Claim Missing Document
Check
Articles

DIETARY INTAKE AND SUN EXPOSURE RELATED TO VITAMIN D CONCENTRATION IN THALASSEMIA PATIENTS: A LITERATURE REVIEW Yesi Herawati; Gaga Irawan Nugraha; Dida Akhmad Gurnida
Media Gizi Indonesia Vol. 16 No. 3 (2021): JURNAL MEDIA GIZI INDONESIA (NATIONAL NUTITRION JOURNAL)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v16i3.238-247

Abstract

Vitamin D has an important role in calcium homeostasis and bone minerals during rapid growth periods. Several studies have shown that deficiency of vitamin D occurs in thalassemia patient. The study used literature review to determine relation of dietary intake and sun exposure with vitamin D concentration in thalassemia patiens in 29 literatures. Those literatures were taken from books and articles published from 2010 to 2019 with the keywords “thalassemia”, “dietary intake”, “sun exposure” and “vitamin D” using database in Pubmed, Google Scholar and Medline. The results of 29 literatures showed that vitamin D deficiency is caused by reduced dietary intake and impaired vitamin D hydroxylation in the liver due to hemochromatosis resulting in high serum ferritin. Source of vitamin D comes from endogenous synthesis with sunlight exposure and little dietary source of vitamin D2 and vitamin D3. Another food intake can also affect serum vitamin D concentration, mainly fat and protein intake. Vitamin D is fat soluble vitamin, it can    be stored in the fat for later metabolized in the liver. Protein is required to transport vitamin D to blood circulation, enzyme formation and vitamin D receptor (VDR). Thalassemia patients need to increase of macro and micronutrients requirement. Low Hb concentration causes fatigue, tired easily and decreased appetite. A lot of research on thalassemia children found that intake of energy and protein were lower than recommended and lack of sun exposure. These conditions will affect to vitamin D concentration. A comprehensive understanding in the relationship of dietary intake and sun exposure to vitamin D concentration in thalassemia patients is explained in this mini review. Maintaining normal vitamin D concentration through adequate dietary intake and sun exposure are very important to optimize growth in thalassemia patients.
Hubungan Kadar Feritin dan Ion Kalsium Serum pada Penyandang Thalassemia Mayor Anak yang Mendapat Transfusi Berulang Mercy Amelia; Dida Akhmad Gurnida; Lelani Reniarti
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.1-4

Abstract

Latar belakang. Kadar feritin tinggi akibat transfusi berulang menyebabkan kerusakan calcium sensing receptor pada sel paratiroid dan kerusakan sel hati. Terjadi kegagalan stimulasi sekresi hormon paratiroid dan pembentukan 25(OH)D3 sehingga absorbsi kalsium terhambat, terjadi hipokalsemia.Tujuan. Menentukan hubungan feritin dengan ion kalsium serum dilakukan pemeriksaan feritin dan ion kalsium serum.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Mei–Juni 2013, 40 penyandang thalassemia usia 5–14 tahun yang mendapat transfusi berulang dilibatkan. Metode ECLIA (electrochemiluminescent immunoassay) digunakan untuk pemeriksaan kadar feritin serum dan ISE (ion selective electrode) untuk kadar ion kalsium serum. Perbandingan ditentukan dengan uji Mann-Whitney dan Kruskal-Wallis dan analisis faktor risiko dengan uji regresi logistik multipel.Hasil. Didapat 40 subjek, 32 subjek menderita malnutrisi ringan dan 4 subjek mengalami anemia gravis. Duapuluh dua subjek mengalami hipokalsemi. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan kadar feritin serum memiliki hubungan bermakna dengan hipokalsemia (p<0,001, rasio odd 76,5). Faktor usia onset transfusi, penggunaan kelasi, dan frekuensi transfusi tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian hipokalsemia.Kesimpulan. Kadar feritin serum berhubungan dengan hipokalsemia pada penyandang thalassemia mayor anak yang mendapat transfusi berulang.
Kemampuan Alat Deteksi Dini Risiko Malnutrisi Menurut American Society for Parenteral and Enteral Nutrition pada Anak 6-60 Bulan oleh Orang Tua Syarifah Prita Yulianty; Dida Akhmad Gurnida; Alex Chairulfatah
Sari Pediatri Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.691 KB) | DOI: 10.14238/sp21.1.2019.50-6

Abstract

Latar belakang. Status gizi merupakan faktor penting dalam perkembangan dan pertumbuhan anak terutama usia 6−60 bulan yang rentan terjadinya malnutrisi. Deteksi risiko malnutrisi merupakan tugas semua pihak termasuk orang tua, Selama ini dilakukan oleh dokter dan ahli gizi, tidak ada alat skrining yang dapat digunakan orang tua. American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN) mengeluarkan panduan mendeteksi risiko malnutrisi pada anak oleh orang tua.Tujuan. Menilai kemampuan alat deteksi dini risiko malnutrisi menurut ASPEN oleh orang tua. Metode Penelitian uji diagnostik ini dilakukan dari September hingga Oktober 2018 di 3 Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sukajadi, Bandung, Indonesia dan melibatkan 75 pasang orang tua dan anak berusia 6–60 bulan. Pemilihan tempat dan subjek penelitian dilakukan secara purposive cluster sampling. Orang tua melakukan penilaian mengenai risiko pada anaknya menurut ASPEN, status gizi anak dinilai berdasarkan perbandingan berat badan (BB) dengan tinggi badan (TB). Anak dinilai memiliki risiko malnutrisi menurut metode ASPEN bila ada minimal salah satu jawaban ‘iya’ dari 9 kriteria pertanyaan, anak dinilai mempunyai risiko malnutrisi menurut peneliti bila ditemukan pemeriksaan antropometri Z-Score <-1 SD. Uji diagnostik terhadap metode ASPEN dilakukan dengan baku emas BB/TB.Hasil. Uji diagnostik menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif dan negatif sebesar masing masing 78,95 %, 28,57 %, 27,27 dan 80%. Dengan rasio kemungkinan positif sebesar 1,1053 dan rasio kemungkinan negatif sebesar 0,7368.Kesimpulan. Malnutrisi tidak jarang ditemukan, sehingga walaupun memiliki spesifitas yang tidak begitu tinggi metode ASPEN berguna bagi orang tua dalam mengawasi status gizi anak.
Korelasi antara Nilai Red Cell Distribution Width dengan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak dengan Gagal Jantung Akibat Penyakit Jantung Rematik Carla Pusparani; Sri Endah Rahayuningsih; Dida Akhmad Gurnida
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.158-63

Abstract

Latar belakang. Proses inflamasi berkaitan dengan kondisi anisositosis dan gagal jantung yang terjadi secara paralel sehingga menjadikan red cell distribution width (RDW) sebagai penanda yang handal untuk disfungsi jantung. Di negara berkembang, gagal jantung pada anak paling banyak diakibatkan oleh penyakit jantung rematik (PJR). Penelitian mengenai korelasi antara nilai RDW dan fungsi ventrikel kiri yang dinilai dengan ekokardiografi pada anak dengan gagal jantung akibat PJR belum pernah dilakukan sebelumnya.Tujuan. Mengetahui korelasi antara nilai RDW dengan fungsi ventrikel kiri pada anak dengan gagal jantung akibat PJR.Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang pada pasien gagal jantung akibat PJR yang berusia <18 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin periode September 2020–Februari 2021. Anamnesis, pemeriksaan fisis, laboratorium, dan ekokardiografi dilakukan pada semua subjek. Penilaian fungsi ventrikel kiri berdasarkan pengukuran fraksi ejeksi (EF), pemendekan fraksi (FS), gelombang E, A, dan rasio E/A. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil. Kami melakukan analisis pada 34 subjek. Kelompok usia terbanyak 11–15 tahun (64,7%). Derajat keparahan gagal jantung terbanyak adalah NYHA kelas II (41,1%). Rata-rata hasil EF, FS, gelombang E, gelombang A, dan rasio E/A subjek penelitian adalah 68,2%; 38,64%; 1,34 cm/detik, 0,85 cm/detik, dan 1,72. Terdapat perbedaan bermakna pada gelombang A dan E antara RDW normal dan tinggi (p<0,05). Terdapat korelasi signifikan antara nilai RDW dengan gelombang E pada anak dengan gagal jantung akibat PJR (r 0,471; p=0,005).Kesimpulan. Peningkatan nilai RDW berkorelasi sedang dengan fungsi ventrikel kiri pada anak dengan gagal jantung akibat PJR.
Perbandingan Kadar Hemoglobin pada Bayi yang Diberikan Makanan Pendamping ASI Buatan Pabrik dengan Buatan Rumahan Hani Hilda Kartika; Dida Akhmad Gurnida; Aris Primadi
Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.682 KB) | DOI: 10.14238/sp20.5.2019.276-82

Abstract

Latar belakang. Anemia merupakan masalah kesehatan global di dunia. Penyebab tertinggi anemia adalah defisiensi besi, umumnya terjadi setelah usia 6 bulan saat masa penyapihan. Dinegara berkembang, orangtua lebih sering memberikan MPASI buatan rumahan yang seringkali tidak dapat memenuhi kebutuhan zat mikronutrien dibandingkan MPASI berfortifikasi buatan pabrik karena alasan ekonomi.Tujuan. Mendapatkan gambaran perbedaan kadar Hemoglobin (Hb) bayi yang diberikan MPASI buatan pabrik dengan buatan rumahan.Metode. Penelitian analitik komparatif potong lintang dilaksanakan pada Mei-Juni 2018 di wilayah kerja Puskesmas Garuda kota Bandung pada bayi usia 7-8 bulan secara consecutive sampling yang memenuhi kiteria inklusi untuk masing-masing kelompok MPASI buatan pabrik dan buatan rumahan. Dilakukan pengukuran kadar Hb dan recall pemberian makanan dalam 7 hari terakhir. Uji statistik dilakukan menggunakan uji t dan Mann Whitney dengan tingkat kemaknaan p<0,05.Hasil.Terdapat 36 bayi terbagi dalam 2 kelompok. Rerata kadar Hb bayi kelompok MPASI buatan pabrik 11,48 g/dL (0,85 SD), kelompok buatan rumahan 10,8 g/dL (1,2 SD). Didapatkan perbedaan yang bermakna antara jenis MPASI dengan kadar Hb (p<0.03).Kesimpulan.Kadar hemoglobin bayi yang mendapatkan MPASI buatan pabrik lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapatkan MPASI buatan rumahan. MPASI berfortifikasi buatan pabrik dapat diberikan sebagai salah satu upaya pencegahan anemia.
Gambaran Malnutrisi Pasien Anak Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Agustus 2019 Syifa Rahma Septiani; Dida Akhmad Gurnida; Siska Wiramihardja
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 5, No 3 (2020): Volume 5 Nomor 3 Maret 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsk.v5i3.28765

Abstract

Kondisi malnutrisi pada pasien anak yang menjalani rawat inap turut berkontribusi dalam peningkatan morbiditas, mortalitas, lama perawatan, serta biaya kesehatan.Hal ini akan berdampak pada pasien dan sistem kesehatan. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran malnutrisi pasien anak di ruang rawat inap RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif potong lintang yang dilaksanakan pada periode Agustus 2019 di ruang rawat inap Kenanga RSHS Bandung terhadap 168 pasien anak. Kriteria inklusi penelitian ini adalah pasien anak yang menjalani rawat inap pada periode Agustus 2019 dan dieksklusi pada pasien dengan penyakit hemato-onkologi. Data sekunder berat badan dan tinggi badan anak akan diplot dalam kurva pertumbuhan menggunakan aplikasi WHO Anthro. Hasil penelitian menunjukkan proporsi malnutrisi pasien usia 1- 5 tahun mencakup 47,9% dan pasien usia 5-10 tahun mencakup 40,8%. Proporsi malnutrisi tertinggi berasal dari pasien dengan penyakit metabolik, neurologi, dan infeksi. Pasien malnutrisi lebih banyak ditemukan pada pasien dengan durasi rawat inap >7 hari (47,3%) dibandingkan pasien dengan durasi rawat inap  ≤7 hari (40,5%). Kondisi malnutrisi anak di RS pusat rujukan memiliki proporsi tinggi, terutama yang memiliki underlying disease dan masa rawat inap lebih lama.Kata Kunci: Malnutrisi Rumah Sakit, Sistem Kesehatan, Status Gizi Anak
Serum Level of IL-6, Reactive Oxygen Species and Cortisol in Patients with Recurrent Aphthous Stomatitis related Imbalance Nutrition Intake and Atopy Nanan Nur'aeny; Dida Akhmad Gurnida; Oki Suwarsa; Irna Sufiawati
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol. 52 No. 3 (2020)
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.math.fund.sci.2020.52.3.3

Abstract

One of the most common oral ulcerations is recurrent aphthous stomatitis (RAS), affecting approximately 20% of the general population worldwide. The etiology of RAS is still unclear but it is considered to be multifactorial, including imbalanced nutrition intake and allergic conditions such as atopy. The purpose of this study was to investigate the differences and correlation between the serum level of IL-6, reactive oxygen species (ROS), and cortisol in RAS patients. Our study was cross-sectional and used a consecutive sampling method. There were significant differences of IL-6 and ROS levels in all groups (p = 0.000, p = 0.049 respectively) and a significant correlation between cortisol and ROS in the RAS group without atopy (r = -0.985, p = 0.015). Serum IL-6 and ROS measurement may be used for detecting RAS caused by malnutrition or atopy but not cortisol for patients without psychological stress detected. This is consistent with the results of a very strong correlation with a negative value between cortisol and ROS in RAS without atopy.
Effect of Integrated Antenatal Care Training on Midwife Service Quality Improvement Melsa Sagita Imaniar; Hadi Susiarno; Adhi Pribadi; Herry Herman; Dida Akhmad Gurnida; Hadyana Sukandar
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.705 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i2.3457

Abstract

Antenatal care (ANC) is the most effective strategy for preventing complications in pregnancy. However, the current quality of midwife antenatal care services is still considered low. One of the indicators used for assessing midwifery service quality is the technical competency indicator that includes history taking, physical examination, case management and follow up, examination recording, and effective information, communication, and education (IEC). This study aimed to measure the effect on integrated antenatal care training on the quality of midwife services. The design was a pre-test and post-test quasi-experimental study conducted in Manonjaya Public Health Center, Tasikmalaya district, from November to December 2017. Simple random sampling was applied to get 20 respondents for each intervention and control groups. The bivariate analyses used in this study were the paired t test and the Mann-Whitney test. Results showed an overall increase in service quality scores in the intervention and control groups by 5.5% and 0.86%, respectively, with a significant difference in the increase between the two groups (p<0.05). Therefore, there is a significant increase in the quality of midwife after implementing the integrated ANC module and training to midwives. PENGARUH PELATIHAN ANTENATAL CARE TERPADU TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN BIDANAntenatal care (ANC) merupakan strategi pencegahan komplikasi dalam kehamilan paling efektif. Namun, kualitas pelayanan antenatal care bidan saat ini dinilai masih rendah. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai kualitas pelayanan kebidanan adalah indikator kompetensi teknis yang meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, penatalaksanaan dan tindak lanjut kasus, pencatatan pemeriksaan, serta komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang efektif. Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh pelatihan antenatal care terpadu terhadap kualitas pelayanan bidan. Desain penelitian ini menggunakan pre-test and post-test quasi-experimental yang dilaksanakan di Puskesmas Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya dari November hingga Desember 2017. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling untuk mendapatkan 20 responden untuk tiap-tiap kelompok intervensi dan kontrol. Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor kualitas pelayanan secara keseluruhan pada kelompok intervensi dan kontrol sebesar 5,5% dan 0,86% masing-masing dengan perbedaan peningkatan yang signifikan antara kedua kelompok (p<0,05). Simpulan, terdapat peningkatan kualitas bidan yang signifikan setelah penerapan modul ANC terintegrasi dan pelatihan kepada bidan.
Eel Cookies Supplement and Incidence of Diarrhea in Children Aged 12–24 Months Nur Eva Aristina; Dedi Rachmadi; Dewi Marhaeni Diah Herawati; Hadi Susiarno; Dida Akhmad Gurnida; Deni Kurniadi Sunjaya
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3674.221 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v8i1.3885

Abstract

Diarrhea is one of the main causes of death in infants and toddlers in Indonesia. The Indonesian eel is a source of animal protein that contains high nutrients, including vitamin A and zinc, so it can be used to boost immunity. The objective of this study was to analyze the effect of eel cookies on the incidence of diarrhea in children. This was a double-blind randomized control trial (RCT) post-test study on 44 children aged 12–24 months at Garuda Public Health Center, Bandung city, who were selected using the simple random sampling method. The study was conducted for 2 months from January to February 2017. Data were analyzed using the Wilcoxon test. Results showed that there was an effect of eel cookies in reducing diarrhea incidence in toddlers (p<0.001), with no diarrhea condition seen among the toddlers among 18 children who had a history of diarrhea in the past and among 20 other children with no history of past diarrhea. In conclusion, eel cookies can reduce the incidence of diarrhea in children aged 12–24 months. Hence, it can be used as a functional food to improve child immunity as one of the efforts to prevent infectious diseases, especially diarrhea. SUPLEMENTASI COOKIES IKAN SIDAT TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BALITA USIA 12–24 BULANPenyakit diare merupakan salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan balita di Indonesia. Ikan sidat merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak mengandung vitamin A dan seng sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian cookies ikan sidat terhadap kejadian diare pada balita. Desain penelitian dengan randomized controll trial (RCT) posttest group design dengan double blind. Subjek penelitian adalah balita usia 12–24 bulan di Puskesmas Garuda Kota Bandung sebanyak 44 responden. Penelitian dilakukan selama 2 bulan mulai Januari–Februari 2017. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh pemberian cookies ikan sidat terhadap penurunan kejadian diare pada balita (p<0,001), yaitu tidak ada perubahan kondisi balita dari tidak diare menjadi diare, dan terdapat 18 balita yang pernah memiliki riwayat penyakit diare mengalami perubahan setelah diberikan perlakuan sehingga tidak mengalami diare, sedangkan 20 orang di antara yang tidak memiliki riwayat penyakit diare setelah mendapatkan perlakuan tetap tidak mengalami diare. Simpulan, terdapat pengaruh pemberian cookies ikan sidat terhadap penurunan kejadian diare pada balita usia 12–24 bulan. Oleh karena itu, cookies ikan sidat dapat digunakan sebagai makanan fungsional untuk meningkatkan imunitas anak sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit infeksi terutama diare.
Association of Chest X-Rays Features with the Length of Stay in Suspected COVID-19 Status Zulmansyah Zulmansyah; Gaga Irawan Nugraha; Dwi Agustian; Dida Akhmad Gurnida
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.315 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v9i2.7905

Abstract

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a new type of respiratory infection that first emerged in December 2019 in Wuhan, Hubei, China. COVID-19 is caused by a new variant of virus called severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Examining the chest x-rays is one technique to diagnose COVID-19. This study aims to determine the association of chest x-rays features in suspected COVID-19 patients with the length of stay at Al-Ihsan Regional General Hospital West Java Province and Banten Regional General Hospital in June–November 2020. The subject was 29 COVID-19 people were confirmed, whereas 31 people were not. The statistical analysis used Pearson correlation and multi-linear regression. This study found that tuberculosis had a strong association with length of stay (p value=0.048, association=0.4), and also there is a robust association between bilateral pneumonia and duration of stay (p value=0.028, association=0.873). A linear regression model discovery of TB chest x-rays on the subject raises the treatment by 0.5867 days. In addition, the discovery of bilateral pneumonia increases the length of stay of treatment by 0.32218 days more than the discovery of unilateral pneumonia. In general, tuberculosis, bacterial pneumonia, viral pneumonia, and bilateral pneumonia together affected the outcome of length of stay of patients with suspected COVID-19. ASOSIASI GAMBARAN RONTGEN TORAKS DENGAN LAMA RAWAT PADA PASIEN SUSPEK COVID-19Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah jenis infeksi saluran pernapasan baru yang pertama kali mewabah pada Desember 2019 di Wuhan, Hubei, Cina. COVID-19 disebabkan oleh varian virus baru yang disebut severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Pemeriksaan rontgen toraks merupakan salah satu teknik mendiagnosis COVID-19. Penelitian ini bertujuan mengetahui asosiasi gambaran rontgent toraks pada pasien suspek COVID-19 dengan lama rawat inap di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat dan RSUD Banten pada Juni–November 2020. Subjek penelitian adalah 29 orang terkonfirmasi COVID-19 dan 31 orang tidak. Analisis statistik menggunakan korelasi Pearson dan regresi multilinier. Penelitian ini menemukan bahwa tuberkulosis memiliki hubungan yang kuat dengan lama perawatan (p=0,048; asosiasi=0,4) dan juga terdapat hubungan yang kuat antara pneumonia bilateral dan lama perawatan (p=0,028; asosiasi=0,873). Penemuan model regresi linier rontgent toraks TB pada subjek meningkatkan risiko perawatan 0,5867 hari lebih lama. Selain itu, penemuan pneumonia bilateral meningkatkan risiko perawatan 0,32218 hari lebih lama dibanding dengan penemuan pneumonia unilateral. Secara umum, tuberkulosis, pneumonia bakteri, pneumonia viral, dan pneumonia bilateral secara bersama-sama berpengaruh terhadap luaran lama rawat inap pasien suspek COVID-19.
Co-Authors Abdullah Ichsan Adhi Pribadi Akhmad Yogi Pramatirta, Akhmad Yogi Alex Chairulfatah Anas Subarnas Anggraini Alam Ari indra Susanti Aris Primadi Aziz, Alamsyah Aziz, Muhammad Alamsyah Carla Pusparani Chin Annrie Eidwina Chin Annrie Eidwina, Chin Annrie Damayani, Ayi Diah Dany Hilmanto Dedi Rachmadi Deni Kurniadi Sunjaya Dewi Marhaeni Diah Herawati Dewi Marheini Diah Herawati Dicky Santosa Dwi Agustian Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Elsa Pudji Setiawati Erliana Ulfah Erwina Sumartini Fitria Nurwulansari Fransisca Sri Susilaningsih Fransisca Sri Susilaningsih Gaga Irawan Nugraha Galuhafiar Puratmaja Geraldo Laurus Giyawati Yulilania Okinarum Hadi - Susiarno Hadyana Sukandar Hadyana Sukandar Hani Hilda Kartika harahap, mustika hana Heda Melinda Nataprawira Herri S. Sastramihardja Herry Garna Herry Herman Ichsan, Abdullah Ieva Baniasih Akbar Iis Rosita Insi Farisa Desy Arya Irna Sufiawati Irvan Afriandi Jusuf Sulaeman Effendi Jusuf Sulaeman Effendi Kusnandi Rusmil Kusteja, Nadya Fauzia Larasati, Putri Argi Laurus, Geraldo Lelani Reniarti Lia Faridah Lina Ferryana Melisa Lilisari Melsa Sagita Imaniar Mercy Amelia Nanan Nur&#039;aeny Nanan Nur&#039;aeny Nanan Nur'aeny Nanan Sekarwana Novina Novina Nur Eva Aristina Nur'aeny, Nanan Nurfandi, Wendi Nurihsan, Achmad Juntika Nurul Auliya Kamila Nurwulansari, Fitria Oki Suwarsa Primadevi, Inggit Putria Rayani Apandi, Putria Rayani Rahmat Budi Kuswiyanto, Rahmat Budi Reni Ghrahani Rini Rossanti Ruswana Anwar Sembiring, Gaipyana Setyorini Irianti Siska Wiramihardja Siska Wiramihardja, Siska Siti - Damayanti Siti Aisyah Siti Nur Fatimah Siti Nur Fatimah Sri Endah Rahayuningsih Sri Endah Rahayuningsih Susiarno, Hadi Syarifah Prita Yulianty Syifa Rahma Septiani Tetty - Yuniati Tika - Lubis Tisnasari Hafsah, Tisnasari Tono Djuwantono Uni Gamayani Viiola Irene Winata Yesi Herawati Yudith Setiati Ermaya Zulmansyah , Zulmansyah