Claim Missing Document
Check
Articles

REKRUTMEN KARANG KERAS (SCLERACTINIA) BERDASARKAN ZONA GEOMORFOLOGI DI PERAIRAN PULAU BINTAN, KEPULAUAN RIAU Kurniawan, Dedy; Nurhasima; Nugraha, Aditya Hikmat
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v13i2.34551

Abstract

Kesehatan ekosistem terumbu karang dapat dilihat melalui kemunculan rekrutmen karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan rekrutmen karang Scleractinia berdasarkan genus, life form, dan variasi ukuran rekrutmen karang Scleractinia di perairan Kampung Baru Lagoi dan Desa Teluk Bakau Kabupaten Bintan berdasarkan zona geomorfologi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan keberadaan karang Scleractinia di daerah reef flat dan reef slope pada kawasan terumbu karang dan metode survei dengan menggunakan bingkai kuadrat 1x1 m yang dipasang sepanjang garis transek 70 m sejajar garis pantai. Hasil penelitian ditemukan 164 koloni dari 24 genus yang didominasi oleh Favia dan Favites. Berdasarkan life form karang yang paling banyak ditemukan yaitu coral encrusting dan coral massive dengan variasi ukuran 4,5-6 cm dalam kategori ukuran sedang. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji-t menunjukkan bahwa perbedaan geomorfologi di kedua lokasi penelitian tidak berdampak secara signifikan terhadap kelimpahan karang rekrutmen.
Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Padang Lamun di Perairan Desa Pengujan Kabupaten Bintan Sukmana, Hardiyanti; Susiana, Susiana; Nugraha, Aditya Hikmat
Akuatiklestari Vol 6 (2023): Jurnal Akuatiklestari - Edisi Khusus Seminar Nasional Perikanan Tangkap IX
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i.4059

Abstract

Makrozoobentos adalah organisme yang hidup di dasar perairan (substrat), baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi makrozoobentos yang terdapat pada ekosistem padang lamun di Perairan Desa Pengujan Kabupaten Bintan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2021. Metode penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lamun yang ditemukan di Perairan Desa Pengujan terdiri atas; Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halophila ovalis. Kerapatan tergolong berbeda di setiap stasiun. Stasiun satu memiliki nilai kerapatan lamun total tertinggi termasuk dalam kategori sangat rapat, sedangkan stasiun tiga nilai kerapatan lamun total terendah termasuk dalam kategori rapat. Nilai Tutupan lamun tertinggi terdapat pada stasiun satu termasuk dalam kategori sedang, sedangkan nilai tutupan lamun yang rendah terdapat pada stasiun tiga termasuk dalam kategorikan sedang. Kepadatan makrozoobentos tertinggi terdapat pada stasiun dua sebesar 64 ind/m2. Makrozoobentos yang ditemukan terdiri dari 11 jenis. Makrozoobentos yang paling banyak ditemukan di Perairan Desa Pengujan adalah jenis Archaster sp. Adanya hubungan antara kerapatan lamun dengan kepadatan makrozoobentos di Perairan Desa Pengujan yang membuktikan bahwa kerapatan lamun juga memengaruhi kepadatan makrozoobentos.
Nilai Hambur Balik Akustik Terhadap Tingkat Tutupan dan Tinggi Kanopi yang Didominasi Jenis Lamun E. acoroides di Perairan Pulau Mantang Suraya, Intan; Ma'mun, Asep; Nugraha, Aditya Hikmat
Akuatika Indonesia Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v10i2.63054

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Perairan Pulau Mantang pada bulan Juli 2024 dengan tujuan untuk mengukur tutupan lamun, tinggi kanopi, serta menentukan nilai hambur balik akustik surface backscattering strength (SS) terhadap tingkat tutupan dan tinggi kanopi yang berbeda. Lamun merupakan ekosistem pesisir yang penting karena berperan sebagai habitat biota laut, penyerap karbon, dan penahan sedimen sehingga informasi terkait kondisi tutupan dan strukturnya sangat diperlukan untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hidroakustik dengan instrumen single beam echosounder SIMRAD EK-15 berfrekuensi 200 kHz. Pengumpulan data diawali dengan survei lokasi yang memiliki hamparan lamun, kemudian dilakukan perekaman data akustik secara purposive sampling pada kondisi kapal diam dengan durasi 5 menit di setiap titik. Pengukuran tutupan lamun dilakukan menggunakan transek kuadran berukuran 50 × 50 cm yang dikategorikan menjadi tutupan jarang, sedang, dan padat. Selain itu, dokumentasi foto menggunakan kamera bawah air juga dilakukan untuk mendukung validasi hasil. Jumlah titik sampel yang diperoleh sebanyak 31 titik. Data akustik selanjutnya diolah dengan perangkat lunak ESP3 untuk mendapatkan nilai volume backscattering strength (Sv) dan surface backscattering strength (SS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SS terhadap tutupan lamun yang berbeda berkisar antara -40 dB hingga -20 dB. Analisis regresi linear sederhana antara nilai tutupan lamun dan SS menghasilkan persamaan y = 7,4728(Ln(x)) – 62,135 dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 62,22%. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara tingkat tutupan lamun dengan nilai hambur balik akustik. Sebaliknya, uji regresi linear sederhana antara tinggi kanopi dan SS memperlihatkan hubungan yang sangat lemah dengan nilai R² = 0,0061 sehingga dapat disimpulkan bahwa tinggi kanopi tidak berpengaruh nyata terhadap variasi nilai hambur balik. Penelitian ini menegaskan bahwa parameter tutupan lamun memiliki pengaruh signifikan terhadap respon akustik, sedangkan tinggi kanopi tidak memberikan kontribusi yang berarti. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi penelitian lanjutan dalam pemanfaatan teknologi akustik untuk pemetaan lamun secara non-destruktif dan efisien di wilayah pesisir.
Respon Pertumbuhan dan Sintasan Benih Enhalus acoroides Terhadap Pengkayaan Nutrien Menggunakan Limbah Budidaya Udang Aditya Hikmat Nugraha; Tri Apriadi; Fadhliyah Idris; Widia Kartika Di Sari Putri
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.42850

Abstract

Dilaporkan bahwa luasan ekosistem lamun di dunia terus mengalami penurunan. Salah satu faktor diantaranya adalah tingginya konsentrasi nutrien di perairan pesisir yang berasal dari aktivitas masyarakat. Benih lamun merupakan salah satu fase penting di dalam awal perkembangan kehidupan lamun. Selain itu juga nutrien menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan benih lamun. Pada penelitian ini sumber nutrien yang akan digunakan dalam proses pembenihan lamun berasal dari limbah budidaya udang.  Tujuan Penelitian ini untuk mengukur respon pertumbuhan dan tingkat sintasan benih lamun Enhalus acoroides yang dikultivasi pada media limbah budidaya udang dan mengukur perubahan konsentrasi nutrien pada limbah budidaya udang sebagai media tumbuh benih lamun Enhalus acoroides. Benih lamun Enhalus acoroides ditumbuhkan pada tiga perlakuan yaitu : jumlah tegakan lamun jarang (perlakuan A), jumlah tegakan lamun sedang (perlakuan B) dan jumlah tegakan lamun rapat (perlakuan C). Proses kultivasi dilakukan selama 4 minggu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya benih lamun mengalami penurunan pertumbuhan. Tingkat sintasan benih lamun tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan nilai sebesar 90%. Penyerapan nutrien (amonia, nitrat, dan fosfat) yang terdapat pada limbah budidaya udang optimal terjadi pada perlakuan C. Konsentrasi nutrien pada seluruh perlakuan cenderung mengalami penurunan It is reported that the area of seagrass ecosystems worldwide continues to decline. One of the factors is the high concentration of nutrients in coastal waters originating from community activities. Seagrass seedling are one of the critical phases in the early development of seagrass life. In addition, nutrients are also one of the factors that influence the development of seagrass seeds. In this study, the nutrients used in the seagrass seeding process come from shrimp farming waste. The purpose of this study was to measure the growth response and survival rate of seagrass seeds Enhalus acoroides cultivated in shrimp farming waste media and to measure changes in nutrient concentration in shrimp farming waste as a growing medium for seagrass seeds Enhalus acoroides. Seagrass seeds Enhalus acoroides were grown in three treatments, namely: the number of sparse seagrass stands (treatment A), the number of medium seagrass stands (treatment B) and the number of dense seagrass stands (treatment C). The cultivation process was carried out for 4 weeks. The study results showed that seagrass seeds generally experienced a decrease in growth. The highest survival rate of seagrass seeds was found in treatment C, with a value of 90%. The absorption of nutrients (ammonia, nitrate, and phosphate) in shrimp farming waste was optimally achieved in treatment C. Nutrient concentrations in all treatments tended to decrease.
Variasi Harian Kelimpahan Relatif Ikan Pada Ekosistem Lamun di Perairan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Sari Wahyuni; Ahmad Zahid; Aditya Hikmat Nugraha
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.46287

Abstract

Diantara peran penting ekosistem lamun diantaranya sebagai tempat memijah, pengasuhan, mencari makan, dan tempat berlindung bagi berbagai organisme laut seperti ikan. Sebagai kota yang berada di wilayah pesisir, Tanjungpinang memiliki sebaran ekosistem lamun yang tersebar pada beberapa area. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajar terkaitani kondisi struktur ekosistem lamun, variasi harian kelimpahan ikan, dan keterkaitan antara asosiasi ikan dengan  struktur ekosistem lamun di perairan Kota Tanjungpinang. Terdapat empat stasiun pengamatan pada penelitian ini. Metode pengambilan data tutupan lamun dengan menggunakan transek garis yang dibantu dengan kuadrat dengan ukuran 50x50 cm sedangkan asosiasi ikan pada ekosistem lamun diamati dengan cara mengumpulkan ikan yang ditangkap dengan menggunakan jaring insang (Bottom gill net) yang memiliki karakteristik mata jaring ukuran 1,5 inci sepanjang 100 m dan lebar 2 m. Diperoleh 7 jenis lamun yang ditemukan di setiap stasiun dengan tutupan lamun tertinggi terdapat di Tanjung Duku. Teridentifikasi sebanyak 89 ikan yang berasosiasi dengan ekosistem lamun yang terdiri dari 23 famili dan 30 spesies. Hasil analisis one way ANOVA, menunjukkan bahwa variasi harian kelimpahan ikan pada siang dan malam hari memiliki nilai Sig. 0,014 (P< 0,05). Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan kelimpahan jenis ikan pada siang dan malam hari. Hasil analisis korespondensi antara kelimpahan ikan dengan kategori tutupan lamun menunjukkan adanya kelompok sebaran jenis ikan berdasarkan karakteristik tutupan ekosistem lamun. Among the crucial roles of seagrass ecosystems are as a place for spawning, nurturing, foraging, and shelter for various marine organisms such as fish. As a city located in a coastal area, Tanjungpinang has a distribution of seagrass ecosystems spread across several regions, each with its unique characteristics and importance. This study aims to study the condition of the seagrass ecosystem structure, daily variations in fish reports, and the relationship between fish associations and the structure of the seagrass ecosystem in the waters of Tanjungpinang City. This study has four observation stations. The method of collecting seagrass cover data using a line transect assisted by a 50x50 cm square, while the fish association in the seagrass ecosystem is observed by collecting fish caught using gill nets which have characteristics of 1.5 inch mesh size, 100 m long and 2 m wide. Seven types of seagrass were found at each station with the highest seagrass cover at Tanjung Duku. 89 fish were identified as being associated with the seagrass ecosystem, consisting of 23 families and 30 species. The results of the one-way ANOVA analysis showed that daily variations in reporting fish during the day and night had a Sig. Value of 0.014 (P <0.05). This indicates that there are differences in reporting fish species during the day and night. The results of the analysis of the delivery between fish reporting and seagrass cover categories indicate the existence of groups of fish species distribution based on the characteristics of seagrass ecosystem cover.
The influence of planting distance on seagrass (Enhalus acoroides) seedling growth Haniifah Nur Faatinah Puruhito; Indri Addini; Aditya Hikmat Nugraha
Depik Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.2.37366

Abstract

Seagrass restoration practice of transplanting grown seagrass from a donor to the planting site is discovered to disrupt the existing ecosystems. An alternative method includesthe use of seedlings, which requires a protected germination environment to survive. At the initial stage, the seedlings need adequate space for growth and expansion of root systems. However, cultivating seagrass seedlings in aquariums is challenging due to limited space. Therefore, this study aimed to investigate the growth and development of aquarium-cultured seagrass seedlings and evaluate the impact of different spacing on growth. Seedlings were cultivated in the laboratory under 2 treatments, each lasting 3 months. Enhalus acoroides seedlings collected from Dompak Island, Tanjungpinang, were used with varying planting distances for each treatment. The results showed that Treatment A (4 cm spacing) had a lower survival rate (66.73%) compared to TreatmentB (1.5 cm spacing) (97.78%) due to a fungus outbreak.However, Treatment B had slower growth than A, suggesting potential problems with water quality and increased competition for resources in denser plantings. In this study, the significance of planting spacing was outlined and a statistically significant difference was discovered in seagrass growth between various treatments (P0.05). A rapid growth rate of 2.08-3.02 mm/day was observed in leafs, which exceeded the value observed in previous investigations conducted under similar conditions and species. It was important to acknowledge that leaf length was also 17.5-21.6 cm, exceeding the values observed in another experiment using lab-cultured E. acoroides. Root lengths were comparatively shorter (7.6-8.2 cm), which signified the dynamic nature of seagrass development. In conclusion, addressing environmental conditions and optimizing planting spacing, was essential for sustainable growth.Keywords:EnhalusGrowthSeagrassSeedlingsSpacing
Biodiversity of Reef Fishes in Three Small Outer Islands of West Papua, Indonesia Risandi Dwirama Putra; Petrus Christianus Makatipu; I Wayan Eka Dharmawan; Frensly Damianus Hukom; Muhammad Abrar; Rikoh Manogar Siringoringo; Ni Wayan Purnamsari; Aditya Hikmat Nugraha; Pradipta Agustina; Khairunnisa Khairunnisa; Asep Mulyono; MD Jayedul Islam
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.27.4.285-296

Abstract

Coral fish groups have a very strong dependence on coral reef ecosystems. Nusa Manggala Expedition was carried out for twenty days to explore basic data on the diversity of species of coral reef fish in the Liki, Bepondi, and Miossu Islands. Assessment of coral fish assemblages using Underwater Visual Census (UVC). Four hundred and thirty-two species of fifty families of reef fishes found during the 2nd session the Nusa Manggala expedition in Liki, Bepondi, and Miossu islands, northern Papua. Four species (Mobula tarapacana, M. alfredi, Oxymonacanthus longirostris, Bolbometopon muricatum, and Plectropomus areolatus) and one species (Cheilinus undulatus) categorized of IUCN as Vulnerable (VU) and Endangered (EN), respectively, were recorded in this study. There is unique pattern of reef fishes’ composition in small outer islands location in pristine location that shows Pomacentridae and Labridae were almost in the same number as Gobiidae, Apogonidae, Serranidae, Chaetodontidae, and Acanthuridae. In addition, the results showed that the Liki and Miossu islands and Bepondi Island included at the Coral Fish Diversity Index (CFDI) as an extraordinary and excellent category of marine fish, respectively. The results of the expedition showed that the Liki Islands and Miossu Island had an extraordinary category of marine fish, and Bepondi Island had an excellent category of sea fish. The culture of local people in Papua called "Sasi" prove to provide full protection to the ecosystem and have a positive impact on high diversity of reef fishes.
Kelimpahan Epifit pada Lamun Enhalus acoroides Dan Thalassia hemprichii di Pesisir Timur Pulau Bintan Feny Herawati; Fadhliyah Idris; Aditya Hikmat Nugraha
Buletin Oseanografi Marina Vol 15, No 2 (2026): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v15i2.75531

Abstract

Epifit adalah organisme yang menempel pada permukaan tumbuhan seperti pada daun lamun. Keberadaan epifit pada daun lamun dalam kondisi yang berlebih dapat mengakibatkan penurunan produktivitas pada lamun. Terdapat dua jenis lamun yang memiliki tingkat kehadiran yang cukup tinggi di perairan yaitu Enhalus acoroides  dan Thalassia hemprichii. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi jenis epifit yang menempel dan menghitung kelimpahan epifit pada lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Pesisir Timur Pulau Bintan. Terdapat 3 stasiun pengamatan, yaitu meliputi: Teluk Bakau. Malang Rapat, dan Berakit. Penentuan lokasi pengamatan berdasarkan Purposive Sampling. Metode sampling menggunakan transek kuadrat 50x50 cm dan diletakkan pada titik 0 m, 50 m, dan 100 m pada line transek yang tegak lurus dengan garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi epifit pada lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii terdiri dari 5 kelas yaitu Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae, Chlorophyceae, dan Conjugatophyceae. Kelimpahan epifit pada lamun Enhalus acoroides pada ketiga lokasi penelitian berkisar 4912,74 – 7517,25 ind/cm2. Kelimpahan epifit pada lamun Thalassia hemprichii di ketiga lokasi penelitian berkisar 6128,29 – 7600,37 ind/cm2. Berdasarkan hasil analisis komponen utama  menunjukkan bahwa kelimpahan epifit memiliki keterkaitan dengan nirat dan fosfat.    
The influence of planting distance on seagrass (Enhalus acoroides) seedling growth Haniifah Nur Faatinah Puruhito; Indri Addini; Aditya Hikmat Nugraha
Depik Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.2.37366

Abstract

Seagrass restoration practice of transplanting grown seagrass from a donor to the planting site is discovered to disrupt the existing ecosystems. An alternative method includesthe use of seedlings, which requires a protected germination environment to survive. At the initial stage, the seedlings need adequate space for growth and expansion of root systems. However, cultivating seagrass seedlings in aquariums is challenging due to limited space. Therefore, this study aimed to investigate the growth and development of aquarium-cultured seagrass seedlings and evaluate the impact of different spacing on growth. Seedlings were cultivated in the laboratory under 2 treatments, each lasting 3 months. Enhalus acoroides seedlings collected from Dompak Island, Tanjungpinang, were used with varying planting distances for each treatment. The results showed that Treatment A (4 cm spacing) had a lower survival rate (66.73%) compared to TreatmentB (1.5 cm spacing) (97.78%) due to a fungus outbreak.However, Treatment B had slower growth than A, suggesting potential problems with water quality and increased competition for resources in denser plantings. In this study, the significance of planting spacing was outlined and a statistically significant difference was discovered in seagrass growth between various treatments (P0.05). A rapid growth rate of 2.08-3.02 mm/day was observed in leafs, which exceeded the value observed in previous investigations conducted under similar conditions and species. It was important to acknowledge that leaf length was also 17.5-21.6 cm, exceeding the values observed in another experiment using lab-cultured E. acoroides. Root lengths were comparatively shorter (7.6-8.2 cm), which signified the dynamic nature of seagrass development. In conclusion, addressing environmental conditions and optimizing planting spacing, was essential for sustainable growth.Keywords:EnhalusGrowthSeagrassSeedlingsSpacing
Empowering the Anambas Islands Community Through Waste Education and the Potential of Utilizing Mangrove Waste into Bioplastics Jelita Rahma Hidayati; Try Febrianto; Susanti Susanti; Ronald Raditya Kesatria Sinaga; Dominikus Yoeli Wilson Laia; Rosyita Alifiya; Eddy Handoko; Murwanto Murwanto; Rika Anggraini; Aditya Hikmat Nugraha; Ilil Arifatin; Said Rully Aditianda; Poppy Yulia Anjani; Hilyatul Aulia; Soneta Achmadiah
Jurnal IPTEK Bagi Masyarakat Vol 5 No 3 (2026)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/j-ibm.v5i3.1605

Abstract

Waste, particularly plastic, poses a serious threat to coastal ecosystems in the Anambas Islands, Riau Islands Province. This community service program collaborated with LKKPN Pekabaru and Yayasan Jaga Mangkai aimed to enhance environmental literacy, raise awareness on waste management, and introduce the potential of mangrove waste (Bruguiera gymnorhiza) as raw material for environmentally friendly bioplastic. The methods included educational sessions, interactive discussions, coastal clean-up activities, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The results revealed that from 407.1 kg, 69% of the collected waste consisted of non-plastic categories. Laboratory tests on mangrove waste indicated the presence of active compounds with potential for bioplastic production. Questionnaire evaluation showed a significant improvement in community understanding, with average scores exceeding 50% in aspects of waste knowledge, bioplastic innovation, and attitudes toward environmental management. In conclusion, the program effectively increased ecological awareness and highlighted the potential for local innovation based on coastal resources. Nevertheless, follow-up programs are necessary to ensure that improved knowledge is transformed into sustainable daily practices in waste management.
Co-Authors . Jihad Abdul Rahman Putra Abdul Rahman Ritonga Addini, Indri Adriani Sunuddin Afis Irawan Agung Dhamar Syakti Agus Ramli Ahmad Zahid Ahmad Zahid Ahmad Zahid Ailsa Brinda Shasika Aminatul Zahra Andi Alamsyah Andi Bakia Askara Andri Irawan Anggia Rivani Angraini, Rika Anma Hari Kusuma Anna Kristine Sigarlaki Annisa Annisa Ario Gunzales Armanto, Tri Asep Mulyono Bambang Hermanto Bimo Panji Prayogo Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Chandra Joei Koenawan Chandra Joei Koenawan Dea Fauzia Lestari, Dea Fauzia Dedy Kurniawan Deni Saputra Desrica, Ramona Devia Hartono Puteri Devia Hartono Puteri Dietriech Geoffrey Bengen Dominikus Yoeli Wilson Laia Dony Apdillah Eddy Handoko Endang Sunarwati Srimariana ESTY KURNIAWATI Esty Kurniawati Fadhliyah Idris Fajar Kurniawan Falmi Yandri Fatma Chairda Yani Febrianti Lestari Feny Herawati Frensly Damianus Hukom Ganang Wibisono Gunzales, Ario halim, muhamad Hanifah, Putri Nur Haniifah Nur Faatinah Puruhito Hasan Eldin Adimu Hasidu, La Ode Abdul Fajar Hasikin, Nur Hazrul Hazrul Herlanto Sihar Napitupulu Hertyastuti, Putri Restu Hidayat, Rommy Hillyatul Aulia Hilyatul Aulia I Wayan Eka Dharmawan I Wayan Eka Dharmawan I Wayan Eka Dharmawan Ika Anggraeni Ilham Antariksa Tasabaramo Ilil Arifatin Ilil Arifatin Imam Pangestian Syahputra Indok Ufek Indra Jaya Indri Addini Insaniah Rahimah Iqoh Faiqoh Ita Karlina Jelita Rahma Hidayati Jelita Rahma Hidayati Jemi Jemi Jumsurizal Jumsurizal Juraij Juraij Kelvin Imaniar Yoenky Khairul Hafsar Khairunnisa Khairunnisa Kristina, Kariska Kurniawan, Rika Lia Badriyah Ma'mun*, Asep Ma'mun, Asep Maharani Mario Putra Suhana MD Jayedul Islam Muhammad Abrar Muhammad Fitrah Ramadhan MUJIZAT KAWAROE Mujizat Kawaroe Mujizat Kawaroe Murwanto Murwanto Muslimin Muslimin Muslimin Muslimin Muta Ali Khalifa Nancy Willian Nancy Willian Ni Wayan Purnamsari Nimmi Zulbainarni Novajrati Ningsih, Dwi Putri Nurhasima Nurul Dhewani Mirah Sjafrie Nurul Hati Nurul Hayaty Petrus Christianus Makatipu Poppy Yulia Anjani Poppy Yulia Anjani Pradipta Agustina, Pradipta Pratiwi Sarinawaty Putri Cahyani Putri Ramadhani Ramadhan, Muhammad Fitrah Reski Putri Handayani Rika Anggraini Rika Anggraini Rika Angraeni Rika Kurniawan Rikoh Manogar Siringoringo Risandi Dwirama Putra Riska Rochmady Ronald Raditya Kesatria Sinaga Rosdyani Rachmi Rosyita Alifiya Sadam Sadam Said Almahdi Said Rully Aditianda Said Rully Aditianda Saputra, Ruli Sari Wahyuni Sari Wahyuni Sarinawaty, Pratiwi Soneta Achmadiah Soneta Achmadiyah Sukmana, Hardiyanti Suraya, Intan Susanti Susanti Susi Rahmawati Susi Rahmawati Susiana Susiana Susiana Susiana Susiana Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri Syofyan Roni T. Ersti Yulika Sari Tarlan Subarno Tetty Tetty Tri Apriadi Try Febrianto Ucu Yanu Arbi Udhi E Hernawan Udhi E Hernawan Ufek, Indok Uli Rohana Malau Wahyu Adi Wahyu Muzammil Wahyudin Wahyudin Widia Kartika Di Sari Putri Yandri, Fahmi Yani, Fatma Chairda Yehiel Hendry Dasmasela Yeti Darmayati Yuni Sinta Pratiwi Zamalludin, Zamalludin Zulfikar, Andi