Claim Missing Document
Check
Articles

Kinerja Tim Bedah Kamar Operasi Rumah Sakit di Kabupaten Jember Asmuji, Asmuji; Widodo, Priyo; Sumarini, Ninik; Indahwati, Iin
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 5 No. 1 (2021): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v5i1.259

Abstract

AbstrakRuang bedah (kamar operas) menjadi suatu area yang memberikan pelayanan pembedahan dengan resiko kasus kecelakaan yang sangat tinggi. Penerapan 3 fase pembedahan (sign in, time out, dan sign out) menjadi kegiatan wajib yang harus dipatuhi tim bedah untuk mewujudkan program keselamatan pasien. Karena, keselamatan pasien dapat menjadi nilai kinerja tim bedah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kinerja tim bedah kamar operasi di rumah sakit di Kabupaten Jember. Desain yang digunakan penelitian ini adalah deskriptif observasional. Sampel penelitian ini adalah klien yang mendapatkan tindakan bedah (operasi) dengan jumlah 32 orang diambil secara quota sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah Surgical Safety Checklist (SSC) dari WHO. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif dengan tampilan data berupa tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan 32 (100%) klien yang akan menjalani operasi dilakukan sign in sesuai dengan item dalam SSC. Artinya kinerja tim bedah dalam tahapan sign in dalam katagori baik. Kinerja tim bedah pada fase time out dan sign out belum menunjukkan kinerja yang baik. Kinerja tim bedah yang tidak baik dalam kegiatan pembedahan sangat berisiko menimbulkan ancaman keselamatan klien selama menjalani pembedahan maupun setelahnya. Bagi pihak manajemen rumah sakit diharapkan melakukan monitoring dan evaluasi kinerja tim bedah secara berkala dan berkelanjutan.Kata kunci: kamar operasi, kinerja, tim bedah AbstractThe surgery room is an area that provides surgical services with a very high risk of accident cases. The implementation of 3 phases of surgery (sign in, time out, and sign out) is a mandatory activity that the surgical team must comply with to realize a patient safety program. Because patient safety shows the work value of the surgical team's performance in carrying out their duties and responsibilities. This study aims to describe the performance of the operating room surgery team at a hospital in Jember Regency. The design used in this research is descriptive observational. The sample of this study was 32 clients who received surgery/surgery which was taken by quota sampling. The collecting data used Surgical Safety Checklist (SSC) from WHO. The data analysis used description with the data display in the form of a frequency distribution table. The results showed that 32 (100%) clients who will have surgery were signed in based on the items in the SSC. It showed that the performance of the surgical team in the sign-in stage is in a good category. The performance of the surgical team in the time out and sign out phases has not shown good performance. The substandard performance of the surgical team is very risky to pose a threat to the client’s safety during surgery and after surgery. The hospital management is expected to monitor and evaluate the performance of the surgical team regularly and continuously.Keywords: surgery room, performance, surgical team
Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Kanker di Instalasi Kemoterapi RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso Islamiyah, Yuniar Ayu; Asmuji, Asmuji; Haryanti, Dwi Yunita
National Multidisciplinary Sciences Vol. 4 No. 4 (2025): SEMNAS-HEALTH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi terapeutik adalah salah satu komponen penting dalam pelayanan keperawatan berkualitas. Komunikasi terapeutik yang buruk sering kali menyebabkan pasien merasa tidak dihargai, tidak mendapatkan informasi yang cukup, atau tidak memperoleh perhatian yang layak sehingga mempengaruhi motivasi pasien dalam pengobatan selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien kanker di Instalasi Kemoterapi RSUD dr. H Koesnadi Bondowoso. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kolerasional cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien kanker yang menjalani kemoterapi di instalasi kemoterapi RSUD dr. Koesnadi Bondowoso sebanyak 43 orang dan sampel pada penelitian ini ditetapkan 39 menggunakan rumus slovin dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan untuk menilai komunikasi terapeutik perawat adalah Global International Therapeutic Communication Scale (GITCS), sedangkan tingkat kepuasan pasien diukur dengan membandingkan kenyataan dengan harapan pasien. Analisis data menggunakan uji statistik spearman rho menunjukkan hasil pahwa p value = 0.002 < 0.05. hasil ini menunjukkan bahwa H1 diterima dengan koefisien korelasi (r) = 0, 489 yang dapat diartikan hubungan cukup. Ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kepuasan pasien kanker di Instalasi Kemoterapi RSUD dr. H Koesnadi Bondowoso.
Mother Class sebagai Media Pembelajaran Pencegahan Stunting pada Kelompok Pengajian di Dusun Kepel Desa Lojejer Wuluhan Jember Asmuji Asmuji; Luh Titi Handayani
ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/abdiunisap.v2i1.219

Abstract

Stunting merupakan fenomena yang sampai detik ini menjadi perbincangan yang perlu segera diselesaikan. Salah satu penyebab timbulnya stunting adalah rendahnya pengetahuan Mitra. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Mitra dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada mother class tentang stunting. Metode: pelaksanaan kegiatan terdiri dari tiga tahap, yaitu persiapan (perijinan, koordinasi, dan menyiapkan bahan dan alat), pelaksanaan (pendidikan kesehatan), dan evaluasi (struktur, proses, dan output). Pengabdian masyarakat dilakukan pada kelompok pengajian ibu-ibu yang beranggotakan sejumlah 20 orang. Kegiatan yang dilakukan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan Mitra dengan hasil pretest rata-rata nilainya 45, sedangkan post kegiatan meningkat menjadi 78.  Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada Mitra mother class memberikan luaran dalam meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang stunting.
Penyuluhan Kesehatan pada Perempuan Masa Menopause di Mother School Sumbersari (MOSS) Asmuji Asmuji; Wahyudi Widada
ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/abdiunisap.v3i1.380

Abstract

Menopause merupakan masa yang pasti dihadapi dalam perjalanan hidup seorang perempuan dan merupakan proses alamiah seiring bertambahnya usia. Meskipun hal tersebut menjadi tahapan yang umum dialami oleh setiap perempuan, banyak yang tetap merasakan kecemasan saat menghadapinya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mitra tentang menopause dan permasalahan kesehatannya. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan (perizinan, koordinasi, serta penyiapan bahan dan alat), tahap pelaksanaan (pemberian pendidikan kesehatan), dan tahap evaluasi (meliputi aspek struktur, proses, dan output). Mitra kegiatan adalah kelompok pengajian ibu-ibu yang tergabung dalam Mother School Sumbersari (MOSS), yang beranggotakan sekitar 35 orang perempuan, dengan 29 orang hadir dalam kegiatan. Sebagian besar atau hampir seluruh peserta (95%) merupakan ibu-ibu yang telah mengalami menopause. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai pengetahuan sebelum kegiatan hanya mencapai rata-rata 54,6, namun meningkat menjadi 79,3 setelah kegiatan pendidikan kesehatan.Pendidikan kesehatan yang dilakukan di MOSS menghasilkan meningkatnya pengetahuan mitra tentang menopause dan masalah kesehatannya, baik dari segi pengertian, tanda, penyebab, cara pencegahan, maupun penatalaksanaannya.
Peningkatan Kesehatan Anak Panti Muhammadiyah melalui Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Asmuji Asmuji; Wahyudi Widada
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): SWARNA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Maret 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v5i3.1896

Abstract

Panti Asuhan sebagai lembaga pengasuhan alternatif memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, termasuk kebutuhan kesehatan, gizi, dan sanitasi. Sebagai upaya untuk menjaga dan memelihara kesehatan secara mandiri, anak panti memerlukan pengetahuan yang baik. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mitra tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: 1. Persiapan (perijinan, koordinasi, dan menyiapkan bahan dan alat), pelaksanaan (pendidikan kesehatan), dan evaluasi (struktur, proses, dan output). Hasil: Jumlah anak panti yang ada di Mitra sebanyak 13 orang dengan usia antara 10 – 20 tahun, pendidikan SD s.d. perguruan tinggi, dan 2 orang pengasuh panti asuhan. Nilai pra pendidikan kesehatan tentang PHBS anak panti rata-rata 45, dan setelah pendidikan kesehatan meningkat menjadi 85. Kesimpulan: Edukasi mempunyai peranan penting dalam meningkatkan pengetahuan anak panti tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
The Relationship Between the Intensity of Smartphone Use and Sleep Quality in Class VIII Teenagers at SMPN 4 Genteng Banyuwangi Fatimatuz Zahro; Susi Wahyuning Asih; Asmuji
Cleanliness: Journal of Health Sciences and Medical Research Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/clean.v1i1.3

Abstract

Using a smartphone before bed can make a person's sleep time late and not according to the time. When someone plays with a smartphone at night, the brain will think that this is not sleep time because of the blue light emitted by the smartphone. If the brain thinks that it is not hours of sleep, the duration of smartphone users' sleep will decrease and this will affect the quality of their sleep. Poor sleep quality in teenagers will affect all activities and in daily life. This research aims to determine the relationship between the intensity of smartphone use and sleep quality in teenagers. This research uses a correlational research design with a quantitative research model using a cross-sectional approach. The population in this study was class students with a sample of 112 people taken using simple random sampling techniques. The instrument used in this study used a likert scale questionnaire. Statistical test between smartphone usage intensity and sleep quality measured using Spearman Rank (rho) with α = 0.05.  This research shows there is a relationship between the intensity of smartphone use and sleep quality. The direction of a positive relationship with strength is sufficient, meaning that the greater the intensity of using a smartphone, the less good it will have an impact on poor sleep quality. Using a smartphone at night will cause the brain to receive external stimuli in the form of sound, light and vibrations from the smartphone, this causes a person to wake up at night and if it lasts a long time it will disrupt the quality of students' sleep. Discussion: Therefore, it is necessary to monitor smartphone use in students so that sleep quality is better.
Hubungan Peer support dengan Tingkat Stres Kerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Tingat III Baladhika Husada Jember Hendrik Yudi Widianto; Asmuji Asmuji; Dwi Yunita Haryanti
National Multidisciplinary Sciences Vol. 5 No. 1 (2026): Proceeding SEHATI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawat pelaksana di ruang rawat inap memiliki tuntutan kerja tinggi yang dapat memicu stres kerja. Salah satu faktor yang diduga berperan menurunkan stres kerja adalah peer support melalui dukungan emosional, informasi, dan kerja sama tim. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan peer support dengan tingkat stres kerja perawat pelaksana di ruang rawat inap Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada Jember. Penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional pada 52 responden menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu Perceived Workplace Support Scale (PWSS) dan Expanded Nursing Stress Scale (ENSS). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi sebesar p ≤ 0,05. Sebagian besar responden memiliki peer support kategori tinggi (59,6%) dan tingkat stres kerja kategori rendah (84,6%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan p-value 0,001 dengan koefisien korelasi -0,518, yang berarti terdapat hubungan signifikan dengan arah negatif dan kekuatan sedang antara peer support dan stres kerja perawat pelaksana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Semakin tinggi peer support, semakin rendah tingkat stres kerja perawat. Dukungan sejawat membantu perawat menghadapi tekanan kerja, meningkatkan kerja sama tim, dan memperkuat koping, sehingga rumah sakit perlu membangun lingkungan kerja yang suportif melalui komunikasi dan kolaborasi antar perawat.
Hubungan Pernikahan Dini dengan Komplikasi Kehamilan pada Perempuan Generasi Z Nanda Ika Putri; Diyan Indriyani; Asmuji Asmuji
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9579

Abstract

Latar Belakang: Pernikahan dini masih menjadi permasalahan kesehatan reproduksi yang signifikan, khususnya pada perempuan generasi Z usia produktif. Pernikahan yang terjadi pada usia kurang dari 19 tahun berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan akibat ketidaksiapan fisik, psikologis, dan sosial. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi preeklampsia, anemia, perdarahan, serta abortus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kejadian pernikahan dini dengan komplikasi kehamilan pada perempuan generasi Z usia produktif di Puskesmas Wringin. Metode: desain penelitian yang digunakan yaitu korelasional dengan pendekatan Cross Sectional Retrospektif . Populasi penelitian ini berjumlah 651, dengan sampel sebanyak 248 dipilih melalui Teknik Cluster Sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian pernikahan dini dengan komplikasi kehamilan dengan nilai p-value <0,001 (p ≤ 0,05) dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 15,167 yang menunjukkan bahwa responden yang menikah pada usia dini memiliki risiko sekitar 15 kali lebih besar mengalami komplikasi kehamilan dibandingkan dengan responden yang menikah pada usia matang. Diskusi: hasil korelasi yang ditemukan mengidentifikasi semakin tinggi kejadian pernikahan dini, maka semakin tinggi pula risiko terjadinya komplikasi kehamilan pada perempuan generasi Z usia produktif, sehingga diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan reproduksi, konseling pranikah, serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk menunda usia pernikahan.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Adaptasi Perawatan Bayi Baru Lahir pada Ibu Primipara di Puskesmas Kalibaru Kulon Banyuwangi Erika Novarinda; Diyan Indriyani; Asmuji Asmuji
Health & Medical Sciences Vol. 1 No. 1 (2023): November
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v1i1.26

Abstract

Dukungan keluarga menjadi hal yang sangat penting selama proses adaptasi berlangsung. Adaptasi ini membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang benar dalam melakukan perawatan bayi baru lahir sehingga proses adaptasi kebiasaan baru dapat tercapai. Perawatan bayi baru lahir merupakan asuhan yang diberikan untuk menjaga kesehatan bayi meliputi memandikan bayi dengan tepat dan perawatan tali pusat yang dapat mencegah timbulnya infeksi dan mempercepat pelepasan tali pusat. Tujuan: Penelitian untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan adaptasi perawatan bayi baru lahir pada ibu primipara di Puskesmas Kalibaru Kulon Banyuwangi. Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan teknik pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitan ini yaitu ibu primipara di Puskesmas Kalibaru Kulon Banyuwangi yang berjumlah 72 ibu primipara. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan sejumlah sampel 61 ibu primipara. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan adaptasi perawatan bayi baru lahir. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan dukungan keluarga dengan adaptasi perawatan bayi baru lahir (p value = 0.002) dengan (r =0.397) artinya kekuatan hubungan moderat. Semakin baik dukungan keluarga maka semakin adaptif ibu primipara dalam melakukan perawatan bayi baru lahir. Saran: Penting nya dukungan keluarga pada ibu primipara dalam beradaptasi melakukan perawatan bayi baru lahir, semakin baik dukungan keluarga maka semakin adaptif ibu primipara dalam melakukan perawatan bayi baru lahir.
Pengaruh Peer Educator Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Siswa SDN Patrang 02 Jember Dewi Yulita Sari; Sri Wahyuni Adriani; Asmuji Asmuji
Health & Medical Sciences Vol. 1 No. 1 (2023): November
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/phms.v1i1.32

Abstract

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan tindakan yang dapat mencegah berbagai penyakit, namun tindakan ini masih jarang diterapkan oleh anak usia sekolah sebagai kelompok usia yang beresiko terhadap masalah kesehatan. Salah satu pendekatan pendidikan kesehatan yang efektif pada anak usia sekolah terkait penerapan perilaku hidup bersih dan sehat yaitu dengan metode Peer Educator. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan perilaku hidup bersih dan sehat sebelum dan sesudah intervensi peer educator pada siswa sekolah dasar. Metode: Desain penelitian ini yaitu quasy eksperimental yang terdiri dari 36 responden kelompok eksperimen dan 36 responden kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dan menggunakan uji statistik uji Wilcoxon dan Mann Whitney U. Hasil: Perilaku hidup bersih dan sehat sesudah intervensi peer educator pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang signifikan dengan mayoritas berada pada kategori PHBS baik (88,9%), sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan dengan mayoritas berada pada kategori PHBS cukup (63,9%). Kesimpulan: Perilaku hidup bersih dan sehat siswa SDN Patrang 02 Jember terdapat perbedaan sesudah intervensi peer educator antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang menunjukkan nilai (p 0,0005<0,05). Diskusi: Pendidikan kesehatan oleh peer educator direkomendasikan untuk sekolah karena metode ini dapat meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa sekolah dasar.