Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pengaruh Penyuluhan Pola Asuh Terhadap Peningkatan Status Gizi Anak Balita Tri Marta Fadhialh; JB. Suparyatmo; Adi Prayitno
Jurnal Gizi Kesehatan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Penyuluhan pola asuh merupakan suatu pendekatan edukatif yang dilakukan dengan cara memberikan perhatian, menyampaikan pesan, mengajak beraktifitas dan memberikan pemikiran/solusi. Kekurangan gizi pada anak usia dibawah lima tahun (balita) antara lain disebabkan oleh pola asuh yang jelek, sehingga terjadi penurunan status gizi anak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penyuluhan pola asuh (pemberian makanan sehat, praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan serta perawatan saat sakit) terhadap peningkatan status gizi balita.Metode: Jenis penelitian ini adalah Pre-experimental dengan rancangan One group pre-test and post-test desain. Sampel terdiri dari balita dengan usia hingga 60 bulan (5 tahun) dengan status gizi kurang yang tinggal di Desa Bangsri dan Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar 1 April hingga Agustus 2013. Teknik pengumpulan data menggunakan kuestioner tentang pola asuh (pemberian makanan sehat, praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan, perawatan saat sakit) dan pengukuran BB/TB. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji Paired T-test dan uji Bivariate Correlation.Hasil: Ada 80 balita dikumpulkan. Sebelum konseling tercatat bahwa pemberian makanan sehat dengan 52,40 poin dan sesudah konseling dengan 89,8 poin. Praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan dengan 62,73 poin (sebelum) dan 85.42 poin (sesudah). Perawatan saat sakit dengan 55.27 poin (sebelum) dan 82,84 poin (sesudah). Dan nilai BB / TB dengan 1,30 poin (sebelum) dan 0,43 poin (sesudah). Ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah penyuluhan tentang pemberian makanan sehat, praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta perawatan saat sakit (p = 0,001). Ada pengaruh yang signifikan antara penyuluhan pola asuh (pemberian makanan sehat, praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta perawatan saat sakit) dengan peningkatan status gizi balita (p = 0.008).Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah semakin sering dilakukan penyuluhan pola asuh (pola pemberian makanan sehat, praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan, dan perawatan saat sakit) semakin meningkat status gizi balita. Kata Kunci : Penyuluhan, Pola Asuh, Status Gizi, Balita
Gingival Index as a Marker of Oral Inflammation in Systemic Lupus Erythematosus Risya Cilmiaty; Widia Susanti; Betty Saptiwi; Adi Prayitno; Alfiyah Pujiyati; Damiana Tribhuwaneswari Mahendra Wardhani
Jurnal Kesehatan Gigi Vol. 13 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Jurusan Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkg.v13i1.14342

Abstract

Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic autoimmune disorder with multisystem involvement that can affect periodontal tissues, leading to gingival inflammation. While global studies have employed various clinical parameters to assess this association, specific research comparing gingival inflammation between SLE patients and healthy controls in the Indonesian population remains limited. This study aimed to investigate this association by using the Gingival Index (GI) in a cohort from Surakarta, Indonesia. This comparative analytical study involved 100 participants (50 SLE patients and 50 healthy controls). SLE diagnosis was confirmed using the 2019 EULAR/ACR criteria. Gingival inflammation was assessed with the Löe and Silness Gingival Index. The Mann-Whitney U test was used to compare GI scores between groups, and Spearman's correlation was used to analyze the relationship between GI and group status, with statistical significance set at p < 0.05. The SLE group exhibited a significantly higher median GI of 0.5 (IQR: 0.0–1.0) compared to 0.1 (IQR: 0.0–0.2) in the healthy control group (p < 0.05). Spearman's correlation confirmed a moderate association between group status and GI scores (r = -0.379, p < 0.05), indicating that the SLE group had higher gingival inflammation compared to healthy controls. These findings indicate that SLE is significantly associated with increased gingival inflammation, highlighting the interplay between systemic autoimmunity and periodontal health. The Gingival Index may serve as a useful clinical marker for systemic inflammation in SLE, which underscores the need for collaborative care between rheumatologists and dental professionals. Keyword: systemic lupus erythematosus (SLE); gingival index (GI); periodontal health; gingival inflammation; autoimmune disease
Deteksi Plak Gigi dan Edukasi Kebersihan Gigi pada Murid Sekolah Dasar di Kota Surakarta sebagai Upaya Preventif Karies Dini Saptiwi, Betty; Susanti, Widia; Pujiyati, Alfiyah; Cilmiaty, Risya; Prayitno, Adi; Wardhani, Damiana Tribhuwaneswari Mahendra
Abdimas Universal Vol. 8 No. 2 (2026): Oktober (In Press)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Balikpapan (LPPM UNIBA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/abdimasuniversal.v8i2.2872

Abstract

Dental caries remains one of the most persistent health problems among children, frequently triggered by plaque accumulation due to poor oral health knowledge and ineffective toothbrushing techniques. This community service program aimed to measure the effectiveness of dental health education combined with a group toothbrushing practice on improving knowledge and reducing dental plaque index among fourth-grade students at SD Negeri Wonosaren, Surakarta (n=40). The program was implemented using a one-group pretest-posttest pre-experimental design, comprising a knowledge-level questionnaire and visualization of dental plaque using a disclosing agent based on the Silness & Löe Plaque Index. Results showed that the mean knowledge score increased from 51.25 to 88.40, a relative improvement of 72.5%, exceeding the minimum target improvement of 70%. The plaque index also improved: the proportion of students in the good category increased from 15.0% (6 students) to 72.5% (29 students), while the poor category was fully eliminated (0.0%). These findings demonstrate that combining interactive education with group toothbrushing practice effectively enhances children's cognitive knowledge and oral hygiene skills, and may serve as a replicable model for early caries prevention in other elementary schools.