Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Korelasi Kadar Feritin dengan Profil Lipid pada Penyandang Talasemia Beta Mayor Anak Mutiara Rahmani; Lelani Reniarti; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.355 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.189-94

Abstract

Latar belakang. Talasemia beta mayor merupakan penyakit genetik dengan gangguan sintesis rantai globin yang menimbulkan eritopoiesis tidak efektif sehingga membutuhkan transfusi darah rutin. Terapi tersebut menyebabkan kelebihan besi di berbagai organ termasuk di hati dan pankreas yang memengaruhi enzim hepatik lipase yang mengatur regulasi metabolisme lipid. Tujuan. Mengetahui korelasi kadar feritin dengan profil lipid pada penyandang talasemia beta mayor anak. Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancang potong lintang, dilaksanakan November - Desember 2018. Subjek adalah penyandang talasemia beta mayor di Rumah Sakit Hasan Sadikin, secara consecutive sampling. Dilakukan pemeriksaan serum feritin, trigliserida, kolesterol total, low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL). Uji statistik menggunakan uji korelasi rank Spearman dengan kemaknaan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat sampel sebanyak 40 penderita talasemia beta mayor, 20 perempuan dan 20 laki-laki. Rerata serum feritin 4328,2 mcg/L, kolesterol total 93,78 mg/dl, HDL 20,65 mg/dl, LDL 52,95 mg/dl, dan trigliserida 154,95mg/dl. Tidak didapatkan korelasi antara feritin dengan kolesterol total dan LDL (p>0,05). Terdapat korelasi antara kadar feritin terhadap kadar serum kolesterol HDL dan trigliserida (r= -0,349, p=0,029 dan r= 0,460, p=0,003). Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar feritin terhadap kolesterol HDL dan korelasi positif terhadap trigliserida. Semakin tinggi feritin, semakin rendah HDL, semakin tinggi trigliserida.
Wabah Difteri di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia Kusnandi Rusmil; Alex Chairulfatah; Eddy Fadlyana; Meita Dhamayanti
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.397-403

Abstract

Latar belakang.Sejak tahun 1986 tidak ditemukan lagi kasus difteri yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat. Namun, wabah difteri selalu terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Barat seperti yang dilaporkan sejak tahun 1993 sampai tahun 2010. Kementerian Kesehatan juga melaporkan peningkatan kasus difteri di beberapa provinsi di Indonesia tahun 2010. Suatu penelitian saat wabah di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur tahun 2001 sebagai gambaran kejadian wabah di salah satu kabupaten di Jawa Barat.Tujuan. Menggambarkan kejadian wabah difteri, mengetahui tingkat kekebalan dengan mengukur kadar antibodi difteri dan untuk menemukan kemungkinan adanya kuman C. difteriaeberedar di masyarakat di daerah wabah.Metode. Data kejadian penyakit dan kematian diperoleh dari Puskesmas Cikalong Wetan RS Cianjur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur. Data kadar antibodi diperoleh dengan mengukur kadar anti bodi terhadap difteri pada 698 subyek, yang dibagi menurut kelompok usia. Titer antibodi diukur dengan menggunakan teknik ELISA ganda.Hasil.Selama wabah terdapat 25 kasus yang dilaporkan dari Puskesmas Cikalong Wetan dengan angka kematian/crude fatality rate(CFR) 28%. Diduga kuat bahwa kasus pertama berasal dari kecamatan yang berdekatan dengan Kecamatan Cikalong Wetan. Beberapa bulan sebelumnya dijumpai kasus rawat inap 21 pasien, 55% di antaranya balita, dengan angka kematian 35% terutama disebabkan oleh miokarditis. Walaupun cakupan imunisasi difteri pertusis tetanus (DPT) tinggi pada anak kurang dari 1 tahun di Kecamatan Cikalong Wetan, hanya 19,3% anak usia 1 tahun memiliki tingkat kekebalan protektif yang memadai. Titer antibodi terus berkurang sesuai dengan meningkatnya usia anak, bahkan tidak ada subjek yang memiliki kadar protektif yang memadai pada kelompok usia 5 – 6 tahun. Enam dari 324 biakan apus tenggorokan pada masyarakat tumbuh strain toxigenic C. difteriae gravis.Kesimpulan.Wabah yang terjadi di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur disebabkan oleh karena rendahnya kadar antibodi terhadap toxigenic C.difteriaepada masyarakat.
Hubungan Faktor Sosioekonomi dengan Perawakan Pendek Anak Usia 24-60 Bulan Yogi Agustian; Kusnandi Rusmil; Purboyo Solek
Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.453 KB) | DOI: 10.14238/sp20.2.2018.106-14

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek merupakan salah satu indikator kesehatan anak yang dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya sosioekonomi. Faktor sosioekonomi di antaranya pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jumlah anak kurang dari 5 tahun, dan interval usia dengan anak sebelumnya.Tujuan. Mengetahui hubungan status sosioekonomi dengan perawakan pendek.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada anak usia 24–60 bulan yang datang ke Puskesmas Sukajadi dan Tempat Penitipan Anak Bunda Ganesa pada bulan Mei 2018. Sampel dipilih secara proporsional random sampling. Tinggi badan anak diperiksa dan diambil data status sosioekonomi. Analisis statistik menggunakan Chi kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Seratus tiga puluh tiga anak terdiri dari 77 anak dari Puskesmas Sukajadi dan 56 anak dari Bunda Ganesa. Prevalensi perawakan pendek di Puskesmas Sukajadi 40,3%, sedangkan di Bunda Ganesa 16,1%. Tempat penelitian, pendidikan orang tua, berat badan menurut usia, pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga memiliki hubungan bermakna dengan perawakan pendek. Analisis multivariat ayah pendidikan menengah dan rendah, serta berat badan menurut usia yang abnormal merupakan risiko perawakan pendek. Sementara anak yang tidak mendapat ASI eksklusif berisiko lebih rendah.Kesimpulan. Prevalensi perawakan pendek lebih besar pada anak dari keluarga sosioekonomi menengah kebawah. Pendidikan ayah dan ibu, berat badan menurut usia, pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga memiliki hubungan yang bermakna terhadap perawakan pendek.
Imunogenisitas dan Keamanan vaksin Tetanus Difteri (Td) pada Remaja sebagai salah satu upaya mencegah Reemerging Disease di Indonesia Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil; Herry Garna; Iwin Sumarman; Soenarjati Soedigo Adi; Novilia Sjafri Bachtiar
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.141-9

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteri akibat belum ada program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja.Tujuan. Menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus difteri (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja.Metode. Uji klinis randomized double-blind controlled dilakukan terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Didapatkan 296 remaja sebagai subjek penelitian, dibagi dalam 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat vaksin Td 0,5 mL intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan kadar antibodi anti difteri dan anti tetanus dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan pasca imunisasi menggunakan buku harianHasil. Konsentrasi antibodi seroproteksi (>0,1 IU/mL) terhadap difteri dan tetanus mencapai 93,2% dan 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteri meningkat dari 0,0618 IU/mL menjadi 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C hanya terjadi pada sedikit subjek dari kedua kelompok (rentang Td: 0,7-4,7%; rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi kejadian ikutan pasca imunisasi serius dan dapat ditoleransi dengan baik.Kesimpulan. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar antibodi protektif terhadap difteri dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
Kekebalan dan Keamanan setelah Mendapat Imunisasi Hepatitis B Rekombinan pada Anak Remaja Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil; Novilia S Bachtiar
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.87-92

Abstract

Latar belakang. Berdasarkan riwayat implementasi program imunisasi Hepatitis B di Jawa Barat, diperkirakan anak periode remaja akhir (15–18 tahun) belum terlindungi terhadap infeksi Hepatitis B.Tujuan. Menilai kekebalan dan keamanan pasca imunisasi 3 dosis vaksin Hepatitis B rekombinan pada anak remaja sehat yang belum pernah mendapat imunisasi Hepatitis B.Metode. Penelitian intervensi dengan label terbuka terhadap remaja usia 15–18 tahun yang belum pernah mendapatkan imunisasi Hepatitis B, diberikan 3 dosis (1,0 ml=20 µg of HBsAg) Hepatitis B rekombinan secara intramuskular pada daerah lengan atas dengan interval waktu 1 bulan. Respons antibodi diukur menggunakan Chemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) Architect ausab reagent kit on architect i 1000sr, dilakukan pra dan 28 hari pasca dosis ke-3 vaksinasi. Reaksi lokal dan kejadian sistemik dicatat pada buku catatan harian selama 28 hari pasca tiap imunisasi. Hasil. Selama periode penelitian didapatkan seratus lima puluh subyek dengan Hbs Ag negatif. Dari jumlah tersebut 112 (75,3%) dengan kadar anti-HBs <10 IU/ml, dan pasca mendapat 3 dosis imunisasi kekebalan terhadap hepatitis B tercatat pada 95,5% remaja; GMT 682,65 (495,11–941,24) mIU/mL. Tidak ditemukan reaksi serius pasca imunisasi dan semua vaksin dapat diterima dengan baik.Kesimpulan. Pemberian 3 dosis vaksin Hepatitis B rekombinan memberikan kekebalan yang tinggi dan aman diberikan pada remaja sehat.
Perbandingan Manfaat Vaksin Oral Polio 1 (Monovalen) dengan Vaksin Oral Polio Trivalen Terhadap Transmisi Virus Polio 1 dalam Upaya Mengatasi Kejadian Luar Biasa Polio 1 di Indonesia Tahun 2005: ditinjau melalui respons imun dan keamanannya Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.71-8

Abstract

Latar belakang. Indonesia menggunakan trivalent oral polio vaccine (tOPV) sejak tahun 1977 dan sejak tahun 1995 tidak pernah ditemukan lagi kasus poliomelitis. Pada Maret 2005 terjadi kejadian luar biasa (KLB) polio yang meluas ke seluruh pulau Jawa dan Sumatera. Berdasarkan pengalaman negara yang berhasil mengatasi KLB, penggunaan monovalent oral polio vaccine (mOPV) sesuai penyebab KLB memberikan hasil lebih cepat dibandingkan tOPV.Tujuan. Melihat manfaat pemberian mOPV1 dibandingkan dengan tOPV ditinjau dari imunogenisitas dan keamanan vaksin.Metode. Penelitian dilakukan pada anak berumur 0-12 bulan, menggunakan mOPV1 dan tOPV saat saat Pekan Imunisasi Nasional tahun 2005.Hasil. Penelitian menunjukkan sero konversi pada kelompok mOPV terdapat pada 19 subjek dan tOPV pada 2 subjek, dengan titer rerata masing-masing 69,47 dan 48. Proporsi kenaikan titer ≥4 kali kelompok mOPV1 40,5%, tOPV 27,2% (X2=5,49; p=0,014). GMT kelompok mOPV1 21,9 menjadi 54,84 (Zw=5,45; p<0,001); kelompok tOPV 42,93 menjadi 52,30 (Zw=1,488; p=0,137). Ekskresi virus polio 1 pada hari ke-7 dan ke-21 setelah pemberian mOPV1 berturut-turut 38%, dan 4% (p<0,001), pada kelompok tOPV berturut-turut 26%, dan 14% (X2=1,65; p=0,125).Kesimpulan. Respon imun mOPV1 memberikan respons yang lebih baik dibandingkan dengan tOPV dan kedua kelompok vaksin mempunyai keamanan yang sama, tidak ditemukan reaksi KIPI yang berat selama penelitian.
Perbandingan Kadar Vitamin D [25 Hidroksivitamin D] Pada Anak Sakit Kritis dan Nonkritis Sri Utami; Alex Chairulfatah; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.6.2015.434-40

Abstract

Latar belakang. Vitamin D berperan dalam fungsi pertahanan tubuh sehingga defisiensi vitamin D berhubungan dengan derajat keparahan penyakit.Tujuan. Membandingkan kadar vitamin D pada anak sakit kritis dan nonkritis.Metode. Penelitian potong-lintang dengan subjek terdiri atas 25 anak sakit kritis dan 25 anak sakit nonkritis. Kadar vitamin D dianalisis dengan Uji Mann Whitney, Uji Kolmogorov-Smirnov, dan Uji Korelasi Spearman. Kemaknaan dinyatakan pada p <0,05.Hasil. Kadar vitamin D serum rerata pada kelompok kritis dan non kritis masing-masing 11,46 ng/mL dan 25,98 ng/mL (p<0,001). Pada kelompok kritis ditemukan 22/25 subjek mengalami defisiensi dan 3/25 insufisiensi. Pada kelompok nonkritis ditemukan 6/25 subjek mengalami defisiensi, 7/25 insufisiensi, dan 12/25 pasien dengan kadar normal (p<0,001). Pada uji korelasi didapatkan koefisien korelasi (r) = -0,624 (p<0,001).Kesimpulan. Kadar vitamin D serum rerata pada sakit kritis lebih rendah daripada nonkritis dan terdapat korelasi kuat antara sakit kritis dan vitamin D rendah
Perbedaan Skor Sepsis Modifikasi Tollner dan Kadar Procalsitonin Serum Sebelum dengan Setelah Pemberian Antibiotik Empiris pada Sepsis Neonatorum Amelia Harsanti; Nanan Sekarwana; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.178-82

Abstract

Latar belakang. Di negara maju maupun berkembang, insiden sepsis neonatorum masih tinggi. Penggunaan antibiotik empiris, pada sepsis neonatorum, perlu pemantauan ketat untuk mencegah toksisitas dan resistensi.Tujuan. Menentukan perbedaan skor sepsis modifikasi Tollner dan kadar procalcitonin (PCT) serum sebelum dengan setelah pemberian antibiotik empiris serta hubungan perubahan keduanya pasca pemberian antibiotik empiris.Metode. Penelitian observasional analitik, rancangan one group pre-test and post-test, dilaksanakan Juli−Oktober 2013 di Unit Gawat Darurat dan Rawat Inap Divisi Neonatologi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Subjek penelitian terdiri atas 32 neonatus dan 2 dikeluarkan karena meninggal <48 jam. Pada seluruh subjek dilakukan penilaian skor sepsis (nilai >10 masuk ke dalam penelitian) dan pemeriksaan kadar PCT serum sebelum dengan setelah mendapat antibiotik ampisilin dan gentamisin selama 48 jam. Perbedaan skor sepsis modifikasi Tollner dan kadar PCT sebelum dengan setelah pemberian antibiotik empiris dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Korelasi perubahan skor sepsis dan kadar PCT diuji dengan Uji Rank Spearman. Faktor yang berhubungan dengan skor sepsis dan kadar PCT jenis kelamin, usia ≤48 jam, berat lahir rendah, dan kultur darah negatif dianalisis dengan Uji Mann-Whitney.Hasil. Skor sepsis dan kadar PCT serum awal (median (rentang)) berturut-turut 11,5 (10,5−16,5) dan 12,6 (0,30−100) ng/mL. Pasca pemberian antibiotik berturut-turut 5,5 (0,5−13,5) dan 2,65 (0,16−37,25) ng/mL. Skor sepsis dan kadar PCT berbeda bermakna sebelum dengan setelah pemberian antibiotik empiris. Terdapat korelasi positif bermakna perubahan nilai skor sepsis modifikasi Tollner dengan perubahan kadar PCT serum pasca pemberian antibiotik empiris selama 48 jam.Kesimpulan. Skor sepsis modifikasi Tollner dan kadar PCT serum berhubungan dengan pemberian antibiotik empiris pada sepsis neonatorum. Kenaikan perubahan skor sepsis modifikasi Tollner diikuti oleh kenaikan perubahan kadar PCT serum.
Imunogenitas dan Keamanan Vaksin DPT Setelah Imunisasi Dasar Eddy Fadlyana; Suganda Tanuwidjaja; Kusnandi Rusmil; Meita Dhamayanti; Lina H Soemara; R Dharmayanti
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.37 KB) | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.129-34

Abstract

Imunisasi difteria, pertusis dan tetanus (DPT) telah lama masuk ke dalam programimunisasi nasional di Indonesia dan telah terbukti menurunkan angka kejadian maupunkematian yang disebabkan penyakit difteria, pertusis dan tetanus. Tujuan penelitian iniuntuk melakukan evaluasi status kekebalan dan faktor keamanan terhadap penyakitdifteria dan tetanus pada bayi yang mendapat imunisasi dasar DPT. Seratus enam puluhsubjek bayi sehat yang dipilih secara random, dilakukan imunisasi secara intramuskulardengan dosis 0,5 ml sebanyak 3 kali pada umur 2, 3 dan 4 bulan, menggunakan vaksinDPT buatan PT. Bio-Farma Bandung. Penentuan titer antibodi difteria dan tetanusdilakukan sebelum dilakukan imunisasi dan 1 bulan setelah imunisasi ke-1, 2 dan 3,menggunakan metode ELISA. Apabila hasilnya < 0,01 IU/ml disebut kelompok rentandan bila > 0,1 IU/ml disebut mempunyai kekebalan lengkap. Kejadian reaksi lokal(nyeri, kemerahan, bengkak, penebalan) dan sistemik (demam, iritabilitas) pasca imunisasidicatat dalam buku catatan harian ibu. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilakukanimunisasi 57% subjek sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap difteri dan 6%sudah tidak mempunyai perlindungan terhadap tetanus. Terhadap difteria, rata-ratageometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapat imunisasi ke-1, 2 dan 3,memberikan hasil berturut-turut 0,008; 0,005; 0,038; dan 0,217 IU/ml; sedang jumlahsubjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturut-turut adalah 44, 28, 44 dan 80%.Terhadap tetanus, rata-rata geometrik titer (GMT) sebelum dan setelah mendapatimunisasi ke-1, 2 dan 3, memberikan hasil berturut-turut: 0,420; 0,273; 0,213; dan0,758 IU/ml; jumlah subjek yang mempunyai titer > 0,01 IU/ml berturtut-turut adalah94; 91; 100 dan 100%. Selama periode penelitian tidak ditemukan adanya reaksi vaksinberat. Reaksi lokal (nyeri, kemerahan, bengkak dan penebalan) dan reaksi sistemik(iritabilitas dan panas) sebagian besar dengan derajat ringan yang selanjutnya menghilangtanpa gejala sisa. Walaupun imunisasi DPT memberikan hasil kekebalan yang tinggidan aman diberikan, namun pada kelompok yang masih rentan perlu mendapat perhatian.
Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2020 Soedjatmiko Soedjatmiko; Mei Neni Sitaresmi; Sri Rezeki S. Hadinegoro; Cissy B. Kartasasmita; Ismoedijanto Moedjito; Kusnandi Rusmil; Syawitri P. Siregar; Zakiuddin Munasir; Dwi Prasetyo; Gatot Irawan Sarosa
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.252-60

Abstract

Ikatan Dokter Anak Indonesia secara periodik mengkaji rekomendasi jadwal imunisasi untuk menyesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terkait dengan jadwal imunisasi di Indonesia. Jadwal imunisasi 2020 ini bertujuan agar dapat digunakan oleh anggota IDAI dalam memenuhi keinginan masyarakat mendapatkan vaksin yang lebih lengkap. Perubahan pada  rekomendasi tahun 2020 adalah pada imunisasi Hepatitis B, IPV, BCG, DTP, Hib, Campak /MR/MMR, JE, Varicella, Hepatitis A dan Dengue.  Jadwal imunisasi lain tidak ada perubahan. Untuk memudahkan dalam melaksanakannya dilampirkan juga tabel jadwal imunisasi tahun 2020. Untuk memahami dasar pertimbangan jadwal imunisasi dan perubahannya perlu mempelajari  uraian di dalam artikel ini dan keterangan dibawah tabel tersebut untuk diterapkan ke dalam layanan imunisasi.
Co-Authors - Riyadi -, Burhan Alex Chairulfatah Alex Chairulfatah Ambrosius Purba Amelia Harsanti Anggia Farrah Rizqiamuti, Anggia Farrah Arhana, Arhana Ari Prayitno, Ari Ariani Ariani Armijn Firman Azis, Muhammad Alamsyah Burhan Burhan, Burhan Cissy B. Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Dadang Hudaya Somasetia Deni K Sunjaya Dewi M.D Herawati Dewi Marhaeni Diah Herawati Dida Akhmad Gurnida Djajadiman Gatot Djelantik, I.G.G. Dominicus Husada Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Dwi Putra, Muhammad Gilang Dwirestuti, Ratna Dzulfikar DLH Eddy Fadlyana Eka Nurfitri, Eka Elsa Puji Setiawati Elsa Setiawati Erwina Sumartini Fanni Hanifa Farid Husin Farid Husin Ferriandis Harsono Firman F Wiranatakusumah Firman Fuad Wirakusumah Frisca Fazira Gaga Irawan Nugraha Gatot Irawan Sarosa Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Gladys Gunawan Gurnida, Dida Gutama, Gutama Hadyana Hadyana Hanifah Oswari Hartono Gunardi Hasan Basri Heni Haryani Herry Garna Herry Herman Hindra Irawan Satari Ieva Baniasih Akbar Irvan Afriandi Ismoedijanto Ita Susanti Iwin Sumarman Iwin Suwarman Johanes C Mose Julistio TB Djais Julitasari Sundoro Jusuf Sulaeman Effendi Jusuf Sulaeman Effendi Kartasmita, Cissy B Kevin Gunawan Lelani Reniarti Lina H Soemara Maddepunggeng, Martira Mardiah, Behesti Zahra Mei Neni Sitaresmi Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Mutiara Rahmani Nana Usnawati Nanan Sekarwana Nastiti Kaswandani Nina Herlina Nita Arisanti Novila Sjafri Bachtiar Novilia S Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novillia S Bachtiar Padmonodewo, Suminarti Ponpon Idjradinata Prasetya, Taufan Purboyo Solek Purboyo Solek R Dharmayanti Rachmat Gunadi Raihan Raihan, Raihan Ratih Eka Pujasari Retno Puji Astuti Rini Mulia Sari Rodman Tarigan Sahril, Indra Saptawati Bardosono Setyo Handryastuti Siska Bradinda Putri Sudirman Siti Nur Fatimah Sitorus, Rita Sjarif Hidajat Effendi Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Soenarjati Soedigo Adi Soenarjati Soedigo Adi Solek, Purboyo Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri Rezeki S. Hadinegoro Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Sri Utami Suganda Tanuwidjaja Susiarno, Hadi Syafriyal Syafriyal, Syafriyal Syawitri P. Siregar Tatu Septiani Nurhikmah Tetty Yuniati Uni Gamayani, Uni Vanda Elfira Winarno, Gatot N.A Wiryawan Permadi Yogi Agustian Yuni Susanti Pratiwi Yunita Andriani Zakiuddin Munasir Zakiudin Munasir