Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

NURSES PRACTICES IN SEGREGATING SOLID HAZARDOUS MEDICAL WASTE Furqon, Al; Dewi, Oktavia; Herniwanti, Herniwanti; Devis, Yesica; Rahayu, Endang Purnawati; Trismon, Ignatius
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 4 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i4.2445

Abstract

Limbah B3 medis padat dari rumah sakit berpotensi membahayakan kesehatan dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perilaku perawat dalam pemilahan limbah B3 medis padat. Sampel berjumlah 136 diambil dengan teknik proportional sampling, dan data dianalisis menggunakan multiple logistic regression model prediksi dengan tujuan untuk mendapatkan model yang paling baik (fit) yang dapat menggambarkan hubungan variabel independen dan dependen. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara sarana dan fasilitas (p=0,003), peran kepala ruangan (p=0,015), ketersediaan informasi (p=0,032), sikap (p=0,045) dan supervisi (p=0,046) dengan perilaku perawat dalam pemilahan limbah B3 medis padat. Variabel paling dominan adalah sarana dan fasilitas (POR=3,463). Manajemen rumah sakit disarankan untuk melengkapi setiap ruang rawat inap dengan fasilitas pemilahan limbah yang sesuai standar (kantong plastik berwarna, safety box), Menarik wadah limbah non-standar dan menggantinya dengan yang sesuai regulasi limbah B3 medis, menyediakan buku saku dan pelatihan rutin tentang limbah B3 medis, serta meningkatkan sosialisasi dan monitoring SOP pemilahan limbah kepada perawat secara berkala. Manajemen limbah B3 padat yang baik di rumah sakit mencegah penularan penyakit, melindungi tenaga kesehatan, menjaga lingkungan, memastikan kepatuhan regulasi, meningkatkan efisiensi, dan membangun kepercayaan masyarakat.
Efektivitas Simulasi Bantuan Hidup Dasar dengan Manekin dan AED bagi Karyawan PT. MAL fernando, jansen; Dewi, Oktavia; Febiyan, Hafis Jauhar
Yumary: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6 No 1 (2025): September
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/yumary.v6i1.3835

Abstract

Purpose: This study aimed to evaluate the effectiveness of Basic Life Support (BLS) training using a mannequin and AED simulation in enhancing the technical skills and confidence of employees at PT. Manggala Alam Lestari (PT. MAL) in handling sudden cardiac arrest in a remote work environment. Research Methodology: The program employed a Community-Based Research (CBR) approach, involving active participation from employees. The training design included simulation-based exercises using a mannequin and AEDs. Data were collected using pre- and post-test questionnaires to measure knowledge and confidence levels. Results: The training resulted in a significant increase in the participants' knowledge, as evidenced by the rise in average post-test scores from 40.75 to 92.75. The standard deviation decreased from 17.74 to 8.16, indicating greater consistency in understanding among participants post-training. Conclusions: BLS training effectively enhanced both technical skills and confidence among employees, aligning with previous research findings that highlight the benefits of simulation-based training in improving clinical skills and preparedness for emergency situations. Limitations: This study was conducted at a single site with a limited sample size, which may affect the generalizability of the findings. The long-term retention of skills was not assessed beyond the immediate post-training period. Contribution: This training model can be applied to similar workplaces, particularly in remote locations with limited access to medical facilities, to improve emergency preparedness and safety outcomes.
Analisis fishbone tingginya prevalensi stunting Sarwendah, Sarwendah; Lamtiur, Posma Rohana; Herniwanti, Herniwanti; Dewi, Oktavia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2432

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health problem in Kuantan Singingi Regency, with a prevalence of 23.1%. Data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey ranked this regency as having the third highest prevalence in Riau Province. Purpose: To analyze the situation, establish priority issues, identify root causes, and formulate evidence-based interventions to accelerate stunting reduction. Method: This qualitative study, using a problem-solving cycle approach, was conducted in October 2025 at the Kuantan Singingi Regency Health Office. Four key informants, including one Division Head and three Public Health Section Heads, participated through in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and document review. Results: Based on the Urgency, Severity, and Growth (USG) method, the stunting prevalence of 23.1% was identified as a top priority. Root cause analysis using a fishbone diagram identified six key factors: human factors (low family knowledge and ineffective educational methods), limited facilities and utilization of integrated health posts, suboptimal sanitation conditions, limited provision of locally based supplementary feeding, limited operational budgets, and weak cross-sectoral coordination. Conclusion: Accelerating stunting  reduction requires the integration of Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) interventions. Environmental factors, such as access to safe drinking water, proper sanitation, and waste management, have been shown to significantly influence stunting prevalence through disease risk. The program's success depends on cross-sectoral collaboration, optimizing the role of community health workers, and educating children about sustainable behavior change. Suggestion: The Health Office is expected to continuously intensify the five-pillar Community-Based Total Sanitation program, implement a regular Household Drinking Water Quality Monitoring program, and optimize monitoring and evaluation activities. This program must actively involve community health workers to ensure the sustainability of behavior change in the community.   Keywords: Clean and Healthy Living Behavior; Drinking Water; Environmental Sanitation; Stunting.   Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Kabupaten Kuantan Singingi dengan prevalensi sebesar 23.1%. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, menempatkan kabupaten ini sebagai peringkat ketiga tertinggi di Provinsi Riau. Tujuan: Untuk menganalisis situasi, menetapkan masalah prioritas, mengidentifikasi akar penyebab, dan merumuskan intervensi berbasis bukti dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting. Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan siklus pemecahan masalah yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2025, di Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi dengan melibatkan 4 informan kunci, terdiri dari 1 Kepala Bidang dan 3 Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat, melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan tinjauan dokumen. Hasil: Berdasarkan metode Urgency, Seriousness, and Growth (USG), prevalensi stunting  sebesar 23.1% ditetapkan sebagai prioritas utama. Analisis akar masalah menggunakan diagram fishbone yang mengidentifikasi 6 faktor utama, yaitu faktor manusia (rendahnya pengetahuan keluarga dan metode edukasi yang kurang efektif), keterbatasan sarana dan pemanfaatan posyandu, kondisi sanitasi yang belum optimal, keterbatasan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal, keterbatasan anggaran operasional, dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Simpulan: Percepatan penurunan stunting  memerlukan integrasi intervensi Water Sanitation and Higiene (WASH). Faktor lingkungan, seperti akses minum aman, sanitasi layak, dan pengolahan sampah terbukti signifikan memengaruhi prevalensi stunting melalu risiko penyakit. Keberhasilan program bergantung pada kaloborasi lintas sektor, optimalisasi peran kader, dan edukasi perubahan perilaku berkelanjutan. Saran: Dinas kesehatan diharapkan dapat mengintensifkan program 5 pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) secara berkelanjutan, melaksanakan program Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) secara periodik dan mengoptimalkan kegiatan monitoring serta evaluasi. Program tersebut hendaknya melibatkan kader kesehatan lingkungan secara aktif untuk memastikan keberlangsungan perubahan perilaku di masyarakat.   Kata Kunci: Air Minum; Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); Sanitasi Lingkungan; Stunting.