Claim Missing Document
Check
Articles

TRANSPLANTASI KARANG Acropora aspera DENGAN METODE TALI DI PERAIRAN TELUK AWUR, JEPARA Burhan Habibi Yunus; Diah Permata Wijayanti; Agus Sabdono
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.556 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i3.6947

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem perairan yang khas terdapat di daerah tropis yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman biota yang tinggi. Ekosistem terumbu karang memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan ekologi pantai dan pesisir, terutama sebagai sumber nutrien bagi habitat yang berada di sekitar ekosistem ini. Transplantasi karang memanfaatkan kemampuan regenerasi karang secara aseksual. Materi yang diamati dalam penelitian ini adalah fragmen karang Acropora aspera yang diambil dari perairan Pulau Panjang, Jepara. Penentuan spesies karang yang hendak digunakan, diawali dengan survey lapangan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen lapangan. Metode tanam yang digunakan adalah metode tempel tali dan metode tali gantung. Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan metode tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan karang, dimana perlakuan metode tanam gantung memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan metode tanam tempel. Hasil analisis data statistik untuk perlakuan metode menunjukkan adanya perbedan pertumbuhan yang nyata (P ≤ 0,05) antara metode tempel dan metode gantung. Perlakuan variasi ukuran fragmen 3 cm berbeda nyata dengan perlakuan ukuran fragmen 5 cm dan 7 cm. Sedangkan perlakuan ukuran fragmen 5 cm dan 7 cm tidak berbeda nyata. Tingkat keberhasilan kelangsungan hidup karang secara keseluruhan mencapai 83,33 %. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi terlihat pada metode A (tempel) dengan ukuran awal fragmen 5 cm dan 7 cm menunjukkan nilai yaitu sebesar 100%. Transplantasi dengan metode tali yang paling efiien adalah menggunakan metode tanam gantung dengan ukuran 5 cm. Kata kunci : Transplantasi, Metode Tali, Acropora aspera, Teluk Awur Jepara  
SAMPLING MIKROBIOLOGI LIMBAH BIOMEDIS RUMAH SAKIT DI KOTA SEMARANG JAWA TENGAH Stalis Norma Ethica; Sakti Imam Muchlissin; Ragil Saptaningtyas; Agus Sabdono
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The present study aimed to propose a technical strategy of sampling for obtaining microbiological samples from liquid biomedical wastes generated by hospitals in Semarang City, Central Java Province, Indonesia.  The samples will be used to evaluate bioremediation ability of the hydrolytic bacteria isolated from the waste. It was hoped that the proposed strategy could help to guide researchers about appropriate sampling practices on hospital biomedical wastes from IPAL of Indonesian hospitals. As mandated by the Indonesian law, the handling of hospital liquid waste in Indonesia should follow Permenkes No.1204/2004, while the liquid waste standard should meet the Kepmen LH No.58/1995, reaffirmed by Perda Provinsi Jawa Tengah No.10/2004 about liquid waste standard issued by the Governor of Central Java. Based on formal regulations and safety aspects, it is proposed that the strategy for a proper microbiological sampling practice in terms of hospital liquid biomedical waste should include: (1) Permit letter from hospital where sampling location is; (2) Relevant sampling method based on research purpose (3) Standard, anti-leaked, properly labelled sampling containers(4) Proper sampling equipment based on sampling purpose (5) Adequate sampling transport equipment; (6) The use of standard personal protection equipment (PPE); and (7) Vaccine for the sampling workers (hepatitis B vaccination ismandatory).  Keywords: microbiological sampling, hospital biomedical waste, microbial bioremediation, sampling strategy,Indonesian sampling regulation
Laju Ekploitasi Lobster Batu Panulirus penicillatus, Olivier, 1791 (Malacostraca : Palinuridae) di Perairan Laut Yogyakarta Irwani Irwani; Widy Febriansyah; Agus Sabdono; Diah Permata Wijayanti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.472 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6255

Abstract

Indonesia is an area that has various types of beaches with different topography and is a region producing one of the lobsters that have a very high economic value. Yogyakarta had three coastal districts that have lobster produce that is Kulonprogo Regency, Bantul Regency and Gunung Kidul Regency. This research aims to know exploitation rate, the growth model of Von Bertalanffy, mortality, length-weight relationship and distribution of carapace length and to know mortality in spiny lobster (Panulirus Pacillatus) in Yogyakarta Special Region. Data were collected at three beaches namely Depok, Congot and Baron coastal waters. Data was analyse used FISAT II software. The distribution of carapace lengths of stone lobster caught during the research ranged from 40,2-102 mm and the results indicated that the dominant lobster was caught with the highest number of catches below the midterm size of 76,3 mm. Total mortality (Z) 4,251, natural mortality (M) 0,708, taking mortality (F) 3,543, and exploitation rate (E) 0,833 so that the mortality due to taking value of spiny lobster is much higher than natural mortality. Indonesia adalah daerah yang mempunyai berbagai jenis pantai dengan topografi yang berbeda–beda serta merupakan  daerah penghasil salah satu lobster yang memiliki nilai ekonomis sangat tinggi. Yogyakarta memiliki tiga Kabupaten wilayah pantai yang memiliki hasil lobster yaitu Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatannya, mortalitas, model pertumbuhan von bertalanffy lobster batu (Panulirus penicillatus) di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data diperoleh di tiga pesisir yauitu, Pesisr Depok, Congot dan Baron. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan FISAT II. Distribusi ukuran panjang karapas lobster batu yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 40,2–102, mm dan hasil  menunjukkan bahwa lobster dominan tertangkap yang jumlah hasil tangkapnya paling banyak dibawah ukuran nilai tengah 76,3 mm. Panjang total lobster memiliki ukuran terpendek 22,1 cm dan terpanjang 83,4 cm. Hasil yang didapatkan laju mortalitas total (Z) 4,251, nilai mortalitas alami (M) 0,708 , mortalitas penangkapan (F) 3,543 dan laju eksploitasinya (E) 0,833 sehingga diketahui nilai mortalitas penangkapan dari lobster batu jauh lebih tinggi dibandingkan mortalitas akibat alami.
Bioakumulasi Arsen (As) dan Merkuri (Hg) pada Bivalvia dari Pesisir Sekitar Demak dan Surabaya Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.846 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6257

Abstract

The coastal waters at Demak and Surabaya as areas for fishing ground bivalve for consumption proposes.  Unfortunately, mostly the coastal land these areas were used for industry and settlement, it will have an impact on the coastal environment.  Heavy metal is one of aspect on coastal environments will give impact, especially on bivalves. This study aims to determine the metal As and Hg in several of bivalves tissue, seawater, sediments and bioaccumulation factors in the of Demak and Surabaya coastal waters. The analysis of As and Hg content in bivalves tissue, sediments and seawater using ICPMS. The results showed bivalves, sediments and seawater samples were found As and Hg concentrations. The highest concentration of As was found in the sediments; meanwhile the highest Hg concentration was found in the bivalve tissue of P. attenuatus > A. pectinata > A.inaequivalvis > A. granosa > P. viridis > P. undulada > M. hiantina respectively.  The BAF bioaccumulation factor a significant difference p = 0.021 and the BSAF sediment bioaccumulation factor showed a very highly significant difference p = 0.009. The concentration of As, Hg and bioaccumulation factors in the two fishing ground bivalves areas shows a difference. Pesisir sekitar Demak dan Surabaya merupakan daerah fishing ground berbagai jenis bivalvia untuk dikonsumsi.  Namun sekarang pesisir daratan sebagian besar dimanfaatkan untuk industri dan pemukiman hal tersebut akan memberi dampak pada lingkungan pesisir.  Logam berat merupakan salah satu aspek yang memberi dampak pada linkungan pesisir terutama pada bivalvia.  Penelitian ini bertujuan mengetahui logam As dan Hg yang terdapat dalam jaringan beberapa jenis bivalvia, air laut, sedimen serta faktor bioakumulasi di pesisir Demak dan Surabaya.  Analisa kandungan As dan Hg dalam jaringan bivalvia, sedimen dan air laut menguunakan ICPMS.  Hasil penelitian menunjukan sampel bivalvia, sedimen dan air laut ditemukan As dan Hg.  Konsentrasi As tertinggi ditemukan dalam sedimen, sedangkan konsentrasi Hg tertinggi ditemukan dalam jaringan bivalvia secara berurutan P. attenuatus > A. pectinata > A.inaequivalvis > A. granosa > P. viridis > P. undulada > T. timorensis. Adanya perbedaan yang nyata p=0.021 terhadap faktor bioakumulasi BAF dan faktor bioakumulasi sedimen BSAF menunjukan perbedaan yang sangat nyata p = 0.009.  Konsentrasi As, Hg dan faktor bioakumulasi di kedua daerah fishing ground bivalvia menunjukan adanya perbedaan.
Kontaminasi Logam Berat As dan Hg pada Airtanah Dangkal di Wilayah Pesisir Semarang dan Demak Baskoro Rochaddi; Agus Sabdono; Muhammad Zainuri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.177 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6339

Abstract

The present study was performed to assess the level of heavy metal contamination in shallow groundwater of Pati and Rembang coastal areas. Groundwater sample analysis indicated that Mercury and Arsenic were detected in the groundwater samples in the range 0.004 µg L-1 and 0.115-0.310 µg L-1 , respectively. Compared to the standard limits of the heavy metals contents in the water sample by World Health Organization (WHO) limits and Indonesian Drinking and Domestic Water Quality Standard for Ground Water (IWQS), groundwater of Semarang and Demak Coastal Areas was contaminated with heavy metals. This study has confirmed the presence of heavy metal contamination of some shallow groundwater supplies in the coastal areas of Semarang and Demak.Penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kontaminasi logam berat di air tanah dangkal di wilayah pantai Pati dan Rembang. Analisis sampel air tanah menunjukkan bahwa Merkurius dan Arsenik terdeteksi dalam sampel air tanah dalam kisaran 0,004 μg L-1 dan 0,115-0,310 μg L-1, masing-masing. Dibandingkan dengan batas standar kadar logam berat dalam sampel air oleh batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Standar Kualitas Air Minum dan Domestik Indonesia untuk Air Tanah (IWQS), air tanah Wilayah Semarang dan Demak telah terkontaminasi dengan logam berat. Studi ini telah mengkonfirmasi adanya kontaminasi logam berat dari beberapa pasokan air tanah dangkal di wilayah pesisir Semarang dan Demak.
Karakterisasi Senyawa Bioaktif Kapang Laut Trichoderma asperellum MT02 dengan Aktivitas Anti-Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) E. coli Mada Triandala Sibero; Aninditia Sabdaningsih; Ocky Karna Radjasa; Agus Sabdono; Agus Trianto; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.413 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3528

Abstract

The Trichoderma asperellum MT02 has been reported to has antibacterial activity against the Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) E. coli based on the screening results through an agar plug method. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of T. asperellum MT02 and characterize the composition of the bioactive compounds group possessed in its crude extract. The isolate was cultured in the Malt Extract Broth (MEB) media (static, 27 oC, 15 days). The intracellular metabolites from mycelium were extracted using methanol while extracellular metabolites from broth media were extracted using ethyl acetate. The antibacterial activity of crude extracts was tested using the paper disc diffusion method while bioactive compounds were characterized using the phytochemical method. The results showed that the antibacterial activity of the broth media extract performed a greater activity than the crude extract from the mycelium. The crude extract from mycelia only contained flavonoid and phenol hydroquinone compounds while the crude extract from broth media contains alkaloids, flavonoids, phenols hydroquinone and saponins. Kapang Trichoderma asperellum MT02 telah dilaporkan memiliki potensi sebagai penghasil senyawa antibakteri melawan Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) E. coli berdasarkan hasil penapisan melalui metode agar plug. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kasar kapang T. asperellum MT02 serta komposisi golongan senyawa bioaktif yang dimiliki. Kapang dikultur pada media Malt Extract Broth (MEB) (statis, 27 oC, 15 hari) di mana metabolit intraseluler dari miselium diekstrak menggunakan metanol sedangkan metabolit ekstraseluler dari media kaldu diekstrak menggunakan etil asetat. Aktivitas antibakteri ekstrak kasar diuji menggunakan metode difusi kertas cakram sedangkan senyawa bioaktif dikarakterisasi menggunakan metode fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri asal ekstrak media kaldu lebih baik dibandingkan ekstrak kasar asal miselium kapang. Ekstrak kasar kapang asal miselia hanya mengandung senyawa golongan flavonoid dan fenol hidrokuinon sedangkan ekstrak kasar asal media kaldu mengandung alkaloid, flavonoid, fenol hidroquinon dan saponin.
Kelimpahan Mikroplastik Pada Sedimen Ekosistem Terumbu di Taman Nasional Laut Karimunjawa Sakti Imam Muchlissin; Prastyo Abi Widyananto; Agus Sabdono; Ocky Karna Radjasa
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 1 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i1.9865

Abstract

Eleven billion microplastic particles are entangled in coral reef ecosystems in the Asia - Pacific Region. The presence of microplastics in coral reef ecosystems in Indonesia, especially in the Karimunjawa Marine National Park, was found as many as 22.7 and 12.8 particles / kilogram samples in two locations. The presence of microplastics in coral reef ecosystems allows threats to the health of coral reefs. Therefore, the importance of this study is to complement the data on the distribution of microplastics in the Karimunjawa Marine National Park as an initial step for conservation and mitigation of the impact of plastic/ microplastic pollution. Sampling using purposive sampling method. Sediment collection using SCUBA set and sediment grab at a depth of 3 - 5 meters. ± 1000 g of sediment was taken and stored in double zip lock plastic. The samples were then analyzed by microplastics in the Tropical Marine Biotechnology Laboratory, FPIK UNDIP. The results showed that the greatest abundance of microplastics was in the Karang Tengah area with the number of microplastics 96 particles / kilogram, and the farthest in the Ujung Gelam and Lego was 11 particles / kilogram. Research shows that the abundance of microplastics in areas with human activities such as tourism, ports, and boat routes has a high abundance compared to conservation areas or areas with little human activity. It is hoped that the available data from this type of research will be able to produce decisions on conservation measures in Karimunjawa Marine National Park.  Sebelas miliar partikel mikroplastik terjerat pada ekosistem terumbu karang di Kawasan Asia – Pasifik. Keberadaan mikroplastik pada ekosistem terumbu karang di Indonesia, khususnya di Taman Nasional Laut Karimunjawa, ditemukan sebanyak 22,7 dan 12,8  partikel/kilogram sampel di dua lokasi. Keberadaan mikroplastik di ekosistem terumbu karang memungkinkan adanya ancaman terhadap kesehatan terumbu karang. Oleh karena itu pentingnya penelitian ini untuk melengkapi data sebaran mikroplastik di Kawasan Taman Nasional Laut Karimunjawa sebagai langkah awal konservasi dan mitigasi dari dampak polusi plastik/mikroplastik. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sedimen menggunakan SCUBA set dan sediment grab pada kedalaman 3 – 5 meter. Sedimen diambil ± 1000 gr dan disimpan dalam plastik double zip lock. Sampel kemudian dianalisis mikroplastik di laboratorium Tropical Marine Biotechnology, FPIK UNDIP. Hasil menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik terbesar pada daerah karang tengah dengan jumlah mikroplastik 96 partikel/kilogram, dan terkecil pada perairan ujung gelam dan lego yaitu sebanyak 11 partikel/kilogram. Penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan mikroplastik didaerah dengan aktivitas manusia seperti pariwisata, pelabuhan, dan jalur kapal memiliki kelimpahan tinggi dibanding dengan daerah konservasi atau daerah dengan aktivitas manusia yang kecil. diharapkan dengan data yang tersedia dari penelitian sejenis ini, mampu menghasilkan keputusan terhadap langkah konservasi di Taman Nasional Laut Karimunjawa. 
Kontaminasi Residu Pestisida Organoposfat: Klorpirifos, Fenitrotion dan Profenofos dalam Bivalvia yang Ditangkap di Pesisir Utara Pulau Jawa Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.768 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6274

Abstract

Organophosphate pesticides were widely used in agriculture and OPP which was less accumulative and degradable but It has been found in an aquatic environment. The purpose of this study was to determine the level of organophosphate pesticide residues in bivalve which was fishing in North Coast of Java specifically the Demak and Surabaya.  Bivalvia, sediment and seawater samples were analysed using GC-MS. The results showed that the bivalves of A inaequivalvis, P viridis, A pectinata captured in Demak and Surabaya were contaminated with organophosphate pesticide of chlorpyrifos, fenitrothion and profenofos. The chlorpyrifos was found in all species of bivalves, but the highest concentrations of OPP were profenophos> chlorpyrifos > fenitrothion respectively. ANOVA test results show that there was a very significant difference in OPP residues in bivalves p = 0.009, but there was no difference in OPP residues between locations.Organoposfat pestisida (OPP) banyak digunakan secara meluas dalam pertanian dan OPP tersebut kurang akumulatif dan mudah terurai namun keberdaanya telah di temukan dala lingkungan perairan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tingkat akumulasi residu pestisida organoposfat yang terdapat di bivalvia yang ditangkap di pesisir Utara Jawa khususnya wilayah Demak dan Surabaya.  Sampel bivalvia, sedimen dan air laut dianalisa menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukan bahwa bivalvia A inaequivalvis, P viridis, A pectinata yang ditangkap di Demak dan Surabaya terkontaminasi pestisida organoposfat jenis Klorpirifos, Fenitrotion dan Profenofos. Klorpirifos ditemukan pada semua bivalvia, namun konsentrasi tertinggi OPP secara berurutan profenofos > klorpirifos > fenitrotion.  Hasil uji ANOVA  menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata residu OPP dalam bivalvia p= 0.009,  namun tidak ada berbedaan residu OPP antar wilayah lokasi.
Struktur Komunitas Ikan Karang dan Tutupan Karang pada Terumbu Buatan Artificial Patch Reef (APR) Munasik Munasik; Aldion Adin Nugroho; Retno Hartati; Agus Sabdono; Sugiyanto Sugiyanto; Denny Nugroho Sugianto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 3 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i3.9171

Abstract

Artificial Patch Reef (APR) have been applied as a new method for Biodiversity Conservation Program at Panjang Island, Jepara since 2015. Previous study suggested that design and location of artificial reefs installation affected to abundance of reef fishes, associated with the artificial reef.  This study aims to investigated community structure of reef fishes associated to artificial patch reef comparing to reef fishes in nearby natural reefs. Assessment of coral reef condition on two habitats were conducted on July 2019, after 4 years deployment.  The results show that artificial patch reefs with a percentage of live coral cover are less than half of natural coral reefs, and have succeeded in increasing the abundance of reef fish with nearly the same density and community structure resembling reef fish in natural coral reefs. The similarity in community structure of the two habitats is probably due to the similarity in habitat type and morphology of the hard corals. The results indicate that Artificial Patch Reef (APR) reefs have increased the coral cover of Acropora branching and resulted in increased reef fish abundance which is compatible with reef fish communities associated with natural coral reefs around it. Aplikasi metode baru terumbu buatan Artificial patch Reef (APR) pada Program Konservasi Bioiversitas Pulau Panjang, Jepara telah dilakukan sejak 2015. Hasil studi menunjukkan bahwa pemilihan desain dan lokasi pemasangan terumbu buatan yang tepat akan meningkatkan kelimpahan ikan karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberhasilan penerapan terumbu buatan APR melalui kelimpahan ikan karang yang berasosiasi pada terumbu buatan dan terumbu karang alami di sekitarnya. Penilaian kondisi terumbu karang tersebut telah dilakukan pada Juli 2019 setelah 4 (empat) tahun pemasangan terumbu buatan. Hasil studi menunjukkan bahwa terumbu buatan dengan persentase tutupan karang hidup lebih kecil, separuhnya dari tutupan pada terumbu karang alami telah berhasil meningkatkan kelimpahan ikan karang dengan densitas hampir sama dan struktur komunitasnya menyerupai ikan karang yang berasosiasi dengan terumbu karang alami. Kesamaan struktur komunitas kedua habitat kemungkinan akibat kesamaan tipe habitat dan morfologi karang keras penyusunya. Hasil ini mengindikasikan bahwa terumbu buatan Artificial patch Reef (APR) telah meningkatkan tutupan karang bercabang Acropora dan berakibat terhadap meningkatnya kelimpahan ikan karang yang sesuai dengan komunitas ikan karang yang berasosiasi dengan terumbu karang alami di sekitarnya.
Ecological Role of A Softcoral-Associated Bacterium Arthrobacter sp. on Marine Biofilm-Forming Bacteria OCKY KARNA RADJASA; AGUS SABDONO
Microbiology Indonesia Vol. 2 No. 2 (2008): August 2008
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.088 KB) | DOI: 10.5454/mi.2.2.6

Abstract

A marine bacterium species associated with softcoral Sinularia sp. collected from vicinity of Peucang island, Ujung Kulon, West Java, was successfully screened for estimating its ecological role through inhibiting marine biofilm-forming bacteria isolated from the surrounding colonies of Sinularia sp. and was identified as closely related to Arthrobacter nicotianae based on its 16S rDNA structure. The bacterium was found to inhibit the growth of four biofilm-forming isolates (Vibrio harveyi, V. fortis, Staphylococcus sciuri, and Tenacibaculum marilutum) indicating the significance of secondary metabolite production which may provide important defensive functions against fouling microorganisms. The isolate was capable of amplifying gene fragments of non-ribosomal peptide synthetases. A 416 bp long DNA fragment was obtained and the deduced amino acid sequence showed conserved signature regions for the peptide synthetases and revealed a high similarity to that of Actinoplanes teichomyceticus (62.5% identity).
Co-Authors Agus Indarjo Agus Trianto Agus Trianto Agus Trianto Agus Triyanto Agustina Agustina Agustina Aiyen Tjoa Aldion Adin Nugroho Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Angelina Ferawaty Siregar Angelina Ferawaty Siregar Aninditia Sabdaningsih Azizi, Muhammad Faris B Tyas Susanti B. Tyas Susanti Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Bhaskoro Rochaddi Burhan Habibi Yunus Chrisna A Suryono Chrisna A Suryono Chrisna A Suryono Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adhi Suryono Delianis Pringgenies Denny Nugroho Sugianto Desy Wulan Triningsih DIAH AYUNINGRUM Diah Ayuningrum, Diah Diah P Wijayanti Diah P Wijayanti Diah Permata Wijayanti Diah Permata Wijayanti Diah Permata Wijayanti Dio Dirgantara Duhita Sinidhikaraning Kencana Elena Zocchi Endang Sri Lestari Erwin Ivan Riyanto Erwin Ivan Riyanto Eunike Dorothea Hutapea Farrastasya Muflihul Azzami Fauziah Shahul Hamid Gina Saptiani Gina Saptiani Hadi Endrawati Haeruddin Haeruddin Hakim, Muhamad Fikri Hudi Nur Hans Arthur Philips HANS- PETER GROSSART Hans-Peter Grossart Herawati Sudoyo Herida, Azalia Puspa Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heru Kurniawan Alamsyah Ibnu Pratikto Ida Ayu Putu Sri Widnyani Intan Budi Setiasih Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwanto, Eko Ita Widowati JOEDORO SOEDARSONO Johannes F Imhoff Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jutta Wiese Larasati, Stefanie Jessica Henny Leenawaty Limantara Mada Triandala Sibero Mada Triandala Sibero Meinhard Simon Miftahuddin Majid Khoeri Misbakul Munir Muchlissin, Sakti Imam Muhamad Fikri Hudi Nur Hakim Muhamad Ziaul Faiz Muhammad Eka Darmawan Rafsanjani Muhammad Zainuri Nadya Cakasana Norma Afiati Norma Afiati Nur Taufiq Syamsudin Putra Jaya Taufiq Syamsudin Putra Jaya Ocky Karna Radjasa Ocky Karna Radjasa ocky radjasa Popi IL Ayer Prastyo Abi Widyananto Puspa Kapinangasih Putut Har Riyadi Raden Ario Rafsanjani, Muhammad Eka Darmawan Ragil Saptaningtyas Raja Aditya Sahala Siagian Ratna Diyah Palupi Retno Hartati Rignolda Djamaludin Rina Setyowati Sulistiyoningrum Rini Pramesti Rivan Novianto Madilana Romadhon Romadhon Rory Anthony Hutagalung Rosa Amalia Rudhi Pribadi Rudiger Stöhr S Sukarmi S. Sulistiyani Sakti Imam Muchlissin Sakti Imam Muchlissin Sakti Imam Muchlissin Setiasih, Intan Budi Setyani, Wilis Ari Sibero, Mada Triandala Slamet Budi Prayitno Sri Achadi Nugraheni Sri Lintang Artono Sri Redjeki Sri Redjeki Stalis Norma Ethica Stefanie Jessica Henny Larasati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagyo Subagyo Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sunaryo Sunaryo Suzana Kristy Satriani Fofied Syauqina Nashihi Aufar Thorsten Brinkoff TONNY BACHTIAR Tonny Bachtiar Tony Bachtiar Tony Bachtiar Torben Marten TORBEN MARTENS Tri Yuni Atmojo Tri Yuni Atmojo Ulfah Amalia Wahyuningsih, Candra Widy Febriansyah Wilis Ari Setyani Yeni Sulistiyani Yesaya Putra Pamungkas