Claim Missing Document
Check
Articles

Perkembangan Diatom Perifiton Pada Substrat Buatan di Perairan Pulau Panjang, Jepara Syauqina Nashihi Aufar; Agus Sabdono; Diah Permata Wijayanti; Munasik Munasik
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 3 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i3.19779

Abstract

Degradation of marine waters in Panjang Island is increasing resulting in high production of benthic periphyton. Procurement of hard substrate as material for artificial reefs is one of the efforts to see the succession pattern of benthic periphyton microscopically. The purpose of this study was to determine the differences in the abundance and composition of diatoms in geopolymer concrete and ordinary concrete substrates. The method used is the field experimental method, immersing different concrete substrates, namely geopolymer concrete (BA) and ordinary concrete (BT) in the sea waters of Panjang Island at a depth of 3 m for 2 months. Periphyton growth on the substrate was observed microscopically using the Scanning Electronic Microscope (SEM) method. Observations were made at immersion time of 1 day (T1), 7 days (T2), 14 days (T3), 28 days (T4), and 56 days (T5). The results showed that there were differences in the development of Periphyton Diatoms between geopolymer (BA) and ordinary concrete (BT) substrates. On both substrates, periphyton growth was found starting from the observation of soaking for 1 day. The density and diversity of periphyton on the BA substrate was higher than that of the BT substrate, with a density of 2535 cell cm-2 and 73 cell cm-2, respectively, and the diversity of H'Shanon Wiener was 4.07 and 0.33. The benefit of this research is to determine the initial succession of biofilm formation on artificial substrates as a building material for artificial reefs for coral reef restoration programs, especially in marginal reef conditions.  Degradasi perairan laut di Pulau Panjang semakin meningkat mengakibatkan produksi perifiton bentik yang tinggi. Pengadaan substrat keras sebagai bahan terumbu buatan menjadi salah satu upaya untuk melihat pola suksesi perifiton bentik secara mikroskopis.  Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kelimpahan dan komposisi diatom pada substrat beton geopolimer dan beton biasa. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental lapangan, dilakukan perendaman substrat beton yang berbeda yaitu beton geopolymer (BA) dan beton biasa (BT) di perairan laut pulau Panjangdi pada kedalaman 3 m selama 2 bulan. Pertumbuhan perifiton pada substrat diamati secara mikroskopis menggunakan metode Scanning Electronic Microscope (SEM).  Pengamatan dilakukan pada lama perendaman 1 hari (T1), 7hari (T2), 14 hari (T3), 28 hari (T4), dan 56 hari (T5). Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan Perkembangan Diatom Perifiton antara substrat geopolymer (BA) dan beton biasa (BT). Pada ke dua substrat dijumpai pertumbuhan perifiton mulai pengamatan perendaman selama 1 hari. Densitas dan keragaman perifiton pada substrat BA lebih tinggi daripada substrat BT yaitu masing-masing dengan densitas 2535 sel cm-2 dan 73 sel cm-2, dan keragaman H’Shanon Wiener  sebesar 4,07 dan 0,33. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui suksesi awal pembentukan biofilm pada substrat buatan sebagai bahan penyusun terumbu buatan untuk program restorasi terumbu karang khususnya pada kondisi terumbu marginal.
PEMANFAATAN BAKTERI DARI USUS IKAN KELABAU (Osteochilus melanopleurus) DALAM MENGHADAPI INFEKSI BAKTERI Pseudomonas sp. Agustina Agustina; Slamet Budi Prayitno; Agus Sabdono; Gina Saptiani
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 3 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i3.362

Abstract

Bakteri Pseudomonas sp. cukup banyak ditemukan menginfeksi ikan air tawar yang dibudidayakan di sepanjang Sungai Mahakam Provinsi Kalimantan Timur. Pemanfaatan bakteri dari usus ikan lokal yaitu ikan kelabau (Osteochilus melanopleurus) sebagai kandidat probiotik diharapkan lebih aman untuk mengendalikan infeksi tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa kemampuan empat isolat bakteri dari usus ikan kelabau yaitu BPs1, BPs2, BP3 dan BeP1 secara in vivo pada ikan kelabau dalam menghadapi infeksi bakteri Pseudomonas sp., yang meliputi tingkat kelangsungan hidup, jumlah bakteri patogen dalam darah dan parameter hematologi ikan kelabau. Ikan kelabau dengan berat 10,23±0,75 g masing-masing sebanyak 10 ekor dipelihara dalam akuarium dengan volume 30 L. Ikan diberi pakan komersil yang sebelumnya disemprot dengan isolat bakteri pada konsentrasi 106 CFU/mL dengan dosis 0,05 mL/g, sedangkan perlakuan kontrol pakan diberi larutan Phosphat Buffer Saline dengan dosis yang sama. Ikan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation dan penambahan bakteri dalam pakan dilakukan satu kali pada pagi hari. Perlakuan pakan diberikan sampai 13 hari, pada hari ke-14 ikan diuji tantang dengan bakteri Pseudomonas sp. yang diinjeksikan secara intramuscular dengan konsentrasi 106 CFU/mL dengan dosis 0,1 mL/ ikan. Ikan selanjutnya diamati sampai hari ke-21. Hasilnya menunjukkan bahwa penambahan isolat bakteri dari usus ikan kelabau mampu menekan infeksi Pseudomonas sp. Daya lindung terbaik ditunjukkan oleh isolat BPs2 (Staphylococcus edaphicus MT 269536) berupa tingkat kelangsungan hidup ikan, jumlah bakteri patogen dalam darah dan parameter hematologi dibanding perlakuan lain terutama kontrol (p>0.05). Berdasarkan hal tersebut bakteri dari usus ikan kelabau berpotensi sebagai probiotik dalam budidaya ikan air tawar.
Molecular Docking Studies of Marine Sulfated Polysaccharides: Exploring Green Seaweed’s Role Against SARS-CoV-2 Spike Glycoprotein Herida, Azalia Puspa; Kusumaningrum, Hermin Pancasakti; Zainuri, Muhammad; Sabdono, Agus; Subagiyo, Subagiyo; Wahyuningsih, Candra
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.4.567-575

Abstract

SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) is a virus responsible for the infectious disease of COVID-19 (Coronavirus Disease 2019), whose development is still being monitored. One way to deal with the virus’s development is by searching for natural-based medicines that prevent and treat SARS-CoV-2 infection. The abundant biodiversity can be used as a source of treatment. Among many natural resources, seaweed is one of the natural resources rich in bioactive components. Sulfated polysaccharide is one of the potential bioactive compounds in seaweed because it has antiviral effects and the potential to treat SARS-CoV-2. This research aims at increasing the potential of Karimunjawa green seaweed sulfate polysaccharides for antiviral capabilities in SARS-CoV-2 through molecular docking. This research began with identifying the morphology of Karimunjawa seaweed. Identify the components of sulfated polysaccharide compounds based on literature studies according to the species that have been identified. Analysis of the antiviral ability of SARS-CoV-2 based on its binding ability to the SARS-CoV-2 target protein through a molecular docking computational program and testing drug compounds using the Lipinski rule. Based on the research results, it is known that the seaweed obtained from Karimunjawa based on morphology, belongs to the genus Kappaphycus. Molecular docking with a ligand and spike glycoprotein (6LZG) resulted in the hexadecanoic acid compound having a binding free energy of -5.3 kcal.mol-1, which was the compound with the lowest yield compared to other test compounds. The prediction of the physicochemical properties of all test compounds fulfills Lipinski's five rules and has the potential to be used as medicinal compounds.
Preparasi dan Karakterisasi Bioplastik dari Limbah Ekstraksi Karagenan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty ex P. C. Silva, 1966 dengan Pemlastis Gliserol Ridlo, Ali; Sabdono, Agus; Subagiyo, Subagiyo; Ario, Raden; Pratikto, Ibnu; Hartati, Retno
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 3 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i3.24061

Abstract

The carrageenan production process from Kappaphycus alvarezii seaweed produces solid waste of 60%-70% w/w, primarily composed of cellulose, which can be used for bioplastic films. This research aims to determine the effect of glycerol plasticizer addition on the characteristics of K. alvarezii waste-based bioplastics. Bioplastics were made by mixing 50 g of wet waste with 90 mL of distilled water, homogenized at 70°C for 30 minutes. Glycerol (0%, 1%, 2%, 3%, 4%) was added, with water to a total volume of 150 mL, and homogenized again for 30 minutes. The solution was poured into a polypropylene mold and dried at 60°C for 24 hours. Results showed glycerol increased transparency and elongation but reduced tensile strength and water resistance. The addition of 1% glycerol produced bioplastics with the best characteristics, meeting Japanese Industrial Standards. FTIR and SEM showed similar bioplastic properties across treatments. This research indicates that K. alvarezii carrageenan extraction waste is promising for packaging material and bioplastic production.  Proses produksi karagenan dari rumput laut Kappaphycus alvarezii menghasilkan limbah padat sebesar 60%-70% w/w, terutama terdiri dari selulosa yang dapat digunakan untuk film bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan plastisizer gliserol terhadap karakteristik bioplastik limbah K. alvarezii. Bioplastik dibuat dengan mencampurkan 50 g limbah basah dengan 90 mL akuades, dihomogenkan pada suhu 70°C selama 30 menit. Gliserol (0%, 1%, 2%, 3%, 4%) ditambahkan hingga volume 150 mL, dihomogenkan kembali selama 30 menit. Larutan dituang dalam cetakan polipropilena dan dikeringkan pada suhu 60°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan gliserol meningkatkan transparansi dan elongasi, tetapi mengurangi kuat tarik dan ketahanan air. Penambahan 1% gliserol menghasilkan bioplastik dengan karakteristik terbaik, memenuhi Japanese Industrial Standard. FTIR dan SEM menunjukkan sifat bioplastik yang serupa pada semua perlakuan. Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah ekstraksi karagenan K. alvarezii menjanjikan sebagai bahan kemasan dan produksi bioplastik.
Potensi Bioaktif Peptida Hidrolisat Protein Undur-Undur laut (Emerita spp.) Menggunakan Analisis In Silico Romadhon, Romadhon; Sabdono, Agus; Subagiyo, Subagiyo; Triyanto, Agus; Riyadi, Putut Har
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.69353

Abstract

Undur-undur laut (Emerita spp.) telah diteliti mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Peptida dari hewan laut berpotensi besar dalam bidang kesehatan dan aplikasi biomedis, berkat aktivitas biologisnya yang beragam, seperti antioksidan, anti-hipertensi, antimikroba, dan perlindungan terhadap penuaan kulit. Teknik analisis in silico digunakan untuk mengidentifikasi peptida bioaktif dari protein sekuen dengan metode komputasi, seperti: database, aplikasi online dan software. Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi peptida yang berasal dari undur-undur laut (Emerita spp.) dengan analisis in silico. Tahapan analisis in silico dilakukan menggunakan database NCBI dan dilanjutkan dengan analisis melalui software BIOPEP-UWM dan Peptide Ranker. Berdasarkan hasil analisis in silico pada hidrolisat protein undur-undur laut menggunakan BIOPEP, terdapat 16 peptida dengan potensi anti-hipertensi dan 14 peptida dengan potensi anti-diabetes. Berdasarkan hasil Peptide Ranker dapat dilihat urutan nilai probabilitas peptida yaitu kategori tinggi (WL, YF, AF, AW, IF, SF, ML, WT), kategori sedang (PR, AG, IG), dan kategori rendah (DP, HL, VPL, SL, NL, DR, AH, AI, VG, AEL, NT). Sekuen peptida yang tertinggi yaitu WL (Triptofan-Leusin) yang memiliki skor 0,99 dengan fungsi sebagai anti-diabetes. Sementara itu, nilai terkecil yaitu NT (skor 0,05) yang berfungsi anti-diabetes. Berdasarkan analisis sensori menggunakan BIOPEP, sekuen peptida yang dihasilkan tersusun atas asam amino yang memiliki rasa pahit dan manis. Peptida dan asam amino yang memiliki rasa pahit di antaranya : P, F, VF, IF, VY, V, VL, VI, L, IL, dan W, sedangkan yang memilki rasa manis di antaranya : P, G, dan V.
Kemampuan Degradasi Mikroplastik Polycaprolactone oleh Bakteri Asosiasi Karang Keras di Pantai Kartini Jepara Azizi, Muhammad Faris; Endrawati, Hadi; Sabdono, Agus
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 1 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i1.42550

Abstract

Jutaan ton sampah plastik global akan berakhir ke laut setiap tahunnya. Dampak adanya mikroplastik telah menjadi ancaman bagi organisme laut, salah satunya karang keras yang merupakan penyusun ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan memperoleh bakteri asosiasi karang keras yang berpotensi mendegradasi mikroplastik dari dari perairan Pantai Kartini, Jepara. Sampel karang diambil dari tiga macam life form yaitu branching, massive, dan submassive  pada kedalaman 5 – 10 meter. Sampel karang selanjutnya dilakukan pengenceran bertingkat, kemudian diinokulasi pada media agar laut zobell 2216E. Skrining uji potensi degradasi mikroplastik dilakukan menggunakan substrat tributyrin sebagai tahap awal untuk mengetahui aktivitas enzim lipolitik, dilanjutkan dengan uji polycaprolactone untuk mengetahui potensi adanya enzim poliesterase yang dapat memecah partikel mikroplstik. Tahapan analisa molekuler dilakukan meliputi ekstraksi DNA, amplifikasi DNA gen 16S rRNA, elektroforesis, dan analisa filogenetik. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 37 isolat bakteri asosiasi karang keras dari berbagai life form. Delapan bakteri diketahui berpotensi memiliki aktivitas enzim lipolitik pada media tributyrin. Dilanjutkan pada uji polycaprolactone dihasilkan satu isolat bakteri dari karang massive degan kode PK-KM-1.1 yang berpotensi mendegradasi polimer polycaprolactone. Analisa molekuler menunjukkan isolat PK-KM-1.1 memiliki kemiripan dengan Bacillus aerius hingga 99,71%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri yang berasosiasi dengan karang keras berpotensi mendegradasi senyawa mikroplastik polycaprolactone dan dapat dijadikan sebagai sumber inang di dalam eksplorasi bakteri pendegradasi mikroplastik.
Bakteri yang Berasosiasi dengan Karang Keras yang Terinfeksi Penyakit White Syndrome di Perairan Sawopudo, Sulawesi Tenggara, Indonesia Palupi, Ratna Diyah; Sabdaningsih, Aninditia; Ayuningrum, Diah; Sabdono, Agus
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 1 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.%v.%i.%Y.%p

Abstract

Coral disease is one of the most significant factors contributing to coral mortality, leading to a reduction in coral cover. The direct causes of coral disease remain a subject of ongoing investigation by researchers at both national and international levels. There is a relationship between corals and microbes that form the coral holobiont, which can be beneficial, harmful, or neutral. This study aims to isolate, purify, and identify bacteria associated with corals infected with white syndrome (WS) at the molecular level through 16S rRNA gene amplification. Coral samples infected with WS were collected from the Sawopudo Waters in Southeast Sulawesi using purposive sampling through snorkeling. The coral life forms sampled included massive, sub-massive, and branching types, collected from approximately three different colonies. Bacterial analysis associated with WS coral disease was conducted in the laboratory, initially with isolation using the spread plate method and purification through quadrant streaking on peptone, yeast, and agar media. Once pure bacterial colonies were obtained, the bacterial isolates associated with WS-infected corals were injected into healthy corals using laboratory-scale Koch's postulates. The results showed 8 (eight) bacterial isolates associated with WS-infected corals (SWS01, SWS02, SWS03, SWS04, SWS05, SWS06, SWS07, and SWS08). Based on Koch's postulates, isolates SWS01 and SWS07 exhibited visual signs of WS disease. Further isolation and purification were only conducted on isolate SWS01. Molecular identification using 16S rRNA gene amplification revealed that isolate SWS01 is closely related to Priestia flexa (99.72% similarity), isolate SWS07 is closely related to Bacillus velezensis (99.68% similarity), and the re-cultured isolate from Koch's postulates is closely related to Alteromonas macleodii (99.64% similarity).Penyakit karang adalah salah satu faktor terpenting penyebab kematian karang dan dapat menurunkan tutupan karang. Penyebab langsung penyakit karang hingga saat ini masih terus dicari oleh para peneliti baik skala nasional maupun internasional. Terdapat hubungan antara karang dengan mikrobia yang membentuk coral holobiont yang dapat bersifat menguntungkan, merugikan, dan netral. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, mempurifikasi, dan mengidentifikasi bakteri yang berasosiasi dengan karang terinfeksi white syndrome (WS) secara molekuler dengan amplifikasi gen 16S rRNA. Sampel karang terinfeksi WS diambil di Perairan Sawopudo-Sulawesi Tenggara dengan metode purposive sampling melalui snorkeling. Bentuk pertumbuhan karang yang diambil sebagai sampel adalah massive, sub massive, dan branching yang diambil dari 3 koloni yang berbeda. Analisis bakteri asosiasi karang terinfeksi WS dilakukan di laboratorium dimulai dengan isolasi dengan metode sebar dan purifikasi dengan metode gores kuadran pada media pepton, yeast, dan agar. Setelah diperoleh koloni murni, isolat bakteri yang berasosiasi dengan karang WS diinjeksikan ke karang sehat menggunakan uji Postulat Koch skala laboratorium. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya 8 (delapan) isolat bakteri yang berasosiasi dengan karang terinfeksi WS dengan kode isolat S.WS.01, S.WS.02, S.WS.03, S.WS.04, S.WS.05, S.WS.06, S.WS.07, dan S.WS.08. Uji Postulat Koch tidak berhasil dalam penelitian ini, akan tetapi isolat bakteri S.WS.01 dan S.WS.07 menunjukkan tanda-tanda penyakit WS secara visual pada saat uji Postulat Koch. Setelah dilakukan identifikasi molekuler menggunakan amplifikasi gen 16S rRNA, isolat S.WS.01 berkerabat dekat dengan Priestia flexa (99,72% kemiripan), isolat S.WS.07 berkerabat dekat dengan Bacillus velezensis (99,68% kemiripan), dan untuk isolat hasil kultur kembali dari Postulat Koch berkerabat dekat dengan Alteromonas macleodii (99,64% kemiripan).
KELIMPAHAN MIKROPLASTIK PADA KARANG DI WILAYAH ANTROPOGENIK DAN NON-ANTROPOGENIK DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA, INDONESIA Muchlissin, Sakti Imam; Sabdono, Agus; Wijayanti, Diah Permata
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 19, No 1 (2023): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.19.1.54-62

Abstract

Produksi plastik semakin meningkat tiap tahunnya yang  didukung pula oleh pola konsumsi dan tren urbanisasi yang terjadi. Diprediksi jumlah sampah plastik di lautan akan meningkat menjadi 250 juta ton dalam beberapa tahun mendatang. Sampah plastik tidak bisa didegradasi secara sempurna dan lambat laun akan berubah menjadi mikroplastik, yakni potongan plastik yang memiliki ukuran kurang dari 5 mm. Hewan karang khususnya pada terumbu karang merupakan organisme penyusun utama terumbu karang. Kemampuan makan karang melalui kolom air secara filter feeding dari polip bersilia menjadikan hewan tersebut salah satu organisme terdampak dari mikroplastik. Tujuan penelitian ini yakni mengetahui tutupan terumbu karang dan genus karang serta kelimpahan mikroplastik pada terumbu karang di BTN Karimunjawa. Metode untuk menentukan tutupan karang adalah Point Intercept Transect (PIT) 50 Meter kedalaman 3-4 M dengan penentuan titik lokasi sampling secara Purposive, dengan pertimbangan lokasi yang banyak mendapatkan aktivitas manusia (antropogenik) dan tidak (non-antropogenik). Terdapat 8 titik sampling yaitu: Pulau Menjangan Kecil, Taka Sendok, Pulau Cemara Kecil, Gosong Cemara, Karang Tengah, Taka Nyamplungan, Pulau Bengkoang dan Pulau Menyawakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tutupan karang adalah 79,71%, sedangkan rata-rata tutupan karang di daerah antropogenik adalah 77,6% dan non-antropogenik adalah 85%. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 4 tahun 2000, tutupan karang tersebut termasuk ke kategori sangat baik. Hasil analisis kelimpahan mikroplastik menunnjukkan rata-rata partikel yang terdapat di karang adalah 27 partikel/50 gram karang atau dengan kata lain ada rata-rata terdapat 540 partikel mikroplastik dalam 1 kg karang utuh. Ada perbedaan cukup signifikan antara kelimpahan mikroplastik di wilayah antropogenik dan non-antropogenik. Kelimpahan mikroplastik di wilayah antropogenik mencapai 146% dibandingkan wilayah non-antropogenik. 
In-Silico Approach of Mole Crab (Emerita sp.) Peptides Produced by Alcalase Hydrolysis Romadhon, Romadhon; Sabdono, Agus; Subagyo, Subagyo; Triyanto, Agus; Riyadi, Putut Har; Amalia, Ulfah
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): May 2025
Publisher : :Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resources, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.1018

Abstract

One type of mole crab in Indonesia is Emerita sp., which has a fatty acid content of 3.57% and crude protein content of 32.42% (100 mg). The use of mole crabs is currently limited to food sources; therefore, it is necessary to conduct research to optimize the use of mole crabs, which are a source of protein hydrolysate. The samples were used under fresh conditions and stored at −20°C before processing. This study aimed to produce protein hydrolysates from moles of crabs. This hydrolysate is produced by enzymatic hydrolysis of marine back-down raw materials using alcalase. In silico analyses have identified the potential of marine-receding protein hydrolysates. The results of in silico analysis using BIOPEP and Peptide Ranker revealed that these peptides exhibited multiple bioactivities, including ACE inhibition, DPP-IV inhibition, and antioxidative and anti-inflammatory effects. The dipeptide PW (Pro-Trp) achieved the highest Peptide Ranker score of 0.993, with a predicted dual function as an antioxidant and DPP-IV inhibitor. Molecular docking confirmed strong binding affinities to target receptors, with the AF peptide displaying the best interaction against ACE (−129.70 kcal/mol) and GH peptide against DPP-IV (−113.68 kcal/mol). These results suggest that mole crab hydrolysate contains promising peptides with potential applications as nutraceuticals, particularly in the management of hypertension and type 2 diabetes mellitus. The highest potency based on the in-silico peptide hydrolysate has a strong antihypertensive effect. Further in vivo research is needed to explain the potential of sea retreat peptides as bioactive antihypertensive agents in peptide form.  
Mikroplastik pada Karang Keras di Perairan Pantai Jepara Irwanto, Eko; Redjeki, Sri; Endrawati, Hadi; Sabdono, Agus
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.42363

Abstract

Ekosistem terumbu karang memegang peranan penting dalam biodiversitas laut serta ikut berperan mengurangi dampak pemanasan global. Namun, ancaman yang dihadapi oleh karang dan ekosistem terumbu karang saat ini adalah keberadaan mikroplastik yang dibuang ke laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan mikroplastik pada karang keras (jumlah, warna, bentuk, ukuran serta senyawa polimer penyusun mikroplastik) yang terdapat di perairan Pulau Panjang dan Pantai Teluk Awur, Jepara. Sampel karang keras diambil sebanyak 100 gram yang didasarkan pada lifeform pada setiap lokasi (Coral Massive, Coral Submassibe, Coral Banching, dan Coral Folious). Ekstraksi mikroplastik menggunakan larutan H2O2 30%, ditambahkan saline water dan direndam selama 24 jam, disaring menggunakan kertas whatman dan selanjutnya diamati dengan mikroskop. Pengamatan yang dilakukan meliputi kelimpahan, bentuk, warna, dan ukuran dari mikroplastik serta dianalisis menggunakan FTIR (Fourier Transform Infrared). Hasil penelitian, didapatkan bahwa karang keras di perairan Pulau Panjang dan perairan Teluk Awur terdapat mikroplastik sebanyak 34,4 partikel/kg dan 56,7 partikel/kg. Bentuk yang teridentifikasi ialah fiber, pelet, fragmen, dan film dengan bentuk fiber paling mendominasi (64%). Warna mikroplastik yang ditemukan yaitu hitam, biru, merah, transparant, dan ungu dengan warna dominansi hitam mencapai 65,93% dari seluruh mikroplastik di kedua lokasi penelitian. Ukuran mikroplastik yang teridentifikasi antara 0,309 – 4,791 mm. Hasil FTIR menunjukkan bahwa jenis mikroplastik yang ditemukan ialah LDPE (Low Density Polyethylene) atau LLDPE (Low LDPE) dan PS (Polystyrene).  The coral reef ecosystems play an important role in marine biodiversity and reduce the impact of global warming. However, the threat that the coral reef ecosystem is currently threatened by the presence of microplastics that are dumped into the sea. Therefore, this study aims to determine the abundance of microplastics in hard corals (number, color, shape, size, and polymer compounds that makeup microplastics) in Panjang Island and Teluk Awur Beach, Jepara. The sampling of hard corals was 100 grams per sample based on the lifeform at each location (Coral Massive, Coral Submassibe, Coral Branching, and Coral Folious).  The microplastics were extracted using 30% H2O2 solution, saline water was added and soaked for 24 hours, filtered using Whatman paper and then observed with a microscope. This study examined the abundance, shape, colour, and size of microplastics and analysed them using FTIR (Fourier Transform Infrared). The results showed that hard corals in Panjang Island waters and Awur Bay waters contained microplastics as much as 34.4 particles/kg and 56.7 particles/kg. The identified forms are fibres, pellets, fragments, and films with fibres dominating (64%). The colours of microplastics identified were black, blue, red, transparent, and purple with black dominating 65.93% of all microplastics in both study sites. The size of microplastics identified was between 0.309 - 4.791 mm. FTIR results show that the types of microplastics found are LDPE (Low Density Polyethylene) or LLDPE (Low LDPE) and PS (Polystyrene).
Co-Authors Agus Indarjo Agus Trianto Agus Trianto Agus Trianto Agus Triyanto Agustina Agustina Agustina Aiyen Tjoa Aldion Adin Nugroho Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Angelina Ferawaty Siregar Angelina Ferawaty Siregar Aninditia Sabdaningsih Azizi, Muhammad Faris B Tyas Susanti B. Tyas Susanti Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Bhaskoro Rochaddi Burhan Habibi Yunus Chrisna A Suryono Chrisna A Suryono Chrisna A Suryono Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adhi Suryono Delianis Pringgenies Denny Nugroho Sugianto Desy Wulan Triningsih DIAH AYUNINGRUM Diah Ayuningrum, Diah Diah P Wijayanti Diah P Wijayanti Diah Permata Wijayanti Diah Permata Wijayanti Diah Permata Wijayanti Dio Dirgantara Duhita Sinidhikaraning Kencana Elena Zocchi Endang Sri Lestari Erwin Ivan Riyanto Erwin Ivan Riyanto Eunike Dorothea Hutapea Farrastasya Muflihul Azzami Fauziah Shahul Hamid Gina Saptiani Gina Saptiani Hadi Endrawati Haeruddin Haeruddin Hakim, Muhamad Fikri Hudi Nur Hans Arthur Philips HANS- PETER GROSSART Hans-Peter Grossart Herawati Sudoyo Herida, Azalia Puspa Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heru Kurniawan Alamsyah Ibnu Pratikto Ida Ayu Putu Sri Widnyani Intan Budi Setiasih Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwanto, Eko Ita Widowati JOEDORO SOEDARSONO Johannes F Imhoff Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jutta Wiese Larasati, Stefanie Jessica Henny Leenawaty Limantara Mada Triandala Sibero Mada Triandala Sibero Meinhard Simon Miftahuddin Majid Khoeri Misbakul Munir Muchlissin, Sakti Imam Muhamad Fikri Hudi Nur Hakim Muhamad Ziaul Faiz Muhammad Eka Darmawan Rafsanjani Muhammad Zainuri Nadya Cakasana Norma Afiati Norma Afiati Nur Taufiq Syamsudin Putra Jaya Taufiq Syamsudin Putra Jaya Ocky Karna Radjasa Ocky Karna Radjasa ocky radjasa Popi IL Ayer Prastyo Abi Widyananto Puspa Kapinangasih Putut Har Riyadi Raden Ario Rafsanjani, Muhammad Eka Darmawan Ragil Saptaningtyas Raja Aditya Sahala Siagian Ratna Diyah Palupi Retno Hartati Rignolda Djamaludin Rina Setyowati Sulistiyoningrum Rini Pramesti Rivan Novianto Madilana Romadhon Romadhon Rory Anthony Hutagalung Rosa Amalia Rudhi Pribadi Rudiger Stöhr S Sukarmi S. Sulistiyani Sakti Imam Muchlissin Sakti Imam Muchlissin Sakti Imam Muchlissin Setiasih, Intan Budi Setyani, Wilis Ari Sibero, Mada Triandala Slamet Budi Prayitno Sri Achadi Nugraheni Sri Lintang Artono Sri Redjeki Sri Redjeki Stalis Norma Ethica Stefanie Jessica Henny Larasati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagyo Subagyo Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sunaryo Sunaryo Suzana Kristy Satriani Fofied Syauqina Nashihi Aufar Thorsten Brinkoff TONNY BACHTIAR Tonny Bachtiar Tony Bachtiar Tony Bachtiar Torben Marten TORBEN MARTENS Tri Yuni Atmojo Tri Yuni Atmojo Ulfah Amalia Wahyuningsih, Candra Widy Febriansyah Wilis Ari Setyani Yeni Sulistiyani Yesaya Putra Pamungkas