Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan dengan Tindakan Pencegahan terhadap Toksoplasmosis pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAND Swandi, Khairfani; Rusjdi, Selfi Renita; Burhan, Ida Rahmah; Adrial, Adrial; Irramah, Miftah; Fadila, Zurayya
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i1.1058

Abstract

Latar belakang: Toksoplasmosis merupakan penyakit asimtomatik yang tersebar di seluruh dunia. Sampai saat ini, Toksoplasmosis termasuk dalam kelompok Neglected Tropical Diseases (NTD’s). Seroprevalensi toksoplasmosis beberapa daerah di Indonesia tergolong cukup tinggi. Tingkat higienitas masyarakat di Indonesia juga tergolong rendah. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki pengetahuan dan tindakan pencegahan yang baik sebagai langkah awal untuk menurunkan risiko terinfeksi toksoplasmosis. Objektif: Mengetahui hubungan pengetahuan dengan tindakan pencegahan terhadap toksoplasmosis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian model analitik cross sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Pemilihan sampel menggunakan metode stratified random sampling dari mahasiswa/I program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Angkatan 2019 dan 2020. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa 143 responden memiliki pengetahuan baik terkait toksoplasmosis dan 146 responden menerapkan tindak pencegahan yang baik terhadap toksoplasmosis. Kesimpulan: Kesimpulan yang didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan terhadap toksoplasmosis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Kata kunci: toksoplasmosis, Toksoplasma gondii, pengetahuan, tindak pencegahan
Gambaran Kelainan Refraksi di Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2021 Dzulkifli, Dzulkifli; Hidayat, Muhammad; Liza, Rini Gusya; Vitresia, Havriza; Adrial, Adrial; Fadrian, Fadrian
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i1.1207

Abstract

Latar belakang: Kelainan refraksi merupakan tidak tepatnya cahaya jatuh di retina yang diakibatkan panjang aksial mata serta kekuatan optik yang terganggu. Ametropia adalah kondisi cahaya tidak dapat difokuskan di retina tanpa bantuan akomodasi karena adanya kelainan refraksi pada mata. Terdapat tiga jenis kelainan refraksi, yaitu miopia, hipermetropia, serta astigmatisme. Objektif: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kelainan refraksi di Poli Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional melalui studi kasus dengan mengumpulkan data rekam medis pasien kelainan refraksi di Poliklinik Mata RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari 2021 – 31 Desember 2021 dengan mata yang didiagnosis kelainan refraksi yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebanyak 110 pasien. Seluruh variabel dianalisis dengan analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 85 pasien didiagnosis astigmatisme, dengan 50 pasien didiagnosis miopia, serta 8 pasien didiagnosis hipermetropia. Pasien kelainan refraksi dengan kelompok usia terbanyak adalah pada rentang 10-19 tahun (31.82%) dengan mayoritas perempuan (67.27%). Gejala klinis terbanyak adalah pandangan kabur (100%). Berdasarkan tingkatannya pasien miopia terbanyak adalah miopia tinggi (70.73%), hipermetropia terbanyak adalah hipermetropia rendah (76.92%), lalu astigmatisme miopia kompositus merupakan jenis astigmatisme terbanyak (83.01%). Visus pasien kelainan refraksi sebelum dan sesudah dikoreksi terbanyak adalah kelompok mild – no visual impairment (39.54%) & (94.09%). Kesimpulan: Gambaran dari pasien kelainan refraksi pada penelitian ini rentang usia 10-19 tahun merupakan kelompok usia terbanyak serta perempuan mengalami kelainan refraksi lebih banyak dari laki-laki. Dengan miopia derajat tinggi merupakan miopia terbanyak. Hipermetropia derajat rendah merupakan yang terbanyak. Serta astigmatisme miopia kompositus merupakan kelompok astigmatisme terbanyak. Keluhan umum terbanyak adalah pandangan kabur. Kategori visus terbanyak sebelum dan sesudah dikoreksi adalah kategori mild – no visual impairment. Kata kunci: miopia, hipermetropia, astigmatisme
PHYSIOLOGICAL RESPONSES OF FEMALE BEEF CATTLE AGAINST PEATLAND MICROCLIMATE STRESS IN CENTRAL KALIMANTAN Adrial, Adrial; Priyanto, Rudy; Salundik, Salundik; Yani, Ahmad; Abdullah, Luki
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 17, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v17i2.29115

Abstract

This study aimed to evaluate the physiological response of female beef cattle to peatland microclimate stress in Central Kalimantan. This study used direct observation on small holder beef cattle farm. Microclimate data on 41 units cattle barns and physiological parameters of female cattle were collected in the morning, at noon and in the afternoon. The physiological parameter measurements involved 215 female beef cattle, consisting of 119 Bali and 96 crossbred cattle with different physiological stages including pregnant cows, lactating cows, dry cows, heifers and calves. The microclimate condition within cattle barns on peatland of Central Kalimantan is not the comfort zone for beef cattle. It is characterized by high air temperature and relative humidity, and low wind speed, which result in high temperature humidity index (THI). The barn with gable roof type and asbestos materials gave the lowest THI. This Microclimate caused heat stress to beef cattle reared on the peatlands, indicated by the high rectal temperature, heart rate, respiratory rate, and heat tolerance coefficient, although it was still categorized as mild to moderate stress. Bali cattle showed better physiological responses to microclimate stress than crossbred cattle. Pregnant crossbred cows were the most susceptible to peatland microclimate stress.
Hubungan Kejadian Infeksi Blastocystis sp dengan Profil Leukosit Darah Pada Penderita Kanker Kolorektal Zulmitra, Elsa; Nofita, Eka; Suchitra, Avit; Adrial, Adrial; Rofinda, Zelly Dia; Masnadi, Nice Rachmawati
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19469

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan guna mengkaji hubungan hubungan antara infeksi Blastocystis sp dengan profil leukosit darah pada pasien yang menderita kanker kolorektal. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 22 sampel, yang dilaksanakan di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Hasil Penelitian ini menyatakan bahwa dalam 22 pasien penyakit kanker kolorektal paling banyak ditemui pada lelaki dibandingkan wanita, dengan rata-rata umur 50,6 tahun. Sebesar 27,3% ditemukan pada pasien kanker kolorektal yang terkena infeksi Blastocystis sp. Rata-rata nilai leukosit pada pasien yang terkena infeksi Blastocystis sp pada penyakit kanker kolorektal sebanyak 9.792/mm3 dengan p value 0,9. Rata-rata jenis basofil / eosinophil / neutrofil / limfosit / monosit pada pasien yang terkena infeksi Blastocystis sp pada penyakit kanker kolorektal sebanyak 0/3/0/72/21/8, sedangkan pada pasien yang tidak terkena infeksi Blastocystis sp sebanyak 0/2/0/66/14/8 dengan p value lebih dari 0,05. Dengan demikian, hasil akhir dalam penelitian ini menyatakan bahwa tidak adanya hubungan antara infeksi Blastocystis sp dengan profil leukosit darah pada pasien yang menderita kanker kolorektal.
HUBUNGAN STATUS IMUNISASI BCG DENGAN MORTALITAS DAN DERAJAT SEVERITAS MENINGITIS TUBERKULOSIS ANAK DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2018 – 2021 Nixon, Poety Elberta Husna; Lestari, Rahmi; Intan, Shinta Ayu; Amelin, Fitrisia; Ermayanti, Sabrina; Adrial, Adrial
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 6 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Juni 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i6.1314

Abstract

Objective: This study aims to determine the relationship between BCG immunization status with mortality and severity of TB meningitis in children at RSUP Dr. M. Djamil Padang. Method: This study used a cross-sectional design in children with TB meningitis and used the Kolmogorov-Smirnov and Chi-Square statistical tests. Sampling using total sampling technique with a total sample of 58 people. Data obtained from the medical records of RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2018 – 2021. Result: This study shows that most pediatric TB meningitis patients with the condition are women (53%), aged 0-4 years (48%), good nutritional status (40%), not in direct contact with TB patients (74%), received BCG immunization (55%), severe degree (59%), and alive (76%). There is a relationship between BCG immunization status and degree of severity (p=0.046) and mortality (p=0.047) of pediatric TB meningitis patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2018 – 2021. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a relationship between BCG immunization status and the degree of severity and mortality of TB meningitis in children at RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2018 – 2021.
Gambaran kasus epistaksis di IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2018-2022 Irfandy, Dolly; Adrial, Adrial; Sariwati, Siska; Asyari, Ade; Nofita, Eka; Anggraini, Fika Tri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 54 No. 2 (2024): VOLUME 54, NO. 2 JULY - DECEMBER 2024
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v54i2.675

Abstract

Background: Epistaxis is a common case that occurs in Ear Nose Throat (ENT) Department. Epistaxis can be managed independently, but mortality and morbidity rates will increase if it occurs in children, elderly, and patient with systemic conditions. Purpose: To understand epistaxis in terms of patient age, gender, risk factor, bleeding location, treatment, and age distribution based on etiology and risk factors. Method: A descriptive retrospective study, using secondary data from medical records of patients with chief complaints of epistaxis at the emergency installation of Dr. M. Djamil General Hospital in Padang, from 2018 to 2022. Result: The study found 329 patients who came with chief complaints of epistaxis. Epistaxis mostly found at age above 45 years old. Most cases happen in males (64.1%). The most common etiology and risk factors found were hypertension (21.4%). Most frequent bleeding location found in the anterior part (80.5%). Most epistaxis patients were treated with nasal compression (26.4%). The most common causes of epistaxis in children were mechanical trauma, in young adults fractures of the maxillofacial region, and hypertension in elderly. Conclusion: Epistaxis can occur in all age groups and can occur spontaneously or accompanying a disease. The etiology and risk factors of epistaxis vary based on age groups. Epistaxis is treated according to the cause. Keywords: epistaxis, age, risk factors, treatment   ABSTRAK Latar belakang: Epistaksis merupakan kasus yang sering terjadi di bagian THT. Epistaksis dapat ditangani secara mandiri, namun angka mortalitas dan morbiditas akan meningkat jika terjadi pada anak-anak, lansia, dan pasien dengan kondisi sistemik. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran epistaksis ditinjau dari usia pasien, jenis kelamin, faktor risiko, lokasi perdarahan, penanganan, dan distribusi usia berdasarkan etiologi dan faktor risiko. Metode: Studi deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien dengan keluhan utama epistaksis di Instalasi Gawat Darurat RSUP Dr. M. Djamil di Padang, dari 2018-2022. Hasil: Penelitian menemukan 329 pasien yang datang dengan keluhan utama epistaksis. Epistaksis paling banyak ditemukan pada usia di atas 45 tahun. Sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki (64,1%). Etiologi dan faktor risiko yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi (21,4%). Lokasi perdarahan yang paling sering ditemukan di bagian anterior (80,5%). Sebagian besar pasien epistaksis ditangani dengan kompresi hidung (26,4%). Penyebab epistaksis yang paling sering ditemukan pada anak-anak adalah trauma mekanik, pada dewasa muda fraktur pada daerah maksilofasial, dan hipertensi pada lansia. Kesimpulan: Epistaksis dapat terjadi pada semua kelompok usia dan dapat terjadi secara spontan atau menyertai suatu penyakit. Etiologi dan faktor risiko epistaksis bervariasi berdasarkan kelompok usia. Penatalaksanaan epistaksis dilakukan sesuai dengan penyebabnya. Overview of epistaxis cases in emergency installation. Kata kunci: epistaksis, usia, faktor risiko, tatalaksana