Claim Missing Document
Check
Articles

PENINGKATAN MUTU BIJIH BAUKSIT TAYAN MENGGUNAKAN PEMISAH MAGNETIK Stefanus Suryo Cahyono; Ildrem Syafri; Johanes Hutabarat
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 15, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Januari 2019
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.114 KB) | DOI: 10.30556/jtmb.Vol15.No1.2019.948

Abstract

Sumberdaya bauksit yang ada di Tayan, Kalimantan Barat belum dimanfaatkan secara optimal dan perlu dilakukan peningkatan nilai tambah bauksit melalui proses pencucian dan pengolahan, sehingga perlu dilakukan pengkajian peningkatan mutu bijih bauksit. Percontoh bijih bauksit yang diambil dari daerah Tayan memiliki kadar SiO2 total 11,55%, Al2O3 43,64%, Fe2O3 9,63%. Proses peningkatan mutu (upgrading) bijih bauksit bertujuan untuk menaikkan kadar bauksit agar memenuhi persyaratan alumina di atas 51% Al2O3, maksimum 3% SiO2 dan maksimum 7 % Fe2O3 untuk bahan baku alumina. Tahapan proses scrubbing meliputi pemercontohan, scrubbing, pengayakan, pengeringan, penimbangan, penggerusan, pemisah magnetik dan analisis kimia. Parameter mutu yang digunakan untuk menilai keberhasilan adalah persen kumulatif ukuran butiran +2 mm (+10 mesh), perolehan Al2O3, kadar SiO2 total, Al2O3, dan Fe2O3. Uji coba proses pencucian-magnetik separator ini telah memberikan hasil yang baik ditinjau dari peningkatan kadar Al2O3 dan perolehan Al2O3. Kadar Al2O3hasil uji coba berkisar antara 57,29-59,78% dengan perolehan berkisar 69,67-85,58%. Bauksit tercuci-magnetik separator yang dihasilkan telah meningkatkan mutu bijih bauksit sebagai bahan baku pembuatan alumina melalui proses Bayer. 
Kontak Formasi Nanggulan dan Andesit Tua di G. Mujil, Kulon Progo-Yogyakarta Winarti Winarti; Emy Sukiyah; Ildrem Syafri; Andi Agus Nur
KURVATEK Vol 6 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v6i1.2086

Abstract

Penyebaran Formasi Nanggulan di sisi timur Pegunungan Kulon Progo sangat terbatas. Di sekitar G. Mujil, Formasi Nanggulan dijumpai berada di bawah Formasi Andesit Tua. G. Mujil membentuk morfologi menonjol yang dinamakan sebagai tumor Nanggulan. Formasi Nanggulan dapat tersingkap di permukaan disebabkan oleh 2 (dua) faktor yaitu pertama breksi yang bersifat kaku dan berat menekan batuan sedimen yang plastis, serta kedua adanya sesar naik. Hipotesis dalam penelitian ini adalah kontak antara Formasi Nanggulan dan Andesit Tua dapat sebagai kontak stratigrafi atau sesar. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi pola kontak antara Formasi Nanggulan dengan Andesit Tua, khususnya di G. Mujil dengan pendekatan data permukaan dan bawah permukaan. Metode yang dipergunakan adalah studi geologi dan pengukuran gayaberat. Pengukuran gayaberat menggunakan sistem looping, dengan jumlah titik sebanyak 19. Alat yang dipergunakan terdiri dari Gravitimeter LaCoste & Romberg G-118 MVR serta Global Positioning System (GPS) Trimble Navigations 4600 LS. Data lapangan menunjukkan jika kontak antara Formasi Nanggulan dengan Andesit Tua berupa kontak stratigrafi secara vertikal, dengan batas kontak formasiergelombang. Nilai densitas Formasi Nanggulan sebesar 2,5 gr/cm3, sedangkan Formasi Andesit Tua sebesar 2,7 gr/cm3. Anomali yang muncul di G. Mujil disebabkan karena berbedaan litologi, sehingga kontak antara Formasi Nanggulan dan Andesit Tua merupakan kontak stratigrafi. Kata kunci: Kontak formasi, Gayaberat, G. Mujil, Tumor
SEBARAN PASIR LAUT SEBAGAI BAHAN GALIAN DI LEPAS PANTAI SELAT RIAU Deny Setiady; Udaya Kamiludin; Ildrem Syafri
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 16, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2350.487 KB) | DOI: 10.32693/jgk.16.2.2018.545

Abstract

Daerah penelitian terletak di perairan antara Pulau Batam dan Pulau Bintan (Selat Riau), termasuk ke dalam wilayah Kotamadya Batam dan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Metode penelitian yang dilakukan adalah pengambilan posisi (navigasi), pengukuran kedalaman dasar laut, pengamatan dan pengambilan contoh sedimen pantai, pengambilan contoh sedimen dasar laut, serta analisis laboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sebaran pasir pasir laut, serta ketebalannya berdasarkan karakteristik ukuran butirannya, agar potensi bahan galian tersebut dapat diketahui. Berdasarkan analisis ukuran butir sedimen di pantai Pulau Batam dan Pulau Bintan diketahui berukuran pasir, kerikil pasiran, pasir kerikilan dan lanau pasiran, sedangkan sebaran sedimen dasar laut terdiri dari: kerikil pasiran, pasir kerikilan, pasir, pasir lanauan dan lanau pasiran. Kedalaman sedimen pasir di pantai Pulau Batam antara 1 meter sampai 2,6 meter, sedangkan ketebalan sedimen pasir di Pulau Bintan antara 0,6 meter sampai 2 meter. Kata Kunci: sedimen, ukuran butir, pasir, bahan galian, Selat RiauThe study area is located in offshore area between Batam and Bintan Islands (Riau Strait), including of Batam and Bintan regency, Kepulauan Riau Province. The research methods carried out were position taking (navigation), depth of seabed measurement (bathymetry), observation and coastal sediments sampling, seabed sediments sampling, and laboratory analysis. The objectives of the study is to know the sand beach and sea sand distribution and its thickness based on characteristics of grain size, as well as to know those construction materials. Based on sediment grain size analysis on the Batam and Bintan islands, sand beach consists of: sand, sandy gravel, gravelly sand and sandy silt, while seafloor surficial sediments distribution consist of sandy gravel, gravelly sand, sand, silty sand and sandy silt. The depth of sand sediment on Batam beach is between 1 to 2.6 meters, while the depth of sand sediment in Bintan Island coastal is between 0.6 meters to 2 meters. Keywords: sediment, grain size, sands, substrate material, Riau Strait
KARAKTERISTIK PENURUNAN DASAR LAUT PERAIRAN TELUK JAKARTA Yudi Darlan; Ildrem Syafri; Vijaya Isnaniawardhani; Adjat Sudradjat
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7953.612 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.645

Abstract

Penurunan permukaan tanah wilayah pesisir Teluk Jakarta diyakini sebagai dampak dari pembangungan. Dari tahun 1974 sampai dengan 2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di sejumlah daerah DKI Jakarta antara -0.25 m dan -4.1 m. Kawasan perairan Teluk Jakarta sebagian besar masih dalam kondisi alamiah, belum mengalami beban pengembangan yang dapat menimbulkan penurunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung penurunan dasar laut Teluk Jakarta melalui pendekatan tektonik, lingkungan, dan kosolidasi  sedimennya sebagai penyebab penuruan. Metode yang digunakan adalah pengembangan data sedimen inti bor dan rekaman sesimik pantul dangkal meliputi analisis besar butir, mikrofauna, pentarihan umur radiokarbon C14 dan analisis srtatigrafi seismik. Hasilnya penurunan lapisan sedimen perairan Teluk Jakarta telah terjadi sejak masa ribuan tahun yang lalu (Late Glacial Maximum, LGM). Penurunan tersebut terjadi akibat adanya gerakan vertikal lapisan sedimen (tektonik) dan konsolidasi sedimen. Penurunan lapisan sedimen di wilayah barat antara 0.1m dan 0.3m pertahun, dan 0.4m dan 0.5m pertahun di wilayah timur Teluk Jakarta. Kecepatan pengendapan sedimennya berkisar antara 0.57cm dan 1,84cm pertahun lebih kecil dari penurunan. Jika terjadi gangguan pada lapisan sedimen pasir maka penuruan dasar laut perairan barat Teluk Jakarta cenderung akan meningkat. Pengembangan perairan Teluk Jakarta untuk pembangunan infrastruktur sebaiknya mengikutsertakan data dan informasi geologi kelautan untuk memperkecil resiko dampak penurunan.Kata kunci: karakteristik, penurunan, dasar laut, perairan, Teluk Jakarta Land subsidence of the Jakarta Bay coastal area has been supposed to be as the impact of coastal development. From 1974 to 2010 land subsidence occurred in a number of DKI Jakarta areas between -0.25 m and -4.1 m. The Jakarta Bay waters is in most natural condition which has no records of subsidence as an impact of the development. This research aims to estimate seabed subsidence rate of the Jakarta Bay waters through approaches such as tectonics, sedimentary environments, and consolidation of sediment as causes of the subsidence. The method used in this research is improvement data of sediment cores and reflection seismic records through particle size analyses of sediment, microfossil analyses, radiometric dating C14, and seismic stratigraphy analyses. Results, the accidents of seabed subsidence of the Jakarta Bay waters has been occurred since last thousands years (Late Glacial Maximum, LGM). The subsidence occurred due to vertical movement of sediment layers and consolidation. The subsidence of sediment layer for west area between 0.1m and 0.3 per a year and between 0.4m and 0.5m per year for eats area of the Jakarta Bay waters. Depositional rates of its sediment between 0.57cm and 1.84cm per a year that are less than subsidence. If there is disruption in the sand sedimentary layer, seabed subsidence for western area of the Jakarta Bay will progressively increase. The development of the Jakarta Bay waters for coastal infrastructures marine geological data and information should be included in order to minimize risks of subsidence impact. Keywords: Characteristic, subsidence, seabed, waters, the Jakarta Bay.
BIOFASIES DAN EKOLOGI PERAIRAN JAWA TENGAH BAGIAN UTARA BERDASARKAN KUMPULAN FORAMINIFERA BENTIK KECIL Lia Jurnaliah; Ildrem Syafri; Adjat Sudradjat; Roebyanto Kapid
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.491 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.614

Abstract

Daerah penelitian merupakan bagian dari Laut Jawa terletak di Perairan Jawa Tengah bagian Utara. Laut Jawa dibatasi oleh tiga pulau besar sehingga kondisi Laut Jawa menjadi tertekan karena memperoleh kontribusi air dan sedimen dari ketiga pulau tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan biofasies dan kondisi ekologi dari daerah penelitian berdasarkan kumpulan foraminifera bentik kecil. Foraminifera bentik kecil adalah hewan laut uniseluler bercangkang yang hidup di atas atau di dalam sedimen dasar laut. Kehidupannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga foraminifera dapat digunakan sebagai indikator lingkungan. Analisis kuantitatif dilakukan pada 32 sampel sedimen dengan cara mengumpulkan data foraminifera bentik kecil berukuran 0,125 mm pada setiap satu gram sampel sedimen kering. Berdasarkan analisis kluster, daerah penelitian terbagi menjadi 4 biofasies yaitu Biofasies I (Zona Litoral-Zona Paparan dalam), Biofasies IIa (Zona Paparan dalam), Biofasies IIb (Zona Litoral-Zona Paparan dalam) dan Biofasies III (Zona Paparan dalam). Selanjutnya, nilai indeks diversitas dari keempat biofasies tersebut berkisar antara 0,7 – 1,1. Keempat biofasies dan nilai indeks diversitas menunjukkan daerah penelitian merupakan lingkungan laut dangkal dengan tekanan ekologis sedang sampai tinggi.Kata Kunci: foraminifera bentik kecil, biofasies, indeks diversitas, laut dangkal, ekologi, Perairan Jawa Tengah bagian Utara. The research area is part of the Java Sea located in the northern part of Central Java. Java Sea is surrounded by three large islands. Therefore, its condition becomes depressed because of the contribution of water and the sediment from the three islands. The purpose of the study is to determine the biofacies and ecological conditions of the research area based on small benthic foraminifera assemblages. The small benthic foraminifera are unicellular sea shell animals that live on or within the sediment of the seabed. Its life is severely influenced by the environment so that the foraminifera can be used as environmental indicators. Quantitative analysis was carried out on 32 sedimentary samples by collecting of 0.125 mm benthic foraminifera on each one gram of dried samples. Based on the cluster analysis, the research area is divided into 4 biofacies i.e. Biofacies I (Littoral Zone-Inner Shelf Zone), Biofasies IIa (Inner Shelf Zone), Biofacies IIb (Littoral Zone-Inner Shelf Zone) and Biofacies III (Inner Shelf Zone). Furthermore, the range diversity index value of all biofacies is 0. 7 – 1.1. It can be concluded that the all biofacies and diversity index value shows the research area is shallow sea with medium stress to highly stress ecology.Key words: small benthic foraminifera, biofacies, diversity index, shallow sea, ecology, northern Central Jawa waters
A SUCCESS CASE OF WIDURI AREA REJUVENATION, ASRI BASIN, OFFSHORE SE SUMATRA BLOCK, INDONESIA Dwandari Ralanarko; Ildrem Syafri; Abdurrokhim Almabrury; Andi Agus Nur
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 36, No 2 (2021)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.36.2.2021.704

Abstract

INTA/B Field is one of the most producing mature fields in Widuri Area, Asri Basin, Offshore SE Sumatera, Indonesia, therefore it is subjected to rejuvenation to enhance hydrocarbon production. INTA/B Field is distinguished from other fields from its featured anticlinal structures that have the northeast-southwest trending. This structure is heavily faulted mainly in the up-thrown south side of a major normal fault. Two structural configurations with various oil-water contact have successfully been identified within the field. The most of oil reserves are preserved in the western lobe in which Intan-1 sands. One of the most important reservoirs in this field is Talangakar (TAF) sand deposited as a meandering river system that streamed from the northwest to the southeast within the basin. Two main reservoirs, Gita-34A and Gita-34B are correlated throughout the field and interpreted as Miocene fluvio-channel sands. These two channels are thickened moderately from southwest to northeast which has descriptions as follows: fine- to-coarse grains, unconsolidated to friable, and low cementing materials.INTA/B Field has been produced for 25 years and currently undergoing a watered-out phase. Therefore, an integrated study is subjected to overcome this issue for mature field rejuvenation. The integrated study ranged from geology (e.g., depositional environment and facies analysis), geophysics (e.g., revisiting and reprocessing of seismic attributes), petrophysical calculation, and reservoir engineering (e.g., water conformance plot and volumetric calculation).This integrated study has successfully rejuvenated a mature field resulting and added a significant number in oil production with an average of 300 BPOD/well. The extended project is estimated to have a similar result to the forward pilot.
DISTRIBUTION OF SUBSURFACE QUATERNARY SEDIMENT IN SOUTH BINTAN ISLAND WATERS AS A POTENTIAL HEAVY MINERAL PLACER OR RARE EARTH ELEMENT DEPOSIT BASED ON SEISMIC INTERPRETATION Muhammad Zulfikar; Nazar Nurdin; Noor Cahyo Dwi Aryanto; Ildrem Syafri; Budi Muljana; Andi Agus Nur
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 36, No 1 (2021)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.36.1.2021.705

Abstract

Bintan Island is one of the areas traversed by the Southeast Asian granitoid belt which is known to have the potential for heavy mineral placer deposits. Due to the dwindling presence of heavy mineral placer deposits in land areas, it is necessary to look for the potential presence of heavy mineral placer deposits in water areas. Searching for placer heavy mineral deposits accomodation in these waters requires subsurface mapping.The method used in this subsurface mapping is a single channel seismic method with a total of 179 lines in the direction of northeast – southwest and west – east. The results of this seismic recording are then interpreted the boundaries of the seismic facies unit and distributed using the kriging method. Furthermore, the thickness calculates by using the assumption velocity 1600 m/s.Based on the facies unit boundaries that have been interpreted, the quaternary sediments that formed in the study area are divided into 2 types of units, namely: Unit 2 which is estimated to be fluvial – transitional sediment, and Unit 1 which is estimated to be transitional sediment – shallow sea. There is also a difference in thickness patterns in these two units, where unit 2 shows a pattern of sediment thickening that resembles a paleochannel trending northeast – southwest, while unit 1 is relatively uniform.From the results of this study, it can be said that the area that has potential for heavy mineral placer  deposits is in the west - center of the southern waters of Bintan Island. Where the potential for heavy mineral placer deposits should be in the paleochannel deposits that are part of Unit 2.
Study of Granitoid Distribution at Toboali Waters, Bangka Belitung Province: Seismic data interpretation approach Muhammad Zulfikar; Noor Cahyo Dwi Aryanto; Andi Agus Nur; Ildrem Syafri
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 35, No 2 (2020)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.35.2.2020.681

Abstract

Bangka Island is one of the islands in Indonesia which is traversed by Southeast Asia granitoid belt. This belt stretches from Burma (Myanmar) to Bangka Belitung. This granitoid has potential as a source rock of mineral that carrying tin and rare earth element. At present, mapping of granitoid rocks to the waters area is rarely published, so acoustic basement mapping is necessary to do in order to determine the distribution of granitoids in Toboali waters. The research method used is a single channel seismic with an energy source of 300 joules. The sound source uses a single plate boomer, so it has a high enough resolution but the penetration is not deep enough. Acoustic basement in Toboali waters varies in depth from 15 - 75 ms or getting deeper south. When viewed from the continuity of the acoustic basement, it is estimated that the granitoid is 7 km from the nearest coastline.Key words: single channel seismic, seismic interprtation, granitoid distribution, Toboali Waters, Bangka Belitung ProvincePulau Bangka merupakan salah satu pulau di Indonesia yang dilalui oleh jalur granitoid Asia Tenggara. Jalur ini membentang dari Burma (Myanmar) hingga Bangka Belitung. Granitoid ini memiliki potensi sebagai batuan sumber pembawa mineral timah dan unsur tanah jarang. Pada saat ini pemetaan batuan granitoid pada daerah perairan jarang dipublikasikan, sehingga pemetaan batuan dasar akustik perlu dilakukan dalam rangka mengetahui sebaran granitoid di Perairan Toboali. Metode penelitian yang digunakan yaitu seismik single channel dengan sumber energi yang dikeluarkan sebesar 300 joule. Sumber suaranya menggunakan boomer single plate, sehingga memiliki resolusi yang cukup tinggi akan tetapi penetrasinya tidak cukup dalam. Batuan dasar akustik di Perairan Toboali memiliki kedalaman bervariasi mulai dari 15 – 75 ms atau semakin ke selatan semakin dalam. Jika dilihat dari kemenerusan batuan dasar akustiknya diperkirakan granitoid tersebut berada 7 km dari garis pantai terdekat.Kata kunci: Seismik single channel, interpretasi seismik, distribusi granitoid, Perairan Toboali, Provinsi Bangka Belitung
SEAFLOOR FAULTING AND ITS RELATION TO SUBMARINE VOLCANIC ACTIVITIES BASED ON SUB BOTTOM PROFILING (SBP) ANALYSES IN WEH ISLAND WATERS AND ITS SURROUNDING, NANGROE ACEH DARUSSALAM PROVINCE Hananto Kurnio; Ildrem Syafri; Adjat Sudradjat; Mega Fatimah Rosana; Dicky Muslim
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 30, No 1 (2015)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1240.409 KB) | DOI: 10.32693/bomg.30.1.2015.70

Abstract

Sub bottom Profiling survey using strata box, a specially designed low penetration sub bottom Profiling (< 80 m) for coastal waters exploration, found out evidence of submarine volcanic activities in northern coastal waters of Weh Island, NanggroeAceh Darussalam Province. Gas bubbling could be observed at water columns of the digital sub bottom Profiling records as acoustic turbidity. There are at least 33 spots of volcanic gas bursts observed from the sub bottom Profiling. Examination of gas bursts at coastal area which show fumaroles and solfatara indicate reduce volcanic activity either at submarine or terrestrial. Identification of seafloor gas burst by diving team found out that center of such burst is occurred at a north - south opened lineation assumed as normal fault. It seems that the seafloor normal fault is the continuation of terrestrial fault of the same direction as observed from terrain earth google of Weh Island.Keywords: seafloor faulting, submarine volcanic activities, shallow sub bottom Profiling data, Weh Island Aceh Survei penampang bawah dasar laut (SBP) menggunakan strata box, suatu alat SBP penetrasi rendah yang didisain untuk eksplorasi perairan pantai, mendapatkan bukti-bukti aktivitas gunungapi bawah laut di perairan sebelah utara Pulau Weh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gelembung-gelembung gas dapat diamati pada kolom air rekaman digital penampang bawah dasar laut sebagai turbiditas akustik. Sedikitnya dijumpai 33 titik semburan gas volkanik yang teramati dari penampang bawah dasar laut tersebut. Pemeriksaan semburan-semburan gas pada wilayah pantai sebagai fumarola dan solfataramenunjukkan telah berkurangnya aktivitas volkanik apakah pada dasar laut maupun darat. Identifikasi semburan gas dasar laut oleh tim selam mendapatkan bahwa pusat semburan berada pada kelurusan berarah utara - selatan yang diduga sebagai sesar normal. Tampaknya adalah bahwa sesar normal dasar laut tersebut merupakan kelanjutan sesar darat yang berorientasi sama seperti teramati dari citra earthgoogle terrain Pulau Weh. Kata kunci: pensesaran dasar laut, aktivitas gunungapi bawah laut, data penampang bawah dasar laut, Pulau Weh Aceh
Application of Spectral Decomposition and RGB Blending for Delineation of “S” Channel At Asri Basin Swasty Aninda Piranti; Shaska Zulivandama; Noor Cahyo Dwi Aryanto; Andi Agus Nur; Ildrem Syafri
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 35, No 2 (2020)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.35.2.2020.688

Abstract

Gita member is part of Talang Akar Formation is known as hydrocarbon reservoir at Asri Basin, eastern part of South Sumatra. This formation consists of several depositional systems such as braided channel, meandering channel, fluvial-deltaic, and estuarine system. A channel system was an interesting system developed in the Asri Basin, however, to get the channel distribution in Asri Basin is quite challenging because the thickness of the channels caused its appearance is generally close or under seismic resolution, the existence of coal below our target also affects the impression of “S” sand on seismic data. In this study, spectral decomposition and RGB Blending have been successful to identify “S” sand. RGB Blending map is extracted from 15 Hz as low frequency, 45 Hz as middle frequency, and 75 Hz as high frequency. Our interpretation was applied at RGB Blending map and reveal the “S” sand is classified as a meandering channel depositional system with the main direction of the channel is Northeast – Southwest.Keywords: spectral decomposition, RGB Blending, Gita reservoir, Asri Basin: Anggota Gita merupakan bagian dari Formasi Talang Akar yang dikenal sebagai reservoar hidrokarbon di Cekungan Asri, Sumatra Selatan bagian timur. Formasi ini terdiri dari beberapa sistem pengendapan seperti sistem sungai teranyam, meander, fluvial-delta, dan estuari. Sistem pengendapan sungai purba di Cekungan Asri merupakan sistem yang menarik untuk dieksplorasi namun untuk mendapatkan persebaran sungai tersebut merupakan hal yang menantang dikarenakan tipisnya ketebalan sungai yang mengakibatkan kenampakannya pada data seismik berada disekitar atau bahkan dibawah resolusi seismik, keberadaan lapisan batubara dibawah target turut mempengaruhi kenampakan pasir “S” pada data seismik. Dekomposisi spektral serta RGB Blending yang diaplikasikan pada penelitian ini dapat mengidentifikasi pasir “S”. Peta RGB Blending diekstraksi dari beberapa frekuensi, yaitu frekuensi 15 Hz yang diambil sebagai frekuensi rendah, 45 Hz sebagai frekuensi tengah, dan 75 Hz sebagai frekuensi tinggi. Selanjutnya dilakukan interpretasi pada peta hasil RGB Blending dan menunjukkan pasir “S” diklasifikasikan sebagai sungai dengan sistem meander dengan arah utama sedimentasi adalah Timurlaut - Baratdaya.Kata kunci: dekomposisi spektral, RGB Blending, reservoar Gita, Cekungan Asri 
Co-Authors A. Sudradjat A. Sudradjat A. Sudradjat Abdurrokhim Almabrury Abdurrokhim ⠀ Abdurrokhim, . Achmad Noerkhaerin Putra Adi Hardiyono Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudradjat Adjat Sudrajat Adjat Sudrajat Adriano Mazzini Agus Didit Haryanto Agus Didit Haryanto -, Agus Didit Haryanto Agus Nur, Andi Agustiany, Irfani Agustina Djafar Agustinus, Eko Tri Sumarnadi Agustya Agustya Ahadi Ahmat Lamburu Ahmad Luthfi Aini, Hana Nur Ajat Sudrajat Almun Madi Amitama, Emilia Bunga Andi Agus Nur Andi Agus Nur, Andi Agus Antonius Bambang Yuniarto -, Antonius Bambang Yuniarto Aprillia, Belinda Rizka Ardiansyah, Reza Arief Prabowo Asep Mohamad Ishaq Shiddiq Aton Patonah Awaludin, Winarno Benyamin Benyamin Benyamin Benyamin, Benyamin Benyamin, Benyamin Billy G. Adhiperdana Bonar Tua Halomoan Marbun Brian Christiantoro Budhy Agung Budi Muljana Budiadi, E. Christiantoro, Brian Deni Wahyuadi Denis, Mutebi Deny Setiady Dicky Muslim Djadjang Jedi Setiadi Djajang Sukarna Dwandari Ralanarko Dwandari Ralanarko E. T. Paripurno E. T. Paripurno Edy Sunardi Eko Tri Sumarnadi Agustinus Eko Tri Sumarnadi Agustinus Electricia, K.S. Elfitra, Dhanu Embara, Patra Emi Sukiyah Emy Sukiyah Euis Tintin Yuningsih Euis Y. Yuningsih, Euis Y. Evaristus Budiadi F. G, Aiwoy Fachrudin, Kurnia Arfiansyah Fadhly, Ahmad Febri Hirnawan Febriwan Mohamad Febriwan Mohammad, Febriwan Febyani, Siska Firman Herdiansyah, Firman G. Hartono G. Hartono Ginanjar, Asep Hadian, Muhamad Sapari Dwi Hadian, Muhamad Sapari Dwi Hana Morina, Hana Hananto kurnio Hananto Kurnio Hartawi Riskha Hartawi Riskha, Hartawi Hartono, G. Hartono, Udi Haryadi Permana Hastowo Resesiyanto Hendarmawan Hendarmawan Heri Hermiyanto Zajuli Heri Hermiyanto Zajuli, Heri Hermiyanto Hermes Panggabean Hermes Panggabean Hermes Panggabean Herry -, Herry Hilarius Rodriguez Hilarius Rodriguez, Hilarius Hill Gendoet Hartono Hutabarat, Johannes ilmi, irpan Iqbal Ramadhan, M. Iqbal, M. Irfani Agustiany Irzon, Ronaldo Irzon, Ronaldo Iskandar Zulkarnain Ismawan Ismawan Ismawan Ismawan, Ismawan Iwan Setiawan Januar Arifin Johanes Hutabarat Johanes Hutabarat Johannes Hutabarat K, Mohammad Fatahillah Pradana Kapid, Roebiyanto Karyono Karyono Kuntadi Nugrahanto Kurnia Arfiansyah Kurnia Arfiansyah, Kurnia kurnio, Hananto kurnio, Hananto Lia Jurnaliah Lili Fauzielly M. Iqbal M. Iqbal Manwarjit, Manwarjit Marbun, Bonar Tua Halomoan Masturyono Masturyono Mayasari, Verna Mega F. Rosana, Mega F. Mega Fatimah Rosana Mega Fatimah Rosana Moeh. Ali Jambak Moeh. Ali Jambak, Moeh. Ali Moh. Heri Hermiyanto Zajuli Moh. Heri Hermiyanto Zajuli Muhamad Sapari Dwi Hadian Muhammad Kurniawan Alfadli Muhammad Zulfikar Muhammad Zulfikar Nana Sulaksana Nana Suwarna Nana Suwarna Nana Suwarna Nanda Natasia Nazar Nurdin Noor Cahyo Dwi Aryanto Noor Cahyo Dwi Aryanto Novianti Wahyuni Purasongka, Novianti Wahyuni Nuarihidayah, Gilang Diesty Nugroho, Sigit Dwi Nuraini , Siti Paripurno, E. T. Petra Wattimury Prabowo, Arief Pranowo Nugroho Pranowo Nugroho Prasetio, Rasi Prasetio, Rasi Prasetya, Muhammad Nurul Huda Purnama Sendjaja Purnama Sendjaja Puspita, Ramelia Eka Rahmola, Wiryadi Rizkiputra Ralanarko, Dwandari Ramzis, Novaldo Rasi Prasetio Resesiyanto, Hastowo Reza Ardiansyah Reza Ardiansyah Ridho Kresna Wattimena Ridho Kresna Wattimena Rivaldy, Mohammad Rodriguez, Hilarius Roebyanto Kapid Ronaldo Irzon Ronaldo Irzon Ronaldo Irzon Rusman Rinawan -, Rusman Rinawan Satrio Satrio Satrio, Satrio Satrio, Satrio Sendjaja, Purnama Sendjaja, Purnama Sendjaja, Purnama Shaska Zulivandama Shiddiq, Asep Mohamad Ishaq Siti Nuraini Soffian Hadi Stefanus Suryo Cahyono SUBAGJA, MUHAMAD AGAM Suci Sarah Andriany, Suci Sarah Sudarsana, Muhammad Rizki Sudradjat , Adjat Sudradjat, A. Sudradjat, A. Sudradjat, Adjat Sudradjat, Adjat Sudrajat, Adjat Sugianto, Asep Supriyanto Rohadi Suwarna, Nana Swasty Aninda Piranti Syaiful Alam Syaiful Bachri Tampubolon, Armin Taufan, Yoqi Ali Udaya Kamiludin Udi Hartono Udi Hartono Vijaya Isnaniawardhani Viqnoriva, S.N. Wahyu Sugiarto Wattimury, Petra Wiguna, Purwa Wilda Aini Nurlathifah Winantris Winantris Winarti Winarti Wrahaspati Rulandoko Yan Rizal, Yan Yoga Andriana Sendjaja Yogi Fernando, Yogi Yudi Darlan Yusriyah, Dzakiyah Zakaria, Firman Zarkasyi, Ahmad ZULFAHMI ZULFAHMI Zulfialdi Zakaria, Zulfialdi Zulkarnain, Iskandar ⠀, Abdurrokhim ⠀, Winantris