Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Usaha Kue Cincin pada Industri Rumah Tangga Ulit Cincin di Desa Binjai Pemangkih Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah Dengan Bisnis Model Canvas Muhammad Arif Abdillah; Muhammad Fauzi; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7851

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui total biaya, pendapatan dan keuntungan pada industri rumah tangga kue cincin “Ulit Cincin” dan gambaran bisnis model kanvas. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Binjai Pemangkih Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada bulan Januari 2022 sampai Juli 2022. Periode pengambilan dan perhitungan data dilakukan satu bulan produksi yaitu pada bulan Januari 2022 dan Penelitian dilakukan menggunakan teknik Purposive Sampling dengan pertimbangan- pertimbangan tertentu. Industri rumah tangga kue cincin “Ulit Cincin”memproduksi sebanyak 1.200 biji dalam satu hari dengan harga jual Rp.600/biji. Total biaya yang dikeluarkan selama satu bulan adalah sebesar Rp.18.898.416 dengan perhitungan dari biaya eksplisit Rp.16.648.416 dan biaya implisit Rp. 2.250.000. Penerimaan Rp. 21.600.000 hasil tersebut perkalian dari 1.200 biji kue cincin setiap harinya dengan harga jual Rp. 600/biji. Pendapatan Rp.4.951.584 dan Keuntungan Rp.2.701.584 Bisnis model kanvas adalah konsep bisnis yang menjadi sederhana yang ditampilkan pada satu lembar kanvas dengan sembilan elemen Bisnis model kanvas terdapat dua elemen yang utama yaitu Costumer Segment sebagai tujuan bisnis dan Value propositions sebagai penentu langkah bisnis selanjutnya. Costumer Segmen, jumlah konsumen di luar Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebesar 70 % dan Masyarakat setempat sebesar 30%. Value propositions, pemilik usaha konsisten dalam membuat kue cincin yang memiliki rasa enak, tekstur yang gurih, aromanya harum, dan harga yang terjangkau, serta sudah memiliki izin usaha yang diterbitkan oleh Lembaga OSS (Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission) dan Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dari Dinas Kesehatan.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN TEMPE DI DESA SEMARAS KECAMATAN PULAU LAUT BARAT KABUPATEN KOTABARU (Studi Kasus Usaha “Tempe Ibu Masnah”) Khairul Amin; Rifiana Rifiana; Luki Anjardiani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13038

Abstract

Kedelai digunakan sebagai sumber bahan baku dalam industri pertanian. Tempe merupakan jenis makanan yang dihasilkan dari fermentasi kedelai menggunakan jamur yang disebut Rhizopus oligosporus. Tempe memiliki ciri khas warna putih, tekstur yang padat, dan rasa yang unik. Usaha tempe milik Ibu Masnah merupakan satu-satunya usaha tempe yang ada di Desa Semaras dan Kecamatan Pulau Laut Barat. Usaha ini telah beroperasi selama satu dekade. Namun, karena lokasinya yang jauh dari pusat kota, upaya pemasarannya terbatas pada kabupaten. Selain itu, kapasitas produksinya terbatas karena usaha ini belum memperluas pasarnya ke luar kabupaten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pendapatan dan kelayakan usaha produksi tempe Ibu Masnah di Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru. Penelitian ini dilakukan di tempat produksi tempe Ibu Masnah yang beralamat di Jalan Provinsi RT.03 Desa Semaras, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kotabaru. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Ibu Masnah, pemilik usaha pengolahan tempe Ibu Masnah, sebagai subjek utama. Ibu Masnah, seorang produsen tempe di Kecamatan Pulau Laut Barat, memperole hkeuntungan sebesar Rp17.901.505 dalam satu bulan. Studi R/CRatio menghasilkan nilai 1,66 yang menunjukkan bahwa R/CRatio lebih dari 1. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa usaha pengolahan tempe Ibu Masnah layak secara finansial.
Analisis Pendapatan Bersih Petani Kelapa Sawit di Desa Maju Mulyo Kecamatan Mantewe Kabupaten Tanah Bumbu Hendrik Fahrudin; Umi Salawati; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan bersih pada petani kelapa sawit dan permasalahan yang dialami oleh petani kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Maju Mulyo Kecamatan Mantewe Januari 2020 sampai Desember 2020. Responden yang diteliti adalah petani yang umur tanaman sawit adalah 10 tahun dengan jumlah 22 responden dipilih secara simple random sampling (acak sederhana).Biaya awal pada usahatani kelapa sawit terdiri dari biaya pembersihan lahan, pembuatan lubang, pembelian bibit, pemancangan, pemupukan dan penanaman bibit. diketahui biaya awal pada tahun pertama yang dikeluarkan petani kelapa sawit di Desa Maju Mulyo yaitu sebesar Rp. 13.555.909. Biaya awal pada tahun kedua sebesar Rp. 601.363. Sehingga biaya awal yang dikeluarkan sebesar Rp. 14.157.271. Biaya Tetap meliputi penyusutan alat usahatani kelapa sawit dan sewa lahan, Adapaun alat yang digunakan adalah parang, dodos, egrek, tojok, gancu dan sprayer (alat semprot). Biaya Variabel meliputi biaya tidak tetap yaitu pemupukan, obat dan tenaga kerja, biaya yg dikeluarkan biaya variabel sebesar Rp. 9.535.000,18. Adapun biaya total yang dikeluakan yaitu sebesar Rp. 13.887.326. Produksi rata-rata yang diperoleh dalam sata tahun adalah 20.704 kg. Rata-rata harga jual tandan buah segar adalah Rp. 1.493,75/kg, Sehingga Penerimaan usahatani kelapa sawit sebesar Rp. 30.926.600 per tahun. Rata-rata pendapatan bersih usahatani kelapa sawit adalah sebesar Rp. 17.236.437. Masalah utama yang masih dihadapi oleh para petani diantaranya adalah aspek harga jual TBS yang naik turun/fluktuasi. Selain itu harga sarana produksi seperti pupuk dan herbisida cendrung mengalami kenaikan. Sehinga produksi akan mengalami penerunan.
Analisis Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Karet di Desa Sungai Jati Kecamatan Mataraman Anggi Setiawan; Hairin Fajeri; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7874

Abstract

Perkembangan karet di Indonesia baik luas areal maupun produksinya cenderung sedikit meningkat setiap tahunnya sejak tahun 2011 hingga 2020. Tanaman karet di Indonesia sebagian besar dikuasai oleh perkebunan rakyat yaitu sekitar 85,92%. Dari produksi karet tahun 2019 sebesar 3,45 juta ton, sekitar 2,50 juta ton diekspor atau sekitar 72,60% dari produksi karet nasional di ekspor. Volume ekspor karet nasional selama tahun 2010 – 2019 berfluktuasi dengan rata-rata tumbuh 1,06% per tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan tingkat kesejahteraan rumah tangga petani karet di Desa Sungai Jati Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar. Penelitian dilakukan sejak bulan Agustus 2022 sampai dengan Oktober 2022. Untuk metode penarikan contoh menggunakan metode sensus, yaitu dengan 32 responden. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pendapatan petani dari hasil karet sebesar Rp 22.995.827/tahun dan rata-rata pendapatan non usahatani sebesar Rp2.901.396/tahun. Pendapatan total petani karet rakyat sebesar Rp 25.897.22/tahun. Adapun tingkat kesejahteraan petani karet di Desa Sungai Jati menurut kriteria World Bank dengan persentase terhadap jumlah total petani responden tingkat kesejahteraan sejahtera adalah sebesar 100% artinya dari 32 responden yang di pilih semuanya termasuk dalam kategori sejahtera. Selanjutnya pemasalahan yang dihadapi petani di Desa Sungai Jati Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar diantaranya perubahan iklim yang tidak menentu, harga yang selalu berubah, dan biaya pupuk yang relatif tinggi.
ANALISIS SERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN TANAH LAUT Sarianah Sarianah; Muhammad Husaini; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12271

Abstract

Industri pertanian diperkirakan akan memiliki tingkat penyerapan tenaga kerja tertinggi di Kalimantan Selatan pada tahun 2020, karena menyerap sebagian besar angkatan kerja di wilayah tersebut. Sebagai akibatnya, ketergantungan Provinsi Kalimantan Selatan pada sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja menjadi sangat signifikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap kecenderungan penyerapan tenaga kerja dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti PDRB, luas lahan, dan upah minimum, karena faktor-faktor ini memiliki dampak yang besar terhadap serapan tenaga kerja. Penelitian ini difokuskan di Provinsi Kalimantan Selatan, dengan mempertimbangkan bagaimana upah minimum provinsi, luas lahan yang digunakan untuk pertanian, dan PDRB) sektor tersebut mempengaruhi lapangan kerja di industri pertanian. Data sekunder untuk penelitian ini, pada tahun 2010 hingga 2022, diberikan oleh BPS dan Departemen Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura. Berdasarkan penelitian, terdapat kecenderungan perubahan PDRB sektor pertanian, tingkat penyerapan tenaga kerja, luas lahan pertanian di Kabupaten Tanah Laut, dan upah minimum di provinsi Kalimantan Selatan terjadi secara cepat. PDB sektor pertanian adalah 6,20 persen, variabel rata-rata pengembangan tenaga kerja adalah 1,5 persen, area di bawah pertanian adalah 0,74 persen, dan upah minimum adalah 5,44 persen. Produktivitas Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian Kabupaten Tanah Laut, ukuran daerah pertanian Kabupaten Tanah Laut, dan upah minimum provinsi Kalimantan Selatan semuanya berdampak pada perekrutan tenaga kerja pada saat yang bersamaan., dengan demikian, PDB sektor pertanian memiliki dampak yang patut dicatat dan menguntungkan pada penyerapan tenaga kerja. Namun, upah minimum Kabupaten Tanah Laut dan luas lahan yang fluktuatif berdampak negatif pada kemampuan daerah untuk menyerap tenaga kerja dari industri pertanian
Analisis Tataniaga Sawi di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Nopri Adiansyah; Abdullah Dja'far; Rifiana Rifiana
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 3, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v3i1.21599

Abstract

Currently, the price of Chinese cabbage is highly fluctuated. It not only causes the instability of farmer income and community consumption, but also increases the marketing risk and creates marketing channel problem. In this regards, the study about marketing channel is essential. Thus, the purposes of the study are: (1) to trace the marketing channel of Chinese cabbage in Kot a Banjarbaru, (2) to estimate the price margin, cost, and profit on each channel, (3) to calculate the price share of each farmer and the parties involved, (4) to analyze the channels efficiency, and (5) to identify the problem encountered in the product transferring process. The marketing channel costs consist of transport, risk guarantee, market fee, cleaning, loading, and packaging cost. On the study site, two main channels are traced, i.e.: (1) farmer - 1st level trader/retailer - consumer; and (2) farmer - 1st level trader - retailer - consumer. The first channel is technically and economically more efficient that the second one. The problems encountered by farmer include unpredictable price and unavailability of stan.dard price, while the low product quality problem is encountered by first level trader. The retailers face the product handling difficulties before selling.
Analisis Produksi Usahatani Tomat di Kecamatan Telaga Langsat Kabupaten Hulu Sungai Selatan Desy Issana Sari; Yudi Ferrianta; Rifiana Rifiana
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v3i2.21893

Abstract

The tomato production increases recently because of the rise of its land use This means that tomato become important commodity . The purposes of the study are: (1) to calculate the cost, revenue, income and profit of tomato cultivation; (2) to observe the effect of production factors on tomato yield; (3) to know the price efficiency of input use. The study site was Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. The doubled linear regression model was used to estimate the effect of inputs on tomato yield. The result shows that the average profit 18 million per hectare. Based on the regression model, the production factor of land, fertil izer, seed, and pesticide have positive and significant impact on tomato yield. However, the use of land and seed is 23. IDR is inefficient, yet.
Preferensi Konsumen terhadap lkan Tawar dan lkan Laut di Pasar Tradisional Bauntung Kota Banjarbaru Syahida Rakhmah Apasha; Nuri Dewi Yanti; Rifiana Rifiana
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v5i1.21935

Abstract

The fisheries sector has an important role in the economy . The sector also provides benefits in supplying nutritious food to the Indonesian people . Broadly speaking, the nutrient cont ent of both types of freshwater fish and marine fish is rich in protein and vitamins. The study determines the preferences of society and describes the attributes that most consumers consider in the decision to buy freshwater fis h or marinefish i n the Bauntung Market, Banjarbaru. The consumer preference in the type fre shwater fish is higher that the marine fish. The attributes that consumers consideredin the purchase decision are income and the number of family members.
Analisis Faktor yang Berperan dalam Keputusan Konsumen Memilih Varietas Beras di Pasar Bauntung Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Kiptiah Kiptiah; Djoko Santoso; Rifiana Rifiana
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v5i2.21948

Abstract

Banjarbaru is a city with themulti-ethnic population from various ethnic groups of Banjar, Java, and others. As a result, they have different consumption pattern and preference of rice. The study identifies the effect of the consumer's socio-economic characteristic in determining their choices on particular rice variety consumed. The study reveals that the internal factor in the family (the housewife) has a significant role in deciding the chosen rice. The particular rice is chosen mainly because of taste, while economic factors are not the decisive factor. This finding makes sense since rice is the staple food. The consumershave good perception on rice trader performance, but they dissatisfy vatn the taste, shape, and hygiene of traded rice in the local market.
Analisis Imbalan Faktor Produksi Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Banjar Rifiana Rifiana
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i1.20586

Abstract

The study aims are to analyze revenue, profitability and feasiability; to analyze the return for the production factors as well as knowing the problems faced by farmers in growing paddy. The study ws conducted in Kabupaten Banjar because this regency is one of rice production center in South Kalimantan. The respondents, were taken from 4 villages by using proportional random sampling. The results, by using the cost analysis, showed that the average income of paddy farmers was Rp. 6,649,249.84 per hectare, the average profit was Rp. 3,079,879.621 per hectare and RCR was 1.468 (per one unit of cost, make a profit of 46.8%). Although integrally paddy farming was profitable, but partially paddy farming in the study area was not economically advantageous, because the return for land, labor and capital were lower than its opportunity cost. Problems faced by paddy farmers were internal problem related to farm management, and external problems such as lack of price information and weaknesses in existing systems and institutions.
Co-Authors Abdullah Dja'far Abdur Rohim Abdurrahman Abdurrahman Abdussamad Abdussamad Alfina Hidayah Amalia Safitri Anggi Setiawan Annisa Siska Roselianti Ariyani, Herda Ariyati Ariyati Azzahra Luthfiah Binti Mukaromah Borneo Ayu Apriyani Choirunnisa, Zuyyina Danu Prasetiyo Desy Issana Sari Djoko Santoso Djoko Santoso Dwi Fitri Winda Sari Dwi Oktaviani, Annisa Ervinna Febri Widyasari Ferrianta, Yudi Fitri Syahrida, Anisa Fitria, Aziza Gusti Dina Aryanti Imanah Habibah, Aina Hairi Firmansyah Hairin Fajeri Hamadani Hamdani Hamdani Hanafi Hanafi Hendrik Fahrudin Husnil Yusra Indri Anggraini Kamiliah Wilda Khairul Amin Kiptiah Kiptiah Linda Putri Dewi Luki Anjardiani Lutfi Arianto, Ach Luwis Wulandari Mardiani, Vivi Mariani Mariani Masyhudah Rosni Maulidi Ripani Miftahul Jannah Mira Yulianti Muhamad Ridani Firdaus Muhammad Arif Abdillah Muhammad Fauzi Muhammad Guntur Akbar Muhammad Husaini Muhammad Sayyid Muhammad Syaifuddin Mustafizurrahman Mustafizurrahman Muzdalifah Muzdalifah Nadila Satifa Nopiyanti Naily Zulfia Naufal Rismana, Muhammad Nevia Amanda Bahri Nia Octaviani Nina Budiwati Nopri Adiansyah Nor Misbah Norhasanah Norhasanah Normasari Normasari Nur Hidayah Nur Pramudyas Primia Setyaningrum, Maulinda Nurmelati Septiana Puteri Fathimathuz Zhahra Radiatul Husna Raetsa Noviantie Rahmat Hidayat Ratna Ratna Redhani Pamungkas Dwi Suryo Rezky Fauji Riky Devi Saputra Rima Oktavian Marfuah Rita Puspitasari Rivaldo Rivaldo Romannus Kleden Ryad Reynadie Sadik Ikhsan Sarianah Sarianah Selvi Selvi Shafriani, Karimal Arum Siti Khadijah Siti Normilahayani Sri Noorliani Syafiq Nurfahuda Syahida Rakhmah Apasha Syahrina, Wanda Syahrul Fadhilah Syarifah Syarifah Umi Salawati Usamah Hanafie Wika Vidya Yanti, Nuri Dewi Yulianti Yulianti Yusuf Azis Yusuf Aziz Zahra, Fatimatul Zulfa Dhiya Ulhaq