Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Islam dan Hak-Hak Minoritas: Analisis tentang bagaimana Islam memandang hak-hak minoritas dan bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam masyarakat yang pluralism Mulyadi Mulyadi; Nofik Afriko; Tamrin Kamal; Riki Putra; Julhadi Julhadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pluralitas agama, etnis, dan budaya merupakan keniscayaan sosial yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam konteks ini, perlindungan terhadap hak-hak minoritas menjadi salah satu indikator utama keadilan sebuah peradaban. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Islam memandang hak-hak kelompok minoritas serta bagaimana konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam masyarakat pluralistik kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis normatif-teologis dan historis terhadap sumber-sumber utama Islam, seperti al-Qur’an, hadis, serta praktik sejarah Nabi Muhammad saw., khususnya melalui Piagam Madinah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Islam sejak awal mengakui pluralitas sebagai sunnatullah dan meletakkan prinsip keadilan, kebebasan beragama, serta perlindungan martabat manusia sebagai fondasi relasi sosial. Konsep ahl al-żimmī dalam fikih klasik memperlihatkan adanya jaminan hak-hak fundamental bagi minoritas non-Muslim, meliputi perlindungan jiwa dan harta, kebebasan beribadah, hak ekonomi, jaminan sosial, serta partisipasi terbatas dalam kehidupan politik. Praktik historis di Madinah membuktikan bahwa Islam mampu membangun tatanan masyarakat multikultural yang damai dan inklusif melalui Piagam Madinah sebagai konstitusi bersama. Dalam konteks masyarakat plural modern, konsep perlindungan minoritas dalam Islam mengalami transformasi dari sistem żimmah menuju konsep kewarganegaraan setara (muwāṭanah), yang menekankan kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga negara tanpa diskriminasi agama. Dengan demikian, Islam memandang hak-hak minoritas bukan sekadar sebagai kompromi sosial-politik, melainkan sebagai kewajiban teologis dan etis yang berakar pada prinsip keadilan ilahi dan kemanusiaan universal. Konsep ini relevan untuk diterapkan dalam masyarakat plural seperti Indonesia guna memperkuat harmoni sosial dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Makna Pendidikan, Implikasi Multikultural, Dan Pengembangan Pendidikan Multikultural Ari Prima; Apris Apris; Julhadi Julhadi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mengkaji makna pendidikan dalam perspektif filosofis dan sosiologis serta menganalisis implikasi nilai-nilai multikultural dalam pengembangan pendidikan multikultural di konteks masyarakat majemuk Indonesia. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai medium pembentukan karakter, internalisasi nilai, dan penguatan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) yang diperkaya dengan analisis konseptual terhadap teori pendidikan, pendidikan multikultural, dan kebijakan pendidikan nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna pendidikan yang berorientasi pada humanisasi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap perbedaan memiliki implikasi langsung terhadap desain kurikulum, strategi pembelajaran, peran guru, serta iklim budaya sekolah yang inklusif. Pengembangan pendidikan multikultural menuntut integrasi nilai toleransi, dialog antarbudaya, pengakuan identitas, dan keadilan dalam praksis pendidikan. Artikel ini merekomendasikan penguatan kebijakan dan praktik pendidikan multikultural melalui pengembangan kurikulum kontekstual, peningkatan kompetensi guru, serta penguatan budaya sekolah yang ramah keberagaman guna membangun kohesi sosial dan mencegah potensi konflik berbasis identitas.
Islam Sebagai Objek Studi Dan Penelitian Dari Pendekatan Keilmuan: Analisis Kerangka Konseptual, Metodologis, dan Relevansi Kontemporer Agusrianto Agusrianto; Riko Pilahantoni; Maltifal Maltifal; Julhadi Julhadi; Sri Wahyuni
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Vol 20 No. 02 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i2.7629

Abstract

Studi Islam kontemporer menjadi semakin penting untuk memahami agama yang senantiasa berubah. Artikel ini mengkaji Islam sebagai subjek riset ilmiah dengan menganalisis kerangka konseptual, metodologis, dan relevansinya dengan masa kini. Pertumbuhan studi Islam di zaman modern menjadi latar belakangnya, yang kini memasukkan berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora untuk memahami Islam dari berbagai sisi, melampaui sekadar ajaran normatif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan cara menerapkan ilmu pengetahuan secara komprehensif dan efektif dalam studi Islam, dengan keseimbangan antara ilmu murni dan kepekaan terhadap subjek studi yang memiliki makna spiritual dan budaya. Menggunakan metode kualitatif berbasis kajian pustaka, tulisan ini menganalisis isi literatur yang ada dan menemukan bahwa Islam dapat menjadi subjek riset ilmiah karena memiliki dua sisi: ajaran normatif (seperti wahyu dan keyakinan) dan fenomena empiris (seperti praktik hidup, budaya, dan sejarah). Pendekatan keilmuan, yang mencakup kajian sejarah, masyarakat, budaya, filsafat, dan agama, sering kali digunakan secara bersamaan dari berbagai disiplin ilmu. Kemajuan dalam metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan digital juga memfasilitasi analisis yang mendalam dan bernuansa. Temuan utama menunjukkan bahwa studi Islam sangat berguna dalam menjawab permasalahan dunia saat ini, seperti perubahan iklim, kekerasan, ketidakadilan sosial, dan isu moral. Studi ini juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan mempromosikan dialog antarbudaya. Oleh karena itu, studi Islam yang kritis dan terbuka sangat penting untuk membantu orang memahami Islam secara benar dan adil di zaman modern.Kata Kunci: Studi Islam, Pendekatan Keilmuan, Metodologi Penelitian, Relevansi Kontemporer, Objektivitas Ilmiah
Metodologi Terintegrasi: Pendidikan Islam Dan Psikologi Sosial Zidni Ilman Nafian; Yanfaunnas Yanfaunnas; Julhadi Julhadi; Sri Wahyuni
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 2 (2026): Vol 20 No. 02 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i2.7631

Abstract

Konvergensi metodologi penelitian Pendidikan Islam dan Psikologi Sosial diselidiki dalam studi ini. Ini adalah respons terhadap kompleksitas dinamika sosial dan spiritualitas di era digital. Nilai-nilai teologis Islam dan tuntutan empiris psikologi sosial dalam memahami fenomena pendidikan kontemporer memunculkan kesenjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik penelitian Pendidikan Islam. Konsep Psikologi Sosial yang relevan akan diuraikan. Strategi integrasi metodologis akan dirumuskan.Pendekatan kualitatif studi pustaka digunakan. Analisis konseptual dan sintesis memperkaya metode ini. Pendidikan Islam memiliki landasan epistemologis. Landasan ini mengintegrasikan nilai normatif dengan data empiris. Psikologi Sosial menyediakan instrumen analisis perilaku yang presisi. Model integrasi yang paling efektif adalah metode penelitian campuran (mixed methods). Metode ini memungkinkan dialektika. Dialektika ini terjadi antara data kualitatif berbasis teks suci dan nilai Islam. Ini juga terjadi dengan data kuantitatif berbasis perilaku sosial.Integrasi ini mampu menghasilkan riset. Riset tersebut bersifat holistik, saintifik, dan aplikatif. Integrasi ini meningkatkan kedalaman analisis dan orisinalitas temuan ilmiah di tingkat pascasarjana. Pendekatan terintegrasi ini krusial. Ini untuk menjawab tantangan pendidikan Islam abad ke-21.Kata Kunci:  Pendidikan Islam, Psikologi Sosial, Metode Penelitian, Integrasi Metodologis
Vision, Mission And Objectives Of Education In Hadith Perspective Julhadi Julhadi
Ambarsa : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 2 (2022): Pendidikan Agama Islam dalam Era Merdeka Belajar
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Togo Ambarsari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59106/abs.v2i2.74

Abstract

The vision and mission of Islamic education in the hadith are not only as slogans or as decorations and school wall displays, but really must be used as the basis for bringing the educational institution towards improvement accompanied by innovations in it. The very basic goal of Islamic education is to create human beings to become true servants of Allah. That is to make his whole life devoted only to Allah SWT. Besides that, the purpose of Islamic education is to create a balanced life between the life of the world and the hereafter. Islamic education also aims to develop human potential to become a perfect human being (insan kamil).
INTELIGENSIA/CENDEKIAWAN ISLAM SEBAGAI SEBUAH KELAS SOSIAL BARU: SEBUAH HARAPAN DAN PERJUANGAN EKSISTENSI DAN JATI DIRI SERTA BEBAN SEJARAH DAN MASA DEPAN Yuldafriyenti Yuldafriyenti; Tamrin Kamal; Saifullah Saifullah; Desi Asmaret; Julhadi Julhadi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.41039

Abstract

Inteligensia atau cendekiawan Islam berada dalam posisi unik untuk membantu umat Islam menghadapi kesulitan-kesulitan modernitas. Salah satu perkembangan signifikan dalam dinamika sosial dan intelektual umat Islam adalah munculnya ulama Islam sebagai kelas sosial baru. Baik secara politik maupun intelektual, para pemikir Islam Indonesia telah mengalami pasang surut. Metode yang digunakan yakni Kualitatif dengan desain studi literature atau library research. Kemudian dilakukan dengan meninjau sumber bacaan yang terkait dengan topik penelitian yang dibahas, serta dengan meninjau studi dokumen dari penelitian sebelumnya yang berkaitan konsep. Data dikumpulkan dengan meliat buku, jurnal ilmiah serta sember digital. Hasil penelitian membahas mengenai pengertian inteligensia atau cendekiawan, peran cendekiawan muslim. Cendekiawan Islam dapat dipandang sebagai kelas sosial baru yang terbentuk melalui proses pendidikan modern, baik di lembaga-lembaga Islam tradisional maupun institusi pendidikan sekuler.