyli Yustanti; Agus Prihanto
JIEET (Journal of Information Engineering and Educational Technology) Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jieet.v5n2.p44-48

Abstract

Deep learning semakin berkembang pesat dan banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satunya bisa dimanfaatkan untuk klasifikasi image medis penderita covid. Keras adalah salah satu framework deep learning yang paling banyak digunakan. Dalam Keras, terdapat beberapa macam algoritma optimizer. Salah satunya adalah optimizer Adam. Untuk menggunakan optimizer Adam ini, perlu menentukan angka learning rate. Penentuan angka learning rate sangat penting karena salah dalam menentukan angka learning rate akan berdampak pada hasil deep learning yang dilakukan. Batch size juga salah satu hyperparameter penting dalam deep learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan beberapa learning rate dan batch size agar diketahui efek dan dampaknya pada hasil loss dan akurasi training dan validasi pada proses deep learning yang dilakukan. Ada 6 learning rate dan 3 batch size yang akan dibandingkan. Hasil yang optimal diantara 6 learning rate dalam penelitian ini adalah 0.0001 dan 0.00001. Sedangkan batch size yang paling bagus hasilnya dari tiga angka yang dibandingkan adalah batch size 5
Peran Diabetes Mellitus pada Gejala Klinis Osteoartritis Lutut Riska Puspasari; Hanik Badriyah Hidayati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 4 (2020): Arthritis
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i4.386

Abstract

OA adalah penyakit sendi degeneratif kronik progresif yang umum dan menyebabkan gangguan mobilitas sendi sehingga membatasi aktivitas sehari-hari. Hiperglikemia kronik pada DM diduga dapat meningkatkan peradangan sendi dan degradasi kartilago yang meningkatkan risiko kejadian OA dan progresivitasnya. Hasil observasi pada pasien OA lutut di unit rawat jalan saraf RSUD Dr Soetomo Surabaya menunjukkan pasien OA lutut dengan intensitas berat lebih banyak pada penderita DM.Osteoarthritis (OA) of the knee is a common degenerative joint disease which limits daily activities. Many studies suggest a significant relationship between diabetes mellitus (DM) and OA. Chronic hyperglycemia in DM is suspected to increase joint inflammation and cartilage degradation which increases the risk of OA events and their progression. Observations in the neurological outpatient unit of Dr Soetomo Public Hospital Surabaya showed that worse knee OA were more likely to develop among DM patients.
Pengaruh Usia dan Jenis Kelamin pada Skala Nyeri Pasien Trigeminal Neuralgia Hanik Badriyah Hidayati; Elena Ghentilis Fitri Amelia; Agus Turchan; Nancy Margarita Rehatta; Atika; Muhammad Hamdan
AKSONA Vol. 1 No. 2 (2021): JULY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.957 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i2.149

Abstract

Pendahuluan: Trigeminal neuralgia (TN) merupakan kondisi yang digambarkan sebagai nyeri hebat seperti tersilet pada satu sisi wajah  pada distribusi area saraf ke lima. Nyeri ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pasien. Rasa nyeri merupakan fenomena subjektif yang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia dan jenis kelamin. Tujuan: Mengetahui pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap skala nyeri pasien Trigeminal Neuralgia. Metode: Data diambil dari rekam medik pasien pada periode Januari 2017 hingga Juni 2019 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RS PHC Surabaya, dan RSUD Bangil Pasuruan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: TN banyak ditemukan pada kelompok usia  36-64 tahun (55,55%) dan jenis kelamin perempuan (66,67%). Tidak didapatkan hubungan pengaruh usia dan jenis kelamin terhadap skala nyeri pasien (p > 0.05). Kesimpulan: Usia dan jenis kelamin merupakan faktor yang tidak dapat diubah dalam mempengaruhi nyeri. Usia dan jenis kelamin mempengaruhi nyeri melalui perubahan anatomi, hormonal, dan psikologis. Tidak ada hubungan antara usia dan jenis kelamin pada skala nyeri pasien dengan TN.  
Penyakit Parkinson: Tinjauan Tentang Salah Satu Penyakit Neurodegeneratif yang Paling Umum Safia Alia; Hanik Badriyah Hidayati; Muhammad Hamdan; Priya Nugraha; Achmad Fahmi; Agus Turchan; Yudha Haryono
AKSONA Vol. 1 No. 2 (2021): JULY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.044 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i2.145

Abstract

Penyakit Parkinson (PP) adalah penyakit neurodegeneratif paling umum ke dua yang melibatkan hilangnya neuron dopaminergik di otak tengah yang menyebabkan gejala motorik dan nonmotorik pada pasien yang mengalaminya. Gejala motorik ini dapat dikelola dan dikendalikan dalam  jangka waktu tertentu dengan menggunakan obat-obatan seperti levodopa. PP mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, oleh karena itu tinjauan pustaka tinjauan pustaka tentang PP menjadi penting dan kami akan menyampaikan berbagai hal penting dari PP mulai dari patofisiologi hingga tindakan pengobatan baik medikamentosa maupun tindakan intervensi.
Hubungan Intensitas Nyeri Kepala, Stres Psikologis, dan Kadar Kortisol Serum pada Penderita Tension Type Headache Dion Andriawan Wisnujono; Moh. Hasan Machfoed
AKSONA Vol. 1 No. 1 (2021): JANUARY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.096 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i1.97

Abstract

Pendahuluan: Tension Type Headache (TTH) dapat dipengaruhi banyak faktor, beberapa di antaranya adalah stres dan kadar hormon kortisol. Beberapa penelitian telah menganalisa hubungan nyeri kepala terhadap kortisol, dan stres. Namun, jarang ada penelitian yang menghubungkan ketiganya. Tujuan: Membuktikan adanya hubungan antara intensitas nyeri kepala, stres psikologis dan kadar kortisol serum pada penderita TTH. Metode: Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional dengan uji korelasi. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 42 subyek penelitian. Dari pengolahan data, didapatkan p= 0,594. Yang berarti tidak ada korelasi signifikan antara intensitas nyeri kepala dengan stres psikologis. Sementara itu, pada intentistas nyeri kepala dengan kadar kortisol didapatkan korelasi signifikan dengan p= 0,04. Pada stres dan kadar kortisol tidak ditemukan korelasi signifikan dengan p= 0,154. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara intensitas nyeri kepala dengan kadar kortisol serum. Sebaliknya, pada intensitas nyeri kepala dengan stres psikologis dan stres psikologis dengan kadar kortisol serum, tidak memiliki hubungan yang signifikan.
Komorbiditas Pasien Demensia di RSUD Dr. Soetomo Periode Januari–Desember 2017 Nabilah Hasna Imami; Yudha Haryono; Anggraini Dwi Sensusiati; Muhammad Hamdan; Hanik Badriyah Hidayati
AKSONA Vol. 1 No. 1 (2021): JANUARY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.436 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i1.95

Abstract

Pendahuluan: Demensia merupakan proses hilangnya fungsi kognitif seperti berpikir, mengingat, dan bernalar sehingga penderita demensia terganggu dalam melakukan kehidupan dan aktivitas sehari-hari pada seseorang. WHO menyebutkan bahwa jumlah pasien demensia di dunia terus meningkat. Pada tahun 2015, pasien demensia diprediksi mencapai 47,47 juta pasien dan dapat mencapai 75,63 juta pada 2030. Semakin meningkat usia lansia, faktor komorbiditas yang menyerang lansia juga semakin meningkat. Faktor komorbiditas dapat berupa penyakit kronik seperti stroke, hipertensi, DM, juga penyakit jantung. Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi komorbiditas pada pasien lansia demensia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode: Data diambil dari rekam medis pasien pada periode Januari hingga Desember 2017 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Faktor komorbiditas yang paling banyak terjadi pada pasien demensia adalah stroke (57,3%), diikuti oleh hipertensi (50,6%), DM (30,3%), penyakit Parkinson (24,7%), dan penyakit Jantung (19,1%). Kesimpulan: Stroke merupakan komorbiditas paling banyak terjadi pada pasien dengan demensia. Hipertensi berada di tempat kedua paling banyak diderita lansia demensia. Pengendalian komorbiditas pada lansia sangat penting untuk dilaksanakan untuk mengendalikan risiko terjadinya penurunan fungsi kognitif.
Efikasi dan Tolerabilitas Karbamazepin untuk Nyeri Neuropati Diabetik Hanik Badriyah Hidayati
AKSONA Vol. 1 No. 1 (2021): JANUARY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.202 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i1.91

Abstract

Neuropati perifer merupakan salah satu alasan paling sering pasien dirujuk ke klinik neurologi. Neuropati diabetik, salah satu neuropati perifer, merupakan penyebab neuropati tersering di dunia sehingga masih merupakan masalah besar dunia. Nyeri neuropati diabetik (NND) merupakan komplikasi umum dari diabetes baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2. NND mempengaruhi kualitas hidup pasien secara substansial akibat dari kurang tidur, kelelahan konstan, kesulitan mempertahankan konsentrasi secara penuh, gangguan melakukan aktivitas harian, gangguan mood, depresi dan ansietas. Karbamazepin merupakan salah satu terapi nyeri neuropati. Artikel ini menjelaskan efikasi dan tolerabilitas karbamazepin untuk nyeri neuropati diabetik.
Electroencephalogram in Children who Experienced First Unprovoked Seizure Arinda Putri Auna Vanadia; Prastiya Indra Gunawan; Abdurachman Abdurachman; Martono Tri Utomo; Hanik Badriyah Hidayati
AKSONA Vol. 2 No. 2 (2022): JULY 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.869 KB)

Abstract

Highlight: Epiletiform abnormalities on the EEG provide additional clinical infromation about seizures The majority of patients who have a first unprovoked seizure have an abnormal EEG (Abnormal II). Using EEG as a supporting diagnostic tool in patients experiencing their first unprovoked seizures may provide more information to improve treatment   ABSTRACT Introduction: The first unprovoked seizure is defined as a series of seizures that occur within 24 hours and are followed by recovery of consciousness with unknown triggering causes such as head trauma, central nervous system infections, tumors, or hypoglycemia. The first unprovoked seizure is a thing that cannot be underestimated. According to a previous study, less than half of those who experience their first unprovoked seizure will have another. An electroencephalogram (EEG) is one of the supporting examinations for the first unprovoked seizure. Objective: This study aims to determine the EEG as the first unprovoked seizure supporting examination. Methods: This is a retrospective, descriptive, observational study with sampling from the patient's medical record at Dr. Soetomo General Hospital Surabaya from January 2017 to December 2018 based on predetermined inclusion and exclusion criteria. Results: The EEG results in children who experienced their first unprovoked seizure were more abnormal (52.9%) than normal (47.1%), with an abnormal EEG breakdown of abnormal II (17.6%) and abnormal III (35.3%). There were no patients in this study who had EEG abnormal I. All patients with EEG abnormal II (17.6%) had an intermittent slow EEG waveform, while all patients with EEG abnormal III (35.3%) had a sharp waveform. The most common location of EEG wave abnormalities was temporal (55.6%). Conclusion: In the first unprovoked seizure, an EEG examination can assist clinicians as a seizure diagnostic assistant tool. It is hoped that the results of the EEG can provide better management of the first unprovoked seizure.
Thymoquinone Modulates Local MMP-9, IL-10, and IgG in Sciatic Nerve Crush Injury Animal Model Valentinus Besin; Abdul Hafid Bajamal; I Ketut Sudiana; Mangestuti Agil; Jusak Nugraha; Mohammad Hasan Machfoed; Paulus Budiono Notopuro; Naesilla Naesilla
The Indonesian Biomedical Journal Vol 14, No 3 (2022)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v14i3.2011

Abstract

BACKGROUND: Interleukin (IL)-10 is involved in Wallerian degeneration after peripheral nerve crush injury. Oral thymoquinone was previously observed to decrease local immunoglobulin-G (IgG) in a crush-injured rat model. No study has evaluated the pathway of various thymoquinone dosages on local IgG and IL-10 in this injury.METHODS: This experimental study used 126 Rattus norvegicus Wistar rats that were divided into 18 groups: six groups received a placebo, the other six groups received thymoquinone at 100 mg/kg/day and the last six groups received thymoquinone at 250 mg/kg/day, respectively. Rats were sacrificed at 12, 18, 24, 5x24, 6x24, and 7x24 hours. Matrix metalloproteinase-9 (MMP-9), IL-10, and local IgG levels were assessed by Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). The nuclear factor KappaB (NF-κB) expressions on Schwann cells were examined by flow cytometry. Path analysis was performed using SmartPLS.RESULTS: The path analysis showed that 100mg/kg/day of thymoquinone significantly decreased NF-κB expression. However, NF-κB did not affect local MMP-9, and MMP-9 had no significant relationship with local IL-10 and IgG. Thymoquinone 250 mg/kg/day also significantly inhibited NF-kB expression, decreased local MMP-9, and, in turn, decreased local IL-10 and IgG.CONCLUSION:  Administration of oral thymoquinone 250 mg/kg/day decreases local IgG and IL-10 levels via suppressing NF-κB expression and MMP-9 levels.KEYWORDS: thymoquinone, crush injury, IgG, IL-10, MMP-9, NF-κB
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Hafid B Abdurachman Abdurachman Agindra, Bani Agus Prihanto Aisyah Shabrina Alia, Safia Amelia, Elena Ghentilis Fitri Andi Kurnia Bintang, Andi Kurnia Arinda Putri Auna Vanadia Askandar Tjokroprawiro Atika atika Aulia Rachma Nur Azizah Awalia Awaliah Azizah, Aulia Rachma Nur Azzahra, Zahwa Arsy Besin, Valentinus Bodová, Klára Budi Riyanto Wreksoatmodjo, Budi Riyanto Budi Santoso Budi Utomo Budi Utomo Chrismawan Ardianto Dede Gunawan, Dede Dion Andriawan Wisnujono Dodik Tugasworo Dwiastri Iris Sarwastuti Elena Ghentilis Fitri Amelia Endah Purwanti Ernawati Ernawati Ernawati, Iin Fahmi Achmad Faisal Fahmi, Achmad Fitri Amelia, Elena Ghentilis Fritz Sumantri Usman, Fritz Sumantri H. Harsono, H. Hapsari Peni Agustin Tjahyaningtijas HERAWATI, LILIK Hermina Novida, Hermina I'tishom, Reny Ilmanita, Dzikrina Imami, Nabilah Hasna Indri Wahyuni Intan Indah Permatasari IRWANTO Jimmy Barus, Jimmy Junaidi Khotib Jusak Nugraha Karimah, Azimatul Kuntoro Kuntoro Kuntoro Kuntoro Kurniawan, Mohammad Lely Retno W Lukas Widhiyanto Machin, Abdulloh Mangestuti Agil Martono Tri Utomo Muhammad Hamdan Muhammad Hamdan Mulia Dian Sumbawati Nabilah Hasna Imami Nadya Rinda Eka Rana Naesilla Naesilla Naim Rochmawati Nila Kurniasari Notopuro, Paulus Budiono Novianto, Rifky Alif Paulus Sugianto Prastiya Indra Gunawan Priya Nugraha Puspasari, Riska Rahayu Nofita Sari Rehatta, Nancy Margarita Rejeki, Purwo Sri Riska Puspasari Riska Puspasari Rivarti, Arina Windri Riza Sulthan, Riza Rozalina Loebis, Rozalina Rusdi Lamsudin, Rusdi S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Safia Alia Sensusiati, Anggraini Dwi Setianti, Ariani Rahayu Shofwana, Haura Almash Aulia Siti Khaerunnisa Soetojo Soetojo Suhartati Suhartati SUMARNO Suroto Suroto Susi Wahyuning Asih Tamara Audrey Kadarusman Turchan, Agus WITA SARASWATI, WITA Wiyli Yustanti Yetti Hernaningsih YUNI YAMASARI