Claim Missing Document
Check
Articles

Pemetaan Luasan Ekosistem Lamun Menggunakan Citra Sentinel 2A Tahun 2018 Dan Tahun 2020 Di Perairan Desa Pengudang, Pulau Bintan Risandi Dwirama Putra; Reski Putri Handayani; Fadhliyah Idris; Mario Putra Suhana; Aditya Hikmat Nugraha
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 3 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i3.52800

Abstract

Ekosistem lamun dapat terganggu oleh berbagai faktor seperti perubahan suhu, polusi, kerusakan habitat, destructive fishing, dan pencemaran laut. Pemantauan kondisi lamun sangat penting dilakukan untuk memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga, terutama pada daerah konservasi seperti di Desa Pengudang yang menjadi wilayah konservasi lamun. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam mengamati kondisi ekosistem lamun untuk melihat perubahan yang terjadi adalah menggunakan kombinasi sistem informasi geografis dengan pengindraan jauh. Pada teknologi pengindraan jauh data yang digunakan yaitu Citra Sentinel-2A. Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan luasan lamun di perairan Desa Pengudang dengan menggunakan Algoritma Lyzenga. Metode Lyzenga dikenal dengan nama metode depth-invariant index atau metode water column correction (koreksi kolom air). Koreksi kolom air bertujuan untuk mengeliminasi kesalahan identifikasi spektrum habitat karena faktor kedalaman selanjutnya dilanjutkan dengan proses supervised classification pada citra. Luasan lamun di perairan Desa Pengudang didapatkan berdasarkan hasil analisis klasifikasi terbimbing. Citra Sentinel-2A pada tahun 2018 mencapai angka 8.43 dan pada tahun 2020 mengalami penurunan dengan angka 7.30 hektar dengan nilai uji akurasi 80%. Penurunan luas padang lamun di perairan Desa Pengudang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pencemaran minyak di wilayah Bintan yang terjadi secara teratur setiap tahun dan telah mempengaruhi kondisi ekosistem di wilayah tersebut.    Seagrass ecosystems can be disturbed by various factors such as changes in temperature, pollution, habitat destruction, and human activities, including unsustainable fishing, marine pollution, and chemical use. Therefore, monitoring the condition of seagrass ecosystems is essential to ensure the balance of the ecosystem is maintained, especially in conservation areas. Pengudang Village is one of the villages that has been designated as a seagrass conservation area. One of the ways to observe the condition of seagrass ecosystems and detect changes is to use a combination of geographic information systems and remote sensing. The data used in remote sensing technology is the Sentinel-2A image. The purpose of this research is to map the seagrass area in the waters of Pengudang Village using the Lyzenga Algorithm, also known as the depth-invariant index method or water column correction method. The water column correction method aims to eliminate errors in habitat spectral identification due to depth factors before proceeding with the supervised classification process on the image. The seagrass area in the waters of Pengudang Village was obtained based on the results of the supervised classification analysis. The Sentinel-2A imagery in 2018 covered an area of 8.43 hectares, and in 2020, it decreased to 7.30 hectares with an accuracy test value of 80%. The decrease in the seagrass area in the waters of Pengudang Village is caused by several factors, one of which is oil pollution in the Bintan region, which occurs regularly every year and has affected the condition of the ecosystem in the region.
Sebaran Jenis dan Kondisi Tutupan Lamun di Perairan Kepulauan Riau Aditya Hikmat Nugraha; Imam Pangestian Syahputra; I Wayan Eka Dharmawan; Ucu Yanu Arbi; Bambang Hermanto; Fajar Kurniawan; Syofyan Roni; Ganang Wibisono; Anggia Rivani
Journal of Marine Research Vol 12, No 3 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i3.36274

Abstract

Perairan Kepulauan Riau yang terdiri dari pulau-pulau kecil umumnya memiliki ekosistem pesisir yang tersusun dari ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem lamun merupakan bagian dari ekosistem pesisir yang memiliki peran tidak kalah penting seperti habitat biota, area pengasuhan, regulasi karbon dan lain sebagainya. Monitoring terkait kondisi ekosistem lamun penting untuk dilakukan dalam rangka mengetahui status ekosistem sehingga kedepan dapat menentukan langkah pengelolaan ekosistem yang baik. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2021 di Perairan Kepulauan Riau meliputi Perairan Kota Batam, Perairan Pulau Bintan, Perairan Lingga, Perairan Natuna dan Perairan Anambas. Metode pengamatan dilakukan dengan menggunakan transek garis yang dibantu dengan transek kuadrat dalam mengamati tutupan lamun di setiap lokasi penelitian.  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan 11 jenis lamun di Perairan Kepulauan Riau, meliputi spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis, Halodule pnifolia dan Syringodium isoetifolium. Nilai tutupan berada pada kisaran 20,68%-54,44%, Berdasarkan tutupannya secara umum ekosistem lamun di Perairan Kepulauan Riau berada dalam status sedang.The waters of the Riau Archipelago which consist of small islands generally have coastal ecosystems consisting of mangrove ecosystems, seagrass ecosystems and coral reef ecosystems. Seagrass ecosystems are part of coastal ecosystems that have no less important roles such as biota habitat, nurturing areas, carbon regulation and so on. Monitoring related to the condition of seagrass ecosystems is important to do in order to determine the status of the ecosystem so that in the future it can determine steps for good ecosystem management. This research was conducted in 2021 in the waters of the Riau Archipelago including Batam City Waters, Bintan Island Waters, Lingga Waters, Natuna Waters and Anambas Waters. The observation method was carried out using line transects assisted by quadratic transects in observing seagrass cover at each research location. Based on the results of the research conducted, 11 species of seagrass were found in the waters of the Riau Archipelago, including species of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Thalassodendron ciliatum, Halodule uninervis, Halodule pinifolia and Syringodium isoetifolium. The cover value is in the range of 20.68%-54.45%, based on seagrass cover in general the seagrass ecosystem in the Riau Islands waters is in a poor status.
Struktur ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau, pesisir bintan timur-Indonesia Aditya Hikmat Nugraha; Endang S Srimariana; Indra Jaya; Mujizat Kawaroe
Depik Vol 8, No 2 (2019): August 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.2.13326

Abstract

Abstract. Teluk Bakau Village is one of the largest conservation areas of seagrass ecosystem located in Bintan Island. This research aim to study the distribution of species, seagrass coverage and seagrass density in Teluk Bakau Village. The research was conducted at two stations, Beralas Pasir Island and Teluk Bakau Village Beach. Seagrass data collections are computed using transect quadrat method. The results of this study show that there is total 8 species of seagrasses found in the conservation area of seagrass ecosystem in Teluk Bakau, namelu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Syringodium isoetifolium and Halodule uninervis. The highest seagrass cover value was found at Beralas Pasir Island station about 47%, while in Teluk Bakau Village Beach station the seagrass coverage value was arround 29%. Based on these coverage value, the seagrass ecosystem in Teluk Bakau area fall in the category of medium conditon. The excistence of seagrass ecosystem in Teluk Bakau village is utilized by the community in small scale fisheries activity, therefore it is utmost important that its biodiversity and level of coverage are maintaned or even improved.Keywords: Bintan, conservation, coverage, seagrass, teluk bakau Abstrak. Desa Teluk Bakau merupakan salah satu kawasan konservasi ekosistem padang lamun yang terletak di Pulau Bintan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sebaran spesies, tutupan dan kerapatan lamun di Desa Teluk Bakau. Metode pengamatan ekosistem padang lamun dengan menggunakan metode transek kuadrat. Penelitian dilakukan di dua stasiun yaitu Pantai Timur Teluk Bakau dan Pulau Beralas Pasir. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa total terdapat 8 spesies lamun yang ditemukan di kawasan konservasi ekosistem padang lamun di Teluk Bakau, meliputi spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis. Nilai tutupan lamun tertinggi ditemukan di stasiun Pulau Beralas Pasir sebesar 47% dan stasiun Pantai Desa Teluk Bakau memiliki nilai tutupan lamun sebesar 29%. Berdasarkan nilai tutupannya ekosistem padang lamun di kawasan Teluk Bakau berada dalam kondisi sedang. Keberadaan ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam aktivitas perikanan skala kecil, sehingga sangat penting untuk menjaga keberagaman dan nilai tutupan ekosistem lamun.Kata Kunci: Bintan, konservasi, lamun, Teluk Bakau, tutupan
Karakteristik morfologi dan pertumbuhan lamun Halophila ovalis pada beberapa kawasan pesisir Pulau Bintan Aditya Hikmat Nugraha; Hazrul Hazrul; Susiana Susiana; Try Febrianto
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.17781

Abstract

Halophila ovalis is one of the pioneer seagrass species. The physico-chemical factors of the waters greatly influence the life processes of the seagrass. This study aims to compare the morphometric characteristics and growth of H. ovalis seagrass on water quality in several coastal areas in Bintan Island. Observation of morphometric characteristics includes measurement of rhizome diameter, leaf length, leaf of width, root length, internode length and number of leaves. Observation of growth rate was done by using the cutting method for leaves and marking method for rhizome. Observations of the growth rate were carried out twice, namely on the 14th and 28th days. The results showed that the H. ovalis type of seagrass found at Dompak Station had greater morphological characters than other stations. The condition of the bottom substrate is related to the morphological characters of the seagrass. The growth pattern of the seagrass leaves for one month of observation has a decline in growth trend. The rhizome growth pattern at all observation stations has an increasing trend. The results of the principal component analysis and correspondence analysis show that environmental parameters such as substrate type and nutrient concentration have a role in the morphological structure and growth of H. ovalis.Keywords:BintanGrowthHalophila ovalisMorphologySeagrassABSTRAKHalophila ovalis merupakan salah satu jenis lamun pionir. Faktor fisika-kimia perairan sangat mempengaruhi proses kehidupan lamun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik dan pertumbuhan lamun H. ovalis pada beberapa kawasan pesisir di Pulau Bintan yang memiliki kondisi lingkungan berbeda. Pengamatan karakteristik morfologi meliputi pengukuran diameter rhizome, panjang daun, lebar daun, panjang akar, panjang internode dan jumlah daun. Pengamatan laju pertumbuhan dilakukan dengan metode pemangkasan untuk daun dan metode penandaan untuk rhizome. Pengamatan terhadap laju pertumbuhan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada hari ke-14 dan ke-28. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamun jenis H. ovalis yang terdapat di Stasiun Dompak memiliki karakter morfologi lebih besar dibandingkan dengan stasiun lainnya. Adapun kondisi substrat dasar perairan memiliki keterkaitan dengan karakter morfologi lamun. Pola pertumbuhan daun lamun selama satu bulan pengamatan memiliki trend penurunan pertumbuhan. Pola pertumbuhan rhizome pada seluruh stasiun pengamatan memiliki trend peningkatan. Hasil analisis komponen utama dan analisis koresponden menunjukkan bahwa parameter lingkungan seperti tipe substrat dan konsentrasi nutrien memiliki peran terhadap struktur morfologi dan pertumbuhan lamun H. ovalis.Kata kunci:BintanHalophila ovalisLamunMorfologiPertumbuhan
Komposisi Makanan Ikan Baronang (Siganus guttatus) pada Ekosistem Lamun di Perairan Kota Tanjungpinang Uli Rohana Malau; Aditya Hikmat Nugraha; Ahmad Zahid
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 3 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i3.19795

Abstract

The survival of fish in the waters is strongly influenced by the availability of food. The purpose of this study was to analyze the types of food for baronang fish and determine the selectivity of food for baronang fish in seagrass ecosystems in Tanjungpinang waters. This research was conducted in May 2023 at three stations, namely Sekatap Waters (ST I), Madong Waters (ST II), and Sebauk Waters (ST III). The research data collection method was carried out by purposive sampling. Fish samples were obtained from catches using 2-inch gill nets. Epiphyte sampling on seagrass leaves was carried out randomly. The total number of fish obtained at station I was 8 fish, 10 fish for station II, and 7 fish for station III. The catches at each station were dissected and collected from their digestive tract and then preserved for analysis in the laboratory. Analysis of the data used is the index of propenderance and electivity index. The results obtained in this study were the type of food for baronang fish (S. gutttatus) found in Tanjungpinang waters consisting of groups of microalgae from the class Bacillariophyceae (Flagilaria, Coscinodiscus, Diatoma, Nitzschia, Gyrosigma, Melosira, Rhizosolenia, and Rhabdonema), Euglenophyceae (Trachelomonas), Dinophyceae (Alexandrium), Chlorophyceae (Closteriopsis), Cyanophyceae (Oscilatoria and Audouinella), Crysophyceae (Vaucheria), Rhodophyceae (Polisiphonia and Bostrychia), group of nematodes from class Secernentea (Hirschmanniella) and Adenophorea (Anaplectus), group of crustaceans from class Branchiopoda (Diaphanosoma), shrimp leg pieces (unidentified), and detritus group. Baronang fish choosing food in their surroundings. Kelangsungan hidup ikan di perairan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis jenis makanan ikan baronang dan menentukan pemilihan makanan ikan baronang pada ekosistem lamun di perairan Tanjungpinang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2023 pada tiga stasiun yaitu di Perairan Sekatap (ST I), Perairan Madong (ST II), dan Perairan Sebauk (ST III). Metode pengambilan data penelitian dilakukan secara purpossive sampling. Sampel ikan diperoleh dari hasil tangkapan menggunakan jaring insang berukuran 2 inchi. Pengambilan epifit pada daun lamun dilakukan secara acak. Total jumlah ikan yang diperoleh pada stasiun I yaitu 8 ekor, stasiun II 10 ekor, dan stasiun III 7 ekor. Hasil tangkapan pada masing-masing stasiun dibedah dan mengambil saluran pencernaannya lalu diawetkan untuk dianalisis di laboratorium. Analisis data yang digunakan yaitu Index of propenderance dan electivity index. Adapun hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu jenis makanan ikan baronang (S. gutttatus) yang ditemukan di perairan Tanjungpinang terdiri kelompok mikroalga dari kelas Bacillariophyceae (Flagilaria, Coscinodiscus, Diatoma, Nitzschia, Gyrosigma, Melosira, Rhizosolenia, dan Rhabdonema), Euglenophyceae (Trachelomonas), Dinophyceae (Alexandrium), Chlorophyceae (Closteriopsis), Cyanophyceae (Oscilatoria dan Audouinella), Crysophyceae (Vaucheria), Rhodophyceae (Polisiphonia dan Bostrychia), Kelompok nematoda dari kelas Secernentea (Hirschmanniella) dan Adenophorea (Anaplectus), Kelompok crustacea dari kelas Branchiopoda (Diaphanosoma), potongan kaki udang (tidak teridentifikasi), dan Kelompok detritus. Ikan baronang memilih makanan yang ada di lingkungannya. 
Potensi Penyimpanan Karbon pada Lamun Thalassia Hempricii di Perairan Tanggetada, Kabupaten Kolaka Ilham Antariksa Tasabaramo; Riska; Laode Abdul Fajar Hasidu; Aditya Hikmat Nugraha; Hasan Eldin Adimu; Maharani; Putri Cahyani
JSIPi (JURNAL SAINS DAN INOVASI PERIKANAN) (JOURNAL OF FISHERY SCIENCE AND INNOVATION) Vol 7 No 1 (2023): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Pascasarjana Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsipi.v7i1.76

Abstract

Thalassia hempricii merupakan lamun yang memiliki sebaran dan kerapatan yang tinggi di perairan Kecamatan Tanggetada. Beberapa studi mengatakan, lamun ini memiliki kontribusi yang besar terhadap penyerapan karbon di atmosfer. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai potensi penyimpanan karbon pada lamun Thalassia Hempricii. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar lamun Thalassia Hempricii menyimpan karbon, baik pada bagian atas lamun maupun bagian bawah lamun. Metode yang digunakan untuk menghitung karbon adalah dengan metode faktor konversi biomassa ke karbon. Lokasi penelitian dilakukan di 3 stasiun yaitu Kelurahan Tanggetada, Desa Palewai dan Kelurahan Anaiwoi. Hasil penelitian menunukkan bahwa kandungan karbon yang tersimpan pada lamun Thalassia hempricii adalah sebesar 362,54 gC/m2. Karbon yang tersimpan pada lamun bagian bawah lebih besar dibandingkan lamun bagian atas. Karbon yang tersimpan pada lamun bagian bawah berkisar antara 79, 60-497 gC/m2 dan pada lamun bagian atas berkisar antara 17,50-131,43 gC/m2.
Struktur ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau, pesisir bintan timur-Indonesia Aditya Hikmat Nugraha; Endang S Srimariana; Indra Jaya; Mujizat Kawaroe
Depik Vol 8, No 2 (2019): August 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.2.13326

Abstract

Abstract. Teluk Bakau Village is one of the largest conservation areas of seagrass ecosystem located in Bintan Island. This research aim to study the distribution of species, seagrass coverage and seagrass density in Teluk Bakau Village. The research was conducted at two stations, Beralas Pasir Island and Teluk Bakau Village Beach. Seagrass data collections are computed using transect quadrat method. The results of this study show that there is total 8 species of seagrasses found in the conservation area of seagrass ecosystem in Teluk Bakau, namelu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Syringodium isoetifolium and Halodule uninervis. The highest seagrass cover value was found at Beralas Pasir Island station about 47%, while in Teluk Bakau Village Beach station the seagrass coverage value was arround 29%. Based on these coverage value, the seagrass ecosystem in Teluk Bakau area fall in the category of medium conditon. The excistence of seagrass ecosystem in Teluk Bakau village is utilized by the community in small scale fisheries activity, therefore it is utmost important that its biodiversity and level of coverage are maintaned or even improved.Keywords: Bintan, conservation, coverage, seagrass, teluk bakau Abstrak. Desa Teluk Bakau merupakan salah satu kawasan konservasi ekosistem padang lamun yang terletak di Pulau Bintan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sebaran spesies, tutupan dan kerapatan lamun di Desa Teluk Bakau. Metode pengamatan ekosistem padang lamun dengan menggunakan metode transek kuadrat. Penelitian dilakukan di dua stasiun yaitu Pantai Timur Teluk Bakau dan Pulau Beralas Pasir. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa total terdapat 8 spesies lamun yang ditemukan di kawasan konservasi ekosistem padang lamun di Teluk Bakau, meliputi spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis. Nilai tutupan lamun tertinggi ditemukan di stasiun Pulau Beralas Pasir sebesar 47% dan stasiun Pantai Desa Teluk Bakau memiliki nilai tutupan lamun sebesar 29%. Berdasarkan nilai tutupannya ekosistem padang lamun di kawasan Teluk Bakau berada dalam kondisi sedang. Keberadaan ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam aktivitas perikanan skala kecil, sehingga sangat penting untuk menjaga keberagaman dan nilai tutupan ekosistem lamun.Kata Kunci: Bintan, konservasi, lamun, Teluk Bakau, tutupan
Karakteristik morfologi dan pertumbuhan lamun Halophila ovalis pada beberapa kawasan pesisir Pulau Bintan Aditya Hikmat Nugraha; Hazrul Hazrul; Susiana Susiana; Try Febrianto
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.17781

Abstract

Halophila ovalis is one of the pioneer seagrass species. The physico-chemical factors of the waters greatly influence the life processes of the seagrass. This study aims to compare the morphometric characteristics and growth of H. ovalis seagrass on water quality in several coastal areas in Bintan Island. Observation of morphometric characteristics includes measurement of rhizome diameter, leaf length, leaf of width, root length, internode length and number of leaves. Observation of growth rate was done by using the cutting method for leaves and marking method for rhizome. Observations of the growth rate were carried out twice, namely on the 14th and 28th days. The results showed that the H. ovalis type of seagrass found at Dompak Station had greater morphological characters than other stations. The condition of the bottom substrate is related to the morphological characters of the seagrass. The growth pattern of the seagrass leaves for one month of observation has a decline in growth trend. The rhizome growth pattern at all observation stations has an increasing trend. The results of the principal component analysis and correspondence analysis show that environmental parameters such as substrate type and nutrient concentration have a role in the morphological structure and growth of H. ovalis.Keywords:BintanGrowthHalophila ovalisMorphologySeagrassABSTRAKHalophila ovalis merupakan salah satu jenis lamun pionir. Faktor fisika-kimia perairan sangat mempengaruhi proses kehidupan lamun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik dan pertumbuhan lamun H. ovalis pada beberapa kawasan pesisir di Pulau Bintan yang memiliki kondisi lingkungan berbeda. Pengamatan karakteristik morfologi meliputi pengukuran diameter rhizome, panjang daun, lebar daun, panjang akar, panjang internode dan jumlah daun. Pengamatan laju pertumbuhan dilakukan dengan metode pemangkasan untuk daun dan metode penandaan untuk rhizome. Pengamatan terhadap laju pertumbuhan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada hari ke-14 dan ke-28. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamun jenis H. ovalis yang terdapat di Stasiun Dompak memiliki karakter morfologi lebih besar dibandingkan dengan stasiun lainnya. Adapun kondisi substrat dasar perairan memiliki keterkaitan dengan karakter morfologi lamun. Pola pertumbuhan daun lamun selama satu bulan pengamatan memiliki trend penurunan pertumbuhan. Pola pertumbuhan rhizome pada seluruh stasiun pengamatan memiliki trend peningkatan. Hasil analisis komponen utama dan analisis koresponden menunjukkan bahwa parameter lingkungan seperti tipe substrat dan konsentrasi nutrien memiliki peran terhadap struktur morfologi dan pertumbuhan lamun H. ovalis.Kata kunci:BintanHalophila ovalisLamunMorfologiPertumbuhan
Seagrass community structure in the waters of Terkulai Island, Tanjungpinang City Fatma Chairda Yani; Susiana; Aditya Hikmat Nugraha; Rochmady
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.8.1.15-20

Abstract

Seagrass ecosystem is a coastal ecosystem where seagrass grows as the dominant vegetation and can live permanently below sea level. Of course, the existence of human activities that do not care about the coastal environment has an impact on changes in seagrass communities in supporting coastal ecosystems. This study aims to determine the structure of the seagrass community in Terkulai Island Waters, Tanjungpinang City, this research was conducted in May 2023. Determination of the sampling point was carried out using the purposive sampling method with 4 stations that have seagrass distribution. Observation of seagrass was carried out using the modified line transect method where the line transect was placed at the starting point where seagrass was found until the end point was not found, the transect placement was chosen based on the longest area of the seagrass stretch and as a benchmark the transect placement was squared 50 x 50 cm then each line transect length was divided by 10% to get the squared distance between transects. The results of the study found 3 types of seagrass in the waters of Terkulai Island namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis. Seagrass Thalassia hemprichiii has the highest density when compared to other seagrass species with density values ranging from 764 to 1928 shoots/m2. If categorized, the value of seagrass cover at each station is included in the medium category. For seagrass biomass the Enhalus acoroides type is larger when compared to other seagrass species. The results of PCA (Principal Component Analysis) showed that seagrass cover was closely related to the environmental parameter characteristics of depth, brightness, salinity.
Effect of Temperature on the Physiological Response of Enhalus acoroides Seedlings Nugraha, Aditya Hikmat; Anggraini, Rika; Desrica, Ramona; Hidayati, Jelita Rahma; Addini, Indri; Halim, Muhamad
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.28.3.251-259

Abstract

Increasing sea surface temperatures as an effect of global warming can affect the survival of marine organism, among these marine organisms is seagrass. Temperature is one factor that can determine seagrass's physiological response in maintaining its life, including in the early stages of life in seagrass seedlings. This research aims to study the effect of temperature on the physiological response of Enhalus acoroides seedlings such as growth rate, leaf tissue anatomy, and chlorophyll content. The method used was an experiment in the laboratory. The seagrass seedlings were grown in an aquarium with three sea water temperature treatments (28°C, 31°C and 35°C) for 8 weeks of maintenance. The choice of sea water temperature treatment of 28°C (A) as a control is the optimal temperature range for seagrass, the treatment temperature of 31°C (B) refers to previous study, i.e. the temperature in the area of origin of the seagrass meadow, and the treatment temperature of 35°C (C) is considered as an estimate of temperature under the scenario of. The growth rate and the average leaf length were more optimal with a high chlorophyll content found at a temperature treatment of 28°C. The highest anatomical size of leaf tissue in the upper and lower epidermis was observed at 31°C, while the most extensive mesophyll tissue was observed at 35°C. In this study, temperature significantly affected the growth rate, average leaf length, anatomical structure of mesophyll tissue, and chlorophyll content of the Enhalus acoroides seedlings.
Co-Authors . Jihad Abdul Rahman Putra Abdul Rahman Ritonga Achmadiyah, Soneta Addini, Indri Aditianda, Said Rully Adriani Sunuddin Afis Irawan Agung Dhamar Syakti Agus Ramli Ahmad Zahid Ahmad Zahid Ailsa Brinda Shasika Aminatul Zahra Andi Alamsyah Andi Bakia Askara Andri Irawan Anggia Rivani Angraini, Rika Anjani, Poppy Yulia Anma Hari Kusuma Anna Kristine Sigarlaki Annisa Annisa Arifatin, Ilil Armanto, Tri Asep Mulyono Aulia, Hillyatul Bambang Hermanto Bimo Panji Prayogo Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Chandra Joei Koenawan Dea Fauzia Lestari, Dea Fauzia Dedy Kurniawan Deni Saputra Desrica, Ramona Devia Hartono Puteri Devia Hartono Puteri Dietriech Geoffrey Bengen Dony Apdillah Endang Sunarwati Srimariana ESTY KURNIAWATI Esty Kurniawati Fadhliyah Idris Fajar Kurniawan Falmi Yandri Fatma Chairda Yani Febrianti Lestari Frensly Damianus Hukom Ganang Wibisono Gunzales, Ario halim, muhamad Hanifah, Putri Nur Hasan Eldin Adimu Hasidu, La Ode Abdul Fajar Hasikin, Nur Hayaty, Nurul Hazrul Hazrul Herlanto Sihar Napitupulu Hertyastuti, Putri Restu Hidayat, Rommy I Wayan Eka Dharmawan I Wayan Eka Dharmawan I Wayan Eka Dharmawan Ika Anggraeni Ilham Antariksa Tasabaramo Imam Pangestian Syahputra Indra Jaya Insaniah Rahimah Iqoh Faiqoh Ita Karlina Jelita Rahma Hidayati Jemi Jemi Jumsurizal Jumsurizal Juraij Juraij Khairul Hafsar Khairunnisa Khairunnisa Kristina, Kariska Kurniawan, Rika Lia Badriyah Ma'mun*, Asep Ma'mun, Asep Maharani Mario Putra Suhana MD Jayedul Islam Muhammad Abrar MUJIZAT KAWAROE Mujizat Kawaroe Mujizat Kawaroe Muslimin Muslimin Muslimin Muslimin Muta Ali Khalifa Nancy Willian Ni Wayan Purnamsari Nimmi Zulbainarni Novajrati Ningsih, Dwi Putri Nurhasima Nurul Dhewani Mirah Sjafrie Nurul Hati Petrus Christianus Makatipu Pradipta Agustina, Pradipta Pratiwi Sarinawaty Puruhito, Haniifah Nur Faatinah Putri Cahyani Putri Ramadhani Ramadhan, Muhammad Fitrah Reski Putri Handayani Rika Anggraini Rika Angraeni Rikoh Manogar Siringoringo Risandi Dwirama Putra Riska Rizki Rizki Rochmady Rosdyani Rachmi Sadam, Sadam Said Almahdi Saputra, Ruli Sari Wahyuni Sarinawaty, Pratiwi Sukmana, Hardiyanti Suraya, Intan Susi Rahmawati Susi Rahmawati Susiana Susiana Susiana Susiana Susiana Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri Syofyan Roni T. Ersti Yulika Sari Tarlan Subarno Tetty, Tetty Tri Apriadi Try Febrianto Ucu Yanu Arbi Udhi E Hernawan Udhi E Hernawan Ufek, Indok Uli Rohana Malau Wahyu Adi Wahyu Muzammil Wahyudin Wahyudin Yandri, Fahmi Yani, Fatma Chairda Yehiel Hendry Dasmasela Yeti Darmayati Yuni Sinta Pratiwi Zamalludin, Zamalludin Zulfikar, Andi