Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH SUHU YANG BERBEDA TERHADAP DAYA TETAS TELUR DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA  IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) Suara Ningsih, Aisyah; Zulkhasyni; Martudi, Suharun; Tri Utami, Risnita; Syukhriani, Silvy
Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan Vol 22 No 2 (2024): Jurnal Agroqua
Publisher : University of Prof. Dr. Hazairin, SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/ja.v22i2.4761

Abstract

The aim of this research is to determine the best temperature for egg hatching and survival of sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) larvae. This research was carried out for 30 days, 29 May – 29 June 2024, located at the Laboratory of the Faculty of Agriculture, Prof. University. Dr. Hazairin SH. Bengkulu Jl. A. Yani Bengkulu City District. Segara Bay. The design used in this research was a Completely Randomized Design (CRD) which consisted of four treatments and six replications, each treatment as follows: P1 (temperature 29ºC), P2 (temperature 30ºC), P3 (temperature 31ºC) and P4 (temperature 32ºC). The fecundity of Sangkuriang catfish obtained was 90,000 eggs. Water temperature has a very significant effect on hatching time, egg hatchability and survival of sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) larvae. Hatching time The best temperature is 31ºC - 32ºC, while the best hatchability and survival of sangkuriang catfish larvae is at 30ºC where hatchability is 84.33% and survival is 82%.
MANAJEMEN KELUARGA DALAM UPAYA PERCEPATAN PENURUNAN RISIKO STUNTING MELALUI PEMANFAATAN PANGAN LOKAL BERBASIS REMUNGGAI DALAM OLAHAN MP-ASI Puspita, Veny; Melisa; Sintia Safrianti; Wahyu Alfanda; Dwi Oktavallyan; Janusi Waliamin; Risnita Tri Utami
PAKDEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2024): Desember
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/pakdemas.v4i1.316

Abstract

Stunting dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Di Kabupaten Bengkulu Utara, prevalensi stunting mencapai 1,4%, lebih rendah dibandingkan angka nasional tetapi tetap memerlukan perhatian. Di Kecamatan Tanjung Agung Palik, masalah ini mengancam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta berpotensi memperburuk kemiskinan antar generasi. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pemanfaatan pangan lokal, khususnya Moringa Oleifera L. (remunggai), dalam olahan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Penelitian menunjukkan bahwa Moringa memiliki kandungan gizi yang kaya, termasuk vitamin, mineral, dan asam amino esensial, serta aktivitas antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Manajemen keluarga memainkan peran krusial dalam upaya percepatan penurunan risiko stunting. Oleh karena itu, Program KUKERTA-PPM Tahun 2024 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan orang tua dalam mengelola konsumsi MP-ASI berbasis remunggai. Program ini melibatkan sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan untuk memanfaatkan Moringa dalam olahan MP-ASI yang bergizi dan menarik bagi balita. Kerjasama dilakukan dengan Posyandu dan puskesmas setempat untuk memastikan implementasi yang efektif. Luaran dari program ini diharapkan adalah publikasi dalam jurnal nasional terakreditasi yang mendokumentasikan dampak dan hasil dari inisiatif ini.
PEMANFAATAN BOTOL PLASTIK MENJADI MENJADI BARANG E KONOMIS ESTETIS BERUPA PLASTIC BOTTLE FLOWER VASE PADA KECAMATAN SUNGAI SERUT KOTA BENGKULU Waliamin, Janusi; Sherly Nelsa Fitri; Veny Puspita; Sintia Safrianti; Risnita Tri Utami
PAKDEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 3 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/pakdemas.v3i3.327

Abstract

Program yang akan dikerjakan oleh peserta Kukerta-PPM dibuat berdasarkan potensi sampah botol plastik diwilayah mitra, dan hasil penelitian sebelumnya. Instansi mitra yaitu kecamatan Sungai serut. Permasalahan yang akan diselesaikan dalam program ini adalah bagaimana memberikan pendalaman informasi dan keterampilan masyarakat terkait keuntungan Melalui Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Barang Estetis Ekonomis Berupa Flower Vase. Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan masyarakat mampu memanfaatkan sampah plastik menjadi sebuah kerajinan tangan yang bernilai estetis ekonomis sebagai upaya mengurangi sampah yang ada di lingkungan pemukiman dan menambah penghasilan dari kerajinan tangan tersebut. Program ini dilaksanakan melalui 4 tahap. Tahap pertama adalah identifikasi masalah di lapangan dan pendataan warga sasaran. Tahap kedua sosialisasi tentang pemilahan sampah dan pengolahan sampah. Sosialisasi dilakukan dengan pemberian materi dan bimbingan teknis pemilahan dan pengolahan sampah. Tahap ketiga adalah praktek pengolahan sampah menjadi berbagai produk kerajinan seprti pot bunga. Tahap keempat pelatihan pemasaran produk yang sudah dihasilkan.
STUDI KERAPATAN DAN PENUTUPAN JENIS LAMUN DI PERAIRAN ENGGANO, BENGKULU Risnita Tri Utami; Wica Elvina; Yulfiperius Yulfiperius; Ayub Sugara; Ari Anggoro; Teddy Triandiza; La Ode Abdul Fajar Hasidu
JURNAL AKUAKULTUR, TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP, ILMU KELAUTAN Vol 6 No 2 (2023): JOINT-FISH - Jurnal Akuakultur, Teknologi Dan Manajemen Perikanan Tangkap, Ilmu K
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/joint-fish.v6i2.263

Abstract

Seagrass has an important role in coastal ecosystems. Seagrass is a primary producer and constituent of habitats and ecosystems that support life on coral reefs and mangroves or coastal land The distribution of seagrass in Indonesia is quite extensive, covering almost all water areas in Indonesia. Information regarding the distribution of seagrass in the waters of Enggano Island is still limited, so a study is needed to provide information regarding the distribution of seagrass in this area. This study aims to identify the types of seagrass and variations in their density and cover on Enggano Island, Bengkulu. This research was conducted in March 2022 in Kaana Village, Enggano, Bengkulu. Seagrass data collection method using purposive sampling method. Sampling was carried out at four stations, where each station was repeated three times. Seagrass was identified at the research location; its density and closure were calculated. Measurement of water quality is done in situ. The results of this study indicate that three species of seagrass were found, namely Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata and Halodule uninervis. However, the types of C. rotundata and H. Uninervis were scattered in all research stations. The highest cover was found at station 1 with 86% cover while the lowest cover was found at station 3 with 16% cover. There are variations in composition and density at each research station, this shows that there is environmental influence and there is not an even distribution of seagrass in the area
Penilaian Analisis Cluster dan Non-Metric Multidimensional Scalling terhadap Struktur Komunitas Mangrove di Desa Bagan Serdang, Sumatera Utara Surbakti, Livia Chasinta; Erlangga, Erlangga; Syahrial, Syahrial; Hadinata, Fitra Wira; Nufus, Hayatun; Anggraini, Rika; Agustini, Nella Tri; Leni, Yusyam; Rolin, Febrina; Utami, Risnita Tri
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 2 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i2.69484

Abstract

Analisis multivariat seperti cluster dan nMDS sering digunakan untuk membantu interpretasi data lingkungan, sedangkan struktur komunitas vegetasi tumbuhan sangat berguna dalam mendeskripsikan ekologi suatu ekosistem, sehingga kajian penilaian analisis cluster dan nMDS terhadap struktur komunitas mangrove Desa Bagan Serdang dilakukan pada bulan September 2021. Hal ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mangrovenya berdasarkan analisis cluster dan nMDS. Vegetasi mangrove dikumpulkan dengan menarik transek kuadran yang tegak lurus garis pantai, kemudian data vegetasi mangrove dievaluasi menggunakan cluster dan nMDS. Keanekaragaman mangrove Desa Bagan Serdang teridentifikasi sebanyak 5 spesies dengan 4 famili, dimana penyebaran mangrovnya tergolong sesekali ditemukan (rata-rata frekuensi relatifnya 20,00%). Zona paling depan didominasi oleh Avicennia lanata, zona tengah didominasi oleh Rhizophora apiculata dan zona belakang didominansi oleh Rhizophora mucronata. Kerapatan mangrovenya berkisar antara 22,22 – 1222,22 ind/ha dan INP berkisar antara 9,64 – 231,78% dengan kerapatan vegetasi zona depan maupun tengah membentuk satu kelompok yang mengindikasikan kondisi kerapatannya hampir sama. Selanjutnya untuk INP, vegetasi zona depan dan tengah membentuk satu kelompok dengan spesies yang berperan penting adalah A. lanata serta R. apiculata, sedangkan di zona belakang, spesies yang berperan pentingnya adalah R. mucronata, E. agallocha dan X. granatum. Selain itu, basal area vegetasi mangrove Desa Bagan Serdang berkisar antara 278,22 – 654,35 m2/ha dengan basal area vegetasi zona depan maupun belakang memiliki tingkat kedewasaan yang hampir sama, sehingga membentuk satu kelompok. Kajian ini mengungkapkan adanya komposisi spesies mangrove campuran dengan perkembangan kedewasaan mangrovenya berbeda-beda. Data yang diinfokan dalam kajian ini akan menjadi baseline pengelolaan mangrove di Desa Bagan Serdang dan upaya konservasi di Provinsi Sumatera Utara maupun Indonesia.  Multivariate analyses such as clusters and nMDS are frequently used to facilitate in the interpretation of environmental data. In contrast, the community structure of plant vegetation is immensely useful in describing the ecology of an ecosystem. In September 2021, studies on the mangrove community structure of Bagan Serdang Village were conducted using cluster analysis and nMDS. It proposes to use cluster analysis and nMDS to determine the structure of the mangrove community. Mangrove vegetation was collected by pulling quadrant transects perpendicular to the shoreline, and the data was analyzed using clusters and nMDS. The diversity of mangroves in Bagan Serdang Village was identified as 5 species with 4 families, with mangrove distribution classified as occasional (average relative frequency of 20,00%). Avicennia lanata dominates the front zone, Rhizophora apiculata dominates the middle zone, and R. mucronata dominates the back zone. The mangrove density ranges from 22,22 to 1222,22 ind/ha, and the INP ranges from 9,64 to 231,78%, with the vegetation density in the front and middle zones forming one group that shows nearly the same density conditions. Furthermore, for the INP, the front and middle zone vegetation formed a group with species that played an important role which were A. lanata and R. apiculata, while species that played an important role in the rear zone were R. mucronata, E. agallocha, and X. granatum. Furthermore, the basal area of the mangrove vegetation in Bagan Serdang Village ranges from 278,22 to 654,35 m2/ha, with the basal area of the vegetation zones front and back having nearly the same maturity level, forming a single group. This study reveals the presence of a mixed mangrove species composition with different mangrove maturity developments. The data presented in this study will be the baseline for mangrove management in Bagan Serdang Village and conservation efforts in North Sumatra Province and Indonesia. 
Pembuatan Bioplastik Ramah Lingkungan Dari Kitosan Dengan Bahan Baku Limbah Sisik Ikan Nila Dan Ikan Kakap elvina, Wica; Utami, Risnita Tri
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 10, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/akuakultur.v10i1.241

Abstract

Chitosan is the result of modifying the chitin compound by removing the acetyl group and leaving the amine group. Chitin compounds can be obtained from proteins contained in the outer skin/scales of fish and shrimp commodities. Discarded fish scales can be used to make chitosan as a basic material for making bioplastics. This research was carried out with the aim of optimizing the benefits of unused fish scales into products that have economic value and can be reused by the community, one of which is bioplastic. The fish scales used are fish scales that have the greatest potential in Bengkulu province, namely snapper fish scales and tilapia fish scales. Making bioplastics is done by extracting fish scales into chitin compounds then going through a deacetylation process to become chitosan, then the chitosan is given the additional ingredient glycerol to form bioplastics. The results of the research by adding 0.5 ml and 1 ml of glycerol to the chitosan from each fish scale, showed that the resulting bioplastic was in the form of a solid with a transparent sheet shape with a slight yellow-gray shade. In general, there is no difference in tilapia fish scales and snapper scales. The difference is only visible in the texture of the bioplastic with the 0.5 ml glycerol mixture looking stiffer, while the 1 ml glycerol mixture looks more flexible. It is hoped that bioplastics made from natural ingredients, such as fish scales, can become a more biodegradable product and can help reduce fisheries waste.
CORAL POINT COUNT WITH EXCEL EXTENSIONS (CPCE) SOFTWARE: CORAL REEF CONDITION AT SMALL ISLANDS IN INDONESIA Utami, Risnita Tri; Yulfiperius, Yulfiperius; Supadminingsih, Fahresa Nugraheni; Saputra, Julian
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.218 KB) | DOI: 10.23887/jstundiksha.v11i1.43337

Abstract

Terumbu karang adalah ekosistem laut yang menyediakan rumah bagi sekitar 25% organisme laut. Beberapa dekade terakhir, penggunaan metode Underwater Photo Transect (UPT) untuk pemantauan terumbu karang semakin populer. Penelitian ini bertujuan untuk memantau kondisi terumbu karang di Pulau Dua, Pulau Tikus, Pulau Belanda, dan Pulau Dapur. Penelitian ini menggunakan software Coral Point Count with Excel extensions (CPCe), untuk meningkatkan efisiensi upaya pemantauan terumbu karang. Transek foto diambil dengan penyelaman scuba. Foto komunitas terumbu karang diambil setiap 1m di sepanjang garis transek sepanjang 50m. Sebanyak 30 sampel titik acak dipilih untuk setiap foto. Beberapa foto digabungkan dan untuk setiap titik dikodekan sesuai dengan kode masing-masing kategori, biota, dan substrat pada titik acak. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terumbu karang di Bengkulu termasuk dalam kategori sedang hingga baik, sedangkan kondisi terumbu karang di Kepulauan Seribu termasuk dalam kategori buruk hingga. Genus karang yang paling banyak ditemukan di Bengkulu adalah Porites dan Pocillopora, sedangkan di Kepulauan Seribu adalah Porites dan Acropora.  
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENGELOLAAN SIPUT LOLA (ROCHIA NILOTICA) DI PULAU ENGGANO, BENGKULU Pratiwi, Wiwit; Utami, Risnita Tri
Bina Hukum Lingkungan Vol. 6 No. 3 (2022): Bina Hukum Lingkungan, Volume 6, Nomor 3, Juni 2022
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.817 KB)

Abstract

Rochia nilotica (siput lola) merupakan siput yang memiliki cangkang berbentuk kerucut berwarna dasar krem keputihan. Siput lola atau Rochia nilotica merupakan sumberdaya yang bernilai ekonomis. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sumberdaya siput lola di dunia dan Pulau Enggano dikenal sebagai salah satu penghasil siput lola. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif yang dilengkapi dengan wawancara. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi bahan-bahan hukum primer, sekunder dan tersier, serta wawancara dengan narasumber juga dilakukan dan digunakan sebagai salah satu bahan hukum sekunder. Proses analisis data menggunakan metode kualitatif, dengan menganalisis data-data berupa dokumen, peraturanperaturan, teori-teori terkait yang menghasilkan data deskriptif-analitis. Dalam penelitian, pemanfaatan sumber daya siput lola yang tidak terkontrol/tidak terkendali dan pengambilan yang berlebihan tanpa memperdulikan keberlanjutan generasi sumber daya siput lola menyebabkan sumber daya siput lola di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu mengalami ancaman kepunahan sehingga memerlukan upaya serius untuk pemulihan populasi sumber daya siput lola. Untuk itu diperlukan upaya konservasi sumber daya lola serta pengambilan kebijakan yang tepat dan dibentuknya peraturan desa tentang pengelolaan siput lola di Pulau Enggano.
Development of GIS-Based Pangasius Aquaculture Areas Using Analytical Hierarchy Process (AHP) in Tulungagung Regency, East Java, Indonesia Nurhabib, Asro; Sartimbul, Aida; Primyastanto, Mimit; Sriwidodo, Maheno; Handoko, Lugu Tri Handoko; Rahayu, Andra Rejekineng; Pardiansyah, Dedi; Utami, Risnita Tri
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.vi.56095

Abstract

Graphical Abstract   Highlight Research The author mentioned four highlights from their research: 1. GIS and AHP were integrated to assess land suitability for Pangasius aquaculture in Tulungagung Regency. 2. 59% of the region (976,885.71 ha) was identified as suitable or highly suitable for aquaculture expansion. 3. Water quality, soil conditions, and infrastructure were key factors influencing aquaculture feasibility. 4. Sustainable planning is needed to balance aquaculture expansion with existing land uses like agriculture and settlements. 5. The GIS-based model serves as a policy tool for efficient and sustainable Pangasius aquaculture development.     Abstract Tulungagung Regency in East Java Province has an export demand of 300,000-400,000 tons per year. The high demand for exports spurred the people and government of Tulungagung Regency to develop pangasius aquaculture areas. This will have a negative impact if carried out without a land suitability assessment. The study aimed to analyze the parameters of pangasius aquaculture and map the potential areas for pangasius aquaculture using AHP and GIS-based analysis. This research was conducted from January to August 2022 in Tulungagung Regency, Indonesia. Several stages were carried out, including primary data collection (water quality, soil quality, and infrastructure), secondary data collection (literature, reports, fisheries statistics data, government statistical data, and journals/articles), application of land suitability assessment, and pangasius farming area suitability analysis. Land suitability analysis consists of measuring water quality parameters (DO, temperature, TDS, pH, ammonia, and nitrate), soil quality (texture, pH, and slope), and infrastructure (roads, markets, hatcheries, and fillet factories) using the Analytical Hierarchy Process method (AHP), which includes standardization, determination of weights, and combining the weights of land suitability maps, which are then mapped by ArcGIS Software. Most of the land conditions for the pangasius aquaculture areas in Tulungagung Regency are moderately suitable, suitable, and most suitable, with percentages of 30, 21, and 28%. The area that can be developed for pangasius aquaculture is 976885.71 ha, with the most suitable category being 2619.35 ha, the appropriate category being 2235.74 ha, and the most suitable category being 4913.77 ha.
PEMBERDAYAAN GENERASI MILENIAL DALAM KELOMPOK NELAYAN MELALUI MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TANGKAP MENJADI PRODUK EKONOMI KREATIF Puspita, Veny; Utami, Risnita Tri; Safrianti, Sintia; Yudisky, Yudisky; Suhanto, Adam
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v5i1.3659

Abstract

Kehidupan nelayan selalu identik dengan kesan kumuh dan kemiskinan. Kekumuhan itu disebabkan belum adanya manajemen pengolahan limbah yang baik. Limbah hasil tangkap nelayan sering dibuang disekitar pemukiman. Selain itu ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan hanya dijual murah atau hanya dijadikan ikan asin. Kehidupan nelayan sangat bergantung dengan hasil laut, pada saat cuaca sedang tidak memungkinkan kelaut, maka para nelayan ini sering tidak memiliki penghasilan. Keberadaan kelompok nelayan sebagai wadah sekaligus rumah bagi komunitas nelayan seharusnya menjadi sarana penting untuk membentuk relasi sosial sesama nelayan dan meningkatkan kemampuan/pengetahuan nelayan. Keberadaan generasi milenial terbanyak menjadi bonus demografi yang bisa menjadi motor penggerak perekonomian nelayan. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan pemberdayaan peran generasi milenial dalam kelompok nelayan melalui manajemen pengolahan limbah hasil tangkap menjadi produk ekonomi kreatif. Dengan adanya kegiatan ini masalah lingkungan kumuh akan teratasi dengan baik, selain itu dengan adanya produk ekonomi kreatif  yang dihasilkan dan dibentuk kelompok usaha bersama (KUBE) serta koperasi yang terintegrasi digital marketing akan  memberikan kekuatan ekonomi kelompok nelayan “Sejahtera Bengkulu” sebagai mitra, dengan jumlah 23 orang anggota nelayan dari kalangan generasi milenial.  Kegiatan ini mencakup pelatihan dan pendampingan dengan pendekatan metode pendekatan Partisifatory Action Riset (PAR). Hasil kegiatan ini: (1) tersedianya Sumber daya terampil dalam pengolahan limbah hasil tangkap menjadi produk ekonomi kreatif. (2) Produk kreatif hasil olahan limbah (3) Kelompok Usaha Bersama (KUBE) (4) Koperasi (5) Integrasi digital marketing
Co-Authors Abdul Kadir Yamko Adam Suhanto Afan Mahmudin Agus Kusnadi Agus Kusnadi Aida Sartimbul Ami Nolisa An Nisa Nurul Suci Ari Anggoro Arif Prasetya Aulia Salsabilla, Zahra Ayub Sugara Dedi Pardiansyah Dedy Kurnianto Delvia Novitasari Dwi Oktavallyan Elvina, Wica Engga Jalaludin Erlangga Erlangga Esty Kurniawati Fahresa Nugraheni Supadminingsih, Fahresa Nugraheni Febrina Rolin Feri Nugroho Fildzah Z Hulwani Firman Firman Fitra Wira Hadinata Hadinata, Fitra Wira Handoko, Lugu Tri Handoko Hasidu, La Ode Abdul Fajar Hawis H Madduppa Hayatun Nufus Hendrik V. Ayhuan Herry Novrianda Ichtineza H Hardono Janusi Waliamin Julian Saputra Laode Muhamad Hazairin Nadia Leni, Yusyam Maharani Marlinah Marlinah Melisa Mimit Primyastanto Nella Tri Agustini, Nella Tri Neviaty P Zamani Nur Anisa Nur Ikhsan Nur Safira Nurlita P Anggraini Nurseha Nurseha Okka Adittio Putra Parwito Pesilette, Rosmi Nuslah Puspita, Veny Putra Akhir, Ade Fitrah Putri Sapira Ibrahim Rahayu, Andra Rejekineng Rifi Suhendri Rika Anggraini Rika Anggraini Riri Ezraneti Rosmi N Pesillette Rosmi N Pesillette Sherly Nelsa Fitri Silvy Syukhriani, Silvy Sintia Safrianti Sri Sedjati Sri Sedjati Sriwidodo, Maheno Suara Ningsih, Aisyah Suhanto, Adam Suharun Martudi Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Surbakti, Livia Chasinta SYAHRIAL SYAHRIAL Syahrial Syahrial Teddy Triandiza Teddy Triandiza Teddy TRIANDIZA Udhi E Hernawan Wahyu Alfanda Wediyanto, Eko Wica Elvina Wica Elvina Wica Elvina Wiwit Pratiwi, Wiwit Yudho Andika Yudisky Yudisky Yudisky, Yudisky Yulfiperius, Yulfiperius Zulkhasyni