Claim Missing Document
Check
Articles

Struktur Histologi dan Histomorfometri Sekum Sapi Bali pada Bagian Basis, Corpus Dan Apex Ngurah Arbi Kencana; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani
Buletin Veteriner Udayana Vol. 15 No. 2 April 2023
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2023.v15.i02.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologi dan histomorfometri serta perbedaan histomorfometri sekum sapi bali pada bagian basis, corpus dan apex. Pada penelitian ini 10 ekor sapi bali betina berusia empat sampai lima tahun diambil di Rumah Potong Hewan Pesanggaran. Cara pengambilan sampel adalah sampel sekum diambil pada bagian basis, corpus dan apex untuk selanjutnya difiksasi menggunakan larutan Neutral Buffered Formalin 10%, kemudian diberi pewarnaan menggunakan Haematoxillin-Eosin untuk dijadikan preparat histologi. Hasil pengamatan struktur histologi disajikan secara deskriptif kualitatif, sedangkan data histomorfometri disajikan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menemukan sekum tersusun atas 4 lapisan; tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa. Pengukuran histomorfometri menunjukkan ketebalan tunika mukosa, submukosa, muskularis dan serosa pada bagian basis berturut-turut 376,87±34,411?m, 1508,73±349,0222?m, 2767,76±609,698?m, 199,95±21,502?m, pada bagian corpus berturut-turut 380,36±51,501?m, 739,28±129,371?m, 2287,66±303,987?m, 328,19±77,468?m dan pada bagian apex berturut-turut 407,05±63,902?m, 615,57±205,736?m, 2730,51±332,044?m, 297,82±51,211?m. Histomorfometri tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis dan tunika serosa menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada tunika mukosa bagian basis, corpus dan apex, ketebal tunika submukosa bagian basis lebih tebal dibandingkan dengan bagian corpus dan apex, ketebal tunika muskularis bagian basis dan apex lebih tebal dibandingkan dengan bagian corpus, pada tunika serosa bagian basis, corpus dan apex tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Perlu dilakukan penelitian anatomi makro dan mikro terhadap usus besar sapi bali dengan memperhatikan manajemen pemeliharaan, membedakan umur, jenis kelamin, dan melakukan pewarnaan khusus.
Pemberian Pollen Trigona terhadap Ketebalan Endometrium pada Tikus Putih yang Dipapar Asap Rokok Nurul Amira; Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi; Ni Luh Eka Setiasih
Buletin Veteriner Udayana Vol. 15 No. 3 June 2023
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2023.v15.i03.p02

Abstract

Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas. Asap rokok yang terhirup dapat menyebabkan gangguan pada organ reproduksi salah satunya gangguan pada endometrium. Pengaruh radikal bebas dari asap rokok terhadap endometrium dapat dikurangi dengan pemberian antioksidan. Salah satu sumber antioksidan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat pada saat ini adalah bee pollen trigona. Secara umum bee pollen trigona mengandung banyak nutrisi, antioksidan serta fitoestrogen yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan Rangcangan Acak Lengkap menggunakan 18 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 1 kelompok kontrol dan 2 kelompok perlakuan. Kelompok kontrol (P0) hanya dipapar dengan asap rokok, perlakuan 1 (P1) di papar dengan asap rokok dan diberi 9 mg bee pollen trigona, serta perlakuan 2 (P2) tikus dipapar dengan asap rokok dan diberikan bee pollen trigona 18 mg. Perlakuan dilakukan selama 14 hari dengan sebelumnya dilakukan masa adaptasi selama 7 hari. Setelah 14 hari dilakukan swab vagina terhadap semua tikus untuk mengetahui masa estrusnya, jika ditemukan tikus dalam masa estrus maka tikus segera dikorbankan untuk diambil sampel uterusnya dan dibuat preparat histologi dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Variabel yang diperiksa adalah ketebalan endometrium. Analisis data dilakukan dengan menguji homogenitas data, kemudian dilanjutkan dengan uji Analysis of Variance (ANOVA) dan uji Games-Howell. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (P<0,05) pada P0, P1, dan P2. Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa pemberian bee pollen trigona dapat meningkatkan ketebalan endometrium tikus putih.
STRUKTUR DAN MORFOMETRI LIMPA ITIK BALI (Anas sp.) PADA FASE PERTUMBUHAN Winda Ara Yulisa; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Gede Soma
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.357

Abstract

Limpa merupakan organ yang dikelompokkan ke dalam sistem limfoid sekunder. Limpa memiliki fungsi imunitas terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan eritrosit yang rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri limpa itik bali (Anas sp.) pada fase pertumbuhan/grower. Penelitian ini menggunakan 20 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu jantan dan betina yang masing-masing terdiri atas 10 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur anatomi dan histologi dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan data morfometri dan histomorfometri untuk menguji perbedaan antara jantan dan betina digunakan uji Independent sample T-test dengan prosedur analisis menggunakan program SPSS versi 26. Struktur anatomi limpa itik bali berbentuk segitiga piramid dan berwarna cokelat kemerahan, struktur histologi limpa itik bali terdiri atas kapsula, trabekula, pulpa merah dan pulpa putih. Hasil pengukuran morfometri berat limpa itik bali jantan diperoleh 0,68 ± 0,20 g dan berat limpa itik betina 0,66 ± 0,24 g. Volume limpa itik bali jantan dan betina berturut-turut 0,60 ± 0,19 mL dan 0,58 ± 0,23 mL. Hasil pengukuran histomorfometri ketebalan kapsula limpa itik jantan dengan betina adalah 17,97 ± 4,81 ?m; 31,75 ± 6,09 ?m; ketebalan trabekula jantan 17,20 ± 3,26?m ; dan betina 22,54 ± 6,29 ?m; serta diameter pulpa putih jantan adalah 214,69 ± 14,77 ?m; dan diameter pulpa putih betina adalah 199,56 ± 23,58 ?m. Simpulan penelitian ini adalah limpa itik bali jantan dan betina pada fase pertumbuhan/grower memiliki struktur anatomi dan histologi yang sama, morfometri yang tidak berbeda nyata, serta histomorfometri yang menunjukkan perbedaan pada ketebalan kapsula dan trabekula sedangkan diameter pulpa putih tidak jauh berbeda.
Pengimbuhan Serbuk Sari Lebah Meningkakan Kadar Follicle Stimulating Hormone dan Sedikit Mengganggu Hati Tikus yang Dipapar Asap Rokok Kamaliya Alawiyah Yahya; Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi; Ni Luh Eka Setiasih
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.470

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk sari lebah/bee pollen terhadap gambaran histologi hati dan kadar hormon FSH tikus putih betina (Rattus norvegicus) yang dipapar asap rokok. Penelitian ini menggunakan 24 sampel yang dikelompokan secara acak menjadi empat kelompok yakni kelompok kontrol negatif yaitu tikus tanpa diberikan paparan asap rokok, kelompok kontrol positif yaitu tikus yang diberikan paparan asap rokok tanpa bee pollen, kelompok perlakuan yang pertama yaitu tikus diberikan paparan asap rokok dan diberikan bee pollen sebanyak 9 mg/ekor satu kali sehari dan kelompok perlakuan yang kedua yaitu tikus diberikan paparan asap rokok dan diberikan bee pollen sebanyak 9 mg/ekor dua kali sehari yaitu pagi dan malam hari secara peroral. Perlakuan yang sama dilakukan dalam jangka waktu 14 hari. Pengamatan terhadap histologi hati dilakukan dengan melihat perubahan secara deskriptif menggunakan mikroskop cahaya binokuler pada lima lapang pandang secara mikroskopik denganpembesaran 40, 100 dan 400 kali. Pengukuran kadar hormon FSH menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Pada gambaran histologi hati menunjukkan adanya kongesti, degenerasi, dan nekrosis pada semua kelompok perlakuan kecuali, kelompok kontrol yang menunjukkan gambaran hepatosit normal. Hasil pengukuran kadar hormon FSH menunjukkan peningkatan, kadar FSH berturut-turut dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi yaitu didapatkan pada semua kelompok perlakuan dan kontrol. Berdasarkan hasil gambaran histologi dan kadar FSH pemberian bee pollen tidak berpengaruh signifikan terhadap gambaran histologi hati, akan tetapi pemberian bee pollen meningkatkan kadar FSH tikus putih betina (R. norvegicus) yang dipapar asap rokok.
Struktur dan Morfometri Ginjal Itik Bali (Anas sp.) pada Fase Pertumbuhan Ni Putu Dewi Setia Sari; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Ketut Suatha
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.374

Abstract

Ginjal merupakan organ ekskresi yang berperan dalam membuang zat sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri ginjal itik bali (Anas sp.) dengan jenis kelamin berbeda pada fase pertumbuhan/ grower. Penelitian menggunakan 32 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok jenis kelamin masing-masing 16 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur dianalisis dengan deskriptif kualitatif,sedangkan data morfometri digunakan uji Independent sample T-test dengan program SPSS. Hasil pengukuran ginjal itik bali jantan diperoleh panjang ginjal kanan 7,256 + 0,388 cm, panjang ginjal kiri 7,175 + 0,437 cm, bobot ginjal kanan 3,50 + 0,61 g, bobot ginjal kiri 3,487 + 0,497 g, volume ginjal kanan 0,350 + 0,103 cm3, volume ginjal kiri 0,362 + 0,088 cm3, glomerulus tipe mamalia 34,025 + 2,931 ?m dengan lebar bowman 8,173 + 2,447 ?m, glomerulus tipe reptil 14,777 + 2,300 ?m dengan lebar ruang bowman 6,676 + 1,780 ?m. Hasil pengukuran ginjal itik bali betina diperoleh panjang ginjal kanan 6,812 + 0,263 cm, panjang ginjal kiri 6,781 + 0,299 cm, bobot ginjal kanan 4,012 + 0,464 g, bobot ginjal kiri 3,987 + 0,401 g, volume ginjal kanan 0,418 + 0,116 cm3, volume ginjal kiri 0,393 + 0,106 cm3, glomerulus tipe mamalia 43,443 + 4,686 ?m dengan lebar bowman 9,068 + 3,483 ?m, glomerulus tipe reptil 23,312 + 2,761 ?m dengan lebar ruang 6,390 + 1,995 ?m. Hasil pengujian terhadap panjang bobotginjal dan ginjal menunjukkan berbeda nyata P<0,05, sedangkan volume ginjal tidak berbeda nyata P>0,05. Hasil pengujian terhadap glomerulus tipe mamalia dan glomerulus tipe reptil menunjukkan berbeda nyata P<0,05. Struktur anatomi danhistologi antara ginjal itik bali jantan dan betina adalah sama, sedangkan morfometri anatomi dan histologi ginjal itik bali jantan dengan betina berbeda.
Co-Authors Anak Agung Gde Arjana Anak Agung Sagung Kendran Anastasia Bhala Andika Diko Septiyatma Apriani, Ni Made Nina Astini, Ni Putu Sri Ayu Baiq Renny Kamaliani Brahma Tusta Bhirawa Budiartawan, I Komang Alit Cahyani, Luh Made Maha D.N.D.I. Laksmi Damara, Doni Darmawan, I Gusti Ayu Chintya Darmayanti, Mahda Dwi Defi Lega Nurwidana Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi Dewa Ayu Dwita Karmi Dewi, I Gusti Ayu Mirah Afsari DWI SURYANTO Elisabeth Karina Eristiawan, I Gede Erick Ersawati, Neti Evi Marieti Hutagalung Ginting, Regina Bonifasia Br Gunawati, Luh Sri Hanifah Alshofa Nurul Aini Heriyani, Luh Gede Sri Surya I Gede Erik Juliarta I Gede Soma I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Made Krisna Erawan I Kadek Pradhana Putra I Ketut Berata I Ketut Suatha I Ketut Sumadi I Made Bayu Pandia Yudha Bauer I Made Kardena I Made Merdana I Made Sukada I Nyoman Suarsana I Nyoman Sulabda I Putu Sandika Arta Guna I Putu Suastika I Wayan Piraksa I Wayan Puspa Ari Laxmi I Wayan Sudira I Wayan Wirata I.K. Suatha I.M. Dharmika Ida Ayu Adhistania Pidada Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Oka Winaya Indrawati Sendow Inna Narayani IW. Piraksa Iwan Harjono Utama Kamaliya Alawiyah Yahya Ketut Berata Kevin Dominika Luh Gde Sri Surya Heryani Luh Made Sudimartini Maratun Janah Maria Natalia Dhiu Botha Mergayanti Yudanta Eka Putri Muhsi, Ach Moh Abd Ngurah Arbi Kencana Ngurah Intan Wiratmini Ni Kadek Eka Widiadnyani Ni Ketut Suwiti Ni Luh Putu Agustini Ni Made Ayu Kurniawati Ni Made Riska Adnyani Ni Nyoman Werdi Susari Ni Putu Dewi Setia Sari Nurul Amira Oktavyan Loys Mami P. Suastika Patrisius Yanuaris Lada Salasa, Patrisius Yanuaris Putra, I Komang Susila Semadi Putri Yuliana Mangindaan Putu Ayu Santika Putu Henrywaesa Sudipa Putu Suastika Raodatul Jannah Robertino Ikalinus, Robertino Samsuri Samsuri Setiyowati, Asri Sisyawati Putriningsih Sri Kayati Widyastuti Stanislaus Valens Miten Larantukan Steven Dwi Purbantoro Teja, Putu Tessa Hariys Septianda Tri Ulfah Arema Yanti Umi Reston Vaswani Samaria Napitupulu Waskitha, Melati Pusparini Winda Ara Yulisa Yanne Yanse Rumlaklak Yogiana, Wayan Yoviniani Narti Dosom Yulia Khalifatun Nissa Zumara Mufida Hidayati