Claim Missing Document
Check
Articles

A Social Capital In Contemporary Indonesia: Examining Faith-Inspired Civil Society and Democracy Zaenuddin, Dundin; Maunati, Yekti; Ardhana, I Ketut; Sofjan, Dicky
Religió Jurnal Studi Agama-agama Vol. 12 No. 2 (2022): September
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/religio.v12i2.2102

Abstract

As a national agenda for development, democracy needs to be developed and deepened by both the Indonesian state and society to achieve a just and prosperous country. Within this framework, faith-inspired civil society organizations are expected to promote equality before the law and observe humanistic, pluralistic and tolerant religious social life. This study employs the theory of Bourdieu’s Habitus, Gellner’s Typology of Social Organization and Kymlicka’s Multicultural Citizenship. It also engages other sociological theories, namely the social capital theory of civic community from Putnam, Coleman, Uphof, and religion-state relations theory from Bolland, Menchik, and Hassan. This study is qualitative with a multidisciplinary approach derived from Sociology, Anthropology, Political Science, and History. Research findings suggestthe following: (1) The imbalance of bonding and bridging social capital has tended to result in hegemonic relations among faith-inspired civil society that to some extent excludes equal participation of ‘the others’; (2) The social capital of civil society organizations is highly nuanced and formed based on differences in religious and political orientations, which are the resultant interpretation and understanding of the Sacred texts and its religious culture; (3) Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah and Persatuan Tarbiyah Indonesia with moderate religious orientations (wasatiyah) have contributed positively to social capital that is persistent and consistent with democracy, while Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) and Front Pembela Islam (FPI) and to a lesser extent Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) with religious fundamentalist outlook tend to have an imbalanced social capital, which is resistant toward the so-called “Pancasila democracy”.
Representasi Perempuan Pada Tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-Awig Pelaksanaan Kepemimpinan Prajuru Desa Adat Tenganan Di Era Reformasi Tahun 1998-2020 Angelita Virginia Lesmana; I Ketut Ardhana; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 2 (2025): Februari 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini membahas mengenai Representasi Perempuan Pada Tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-Awig Pelaksanaan Prajuru Desa Adat Tenganan yang terletak di Kabupaten Karangasem Kecamatan Manggis. Tradisi Ulu Apad merupakan sebuah sistem kepemimpinan adat serta sistem politik lokal yang diurutkan berdasarkan senioritas perkawinan masyarakatnya,  Namun,  prinsip senioritas ini  tidak hanya melibatkan kaum pria namun perempuan juga ikut ambil bagian dalam keanggotaan yang ada pada sistem Ulu-Apad,  dan harus menekuni serta mempelajari proses ketentuan adat yang panjang selama beberapa tahun agar dapat menduduki suatu jabatan yang strategis. Sistem kepemimpinan ini berjalan sebagai sebuah tradisi yang hakiki karena didasarkan pada kepercayaan masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan bahwa yang mereka jalani selama ini telah diwariskan secara turun- temurun,  kepemimpinan Ulu Apad melibatkan sepasang suami istri yang merupakan anggota Desa Adat Tenganan yang berawal dari Krama Desa hingga naik menjadi Kelian Desa atau Tamping Takon Ada tiga pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini,  yaitu terdiri dari (1) Bagaimana proses representasi dan keterlibatan perempuan dalam tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-awig pelaksanaan prajuru desa adat Tenganan Pegringsingan? (2) Mengapa perempuan lebih mempresentasikan nilai adat dan kepercayaan dalam tradisi Ulu Apad  Dalam Tatanan Awig-awig pelaksanaan prajuru desa adat Tenganan Pegringsingan? (3)Apa implikasi representasi perempuan dalam terwujudnya kesetaraan gender di desa adat Tenganan Pegringsingan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses,  faktor dan implikasi dari Representasi Perempuan Pada Tradisi Ulu Apad Dalam Tatanan Awig-awig Pelaksanaan Prajuru Desa Adat Tenganan Di Era Reformasi Tahun 1998-2020. Penelitian ini menggunakan teori Sejarah dan teori Fungsionalisme Struktural. Kedua teori tersebut digunakan untuk menjawab ketiga pertanyaan penelitian yang diajukan. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah yang merupakan petunjuk pelaksanaan dan teknis mengenai bahan, kritik, interpretasi dan penyajian sejarah. Data untuk penelitian ini diperoleh melalui studi kepustakaan,  studi dokumentasi, observasi dan wawancara. Dengan adanya pertanyaan tersebut mampu memberikan jawaban yang tepat atau efisien dalam membahas tradisi Ulu Apad terutama dalam representasi perempuan dalam ketentuan awig-awig yang berlaku. Implikasi yang berdampak bagi perempuan di desa Tenganan dan bagi masyarakat antara lain : terbentuknya sistem kekerabatan yang erat dan luas antar warga di desa adat Tenganan Pegringsingan,  pihak laki-laki maupun perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mengemban tugas sebagai kelian desa.
Implikasi Desa Wisata Adat Kemiren sebagai Pelestari Sejarah dan Budaya Suku Osing Banyuwangi Anindita Amanda Putri; I Ketut Ardhana; Anak Agung Inten Asmariati
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 6 (2024): Desember 2024 - Januari 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang menyimpan kekayaan budaya dan sejarah menarik, salah satunya terkait suku Osing. Kebudayaan sekaligus sejarah terkait suku Osing saat ini dapat ditemukan melalui desa wisata adat. Secara sadar maupun tidak, keberadaan sejarah dan budaya yang ada berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat sehingga patut dilestarikan. Untuk memastikan kelestarian sejarah dan budaya suku osing di desa wisata adat tersebut maka diperlukan suatu pengkajian yang mendalam melalui penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi implikasi desa wisata adat Kemiren sebagai pelestari sejarah dan budaya suku Osing Banyuwangi. Pembahasan yang dipaparkan mengacu pada konsep teori sejarah, budaya, dan pariwisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif dengan sumber data berupa hasil wawancara, observasi, serta dokumentasi. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini berupa lembar wawancara, observasi, serta perekam, Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa desa wisata adat Kemiren memiliki implikasi terhadap kelestarian sejarah dan budaya suku Osing yang turut mempengaruhi kehidupan masyarakat Banyuwangi
Becoming a Global Village: The History of Globalization in Bali Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo; I Ketut Ardhana
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.23715

Abstract

Abstract: Bali, currently known as one of the world's tourist destinations, has long historical roots. However, Bali is slowly experiencing changes, namely on the one hand trying to adopt and adapt various existing changes, but on the other hand trying to maintain these customs and traditions so that their cultural roots are not eroded. The purpose of this article is to analyze what continues and what changes occur as a result of external influences. The research method used is a qualitative method with a historical approach, expected to provide a better understanding of how Bali, which was once closed to outside cultures, is now seen as an open fortress. Document sources and in-depth interviews were used to dig up information about the history of globalization in Bali. The conclusion in this research reveals that the arrival of Dutch colonial influence, which initiated the development of tourism in Bali during the colonial period, impacted customs and traditions on the one hand. On the other hand, Balinese people began to recognize various artistic influences and art-making techniques as they were introduced later. Ubud and Kuta in Bali have turned into a global village, which on the one hand is very strong with traditional roots, but is very adaptive to Western influences. Abstrak: Bali yang saat ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dunia memiliki akar sejarah yang panjang. Namun demikian, Bali secara perlahan mengalami perubahan, yaitu di satu sisi berusaha mengadopsi dan mengadaptasi berbagai perubahan yang ada, namun di sisi lain berusaha mempertahankan adat dan tradisi tersebut agar akar budayanya tidak terkikis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis apa saja yang tetap dipertahankan dan perubahan apa saja yang terjadi akibat pengaruh dari luar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan historis yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Bali yang dulunya tertutup terhadap budaya luar, kini dipandang sebagai benteng yang terbuka. Sumber-sumber dokumen serta wawancara mendalam digunakan untuk menggali informasi mengenai sejarah globalisasi di Bali. Kesimpulan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa kedatangan pengaruh kolonial Belanda yang mengawali perkembangan pariwisata di Bali pada masa kolonial berdampak pada adat istiadat di satu sisi, dan di sisi lain, masyarakat Bali mulai mengenal berbagai pengaruh artistik dan teknik pembuatan karya seni yang diperkenalkan kemudian. Ubud dan Kuta di Bali telah berubah menjadi sebuah desa global yang di satu sisi sangat kental dengan akar tradisi namun sangat adaptif terhadap pengaruh Barat.
Biografi Pendidik Djiwa Duarsa sebagai Refleksi Program Pertukaran Siswa SPGN Se-Jawa dan Bali 1980-an I Ketut Ardhana; I Nyoman Suparwa; Ida Ayu Gde Yadnyawati; Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 13 No. 2 (2023): Volume 13 No 2 Oktober 2023
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2023.v13.i02.p13

Abstract

In recent years, the Freedom to Learn and Freedom Campus (MBKM) initiative have been vigorously implemented. These include activities such as internships and student exchanges. While the Freedom to Learn program must be welcomed, it is important to note that some forms of this program are not entirely new, as student exchanges have been conducted at the high school level before. This article outlines the Student Exchange Program (PPS) through the biographical account of a legendary educator from Bali, Wayan Djiwa Duarsa, who founded and led State Teacher Education School (SPGN) Denpasar for 27 years (1959-1986). Data was collected through interviews, focused group discussions, and document studies. The analysis results indicate that in the early 1980s, Djiwa Duarsa pioneered the Student Exchange Program across Java and Bali, aiming to broaden the understanding of the archipelagic values among students and instill a sense of nationalism. In addition to the monumental PPS program, Djiwa Duarsa's biography also depicts the history of SPGN in Bali and its achievements at the national level. This article is expected to contribute to providing an initial study on the history of teacher education in Bali, which is useful for improving the quality of education for the progress of the nation.
Persamaan Kebudayaan Bali Dan Banyuwangi Ditinjau Dari Aspek Historis Hubungan Kerajaan Blambangan Banyuwangi Dan Kerajaan Mengwi Bali Riski Bagas Prakoso; I Ketut Ardhana; Anak Agung Inten Asmariati
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 4 (2025): APRIL 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan Bali dan Banyuwangi dahulu hingga sekarang sangatlah erat, selain karena letak posisi geografis yang dekat hubungan antara Bali dan Banyuwangi juga dipengaruhi oleh unsur sejarah masa lampau yang dimana dahulu salah satu Kerajaan di Bali yakni Mengwi pernah menguasai Kerajaan Blambangan yang ada di Banyuwangi hal inilah merupakan salah satu penyebab dari eratnya hubungan antara Bali dan Banyuwangi, selain itu tidak bisa dipungkiri akibat dari hubungan yang sudah erat sejak jaman dahulu menyebabkan adanya persamaan dan perbedaan kebudayaan antara Bali dan Banyuwangi akibat akulturasi budaya, beberapa kebudayaan di Bali maupun di Banyuwangi memiliki persamaan yang mendasar seperti kesenian barong yang memiliki kesamaan bentuk dan makna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptip kualitatif dengan menggunakan sumber-sumber yang telah tersedia. Tujuan Penelitian ini untuk membandingkan persamaan dan perbedaan budaya Bali dan Banyuwangi kepada para pembaca.
Menilik kesaksian seorang “pelaku sejarah” Menjelang peristiwa 30 September 1965 I Ketut Ardhana
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 7 No. 2 (2017): BUDAYA EKONOMI BALI
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

---
Sejarah Kota Lama Semarang sebagai Kawasan Cagar Budaya Devico Averaldo; I Ketut Ardhana; Putu Dyah Pradnya Paramitha
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis sejarah perkembangan Kota Lama Semarang sebagai kawasan cagar budaya serta mengkaji proses pelestarian dan revitalisasinya. Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dengan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Lama Semarang berkembang dari kawasan pelabuhan strategis pada masa kerajaan-kerajaan Islam menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan kolonial pada masa VOC dan Hindia Belanda. Kawasan ini memiliki nilai penting dari aspek sejarah, arsitektur, sosial, dan budaya yang tercermin melalui keberadaan bangunan-bangunan kolonial, tata ruang kota, serta kehidupan masyarakat multikultural. Setelah mengalami kemunduran pascakemerdekaan, berbagai program revitalisasi berhasil menghidupkan kembali fungsi kawasan sebagai destinasi wisata budaya dan ruang publik tanpa mengabaikan prinsip pelestarian cagar budaya. Meskipun demikian, pengelolaan Kota Lama Semarang masih menghadapi tantangan berupa banjir rob, penurunan muka tanah, tekanan pembangunan perkotaan, dan kebutuhan menjaga keseimbangan antara pelestarian serta pemanfaatan ekonomi. Oleh karena itu, pelestarian Kota Lama Semarang memerlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta agar kawasan ini tetap terjaga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan edukasi bagi generasi mendatang.
Luh Riniti Rahayu Di Yayasan Bali Sruti Denpasar : Sebuah Biografi 1960 - 2024 Made Eci Mandira Putri; I Ketut Ardhana; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Jurnal Pengabdian Cendekia Vol. 2 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Cendekia
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/jpc.v2i2.168

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih kuatnya budaya patriarki di Bali yang memengaruhi posisi dan peran perempuan dalam kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi, sehingga diperlukan figur inspiratif yang mampu memperjuangkan kesetaraan gender melalui gerakan masyarakat sipil. Salah satu tokoh yang memiliki kontribusi penting adalah Luh Riniti Rahayu sebagai pendiri Yayasan Bali Sruti Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perjalanan hidup Luh Riniti Rahayu pada periode 1960-2024, mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi keberhasilannya sebagai aktivis perempuan, serta mengkaji implikasi perjuangannya terhadap pemberdayaan perempuan dan perkembangan gerakan kesetaraan gender di Bali. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh utama dan informan terkait, serta studi dokumentasi terhadap arsip, literatur, dan dokumen Yayasan Bali Sruti Denpasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan Luh Riniti Rahayu dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman organisasi, jejaring sosial, serta konsistensinya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan melalui pendirian dan pengembangan Yayasan Bali Sruti Denpasar. Perjuangannya memberikan dampak nyata terhadap peningkatan partisipasi politik perempuan, advokasi hak perempuan dan anak, penguatan pendidikan kesetaraan gender, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap isu perlindungan perempuan di Bali. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Luh Riniti Rahayu merupakan tokoh perempuan yang berperan penting dalam memperkuat gerakan perempuan di Bali melalui pendekatan kolaboratif, edukatif, dan berkelanjutan sehingga meninggalkan warisan sosial yang relevan bagi pengembangan kesetaraan gender di Indonesia.
Adat, People Power and Religious Values: Sources of Social Resilience from the Early to Middle 19th Century in Bali I Ketut Ardhana; I Nyoman Wardi
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 12 No. 1 (2022): Volume 12 No 1 April 2022
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2022.v12.i01.p11

Abstract

Adat and religious values played a significant role in the rise of social movements and people power during the Dutch colonial era which is evident in the dynamics of Bali in particular. For centuries, adat customary traditions had been deeply rooted in Balinese communities and strongly contributed to civilization and culture. However, certain factors, such as social, economic and political disturbances have threatened the stability of Balinese communities and culture. From the local perspective of Bali, this posed a threat against the sovereignty of the kingdom of Bali, was still recognized as an autonomous territory. In light of the above issues, this article used an interdisciplinary approach to historiography in analyzing oral history and textual archives. It is hoped to offer a better understanding of how historical Balinese adat and religious values fostered an increase in social resilience and people power when faced with externally generated disturbances.
Co-Authors Anak Agung Ayu Rai Wahyuni Anak Agung Inten Asmariati Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Anak Agung Ngurah Putra Udayana Angelita Virginia Lesmana Anindita Amanda Putri Ariyanti, Ni Made Putri ARMANSYAH H. TAMBUNAN BAMBANG PRAMUDYA Devico Averaldo Dicky Sofjan Dwianita Conny Palar Fauzan Al Jundi Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo George Mentansan HASANAH, MAHARANI I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Arya Sugiartha, I Gede Arya I Gusti Ngurah Seramasara, I Gusti Ngurah I Gusti Putu Anandha Putra I Ketut Muka I Ketut Setiawan I Made Marthana Yusa I Made Pageh I Made Sukadana I Nengah Punia I Nyoman Darma Putra I Nyoman Darma Putra I Nyoman Dhana I Nyoman Suarka I Nyoman sukiada I NYOMAN SUPARWA I Nyoman Wardi I Nyoman Weda Kusuma I Putu Gede Suwita I Putu Gede Suyoga I Putu Suhartika I Wayan Ardika I Wayan Subrata I Wayan Suwena I Wayan Tagel Eddy Ida Ayu Gde Yadnyawati Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Bagus Gde Pujaastawa Jama, Karolus Budiman Jamhari Jamhari La Aso Aso, La Aso LA ODE SYUKUR, LA ODE Made Eci Mandira Putri MAHARANI HASANAH Maunati, Yekti Mila Yefriza Ngakan Putu Darma Yasa Ni Luh Arjani Ni Made Ruastiti Ni Made Wiasti NI MADE WIASTI Ni Putu Desi Wulandari PRAMUDYA, BAMBANG Puspitasari, Ni Wayan Radita Novi Putu Dyah Pradnya Paramitha Rezky Yunita Riski Bagas Prakoso Rudy A. G. Gultom Sancaya, I Dewa Gede Windhu Sukendra Martha Sulandjari Sulandjari, Sulandjari Supriyadi * Syachrul Arief TAMBUNAN, ARMANSYAH H. TATI NURHAYATI Westerlaken, Rodney Widia Puspita Sari Yosef Prihanto Zaenuddin, Dundin