Claim Missing Document
Check
Articles

Found 58 Documents
Search
Journal : Wana Lstari

PENDUGAAN SIMPANAN BIOMASSA DAN KARBON JENIS AMPUPU (Eucalyptus urophylla) PADA KAWASAN HUTAN TAMAN WISATA ALAM RUTENG DI RESORT KONSERVASI WILAYAH I GOLO LUSANG, KECAMATAN LANGKE REMBONG, KABUPATEN MANGGARAI, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Rammang, Nixon; Marimpan, Lusia Sulo; Aldi, Erefansius K.
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1903

Abstract

Forests can absorb CO2 in the atmosphere through photosynthesis. CO2 that accumulates in the atmosphere will cause the effects of Green House Gases that can cause global warming. Forests are a major carbon storage in global ecosystems so their role in the global carbon cycle is very important, both in the form of carbon storage or carbon flux. This study aims to estimate the biomass deposits and carbon of the Ampupu (Eucalyptus urophylla) forest in the Ruteng Nature Tourism Park, Resort I Golo Lusang. This study uses a systematic method by census. The amount of biomass and carbon reserves of each species of Ampupu (Eucalyptus urophylla) is calculated by the Allometric equality. The total biomass content in the study location was 9.82 Tons/Ha, the tree phase was 7.60 tons / ha, the pole phase was 1.86 Tons/Ha, the sapling phase was 0.36 Tons/Ha and seedlings were 0. Total carbon content in the study location of 3,03 Tons/Ha, the tree phase was 2.34 Tons/Ha, the pole phase was 0.58 Tons/Ha, the sapling phase was 0.11 Tons/Ha and the seedling phase was 0.
IDENTIFIKASI DAERAH JELAJAH RUSA TIMOR (Rusa timorensis) DI TAMAN WISATA ALAM PULAU MENIPO, KECAMATAN AMARASI TIMUR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rammang, Nixon; Turwewi, Margareth H. R.; Riwu Kaho, Ludji Michael; Riwu Kaho, Norman P.L.B.
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1905

Abstract

Deer is a source of animal wealth in Indonesia, consisting of four endemic species, namely: Muntjak Deer (Muntiacus muntjak), Bawean Deer (Axis kuhlii), Sambar Deer (Cervus unicolor), and Timor Deer (Russa timorensis). Timor deer is a species of tropical deeroriginating from Java, often found in various Indonesian archipelago both in its natural habitat and in captivity, management of Timor deer under the Directorate General of Forestry, Nature Conservation and the Ministry of Forestry, its existence is feared to be extinct by the threat of poaching and habitat destruction (Lelono, 2003). The Timor deer (deer timorensis) is one of the most protected wildlife in Indonesia, based on the regulation of the Minister of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia number P.106 in 2018 on species of plants and animals Protected, from all forms of hunting, arrest and possession. Field observations are used for two periods, the first period is 06.00 - 10.00 and the second period is 15.00 - 18.00 which is used in data collection for the home range is the Minimum Convex Polygon method and the most commonly used is core utilization or regional data collection, the kernel utilization distribution method. The results showed that the area of deer Timor was scattered in the region, with the area of Timor deer exploration in TWA Menipo Island area of 3425 km2 or 306 hectares (Ha) (12.49% of the total area of TWA Menipo Island) and the core area of 1776 km2 or 170 hectares (Ha) (6.94% of the total area of TWA Menipo Island).
ANALISIS PENDAPATAN DAN RANTAI PEMASARAN USAHATANI KEMIRI (Aleurites moluccana Willd) DI DESA BANGKA ARUS, KECAMATAN POCO RANAKA TIMUR, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR Risna, Kamelia S. M.; Un, Paulus; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1906

Abstract

This study aims to analyze: 1) how the technical aspects of Candlenut cultivation; 2) how much income and profits of farmers; 3) how is the marketing chain of Candlenut. This research was conducted in Bangka Arus Village, Poco Ranaka Timur District, Manggarai Timur Regency. The survey method was conducted in December 2018 - January 2019. Data collected in the form of primary data and secondary data. Primary data was obtained through interviews with 210 farmers who were determined based on simple random sampling and secondary data obtained from the stakeholders. The data analysis used was descriptive analysis and analysis of farm income, as well as the R/C ratio. The results of research showed that: 1) the technical aspects of Candlenut farming (Aleurites moluccana Willd) in Bangka Arus Village, Poco Ranaka Timur District, Manggarai Timur Regency were sources of seeds, planting and spacing, maintenance, age of plants, other types of plants, soil types, and slope of land; 2) total costs incurred by 210 respondent farmers in Bangka Arus Village were Rp 77.850.000 with an average of Rp 370.714 per respondent farmer while the total receipt was Rp 753.006.000 with an average of Rp 3.485.743 per respondent farmer. The total income received by respondent farmers was Rp 675.156.000 with an average of Rp 3.215.028 per respondent farmer. Candlenut farming (Aleurites moluccana Willd) in Bangka Arus Village is feasible and profitable for farmers to cultivate with a revenue ratio with a total cost of 15,84; 3) there are four marketing chains of Candlenut in Bangka Arus Village, Poco Ranaka Timur District, Manggarai Timur Regency namely: I (farmers, village level collectors, district level collectors and wholesalers), II (farmers, village level collectors and wholesalers), III (farmers, district level collectors and wholesalers), IV (farmers and wholesalers).
KONTRIBUSI HUTAN JATI TERHADAP PENERIMAAN RUMAH TANGGA PETANI DI DESA PITAY, KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG Tae, Margaretha; Adar, damianus; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 1 No 1 (2019): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v1i01.1907

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan rumah tangga petani dari hasil tanaman Jati di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. 2) Untuk mengetahui seberapa besar penerimaan Rumah Tangga Petani secara total di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. 3) Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi hasil tanaman Jati terhadap penerimaan rumah tangga petani di Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara mewawancarai responden berdasarkan kuisioner, sedangkan data sekunder diperoleh dengan cara mengambil data dari instansi yang mempunyai relevansi dengan judul penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yaitu terdiri dari 24 Kepala Keluarga atau rumah tangga yang memiliki hutan Jati. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa penerimaan Rumah Tangga petani yang memiliki pohon Jati di Desa Pitay, dari penjualan pohon Jati sebesar Rp.32.075.000 dan jika di rata- ratakan maka setiap responden menerima Rp.1.336.458 dengan jumlah penerimaan terendah Rp.245.000, tertinggi Rp.6.750.000 dan terdapat simpangan sebesar Rp.1.371.769.Total Penerimaan responden sejak bulan Mei 2017 hingga Mei 2018 dari hasil penjualan pohon Jati, pertanian, peternakan, kelautan, dan perikanan, serta pekerjaan lain sebesar Rp.135.815.000dan jika di rata- ratakan maka setiap responden menerima Rp.5.658.958 dengan jumlah penerimaan terendah Rp. 835.000, tertinggi Rp.23.050.000 dan terdapat simpangan sebesar Rp.4.901.408. Kontribsusi dari penerimaan hutan Jati terhadap penerimaan total rumah tangga petani di Desa Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, selama 1 tahun yaitu sejak bulan Mei 2017 sampai dengan bulan Mei 2018, yaitu sebesar Rp.32.075.000dari total penerimaan. Hal ini menunjukkan bahwa dari total penerimaan petani yakni Rp.135.815.000, sebanyak 23,62 persen penerimaan berasal dari penjualan pohon Jati. Penerimaan tersebut pada umumnya digunakan petani untuk tambahan biaya sekolah anak- anak mereka.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HUTAN TAMAN WISATA ALAM BIPOLO, DESA BIPOLO, KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Kuma, Defryanus G. S.; Marimpan, Lusia Sulo; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2575

Abstract

Bipolo Nature Tourism park is one of the Nature Tourism Parks in Indonesia, before being designated as a Nature Tourism Park, Bipolo Forest was a production forest, with a total production area of 5.000 hectares, of the total production forest area of 5.000 hectares, an area of 352.62 hectares in the production forest area is converted into a Bipolo Nature Tourism Park since March 30, 1999 through MENHUTBUN Decree Number.161/Kpts-II/1999 concerning Establishment of Bipolo Nature Tourism Park Forest Area. The change in the status of the Bipolo Forest as a Nature Tourism Park in Bipolo Village caused a lack of attention from the management so that damage occurred such as the management of agricultural areas by the community around the forest and forest fires and illegal logging and other forest damage. From this damage resulted in the reduction of wildlife inside the Bipolo Nature Tourism. The purpose of this research is to find out the perception and the behavior of community participation in Bipolo Nature Tourism Park Forest and to find out how participation community in the management of Bipolo Nature Tourism Park, which was used in this study, the population around the Bipolo Nature Park Forest area was 83 people which determine using Purposive random sampling. The results of the in research showed that the community's attitudes and participation in the Bipolo Nature Park. In Bipolo Village, Subdistrict Sulamu, Kupang Regency, the Province of East Nusa Tenggara is in a very good category, and the level of community perceptions of the Bipolo Nature Park Forest area is in the good category while the Bipolo Nature Park Forest area is included in the neutral category.
IDENTIFIKASI HAMA PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L.F) DI UDUKAMA, KECAMATAN TASIFETO BARAT, KABUPATEN BELU Rampung, Antonius Metris; Seran, Wilhelmina; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2577

Abstract

Pembangunan hutan tanaman seringkali menghadapi kendala teknis, dengan adanya ancaman serangan hama..Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas kayu Jatidan dapat menjadi faktor pembatas produksi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengidentifikasi jenis hama pada tanaman Jati (Tectona grandis) L.F. 2. Mengetahui populasi dan frekuensi kerusakan yang disebabkan oleh hama pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F). Penelitian ini dilakukan di hutan Jati Udukama, Kecamatan Tasifeto Barat, `Kabupaten Belu menggunakan metode survey yang dilakukan pada bulan mei- juli 2019.Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekuder.Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dilapangan dengan menggunakan klaster plot. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data menggunakan rumus frekuensi serangan: jumlah tanaman yang terserang/ jumlah tanaman yang diamati x 100%. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) jenis hama yang ditemukan pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F) di Udukama, adalah: rayap (Neortemes tectonae), kutu putih (pseudococcus sp) dan empoasca sp. 2) Frekuensi keruskankan yang disebabkan hama pada tanaman Jati (Tectona grandis L.F) adalah: rayap (Neortemes tectonae) 37,5%, kutu putih (pseudococcus sp) 14,4 % dan Empoasca sp 5,3% serta tingkat kerusakan oleh hama rayap kategori agak berat, kutu putih katogori ringan, dan empoasca kategori ringan. 3). Populasi hama rayap Rayap (Neortemes tectonae) pada minggu pertama (113) ekor, minggu kedua (168) ekor, minggu ketiga (190) ekor, dan minggu keempat (243) ekor. Kutu putih (pseudococcus sp) pada minggu pertama (35) ekor, minggu kedua (53) ekor, minggu ketiga (78) ekor, dan minggu keempat (92) ekor dan Empoasca SP pada minggu pertama (17) ekor, minggu kedua (35) ekor, minggu ketiga (48) ekor, dan minggu keempat (72) ekor
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HUTAN TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG DI KELURAHAN CAMPLONG I, KECAMATAN FATULEU, KABUPATAN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Maubanu, Demris A.; Purnama, Maria M. E.; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2581

Abstract

Kawasan Taman Wisata Alam Camplong berdasarkan surat menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.423/Kpt-II/1999 Tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong, sejak tanggal 15 Juni 1999 dengan luas 696,60 Ha. Kemudian pada Tahun 2014 terbit dasar hukum terbaru yaitu Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan luas luasan yang sama 696,60 Ha. Taman Wisata Alam Camplong merupakan salah satu Taman Wisata Alam yang ada di Indonesia, status kawasan Taman Wisata Alam Camplong adalah Hutan Produksi. Taman Wisata Alam Camplong memiliki vegetasi yang merupakan perwakilan 2 tipe ekosistem,yaitu ekosistem hutan musim dan ekositem savana. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui respon masyarakat tentang adanya Taman Wisata Alam di Kelurahan Camplong I dan untuk mengetahui pengaruh adanya Taman Wisata Alam terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kelurahan Camplong I. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk sekitar kawasan Tamana Wisata Alam Camplong yang berjumlah 66 jiwa, dengan penentuan menggunakan purposive random sampling. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa respon dari masyarakat Kelurahan Camplong I terhadap Taman Wisata Alam berupa sikap masyarakat terhadap kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan sangat baik, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan baik, dan perilaku masyarakat terhadap kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan tidak baik, sedangkan untuk persepsi masyarakat terhadap kondisi sosial ekonomi mayarakat sekitar kawasan Hutan Taman Wisata Alam Camplong dikategorikan baik
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP HUTAN TAMAN WISATA ALAM BAUMATA,DI DESA BAUMATA KECAMATAN TAEBENU, KABUPATEN KUPANG, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Kemis, Eldo Carlito; Marimpan, Lusia Sulo; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2582

Abstract

Taman Wisata Alam, sebagaimana kawasan konservasi di Indonesia dipengaruhi oleh masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan, Salah satunya Taman wisata alam Baumata. Taman Wisata Alam Baumata berada dalam wilayah pemangkuan Resort Konservasi wilayah Taman Wisata Alam Baumata, Seksi Konservasi Wilayah II Camplong, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Soe pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur. Masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar kawasan konservasi tetap akan bertindak sebagai aktor utama yang mungkin akan memberikan dampak negatif maupun positif terhadap hutan. Masyarakat di sekitar dan di dalam hutan pada umumnya merupakan masyarakat yang tertinggal. Kondisi sosial ekonomi golongan masyarakat ini pada umumnya masih rendah. Hal ini salah satunya disebabkan adanya pengabaian kepentingan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan hutan. Sehingga akhirnya timbul kecemburuan sosial masyarakat setempat terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap, persepsi, perilaku masyarakat mengenai Hutan Taman Wisata Alam Baumata dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Hutan Taman Wisata Alam Baumata. Sampel yang digunakan dalam peneletian ini adalah penduduk Desa Baumata yang berjumlah 84 jiwa, dengan penentuannya menggunakan purposive sampling. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa sikap, persepsi, partisipasi dan perilaku terhadap Hutan Taman Wisata Alam Baumata, di Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggar Timur tergolong sangat baik.
ANALISA PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE DI PANTAI UTARA KABUPATEN SIKKA, BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Rammang, Nixon; Meda, Fransiskus R; Riwu Kaho, Norman P.L.B.; Riwu Kaho, Ludji Michael
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2587

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tutupan lahan mangrove dan perubahan tutupan lahan mangrove Pantai Utara Kabupaten Sikka dari tahun 1988, 1998, 2008 sampai tahun 2018, berbasis Sistem Informasi Geografis dan mengetahuiperubahan kepadatan tutupan lahan mangrove di Pantai Utara Kabupaten Sikka, berbasis Sistem Informasi Geografis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua metode antara lain metode OBIA (Object Based ImageSegmentation) dan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Penelitian ini dilaksanakan disepanjang jalur pantai utara Kabupaten Sikka selama bulan Januari sampai April 2019. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada tahun 1988-1998tutupan mangrove tersebut berkurang seluas 130 ha menjadi 2768 ha, tahun 1998- 2008 berkurang seluas 1376 ha menjadi 1392 ha, tahun 2008-2018 meningkat sebanyak 1061 ha menjadi 2.453 ha. Faktor pemicu yang terjadi jalur pantai utaraKabupaten Sikka pada kurung waktu tersebut antara lain terjadi tsunami yang berkekuatan 6,5 SR, abrasi dan angin/badai, serta peningkatan luasan mangrove disebabkan oleh penerapan sistem hybrid engineering oleh masyarakat setempatbersama WII (Wetlands International Indonesia)
PEMANFAATAN JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG ROKORAKA (Studi Kasus Desa Reda Pada, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya) Dangga, Maria Helmince; Seran, Wilhelmina; Rammang, Nixon
Wana Lestari Vol 2 No 1 (2020): Wana Lestari
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v2i01.2592

Abstract

Tumbuhan obat memiliki manfaat yang cukup besar bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang jenis-jenis tumbuhan obat dan pemanfaatannya oleh masyarakat sekitar kawasanhutan lindung Rokoraka. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi menggunakan metode jalur transek, sebanyak 55 plot dengan ukuran plot 2 x 2 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m, dan 20 x 20 m. Data yang dikumpulkan adalah data primerdan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 20 narasumber yang ditentukan dengan purposive sampling untuk mengetahui penggunaan berbagai jenis tumbuhan obat oleh masyarakat lokal dan observasilangsung dengan melakukan analisis vegetasi sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi atau lembaga terkait yang relevan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 31 jenis tumbuhan obat di Hutan Lindung Rokoraka. Hasil analisis pada tumbuhan obat tingkat semai diperoleh 26 jenis 16 obat dengan INP tertinggi 29,16 %, tingkat pancang diperoleh 14 jenis obat dengan INP tertinggi 34,58 %, tingkat tiang diperoleh 14 jenis obat dengan INP tertinggi 37,55 % dan tingkat pohon diperoleh 11 jenis obat dengan INP tertinggi 49,31 %. Masyarakat lokal menggunakan 18 jenis tumbuhan obat yang berasal dari kawasan Hutan Lindung Rokoraka. Informasi potensi tumbuhan obat yang ada di kawasan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan dapat mendukung upaya konservasi untuk tetap menjaga kelestariannya.
Co-Authors A'oetpah, Heni D Adar, Damianus Adi Yermia Tobe Agusthinus Sampeallo, Agusthinus Ahmada Yudi Surya Aldi, Erefansius K. Allung, Ekaristin Amir, Juniawan Ape Didex Nino Arifin Sanusi Arifin Sanusi Arsa, I Gusti Bagus Adwita Ascicin, Irene Astin Elise Mau Astin Elise Mau Aureliana Gale Ayu, Priskila Kurniawat Aziz, Ineng Utami Intri Banoet, Salomo Y Bernandus, Bernandus Berubu, Hevenly Imanuel Araujo Besi, Aryanto Albert Cerlina, Marsela Da Suka, Quirinus Ruek Dangga, Maria Helmince deku, sarida oktavia Dhiu, Selvia Alfionita Due, Maria Manggiasih Meo Emanuella Elma Intania Logo Embu, Mario Fernando Eni F. X. D. Ari Sasongko Fiqul El Khoir Goasyah, Ikujram Gustaf Ridolof Saudila Habamananga, Sukartino Haky, Christian Edwin Halena Meldy Asa Helena Sulistya Wati Heri, Trison Meiwilson Huru, Dian Kana I G. B. Adwita Arsa I Nyoman W. Mahayasa, I Nyoman W. I W BUDIARSA SUYASA I Wayan Mudita Ine Tiga, Elfrida Kastila Jebaru, Florentina Joh, Arianto Kaho Hinga, Sion Christanto Kalvein Rantelobo Kemis, Eldo Carlito Kuma, Defryanus G. S. Lagur, Sixta Angrainy Lamen, Veronika Anna Laubase, Theodosius Leri, Theresia Luku Lea Lewai, Giuseppina Antonio Gratia Fernandez Lumban Nauli Lumban Toruan Lusia Sulo Marimpan M. Sudiana Mahendra Mahayasa, I Nyoman W Manehat, Marlince Maria Marleni Ema Purnama Maria Oktaviani Yohana Balut Mau, Astin E. Mau, Astin Elise Maubanu, Demris A. Meda, Fransiskus R Mesakh, Melan I Moressi Morison Airtur Namas, Benediktus Julio Ta Nampa, I Wayan Nay, Akwilin Ndiwa, Antonius S. Nenabu, Neti Ngongo, Diana Soli Laxina Norman Patrick Lucky Bire Riwu Kaho Norman Riwu Kaho Oki Hidayat Olviana, Tomycho Pamona Silvia SINAGA Pell, Yeremias Maria Pellondo'u, Mamie Elsyana Pellondo’u, Mamie E. Pelloundo’u, Mamie E. Pelondo'u, Mamie E Pelondo'u, Mamie E. Pelondo'u, Mamie M. E. Pelupessy, Elyn Novtansya Peters O Bako Pora Seko, Teodora Yuyun Pramatana, Fadlan Purnama, Maria M. E. Purrnama, Maria Rampung, Antonius Metris Risna, Kamelia S. M. Riwu Kaho, Ludji Michael Riwu Kaho, Norman P. L. B. Riwu Kaho, Norman P.L.B. Roni Haposan Sipayung Sakan, Yollis C.S Saraswati , Suprabadevi Ayumayasari Selan, Christanty Wahyuni Selan, Corna Juliuster Marlin Selan, Maya Seran, Wihelmina Sinaga, Pamona S. Sipayung, Roni H. Sipayung, Roni Haposan Sirik, Stefania Santy Siu, Maria M. A. Soares, Hilda Audreya Consita Tabana, Ofliyani Yeni Sanrina Tae, Margaretha Tiga, Elfrida Kastila Ine Turwewi, Margareth H. R. Uge, Maria Margaretha Un, Paulus Wea, Prudensia Wilhelmina Seran Wulan Chairunissa Anwar Yosep Seran Mau Yusratul Aini