Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Islam dan Hak-Hak Minoritas: Analisis tentang bagaimana Islam memandang hak-hak minoritas dan bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam masyarakat yang pluralism Mulyadi Mulyadi; Nofik Afriko; Tamrin Kamal; Riki Putra; Julhadi Julhadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pluralitas agama, etnis, dan budaya merupakan keniscayaan sosial yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam konteks ini, perlindungan terhadap hak-hak minoritas menjadi salah satu indikator utama keadilan sebuah peradaban. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Islam memandang hak-hak kelompok minoritas serta bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam masyarakat pluralistik kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis normatif-teologis dan historis terhadap sumber-sumber utama Islam, seperti al-Qur’an, hadis, serta praktik sejarah Nabi Muhammad saw., khususnya melalui Piagam Madinah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Islam sejak awal mengakui pluralitas sebagai sunnatullah dan meletakkan prinsip keadilan, kebebasan beragama, serta perlindungan martabat manusia sebagai fondasi relasi sosial. Konsep ahl al-żimmī dalam fikih klasik memperlihatkan adanya jaminan hak-hak fundamental bagi minoritas non-Muslim, meliputi perlindungan jiwa dan harta, kebebasan beribadah, hak ekonomi, jaminan sosial, serta partisipasi terbatas dalam kehidupan politik. Praktik historis di Madinah membuktikan bahwa Islam mampu membangun tatanan masyarakat multikultural yang damai dan inklusif melalui Piagam Madinah sebagai konstitusi bersama. Dalam konteks masyarakat plural modern, konsep perlindungan minoritas dalam Islam mengalami transformasi dari sistem żimmah menuju konsep kewarganegaraan setara (muwāṭanah), yang menekankan kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga negara tanpa diskriminasi agama. Dengan demikian, Islam memandang hak-hak minoritas bukan sekadar sebagai kompromi sosial-politik, melainkan sebagai kewajiban teologis dan etis yang berakar pada prinsip keadilan ilahi dan kemanusiaan universal. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam masyarakat plural seperti Indonesia guna memperkuat harmoni sosial dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Makna Pendidikan, Implikasi Multikultural, Dan Pengembangan Pendidikan Multikultural Ari Prima; Apris Apris; Julhadi Julhadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mengkaji makna pendidikan dalam perspektif filosofis dan sosiologis serta menganalisis implikasi nilai-nilai multikultural dalam pengembangan pendidikan multikultural di konteks masyarakat majemuk Indonesia. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai medium pembentukan karakter, internalisasi nilai, dan penguatan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) yang diperkaya dengan analisis konseptual terhadap teori pendidikan, pendidikan multikultural, dan kebijakan pendidikan nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna pendidikan yang berorientasi pada humanisasi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap perbedaan memiliki implikasi langsung terhadap desain kurikulum, strategi pembelajaran, peran guru, serta iklim budaya sekolah yang inklusif. Pengembangan pendidikan multikultural menuntut integrasi nilai toleransi, dialog antarbudaya, pengakuan identitas, dan keadilan dalam praksis pendidikan. Artikel ini merekomendasikan penguatan kebijakan dan praktik pendidikan multikultural melalui pengembangan kurikulum kontekstual, peningkatan kompetensi guru, serta penguatan budaya sekolah yang ramah keberagaman guna membangun kohesi sosial dan mencegah potensi konflik berbasis identitas.
Islam Sebagai Objek Studi Dan Penelitian Dari Pendekatan Keilmuan: Analisis Kerangka Konseptual, Metodologis, dan Relevansi Kontemporer Agusrianto Agusrianto; Riko Pilahantoni; Maltifal Maltifal; Julhadi Julhadi; Sri Wahyuni
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Vol 20 No. 02 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i2.7629

Abstract

Studi Islam kontemporer menjadi semakin penting untuk memahami agama yang senantiasa berubah. Artikel ini mengkaji Islam sebagai subjek riset ilmiah dengan menganalisis kerangka konseptual, metodologis, dan relevansinya dengan masa kini. Pertumbuhan studi Islam di zaman modern menjadi latar belakangnya, yang kini memasukkan berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora untuk memahami Islam dari berbagai sisi, melampaui sekadar ajaran normatif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan cara menerapkan ilmu pengetahuan secara komprehensif dan efektif dalam studi Islam, dengan keseimbangan antara ilmu murni dan kepekaan terhadap subjek studi yang memiliki makna spiritual dan budaya. Menggunakan metode kualitatif berbasis kajian pustaka, tulisan ini menganalisis isi literatur yang ada dan menemukan bahwa Islam dapat menjadi subjek riset ilmiah karena memiliki dua sisi: ajaran normatif (seperti wahyu dan keyakinan) dan fenomena empiris (seperti praktik hidup, budaya, dan sejarah). Pendekatan keilmuan, yang mencakup kajian sejarah, masyarakat, budaya, filsafat, dan agama, sering kali digunakan secara bersamaan dari berbagai disiplin ilmu. Kemajuan dalam metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan digital juga memfasilitasi analisis yang mendalam dan bernuansa. Temuan utama menunjukkan bahwa studi Islam sangat berguna dalam menjawab permasalahan dunia saat ini, seperti perubahan iklim, kekerasan, ketidakadilan sosial, dan isu moral. Studi ini juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan mempromosikan dialog antarbudaya. Oleh karena itu, studi Islam yang kritis dan terbuka sangat penting untuk membantu orang memahami Islam secara benar dan adil di zaman modern.Kata Kunci: Studi Islam, Pendekatan Keilmuan, Metodologi Penelitian, Relevansi Kontemporer, Objektivitas Ilmiah
Metodologi Terintegrasi: Pendidikan Islam Dan Psikologi Sosial Zidni Ilman Nafian; Yanfaunnas Yanfaunnas; Julhadi Julhadi; Sri Wahyuni
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Vol 20 No. 02 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i2.7631

Abstract

Konvergensi metodologi penelitian Pendidikan Islam dan Psikologi Sosial diselidiki dalam studi ini. Ini adalah respons terhadap kompleksitas dinamika sosial dan spiritualitas di era digital. Nilai-nilai teologis Islam dan tuntutan empiris psikologi sosial dalam memahami fenomena pendidikan kontemporer memunculkan kesenjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik penelitian Pendidikan Islam. Konsep Psikologi Sosial yang relevan akan diuraikan. Strategi integrasi metodologis akan dirumuskan.Pendekatan kualitatif studi pustaka digunakan. Analisis konseptual dan sintesis memperkaya metode ini. Pendidikan Islam memiliki landasan epistemologis. Landasan ini mengintegrasikan nilai normatif dengan data empiris. Psikologi Sosial menyediakan instrumen analisis perilaku yang presisi. Model integrasi yang paling efektif adalah metode penelitian campuran (mixed methods). Metode ini memungkinkan dialektika. Dialektika ini terjadi antara data kualitatif berbasis teks suci dan nilai Islam. Ini juga terjadi dengan data kuantitatif berbasis perilaku sosial.Integrasi ini mampu menghasilkan riset. Riset tersebut bersifat holistik, saintifik, dan aplikatif. Integrasi ini meningkatkan kedalaman analisis dan orisinalitas temuan ilmiah di tingkat pascasarjana. Pendekatan terintegrasi ini krusial. Ini untuk menjawab tantangan pendidikan Islam abad ke-21.Kata Kunci:  Pendidikan Islam, Psikologi Sosial, Metode Penelitian, Integrasi Metodologis
Vision, Mission And Objectives Of Education In Hadith Perspective Julhadi Julhadi
Ambarsa : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 2 (2022): Pendidikan Agama Islam dalam Era Merdeka Belajar
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Togo Ambarsari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59106/abs.v2i2.74

Abstract

The vision and mission of Islamic education in the hadith are not only as slogans or as decorations and school wall displays, but really must be used as the basis for bringing the educational institution towards improvement accompanied by innovations in it. The very basic goal of Islamic education is to create human beings to become true servants of Allah. That is to make his whole life devoted only to Allah SWT. Besides that, the purpose of Islamic education is to create a balanced life between the life of the world and the hereafter. Islamic education also aims to develop human potential to become a perfect human being (insan kamil).
INTELIGENSIA/CENDEKIAWAN ISLAM SEBAGAI SEBUAH KELAS SOSIAL BARU: SEBUAH HARAPAN DAN PERJUANGAN EKSISTENSI DAN JATI DIRI SERTA BEBAN SEJARAH DAN MASA DEPAN Yuldafriyenti Yuldafriyenti; Tamrin Kamal; Saifullah Saifullah; Desi Asmaret; Julhadi Julhadi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.41039

Abstract

Inteligensia atau cendekiawan Islam berada dalam posisi unik untuk membantu umat Islam menghadapi kesulitan-kesulitan modernitas. Salah satu perkembangan signifikan dalam dinamika sosial dan intelektual umat Islam adalah munculnya ulama Islam sebagai kelas sosial baru. Baik secara politik maupun intelektual, para pemikir Islam Indonesia telah mengalami pasang surut. Metode yang digunakan yakni Kualitatif dengan desain studi literature atau library research. Kemudian dilakukan dengan meninjau sumber bacaan yang terkait dengan topik penelitian yang dibahas, serta dengan meninjau studi dokumen dari penelitian sebelumnya yang berkaitan konsep. Data dikumpulkan dengan meliat buku, jurnal ilmiah serta sember digital. Hasil penelitian membahas mengenai pengertian inteligensia atau cendekiawan, peran cendekiawan muslim. Cendekiawan Islam dapat dipandang sebagai kelas sosial baru yang terbentuk melalui proses pendidikan modern, baik di lembaga-lembaga Islam tradisional maupun institusi pendidikan sekuler.
Integrating Neuroembryology into Islamic Education: A Brain Development-Based Neuro-Pedagogical Framework Bukhari Bukhari; Muksinin Muksinin; Almawadi Almawadi; Deby Habja Musdalifa; Ahmad Lahmi; Julhadi Julhadi
Ruhama : Islamic Education Journal Vol 9, No 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Pascasarjana UMSB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/ruhama.v9i1.7965

Abstract

The development of neuroscience has significantly influenced contemporary educational studies, particularly in understanding brain development and learning processes. However, studies integrating neuroembryology and Islamic education remain limited, especially in constructing a neuro-pedagogical framework based on brain development. This study aims to analyze the integration of neuroembryology and Islamic education in developing a brain development-based neuro-pedagogical framework. This research employed a qualitative approach using a Systematic Literature Review (SLR) method guided by the PRISMA framework. Data were collected from scientific articles indexed in Scopus, ScienceDirect, SpringerLink, DOAJ, and Google Scholar published between 2019 and 2025. A total of 42 relevant articles were analyzed using content analysis and thematic synthesis techniques. The findings reveal that neuroembryology has a significant relationship with learning readiness, emotional regulation, cognitive development, and character formation. The study also found that the principles of brain-based learning are substantially aligned with Islamic educational values such as fitrah, tarbiyah, ta’dib, tazkiyah, and akhlaq development. Based on the synthesis results, this study proposes a conceptual framework of Islamic neuro-pedagogy integrating neuroembryology, brain-based learning, and Islamic educational values into a holistic learning model. This research contributes theoretically to the integration of neuroscience and Islamic education and practically to the development of curriculum design, learning strategies, and neuroscience-based Islamic educational practices.Keyword: Neuroembryology, Islamic education, neuroscience, brain-based learning, neuro-pedagogy.
Evolution of Islamic Legal Thought: From the Prophetic Era to Reform Movements Redi Zulpianto; Rifana Wahdi; Ahmad Lidra; Julhadi Julhadi
Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padngsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/multidisipliner.v13i1.18380

Abstract

This study aims to analyze the development of Islamic legal thought from the time of the Prophet Muhammad (saw) to the era of modern renewal. The research uses a qualitative approach with the library research method through the analysis of primary and secondary sources related to the history and dynamics of Islamic legal thought. The data collection technique is carried out through documentation, while the data analysis uses a descriptive-analytical method. The results of the study show that Islamic legal thought develops dynamically through the interaction between the text of revelation, rationality, and the socio-historical context of society. These developments can be seen in every phase of history, starting from the normative prophetic period, the time of the Companions who emphasized ijtihad, the phase of systematic codification of the fiqh school, to the modern reform movement that seeks to reconstruct Islamic law to be relevant to the development of the times. This study concludes that Islamic law has a flexible and adaptive character so that it is able to respond to social changes without abandoning the basic principles of sharia. The findings of this research are expected to enrich the study of Islamic philosophy and legal thought and become the foundation for the development of contextual ijtihad in the modern era.
The Role of Schools in Multicultural Education, Development of Multicultural Education Marhadi Efendi; Syafrianto Syafrianto; Mahyudin Ritonga; Julhadi Julhadi
Jurnal Kajian dan Pengembangan Umat Vol 9, No 1 (2026):Vol. 9, No. 1 Juni 2026
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jkpu.v9i1.7698

Abstract

Multicultural education is a strategic approach in responding to the reality of the diversity of the Indonesian nation consisting of various ethnicities, religions, races, and cultures. This study aims to analyze the role of schools in implementing multicultural education and its development strategies within the context of the Indonesian national education system. The method used is a literature study with a qualitative-descriptive approach, through the analysis of various literature, theoretical concepts, and educational policies relevant to multiculturalism and educational practices in schools. The results of the study indicate that schools have a central role as agents of socialization of the values of tolerance, equality, and respect for diversity through curriculum, learning, school culture, teacher training, and parental and community involvement. The development of multicultural education can be done through the integration of multicultural materials in subjects, the establishment of special subjects, planned institutional programs, and social movements that promote equality and justice. Furthermore, the application of Banks' five dimensions of multicultural education—namely, material integration, knowledge construction, prejudice reduction, equitable pedagogy, and empowerment of school culture—serves as an important framework for addressing various implementation challenges, such as teachers' limited understanding of students' cultures and persistent social prejudice. The conclusion of this study confirms that strengthening the role of schools in multicultural education is key to realizing an inclusive, tolerant, and civilized Indonesian society in the face of the dynamics of globalization and cultural plurality.
Analisis Peningkatan Kompetensi Guru di MGMP Al-Qur’an Hadis Madrasah Aliyah Kabupaten Demak Zarkasi Zarkasi; M. Afief Mundzir; Abdul Rokhim; Parsidi Parsidi; Julhadi Julhadi
Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru Vol. 9 No. 1 (2024): Edisi Januari 2024
Publisher : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51169/ideguru.v9i1.744

Abstract

This research aims to analyze the learning practices that have been carried out by Al-Qur'an Hadith teachers at Madrasah Aliyah in Demak Regency, Central Java Province who are members of the MGMP. This research is qualitative with a phenomenological approach. Data was collected using observation, documentation, and interviews. Next, the data was analyzed using several steps: collection, reduction, data presentation, and conclusion. The results of the research show that the majority of learning practices carried out by al-Qur'an hadith teachers at Madrasah Aliyah in Demak Regency are still classical, dominated by lectures, the media and learning methods used are less varied and adaptive, the learning is still focused on the teacher (not yet focused on students), have not made much use of technology or the internet and have not directed students' critical thinking skills. This research produces an analysis that to improve the quality of learning, the steps that must be taken are to increase innovation and knowledge through various online and offline training, take part in teacher professional education (PPG), and improve educational qualifications toward master's and doctoral levels so that the quality and competence of teachers increases as well as The learning is also more contextual and fun for students who are learning