Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Studi Kasus: Penanganan Hernia Inguinalis pada Anjing Campuran Pomeranian Betina dengan Pembedahan Tahalli, Tahalli; Dada, I Ketut Anom; Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 9 (4) 2020
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2020.9.4.650

Abstract

Hernia inguinalis merupakan protursi dari suatu organ atau bagian dari organ, lemak atau jaringan melalui cincin inguinal, yaitu diantara pangkal paha dan otot perut. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk mengetahui cara mendiagnosis, penanganan dan pengobatan kasus hernia inguinalis pada anjing. Seekor anjing campuran Pomeranian berumur tiga tahun dengan berat badan 4 kg, dengan warna rambut putih, berjenis kelamin betina, telah didiagnosis menderita hernia inguinalis dengan prognosis fausta. Metode pengobatan yang dipilih adalah tindakan pembedahan. Sebelum dilakukan pembedahan, anjing kasus diberikan premedikasi menggunakan atropin sulfat 0,03 mg/kg BB dan sebagai anestesi digunakan kombinasi ketamin dan xylazin. Dosis ketamin diberikan 13 mg/kg BB dan xylazin 2 mg/kg BB. Anjing ditangani dengan pembedahan, insisi dilakukan pada kulit dan subkutan tepat di atas cincin hernia hingga terlihat isi hernia. Selanjutnya dilakukan reposisi dengan cara memasukkan isi hernia ke dalam rongga abdomen. Setelah reposisi, pada bagian tepi cincin hernia dibuat luka baru untuk memungkinkan terjadinya penyatuan jaringan. Kemudian dilakukan penjahitan pada peritoneum dengan polyglycolic acid 3.0 dengan pola jahitan terputus sederhana, jahitan subkutan menggunakan catgut 3.0 dengan pola jahitan menerus sederhana dan pada kulit dijahit menggunakan pola jahitan terputus sederhana menggunakan benang silk 3.0. Pasca operasi diberikan antibiotik injeksi amoxicillin 1 ml/10 kg BB yang dilanjutkan dengan pemberian obat peroral yaitu antibiotik amoxicillin 500 mg (20 mg/kg BB) selama tujuh hari, pemberian analgesik meloxicam 7,5 mg (0,2 mg/kg BB) selama lima hari. Satu minggu kemudian anjing dinyatakan sembuh berdasarkan keadaan fisik dan klinis.
Laporan Kasus: Penanganan Bedah pada Kista Multiple Kelenjar Sebaseus pada Anjing Persilangan Pomeranian Marzuki, Mildawati; Wirata, I Wayan; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.326

Abstract

Kista sebaseus adalah istilah yang menunjukkan kista subkutan yang terjadi karena obstruksi pembukaan duktus pilosebaceous. Sebasea diproduksi oleh kelenjar sebasea yang pada umumnya berhubungan dengan folikel rambut. Seekor anjing persilangan pomeranian berumur enam tahun, bobot badan 5,8 kg dan berjenis kelamin jantan diperiksa di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan terdapat penonjolan pada bagian inter digitalis kaki kiri depan. Menurut hasil pemeriksaan histopatologi terhadap biopsi tumor tersebut yang dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar, didiagnosis mengalami kista kelenjar sebasea. Kista ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi). Premedikasi yang diberikan berupa atropin sulfat 0,5 mL dan anestesi yang digunakan berupa ketamin 0,6 mL dan xylazin 0,3 mL. Insisi dilakukan pada bagian pangkal kista kemudian dilakukan preparasi untuk membuka bagian kulit dan eksisi jaringan kista secara menyeluruh, kemudian jaringan dipindahkan dan dilakukan penjahitan pada daerah sayatan. Anjing diberi antibiotik amoksisilin trihidrat 250 mg dua kali sehari 0,5 tablet secara per oral, selama tujuh hari dan asam mefenamat 500 mg dua kali sehari 0,5 tablet secara per oral, selama lima hari. Penanganan pascaoperasi pada kasus ini disarankan untuk membatasi gerak pasien, menjaga kebersihan luka, dan rutin melakukan pengecekan terhadap luka dengan mengganti perbannya.
Laporan Kasus: Penanganan Fraktur Diafisis Tulang Kering dan Tulang Betis pada Anjing Persilangan Pomeranian Mahpuz, Lalu Rian; Wirata, I Wayan; Wandia, I Nengah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (2) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.2.281

Abstract

Fraktur tibia fibula adalah terputusnya kontinuitas pada tulang tibia fibula akibat pukulan langsung, jatuh dalam posisi plexi atau gerakan memuntir yang keras. Hewan kasus merupakan seekor anjing peranakan pomeranian berumur enam bulan, berjenis kelamin jantan diperiksa dan bobot badan 5,2 kg di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami pincang pada kaki belakang kanan, secara tidak sengaja tertabrak motor saat melintas dijalan raya. Nafsu makan dan minum anjing kasus baik. Hasil pemeriksaan radiografi, anjing mengalami fraktur diafisis pada tibia fibula kanan jenis oblique dengan prognosis fausta. Anjing ditangani dengan fiksasi internal menggunakan wire atau kawat. Hewan diberikan premedikasi berupa atropine sulfat secara subkutan, dan kombinasi anestesi ketamin dan xylazin diberikan secara intravena. Selama operasi digunakan isofluran sebagai anestesi inhalasi untuk maintenance anestesi. Pembedahan dilakukan dengan insisi kulit dan subkutan pada bagian medial tibia fibula, kemudian menguakkan otot-otot muskulus fibularis longus dan musculus flexor digitorum medialis sehingga bagian patahan tulang terlihat. Selanjutnya, tulang direposisi pada kedudukan semula secara manual, dilakukan pemasangan wire pada patahan tulang. Pada daerah operasi dilakukan pembersihan menggunakan cairan NaCl kemudian ditetesi dengan antibiotik penisilin dan streptomisin 1%. Otot dan subkutan dijahit dengan pola sederhana menerus menggunakan chromic catgut 2/0, serta kulit dijahit dengan pola terputus menggunakan silk 2/0. Pasca operasi diberikan antibiotik amoxicillin, analgesik meloxicam, dan terapi supportif kalsium laktat. Dua minggu pasca operasi sudah terbentuk kalus pada bagian diaphisis tibia fibula yang patah dan anjing sudah bisa berjalan dengan baik.
Gambaran Total Leukosit Darah Kelinci Pasca-implantasi Bahan Cangkok Demineralisasi Asal Tulang Sapi Bali Putra, Komang Darma Yudha; Utama, Iwan Harjono; Wirata, I Wayan; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.58

Abstract

Cangkok tulang xenograft, salah satunya dengan menggunakan tulang sapi, sering digunakan pada perlakuan ortopedik untuk melakukan implantasi. Implantasi bisa dilakukan dari bahan cangkok demineralisasi asal tulang sapi bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan bahan cangkok demineralisasi asal korteks tulang femur sapi bali terhadap kondisi fisiologis hewan model dilihat dari aspek jumlah total leukosit. Jumlah leukosit dapat menjadi acuan untuk mengetahui kondisi responsif tubuh terhadap adanya material asing. Sepuluh ekor kelinci digunakan dalam penelitian ini dan dibagi atas dua kelompok. Setiap kelinci pada setiap kelompok dibuat sebuah lubang dengan diameter 5 mm pada diafisis tulang femur kelinci. Pada Kelompok Kontrol lubang tidak diimplantasi bahan cangkok, sedangkan pada Kelompok Perlakuan, lubang dimplantasi bahan cangkok demineralisasi. Dilakukan pemeriksaan hematologi selama enam minggu dengan interval waktu dua minggu, yaitu hari ke-0 (24 jam), minggu ke-2, 4 dan 6 pasca operasi untuk pemeriksaan jumlah total leukosit yang kemudian diuji secara statistik dan disajikan secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa implantasi bahan cangkok demineralisasi asal tulang sapi bali pada hewan uji selama enam minggu tidak menyebabkan perubahan jumlah total leukosit dari nilai rujukan normal. Bedasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahan cangkok demineralisasi asal korteks tulang femur sapi bali tidak mengalami penolakan pada tubuh hewan uji.
PELAYANAN KESEHATAN HEWAN PADA SAPI BALI DI DESA SUSUT, KECAMATAN SUSUT, KABUPATEN BANGLI. Luh Made Sudimantini; I Wayan Nico Fajar Gunawan; i Wayan Wirata; Luh Gde Sri Surya Heryani
Buletin Udayana Mengabdi Vol 19 No 2 (2020): Buletin Udayana Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.901 KB)

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kesehatan hewan ternak, manajemen pemeliharaan ternak serta penanggulangan penyakit pada hewan ternak sehingga dapat meningkatkan dan menekan angka kerugian ekonomi peternak sapi Bali dan dapat meningkatkan swasembada daging sapi di Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam bentuk pelayanan kesehatan dengan pengumpulan ternak sapi pada suatu tempat berupa pemberian vitamin, obat cacing dan spraying terhadap ternak yang sehat dan melakukan pengobatan terhadap ternak yang sakit, serta diskusi dengan peternak tentang arti penting memelihara kesehatan ternak. Sasaran kegiatan pengabdian berupa diskusi dengan peternak sapi dan pelayanan kesehatan ternak sapi bali di Simantri 268, Gapoktan Merta Shanti Desa Susut, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Jumlah hewan sapi yang dilayani pada pelaksanaan ini sebanyak 24 ekor sapi. Pelayanan kesehatan hewan ternak berupa pemberian vitamin (24 ekor), obat cacing (20 ekor), spraying butox (24 ekor) serta pemberian injeksi ivomec (2 ekor) bagi hewan yang mengalami gatal-gatal pada kulit.
REVALENSI PORCINE CIRCO VIRUS SECARA SEROLOGIS PADA PETERNAKAN BABI DI BALI I Nyoman Suartha; I Made Suma Anthara; Wayan Wirata; Ni Made Ritha Krisna Dewi; I Gusti Ngurah Narendra; I Gusti Ngurah Mahardika
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.488 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2790

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui seroepidemiologi infeksi porcine circo virus (PCV-2) dua pada peternakan babi di Bali. Pada penelitian ini sampel yang dianalisis sebanyak 295 sampel. Sampel berasal dari peternakan babi rakyat sebanyak 98 dan dari peternakan babi intensif sebanyak 197. Sampel berasal dari delapan kabupaten dari sembilan kabupaten yang ada di Bali. Deteksi antibodi dilaksanakan dengan uji enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan deteksi virus dilakukan dengan polymerase chain reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seroprevalensi antibodi anti-PCV-2 adalah 84,1%, dengan sebaran di peternakan rakyat dan peternakan intensif masingmasing sebesar 70,4 dan 91,2%. Semua peternakan babi intensif menunjukkan antibodi positif. Prevalensi virus PCV-2 di seluruh Bali sebesar 1,7% dengan sebaran pada peternakan rakyat peternakan intensif masing-masing sebesar 3,1 dan 1,0%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa infeksi PCV-2 pada peternakan babi di Bali bersifat endemis.
CASE REPORT: OS FEMORAL AND OS TIBIAL DIAPHYSIS FRACTURE ON LOCAL DOG Maria Clafita Witoko; I Wayan Wirata; Anak Agung Jaya Wardhita
Journal of Veterinary and Animal Sciences Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Institute for Research and Community Service, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JVAS.2021.v04.i02.p05

Abstract

Abstract.The purpose of this study was to determine the open reduction internal fixation on femoral and tibial diaphysis oblique fractures on a local dog. A physical, hematological, and radiography examinations had been conducted on a 7-months-old female dog, weighing 8 kg at the Animal Educational Hospital, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University. Based on the result of the examinations, the animal was diagnosed with sinister caudal extremity femoral and tibial diaphysis oblique fractures with fausta prognosis. Open reduction surgery was conducted to return the fractured bones back to its normal position. Post operation, the animal was administrated intramuscularly with 0,8 ml of long acting amoxicillin (Longamox), continued with amoxicillin and clavulanic acid (Claneksi Forte) with 2 x 2 ml as given dosage for 10 days after surgery and Meloxicam tab 7,5mg with 1 x 0,8 mg as given dosage for 5 days after surgery.
Komunikasi Cultural Resource Management Perang Topat Di Pura dan Kemaliq Lingsar Aryawati, Ni Made Chandri; Wirawan, I Wayan Ardhi; Wirata, I Wayan
Guna Sewaka Vol 1 No 2 (2022)
Publisher : IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.982 KB) | DOI: 10.53977/jgs.v1i2.667

Abstract

This study aims to conduct a study of the Communication Cultural Resource Management of Topat War at Lingsar Temple Park. This phenomenon is closely related to the public's contribution as a party that plays a role in socio-cultural interaction in an area. Therefore, intercultural communication can be a means used to achieve common goals. There are three problems in this study, namely the form of communication, communication strategies, and the impact of intercultural communication on the implementation of the Topat War Cultural Resource Management in Lingsar. This study uses an interpretive qualitative design of a case study model in order to analyze the communicative events that occurred in the practice of the Topat War holistically as well as to attach the meaning contained in these events. The results of this study found three findings that became the answer to the formulation of the problem, namely, 1) The form of intercultural communication in the application of the Topat War Cultural Resource Management in Lingsar, namely inter-ethnic communication and sub-cultural communication because it includes Balinese Hindu community groups and Sasak Islam Wetu Telu as well as the local government. 2) The communication strategy is carried out by maintaining coordination and communication and trying to increase awareness of the preservation of cultural heritage. 3) The impact of intercultural communication can increase government and public awareness to maintain and manage the site.
The Teaching Of Dasa Sila In Sila Kramaning Aguron-Guron Text From The Communicative Attitude Perspective Wirawan, I Wayan Ardhi; Wirata, I Wayan; Budhawati, Ni Putu Sudewi; Mahardika, Gede; Ningrat, Jro Ayu
Samvada : Jurnal Riset Komunikasi, Media, dan Public Relation Vol 2 No 2 (2023): Samvada November 2023
Publisher : IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53977/jsv.v2i2.1309

Abstract

This article aims to analyze the teachings of the basic principles contained in the Lontar “sila kramaning aguron-guron” which focuses on the formal objects of communicative attitudes. The focus of the analysis is on the attitude dimension which relies on the teachings of dasa sila, namely ten principles as a guideline for the behavior of sisya (students) in order to improve the quality of spiritual life. This article uses interpretive qualitative methods in analyzing texts using content analysis techniques and hermeneutic methods to interpret the meaning of the text being analyzed. Based on the results of the analysis, it was found that the teachings of the ten principles in the perspective of communicative attitudes emphasize ethics in behavior, both verbally and non-verbally. There are ten human sensory organs that need to be controlled as tools to improve the quality of life of spiritual sisya, consisting of caksuindriya, srotendriya, granendriya, wakindriya, jihwendriya, panindriya, padendriya, paywindriya, pastendriya, and wikindriya. These ten sense organs must be controlled properly and correctly. The basic principles of indriya are a guide to action that must be adhered to by the side in their behavior to improve the quality of life spiritually. The dasa sila, namely ten basic teaching elements of the precepts are communicative actions taught by teachers to their sisya.
Mammary Tumors in Dogs, Recent Perspectives and Antiangiogenesis as a Therapeutic Strategy: Literature Study Sewoyo, Palagan Senopati; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Winaya, Ida Bagus Oka; Wirata, I Wayan
Jurnal Medik Veteriner Vol. 6 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol6.iss2.2023.271-287

Abstract

A particular type of tumor that is frequently detected in female dogs who are sexually active is a mammary tumor. Neoplasia results from DNA-based alterations in cell cycle regulating genes. The mammary gland is prone to the formation of tumors due to its dynamic structure. The development of this tumor is supported by numerous variables. It has been recently discovered that there is substantial evidence linking the BRCA2 gene to the process of cancer. Standard examination techniques, such as fine needle aspiration, histopathology, and immunohistochemistry, are used along with ancillary tests to determine the tumor type and degree of malignancy. The primary treatment option for malignant tumors is surgical resection followed by adjuvant chemotherapy; benign tumors necessitate surgical resection as well. Adjuvant therapy options include hormone therapy and non-steroidal anti-inflammatory medications. Tumor tissue undergoes angiogenesis as it grows and develops to accommodate the abundant supply of nutrients. Therefore, angiogenesis-inhibiting therapies can be utilized to halt the growth of tumor cells. A number of antiangiogenic medications are now being studied in clinical settings on humans, and several more are undergoing trials on animals. In addition to pharmaceuticals, viruses may be used as a therapeutic to block tumor angiogenesis.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Adigunawan, I Wayan Widya Agatha Serena Lumban Tobing Amelia Avianti Saritjang Anak Agung Ayu Mirah Adi Anak Agung Gde Jaya Wardhita, Anak Agung Gde Jaya Anak Agung Gde Oka Darmayudha Anak Agung Gde Oka Dharmayudha Anak Agung Jaya Wardhita Anastasia Bhala Andini, Ni Made Ria Antari, Gusti Ayu Made Sri Arif Rahman Aryawati, Ni Made Chandri Ayu Ratnasari Bravanasta Glory Rahmadyasti Utomo Brotcorne, Fany BUDHAWATI, NI PUTU SUDEWI Deo Lauda Putra Dewi, Kadek Evi Dian Puspita Gede Mahardika Gunawan, I Wayan Nico Fajar Gunawan, Stefanus Andre I Gede Soma I Gusti Agung Arta Putra I Gusti Agung Gede Putra Pemayun I Gusti Made Krisna Erawan I GUSTI NGURAH DIBYA PRASETYA I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Ngurah Mahardika I Gusti Ngurah Mahardika I Gusti Ngurah Narendra I Gusti Ngurah Narendra Putra I Gusti Ngurah Narendra Putra1, I Gusti Ngurah Narendra, I Gusti Ngurah I Gusti Ngurah Sudisma I KADEK SAKA WIRYANA I Ketut Anom Dada I Ketut Berata I Ketut Eli Supartika I Made Kardena I Made Merdana I Made Sukada I MADE SUMA ANTARA I Made Suma Anthara i Nengah Wandia I Nyoman Suartha I Nyoman Surya Tri Hartaputera I Wayan Ardhi Wirawan I Wayan Batan I Wayan Bebas I Wayan Gorda I Wayan Juli Sumadi I Wayan Sumertha I Wayan Supatra I Wayan Sutama I wayan Teguh Wibawan Ida Ayu Sri Chandra Dewi Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Oka Winaya Iwan Harjono Utama Kadek Karang Agustina Komang Darma Yudha Putra Luh Gde Sri Surya Heryani Luh Made Sudimantini Luh Made Sudimantini Luh Made Sudimartini Made Sudarma Made Suma Anthara Made Sutha Yadnya Maria Clafita Witoko Mildawati Mildawati Ni Kadek Eka Widiadnyani Ni Komang Wiasti Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Sinar Ayu Ratna Dewi Ni Made Rita Krisna Dewi Ni Made Ritha Krisna Dewi Ni Made Ritha Krisna Dewi Ni Putu Sasmika Dewi Ni Putu Trisna Asih Ningrat, Jro Ayu Prastiwi, Wida Samining Purbantoro, Steven Dwi Putra, Komang Darma Yudha Putu Henrywaesa Sudipa Rieka Yulita Widaswara Rohmandhani, Roby Saridewi, Desak Putu Sasmita, Debbie Aprillia Yona Sewoyo, Palagan Senopati Steven Dwi Purbantoro Steven Dwi Purbantoro Suci Raditya Yadnya Sudarsini, Nengah Surbakti, Yeyen Fami Gressia Br Tahalli, Tahalli Tanurahardja, Viviana Anyaputri Tessa Saputri Marmanto TRI KOMALA SARI Trismia Indriyani, Ni Putu Warditha, Anak Agung Gde Jaya Wayan Herry Gumawan Wiasti, Ni Komang Wulandari Wulandari