Claim Missing Document
Check
Articles

NFTs and Intellectual Property: Addressing Legal Certainty for Consumer Protection Alif Ardiansyah; Nuzulia Kumala Sari
Rechtenstudent Vol. 5 No. 2 (2024): Rechtenstudent August 2024
Publisher : Sharia Faculty, Kiai Haji Achmad Siddiq State Islamic University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/rch.v5i2.305

Abstract

This paper aims to provide a view regarding NFT transactions in the future to provide legal certainty, especially for IPR by using normative research methods along with supporting theories to find that in fact NFT transactions in Indonesia are far from legal because they do not meet the rules of NFT transactions where PTSE regulations, especially NFT transactions, do not provide legal guarantees to their owners, one of which is the chain of suppliers, namely Opensea, which is not yet optimal, so there is a need for regulations or crypto exchanges, especially NFTs, which not only provide certainty but the crypto market in Indonesia does not experience scams because in terms of analysis NFTs can be categorized as inherity distinctives or as signs that inherently have distinguishing power, immediately if they get protection through use, because some parties often cheat by taking screenshots, but for parties who make legitimate transactions, they have a differentiating way of gaining access to increasing the digitalization of works has reduced the potential value of copyright scarcity, which has become a significant problem in copyright disputes.
Penguatan Perlindungan Hukum Hak Merek dalam Industri Alat Kesehatan: Studi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Jember Like Olivia Shilvya; Rio Wibowo Agung Prasetiyo; Nurul Hasanah; Ermanto Fahamsyah; Nuzulia kumala Sari
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.6116

Abstract

Alat kesehatan sebagai elemen krusial dalam sistem pelayanan kesehatan memerlukan jaminan mutu dan keamanan, termasuk melalui perlindungan hukum terhadap hak merek. Dalam praktiknya, pelanggaran terhadap merek masih kerap terjadi dan berpotensi menimbulkan risiko bagi keselamatan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk perlindungan hukum terhadap hak merek alat kesehatan serta mekanisme pendaftarannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis. Metode yang digunakan adalah socio-legal dengan pendekatan yuridis normatif yang dikombinasikan dengan kajian empiris pada fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hak merek memiliki peran penting dalam memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha sekaligus melindungi konsumen dari penggunaan alat kesehatan yang tidak sesuai standar. Perlindungan tersebut diwujudkan melalui mekanisme pendaftaran merek yang memberikan hak eksklusif kepada pemiliknya. Namun demikian, masih terdapat berbagai hambatan, seperti rendahnya tingkat kesadaran hukum serta tingginya praktik pemalsuan merek yang berdampak pada keselamatan masyarakat. Selain itu, meskipun telah tersedia instrumen penegakan hukum secara perdata dan pidana, efektivitas penerapannya masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang lebih optimal antara pemerintah, pelaku usaha, dan aparat penegak hukum dalam memperkuat pengawasan dan kepatuhan terhadap regulasi. Kesimpulannya, penguatan perlindungan hukum terhadap hak merek alat kesehatan merupakan langkah strategis dalam menjamin keamanan produk serta perlindungan konsumen.
Legal Protection of Notary Employees As Instrumental Witnesses In The Making of Notary Deeds Hais Subaga Athazada; Nuzulia Kumala Sari; Iwan Rachmad Soetijono
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 6 No. 4 (2026): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jlph.v6i4.3315

Abstract

The existence of notaries as public officials plays an important role in the drafting of authentic deeds, which function as perfect legal evidence in legal relationships within society. In the process of drafting authentic deeds, the presence of instrumental witnesses constitutes a formal requirement that must be fulfilled to maintain the authenticity of the deed. In notarial practice, instrumental witnesses are generally notary employees because they are considered to understand the procedures and technical aspects of deed Preparation. Problems arise when disputes concerning notary deeds occur, while legal protection for notary employees acting as instrumental witnesses have not been explicitly regulated under the Law on Notarial Office. This study aims to analyze the legal protection of notary employees acting as instrumental witnesses, the limits of their legal liability, and future legal arrangements regarding such protection. This research employs a normative legal method using statutory , conceptual , and case approaches. The results of the study indicates that the absence of explicit legal regulation concerning the protection of instrumental witnesses creates legal uncertainty in notarial practice. The legal responsibility of notary employees acting as instrumental witnesses is principally limited to formal aspects of deed execution rather than the substantive content of the deed. Therefore, a more comprehensive legal reform is necessary to provide legal certainty and protection for notary employees acting as instrumental witnesses.
Legal Protection for Communities Managing the Geographical Indication of Toraja Arabica Coffee Nuzulia Kumala Sari; Emanuel Raja Damaitu; Dylan Kinyawa Savero Katemba
DAS SEIN: Jurnal Pengabdian Hukum dan Humaniora (Journal of Legal Services and Humanities) Vol. 6 No. 1 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33756/jds.v6i1.33155

Abstract

This article aims to analyze the legal protection of the Geographical Indication of Toraja Arabica coffee and to examine its significance for the community responsible for its management. The study uses a normative legal approach supported by empirical observations, focusing on statutory regulations, legal principles, and the implementation of Geographical Indication protection in practice. Recent developments show that geographical Indication has become an increasingly important legal instrument in Indonesia for protecting regional products, preserving local identity, and strengthening the economic value of community-based commodities. In the case of Toraja Arabica coffee, its legal protection is reinforced through national intellectual property regulations and regional policy instruments that recognize its distinctive quality, reputation, and geographical origin. The findings indicate thet Geographical Indication protection provides legal certainty, prevents misuses of the name by unauthorized parties, and supports the preservation of product authenticity and quality. Moreover, it strengthens the legal position of the local community as the geographical indication protection contributes not only to economic sustainability, but also to cultural preservation and community empowerment.
PENGATURAN PERSAINGAN USAHA INDUSTRI HIJAU PERUSAHAAN MANUFAKTUR : STUDI PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN UNI EROPA Ichah Yunia Rahmawati; Nuzulia Kumala Sari; Ikarini Dani Widiyanti
Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Vol. 14 No. 1 (2026): Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, April 2026
Publisher : Program Studi Magister Hukum Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/sjp.v14i1.21944

Abstract

Penerapan industri hijau di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan, terutama dalam sektor manufaktur yang menjadi kontributor utama emisi gas rumah kaca. Ketatnya persaingan pasar membuat banyak pelaku usaha enggan mengadopsi praktik industri hijau karena tingginya biaya produksi dan risiko inflasi hijau. Selain itu, ketiadaan regulasi yang tegas menimbulkan ketidakpastian hukum. Sebagai perbandingan, Uni Eropa telah berhasil mengintegrasikan prinsip industri hijau ke dalam kebijakan persaingan usahanya, menjadikannya salah satu wilayah paling bersih di dunia. Penelitian ini membandingkan kerangka hukum Indonesia dan Uni Eropa terkait industri hijau dalam sektor manufaktur, dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil kajian menunjukkan bahwa UU Persaingan Usaha Indonesia belum mengatur secara spesifik tentang industri hijau, sementara Uni Eropa memberikan ruang untuk kerja sama usaha yang mengutamakan manfaat lingkungan. Indonesia disarankan mengadopsi pendekatan serupa melalui harmonisasi UU Perindustrian dan penguatan undang undang energi baru terbarukan. Kata Kunci : Persaingan Usaha, Industri Hijau, perusahaan Manufaktur
CYBER NOTARY DALAM PERSPEKTIF KEPASTIAN HUKUM DAN PRINSIP KEHATI-HATIAN NOTARIS Muh Fanny Chamdani; Nuzulia Kumala Sari; Moh. Ali
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11329

Abstract

  The rapid evolution of information technology has catalyzed a paradigm shift in notarial services through the emergence of the cyber notary concept. Nevertheless, its integration into the Indonesian legal system remains obstructed by concerns over legal certainty and the stringent demands of the notary's duty of care or prudential principle. The objective of this research is to evaluate the regulatory framework of cyber notary in Indonesia, scrutinizing its execution through the lens of legal certainty and the adherence to the prudential principle in electronic notarial acts. Adopting a normative juridical methodology, this study utilizes statutory, conceptual, and comparative perspectives, supported by a qualitative analytical framework. The results indicate that the regulation of cyber notary in Indonesia remains incomplete and creates ambiguity concerning the validity and evidentiary strength of electronic notarial deeds. Furthermore, the prudential principle of notaries has expanded in the digital context, encompassing electronic identity verification, system security, and data protection. Therefore, regulatory reform, harmonization of laws, and enhancement of notarial competencies are necessary to ensure the proper implementation of cyber notary, providing legal certainty and adequate protection for all parties involved.   ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi telah mendorong transformasi dalam praktik kenotariatan melalui konsep cyber notary. Namun, implementasi konsep ini di Indonesia masih menghadapi berbagai permasalahan, terutama terkait kepastian hukum dan penerapan asas kehati-hatian notaris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan cyber notary dalam sistem hukum Indonesia, mengkaji implementasinya dari perspektif kepastian hukum, serta menelaah penerapan asas kehati-hatian notaris dalam praktik digital. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan, serta dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan cyber notary di Indonesia masih belum komprehensif dan menimbulkan ketidakjelasan terkait keabsahan serta kekuatan pembuktian akta elektronik. Di sisi lain, asas kehati-hatian notaris mengalami perluasan makna dalam konteks digital, yang mencakup verifikasi identitas elektronik, keamanan sistem, serta perlindungan data. Oleh karena itu, diperlukan reformasi regulasi, harmonisasi peraturan perundang-undangan, serta peningkatan kompetensi notaris guna mewujudkan implementasi cyber notary yang menjamin kepastian hukum dan perlindungan bagi para pihak.
Eksploitasi Karya Musik Tanpa Lisensi di Tiktok: Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Hak Cipta Fidia Maulida; Enggita Anggraeni Okta; Melly Yunandita Emaniar; Ermanto Fahamsyah; Nuzulia Kumala Sari
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8620

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum dan efektivitas penegakan hukum terhadap eksploitasi karya musik tanpa lisensi di platform digital TikTok dalam perspektif Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, yang didukung oleh bahan hukum primer, sekunder, dan tersier melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, perlindungan hak cipta musik telah diatur secara komprehensif, mencakup hak moral dan hak ekonomi pencipta, mekanisme lisensi, serta pengawasan dan penegakan hukum berbasis teknologi. Namun, dalam praktiknya, penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta di TikTok masih belum optimal akibat berbagai kendala, seperti tingginya volume konten, keterbatasan teknologi deteksi, karakter lintas yurisdiksi, serta rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi yang adaptif, peningkatan sinergi antara pemerintah, platform digital, dan lembaga terkait, serta optimalisasi teknologi dan edukasi publik guna mewujudkan perlindungan hak cipta yang efektif dan berkeadilan di era digital.
EFEKTIVITAS OTORITAS PENGAWAS DALAM MENEGAKKAN HUKUM PERSAINGAN USAHA DI ERA DIGITAL Ulinnuha, Unsiya Zulfa; Sari, Nuzulia Kumala; Widiyanti, Ikarini Dani
Verstek Vol 13, No 1 (2025): JANUARI-MARET
Publisher : Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jv.v13i1.86077

Abstract

Otoritas pengawas memiliki peran sentral dalam menerapkan hukum persaingan usaha, menjaga ekonomi yang sehat dan adil. Mereka bertindak sebagai penjaga aturan dalam permainan bisnis dengan mengawasi aktivitas ekonomi dan bisnis, memastikan bahwa pelaku bisnis tidak terlibat dalam praktik-praktik yang dapat merugikan persaingan yang sehat. Otoritas pengawas berfokus pada mengidentifikasi dan menangani pelanggaran hukum persaingan usaha, seperti praktik kartel, penyalahgunaan posisi dominan, dan tindakan monopoli. Selain itu, mereka berperan dalam merumuskan pedoman dan peraturan yang mendukung prinsip-prinsip persaingan yang sehat. Hubungan yang erat antara otoritaspengawas dan pemerintah adalah kunci dalam memastikan penegakan hukum yang efektif. Tujuan utama otoritas pengawas adalah menjaga persaingan yang sehat, melindungi konsumen, dan mendorong inovasi. Melalui penyelidikan, penegakan hukum, dan advokasi, mereka berkontribusi pada menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui persaingan yang sehat. Meskipun memiliki peran penting, otoritas pengawas juga menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya, koordinasi lintas sektor, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Untuk meningkatkan efektivitas, otoritas pengawas melakukan upaya, termasuk reformasi hukum, peningkatan transparansi, penggunaan teknologi canggih, dan kolaborasi dengan sektor swasta. Kolaborasi ini memberikan manfaat besar dalam menguatkan penegakan hukum persaingan usaha dan memastikan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan
The Analysis of Murabahah bil Wakalah Agreements Implementation Consistency toward Sharia Financial Institutions in Indonesia Moh. Wahyu Al Waris; Nuzulia Kumala Sari
Rechtenstudent Vol. 4 No. 3 (2023): Rechtenstudent December 2023
Publisher : Sharia Faculty, Kiai Haji Achmad Siddiq State Islamic University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/rch.v4i3.295

Abstract

Murabahah bil wakalah is buying and selling using the wakalah system. In this buying and selling system, the seller represents his purchase to the customer, thus the first contract is a wakalah contract after the wakalah contract ends which is marked by the delivery of goods from the customer to the Sharia Financial Institution (LKS), then the institution provides a murabahah contract. The practice of murabahah bil wakalah financing in several LKS, namely at PNM Mekaar Syariah West Aceh Branch, Bank BRI Syariah KCP Majayala, KSPPS Istiqamah Padang Panjang, Bank DKI Head Office, and Bank Mualamalat Indonesia Malang Branch . This research is deemed necessary to formulate how the Murabahah bil wakalah agreement should be applied in financing so as not to violate the rules of muamalah fiqh. Meanwhile, this research method uses a normative juridical research type with a statutory approach and a conceptual approach. The results of this research show that the murabahah financing practices in several LKS above do not meet the pillars and requirements of murabahah as stipulated in Islamic law. So it is doubtful that the sharia value of the contract carried out is formally something that is not fulfilled.
PENERAPAN CYBER NOTARY DALAM PERSPEKTIF HUKUM PROGRESIF: ANALISIS TERHADAP KEPASTIAN HUKUM DALAM PRAKTIK KENOTARIATAN Dani Harianto; Nuzulia Kumala Sari; Moh. Ali
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i2.10742

Abstract

The development of information technology has driven significant transformation in various sectors, including notarial practice through the concept of cyber notary. This study aims to analyze the concept of cyber notary within the framework of modern legal development, examine its application from a progressive law perspective, and assess its ability to address the needs of a digital society while ensuring legal certainty in notarial practice in Indonesia. This research is a normative legal study employing statute and conceptual approaches. The legal materials used consist of primary, secondary, and tertiary sources, which are analyzed qualitatively using a deductive method. The results show that cyber notary is a form of legal innovation that emerges as a response to the demands of a digital society for efficient and flexible legal services. However, its implementation in Indonesia still faces normative challenges, including legal vacuum, norm conflicts, and vague norms between the Law on Notary Position and the Law on Electronic Information and Transactions. From the perspective of progressive law, cyber notary can serve as a means of legal reform, but it still requires clear normative boundaries to ensure legal certainty. Therefore, legal reform and harmonization of regulations are necessary to support the implementation of cyber notary in providing legal certainty and meeting the needs of a digital society. ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi telah mendorong transformasi dalam berbagai bidang, termasuk dalam praktik kenotariatan melalui konsep cyber notary. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep cyber notary dalam perkembangan hukum modern, mengkaji penerapannya dalam perspektif hukum progresif, serta menilai kemampuannya dalam menjawab kebutuhan masyarakat digital sekaligus memberikan kepastian hukum dalam praktik kenotariatan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif dengan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cyber notary merupakan bentuk inovasi hukum yang muncul sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat digital akan layanan hukum yang efisien dan fleksibel. Namun, penerapannya di Indonesia masih menghadapi kendala normatif berupa kekosongan norma, konflik norma, dan ambiguitas norma antara pengaturan dalam Undang-Undang Jabatan Notaris dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ditinjau dari perspektif hukum progresif, cyber notary dapat menjadi sarana pembaharuan hukum, namun tetap memerlukan batasan normatif guna menjamin kepastian hukum. Oleh karena itu, diperlukan pembaharuan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan agar penerapan cyber notary dapat memberikan kepastian hukum serta menjawab kebutuhan masyarakat digital.
Co-Authors Afiif Hadiani Pratiwi Alif Ardiansyah Amru Hanifa Mukti Ana Laela Fatikhatul Choiriyah Anis Khafifah Mz Anisah Anisah anisah Aris Yuni Pawestri Aulia, Farah Nizrina Awaludin Marwan Ayu Citra Santyaningtyas Ayu Herlin Norma Yunita Ayuning Tiyas, Vica Putri A’an Efendi A’an Efendi Bakhouya Driss, Bakhouya Basuki Kurniawan Bayu Dwi Anggono Dani Harianto Dyah Ochtorina Susanti Dylan Kinyawa Savero Katemba Edi Wahjuni Efendi, A’an Emi Zulaika Enggita Anggraeni Okta Ermanto Fahamsyah Fidia Maulida Firdaus, Sendy Pratama Firman Floranta Adonara Gautama Budi Arundhati, Gautama Budi Gayatri, Annisa Zerlina Cindy Hais Subaga Athazada Halif Halif, Halif Halif, Halif Handono, Mardi Hanisah, Fairuz Harianti, Isnin Himami, Desyana I Gede Widhiana Suarda Ichah Yunia Rahmawati Ikarini Dani Widiyanti Imam Rofiqi Iwan Rachmad Soetijono Like Olivia Shilvya Maulida, Fidia Mawardah, Dinda Agnis Melly Yunandita Emaniar Moh. Ali Moh. Bahrul Ulum Moh. Wahyu Al Waris Muh Fanny Chamdani Mukti, Amru Hanifa Muthar, Achmad Natasha Intania Sabila Nurul Hasanah Oktaviyani, Evin Prabowo, Muhammad Rezka Eki Priambudi, Zaki Puspaningrum, Galuh Kumala Putri, Auliya Safira Rahmadi Indra Tektona Rania Devayanti Reston Sipta Sihite Rio Wibowo Agung Prasetiyo Romatua, Romatua Sabila, Natasha Intania Santyaningtyas, Ayu Citra Satriya Aldi Putrazta Sendy Pratama Firdaus Setyawan, Angelina Regita Kerin Sheila Novia Anggita Sheilla Octaviani Soesanti, Desy Sonia Wijaya Putra Sunputri, Margareta Fanandi Tektoka, Rahmadi Indra Ulinnuha, Unsiya Zulfa Wahjuni, Edi Wahjuni, Edi Wahjuni Yusuf Adiwibowo Zahro, Saudatus Zaki Priambudi