Claim Missing Document
Check
Articles

Aktivitas Antifouling dan Karakteristik Fitokimia Ekstrak Rumput Laut Sargassum sp. dari Perairan Gunung Kidul, Yogyakarta Hakim, Muhamad Fikri Hudi Nur; Widowati, Ita; Sabdono, Agus
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.639 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25910

Abstract

ABSTRAK : Marine biofouling merupakan tumbuhnya organisme yang tidak diinginkan pada suatu permukaan yang terendam air laut. Penempelan ini dapat menyebabkan gangguan teknis dan kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari senyawa aktif antifouling yang ramah lingkungan sebagai pengganti TBT. Materi yang digunakan adalah ekstrak rumput laut Sargassum echinocarpum dan S. cinereum dengan berbagai macam pelarut (n-heksan, etil asetat, dan metanol). Sampel diambil dari perairan Gunungkidul, Yogyakarta. Bakteri biofilm diisolasi dari substrat plat kayu mahoni yang direndam selama 2 minggu. Metode dalam penelitian ini adalah Uji aktivitas antifouling menggunakan metode disk-diffusion, Uji Fitokimia, Uji Biokimia, dan Uji Brine Shrimp Lethality Test. Hasil penelitian menunjukan aktivitas antimikrofouling terbaik ditunjukkan oleh ekstrak kasar S. cinereum dengan pelarut etil asetat dan S. echinocarpum dengan pelarut metanol. Berdasarkan analisa One-Way ANOVA dengan signifikansi <0,05menunjukkan ekstrak dengan pelarut metanol dan etil asetat tidak berbeda nyata, sedangkan ekstrak dengan pelarut n-heksan tidak membentuk zona hambat. Uji Biokimia menunjukkan jenis bakteri yang dapat dihambat adalah Bacillus sp., dan Nacordiasp. Hasil fitokimia menunjukkan ekstrak S. cinereum dengan pelarut etil asetat mengandung senyawa alkaloid, quinon, steroid, dan flavonoid. Sedangkan ekstrak S. echinocarpum dengan pelarut metanol mengandung senyawa quinon, triterpenoid, dan flavonoid. Uji Brine Shrimp Lethality Test menunjukkan bahwa ekstrak S. echinorcarpum dan S. cinereum dengan pelarut metanol dan n-heksan memiliki nilai LC50 568,4347 bpj; 663,613 bpj; 639,711 bpj; dan 855,3114 bpj dengan kategori toksik. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa ekstrak S. cinereum dan S. echinocarpum dapat digunakan sebagai sumber antifouling.  ABSTRACT : Marine biofouling is the growth of unwanted organism on the structure, which is submerged in seawater. The attachment of those organisms could lead to technical because it attaches and destroys the structures.The aim of this research to find an active antifouling compound that is environmentally friendly as a replacement for TBT. This research used a sample of S. echinocarpum and S. cinereum, which was extracted in various solvents (n-hexane, ethyl acetate, and methanol). The seaweed samples were taken from Gunungkidul, Yogyakarta. The biofilm bacteria was isolated from the mahogany plate substrate that has been submerged in the sea for two weeks. Antifouling activity test used the disk diffusion method, Phytochemicals test used the Harborne test methods, Biochemical test used the Cowan and Steel methods, and Brine Shrimp Lethality Test used the Meyer methods. The results showed that the antimicrofouling activity is most well demonstrated by the extract of S. cinereum with ethyl acetate solvent and S. echinocarpum with methanol solvent. Based on the analysis of One-Way ANOVA with significance <0.05 is known that the different types of solvent does not affects the results of inhibitory zone where methanol and ethyl acetate  are not significantly different, which the extract with n-hexane solvent does not form an inhibition zone.Biochemistry test shows that the type of bacteria that can be inhibited is Bacillus sp., and Nacordia sp.. The results showed that the phytochemical extracts of the S. cinereum crude extract with ethyl acetate solvent contains alkaloid, quinone, steroid and flavonoid compounds. While the crude extract of S. echinocarpum with methanol solvent contains quinone, triterpenoid and flavonoid compounds.Brine Shrimp Lethality Test showed that the crude extract of S. echinorcarpum and S. cinereum with methanol and n-hexane occupy the toxic category with LC50 values 568.4347 bpj; 663.613 bpj; 639.711 bpj; and 855.3114 bpj. It was concluded that the crude extract of S. cinereum and S. echinocarpum making it possible to be used as a source of antifouling.
POTENSI RUMPUT LAUT Sargassum duplicatum SEBAGAI SUMBER SENYAWA ANTIFOULING Santi, Ika Wulan; Radjasa, Ocky Karna; Widowati, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.282 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5999

Abstract

Biofouling di laut menyebabkan kerusakan pada lambung kapal dan merusak infrastruktur kelautan lainnya. Rumput lautgenus Sargassum banyak dilaporkan sebagai alternatif sumber senyawa antifouling alami yang ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan S. duplicatum dari Perairan Teluk Awur Jepara yang diekstrak dengan berbagai pelarut (n-heksana, etil asetat dan metanol) untuk mengetahui potensi ekstrak sebagai antifouling dan golongan senyawanya serta untuk mengidentifikasi jenis bakteri biofilm yang sensitif terhadap ekstrak. Bakteri biofilm diisolasi dari panel kayu dan fiberglass yang dibenamkan dilaut selama 2 minggu. Uji aktivitas antimicrofouling menggunakan metoda disc diffusion, uji fitokimia menggunakan metoda Harborne (1987) dan uji biokimia menggunakan metoda Cowan and Steels (1974) dan Bergey’s (2005). Aktivitas antimicrofouling paling baik ditunjukan oleh ekstrak etil asetat yang dapat menghambat 22 dari 34 bakteri biofilm dengan kisaran zona hambat 0,65 – 3,73 mm. Sedangkan, bakteri yang paling sensitif terhadap ekstrak S. duplicatum adalah bakteri K.10.3.1.4 dan F.10.3.1.2. S. duplicatum mengandung senyawa golongan alkaloid, saponin, quinon, fenolik, steroid, dan flavonoid. Berdasarkan identifikasi bakteri secara biokimia, bakteri K.10.4.1.5 adalah genus Achromobacter, sedangkan kode isolat F.10.3.1.2 adalah genus Flavobacterium cytophaga. Kehadiran satu ataulebih senyawa fitokimia dalam ekstrak diduga bertanggung jawab atas aktivitas antifouling yang terjadi.
SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA EKSTRAK Sargassum polycystum TERHADAP BAKTERI Vibrio harveyi DAN Micrococcus luteus DI PULAU PANJANG JEPARA Riyanto, Erwin Ivan; Widowati, Ita; Sabdono, Agus
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.76 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i2.4972

Abstract

Sargassum polycystum mempunyai berbagai macam zat senyawa bioaktif yang memiliki potensi sebagai antibakteri, antivirus, antijamur, serta antikanker. Pemanfaatan bahan hayati laut sebagai obat antibakteri adalah terobosan baru sebagai alternatif, obat yang sifatnya alami mempunyai efek samping lebih rendah dari pada obat sintetis, karena obat alami bisa tereduksi oleh tubuh ikan budidaya dan mudah tedegradasi lingkungan, sehingga dapat menambah nilai ekonomi Sargassum polycystum tersebut. Pelarut etil asetat mempunyai aktivitas antibakteri paling baik terhadap bakteri Vibrio harveyi dan Micrococcus luteus. Hal tersebut dibuktikan dengan  nilai MBC (minimum bacteriosidal concentration) mencapai konsentrasi 0,5 µg/disk dengan nilai diameter 1.67 mm terhadap bakteri V. harveyi  dan 4.55 mm terhadap bakteri M. luteus. Ekstrak Sargassum polycystum positif mengandung senyawa alkaloid pada ekstrak menggunakan pelarut heksana dan senyawa steroid pada pelarut metanol, Etil asetat, dan heksana. Uji toksisitas ekstrak Sargassum polycystum memiliki efek toksik terhadap Artemia salina dengan kategori toksik golongan kronis pada pengamatan ke-24 jam, dengan kata lain ekstrak Sargassum polycystum bersifat racun pada organisme hidup.
SKRINING ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Sargassum plagyophyllum DARI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA TERHADAP BAKTERI PATOGEN Enterobacter, Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococus aureus Yunianto, Hendi Perdian; Widowati, Ita; Radjasa, Ocky Karna
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.443 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5987

Abstract

Sifat resistensi dan infeksi patogenitas bakteri terhadap manusia saat ini meningkat, maka perlu adanya obat alternatif baru. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam rumput laut merupakan salah satu sumber antibakteri baru yang diperoleh dari alam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak Sargassum plagyophyllum terhadap bakteri patogen Enterobacter, P. aeruginosa dan S. aureus serta mengetahui golongan senyawa dan toksisitas senyawa bioaktif ekstrak S. plagyophyllum. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2012 – Mei 2013. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling method. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratoris. Ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan menggunakan tiga pelarut yang berbeda kepolarannya. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar (Kirby-bauer) dengan 3 kali pengulangan. Analisis fitokimia dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan perubahan warna serta karakteristik fisika kimia suatu golongan. Uji toksisitas dilakukan menggunakan larva Artemia salina. Nilai toksisitas akut (LC50) ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak Sargassum plagyophyllum pelarut etil asetat memiliki aktivitas antibakteri terbaik dengan zona hambat 4,87 ± 0,49 (bakteri Enterobacter); 6,06 ± 0,58 (bakteri S. aureus) dan 6,30 ± 0,62 (bakteri P. aeruginosa) serta memiliki aktivitas bakteriosidal. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa secara umum ekstrak Sargassum plagyophyllum mengandung senyawa alkaloid (pelarut heksana), steroid (ketiga pelarut), saponin (pelarut metanol). Hasil uji toksisitas menunjukkan ekstrak S. plagyophyllum pelarut etil asetat memiliki toksisitas yang toksik dengan nilai LC50-24 jam sebesar 291 ppm (toksik kategori kronik).
Komposisi dan Kelimpahan Ophiuroidea dan Echinoidea di Perairan Pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta Pakpahan, Herlina Lestari; Irwani, Irwani; Widowati, Ita
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.262 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26101

Abstract

ABSTRAK: Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam keaneka ragaman fauna di ekosistem pantai. Habitat utama echinodermata adalah terumbu karang, hal ini karena terumbu karang berperan sebagai tempat berlindung dan mencari makan bagi fauna echinodermata. Salah satu penyebaran biota ini adalah di perairan rataan terumbu karang pantai selatan di pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan struktur komunitas echinodermata di pantai Pok Tunggal,  kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019 di pantai Pok Tunggal. Metode pengambilan data kelimpahan menggunakan metode transek kuadrat berukuran 1x1 m, parameter kualitas perairan yang diukur adalah salinitas, DO, pH, serta suhu. Analisis  data meliputi identifikasi spesies, kelimpahan jenis (ind/m2), indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Hasil pengamatan ditemukan beberapa spesies, dari 2 kelas filum echinodermata, antara lain 2 species dari kelas Ophiuroidea yaitu Ophiocoma erinaceus dan Ophiocoma dentata, 3 species dari kelas Echinoidea yaitu Echinometra oblonga, Echinometra mathei dan Echinothrix diadema. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan individu tertinggi adalah Echinometra oblonga (16,6 ind/m2) dan terendah adalah Echinothrix diadema (0,4 ind/m2). Parameter lingkungan perairan di pantai Pok Tunggal pada setiap stasiun masih menunjang kehidupan Echinodermata. Struktur komunitas echinodermata yaitu nilai indeks keanekaragaman (H‟) berkisar antara 0,667-1,198, nilai indeks keseragaman (E) berkisar antara 0,744 - 0,999 dan nilai indeks dominansi (C) berkisar berkisar 0,308 - 0,525. ABSTRACT: Echinoderms are one of important component of fauna diversity in coastal ecosystems. The main habitat of Echinoderms is coral reefs, because coral reefs act as a shelter and food for echinoderms fauna. This species distributed in the flat waters of the coral reefs of the south coast at Pok Tunggal beach, Gunung Kidul, Yogyakarta. The aim of this study was to determine the species and Community Structure of echinoderms on the Pok Tunggal beach, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta. This research was conducted in July 2018 at Pok Tunggal Beach. Sampling was done by using transect quadrant measuring 1x1 m. Parameter of water quality was salinity, DO, pH, and temperature. Data analysis includes species abundance (ind/m2), diversity index, uniformity index and dominance index. The result showed that several species of Echinodermal phylum classes, including 2 species of Ophiuroidea class namely Ophiocoma erinaceus and Ophiocoma dentata, 3 species of Echinoidea class namely Echinometra oblonga, Echinometra mathei and Echinothrix diadema. The highest individual abundance was Echinometra oblonga (16,6 ind/m2) and the lowest was Echinothrix diadema (0,4 ind/m2). The environmental conditions of the waters at the Pok Tunggal beach at each station can support the life of echinoderms. Echinoderms community structure, namely diversity index (H ') ranges from 0,667-1,198, uniformity index (E) ranges from 0,744-0,999 and dominance index value ranges (C) ranges from 0,308-0,525.
Pencemaran Logam Berat Kadmium (Cd) dalam Kerang Darah (Anadara granosa) yang Didaratkan di Tambak Lorok Semarang Satriawan, Erian Febri; Widowati, Ita; Suprijanto, Jusup
Journal of Marine Research Vol 10, No 3 (2021): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v10i3.30155

Abstract

Perairan Tambak Lorok Semarang merupakan daerah yang terdapat banyak aktivitas industri. Banyaknya aktivitas industri di perairan Tambak Lorok Semarang dapat menyebabkan tingginya angka pencemaran lingkungan, terutama logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd (kadmium) pada kerang darah (Anadara granosa) yang terdapat di perairan Tambak Lorok Semarang dan kemudian dilakukan analisis terhadap penilaian resiko kesehatan manusia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret, Juni, Juli dan Agustus tahun 2020 di perairan Tambak Lorok Semarang. Logam berat dari kerang tersebut berdasarkan pembacaan Inductively Coupled Plasma (ICP) menunjukkan nilai berturut – turut 0,280 mg/kg; 0,514 mg/kg; 0,430 mg/kg; dan 1,649 mg/kg. Berdasarkan konsentrasi rata-rata Cd lebih rendah dari BSN (2009) yaitu 1 mg/kg kecuali pada bulan Agustus 2020. Perkiraan asupan harian (EDI) oleh masyarakat berkisar antara (0,000168-0,000987) mg/kg/hari. Lalu, nilai bahaya target (THQ) untuk Cd berkisar (0,161-0,946). Nilai ECR yang didapatkan untuk Cd berkisar antara (2,6x10-5 - 1,5x10-4) Pada umumnya semua nilai THQ pada kerang A. granosa kurang dari 1. Sementara semua nilai ECR pada kerang A. granosa kurang dari 10-4 pada bulan Agustus 2020. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kerang A. granosa yang terdapat di perairan Tambak Lorok Semarang masih bisa untuk dikonsumsi. Dan tidak ada efek buruk kesehatan non-karsinogenik. Namun pada bulan Agustus 2020 memiliki efek karsinogenik. apabila masyarakat mengkonsumsi daging kerang A. granosa yang terpapar logam berat kadmium (Cd). Tambak Lorok Waters in Semarang is an area that has many industrial activities. A large number of industrial activities in Tambak Lorok Semarang waters can cause a high number of environmental pollution, especially heavy metals. This study aims to determine the content of heavy metal Cd (cadmium) in blood clams (Anadara granosa) found in Tambak Lorok waters Semarang. Based on the metal content, an analysis of human health risk assessments was carried out. This research was conducted in March, June, July, and August 2020 in Tambak Lorok waters, Semarang. The heavy metals from these shells based on Inductively Coupled Plasma (ICP) readings showed a value of 0.280 mg/kg respectively; 0.514 mg/kg; 0.430 mg / kg; and 1.649 mg/kg. Based on the average concentration of Cd is lower than BSN (2009) that is 1 mg/kg except in August 2020. Estimated daily intake (EDI) by the community ranges from (0.000168-0.000987) mg/kg/day. Then, the target hazard value (THQ) for Cd ranges (0.161-0.946). The value of ECR for Cd range between (2,6x10-5 - 1,5x10-4). In general, all THQ values in A. granosa shells are less than 1. And then for all ECR value in A. granosa was less than 10-4. Based on this research, it can be concluded that A. granosa shells found in Tambak Lorok Semarang waters are still able for consumption. And there are no adverse non-carcinogenic health effects. But in August 2020 it has a carcinogenic effect. if people consumed A. granosa exposed by heavy metal cadmium (Cd).
PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG KERANG SIMPING (Amusium pleuronectes) DALAM PEMBUATAN COOKIES KAYA KALSIUM Tri Winarni Agustini; A Suhaeli Fahmi; Ita Widowati
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 16 No 1 (2013): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.71 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v16i1.3422

Abstract

Asian moon scallop (Amusium pleuronectes) eggshell contain minerals expecially calcium which is needed by human. But the scallop eggshell waste have not yet been optimally used in food technologies. This research was aimed to  nd out the effect of addition of scallop shell meal to the qualities of cookies product. The process to extract calcium was done by hydrolysis of protein using acid solution (HCl). The threatments implemented are different concentration of Asian moon scallop eggshell meal of 0%, 5% and 7.5% into cookies dough. Research result showed that increasing on concentration of Asian moon scallop eggshell meal gave highly signi cant effect(&alpha; 0.01) to moisture, ash, fat, protein, calcium, phophorus and hardness of cookies. However, it gave no signi cant effect (&alpha; 0.01) to hedonic test. The addition of Asian moon scallop eggshell meal of 7.5% concentration resulted in highest calcium content (6.57%), phosphorus content (1.58%), ash content (6.95%), carbohydrate content (52.31%) and hardness of cookies (1.06 KgF). Based on hedonic test the addition of asian moon scallop eggshell meal of 5% concentration was the most acceptable by panelist.Keyword : Asian moon scallop (Amusium pleuronectes) eggshell meal; calcium; phosphorus; cookies
PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG KERANG SIMPING (Amusium pleuronectes) DALAM PEMBUATAN COOKIES KAYA KALSIUM Tri Winarni Agustini; A Suhaeli Fahmi; Ita Widowati; Agus Sarwono
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 14 No 1 (2011): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.71 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v14i1.3423

Abstract

Asian moon scallop (Amusium pleuronectes) eggshell contain minerals expecially calcium which is needed by human. But the scallop eggshell waste have not yet been optimally used in food technologies. This research was aimed to  nd out the effect of addition of scallop shell meal to the qualities of cookies product. The process to extract calcium was done by hydrolysis of protein using acid solution (HCl). The threatments implemented are different concentration of Asian moon scallop eggshell meal of 0%, 5% and 7.5% into cookies dough. Research result showed that increasing on concentration of Asian moon scallop eggshell meal gave highly signi cant effect(&alpha; 0.01) to moisture, ash, fat, protein, calcium, phophorus and hardness of cookies. However, it gave no signi cant effect (&alpha; 0.01) to hedonic test. The addition of Asian moon scallop eggshell meal of 7.5% concentration resulted in highest calcium content (6.57%), phosphorus content (1.58%), ash content (6.95%), carbohydrate content (52.31%) and hardness of cookies (1.06 KgF). Based on hedonic test the addition of asian moon scallop eggshell meal of 5% concentration was the most acceptable by panelist.Keyword : Asian moon scallop (Amusium pleuronectes) eggshell meal; calcium; phosphorus; cookies
Studi Tentang Pertumbuhan Mikroalga Chlorella vulgaris yang Dikultivasi Berdasarkan Sumber Cahaya yang Berbeda Teni Novianti; Muhammad Zainuri; Ita Widowati
Mangifera Edu Vol 1 No 2 (2017): Mangifera Edu
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.087 KB) | DOI: 10.31943/mangiferaedu.v1i2.67

Abstract

Chlorella vulgaris termasuk salah satu jenis fitoplankton dalam kelas Chlorophyceae(alga hijau) yang dapat dimanfaatkan sebagai suplemen dan pakan alami. Untukmemaksimalkan pertumbuhan Chlorella vulgaris yang dapat menghasilkan biomassamembutuhkan sumber cahaya buatan terbaik.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pola pertumbuhan Chlorellavulgaris yang dikultivasi pada sumber cahaya yang berbeda.Hasil penelitian menunjukan penggunaan sumber cahaya neon yang ditambahkanLED berwarna merah, hijau dan biru dengan kepadatan awal inokulum 100 x 104sel/ml memperoleh hasil pertumbuhan Chlorella vulgaris tertinggi pada sumber cahaya LEDmerah sebesar 11.500 x 104 sel/ml. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian yaituDO berkisar antara 6-7 ppm, suhu air berkisar antara 27-29 oC, pengukuran salinitaspada media kultur Chlorella vulgaris berkisar antara 30-32 ppt dan pH berkisar antara 7-8.
Domestication of Red Seaweed (Gelidium latifolium) in Different Culture Media Andri Wijayanto; Ita Widowati; Tjahjo Winanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.322 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.25.1.39-44

Abstract

Gelidium latifolium is one of red seaweed types potentially can be developed as an industrial raw material. Since Gelidium is currently taken from ocean, the availability of seaweed from aquaculture is necessary to overcome the small number of its availability in nature. In Indonesia, G. latifolium cultivation has not been carried out so that domestication is required. The use of macro and micro nutrients in growth media is essentially needed for the domestication process. Domestication requires fast media and place for growth. The purpose of this study is to determine the growth of biomass and the survival of G. latifolium in different culture media. The study was conducted in a semi-outdoor research laboratory. The method used in this research is laboratory experimental method and Completely Randomized Design (CRD) with the treatment applied using 3 types of culture media (Urea: Za: TSP) by comparison (A) 100: 50: 50% (2 g.L-1), (B) 75: 75: 50% (2 g.L-1) and (C) 75: 50: 75% (2 g.L-1), with 3 replications. The seaweed was kept in 10 L of water in aeration equipped aquarium and filled with 10 g of G. latifolium on each treatment. The best growth rate of G. latifolium biomass is 5.67± 0.58 g and 100±0% are survived in C culture medium with a concentration of 75% Urea: 50% ZA: 75% TSP (2 g.L-1).
Co-Authors - Desrina, - A Suhaeli Fahmi Abdul Ghofar Adi Santoso Adi Santoso Agus Sabdono Agus Sarwono Agus Trianto Agus Trianto Aldi Rivaldy Maulana Ali Ridlo Ambariyanto Ambariyanto Ambariyanto Ambariyanto Andri Wijayanto Anicia Hurtado Anindya Wirasatriya Antonius Budi Susanto Arif Rahman Arya Fernandes Ayu Safitri Bachtiar, Muggi Bambang Cahyono Bayu Legowo Chrisna Adhi Suryono Christel Marty Diah Permata Wijayanti Dimas Judah Mozes Kalangie Dion Ragil Saputra Dion Ragil Saputra Djoko Suprapto Doresti, Livvy Dwi Lestari Widya Ningsih Eduard Meirenno Tielman Eduard Meirenno Tielman Eka Maya Kurniasih, Eka Maya Elsa Lusia Agus Endang Supriyantini Endang Supriyantini Erian Febri Satriawan Ervia Yudiati Ervia Yudiati Erwin Ivan Riyanto Erwin Ivan Riyanto Fabian Panji Ayodya Fadhel Muhammad Juharna Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Ginzel, Fanny Iriany Ginzel, Fanny Iriyany Hadi Endrawati Hakim, Muhamad Fikri Hudi Nur Haviz Rachman Nursalim Haviz Rachman Nursalim Hendi Perdian Yunianto Hendi Perdian Yunianto Herlina Lestari Pakpahan Hermin Pancasakti Kusumaningrum Heru Kurniawan Alamsyah Husnan Azhar Husnan Azhar Ika Wulan Santi Ika Wulan Santi Imai Hideyuki Iqomatuddin, Muhammad Irwan Effendi Irwani Irwani Ita Riniatsih Johannes Hutabarat Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Supriyanto Kalangie, Dimas Judah Mozes Karina Dewiningsih Khairunnisa Khairunnisa Kholilah, Nenik Kolilah, Nenik Kristi, Roselina Nadya Liningga Adiningtyas Lisa F. Indriana Lisa F. Indriana Livvy Doresti Manullang, Corry Yanti Manullang, Corry Yanti Maya Puspita Michael Abbey Michael Abbey Mimie Saputri Mimie Saputri, Mimie Muhamad Fikri Hudi Nur Hakim Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muji Wasis Indriyawan, Muji Wasis Muliawati Handayani Mustagfirin Mustagfirin Mustagpirin Mustagpirin Nadaa Salsabiila Nuri Nathalie Bourgougnon Nathalie Bourgougnon Novianti, Teni Nugroho, Suciadi Catur Nursalim, Nining Ocky Karna Radjasa Pakpahan, Herlina Lestari Pangga, R. M. Dio Dwi Panji Ayodya Petta, Constantein Ramadhani, Muhammad Rizqi Retno Hartati Rexie Magdugo Ria Azizah Tri Nuraini Riza, Subkhan Rohimat Rohimat Rohimat Rohimat Rohmaniyah, Lailatur Rudhi Pribadi Satriawan, Erian Febri Satrio Fahrul Ananda Setyati, Willis Ari Sri Redjeki Sutrisno Anggoro Sutrisno Anggoro Syukur Syukur Teni Novianti Teni Novianti Tielman, Eduard Meirenno Tjahjo Winanto Tri Winarni Agustini Triana Hanani Valerie Stiger-Pouvreau Wahyudi, Yudisthio Wibowo, Muhammad Reyhan Widianingsih Widianingsih Wijayati, Diah Permata Wilis Ari Setyati Willis Ari Setyati Wora, Umbu Domu Yann Hardivillier Yoki Ristadi Yuni Karnisa Zhulian Hikmah Hasibuan