Claim Missing Document
Check
Articles

The Advantages of the Uswah Hasanah Method in the Perspective of Q.S. Al-Ahzab Verse 21: Conceptual Analysis and Implementation Muhammad Thoriqul Islam; Fatma Amelia; Moh Ulul Azmi; Safiruddin Al Baqi; Sulton Muzakki; Ida Nur Oktaviani; Dwiana Novitasari; Ummu Habibah
PAEDAGOGIA Vol 28, No 1 (2025): PAEDAGOGIA Jilid 28 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/paedagogia.v28i1.98367

Abstract

Adverse social environments can affect students' attitudes, even though educators try to provide good examples. The influence of peers and the surrounding culture is often more substantial, making it easier for students to imitate negative behavior. To overcome this, educators must be accurate role models in everyday life, both inside and outside the classroom. Consistent role models will inspire students to imitate positive behavior. Educators also need to continue to improve their quality, referring to the principles of QS. Al-Ahzab verse 21, to strengthen role models and build students' social involvement. This study uses a qualitative text study method with literature studies, relying on various relevant library sources. Data were analyzed using content analysis to identify themes related to the advantages of the uswah hasanah method from the perspective of QS. Al-Ahzab verse 21. The study results show that this verse emphasizes the Prophet Muhammad SAW as the best role model with noble qualities such as patience, honesty, and sacrifice. The uswah hasanah method can be formulated into three main aspects: first, a Perfect Example, covering spiritual, social, and moral aspects; second, Good Worship Practices, teaching the implementation of worship with full attention; Third, Implementation in Education, using the Prophet's morals to shape students' characters. Thus, the uswah hasanah method is effective in Islamic education and in forming noble characters
Pola Asuh Orang Tua dalam Mengembangkan Kemandirian Belajar Anak Usia Dini di Desa Mantren Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan Vina Luthfi Hamidah; Safiruddin Al Baqi
Kindergarten: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia Vol. 1 No. 02 (2022): Kindergarten : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia
Publisher : UIN Kiai Ageng Muhammad Besari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola asuh merupakan sikap atau tingkah laku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Pola perlakuan orang tua tersebut akan berpengaruh terhadap kemandirian belajar khususnya anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pola asuh yang diterapkan orang tua dalam mengembangkan kemandirian belajar anak usia dini, dan (2) mengetahui dampak dari pola asuh yang diterapkan orang tua dalam membangun kemandirian belajar anak usia dini. Jenis penelitian ini adalah kualitatif studi kasus, dan bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Mantren Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara secara langsung dan dokumentasi yang menggunakan subjek 4 orang tua dari anak yang berusia 5-6 tahun, dan 2 orang guru PAUD. Analisis data meliputi data reduction, data display, dan conclusion. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan ditemukan bahwa orang tua menggunakan pola asuh otoriter, pola asuh permisif, dan pola asuh demokratis dalam mendidik kemandirian belajar anak usia 5-6 tahun. Meskipun demikian, pola asuh yang sering digunakan adalah pola asuh demokratis. Dari masing-masing pola asuh tersebut memiliki dampak yang berbeda yaitu: pola asuh permisif menghasilkan anak dengan kemandirian belajar mulai berkembang, pola asuh otoriter menghasilkan anak dengan kemandirian belajar yang berkembang sesuai harapan, sedangkan anak dengan pola asuh demokratis memiliki kemandirian belajar yang berkembang sangat baik.
Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perkembangan Anak Usia Dini di Era Digital Ni'amatul Azizah; Safiruddin Al Baqi
Kindergarten: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia Vol. 3 No. 01 (2024): Kindergarten: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia
Publisher : UIN Kiai Ageng Muhammad Besari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/kindergarten.v3i01.3162

Abstract

Metode atau cara yang dimiliki oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak guna memberikan perkembangan dan pertumbuhan anaksangatlah beragam, khususnya pada era digital ini. Dimana sebagian besar masyarakat menggunakan sistem digital dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pola asuh orang tua dan untuk menganalisis dampak pemberian gadget oleh orang tua terhadap perkembangan anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian studi kasus, dan bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Mruwak Kecapatan Dagangan Kabupaten Madiun. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara secara langsung, observasi serta dokumentasi dengan subjek 3 orang tua dari 3 anak yang berusia 4-6 tahun. Analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Kemudian data yang didapat akan dianalisis yang bertujuan untuk menarik kesimpulan dari proses penelitian tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis pola asuh yang diterapkan orang tua yaitu : pola asuh demokratis, pola asuh otoriter serta pola asuh permisif. Pola asuh demokratis, anak diberikan kesempatan untuk menggunakan gadget tetapi masih dalam pengawasan dan diberikan batasan oleh orang tua. Pola asuh otoriter, anak tidak diberikan kesempatan atau kebebasan dalam menggukan gadget. Pola asuh permisif, anak diberikan kebebasan dalam menggunakan gadget tanpa dibatasi oleh orang tua. Sedangkan dampak pemberian gadget oleh orang tua terhadap perkembangan anak usia dini yaitu: pola asuh demokratis, perkembangan anak yang terbentuk dari pola asuh ini anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab, memiliki inisiatif serta tidak ketergantungan dengan gadget. Pola asuh otoriter dalam perkembangan anak di era digital menjadikan anak pribadi yang tidak ketergantungan dengan gadget tetapi memiliki sifat agresif karena didikan yang keras oleh orang tua. Serta yang terakhir pola asuh permisif dapat menjadikan anak pribadi yang tidak peduli dengan sekitarnya lebih berfokus pada gadget dan mudah marah ketika diberikan larangan oleh orang tua.
Hikmah as a Solution to the Crisis of Adab in Buya Hamka’s Thought Muhammad Thoriqul Islam; Alhafidh Nasution; Safiruddin Al Baqi; Dwiana Novitasari; Amit Dana Ikmah; M.Ulul Azmi; Ida Nur Oktaviani
Religia: Jurnal Ilmu-Ilmu KeIslaman Vol 28 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v28i1.8062

Abstract

This research aims to analyze Buya Hamka’s perspective on resolving the crisis of adab (ethics) through the Qur’anic concept of hikmah. Employing a qualitative library research method, the study uses thematic content analysis to examine primary sources, particularly Hamka’s Tafsir al-Azhar, essays, and speeches, alongside relevant secondary literature. The analysis is structured through three stages: comparing various interpretations of hikmah and adab across Hamka’s works, contrasting differing emphases in context, and criticizing through a thematic coding framework that includes hikmah, adab, qalb, ‘aql, and iman. This approach enables the study to extract deeper meanings and reveal the interconnectivity of Hamka’s ethical thought. The results show that hikmah is the harmony of interconnected meanings, where the achievement of hikmah is the main goal for those who study it. Hamka proposed several ways to gain hikmah: reading and understanding the Qur'an, thinking deeply, and imitating good behavior. Hamka argues that hikmah can be a solution to overcoming the crisis of adab through strengthening the seven aspects of spiritual intelligence, namely al-ruh, al-qalb, al-nafs, al-aql, faith, worship, and adab. Spiritual intelligence has an important role in maintaining mental health, ultimately contributing to civilized individuals' formation. This study contributes to the field of Islamic thought and Living Qur’an by offering a Qur’anic-rooted philosophical framework of hikmah through the lens of Buya Hamka’s scholarship, promoting an integration between inner ethics (adab) and outer conduct in contemporary Muslim life.