Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Unveiling cultural intelligence: A comparative study of Japanese and Indonesian idiomatic expressions Agus Suherman Suryadimulya; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Nyai Kartika
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 13, No 1 (2023): Vol. 13, No.1, May 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijal.v13i1.58248

Abstract

This paper delves into the realm of cultural intelligence inherent in Japanese and Indonesian idiomatic expressions. In the context of intercultural communication, Indonesian speakers utilize diverse cultural intelligence frameworks to express various facets of Japanese culture, with language serving as a prominent component. While a plethora of studies have examined idioms from semantic and semiotic perspectives, a notable gap exists in the literature regarding the exploration of cultural intelligence within idiomatic expressions in both languages, encompassing both structural and semantic analyses. Filling this research void, the present study aims to elucidate the concept of cultural intelligence, specifically focusing on the comprehension of Japanese and Indonesian idioms, particularly those related to the notion of "face". Employing a descriptive research approach, data comprising 16 Japanese idioms and 13 Indonesian idioms were meticulously examined to unveil the cultural significance within each group. The idioms were sourced from various dictionaries and specifically focused on expressions related to body parts, especially the face, which are commonly employed in everyday life. These idiomatic expressions were systematically classified into three categories and subjected to comprehensive analysis. The findings reveal that the majority of the idioms convey emotions, personal characteristics, and concepts of honor, thereby reflecting both cultural similarities and differences between Indonesian and Japanese cultures through idiomatic expressions. This study sheds further light on the intersection between cultural intelligence and idiomatic language, enhancing our understanding of how culture influences language use and interpretation.
Sintren as a Traditional Performing Art in Mirat Village Kartika, Nyai; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Agus S. Suryadimulya; Susi Yuliawati; Sriwardani, Nani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 39 No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v39i2.2551

Abstract

Sintren art is a traditional art that developed in almost all coastal areas of the island of Java. In Majalengka, sintren art developed in Mirat Village, Leuwimunding District. Sintren as a traditional art grew among rural communities that were becoming modern so sintren then survived as a traditional performing art that had an influence on the social life of the community. This research was carried out using qualitative research methods which are believed to be a scalpel in research so as to help explain the research object factually. Data collection techniques were carried out by direct observation and interviewing sources. The results of this research show that sintren in Mirat Village is not only a traditional art that was initially performed in ceremonies or rituals, but also a traditional performing art that can be performed during circumcision celebrations, weddings, and welcoming guests who come to the village. There has been a shift in sintren performances, currently sintren can be performed anytime and anywhere depending on the enthusiasm and demand of the community, because currently the values contained in this sintren performing art are no longer closely tied to a ceremony or ritual alone. Sintren art absorbs the cultural values of the community so Sintren performing arts have become part of the culture of the Mirat community.
Pengembangan Potensi Destinasi Wisata Kuliner Berbasis Masyarakat: Di Desa Pengujan Kabupaten Bintan Kepulauan Riau Andini, Cindy; Nugraha, Awaludin; Novianti, Evi
Masyarakat Pariwisata : Journal of Community Services in Tourism Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/mp.v5i1.1510

Abstract

Pengujan merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Pulau Pengujan masuk wilayah Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan. Jumlah penduduk Desa Pengujan 1.395 jiwa. Desa Pengujan terkenal karena potensi kekayaan perikanan yang baik di Kabupaten Bintan sehingga kebanyakan peneliti datang untuk meneliti mengenai kelautan dan perikanan, namun jarang sekali pembahasan mengenai potensi desa wisata di Desa Pengujan Desa Pengujan memiliki beberapa potensi yang jika dikembangkan dapat membantu mengembangkan desa wisata. Diantaranya adalah kekayaan Sosial dan Budaya, Desa Pengujan sangat kental dengan masyarakat melayu. Desa Pengujan memiliki satu makam tua yang dipercayai sebagai makam yang sakral. Kedua adalah Kuliner, Desa Pengujan terkenal sebagai salah satu pusat perikanan di Pulau Bintan. Desa Pengujan terkenal dengan makanan-makanan khas melayu. Desa Pengujan terkenal dengan potensi “Gong-gong”. Gonggong adalah salah satu jenis seafood yang menjadi ciri khas dari kepulauan riau, Kemudian Desa Pengujan juga terkenal dengan Asam Pedas Kerapu, Gulai Ikan Sembilang dan berbagai makanan khas melayu lainnya. Pada 2019, Desa Pengujan mulai mengembangkan desa wisata berbasis masyarakat, namun belum maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu mengembangkan potensi Desa Pengujan agar mampu menjadi desa wisata. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian ini adalah beberapa masyarakat belum secara merata mengetahui apa itu desa wisata dan pariwisata berbasis masyarakat. Hal ini menjadi sangat penting karena dalam proses pengembangannya, masyarakat harus terus dilibatkan dalam semua aspek.
Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Desa Karya Pandai Besi dalam Pembentukan Wisata Edukasi Pandai Besi Untuk Menciptakan Lapangan Pekerjaan dan Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Suryana, Aan; Darna, Nana; Nugraha, Awaludin; Wahyunita, Rina; Nuralim, Muhamad; Yusuf, Hilmi Maulana
Abdimas Galuh Vol 6, No 2 (2024): September 2024
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v6i2.15596

Abstract

Kelompok masyarakat desa karya pandai besi merupakan masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai perajin pandai besi, yang berlokasi di desa Baregbeg kabupaten Ciamis. Mata pencaharian sebagai perajin pandai besi sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, sehingga mata pencaharian ini selain memiliki nilai ekonomi juga memiliki nilai sejarah dan budaya. Berdasarkan hal tersebut kelompok desa karya pandai besi dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi yang nantinya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Namun, dalam perkembangannya kelompok masyarakat ini menghadapi permasalahan yang cukup banyak, diantaranya belum adanya konsep dan kebijakan pembentukan wisata edukasi pandai besi, serta belum terbentuknya Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang mampu menjembatani untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Kegiatan PKM ini bertujuan untuk membentuk wisata edukasi pandai besi dan membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) desa karya pandai besi. Bahan dan metode yang digunakan dalam kegiatan PKM, yaitu metode Participatory Rural Appraisal (PRA), yaitu sebuah metode yang mengajak masyarakat ikut terjun langsung pada kegiatan pembangunan maupun pengembangan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan diantaranya sosialisasi, pelatihan, pendampingan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi. Hasil kegiatan pengabdian, yaitu terbentuknya wisata edukasi pandai besi, sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru, diantaranya pembuatan merchandise sebagai ciri khas wisata. Selain itu, kegiatan PKM ini berhasil membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) desa karya pandai besi. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa terbentuknya wisata edukasi pandai besi dan KUBE dapat dilakukan dengan adanya kerjasama antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah, sehingga potensi yang ada disetiap wilayah mampu berkembang sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan.
Seni Lukis Modern Bernafaskan Islam di Bandung 1970-2000an Agus Cahyana; Reiza D Dienaputra; Setiawan Sabana; Awaludin Nugraha
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1136

Abstract

ABSTRACTWriting the history of the development of modern Indonesian painting from thematic point of viewstill refers to importance events that compose the mainstream of contemporary art trends in Indonesiainfluenced by the West. While events that are no less important relating to the emergence of aesthetictendencies related to religion have been marginalized, especially in modern art with Islamic breath becomeimportant part in the history of the development of modern Indonesian painting, aesthetic approach toanalyze the visual elements present in the painting. The result of this study the development of modernIslamic art in Bandung shows that there are 4 period of development, the 70s, the 80s, the 90s, and 2000s.This division of time is based on thematic tendencies that emerge and became the main tendencies at eachtime.Keywords: Painting, modern, Islam, BandungABSTRAKPenulisan sejarah perkembangan seni lukis modern Indonesia dari sudut pandang tematik hinggasaat ini masih mengacu pada peristiwa penting yang menggubah arus utama kecenderunganseni rupa kontemporer di Indonesia yang dipengaruhi Barat. Sementara peristiwa yang tidakkalah penting berkaitan dengan munculnya kecenderungan estetik yang berkaitan denganagama menjadi terpinggirkan, khususnya dalam seni lukis modern bernafaskan Islam. Halitu yang menjadi latar belakang penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar perkembanganseni lukis modern bernafaskan Islam menjadi bagian penting dalam sejarah perkembanganseni lukis modern Indonesia khususnya di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metodesejarah visual yang tentu melibatkan pendekatan estetik untuk menganalisis unsur-unsurrupa yang hadir dalam lukisan. Hasil dari penelitian ini perkembangan seni lukis modernbernafaskan Islam di kota Bandung secara tematik menunjukkan bahwa terdapat 4 periodeperkembangan, yaitu masa tahun 70-an, masa perkembangan di tahun 80-an, di tahun 90-andan tahun 2000-an. Pembagian masa ini berdasarkan kecenderungan tematik yang muncul danmenjadi kecenderungan utama pada tiap masa.Kata Kunci: Seni lukis, modern, Islam, Bandung
Batik Pasiran: Wujud Kearifan Lokal Batik Kampung Pasir Garut Nyai Kartika; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha
PANGGUNG Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i4.1368

Abstract

Batik Pasiran merupakan wujud seni batik yang dihasilkan oleh masyarakat Kampung Pasir,Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Batik Pasiran tergolong batik yangbaru berkembang dan diperkenalkan oleh masyarakat Kampung Pasir. Batik tersebut memilikikeunikan dan nilai-nilai leluhur Kampung Adat Pasir, bentuk kearifan lokal masyarakatnya.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis budaya yang diharapkanmampu mengungkap dan menjabarkan bagaimana bentuk kearifan lokal yang dikiaskandalam Batik Pasiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitiankualitatif yang akan membantu mengabstraksikan pertalian antara bentuk seni dalam hal inibatik dengan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di dalam budaya masyarakat KampungPasir. Hasil penelitian menjelaskan bahwa corak motif Pasiran menggambarkan kehidupanmasyarakat yang menyatu dengan alam. Dalam hal ini batik, bukan hanya sekedar hasil budaya,lebih jauh lagi makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan ungkapan daripengalaman empiris dan keseharian masyarakat yang membentuk satu kesatuan budaya.Kata Kunci: Batik, Pasiran, Kearifan Lokal
Reduplikasi Upacara Adat Bapelas Sebagai Simbol Kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara Emmy Sundari; Reiza D Dienaputra; Awaludin Nugraha; Susi Yuliawati
PANGGUNG Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1679

Abstract

Subjek penelitian ini adalah upacara adat Bapelas. Objek pembahasannya tentang pembacaansimbol-simbol kekuasaan di upacara adat Bapelas. Pembacaan simbol dilakukan dalam bentukreduplikasi dan pengamatan langsung struktur pelaksanaan upacara adat Bapelas. Pengkajianini dilakukan melalui pengumpulan data-data secara empiris, bersifat induktif, menggunakanmetode kualitatif dan analisis interpretatif. Reduplikasi upacara adat Bapelas merupakanpengulangan upacara ritual-sakral warisan leluhur secara turun-temurun dari tahun ke tahun.Upacara adat Bapelas menyimpan banyak simbol-simbol yang mencerminkan kekuasaansultan sebagai pemegang kekuasaan di Kerajaan Kutai. Namun sultan sendiri tidak memegangkekuasaan dan wewenang di masa pemerintahan Republik Indonesia. Kekuasaan dalampenelitian ini, hanya sebatas kekuasaan sultan sebagai pemegang kekuasaan adat di kerajaan.Kekuasaan dan wewenang hanya sebagai simbol legitimasi atau pengakuan bahwa KerajaanKutai Kartanegara sampai saat ini masih berdiri. Pemerintah Indonesia menjadikan Kerajaanini sebagai warisan budaya (kearifan lokal) dan pariwisata bagi kemajuan ekonomi, sosial, danpolitik Kutai Kartanegara .Kata Kunci: Bapelas, simbol, kekuasaan.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN KELOMPOK MASYARAKAT DESA KARYA PANDAI BESI MELALUI PENGGUNAAN MESIN TEMPA UNTUK MENINGKATKAN KUANTITAS BARANG PRODUKSI Aan Suryana; Awaludin Nugraha; Nana Darna; Rina Wahyunita; Cipto Surya Pramesti
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The Blacksmith Village community group is one of the community groups whose livelihood is  blacksmithing, so they can produce work that has economic value. However, in the process, this  community group faces many problems, including the use of traditional production tools, so the number  of goods produced every day still needs to be improved. The PKM activities aim to resolve the problems  faced by partners, namely by using more modern production equipment such as forging machines. The  method implemented in PKM activities is a method that involves the community directly in participating  in each PKM program that is implemented, through socialization, training and practice, mentoring,  evaluation, and sustainability of the program after the PKM is completed. The results of PKM activities  show that partners' understanding regarding the use of forging machines has increased based on the  results of distributing questionnaires, namely from 50% to 90%. Apart from that, the use of forging  machines can increase the quantity of goods produced every day from 1-2 pieces of equipment to 3 pieces  of equipment. Based on this, it can be concluded that the use of more modern equipment can help  partners/craftsmen to increase the quantity of goods produced. Abstrak Kelompok masyarakat desa karya pandai besi merupakan salah satu kelompok masyarakat yang memiliki  mata pencaharian sebagai pandai besi, sehingga mereka mampu mengahsilkan karya yang memiliki nilai  ekonomi. Namun dalam prosesnya kelompok masyarakat ini menghadapi banyak permasalahan,  diantaranya penggunaan alat produksi yang masih tradisional, sehingga jumlah barang yang dihasilkan  setiap harinya masih belum maksimal. Kegiatan PKM yang dilaksnakan bertujuan untuk menyelesaikan  permaslahan yang dihadapi mitra, yaitu dengan menggunaan alat produksi yang lebih modern seperti  mesin tempa. Metode yang dilaksakan dalam kegiatan PKM, yaitu metode yang melibatkan masyarakat  secara langsung untuk mengikuti setiap program PKM yang dilaksankan, melalui langkah-langkah  sosialisasi, pelatihan dan praktek, pendampingan, evaluasi, serta keberlanjutan program setelah PKM  selesai dilaksanakan. Hasil kegiatan PKM menunjukan bahwa pemahaman mitra terkait penggunaan  mesin tempa meningkat berdasarkan hasil penyebaran kuesioner, yaitu dari 50% menjadi 90%. Selain  itu, penggunaan mesin tempa mampu meningkatkan kuantitas barang yang dihasilkan setiap harinya dari  yang awalnya 1-2 kodi alat perkakas menjadi 3 kodi. Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan  bahwa penggunaan peralatan yang lebih modern dapat membantu mitra/perajin untuk meningkatkan  kuantitas barang yang dihasilkan.
Pemberdayaan Kelompok Masyarakat Desa Karya Pandai Besi Kampung Dokdak Melalui Penggunaan Mesin Belt Grinder Untuk Meningkatkan Kualitas Barang Produksi Suryana, Aan; Darna, Nana; Nugraha, Awaludin
Unri Conference Series: Community Engagement Vol 6 (2024): Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/unricsce.6.262-268

Abstract

The Dokdak Village blacksmith community group is a community whose majority livelihood is as blacksmith craftsmen with a total of 27 craftsmen. This community group is located in Baregbeg village, Ciamis district. The Blacksmith Village community group has quite a lot of problems, one of which is the use of traditional means of producing goods. This causes the low quality of the goods produced, so they are still unable to compete with those produced outside the Ciamis district area. To overcome this problem, it is necessary to use modern goods production equipment, namely belt grinder machines to improve the quality of the goods produced. The method used in this service activity is Participatory Rural Appraisal (PRA) with the steps taken, namely socialization, training, application of technology, mentoring, and evaluation as well as program sustainability activities after the service is completed. The results of service activities show that community knowledge and understanding regarding the use of belt grinder machines increased from 50% to 80%. Apart from that, the use of a belt grinder machine can improve the quality of the goods produced, increasing the selling value of goods that were initially sold for IDR 50,000 to IDR 150,000. Based on the explanation above, it can be concluded that the use of modern goods production tools can help solve the problems faced by craftsmen.
Building Good Governance in Sustainable Tourism Management in the Riau Islands Andini, Cindy; Nugraha, Awaludin; Novianti, Evi; Yustikasari, Yustikasari; Pamungkas, Kasno; Hadian, Mohammad Sapari Dwi
Journal of Governance Volume 10 Issue 1: (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31506/jog.v10i1.31017

Abstract

This qualitative study explores the implementation of good governance principles in the management of sustainable tourism in the Riau Islands. The research aims to identify the challenges and opportunities associated with applying good governance in this region, focusing on key areas such as accountability, transparency, legal frameworks, and information dissemination. Data collection was conducted through interviews with government officials, tourism industry stakeholders, and local communities to gain insights into their experiences and perspectives. The findings reveal that while there are significant obstacles, including weak inter-agency coordination and limited community participation, there are also considerable opportunities, such as leveraging public-private partnerships and fostering community-based tourism initiatives. The study concludes by offering recommendations to strengthen governance mechanisms, promote stakeholder collaboration, and enhance the overall sustainability of tourism in the Riau Islands, ensuring balanced benefits for the local economy, environment, and society.