Claim Missing Document
Check
Articles

Pemberdayaan Pedagang dalam Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Pasar Adat Padangsambian, Kota Denpasar Luh Gede Pradnyawati; Ratna Juwita Dewa Ayu Putu; Indra Wijaya Made
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.2.1.2023.33-39

Abstract

Pasar Adat Padangsambian merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Denpasar. Pandemi Covid-19 yang sedang melanda seluruh dunia juga menyebar ke Indonesia khususnya Provinsi Bali dengan penyebaran wabah masih berlangsung hingga saat ini. Dari hasil penelitian, salah satu tempat yang interaksi masyarakatnya tinggi dan rentan terhadap penyebaran penyakit di Bali adalah pasar. Tak terkecuali Pasar Adat Padangsambian juga termasuk tempat yang rentan terjadinya penyebaran Covid-19. Minimalnya informasi yang didapatkan oleh pedagang tentang penyebaran Covid-19 menyebabkan kurangnya penerapan mereka dalam pelaksanaan PHBS. Namun pada kenyataannya penerapan PHBS ini sangat minimal penerapannya di Pasar Adat Padangsambian. Selain hal itu, kurangnya kemampuan pedagang untuk membeli alat pelindung diri atau APD misalnya masker dan Hand Sanitizer. Hal itu disebabkan karena kelangkaan APD dan juga finansial mereka yang kurang dimana saat ini harga APD melambung tinggi. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah peningkatan pengetahuan tentang pencegahan penyebaran Covid-19 dan penerapn PHBS yang benar pada kader sebesar 100%. Selain itu penerapan protokol kesehatan sudah terlaksana dengan baik. Semua kelompok mitra telah mampu melakukan kegiatan pencegahan penyebaran Covid-19 dan penerapan PHBS yang benar di lokasi pasar. Selain itu para mitra sudah bisa membuat APD secara mandiri. Saran yang dapat kami berikan dalam kegiatan pengabdian ini adalah agar kelompok mitra dapat menjadi ujung tombak perekrutan mitra lainnya sebagai partner dalam melakukan kegiatan “peer” pencegahan penyebaran Covid-19 dan penerapan PHBS yang benar di Pasar Adat Padangsambian, Kota Denpasar.
Program Kemitraan Masyarakat Kelompok Pekerja di Rumah Sakit Umum Prima Medika Made Indra Wijaya; Luh Gede Pradnyawati; I Made Aditya Mantara Putra
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.2.2.2023.91-96

Abstract

Sepanjang tahun 2022, kasus COVID-19 masih dilaporkan terjadi di Bali, tetapi jumlah kasus dan tingkat keparahannya sudah tidak mengkhawatirkan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Bali sudah terbuka untuk wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan internasional. Pariwisata mulai bangkit dan perekonomian pun berangsur-angsur pulih. Berbagai kegiatan, yang dikenal dengan sebutan MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition), marak diselenggarakan di Bali. MICE akan terus berlangsung hingga puncaknya pada pertemuan G20. Ubud, sebagai salah satu destinasi wisata di Bali, mulai bangkit. Tujuan program kemitraan masyarakat ini adalah mempersiapkan Rumah Sakit Umum Prima Medika untuk membuka klinik wisata (travel clinic), yaitu dengan memberdayakan kelompok pekerja sesuai dengan latar belakang mereka. Mitra pengabdiam masyarakat adalah kelompok pekerja, yang meliputi kelompok klinis dan non klinis. Kelompok klinis meliputi dokter umum, perawat, dan apoteker; sedangkan kelompok non klinis terdiri dari staf administrasi dan pemasaran. Mula-mula dilakukan telusur lapangan, telusur dokumen, dan wawancara kelompok pekerja untuk mendapatkan gambaran umum tentang pelayanan terhadap wisatawan yang sedang berjalan, sehingga masukan atau saran yang diberikan sesuai dengan keadaan di lapangan. Dari analisis situasi tersebut didapatkan bahwa praktik kedokteran pariwisata belum mengacu pada standar internasional. Selain itu, kelompok pekerja juga belum paham tentang kode etik rumah sakit sebagaimana yang ditetapkan oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (KODERSI). Berdasarkan hasil analisis tersebut, selanjutnya dilakukan bimbingan teknis kesehatan pariwisata dengan mengacu pada kerangka keilmuan yang dipublikasikan oleh The National Travel Health Network and Centre (NaTHNaC) bagi kelompok pekerja klinis dan KODERSI bagi kelompok pekerja non klinis.
Klinik Wisata Dan Kode Etik Rumah Sakit Made Indra Wijaya; Luh Gede Pradnyawati; I Made Aditya Mantara Putra
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 2 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.2.3.2023.155-161

Abstract

ABSTRAK Sepanjang tahun 2022, COVID-19 dengan tingkat keparahan yang rendah masih dilaporkan terjadi di Bali. Walaupun demikian, wisatawan, baik nusantara maupun asing, telah mulai berdatangan ke Bali. Pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran yang memerlukan transportasi dan akomodasi, mulai berlangsung di Bali. Menjelang pertemuan G20, pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran semakin sering diselenggarakan di Bali. Ubud, yang menjadi tujuan wisata terkenal di Bali, juga mulai pulih. Dengan program pengabdian kepada masyarakat terhadap kelompok profesional pemberi asuhan dan karyawan yang terlibat dalam pemasaran rumah sakit, diharapkan akan memfasilitasi Rumah Sakit Payangan untuk merintis pelayanan klinik wisata. Kelompok karyawan non klinis adalah staf atau karyawan yang terlibat dalam pemasaran, sedangkan profesional pemberi asuhan terdiri dari apoteker/tenaga teknis kefarmasian, bidan, perawat, dan dokter umum. Untuk menggali informasi tentang pelayanan kesehatan bagi wisatawan, maka mula-mula dilakukan grand round. Dengan demikian, bimbingan teknis yang diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan karyawan. Dari grand round ditemukan bahwa: (1) praktik kedokteran pariwisata belum mengikuti panduan dari Perhimpunan Kedokteran Pariwisata Internasional atau Jaringan dan Pusat Kesehatan Pariwisata Nasional; dan (2) kelompok karyawan non klinis belum terpapar dengan kode etik pemasaran rumah sakit.
PKM Kesehatan Pekerja Seks Perempuan dalam Penanggulangan IMS dan HIV/AIDS di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya; Komang Triyani Kartinawati
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.2.2.2023.97-102

Abstract

Bali adalah salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi tujuan para traveler dari seluruh dunia, baik untuk berwisata, berbisnis, maupun bekerja yang rentan terhadap penyebaran dan penularan penyakit IMS dan HIV/AIDS. Lokalisasi Jalan Setia Budi adalah salah satu titik lokalisasi yang berada di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Lokalisasi ini sudah ada sekitar 10 tahun dan beroperasi 24 jam dan rentan penularan IMS dan HIV/AIDS. Minimalnya pengetahuan mitra PSP (Pekerja Seks Perempuan) mengenai penanggulangan IMS dan HIV/AIDS tersebut. Mitra yang dalam hal ini sebagai perpanjangan tangan dari tenaga kesehatan tidak memiliki gambaran mengenai pelaksanaan program penanggulangan IMS dan HIV/AIDS tersebut. Mereka tidak mengetahui hal-hal yang berbahaya dari IMS dan HIV/AIDS, faktor risiko, cara penularannya serta cara pencegahannya salah satunya adalah program VCT. Dengan terjadinya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, membuat terjadinya penurunan pemasukan dari pelanggan yang berdampak pada perekonomian mereka. Sehingga mereka membutuhkan penghasilan tambahan selain dari memuaskan pelanggan. Dari permasalahan yang dihadapi, maka solusi yang dapat ditawarkan adalah melaksanakan focus group discussion mengenai pencegahan IMS dan HIV/AIDS dengan melibatkan mitra, mucikari dan PSP. Dari kegiatan ini telah meningkatkan pemahaman PSP serta orang-orang di sekitar lokalisasi mengenai pentingnya penanggulangan IMS dan HIV/AIDS. Peningkatan skill PSP melalui pelatihan bagi mitra dalam pembuatan APD seperti masker, handsanitizer, face shield. Pelatihan ini dilakukan untuk membantu PSP dalam mencari pemasukan tambahan selain bekerja di lokalisasi sehingga permasalahan perekonomian mereka terbantu di masa pandemi Covid-19. Kata Kunci : Pekerja seks perempuan, IMS, HIV/AIDS, Kecamatan Kuta
PKM Pemberdayaan Pedagang Perempuan dalam Pencegahan IMS dan HIV/AIDS di Pasar Umum Payangan Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya; Komang Triyani Kartinawati
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 2 No. 3 (2023): September 2023
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.2.3.2023.127-131

Abstract

Selain populasi kunci seperti pekerja seks, LGBT, penasun, para pedagang perempuan merupakan kelompok yang berisiko juga tertular IMS dan HIV/AIDS. Para pedagang perempuan, ibu rumah tangga merupakan kelompok berisiko rendah yang rentan tertular. Pasar merupakan tempat dengan mobilisasi dan interaksi masyarakatnya yang tinggi, sehingga tidak memungkiri terjadinya perilaku seksual yang berisiko. Selain itu Payangan merupakan kecamatan yang tinggi kunjungan treveler di Provinsi Bali, dimana daerahnya termasuk daerah agraris dan ekowisata sangat digalakkan. Berdasarkan wawancara dengan mitra didapatkan permasalahan bahwa kurangnya pengetahuan mitra tentang pencegahan IMS dan HIV/AIDS. Selain itu kurangnya pengetahuan pedagang perempuan tentang pemasaran dagangan online yang mana mereka cenderung berdagang hanya di tempat saja. Dari hasil kegiatan yang dilakukan oleh tim pengabdi didapatkan hasil bertambahnya pengetahuan para kader tentang pencegahan IMS dan HIV AIDS sebesar 100%. Para kader pedagang juga sudah terlatih dalam hal pemasaran online hasil dagangan. Pedagang juga sudah bisa secara mandiri dalam bertransaksi melalui platform digital. Kontribusi mitra terhadap pelaksanaan kegiatan program kemitraan masyarakat ini sangat baik. Mitra sangat antusias dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemberdayaan pedagang perempuan dalam pencegahan IMS dan HIV/AIDS di Pasar Payangan.
Pelatihan pada Kader Posyandu dalam Deteksi Dini Perkembangan Balita Usia 0-2 tahun di Desa Bukian, Payangan Anny Eka Pratiwi; Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.3.1.2024.39-44

Abstract

Evaluasi perkembangan seorang anak dapat dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangannya, yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Untuk meningkatkan berbagai aspek kecerdasan selama masa pertumbuhan dan perkembangan anak, diperlukan tidak hanya faktor keturunan dan rangsangan dari lingkungan, tetapi juga pemenuhan tiga kebutuhan utama: fisik, emosional, dan stimulasi dini. Kegiatan ini difokuskan pada kelompok Posyandu di Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Gianyar, dengan tujuan melatih para kader dalam melakukan stimulasi dan deteksi dini terhadap potensi penyimpangan pada anak usia 0-2 tahun. Metode yang digunakan adalah community development, melibatkan 10 kader posyandu dan 5 anak berusia 0-2 tahun. Proses pelaksanaan melibatkan pelatihan kepada kader mengenai stimulasi dan deteksi dini tumbuh kembang bayi dan balita, diikuti dengan pengukuran dan penilaian tumbuh kembang anak. Dari 5 anak yang terlibat, 4 anak (80%) menunjukkan perkembangan "Sesuai," menunjukkan kemampuan baik dalam aspek motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan kemandirian. Satu anak (20%) termasuk dalam kategori "Meragukan," sementara tidak ada yang tergolong dalam kategori "Penyimpangan." Pelaksanaan Program Deteksi Dini Perkembangan Anak dilakukan dengan tujuan memantau perkembangan anak dan mendeteksi potensi gangguan atau penyimpangan dalam perkembangan mereka. Implementasi program ini telah sukses, mencapai tingkat keberhasilan sebesar 100%.
Travel Clinic and Indonesian Hospital Code of Ethics Made Indra Wijaya; I Made Aditya Mantara Putra; Luh Gede Pradnyawati
Community Service Journal of Law Vol. 2 No. 2 (2023): Community Service Journal of Law
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csjl.2.2.2023.76-80

Abstract

In 2022, COVID-19 cases are still reported occurring in Bali, however, the number of cases as well as its severity are no longer concerning as in 2020 and 2021. Bali has been reopened for both domestic as well as international tourists. Tourism begins to rise up and consequently, it brings about economics recovery. Various events, which are commonly abbreviated as MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition), were and are planned to be hold in Bali. They continue taking place until they reach their peak during G20 Summit. Ubud, as one of tourist destinations in Bali, also rises up. The purpose of this community service program is to prepare Sanjiwani General Hospital to establish travel clinic through empowerment of its employees tailored to their backgrounds. The partner in this program is employee group who is broadly categorized into clinical and non-clinical groups. Clinical group consists of general practitioners, nurses, and pharmacists. Non-clinical group consists of administration staff and marketing staff. We initiated the program by conducting grand round, document assessment, and interview with several employees to get a glimpse of current situation so that we could provide training and education based on our findings. The situational analysis revealed that employees had not implemented travel medicine practice in accordance with international standard. Moreover, employees had not exposed with hospital code of ethics issues by Indonesian Hospital Association. We proceeded with workshop regarding travel medicine referring to the body of knowledge introduced by The National Travel Health Network and Centre (NaTHNaC) for clinical group and hospital ethical codes referring to hospital ethical codes introduced by The Indonesian Hospital Association for non-clinical group.
The Importance of Husband Support in Exclusive Breastfeeding: A Cross-Sectional Study Anak Agung Sagung Mirah Prabandari; Maria Krishnandita; Suyasa Adryan Yunanda; Made Indra Wijaya
Bali Medical and Wellness Journal Vol. 1 No. 1 (2024): Bali Medical and Wellness Journal
Publisher : PT BMW Journal Sejahtera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71341/bmwj.v1i1.10

Abstract

Introduction: Despite the significant benefits of breastfeeding, the proportion of exclusive breastfeeding in Indonesia remains low. Husbands, being one of the closest persons to breastfeeding mothers, might be an appropriate target for breastfeeding promotion. This study aims to investigate husband support in exclusive breastfeeding. Methods: A cross-sectional study was conducted in the working area of Dawan II Community Health Center from October to December 2018. Data was collected using questionnaires given to mothers with babies aged 6-24 months who had a husband. Analysis was performed using chi-square test and logistic regression on SPSS version 21. Results: The proportion of exclusive breastfeeding was 55.8%. Chi-square test revealed that husband support has a significant association with exclusive breastfeeding, with a PR of 3.6 (p<0.001; 95%CI= 1.48-8.73). Other associated variables were mother's educational level and parity. Multivariate analysis confirmed the association of husband's support with exclusive breastfeeding (AOR=14.22; p=0.004). Conclusion: Husband support is crucial in exclusive breastfeeding, and husbands should also be targeted for health promotion regarding exclusive breastfeeding.
A Study of Cervical Cancer Screening At Puskesmas Gianyar I Based On The Social Ecological Model Ni Nyoman Hita Girindra Wardani; Made Indra Wijaya
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 17 No 3 (2025): JIKM Vol 17, Issue 3, August 2025
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v17i3.789

Abstract

Background: Cervical cancer is a leading cause of death among women, and early detection through screening is crucial to prevent its progression. Despite this, participation in screening programs remains low, including in Bali. This study explores factors influencing participation at five levels individual, interpersonal, community, organizational, and policy focusing on the screening program at Puskesmas Gianyar I. Method: The study employed a qualitative approach through in-depth interviews and document analysis. Informants included healthcare workers, the head of the community health center, program coordinators for disease prevention, and patients who had participated in screening. Data were analyzed using thematic analysis to identify key themes aligned with the Social Ecological Model framework. Results: Participation in cervical cancer screening is influenced by the Social Ecological Model. Individual barriers include fear and lack of knowledge, while family and community roles involve support, stigma, and social norms. Organizational challenges include limited facilities and inadequate training, whereas policies require subsidization supported by simplified procedures. Conclusion: This study identifies barriers to cervical cancer screening participation, such as perceptions of being "healthy," stigma, and facility limitations. Promotional strategies are positive but require cultural approaches, enhanced training, and procedural simplifications.
Social Determinant Factors as Dengue Hemorrhagic Fever Prevention in Banjar Pedungan, South Denpasar Anny Eka Pratiwi; Made Indra Wijaya
International Journal of Health and Social Behavior Vol. 3 No. 3 (2026): August: International Journal of Health and Social Behavior
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijhsb.v3i3.663

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains an endemic health problem in Denpasar, with incidence rates increasing over the past five years, reaching 43.97 (2021), 109.87 (2022), 184.23 (2023), 126.01 (2024), and 169.32 per 100,000 population (2025). Cadres play an important role in the success of DHF prevention programs by facilitating information delivery, periodic monitoring, and community participation in preventive actions. This study aimed to evaluate community knowledge, attitudes, and practices regarding DHF prevention in Banjar Pedungan, South Denpasar. A mixed-methods approach was employed using purposive sampling involving 74 householders in South Denpasar. The findings showed that 66.7% of families had good knowledge and attitudes, 61.9% had good knowledge and practices, and 76.3% had good attitudes and practices related to DHF prevention. Fogging implementation was adjusted based on regional evaluations of increasing DHF cases. These findings indicate that community knowledge, attitudes, and practices toward DHF prevention were generally good. The study recommends strengthening DHF prevention through effective social media programs, adequate funding, regular monitoring and evaluation, and increased human resources to optimize prevention efforts.