Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Evaluasi Tingkat Pencemaran Air Tanahakibat Limbah Cair Industri Batik menggunakan Metode Indeks Pencemaran di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Tusyifa Rahmadanti; Ayu Utami; Muammar Gomareuzzaman; Eni Muryani; Tissia Ayu Algary
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 5, No 1 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK LINGKUNGAN KEBUMIAN (SATU BUMI) KE-V
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/psb.v5i1.11633

Abstract

Proses pembuatan batik pada industri batik membutuhkan air dengan kuantitas yang tinggi. Proses pembuatan batik yang memerlukan penggunaan air antara lain pencucian kain (clear starch), pencelupan kain ke dalam cairan pewarna (dyeing), dan pelepasan malam (wax removal). Berbagai macam proses tersebut 85% airnya akan menjadi limbah cair. Limbah cair industri batik memiliki karakteristik kandungan logam berat seperti krom (Cr), BOD, dan COD yang tinggi sehingga dapat mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan pengelolaan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat pencemaran air tanah akibat limbah batik di Padukuhan Giriloyo, Padukuhan Karangkulon, dan Padukuhan Cengkehan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling untuk pengambilan sampel, uji laboratorium, dan metode indeks pencemaran untuk menganalisis status mutu air tanah daerah penelitian. Sampel yang diambil berjumlah 8 titik sumur dengan parameter yang diuji adalah pH, BOD, COD, TSS, krom total, ammonia total (NH3), fenol, minyak dan lemak. Hasil analisis status mutu air tanah dengan metode indeks pencemaran didapati bahwa daerah penelitian termasuk ke dalam kategori tercemar berat dengan nilai indeks pencemaran berkisar antara 11,1 – 14,6. Parameter yang tidak memenuhi baku mutu adalah COD 7 dari 8 titik dan TSS pada seluruh titik pengambilan sampel.
PERTUMBUHAN SENGON BUTOH PADA MEDIA TANAM BERBAHAN APU-APU (PISTIA STRATIOTES L.) DAN ECENG GONDOK (EICHHORNIA CRASSIPES) Fadhil, Achmad Restu; Muryani, Eni; Prasetya, Johan Danu; Mussodaq, Mochamad
Journal TECHNO Vol. 10 No. 2 (2024): November
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogayakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/journal techno.v10i2.13741

Abstract

Post-mining land restoration is a crucial effort in maintaining environmental quality. In post-mining land restoration, there are revegetation activities by replanting plants consisting of the nursery process to direct planting on the revegetation land. This study aims to observe the growth of sengon butoh plants for 30 days using planting media consisting of topsoil, apu-apu compost, and water hyacinth compost on the land of PT. Vale Indonesia Tbk. which is dominated by oxisol soil with low fertility. Apu-apu and water hyacinth are utilized through an anaerobic composting process for 30 days. Observations of sengon butoh growth are carried out every 10 days. Pearson correlation analysis and one-way anova tests are used to analyze the data, with measurements of growth parameters including the height and diameter of sengon butoh plant stems. The results showed that apu-apu compost and water hyacinth compost were proven to be able to support the growth of sengon butoh plants in a mixed planting medium of topsoil, apu-apu compost, and water hyacinth compost. Apu-apu compost showed a moderate correlation to the increase in plant diameter. One-way ANOVA test with post-hoc Games-Howell indicated a significant difference between treatments 7 and 6 in the increase in sengon butoh height.
Formulation and Inhibiting Activity of Paper Soap Yogurt Whey with Natural Dye of Hylocereus polyrhizus Skin Against Staphylococcus aureus Estikomah, Solikah Ana; Kautsar, Alfia Manda Putri; Widyaratna, Indri; Muryani, Eni; Ardiyanti, Dwi
BIOEDUSCIENCE Vol 9 No 2 (2025): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jbes/18330

Abstract

Background: Yogurt is a product of fermented cheese liquid waste, which is known to contain lactoferrin, which functions as an antimicrobial. Whey-based yogurt has not been used as an ingredient in making paper soap. This study aims to determine the formula and evaluation of paper soap with the addition of whey yogurt with natural dyes from Hylocereus polyrhizus skin. Methods: This study is an experimental study. The preparation of liquid soap from whey yogurt with natural dyes from red dragon fruit skin (Hylocereus polyrhizus) was made into four whey yogurt formulas with concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%. Product quality includes organoleptic values, pH values, foam height, and alkali antibacterial activity test against Staphylococcus aureus using the Disk Disk method. Results: The results showed that all formulas of Paper soap whey yogurt with dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) skin dye showed good physicochemical characteristics, pH 9.0–11 (ASTM 9-11 requirements), foam content 41.7–52.5, and free alkali content 0.02–0.04. Paper soap whey yogurt formula with dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) skin dye produced an inhibitory power of 11.27–29.6, including the medium and strong categories. Conclusions: The best formula for Paper soap whey yogurt with dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) skin dye is soap with raw material whey yogurt of 75% whey 25% fresh cow's milk. The results of this study indicate that Paper soap whey yogurt with dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) skin dye has the potential as a natural antiseptic soap.
Status Mutu Air Sungai Temulawak dan Air Tanah di sekitar PT X Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Yunianto, Muhammad Rizky; Utami, Ayu; Yudono, Andi Renata Ade; Asrifah, Rr. Dina; Muryani, Eni
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 5 No 1 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK LINGKUNGAN KEBUMIAN (SATU BUMI) KE-V
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/psb.v5i1.11631

Abstract

 Air merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan manusia karena digunakan untuk kegiatan sehari-hari dan kegiatan lain. Industri tekstil di Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan informasi dari masyarakat limbah yang dibuang ke Sungai Temulawakmenimbulkan bau tidak sedap dan menyebabkan air tanah di selatan industri menjadi lebih keruh. Faktor lain penyebab menurunnya kualitas air sungai dan air tanah adalah jenis penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status mutu air sungai dan air tanah di sekitar industri tekstil. Metode yang digunakan pada penelitian secara umum merupakan metode kuantitatif. Beberapa metode yang digunakan seperti survei dan pengamatan, pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, pengolahan data menggunakan metode Indeks Pencemaran. Hasil analisis diketahui bahwa selain limbah cair industri tekstil, status mutu air sungai dan air tanah dipengaruhi oleh faktor lain yaitu penggunaan lahan di daerah penelitian. Status mutu air sungai menunjukkan terdapat 1 sampel air sungai yang masuk ke dalam kategori tercemar ringan. Status mutu air tanah menunjukkan terdapat 3 sampel air tanah yang masuk ke dalam kategori tercemar ringan.
Evaluasi Tingkat Pencemaran Air Tanahakibat Limbah Cair Industri Batik menggunakan Metode Indeks Pencemaran di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Rahmadanti, Tusyifa; Utami, Ayu; Gomareuzzaman, Muammar; Muryani, Eni; Algary, Tissia Ayu
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 5 No 1 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK LINGKUNGAN KEBUMIAN (SATU BUMI) KE-V
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/psb.v5i1.11633

Abstract

Proses pembuatan batik pada industri batik membutuhkan air dengan kuantitas yang tinggi. Proses pembuatan batik yang memerlukan penggunaan air antara lain pencucian kain (clear starch), pencelupan kain ke dalam cairan pewarna (dyeing), dan pelepasan malam (wax removal). Berbagai macam proses tersebut 85% airnya akan menjadi limbah cair. Limbah cair industri batik memiliki karakteristik kandungan logam berat seperti krom (Cr), BOD, dan COD yang tinggi sehingga dapat mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan pengelolaan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat pencemaran air tanah akibat limbah batik di Padukuhan Giriloyo, Padukuhan Karangkulon, dan Padukuhan Cengkehan. Metode yang digunakan adalah purposive sampling untuk pengambilan sampel, uji laboratorium, dan metode indeks pencemaran untuk menganalisis status mutu air tanah daerah penelitian. Sampel yang diambil berjumlah 8 titik sumur dengan parameter yang diuji adalah pH, BOD, COD, TSS, krom total, ammonia total (NH3), fenol, minyak dan lemak. Hasil analisis status mutu air tanah dengan metode indeks pencemaran didapati bahwa daerah penelitian termasuk ke dalam kategori tercemar berat dengan nilai indeks pencemaran berkisar antara 11,1 – 14,6. Parameter yang tidak memenuhi baku mutu adalah COD 7 dari 8 titik dan TSS pada seluruh titik pengambilan sampel.
Pengaruh Constructed Wetland dengan Penambahan Bahan Organik (Kompos dan Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap Nilai pH, Besi (Fe), dan Mangan (Mn) pada Air Asam Tambang Batubara Siwi, Salsabila Agra; Asrifah, Rr. Dina; Wicaksono, Aditya Pandu; Utami, Ayu; Muryani, Eni
Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Vol 5 No 1 (2023): PROSIDING SEMINAR NASIONAL TEKNIK LINGKUNGAN KEBUMIAN (SATU BUMI) KE-V
Publisher : UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/psb.v5i1.11655

Abstract

Pengolahan air asam tambang dengan kandungan logam terlarut berupa besi (Fe) dan mangan (Mn) saat ini cenderung hanya dengan menambahkan bahan kimia. Namun, hal tersebut membutuhkan biaya yang besar dan harus dilakukan secara terus-menerus. Oleh sebab itu penerapan sistem lahan basah buatan (constructed wetland) menggunakan tanaman dan penambahan bahan organik dapat menjadi pilihan alternatif, karena tidak memerlukan biaya yang terlalu tinggi dan mekanismenya lebih sederhana. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh constructed wetland dengan penambahan bahan organik terhadap pH dan konsentrasi logam Fe dan Mn. Penelitian ini menggunakan 12 reaktor yang terbagi atas empat perlakuan, dengan perbedaan komposisi bahan organik. Pada setiap reaktor diisi dengan air asam tambang, tanah, bahan organik dan tanaman ekor kucing (Typha latifolia). Bahan organik yang digunakan berupa kompos dan tandan kosong (tankos) kelapa sawit. Masing-masing parameter (pH, Fe, dan Mn) diukur setiap lima hari selama 15 hari. Data yang dihasilkan selanjutnya dihitung menggunakan rumus efektivitas dan dianalisis menggunakan uji two way. Hasil penelitian menunjukkan bahwa constructed wetland dengan penambahan bahan organik mampu meningkatkan pH dari 3,8 menjadi 7,39 serta menurunkan konsentrasi Fe dari 3,2 mg/l menjadi 0,11 mg/l dengan efektivitas 96,46% dan Mn dari 6,5 mg/l menjadi 0,03 mg/l dengan efektivitas 99,49%.
Efektivitas Biokoagulan Cangkang Telur dan Kulit Pisang dalam Menurunkan TSS pada Air Limbah Tambang Batubara Novita Sari, Eva; Muryani, Eni; Algary, Tissia Ayu; Anasstasia, Titi Tiara; Yogafanny, Ekha
KURVATEK Vol 10 No 2 (2025): Energy Management and Sustainable Environment
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v10i2.6196

Abstract

Industri pertambangan batubara menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan. Hasil analisis air limbah tambang batubara di PT Mifa Bersaudara menunjukkan parameter pH, Fe, dan Mn sudah sesuai baku mutu. Namun, kadar Total Suspended Solid (TSS) masih melebihi batas yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas awal air limbah tambang batubara serta menganalisis efektivitas cangkang telur dan kulit pisang sebagai biokoagulan alami dalam menurunkan TSS. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel di Water Monitoring Point (WMP) 13, uji laboratorium dengan jar test, variasi dosis koagulan (cangkang telur 0-5 g/L, kulit pisang 0-2 g/L) dan waktu sedimentasi (30, 60, 90 menit). Hasil menunjukkan bahwa dosis optimum cangkang telur 2 g/L pada waktu 30 menit dapat menurunkan TSS dari 489 mg/L menjadi 138 mg/L, sedangkan dosis kulit pisang 1 g/L dapat menurunkan TSS menjadi 181 mg/L. Pemanfaatan biokoagulan alami ini terbukti efektif dan berpotensi menjadi alternatif ramah lingkungan sebagai pengganti koagulan kimia. Kata kunci: Air Limbah Tambang, Biokoagulan, Cangkang Telur, Kulit Pisang, TSS
Efektivitas Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dalam Meningkatkan Kualitas Air Limbah Tambang Batubara PT X Berdasarkan Parameter pH, TSS, Fe, dan Mn Muryani, Eni; Nurshodik, Luthfi Qurrotu' Aini; Maharani, Yohana Noradika; Irawan, Agus Bambang
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol. 14 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v14i2.105139

Abstract

Air limbah tambang batubara umumnya memiliki pH rendah, kandungan TSS tinggi, serta mengandung logam berat Fe dan Mn yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan tepat. Penelitian ini dilakukan di Kolam Pengendapan Lumpur (KPL) 1, PT X. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik air limbah pada kompartemen 5 KPL 1 serta menganalisis efektivitas penambahan eceng gondok terhadap kualitas air limbah kompartemen 5 KPL 1 (pH, TSS, Fe, dan Mn) agar sesuai dengan baku mutu Pergub Sumatera Selatan Nomor 8 Tahun 2012. Penelitian diawali dengan pengambilan sampel air kompartemen 5 (composite sampling) untuk pengujian karakteristik awal air limbah pada parameter pH, TSS, Fe, dan Mn. Selanjutnya, dilakukan perlakuan pada air limbah dengan variasi kontrol (tanpa tanaman), 3 tanaman, dan 6 tanaman, serta variasi waktu 5 dan 15 hari. Efektivitas perubahan nilai parameter dihitung menggunakan persamaan matematis dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik air awal kompartemen 5 KPL 1 memiliki pH yang masih rendah (3,7), TSS yang tinggi (1127,40 mg/L), Fe (3,20 mg/L), dan Mn (3,60 mg/L). Penambahan eceng gondok mampu menurunkan TSS hingga 97,960% pada variasi penambahan 3 tanaman dan menurunkan Fe hingga 97,188% pada variasi penambahan 6 tanaman. Perlakuan eceng gondok belum mampu menurunkan pH dan kadar Mn. Kondisi fisik eceng gondok masih cukup baik hingga 15 hari percobaan. FBK Fe bernilai 3.119,2857 (tinggi) dan Mn bernilai 206,7556 (rendah).