p-Index From 2021 - 2026
9.341
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Keperawatan Indonesia Nurse Media Journal of Nursing Jurnal Keperawatan Majalah Kesehatan FKUB Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes Qanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Belitung Nursing Journal Jurnal Keperawatan Silampari Nursing Current : Jurnal Keperawatan Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia (Indonesian Nursing Scientific Journal) The Indonesian Journal of Infectious Diseases Media Keperawatan Indonesia Holistik Jurnal Kesehatan Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) International Journal of Nursing and Health Services (IJNHS) Faletehan Health Journal INTERNATIONAL JOURNAL OF NURSING AND MIDWIFERY SCIENCE (IJNMS) Jurnal Keperawatan Terpadu (Integrated Nursing Journal) Jurnal Keperawatan (JKEP) Jurnal Riset Kesehatan Nasional Jurnal Ners Journal of Telenursing (JOTING) Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesian Journal of Global Health research Babali Nursing Research Nursing Sciences Journal MAHESA : Malahayati Health Student Journal Nursing Information Journal JRKN Journal of Nursing Science Update DUNIA KEPERAWATAN: JURNAL KEPERAWATAN DAN KESEHATAN Eduvest - Journal of Universal Studies Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing) Jurnal Keperawatan Jurnal Keperawatan Merdeka JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Jurnal Medika Usada
Claim Missing Document
Check
Articles

EFFECT OF PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION ON SLEEP QUALITY AMONG PATIENTS WITH CHRONIC DISEASES: A LITERATURE REVIEW Syafa'atun Mirzanah; Sri Yona; Debie Dahlia
Belitung Nursing Journal Vol. 6 No. 2 (2020): March - April
Publisher : Belitung Raya Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.347 KB) | DOI: 10.33546/bnj.1060

Abstract

Background: Sleep disturbance is prevalent among patients with chronic diseases. Thus, the use of non-pharmacological interventions is needed. Progressive muscle relaxation is considered effective to improve sleep quality, but its discussion is still limited. Objective: To investigate the effect of progressive muscle relaxation on sleep quality among chronic disease patients. Design: Literature review. Data Sources: Search was performed through the CINAHL, Science Direct, and ProQuest database from 2014 to 2019 for English-based, full-text research articles. Review Methods: Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) methods was used to select articles. Critical Appraisal Skills Programme was used for quality assessment. Results: From the 644 articles yielded, six articles were included. Progressive muscle relaxation could be given alone or in combination with cognitive behavioural therapy. It also has been proven to improve sleep quality among patients with chronic diseases regardless their ages. Procedures in progressive muscle relaxation vary, but all studies reported significant improvements on sleep quality. Most of studies used audio as a medium for progressive muscle relaxation training. Conclusion: Progressive muscle relaxation significantly improves the sleep quality among patients with chronic diseases. It is recommended for future studies to compare the effectivity between 4 or 7 muscle groups and 16 muscle groups on sleep quality.
DEPRESI DAN STIGMA TB DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS PARU Vika Endria; sri yona
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.89 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v3i1.151

Abstract

Penyakit tuberkulosis paru dapat menimbulkan penurunan terhadap kualitas hidup pasien TB Paru. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut adanya depresi yang dialami pasien TB Paru akibat proses penyakit dan stigma negatif terhadap penyakit tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan depresi dan stigma dengan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik korelatif yang menggunakan pendekatan desain cross sectional. Populasi target dalam penelitian ini adalah pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT di poli paru RSUP Persahabatan. Teknik pengambilan sampling yang digunakan teknik concecutive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 96 responden. Data dianalisis dengan uji analisa univariat dan bivariat, hasil uji bivariat menggunakan pearson menunjukan hasil  p = 0,000 (p < 0,05) Berdasarkan hasil tersebut terdapat adanya hubungan adepresi dan kualitas hidup serta stigma dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru. Hasil penelitian tersebut direkomendasikan untuk melakukan deteksi dini depresi dan stigma pada pasien poliklinik oleh perawat.
EFEKTIFITAS MANDI CHLORHEXIDINE GLUCONATE TERHADAP PENURUNAN ANGKA KEJADIAN HAIs: LITERATURE REVIEW Tia Atnawanty; Sri Yona; Riri Maria
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2630.072 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v4i2.234

Abstract

INTISARI : Latar Belakang: Insiden Health-care Associated Infections (HAIs) atau infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan di dunia semakin meningkat sehingga menyebabkan morbiditas, mortalitas, dan biaya tinggi bagi rumah sakit. Klorheksidin glukonat sebagai antiseptik dengan aktivitas antimikroba spektrum luas telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian sebagaiABSTRAKLatar belakang: Penyakit infeksi di fasilitas kesehatan atau disebut juga Healthcare Associated Infections (HAIs) menjadi masalah besar yang masuk ke rumah sakit karena dapat meningkatkan angka morbiditas (kesakitan), angka mortalitas (kematian) dan menambah biaya perawatan yang besar bagi rumah sakit. Chlorhexidine gluconate sebagai antiseptik dengan aktivitas antimikroba spektrum luas merupakan komponen penting dalam pencegahan infeksi. Rutinitas mandi harian di perawatan kritis dan intensif dan mandi sebelum operasi dengan sabun Chlorhexidine gluconatetelah menurunkan infeksi aliran darah, infeksi daerah operasi dan akuisi organisme patogen berbahaya dan resisten yang terdapat di rumah sakit. Namun karena belum konsistennya hasil penelitian terkait hal ini, akibatnya mandi Chlorhexidine belum dilakukan secara universal sebagai prosedur tetap dan masih menyisakan sampai sekarang. Kajian literatur ini bertujuan untuk menilai efektifitas mandi Chlorhexidine gluconate terhadap penurunan kejadian infeksi yang berkaitan dengan kesehatan dan mikroorganisme penyebabnya.Metode: Penulis melakukan pencarian literatur dengan mengumpulkan beberapa artikel terindeks yang berhubungan dengan topik yang diangkat menggunakan database seperti Clinical key, Elsevier, ProQuest , dan ScienceDirect dengan kata kunci chlorhexidine gluconate, chlorhexidine bathing, health care related infeksi .Hasil: Dari 3871 artikel umum, dilakukan penyaringan menjadi 269 artikel yang terkait, dikumpulkan sebanyak 16 artikel yang sesuai dengan topik dan 8 artikel yang sesuai kriteria sebagai bahan kajian literatur.Kesimpulan: Penulis menyimpulkan bahwa mandi dengan Chlorhexidine gluconate secara rutin penerapan “ bundles ” pencegahan dapat menurunkan prevalensi mikroorganisme berbahaya termasuk kuman patogen yang resisten terhadap antimikroba, namun efektifitas biaya, integritas kulit dan resistensi tetap harus. Kata kunci: chlorhexidine gluconate, mandi chlorhexidine, infeksi terkait perawatan kesehatan ABSTRAKLatar Belakang: Infectious diseases in health facilities also known as Healthcare Associated Infections (HAIs) are major problem facing hospitals because they can increase morbidity rates (pain), mortality rates (deaths) and increase the cost of care for hospitals. Chlorhexidine gluconate as an antiseptic with broad spectrum antimicrobial activity is an important component in infection prevention. Daily bathing routine in critical or intensive care and pre-surgery showers with Chlorhexidine soap have reduced bloodstream infections, surgical area infections and the acquisition of harmful and resistant pathogenic organisms found in hospitals. However, due to the inconsistency of research results related to this matter, as a result chlorhexidine bathing has not been done universally as a permanent procedure and still leaves debate until now. This literature review aims to assess the effectiveness of chlorhexidine gluconate baths in reducing the incidence of infections related to health services and their causative microorganisms. Metode: Penulis melakukan pencarian dengan mengumpulkan beberapa artikel terindeks yang berhubungan dengan topik yang diangkat dari beberapa database seperti Clinical keys, Elsevier, ProQuest dan ScienceDirect dengan kata kunci chlorhexidine gluconate, chlorhexidine bathing, perawatan kesehatan terkait infeksi .Hasil: Dari 3871 artikel umum yang disaring menjadi 269 artikel terkait, didapatkan sebanyak 16 artikel yang sesuai dengan topik dan 8 artikel yang memenuhi kriteria sebagai bahan studi literatur.Kesimpulan: Penulis menyimpulkan bahwa mandi dengan klorheksidin glukonat secara rutin dengan aplikasi “bundel” pencegahan infeksi dapat menurunkan prevalensi mikroorganisme berbahaya termasuk patogen resisten antimikroba, namun pertimbangan efektivitas biaya, integritas kulit, dan resistensi tetap harus diperhatikan. Kata kunci: klorheksidin glukonat, mandi klorheksidin, infeksi terkait perawatan kesehatankomponen tant dalam pencegahan infeksi di unit perawatan pasien. Salah satunya dengan rutinitas mandi sehari-hari di ruang perawatan kritis / intensif dan mandi sebelum operasi dengan sabun klorheksidin telah mengurangi infeksi aliran darah, infeksi area operasi dan didapatnya organisme patogen berbahaya dan resisten yang terdapat di rumah sakit. Namun karena ketidakkonsistenan hasil penelitian terkait hal tersebut, akibatnya mandi klorheksidin belum dilakukan secara universal sebagai prosedur permanen dan masih menyisakan perdebatan hingga saat ini. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menilai keefektifan mandi klorheksidin glukonat dalam mengurangi kejadian infeksi yang berkaitan dengan layanan kesehatan dan mikroorganisme penyebabnya.Metode: Metode yang digunakan adalah penelusuran literatur baik nasional maupun internasional yang dilakukan dengan menggunakan database Clinical keys, Elsevier, ProQuest, dan lain-lain.Hasil: Dari hasil pencarian diperoleh sebanyak 22 artikel terkait yang dijadikan studi literatur.Kesimpulan: Penulis menyimpulkan bahwa mandi dengan klorheksidin glukonat secara rutin dengan aplikasi “bundel” pencegahan infeksi dapat menurunkan prevalensi mikroorganisme berbahaya termasuk patogen resisten antimikroba, namun pertimbangan efektivitas biaya, integritas kulit, dan resistensi tetap harus diperhatikan.
Self efficacy dalam penggunaan kondom pada Lelaki Seks Lelaki (LSL) dengan HIV/AIDS: Literature review Nirwanto K Rahim; Sri Yona; Agung Waluyo
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 3 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i3.2707

Abstract

Self-efficacy for condom use related sexual risk behavior among men who have sex with men and HIV/AIDS: A literature reviewBackground: The prevalence of HIV / AIDS in the world is increasing. Men who have sex with men  (MSM) is the population most vulnerable to HIV / AIDS. Transmission occurred  because of the low use of condoms. Self-efficacy is the ability to belief of self against individual coping in specific situations that affect thinking, behavior, and emotional patterns that can affect attitudes in controlling motivation, behavior, social and the surrounding environmentPurpose: A literature study was explore self-efficacy in using condom and measurement of self-efficacy in condom useMethod: Literature studies used the online database Proquest, CINAHL, the literature was limited by criteria: in 2016-2019, full text and English language, with the keywords: "Self-Efficacy AND Condom Use", "HIV / AIDS AND MSM," HIV / AIDS AND Self EfficacyResults: Finding 9 articles that were relevant to the inclusion criteria. The results showed that there were  two categories in the assessment of self-efficacy in HIV / AIDS patients, namely Sexual Self-Efficacy, and Condom Self-EfficacyConclusion: The assessment used several different instruments, however, although the instruments used were different in the assessment of self-efficacy,  the results of the entire study showed  a link between self-efficacy in the use of condoms in MSM. The results of this literature review can be used as information material about the importance of self efficacy in improving the consistency of condom use to prevent HIV / AIDS Keywords: HIV/AIDS; Self-Efficacy, Condom Use; Sexual risk; BehaviorPendahuluan: Prevalensi HIV/AIDS di dunia semakin meningkat. Lelaki seks lelaki (LSL ) merupakan populasi yang paling mudah terkena HIV/AIDS. Penularan terjadi karena rendahnya penggunaan kondom. Self-efficacy merupakan kemampuan untuk percaya pada kemampuan diri terhadap koping individu dalam situasi yang spesifik yang mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan pola emosional yang dapat berdampak pada sikap dalam mengontrol motivasi, perilaku, dan sosial serta lingkungan sekitar.Tujuan: Untuk mengeksplorasi  self-efficacy  dalam penggunaan kondom dan pengukuran self-efficacy dalam penggunaan kondom.Metode: Studi literatur melalui database online Proquest, CINAHL,  literature dibatasi dengan kriteria : tahun 2016-2019, full text dan berbahasa Inggris, dengan kata kunci: “Self-Efficacy AND Condom Use”,“HIV/AIDS AND MSM,”HIV/AIDS AND Self EfficacyHasil: Didapatkan self-efficacy pada pasien HIV/AIDS dibedakan menjadi Sexual Self- Efficacy, dan Condom Self-Efficacy dan penilaian menggunakan beberapa instrument yakni  sexual self-efficacy scale, the AIDS-Prevention Self-efficacy Scal, condom use self-efficacy, condom use self-efficacy scale,Simpulan: terdapat  instrumen yang berbeda namun, meskipun instrumen yang digunakan berbeda dalam penilaian self-efficacy namun seluruh hasil penelitan menunjukkan adanya keterkaitan self-efficacy dalam penggunaan kondom pada LSL. Hasil telaah literature ini dapat dijadikan bahan informasi tentang pentingnya self efficacy dalam meningkatkan konsistensi penggunaan kondom untuk mencegah HIV/AIDS.
Terapi komplementer non invasif pada peningkatan status kesehatan sistem pernapasan penderita PPOK: Sebuah literature review Senja Paramita; I Made Kariasa; Sri Yona
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v15i2.4449

Abstract

Non-invasive complementary therapies in improving the health status of the respiratory system in patients with COPD: A literature review Background: Patients with COPD need an individual treatment plan that aims to cope with symptoms and requires a different and individualized treatment plan. The medication and surgery cause several complications, accompanied by negative side effects, the “one size fits all as a universal approach" is inappropriate in the treatment of COPD. Therefore, non-pharmacological therapy needed to complement and must be part of comprehensive COPD management as rehabilitation in patients with COPD.Purpose: A literature study was explore non-invasive complementary therapies in improving the health status of the respiratory system in patients with COPDMethod: Analysis based on articles from online databases Proquest, EBSCO, Cochrane, PubMed, and Google scholar. The criteria for the articles used are Randomized Controlled Trial (RCT), published in 2015-2020, in English, full text, accessible. The initial search found 875 articles, after going through the screening process, nine articles were found that were suitable and analyzed.Results: Five types of interventions were found in nine publications, namely physical exercise, breathing exercises, chest physiotherapy, hypnosis, and transcutaneous electrical nerve stimulation providing various benefits on status. Globally there are three million deaths every year. The prevalence of COPD is expected to increase over the next 40 years and by 2060 it is estimated that there will be more than 5.4 million deaths each year due to COPD.Keywords: Non-invasive; Complementary therapies; Health status; Respiratory system; COPDPendahuluan: Penderita PPOK membutuhkan rencana pengobatan individual yang bertujuan untuk menanggulangi gejala dan membutuhkan rencana penanganan yang berbeda dan bersifat individual. Mengingat penggunaan obat-obatan dan pembedahan menimbulkan banyak komplikasi dan disertai efek samping negative maka pendekatan “one size fits all” tidak cukup dalam pengobatan PPOK. Oleh karena itu, diperlukan terapi nonfarmakologis untuk melengkapi dan harus menjadi bagian dari manajemen PPOK yang komprehensif sebagai rehabilitasi pada penderita PPOK.Tujuan: Sebuah studi literatur untuk mengeksplorasi terapi komplementer non-invasif dalam meningkatkan status kesehatan sistem pernapasan pada pasien PPOKMetode: Analisa berdasarkan artikel yang berasal dari database online Proquest, EBSCO, Cochrane, PubMed, dan Google scholar. Kriteria artikel yang digunakan ialah Randomized Controlled Trial (RCT), diterbitkan pada tahun 2015-2020, berbahasa Inggris, teks lengkap, dapat diakses. Perncarian awal didapatkan 875 artikel setelah melalui proses penyaringan didapatkan sembilan artikel yang sesuai dan diananlisis.Hasil: Didapatkan lima macam intervensi dalam sembilan publikasi yang ditemukan yaitu physical exercise, latihan pernapasan, fisioterapi dada,  hipnosis, dan trancutaneus electrical nerve stimulation memberikan manfaat yang beragam pada status. Secara global terdapat tiga juta kematian setiap tahunnya. Prevalensi PPOK diperkirakan akan meningkat selama 40 tahun ke depan dan pada tahun 2060 diperkirakan akan ada lebih dari 5,4 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh PPOK.
Penerapan Active Cycle of Breathing Technique untuk Mengatasi Masalah Bersihan Jalan Nafas pada Pasien Tuberkulosis Paru dengan Bronkiektasis: Studi Kasus Vika Endria; Sri Yona; Agung Waluyo
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 4 No 1 (2022): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v4i1.3435

Abstract

This study aims to identify the effectiveness of the Active Cycle Breathing technique (ACT) nursing intervention in overcoming the problem of an ineffective airway through a series of respiratory control, deep breathing and sputum expulsion techniques. The method used is a single case study. Respondents of this study were patients with active pulmonary tuberculosis with broad lesions with bronchiectasis. The results showed that after being given ACT intervention for seven days, there was an increase in oxygenation status, a decrease in sputum, and shortness of breath. In conclusion, ACT intervention is effective in reducing airway clearance problems. Keywords: TB Bronchiectasis, Cycle Breathing Technique, Breathing Exercises, Wide Lesion TB, Pulmonary TB
The Role of Social Support on Resilience in People Living With HIV/AIDS : A Systematic Literature Review Firman Firman; Sri Yona; Allenidekania Allenidekania
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 6, No 2 (2022): Journal Qanun Medika Vol 6 No 02
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jqm.v6i2.12922

Abstract

During the COVID-19 pandemic, it had a fairly heavy psychological impact, so resilience or resilience was needed, especially for people with HIV/AIDS (PLWHA). This study is to determine the role of social support on resilience in people with HIV/AIDS. Resilience is a person's ability to adapt, survive and thrive in difficult situations. This study used a systematic literature review, which was carried out by means of a systematic review of several articles discussing social support and resilience in people with HIV/AIDS. Article criteria include international publication in English and full text. Article searches were carried out in February 2022 through 4 databases, namely PubMed, Wiley, Proquest, and Springer. Search using keyword ("PLWHA" AND "Social Support" OR "Perceived Social Supports" AND "Resilience" OR "Resiliences"). Articles were analyzed using JBI and Prisma tables. Based on the search for articles in the database, 217 articles were found, then selected through systematic stages so that eight selected journals were obtained. This systematic literature review found that social support was an important factor in increasing resilience in PLWHA. The most influential source of support was support from the family, namely: 30.4%, with (P=0.001). The perceived social support can reduce the impact of stress experienced. With high social support, it can reduce the use of harmful substances and increase ART adherence and contribute to improving the patient's health condition. In conclusion, perceived social support can play an important role, especially in increasing resilience, so it impacts the physical and psychological well-being of people living with HIV/AIDS.
Perceived benefit, perceived barrier dan dukungan sosial terhadap perawatan diri pasien setelah operasi Coronary Artery Bypass Graft (CABG) Mulida Arifiati; Sri Yona; Tuti Herawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 4 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i4.7392

Abstract

Background: CABG surgery is one of the surgical treatments for CHD and improves the patient's quality of life. However, patients who have undergone CABG remain at risk for ischemic events. Cardiovascular secondary prevention plays an important role to maintain the long-term patency of the graft, slowing the atherosclerotic process. Behavior change is influenced by a person's belief to change and support around him. The beliefs that are considered to have an effect on the pattern of behavior change are perceived benefits and perceived barriers.Purpose: To determine the relationship between perceived benefit, perceived barrier, and social support to patient self-care after CABG surgery.Method: Cross-sectional design, with a sample size of 75 respondents, inclusion criteria: CABG surgery patients more than 6 months, Age more than 30 years.Results: From the analysis, there are four significant relationships with self-care, education p-value of 0.015, perceived benefit p-value of 0.001, perceived barrier with a p-value of 0.004, and social support p-value of 0.000. What is not significant is the age p-value of 0.631 and knowledge p-value of 0.418 Gender p-value of 0.357.Conclusion: There is a significant relationship between perceived benefit, perceived barrier, and social support for patient self-care after CABG surgery.Keywords: Perceived Benefit; Perceived Barriers; Social Support; Self Care; CABG.Pendahuluan: Operasi CABG merupakan salah satu penanganan bedah pada PJK dan meningkatkan kualitas pasien kehidupan baik. Namun pasien yang telah menjalani CABG tetap berisiko untuk kejadian iskemik. Pencegahan sekunder kardiovaskular memainkan peran penting untuk mempertahankan jangka panjang patensi cangkok, memperlambat proses aterosklerotik. Perubahan perilaku dipengaruhi oleh keyakinan seseorang untuk berubah dan dukungan disekitarnya. Keyakinan yang dianggap berpengaruh terhadap pola perubahan perilaku adalah perceived benefit dan perceived barrier.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perceived benefit, perceived barrier dan dukungan sosial terhadap perawatan diri pasien setelah operasi CABG.Metode: Desain cross-secrtional, dengan jumlah sampel 75 responden, kriteria inklusi: Pasien operasi CABG lebih dari 6 bulan, Usia lebih dari 30 tahun.Hasil: Dari analisis terdapat empat hubungan yang bermakna terhadap perawatan diri, didapatkan pendidikan nilai p 0,015, perceived benefit nilai p 0,001, perceived barrier dengan nilai p 0,004 , dan dukungan social nilai p 0,000. Yang tidak bermakna yaitu usia nilai p 0.631dan pengetahuan nilai p 0.418 Jenis kelamin nilai p 0,357.Simpulan: Terdapat hubungan yang bermakna anatara perceived benefit, perceibved barrier, dan dukungan social terhadap perawatan diri pasien setelah operasi CABG.
Dampak Resistance Exercise terhadap Sirkulasi Perifer, Glycaemic Control dan Neuropati pada Pasien Diabetes Mellitus I Putu Adi Suryawan; Debie Dahlia; Sri Yona; Dikha Ayu Kurnia
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 13, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf13301

Abstract

One of the four pillars of the management of Diabetes Mellitus (DM) is exercise. One form of exercise that can be done at home and can prevent complications in the blood vessels is Resistance Exercise. This article is a systematic review which aims to identify the effect of Resistance Exercise on increasing peripheral circulation, decreasing neuropathy symptoms and glycemic control in DM and pre-diabetic patients. The search sources used were Scopus, Embase, EBSCO, PubMed and ProQuest published from 2016 to 2021. Furthermore, 11 articles that met the criteria were obtained. The results of the study show that there are four main components of resistance exercise in controlling blood sugar, preventing neuropathy and increasing circulation, namely exercise consistency, exercise frequency and duration, exercise intensity, and repetition. Resistance exercise can be used as an alternative solution to foot circulation problems in DM patients, so that the risk of diabetic foot injuries can be prevented or reduced.Keywords: resistance exercise; diabetes mellitus; peripheral circulation  ABSTRAK Salah satu dari empat pilar penatalaksanaan Diabetes Mellitus (DM) adalah exercise. Salah satu bentuk exercise yang dapat dilakukan di rumah dan mampu mencegah komplikasi pada pembuluh darah adalah Resistance Exercise. Artikel ini berjenis systematic review yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh dari Resistance Exercise terhadap peningkatan sirkulasi perifer, penurunan gejala neuropati dan glycaemic control pada pasien DM maupun pra diabetes. Sumber pencarian yang digunakan adalah Scopus, Embase, EBSCO, PubMed dan ProQuest yang diterbitkan pada tahun 2016 sampai 2021. Selanjutnya diperoleh 11 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat empat komponen utama dari resistance exercise dalam mengontrol gula darah, mencegah neuropati dan meningkatkan sirkulasi yaitu konsistensi exercise, frekuensi dan durasi exercise, intensitas exercise, dan repetisi. Resistance Exercise dapat dijadikan alternatif solusi masalah sirkulasi kaki pada pasien DM, sehingga resiko terjadinya luka kaki diabetes dapat dicegah maupun dikurangi.Kata kunci: resistance exercise; diabetes mellitus; sirkulasi perifer
Correlation between Disclosure Status and Stress in Men who Have Sex with Men with HIV Edianto Edianto; Agung Waluyo; Sri Yona; Ina Martiana
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 23 No 3 (2020): November
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v23i3.1101

Abstract

Men who have Sex with Men Living with HIV (MSM-LWH) experience psychological and social problems including depression, anxiety, fear of infecting others, frustration, and social isolation. In addition there are also problems in relationships due to fear of social stigma such as problems in marriage, conflict in the family, lack of family support, economic difficulties, and social rejection by the family. This research aims to assess the relationship between HIV status disclosure with stress in Men who have Sex with Men (MSM) living with HIV in Medan, Indonesia. This a cross-sectional study with convenience sampling technique were used. 176 respondents were MSM, HIV positive, and live in Medan city area. Data was collected by means of HIV Status Disclosure Questionnaires, and Perceived Stress Scale (PSS). In this research find that few 70.9% respondents had disclosed their status and about half reported stress. The disclosure of HIV status was significantly associated with Stress (P= 0,025). This study conclusions were HIV status disclosure can give negative effect for MSM living with HIV and becomes barrier to medical treatment and grow toward internal stress. Abstrak Hubungan antara Status Disclosure dengan Stres pada Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki dengan HIV di Medan, Indonesia. Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) yang hidup dengan HIV mengalami masalah psikologis dan sosial termasuk depresi, kecemasan, ketakutan menulari orang lain, frustasi dan isolasi sosial. Selain itu juga mengalami masalah dalam hubungan sosial karena takut akan stigma, konflik dalam keluarga, kurangnya dukungan keluarga, kesulitan ekonomi dan penolakan oleh keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status disclosure HIV dengan stress pada LSL yang hidup dengan HIV di Medan, Indonesia. Metode yang digunakan adalah cross-sectional dengan menggunakan teknik convenience sampling. Sebanyak 176 responden LSL dengan HIV positif dan tinggal di wilayah kota Medan. Data dikumpulkan dengan menggunakan HIV Status Disclosure Questionare dan Perceived Stress Scale (PSS). Hasil penelitian menemukan bahwa sebanyak 70,9% responden memiliki status disclosure HIV rendah, sementara itu sebanyak 55,1% resonden mengalami stress yang tinggi. Status disclosure HIV secara bermakna dikaitkan dengan stress (p= 0,025; α= 0,05). Dapat disimpulkan bahwa status disclosure HIV dapat memberikan efek negatif pada LSL yang hidup dengan HIV dan menjadi penghalang untuk perawatan medis dan meningkatkan stress internal. Kata Kunci: HIV, status disclosure, lelaki yeng berhubungan seks dengan lelaki, stres
Co-Authors Addawiah, Rabiatul Adha, Alfi Kurnia Agung Waluyo Ahmidati, Afiif Ainur & Moch.Achwandi, Ika Alandia, Alandia Allenidekania Allenidekania Amelia Ganefianty Anastania, Yeane Anggri Noorana Zahra Arief Andriyanto Aries Sulaiman Arifiati, Mulida Arisdiani, Triiana Arisdiani, Triiana Armunanto, Anung Widi Astuti Yuni Nursasi Atnawanty, Tia Bambang Budi Siswanto Bambang Wispriyono Chaterina Janes Pratiwi Dahlia, Debie - Debbie Dahlia Dewi Gayatri Dewi Irawaty Dewiyanti Toding Dikha Ayu Kurnia Edianto Edianto Edianto Edianto Edis Mari Eko Edy Soesanto Effita Piscesiana Elly Nurachmah Elysabeth Sinulingga Elysabeth Sinulingga Endria, Vika Enggarwati, Pandan Enny Virda Yuniarti Etty Rekawati Eusabius Separera Niron Fatoni, Mukhamad Firman Firman Fransiska Kurniati Natul Gde Yasa Antarika Handayani, Wita Hasibuan, Riska Eka Fatma Herdiana, Dian Herdiana, Dian Herdiana Herliana , Rini Hesti Rahayu Himmatul Khaira Huda , Khoirul I Gd. Nym Ardi Supartha I Made Kariasa I Putu Adi Suryawan Ikhda Ulya, Ikhda Ina Martiana Isnaeni Nur Khayati Iswanto Iswanto jamilah, mimi Jelang, Destya Wenny Juita, Juita Khumaidi Khumaidi Komang Noviantari Krisna Yetti Kurnianingsih, Neniek Liya Arista Maria Syelvrida Tumina Maria, Riri Maria, Riri Masfuri - Meisa Ndari, Arni Budi Melawati, Wati Meta Agil Ciptaan Muhammad Adam, Muhammad Muhammad Fikri Indra, Muhammad Fikri Mulida Arifiati Mulida Arifiati Mustikasari Mustikasari Nana Rochana, Nana Natul, Fransiska Kurniati Nia Khusniyati Nirwanto K. Rahim Novarita, Maria Devi Nurdahlia Nurdahlia Parman, Dewy Haryanti Prasetyanto, Deny - Rahmat Kurniawan Ratna Aryani Ratna Aryani Ratna Sitorus Regina Situmorang Reptes, Puteri Hirika Riri Maria Rita Ismail Rizal, Imam Kurniawan S., Chiyar Edison Santa Manurung Sari, Mulat Senja Paramita Sidik Awaludin Sitti Shoimatul A Sofa, Ibnu Sri Endah Handayani Sri Wirayuni Ni Luh Putu Sukarmin SUKARMIN Syafa'atun Mirzanah Syafdewiyani Syafdewiyani Syafdewiyani, Syafdewiyani Tia Atnawanty Titi Sulastri Tony Suharsono, Tony Triani Banna Tris Eryando Tris Yonado Tumina, Maria Syelvrida Tuti Herawati Vika Endria Vika Endria Waluyi=o, Agung Wanto Juli Silalahi Wardin, Rany Novia Wirastiningtyas, Shendika Yati Afiyanti Yudi Elyas Yulia Yulia Yuliasih Yuliasih Yunisar Gultom