Claim Missing Document
Check
Articles

Deliniasi Spasial Kawasan Kudus Kulon: Perspektif Sosiokultural Astari Wulandari; Atik Suprapti; Agung Budi Sardjono
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.85100.137-149

Abstract

Kudus Kulon dikenal sebagai kawasan kota lama embrio perkembangan Kota Kudus dengan pusat kawasan berupa situs Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan strategis sosial budaya. Kawasan dengan kekayaan warisan benda (tangible heritage) dan warisan tak benda (intangible heritage) memiliki tantangan tersendiri di tengah-tengah modernisasi dan kapitalisme. Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 1 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kudus Tahun 2022-2042 tidak menyebutkan secara spesifik delineasi kawasan tersebut dan hanya terbatas pada Situs Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Delineasi spasial dapat berkontribusi pada perlindungan kawasan bersejarah dari perkembangan atau perubahan yang dapat merusak keasliannya serta mengurangi risiko hilangnya karakteristik fisik yang membedakan kawasan tersebut dari lingkungan modern. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan delineasi batas spasial kawasan Kudus Kulon sebagai kawasan bersejarah melalui perspektif sosiokultural. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan delineasi spasial kawasan Kudus Kulon tidak terbatas pada satuan wilayah administratif, akan tetapi dibatasi oleh karakteristik fisik permukiman, sebaran artefak, sebaran masjid dan punden, serta sebaran bangunan dengan fungsi pendidikan keagamaan. Data kualitatif yang berasal dari pengalaman dan memori informan pada ruang lingkup spasial tertentu menjadi suatu tahapan penting. Data tersebut dimanfaatkan sebagai langkah awal untuk melakukan penelusuran lapangan sebagai upaya verifikasi data yang memberikan gambaran kepada peneliti terhadap fenomena yang terjadi saat ini serta peluang penelitian lebih lanjut dimasa yang akan datang.
EVALUASI KINERJA PENCAHAYAAN ALAMI DAN KENYAMANAN VISUAL RUANG KELAS GEDUNG A VOKASI UNDIP Riana Arum Kusuma; Agung Budi Sardjono
Tesa Arsitektur Vol 24, No 1: Juni 2026
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v24i1.14548

Abstract

The implementation of green building concepts in tropical climates often creates a paradox between energy efficiency and visual comfort. Building A of the Vocational School of UNDIP holds EDGE Advanced certification from the Green Building Council Indonesia (2021), recognizing 65% energy savings through facade strategies and daylighting optimization. This study aims to: (1) evaluate illuminance distribution across 8 classrooms (A1.1, A2.3, A3.1–A3.4, A4.3–A4.4) against SNI 03-6197-2000; (2) analyze glare potential using the Daylight Glare Probability (DGP) indicator; (3) identify user perceptions and adaptive behaviors; and (4) formulate facade design recommendations based on vertical zoning. Using a quantitative Post-Occupancy Evaluation approach, the study integrates Climate-Based Daylight Modeling simulation via Velux Daylight Visualizer at 09:00, 12:00, and 16:00 on June 21, September 21, and December 21 with questionnaires administered to 64 student respondents. Findings empirically confirm the green building paradox: despite average illuminance meeting SNI thresholds, extreme distribution disparities and critical DGP values in west-facing classrooms at 16:00 indicate severe glare. User visual stress perceptions and negative adaptive behaviors align with simulation results, confirming the failure of existing vertical shading to redistribute daylight. Light shelves and extended overhangs based on vertical zoning are recommended to restore a human-centric learning environment.
Persepsi atribut pedagang kaki lima terhadap pemanfaatan trotoar Pandanaran Alfanadi Agung Setiyawan; Suzanna Ratih Sari; Agung Budi Sardjono
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 5 No 2 (2020): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | May 2020 ~ August 2020
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v5i2.436

Abstract

Trotoar adalah salah satu prasarana yang penting guna menunjang perkembangan dan efektivitas segala kegiatan pada skala kawasan. Keberadaan trotoar memiliki fungsi utama yakni mewadahi aktivitas berjalan kaki manusia, dengan tidak melupakan fungsi tambahan sebagai penghubung elemen transportasi perkotaan. Akan tetapi pada kenyataannya trotoar memiliki fungsi ganda, selain untuk berjalan kaki dimanfaatkan juga untuk sarana berdagang PKL (pedagang kaki lima). Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengungkap keterkaitan antara persepsi atribut yang ditunjukkan dengan bagaimana para PKL berperilaku, dengan latar seting trotoar koridor jalan Pandanaran Semarang. Terdapat dugaan bahwa objek street furniture memiliki kekuatan properti yang mampu mewadahi tuntutan atribut para PKL. Untuk menjawab dugaan tersebut digunakanlah kuesioner tertutup dan metode Person Centered Mapping untuk memperoleh data statistik maupun data gambar rekaman perilaku PKL dalam berdagang di trotoar. Data yang didapat kemudian dianalisis menggunakan metode analisis statistik deskriptif. Dimulai dari klasifikasi sesuai persepsi berupa minat, tujuan, dan harapan diikuti oleh atribut yang memiliki relevansi dengan seting trotoar antara lain visibilitas, aksesibilitas, keamanan, dan adaptabilitas.
The meaning of space in Islamic housing in Bogor Sarah Aisha; Atiek Suprapti; Agung Budi Sardjono; Mohammad Sahid Indraswara
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 11 No 1 (2026): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | January 2026 ~ March 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v11i1.4458

Abstract

The phenomenon of housing based on Islamic values is increasingly developing in Indonesia, yet research on the spatial manifestations of these values and local culture remains limited. This study aims to analyze how the Islamic values embraced by Muhammadiyah and the Indonesian Da'wah Institute (LDII) are realized in the production of residential space in Bogor, employing Henri Lefebvre's theoretical framework. Through a comparative analysis of Mustika Residence Muhammadiyah and the Nurul Iman Mosque Complex of LDII, this research reveals significant differences across the three dimensions of space production. Muhammadiyah housing exhibits moderate spatial practices with functional design and symbols of Islamic renewal, while LDII housing displays clear physical boundaries and dominant internal interactions. The implications of this research for the field of architecture highlight the importance of considering religious values and local culture in residential space design. These findings can assist stakeholders in creating housing that is responsive to community needs and provide insights for academics and practitioners. This study enriches Lefebvre's theory by demonstrating the role of religious dimensions in space formation, proving that variations in interpretation within a single value system can lead to different spatial manifestations, thereby contributing to interdisciplinary studies on religion and urban space.
The spatial dynamics of culture in the Jenang Tebokan parade tradition in Kaliputu village, Kudus regency Vivi Kurnia Putri; Edi Purwanto; R. Siti Rukayah; Agung Budi Sardjono
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 11 No 1 (2026): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | January 2026 ~ March 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v11i1.4468

Abstract

Kirab Jenang Tebokan tradition in Kaliputu Village, Kudus Regency, is a cultural ritual that has a deep meaning in the social life of the local community. This tradition has been going on since 2006 by passing through the road corridors around Kaliputu Village. Still, in 2018, the procession's route changed by passing through the main road of Kaliputu Village to Kaliputu Village Hall. In this case, the tradition functions as a cultural celebration involving the community and as a representation of the dynamics of cultural space built during the procession. Kirab Jenang Tebokan creates temporary spaces full of social value where people gather, interact, and share in a family atmosphere. The implementation of route changes in the procession causes changes in the meaning of cultural space, which becomes the spatial embodiment of the Kirab Jenang Tebokkan tradition. This research examines the dynamics of cultural space formed during the Kirab Jenang Tebokan procession, as well as how the community uses and interprets the space. This research method uses a qualitative approach through field observations and interviews with traditional leaders and local people involved in the activity. The results showed that changes in the route of the curb affected the pattern of social interaction, accessibility, and people's perceptions in interpreting the cultural space formed during the procession. In addition, these changes can expand community involvement and strengthen local cultural identity. The implications of this research can provide insights for stakeholders, architectural practitioners, and academics in planning local culture-based public spaces.
Sustainability evaluation of Meuraxa Green Tourism Park in the context of Lefebvre’s Spatial theory Ulfiatun Risma; Agung Budi Sardjono; Agus Supriyanto
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 11 No 2 (2026): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | April 2026 ~ June 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v11i2.4878

Abstract

The Meuraxa Green Tourism Park in Banda Aceh, which was established in the aftermath of the 2004 tsunami, embodies substantial ecological, societal, and spiritual significance as a public realm situated within a post-disaster reconstruction landscape. Nevertheless, its present state reveals a noticeable deterioration in terms of functionality and long-term sustainability, as evidenced by deteriorated infrastructure, insufficient levels of community engagement, and the gradual erosion of its cultural significance. This research critically assesses the sustainability of the park by employing Henri Lefebvre’s Theory of the Production of Social Space, a conceptual framework that interprets space as a socially constructed product shaped through three interrelated dimensions: spatial practice (perceived space), representations of space (conceived space), and representational space (lived space). A qualitative-descriptive method was applied using field observation, document analysis, and semi-structured interviews. Findings show that the park’s social and cultural sustainability remains weak. The spatial practice dimension reflects minimal social use; the representations of space dimension reveal top-down planning; and the representational space dimension shows diminished spiritual identity. The study concludes that the park’s sustainability depends on reproducing its social space through three strategies: physical revitalization, participatory social activation, and the restoration of spiritual and cultural meanings. These integrated approaches are essential to transform Meuraxa Park into a living, sustainable public space that embodies the resilience and spiritual identity of Acehnese society.
Co-Authors Abdullah Ali Aditias Putri, Ninda Adiyati, Arlina Adlina, Zata Izzati Agus Supriyanto Airin Dian Nagari Al Batul, Umamah Alfanadi Agung Setiyawan Alfanadi Agung Setiyawan Anisa Anisa Aprilia Salsabila Nadhifah Arlina Adiyati ashim furqoni Assa Kamalia Astari Wulandari Atiek Suprapti Atiek Suprapti Atiek Suprapti atik suprapti Aulia, Faricha Putri Ayu Kusuma Wardhani Bagus Setiono Bangun IR Harsritanto, Bangun IR Bharoto Bharoto Budi Sudarwanto Cia, Helen Daffa Maulana Rifli Daffa Maulana Rifli Dedi Iskandar Deni Wahyu Setiawan Denny Irwan Aryadi, Denny Dhanoe Iswanto Djoko Indrosaptono Dunga Ayusthi Vembrika, Dunga Eddy Prianto Edi Purwanto Edi Purwanto Edi Purwanto Edward Endrianto Pandelaki Ema Hidayati Erianti, Devi Dwi Faricha Putri Aulia Fariz Addo Giovano Fariz, Nuthqy Franciskus Xaverius Yudhistira Ricky Kurnia Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Harsritanto, Bangun I R Harsritanto, Bangun Indrakusumo Radityo Helen Cia Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman Hilba Yoga Pratama Hilmy, Muhammad Fariz Husnul Masyitoh Indraswara, Mohammad Sahid Isna Pratiwi Isna Pratiwi, Isna Jamaluddin, Rizqi Lubis, Elektina Marsya Paramita Sulistyaningrum Mohammad Sahid Indraswara Muhammad Abiyyan Zhafran Murti, Nindita Kresna Nindita Kresna Murti Nuzlia Rahdini Nuzlia Rahdini Permata Widianingrum Permata Widianingrum PRAMESTI, CIPTETY TRISYA R Siti Rukayah Resza Riskiyanto Riana Arum Kusuma Rizqi Jamaluddin Rukayah, Raden Siti Sarah Aisha Sarah Aisha Sari, Suzana Ratih Satrio - Nugroho, Satrio - Satrio Nugroho Setiawan, Deni Wahyu Setiohastorahmanto, Prabani Setiyawan, Alfanadi Agung Sholih, Muhammad Najieb Sudarmawan Juwono Sudarmawan Juwono Sugiono Soetomo Sugiono Soetomo Sugiono Soetomo Sukawi Sukawi Sulistyaningrum, Marsya Paramita Suzana Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Taqiyudin Shidqi Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini Titin Woro Murtini Ulfiatun Risma Umamah Al Batul Vivi Kurnia Putri Vivi Kurnia Putri Widiantara, I Wayan Andhika Wijayanti , Wijayanti Wijayanti . Yandri, Sepli Zata Izzati Adlina