Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Edukasi preventif dan promotif dalam upaya pencegahan stunting di Desa Tuncung Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Syamson, Meriem Meisyaroh; Zainab, Zainab; Hasanuddin, Indirwan; Sulaeman, Sulaeman; Purnama AL, Jumiarsih; Murtini, Murtini; Faridah, Faridah; Suparta, Suparta
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i1.700

Abstract

Background: Stunting is a public health problem that is still a serious challenge in Indonesia. Stunting occurs due to chronic malnutrition which causes children to have a lower height compared to children of the same age. The prevalence of stunting in Indonesia is still quite high, although efforts to reduce it have been carried out nationally. This condition not only has an impact on children's physical condition, but also affects their cognitive development, immunity, and productivity in the future. Purpose: To provide education with a preventive approach and a promotive approach to the community in an effort to prevent stunting incidents in a sustainable manner. Method: The target of this activity is all residents of Tuncung Village, especially housewives and those with babies and children. On Wednesday, January 8, 2025, at the Tuncung Village Hall, Maiwa District, Enrekang Regency. Counseling by providing information directly by health workers or facilitators to the community in the form of lectures to provide basic knowledge about stunting, such as causes, impacts, and how to prevent it Results: The participants gave a positive response by attending and following each activity session, were able to provide simulation actions according to the instructions after gaining knowledge from the presentation of the material provided by the resource person, understood efforts to prevent stunting with awareness as preventive measures such as fulfilling balanced nutrition, good parenting patterns, and environmental cleanliness, understood promotive efforts in reducing the incidence of stunting by changing positive behavior, namely playing an active role in monitoring the growth and development of children through routine visits to health facilities. Conclusion: Education and preventive approaches provide increased knowledge in identifying and reducing the risk of stunting early on. Meanwhile, promotive education increases public awareness of the importance of a healthy lifestyle, exclusive breastfeeding and good parenting in supporting child growth and development in an effort to prevent stunting. Preventive and promotive education will reduce stunting incidents sustainably. Suggestion: Introduce the concept of "Isi Piringku" for toddlers so that parents understand the adequacy of nutritional intake needed by children according to their growth and development. Cadres, community leaders, religious organizations, or schools can provide information to the wider community about the importance of preventing stunting incidents and the impacts of stunting. Local companies in supporting CSR programs are expected to focus on stunting eradication, such as providing nutritious food for underprivileged children. Keywords: Education; Preventive; Promotive; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang menyebabkan anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak seusianya. Prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi, meskipun upaya penurunan telah dilakukan secara nasional. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, imunitas, dan produktivitas mereka di masa depan. Tujuan: Memberikan edukasi dengan pendekatan preventif dan pendekatan promotif  pada masyarakat dalam upaya mencegah kejadian stunting secara berkelanjutan. Metode: Sasaran kegiatan ini adalah seluruh warga Desa Tuncung, khususnya ibu rumah tangga dan yang mempunyai bayi dan anak. Pada Hari Rabu, 08 Januari 2025, bertempat di Balai Desa Tuncung, Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang. Penyuluhan dengan pemberian informasi secara langsung oleh tenaga kesehatan atau fasilitator kepada masyarakat dalam bentuk ceramah untuk memberikan pengetahuan dasar tentang stunting, seperti penyebab, dampak, dan cara pencegahannya Hasil: Para peserta memberikan respon positif dengan menghadiri dan mengikuti setiap sesi kegiatan, dapat memberikan tindakan simulasi sesuai dengan petunjuk setelah mendapatkan pengetahuan dari paparan materi yang diberikan oleh nara sumber, memahami upaya pencegahan kejadian stunting dengan kesadaran sebagai tindakan preventif seperti pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang baik, serta kebersihan lingkungan, memahami upaya promotif dalam menekan angka kejadian stunting dengan merubah perilaku yang positif yaitu berperan aktif dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak melalui kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan. Simpulan: Edukasi dan pendekatan preventif memberikan peningkatan pengetahuan dalam mengidentifikasi dan mengurangi risiko terjadinya stunting sejak dini. Sedangkan edukasi promotif memberikan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat, pemberian ASI eksklusif dan pola asuh yang baik dalam mendukung tumbuh kembang anak dalam upaya mencegah kejadian stunting. Edukasi preventif dan promotif akan menekan kejadian stunting secara berkelanjutan. Saran: Perkenalkan konsep "Isi Piringku" untuk anak-anak usia balita agar orang tua memahami kecukupan asupan gizi yang dibutuhkan anak-anak sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Para kader, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, atau sekolah dapat memberikan informasi ke masyarakat yang lebih luas tentang pentingnya pencegahan kejadian stunting dan dampak stunting. Perusahaan lokal dalam mendukung program CSR diharapkan berfokus pada pengentasan stunting, seperti penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak kurang mampu.
Pemberdayaan remaja melalui edukasi gizi sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini Hasriani, St. Hasriani; Pratiwi, Wilda Rezki; Qardhawijayanti, Suci; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1781

Abstract

Background: Indonesia has one of the highest stunting rates in the world, with nearly 25% of Indonesian children under five affected by stunting. The Nutritional Status Research (SSGI) from the Indonesian Ministry of Health revealed that in 2021, stunting affected 24.4% of children under five across the country. Providing adequate nutrition during adolescence and educating women about stunting is a strategy to prevent anemia and contribute to preventing future stunting. Purpose: To increase knowledge about nutrition and stunting among adolescents as an effort to prevent stunting from an early age. Method: This activity was held on September 16, 2025, in Amparita Village, Sidenreng Rappang Regency, with the theme "Preventing Stunting Through Early Nutrition Education." The activity was attended by village officials and local health cadres, and involved 24 adolescent respondents from the Amparita Village community. The outreach included educational material presented through leaflets, covering nutritional issues in adolescents, knowledge of the First 1,000 Days of Life, balanced nutrition, stunting prevention, and understanding healthy eating. Participants' knowledge gains and changes were evaluated by comparing pre-test and post-test data. Results: Data obtained showed that the majority of respondents' knowledge before (pre-test) the educational activity was in the poor category 20 respondents (83.3%), while the majority of respondents' knowledge after the education was in the good category 22 respondents (91.7%). Conclusion: The community service activity, which provided education on nutritional issues for adolescents, went well. The education provided was very effective in increasing adolescents' knowledge of nutritional issues and made a positive contribution as a strategic step in preventing stunting early in the community. Suggestion: It is hoped that health education activities can be implemented regularly both in schools and in adolescent communities. It is also hoped that in addition to educational activities, nutritional behavior mentoring and nutritional consultation interventions will be provided so that the knowledge gained can be effectively applied. Keywords: Adolescents; Health education; Nutrition; Stunting Pendahuluan: Angka stunting di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, dimana dengan hampir 25% anak balita di Indonesia terdampak stunting. Riset Status Gizi (SSGI) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa pada tahun 2021, stunting memengaruhi 24.4% balita di seluruh Indonesia. Sebagai upaya dengan memberikan pemenuhan gizi pada masa remaja dan mengedukasi perempuan tentang stunting merupakan strategi untuk mencegah terjadi anemia dan berkontribusi dalam pencegahan terjadinya stunting di masa datang. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi dan stunting pada remaja sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 September 2025 di Desa Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang dengan tema “Cegah Stunting Melalui Edukasi Gizi Sejak Dini”. Kegiatan dihadiri perangkat desa, kader kesehatan setempat dan melibatkan 24 remaja sebagai responden yang merupakan bagian dari masyarakat Desa Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. Penyuluhan berupa edukasi berupa pemaparan materi dengan media leaflet, yang meliputi masalah gizi pada remaja, pengetahuan tentang 1000 Hari Pertama Kehidupan, asupan gizi seimbang, pencegahan stunting, dan pengertian menu makanan sehat. Peningkatan dan perubahan pengetahuan peserta, di evaluasi dengan membandingkan ata sebelum kegiatan (pre-test) dengan data sesudah kegiatan (post-test). Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar tingkat pengetahuan responden sebelum (pre-test) kegiatan edukasi dalam kategori kurang yaitu sebanyak 20 orang (83.3%), sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah edukasi menjadi mayoritas dalam kategori baik yaitu sebanyak 22 orang (91.7%). Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan memberikan edukasi tentang masalah gizi pada remaja telah berjalan dengan baik. Edukasi yang diberikan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang masalah gizi pada remaja dan memberikan kontribusi positif menjadi langkah strategis dalam pencegahan terjadinya stunting sejak dini pada masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi kesehatan dapat dilaksanakan secara berkala baik disekolah maupun dikomunitas remaja. Diharapkan juga selain kegiatan edukasi untuk dilakukan pendampingan perilaku gizi dan intervensi konsultasi gizi agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dengan baik.
Psiko-edukasi kesehatan reproduksi pada remaja melalui pemberdayaan influencer media sosial Rustam, Husnul Khotimah; Syamson, Meriem Meisyaroh; Nurdin, Nasrayanti; Herikzah, Ramli; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2130

Abstract

Background: This reproductive health psychoeducation program, designed to enhance positive emotions and self-confidence among adolescents using social media influencers, is designed as a promotive-preventive effort to address the developmental challenges of adolescents who are vulnerable to misinformation about reproductive health. The program's background is based on the low reproductive health literacy among adolescents and the high influence of social media on the behavior and mindset of the younger generation. Purpose: To increase adolescents' understanding of reproductive health, build awareness of the importance of self-care, and foster positive emotions and self-confidence through the empowerment of influencers and digital media. Method: This activity was carried out in June 2025 at SMAN 2 Sidenreng Rappang with a population of 120 people while the sample size was 46 people. The material delivery technique was through lectures interspersed with ice breaking. The method of implementing this reproductive health psycho-education program used a social media-based educational approach with collaboration with influencers close to the youth segment. The first stage was conducting a needs analysis, followed by selecting influencers, then producing psycho-educational content, followed by implementation and digital interaction, then conducting program evaluation and analyzing digital engagement (number of views, likes, comments, and participation). This method is designed to be participatory, interactive, and relevant to the digital world of youth, so that psycho-educational messages can be optimally received. Results: The majority of participants demonstrated a better understanding of basic reproductive health concepts, the risks of risky sexual behavior, and the importance of maintaining reproductive health. Positive emotions increased, including feelings of calmer, more motivated, and more optimistic about the physical and social changes they experienced. Adolescents demonstrated greater courage in expressing their opinions, rejecting calls to engage in risky behavior, and making healthy decisions. Participant engagement on social media increased, as evidenced by the high number of views, likes, comments, and participation in online discussions. Conclusion: A social media-based reproductive health psychoeducation program involving influencers has proven to be an innovative and effective approach to improving health literacy, building positive emotions, and fostering self-confidence in adolescents. This activity increased adolescents' understanding, positive attitudes, and courage in making healthy decisions. It also contributes to the development of technology-based educational strategies that are relevant in the digital era and can be replicated across regions. Suggestion: For the program's sustainability, it is recommended that psycho-educational content be continuously developed in more varied and creative formats to attract adolescents in the long term. It is hoped that this program will not be merely a temporary intervention, but can become a model for sustainable reproductive health education with broad impact, supporting the development of a healthy, confident, and psychologically well-being generation. Keywords: Adolescents; Positive emotions; Reproductive health psycho-education; Social media influencers; Self-confidence Pendahuluan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi untuk meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja menggunakan peran influencer media sosial dirancang sebagai upaya promotif-preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan remaja yang rentan terhadap informasi keliru mengenai kesehatan reproduksi. Latar belakang program ini didasari oleh rendahnya literasi kesehatan reproduksi pada remaja serta tingginya pengaruh media sosial terhadap perilaku dan pola pikir generasi muda. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, membangun kesadaran akan pentingnya menjaga diri, menumbuhkan emosi positif dan rasa percaya diri melalui pemberdayaan influencer dan media digital. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni 2025 yang bertempat di SMAN 2 Sidenreng Rappang dengan populasi sebesar 120 orang sementara jumlah sampel sebanyak 46 orang. Teknik penyampaian materi adalah dengan ceramah dan diselingi dengan ice breaking. Metode pelaksanaan program psiko-edukasi kesehatan reproduksi ini menggunakan pendekatan edukasi berbasis media sosial dengan kolaborasi influencer yang dekat dengan segmen remaja. Tahap pertama melakukan analisis kebutuhan selanjutnya melakukan pemilihan influencer kemudian produksi konten psiko-edukasi yang dilanjutkan dengan implementasi dan interaksi digital, kemudian melakukan evaluasi program serta analisis keterlibatan digital (jumlah views, likes, komentar, dan partisipasi). Metode ini dirancang agar bersifat partisipatif, interaktif, dan relevan dengan dunia digital remaja, sehingga pesan psiko-edukasi dapat diterima secara optimal. Hasil: Mayoritas peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar kesehatan reproduksi, risiko perilaku seksual berisiko, serta pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi. Adanya peningkatan emosi positif berupa perasaan lebih tenang, termotivasi, serta lebih optimis dalam memandang perubahan fisik dan sosial yang mereka alami. Remaja menunjukkan keberanian yang lebih besar dalam menyampaikan pendapat, menolak ajakan berperilaku berisiko, serta mengambil keputusan sehat. Keterlibatan (engagement) peserta dalam media sosial meningkat, ditunjukkan oleh tingginya jumlah views, likes, komentar, serta partisipasi dalam diskusi online. Simpulan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi berbasis media sosial dengan melibatkan peran influencer terbukti menjadi pendekatan inovatif dan efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, membangun emosi positif, serta menumbuhkan kepercayaan diri remaja. Kegiatan ini memberikan peningkatan pemahaman, sikap positif, serta keberanian remaja dalam mengambil keputusan sehat dan juga memberikan kontribusi pada pengembangan strategi edukasi berbasis teknologi yang relevan di era digital serta dapat direplikasi di berbagai wilayah. Saran: Untuk keberlanjutan program, disarankan agar konten psiko-edukasi terus dikembangkan dengan format yang lebih variatif dan kreatif, agar menarik minat remaja dalam jangka panjang. Diharapkan program ini tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi dapat menjadi model edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan, berdampak luas, serta mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat, percaya diri, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.