Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Jenis Pisang (Musa Paradisiaca) Terhadap Karakteristik Tapai Pisang di Banyuwangi Helmy Ahfas; Rosyid Ridho; Laela Nuraini
JURNAL TEKNOLOGI PANGAN DAN ILMU PERTANIAN (JIPANG) Vol. 1 No. 1 (2019): JURNAL JIPANG
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.663 KB)

Abstract

The general objective of this study was to determine the effect of banana species on organoleptic properties in tapai. The specific purpose of this study was to determine the differences in tapai nutritional content of several types of bananas and find out the type of banana suitable for tapai banana.This experiment uses RAL consisting of 4 types of bananas including kepok banana, awak banana, kayu banana and raja / sajen. The results showed that the organoleptic test most favored by panelists was kepok banana andfrom chemical tests showed that kayu banana had the highest protein content than the other banana species which was 1.21% and raja / sajen had the highest sugar content than the type the other banana is 12.38%.
Pengaruh Konsentrasi Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Dan Gula Terhadap Karakteristik Selai Umar Syaifuddin; Rosyid Ridho; Restiani Sih Harsanti
JURNAL TEKNOLOGI PANGAN DAN ILMU PERTANIAN (JIPANG) Vol. 1 No. 1 (2019): JURNAL JIPANG
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.721 KB)

Abstract

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi kulit buah naga merahberpengaruh terhadap karakteristik selai. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan gula terhadap karakteristik selai dan mengetahui kombinasi perlakuan kulit buah naga merah dan penambahan gula terbaik dalam pembuatan selai. Penelitian ini dilakuakn mulai mei s/d agustus 2017. Percobaan ini dilakukan secara faktorial menggunakan RAL yang terdiri dari 2 faktor perlakuan dengan 5 ulangan 2 faktor perlakuan yang di uji adalah kulit (K) yang terdiri dari 2 taraf kulit 500 gram (K1), dan 750 gram (K2). Faktor gula (G) yang terdiri dari 2 taraf gula 45% (G1), dan 55% (G2). Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi perlakuan K2G1 bebih disukai oleh panelis hal ini di lihat dari hasil uji DMRT yang lebih tinggi pada variabel penerimaan warna, tekstur, rasa, dan daya oles. Selain disukai perlakuan K2G1 juga memiliki aktivitas antioksidan tertinggi. Peningakatan kadar kadar gula berpengaruh terhadap menurunnya aktivitas antioksidan sedangkan konsentrasi kulit buah naga merah terbaik adalah 750 gram.
PERBANDINGAN ASAM OKSALAT (H2C2O4) DAN TITANIUM DIOKSIDA (TiO2) PADA PROSES FOTOREDUKSI ION Fe3+ siti nurhalimah; Rosyid Ridho
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Crystal Volume 3
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v3i1.1422

Abstract

Dalam penelitian ini telah dipelajari pengaruh massa katalis, konsentrasi larutan FeCl3, keberadaan asam oksalat (H2C2O4) dan Titanium Dioksida (TiO2) terhadap efektivitas foto reduksi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengembangan metode foto reduksi yang dikatalis oleh asam oksalat dan titanium dioksida guna pengurangan konsentrasi ion Fe3+. Proses fotoreduksi ion Fe3+ dilakukan dalam suatu reactor tertutup yang dilengkapi lampu UV, yaitu dengan cara menyinari larutan yang terdiri dari larutan FeCl3 dan Kristal asam oksalat atau titanium dioksida, disertai pengadukan selama24 jam. Penentuan konsentrasi ion Fe3+ yang tidak tereduksi dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) tehnik pembangkitan uap dingin atau Cold-Vapor Atomic Absorption Spectrophotometry (CV-AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak penggunaan fotokatalis asam oksalat dapat meningkatkan hasil foto reduksi ion Fe3+. Akan tetapi, semakin banyak penggunaan fotokatalis titanium dioksida maka dapat menurunkan hasil fotoreduksi ion Fe3+. Waktu penyinaran 24 jam adalah waktu optimal yang menghasilkan kenaikan fotoreduksi yang besar. Pada tahap konsentrasi larutan dengan massa katalis TiO2 75mg menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan FeCl3, maka semakin besar efektivitas fotoreduksi. Hal ini dikarenakan kenaikan konsentrasi dapat menyebabkan peningkatan kekentalan yang diakibatkan oleh kenaikan populasi spesies ion Fe3+ dalam larutan, sehingga menghalangi tumbukan antara ion Fe3+ dengan elektron, yang mengakibatkan rendahnya fotoreduksi. Didapatkan konsentrasi larutan FeCl3 yang optimal yaitu pada 10 ppm dan FeCl3 tereduksi sebesar 96,05%. Akan tetapi pada tahap konsentrasi larutan dengan massa katalis Asam Oksalat (H2C2O4) 10 mg menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan FeCl3 maka efektivitas fotoreduksi semakin rendah. Hal ini dikarenakan semakin tinggi konsentrasi larutan FeCl3 maka elektron yang dihasilkan akan semakin tinggi yang mengakibatkan efektivitas fotoreduksi semakin rendah. Didapatkan konsentrasi larutan FeCl3 yang optimal yaitu pada 5 ppm dan FeCl3 tereduksi sebesar 89 %.
APLIKASI FOTOKATALIS TIO2-RESIN PADA FOTOREDUKSI ION CU2+ Rosyid Ridho
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 3 No. 1 (2021): Jurnal Crystal Volume 3
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v3i1.1424

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan proses fotoreduksi yang dilakukan dengan sistem batch, dan dalam tahap ini juga dipelajari pengaruh massa fotokatalis TiO2-Resin, Pengaruh penyinaran, dan Pengaruh Ion CN terhadap fotoreduksi Ion Cu2+. Kenaikan massa fotokatalis (5–20 mg) memberikan efektivitas fotoreduksi ion Cu(II) yang semakin besar, namun untuk massa yang lebih tinggi lagi (30-40 mg) dapat menurunkan efektivitas. Penggunaan fotokatalis TiO­2-Resin memberikan hasil fotoreduksi ion Cu(II) yang lebih tinggi (77,6%) dibandingkan dengan tanpa menggunakan fotokatalis (38,98%). Penyinaran memberikan pengaruh yang signifikan pada fotoreduksi ion Cu(II) dibandingkan tanpa penyinaran. Sedangkan adanya ion CN akan menghambat proses fotoreduksi ion Cu(II).
PENGARUH ASAM OKSALAT DARI SEKAM PADI SEBAGAI AGEN PEREDUKSI ION Hg (II) DAN DESINFEKSI BAKTERI E. Coli SECARA FOTOKATALITIK Rosyid Ridho
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 3 No. 2 (2021): Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v3i2.1805

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan proses ekstraksi asam oksalat dari sekam padi yang meliputi peleburan dengan NaOH, pengendapan dengan penambahan CaCl2, pengasaman dengan menggunakan H2SO4 dan kristalisasi sehingga terbentuk kristal oksalat. Kristal oksalat yang dihasilkan digunakan untuk mereduksi larutan Hg(II) dengan variasi massa oksalat dan konsentrasi awal Hg(II). Selain itu kristal oksalat juga digunakan untuk mendegradasi bakteri E. Coli di ruang gelap dan dengan penyinaran UV.Dari hasil penelitian didapatkan massa oksalat optimum yang digunakan untuk mereduksi ion Hg(II) sebesar 75 mg dengan efektivitas fotoreduksi 74,77%, sedangkan untuk variasi konsentrasi Hg(II) awal menunjukkan semakin tinggi konsentrasi merkuri maka semakin kecil efektivitas fotoreduksinya. Pada penambahan asam oksalat dengan sinar UV, menunjukkan jumlah bakteri E. Coli yang terdegradasi mencapai 98,9%, sedangkan jika diruang gelap hanya mencapai 80,55 %
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN/MONTMORILONIT-GLUTARALDEHID/KITOSAN (CS/MMG-GA) APLIKASINYA DALAM FUEL CELL Eko Malis; Rosyid Ridho; Heppy Findari
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 4 No. 2 (2022): Penelitian Kimia dan Terapannya
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v4i2.2506

Abstract

Telah dilakukan penelitian pembuatan membran komposit montmorilonit-glutaraldehid/kitosan (C/MM-GA). Kitosan dipreparasi dari cangkang bekicot yang diperoleh dari desa tamansari Banyuwangi sebagai matrik polimer, montmorilonit sebagai filler annorganik sedangkan crosslinker digunakan glutaraldehid. Untuk meningkatan daya serap dan permeabilitas membrane komposit C/MMG-GA divariasikan methanol yaitu dengan konsentrasi 2;3;4;5;6) M. kitosan yang berhasil disintesis mempunyai derajat desastilasi (DD) sebesar 74,085 %.Untuk meningkatkan sifat dan kinerja membrane komposit C/MMG-GA dimodifikasi dengan glutraraldehid. Dari hasil penelitian diketahui bahwa konsentrasi methanol sebesar 6 M menunjukkan hasil terbaik daya serap methanol sebesar 49,0654 % Dari hasil serapan FTIR dapat diketahui bahwa membrane komposit C/MMG-GA berhasil sintesis.
Sintesis Dan Karakterisasi Titanium Dioksida (Tio2) Plat Kaca Serta Aplikasi Pada Proses Fotodegradasi Metilena Biru Ni Putu Gita Anggreani; Rosyid Ridho; rika endara safitri
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Crystal: Publikasi Penelitian Kimia dan Penerapannya
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v1i2.801

Abstract

Telah dilakukan pembuatan TiO2 Plat Kaca untuk fotokatalis yang digunakan dalam prosesfotodegradasi zat warna metilena biru. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan teknologifotoadsorp dengan skala besar untuk proses penanganan limbah dalam jumlah besar.Teknologi fotoadsorp adalah modifikasi alat sederhana dengan menambahkan lampu UVsebanyak 8 unit untuk proses penyinaran dan dilakukan pengadukkan yang dimana padapengaduknya dipasang TiO2 Plat Kaca. Pembuatan TiO2 Plat Kaca dilakukan denganmelapisi TiO2 yang mengandung etanol pada plat kaca. Pelapisan dilakukan dengan variasiTiO2 Plat Kaca 2, 4, 6, 8, dan 10x. Kemudian struktur kristal TiO2 Plat Kaca dianalisismenggunakan difraktometer sinar-X (XRD) dan didapatkan hasil terbaik pada pelapisan8x. Pengujian keefektifitasan TiO2 Plat Kaca dilakukan dengan menentukan waktupenyinaran (1, 2, 3, 4, 5 dan 6 jam) dan banyak lampu (2, 4, 6 dan 8 unit) maksimum yangdiaplikasikan pada zat warna metilena biru 5 ppm dan didapatkan hasil maxmimum padawaktu penyinaran 6 jam dan banyak lampu 8 unit. Setelah ditentukan waktu penyinarandan banyak lampu optimum, kemudian dilakukan variasi pelapisan optimum. Larutansampel diuji menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis dengan panjang gelombang 663 nm.Kemudian didapatkan variasi pelapisan maximum sebesar 10 kali pelapisan.
Pengaruh Penambahan Kulit Kopi Kering Terhadap Penurunan Kadar Kafein Pada Kopi Lanang (Peaberry Coffee) Ana Nur Imama; Rosyid Ridho; rika endara safitri
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Crystal: Publikasi Penelitian Kimia dan Penerapannya
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v1i2.802

Abstract

Kopi merupakan minuman yang banyak digemari masyarakat luas, kopi mengandungkafein yang bisa membuat orang kecanduaan. Kafein dapat diturunkan dengan caramenambahkan kulit biji kopi terhadap kopi bubuk. Kulit kopi dapat menurunkan kadar kafeinkarena mengandung senyawa antioksidan. Analisyis kadar kafein pada kopi dengan variasimassa penambahan kulit biji kopi yaitu (5,10,15,20,25%) terhadap 25 gram dan dilarutkan pada100 mL Akuades dan 2 gram Natrium Karbonat (Na2CO3) untuk mengikat zat tanin yangterlarut, ektrak dengan klorofom karena kafein mudah larut dalam kolorofom, titrasi dengannatrium thiosulfat hingga terjadi perubahan warna. Hasil penamambahan massa paling optimumadalah pada 25% yaitu dengan kadar kafein 0,0042. Analisis Penambahan 25% massa kulit kopiterhadap 25 gram kopi dengan variasi suhu seduh pelarut yaitu (60,70,80,90,100 0C). hasil dariperlakuan variasi suhu seduh yang paling optimum adalah pada suhu 90-96 0C karena suhu airpaling baik dalam membuat kopi, dari suhu optimum kadar kafein adalah 0,0044. pH yangterkandung dalam 25% penambahan kulit kopi terhadap 25 gram kopi lanang adalah 5,5 yangartinya kopi layak dikonsumsi dan dari 10 panelis menyukai kopi ini karna rasanya sama dengankopi tanpa penambahan kulit kopi tersebut. Pada Penelitian ini menggunakan metode titrasiektraksi klorofoms.
Efektivitas Edible Coating Dari Whey Protein Dan Kitosan Sebagai Bahan Pengemas Organik Pada BuahRanti (Solanum Nigrum L.) Laela Kurnia Fitriani; Rosyid Ridho; Qurrata Ayun
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Crystal: Publikasi Penelitian Kimia dan Penerapannya
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v2i1.921

Abstract

Penelitian tentang efektivitas edible coating dari whey protein dan kitosan sebagai pengemas organik pada buah ranti (Solanum ningrum L.)telah dilakukan. Edible coating merupakan lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan. Kajian yang dilakukan meliputi karakterisasi kitosan melalui analisis FTIR, pembuatan formulasi paduan edible coating melalui beberapa variasi dari bahan yang digunakan, dan uji efektivitas edible coating melalui beberapa analisis. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu karakterisasi kitosan berdasarkan analisis FTIR (Fourier Transform InfraRed) ; melakukan pembuatan formulasi edible coating melalui beberapa variasi yakni variasi massa whey protein dan variasi massa kitosan serta variasi massa gliserin. Setelah menemukan formulasi yang tepat antara whey protein dan kitosan serta gliserin, maka dilakukan uji efektivitas edible coating yang diaplikasikan pada buah ranti (Solanum ningrum L.) melalui analisis kadar susut bobot, kadar air, kadar totalasam tertitrasi, dan kadar vitamin C.Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimasi variasi edible coating yakni pada massa 6 g whey protein, 0,6 g kitosan, dan 3 g gliserin. Serta larutan edible coating dapat mempertahankan nilai kadar air, susut bobot, vitamin C, dan total asam pada buah ranti (Solanum ningrum L.) lebih baik dibandingkan dengan buah ranti (Solanum ningrum L.) yang tidak diberi larutan edible coating (kontrol).
EKSTRAKSI SENYAWA TANIN DARI MANGROVE (Brugueria gymnorrhiza) MENGGUNAKAN PELARUT AQUADES DAN ETANOL SEBAGAI PEWARNA ALAMI DAN PENGUAT SERAT KAIN Tika Meliyati Putri; eko malis; Rosyid Ridho
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Crystal: Publikasi Penelitian Kimia dan Penerapannya
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v2i1.922

Abstract

Tanin merupakan senyawa kompleks biasanya campuran polifenol tidak mengkristal (tannin extracts). Penelitian ini pengambilan ektrak tanin dengan metode ektraksi soklet selama 3 jam dengan pelarut aquades dan pencampuran aquades- etanol dengan pernabdingan 1:1, 1:2, 1:3, dan 1:4 dengan suhu pelarut aquades 70oC dan pencampuran aquades-etanol 80oC. Pewarnaan ditambahkan NaCl dan proses mordanting dengan menggunakan Al2(SO4)3. Ikatan yang terbentuk hanya merupakan ikatan hidrogen, tetapi zat fiksator (Al2(SO4)3, CaO, dan CaCO3 dapat mengunci dan melapisi tanin agar tidak mudah keluar dari dalam serat. Hal ini dapat dilihat dari nilai uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian pada yang memperoleh nilai rata-rata antara 4-5 CD dan nilai rata-rata RGB bahwa nilai paling baik adalah hasil ekstrak dengan pelarut aquades-etanol perbandingan 1:3 dengan nilai rata-rata fiksasi CaO 0 CD dan CaCO3 6,6 CD. Hasil identifikasi terhadap isolat menggunakan spektrofotometer FTIR didapat spektrum yang spesifik untuk senyawa tanin yaitu pada bilangan gelombang 3424,96 cm-1; 2923,56 cm-1; 1635,34 cm-1; 1130,08 cm-1, 759,816 cm-1. Kekuatan serat yang baik adalah kain yang mendapatkan treatment CaO dan CaCO3 dengan nilai 3 Kg dibanding dengan sampel kain yang mendapatkan treatment Al2(SO4)3 dengan nilai 2,5 Kg.