Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Status Terkini Penyakit Tristeza Pada Tanaman Jeruk di Sulawesi Tenggara: Current Status of Citrus Tristeza Disease in Southeast Sulawesi Taufik, Muhammad; Yusuf, Dewi Nurhayati; Miftahkuhrohmah, Miftahkuhrohmah; Botek, Muhammad; Gusnawaty HS, Gusnawaty HS; Syarni, Elisa; Nurulita, Sari
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.21.1.28-37

Abstract

Penyakit tristeza yang disebabkan oleh citrus tristeza virus (CTV, genus Closterovirus, famili Closteroviridae) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman jeruk di dunia, termasuk di Indonesia. Hingga kini, informasi dan studi terkait CTV di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status terkini infeksi CTV di Provinsi Sulawesi Tenggara. Survei dan pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling di empat kabupaten. Deteksi dan identifikasi virus dilakukan dengan teknik double antibody sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (DAS-ELISA), reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR), dan analisis perunutan nukleotida. Hasil DAS-ELISA menunjukkan bahwa semua sampel dengan berbagai variasi gejala dari empat kabupaten terkonfirmasi positif terinfeksi CTV dengan nilai  titer virus yang beragam. RT-PCR dengan primer spesifik berhasil mengonfirmasi keberadaan CTV dari semua sampel dengan teramplifikasinya DNA berukuran 630 pb. Analisis sekuen  dan  filogeni menunjukkan bahwa isolat CTV asal Sulawesi Tenggara memiliki kemiripan tertinggi (97.9%) dengan isolat CTV asal India (MT498411.1) dan mengelompok satu grup dengan isolat asal India (MT498411.1), Jepang (U56902.1), dan Cina (MZ692538.1). Hasil penelitian ini mengonfirmasi penyebaran CTV pada empat kabupaten di Sulawesi Tenggara. Data molekuler diharapkan menjadi basis data untuk studi epidemiologi molekuler dan strategi pengendalian penyakit tristeza di Indonesia.
Visual observation and image analysis method of blight disease severity for resistance assessment of two rice varieties HS, Gusnawaty; Hasan, Asmar; Rahmadani; Khaeruni, Andi; Bande, La Ode Santiaji; Taufik, Muhammad; Satrah, Vit Neru
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 25 No. 2 (2025): SEPTEMBER, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLAN
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.225275-286

Abstract

Bacterial Leaf Blight (BLB), caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae, is a major threat to global rice production, causing yield losses of up to 80%. Accurate assessment of disease severity is essential for developing resistant rice varieties and implementing effective management strategies. However, traditional visual observation methods, while widely used, are prone to subjectivity and reduced accuracy. This study evaluates the accuracy of image analysis for assessing rice plant resistance to BLB. Disease severity was assessed using both visual observation and image analysis, with results quantified through the Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC) and infection rate calculations. Image analysis outperformed visual observation, achieving an accuracy rate above 96%, compared to less than 90% for the latter. The Ciherang variety demonstrated greater resistance to BLB, with lower AUDPC and infection rates when assessed using image analysis. Conversely, visual observation produced contradictory results, highlighting its limitations. This study concludes that image analysis provides a more objective, reproducible, and accurate approach to assessing disease severity, with implications for breeding programs and integrated disease management systems. Further research is recommended to validate these methods across a broader range of rice genotypes and environmental conditions.
Relationship Between whitefly (Bemisia tabaci) Population and Pepper Yellow Leaf Curl Disease on Chili Plant Yield in The Field Taufik, Muhammad; Hasan, Asmar; Mallarangeng, Rahayu; HS, Gusnawaty; Khaeruni, Andi; Botek, Muhammad; Syair, Syair
CROPSAVER Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i1.44927

Abstract

Whitefly vector insects can spread the Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PYLCIV)  that causes Begomovirus disease. One whitefly can transmit the virus, which belongs to the Begomovirus genus. It is suspected that the more whitefly, the higher the incidence and severity of Begomovirus disease. The increased severity of Begomovirus disease can affect chili yields. This study aimed to assess the relationship between the whitefly population level, the Begomovirus disease's intensity, and the production of chili peppers. The research method used was a survey of the farmers' chili plantations. Observations of the whitefly population and disease intensity were carried out on a scheduled basis. The results showed that the whitefly population affected the incidence and severity of the disease Begomovirus. Each addition of one whitefly/leaf will increase the incidence of disease by 25.981%, the severity by 15.269%, and reduce the yield of chili plants by 40.044 kg/ha. Meanwhile, every 1% increase in the severity of Begomovirus disease will reduce the production of chili plants by 2.867 kg/ha.
Metode Infrared Thermography (IRT) untuk deteksi cepat lubang aktif tikus sawah Hasan, Asmar; Taufik, Muhammad; Khaeruni, Andi; Mallarangeng, Rahayu; Syair, Syair; Bande, La Ode Santiaji; HS, Gusnawaty; Botek, Muhammad
Agrokompleks Vol 23 No 2 (2023): Agrokompleks Edisi Juli
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v23i2.559

Abstract

Tikus sawah (Rattus-rattus argentiventer) dapat menyebabkan kerusakan yang parah pada tanaman padi sawah. Pengendalian dengan fumigasi (pengasapan) berbahan aktif sulfur dapat membunuh tikus dalam lubang pematang. Fumigasi akan efektif bila lubang aktif tikus diketahui, namun mengenali lubang aktif tikus tidaklah mudah. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi potensi metode Infrared Thermography (IRT) dalam mendeteksi lubang aktif tikus sawah melalui visualisasi citra termal. Beberapa lubang tikus yang ditemukan di areal persawahan milik petani di Desa Lebo Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara direkam citra termalnya menggunakan FLIR C2 Compact Thermal Imager. Selanjutnya, citra termal dan RGB (red green blue) diolah menggunakan aplikasi FLIR Tools versi 6.4.18039.1003 (FLIR® Systems, USA) dan dilanjutkan dengan analisis suhu rata-rata lubang tikus menggunakan Microsoft Excel. Hasil pengolahan citra termal menunjukkan bahwa area tanah galian lubang tikus yaitu area sisi dalam lubang berwarna lebih gelap yang menandakan bahwa suhu tanah di area tersebut lebih rendah sampai berkisar pada suhu 28 °C, sebaliknya area sisi luar lubang berwarna lebih terang yang menandakan bahwa suhu tanah yang lebih tinggi sampai berkisar pada suhu 32 °C. Metode IRT ini sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai metode deteksi cepat lubang aktif tikus sawah. Implementasinya bersama teknologi drone (UAV) akan mengefisienkan waktu petani saat menandai lubang aktif tikus sawah pada areal persawahan yang luas. Selain itu, pengendalian tikus dengan teknik fumigasi juga akan menjadi lebih efektif dan ekonomis.
Inovasi Dan Teknologi Sistem Budidaya Bawang Merah Di Desa Watukalangkari, Bombana Gusnawaty HS; Muhammad Taufik; Rahim Aka; Kalis Amartani; Muhammad Botek
Jurnal Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2025): Juli-Desember
Publisher : Bengkulu Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jp.v4i2.1695

Abstract

Desa Watukalangkari adalah salah satu desa di Kabupaten Bombana yang memiliki potensi sumber daya alam dan manusia yang dapat diandalkan di bidang budidaya bawang merah. Namun selama ini budidaya bawang merah yang dilakukan belum maksimal dan sehingga produktivitas bawang merah belum memberikan hasil yang diharapkan. Kegiatan budidaya bawang merah yang dilakukan masih sangat minim teknologi, seperti system pengairan yang masih manual/konvensional, tanpa dan sangat minim pengapuran, pemupukan organic terfermentasi dan belum adanya perlakuan benih sebelum tanam.  Oleh karena itu  kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan level keberdayaan petani bawang merah sebagai mitra sasaran dalam penerapan atau melakukan inovasi teknologi dalam hal tersebut sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan produksi bawang merah yang maksimal.Inovasi teknologi yang diberikan yaitu teknologi penyiraman dengan system sprinkle, teknologi pengapuran dan pemupukan organic terfermentasi dari kotoran ternak, perlakuan benih bawang dengan melakukan perendaman dalam larutan biopestisida sebelum benih bawang merah ditanam.   Adapun metode pelaksanaannya pengabdian ini diawali dengan sosialisasi kegiatan, kemudian kegiatan penyuluhan dan bimbingan teknis serta demplot percontohan. Kegiatan ini sangat membantu petani atau mitra sasaran dalam mengelola usahatani bawang merah menjadi usaha tani yang dapat mendukung peningkatan produktifitas bawang merah di Kabupaten Bombana.