Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Kebutuhan Dimensi Sumur Resapan untuk Pemukiman Padat di Kelurahan Mandalika Kota Mataram Saidah, Humairo; Sulistiyono, Heri; Wiradarma, Lalu Wirahman
JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN
Publisher : LPPM Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jstl.v11i2.866

Abstract

The rapid development of residential areas in Mataram City has led to significant changes in land use, potentially increasing surface runoff and causing issues such as surface ponding and localized flooding. One feasible solution to mitigate these impacts is the construction of infiltration wells as a form of sustainable and environmentally friendly drainage infrastructure. This study aims to provide technical guidance to the community in one of the densely populated sub-districts of Mataram City for determining the appropriate dimensions of rainwater infiltration wells based on field data. The design rainfall was estimated through frequency analysis using a normal distribution. Rainfall intensity was calculated using the Mononobe method, and runoff discharge was analyzed using the Rational method. Infiltration wells were then designed using the Sunjoto method and applied to residential units in the Mandalika Subdistrict, with variations in building area and land area (LB/LT) ranging from 24/60 to 60/70 square meters. Based on soil testing, the study area has an average soil permeability coefficient of 3.16 cm/hour and an average groundwater table depth of 2.45 meters. The results of the analysis for various house types from small to large, if the well is circular Ø 1.0 meters, then each house needs 1 well with a depth of between 1.14 meters to 1.97 meters, while for a well Ø 0.8 meters, it requires 1 well with a depth (H) between 1.76m to 3.03m. Especially for houses with a roof area of more than 60m2, a well with Ø 0.8 meters requires a depth exceeding the local groundwater level so it is recommended to make 2 or can also use Ø 1.0 meters. The dimensions of the well have been in accordance with the capacity requirements based on rainfall and the position of the local groundwater level.
Penyuluhan Irigasi Tetes Pada Masyarakat Di Dusun Dasan Tereng Desa Gumantar Kabupaten Lombok Utara Negara, I Dewa Gede Jaya; Karyawan, I Dewa Made Alit; Rohani; Suparjo; Supriyadi, Anid; Budianto, M Bagus; Setiawan, Ery; Suroso, Agus; Sulistiyono, Heri; Eniarti, Miko; Pradjoko, Eko; Saadi, Yusron
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 2 (2025): April-Juni 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i2.11210

Abstract

The Gumantar Village community is a community located in the hills with terraced and sloping village conditions. Most of the community has yards and gardens, although not very large with terraced land conditions. The water source of the Gumantar Village Community comes from the upstream hillsides, with the number of hamlets as many as 16 hamlets with a population of around 2000 people and most of them are field farmers. Considering the potential of the surrounding land which is very large and in the form of terraces, it is necessary to provide counseling to the community on how to utilize limited water sources for farming activities with a drip irrigation system. To help the community, counseling is needed so that the community quickly understands the drip irrigation system. This community service aims to provide efficient irrigation counseling, namely drip irrigation, to encourage farming to be carried out around the yard. The community service consists of location survey activities, counseling, discussion and question and answer sessions, and evaluation. This community service has succeeded in providing counseling to 35 people consisting of housewives and fathers, as well as young people from the Dasan Tereng Hamlet mosque. Participants have gained knowledge about drip irrigation and obtained examples of the use of drip irrigation in yards and dry land, so that people are able to utilize limited water in the dry season for agricultural purposes in their yards
KAJIAN PENENTUAN TEMPAT EVAKUASI BENCANA BANJIR DI KEK MANDALIKA KABUPATEN LOMBOK TENGAH: Determination Study of Disaster Flood Evacuation Location in The Mandalika SEZ at Center Lombok Regency Hendrawan, Hendrawan; Salehudin, Salehudin; Pradjoko , Eko; Sulistiyono, Heri; Pracoyo, Atas
Spektrum Sipil Vol 12 No 1 (2025): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v12i1.380

Abstract

Bencana alam banjir mendominasi kejadian bencana alam di Indonesia dan sebanyak 89 kejadian bencana banjir terjadi di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2021. Kecamatan Pujut adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yang termasuk daerah yang terkena dampak banjir pada akhir tahun 2021. Cepatnya rambatan air dan lambannya informasi antisipasi bencana banjir dapat menyebabkan kurang maksimalnya penekanan dampak dari banjir tersebut. Salah satu tindakan antisipasi yang dapat dilakukan sebelum bencana banjir datang adalah dengan menentukan lokasi evakuasi atau tempat singgah untuk meminimalisir kerugian penyebab banjir. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui sebaran daerah rawan banjir dan penentuan tempat evakuasi bencana banjir di Kecamatan Pujut umumnya dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika khususnya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data dikumpulkan dari studi literatur dan pengolahan data melalui aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Sedangkan teknik studi yang dipakai yaitu dengan mengumpulkan data-data yang mendukung kajian ini kemudian diterapkan metode Sample Additive Weighting (SAW). Hasil kajian menunjukkan tingkat bahaya banjir di Kecamatan Pujut memiliki 4 kelas, yaitu kelas tidak rawan, cukup rawan, rawan, dan sangat rawan. Kelas cukup rawan terjadinya banjir memiliki luasan terbesar dengan persentase 52.71%. Sedangkan KEK Mandalika tergolong kelas sangat rawan terjadinya banjir meskipun memiliki luasan terkecil yaitu dengan persentase 0.49%. Terdapat 5 lokasi di Kecamatan Pujut yang 4 diantaranya berada di KEK Mandalika yang tergolong Layak untuk menjadi Tempat Evakuasi bencana banjir. Parameter paling berpengaruh dalam kajian ini adalah Tingkat Kerawanan Banjir dan Tata Guna Lahan.
ANALISIS KINERJA SPRINKLER MINI PADA JARINGAN IRIGASI AIR TANAH DI DESA GUMANTAR: Performance Analysis of Mini Sprinklers in Groundwater Irrigation Networks in Gumantar Village Jaya Negara, I Dewa Gede; Yasa, I Wayan; Sulistiyono, Heri; Agastya, Dewandha Mas; Supriyadi , Anid
Spektrum Sipil Vol 12 No 1 (2025): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/spektrum.v12i1.384

Abstract

Pertanian di lahan kering Gumantar, saat ini telah didukung oleh jaringan irigasi air tanah (JIAT) dalam dengan jaringan perpipaan dan sistem bok outlet dalam pendistribusian air irigasinya. Pada cara irigasi tersebut irigasi dilahan pertanian diberikan dengan cara penggenangan sekitar 2 jam dan kemudian diistirahatkan karena terbatasnya pompa. Memperhatikan pemberian irigasi dengan sistem yang ada sangat boros dengan air dan banyak lahan dengan luasan yang kecil berpotensi mendapat air dari jaringan JIAT sangat berlebihan, maka perlu dilakukan uji sistem irigasi hemat air untuk untuk luasan kecil, untuk membantu efisiensi penggunaan air dilahan kering JIAT Gumantar. Untuk itu sistem irigasi sprinkler kecil yang jangkauannya pendek akan diuji dilokasi ini, agar nantinya dapat digunakan sebagai alternatif dalam irigasi pada lahan yang kecil. Uji ini dilakukan pada luas lahan sekitar 3 are dengan uji sprinkler kecil 24D Netafim dan jaringan distribusi digunakan pipa pvc dan sumber air dari jaringan JIAT. Uji dilakukan terhadap kinerja sprinkler dalam memberikan irigasi. Data hasil uji yang dianalisis mencakup data radius irigasi, kedalaman dan durasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan kedalaman irigasi yang diperoleh dengan ditingkatkannya durasi irigasi dan pada durasi 1 jam diperoleh kedalaman irigasi 7 cm dan untuk durasi 2 jam diperkirakan mencapai kedalaman 14 cm.
Analysis Of Land Erosion Hazard Level In The Babak River Watershed Using The Usle Method Andari Putri, Ni Putu Ayu Satya; Setiawan, Ery; Suroso, Agus; Sulistiyono, Heri
Indonesian Journal of Multidisciplinary Science Vol. 4 No. 10 (2025): Indonesian Journal of Multidisciplinary Science
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/ijoms.v4i10.1158

Abstract

The Babak watershed is considered a high utility watershed that has strategic functions. With its very diverse functions, this watershed is not immune from various problems such as land conversion which results in critical lands, narrowing of river channels and sedimentation. Land degradation by erosion contributes an important role to high sedimentation. This research aims to calculate the amount of erosion and determine of erosion hazard level in the Babak watershed. To estimate the amount of erosion, the Universal Soil Loss Equation (USLE) method is used. The amount of erosion in the Babak watershed is assessed through the 9 weirs in the Babak watershed, namely Jengguar, Babak, Gde Bongoh, Keru, Simbe, Jurang Sate, Gebong, Datar and Baturiti weirs. The results of the analysis show that the amount of erosion that occurred at the weir was respectively 92,399 tons/ha/year, 86,828 tons/ha/year, 87,193 tons/ha/year, 72,074 tons/ha/year, 55,534 tons/ha/year, 112,123 tons/ha/year, 33,756 tons/ha/year, 32,935 tons/ha/year, and 34,073 tons/ha/year. Based on classification results is known that the dominant level of erosion hazard in the Babak watershed is very light to moderate. Gebong, Datar and Baturiti weirs are dominated by a very light erosion hazard level (I) with a total area spread of 56.889%, 59.715% and 67.13% respectively. Jengguar, Gde Bongoh, Keru and Simbe weirs are dominated by light erosion hazard level (II) with a total area spread of 41.454%, 42.272%, 45.684% and 49.468% respectively.
PEMBUATAN ECOBRICK DARI SAMPAH PLASTIK MENJADI BARANG YANG BERMANFAAT Sulistiyono, Heri; Putra, Adeyong Wira; Taufik, Baiq Nabila; Khakiki, Bintang Dwi Nur; Rahmatun, Dwiana Aulya; Utami, Fadillah Rabbiatul; Rahayu, Nita Agustini; Ramdani, Nofi; Wilujeng, Putri Rahayu; Frasitio, Rizal Hadi; Triyani, Wiwin Akarena
Jurnal Wicara Vol 1 No 5 (2023): Jurnal Wicara Desa
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/wicara.v1i4.3392

Abstract

Batujai Village is one of the villages in West Praya District, Central Lombok Regency. This village has a fairly dense population, with this large population, of course, the volume of waste is increasing. Because of this, what underlies PMD KKN students in Batujai Village, Mataram University in 2023 to make products in the form of ecobrick by recycling 3R (Reduce, Reuse, Recycle) waste. Through the work program that has been attempted, it has succeeded in reducing the volume of waste disposed of by the community at TPS, in accordance with the purpose of carrying out this activity, which is to reduce the volume of waste by converting plastic waste into more useful items
STRATEGI PENGEMBANGAN SARANA DAN PRASARANA AGROWISATA BALE ANGGUR DI KAWASAN DESA BATUJAI KECAMATAN PRAYA BARAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH Anwar, Ihza Izaldi; Sulistiyono, Heri; Salmah, Emi
Jurnal Wicara Vol 2 No 5 (2024): Jurnal Wicara Desa
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/wicara.v2i5.5561

Abstract

Batujai Village is a village located in Central Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province, Indonesia. This village is known for its beautiful natural scenery and agricultural potential. Apart from that, Batujai is also often an attractive tourist location for visitors who want to enjoy the rural atmosphere of Lombok. Therefore, the aim of the KKN PMD at Mataram University is to see potential so that it tries to realize development strategies for facilities and infrastructure that have not been optimally implemented by the local community. The implementation method used in this research uses SWOT analysis where researchers together with the KKN team analyze the strengths, weaknesses, opportunities and obstacles that occur in this grape bale area. The results obtained are the creation of better facilities and infrastructure for the area, coupled with the development and creation of works that add to the aesthetics of the area, it is hoped that this will attract more tourists who visit the winery.
METODE BAYES UNTUK PEMILIHAN PANJANG TIANG PANCANG BETON BERDASARKAN ANALISIS RISIKO PADA JEMBATAN BANYUMULEK LOMBOK BARAT: Bayesian Method for Length Selection of Concrete Pile-Foundation Based on Risk Analysis of Banyumulek Bridge Lombok Barat Waluyo, Budi; Sulistiyono, Heri; Murtiadi, Suryawan
Spektrum Sipil Vol 3 No 2 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Banyumulek di jalur bypass Mataram-Bandara Internasional Lombok memiliki panjang 120 meter terbagi menjadi 3 bentang @ 40 meter. Pondasi jembatan terdiri 4 kelompok tiang pancang diameter 50 centimeter dengan masing-masing kelompok terdiri atas 27 tiang sehingga total 108 tiang. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko kontraktor dalam pemilihan panjang tiang saat pelaksanaan akibat terbatasnya data tanah yang hanya berupa empat titik borlog. Data yang dikumpulkan berupa data penyelidikan tanah dan data perencanaan jembatan. Data pelaksanaan pekerjaan sejenis diperlukan sebagai pembanding dalam analisis. Identifikasi risiko kerugian kontraktor dilakukan dengan memperhitungkan kemungkinan pemilihan panjang tiang pada rentang 16 - 20m. Pengukuran dan penilaian probabilitas dilakukan melalui expert judgement hasil wawancara para pakar. Pengambilan keputusan berdasarkan minimum risiko dengan Bayesian Theory untuk probabilitas kondisional meliputi Prior Analysis dan Posterior Analysis. Hasil penelitian menunjukkan perhitungan minimum risiko yang terjadi pada masing-masing panjang tiang 20 m, 19 m, 18 m, 17 m, dan 16 m berturut-turut adalah Rp.115.793, Rp.892.654, Rp.1.268.410, Rp.2.187.331 dan Rp.1.431.105. Risiko minimum terdapat pada pemilihan panjang tiang 20 m sebesar Rp.115.793,- pertiang. Disarankan besarnya risiko kerugian ini diperhitungkan dalam anggaran pelaksanaan. Hasil penelitian membuktikan bahwa metode Bayes dapat digunakan dalam analisis pemilihan panjang tiang dengan minimnya data penyelidikan tanah.
PEMILIHAN PENANGANAN KEAMANAN STRUKTUR JEMBATAN DENGAN METODE AHP (STUDI KASUS JEMBATAN SULIN – LOMBOK BARAT): Selection of Bridge Structure Safety Treatment using AHP Methode (Case Study of Sulin Bridge – West Lombok) Aryanto, Bagus Prabowo; Murtiadi, Suryawan; Sulistiyono, Heri
Spektrum Sipil Vol 3 No 2 (2016): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Sulin terletak di Kokok Sulin Desa Kuripan, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dibangun dalam dua tahun anggaran yaitu 2010 dan 2011. Selama beroperasi, telah terjadi dua kali luapan banjir pada lokasi jembatan tersebut, yaitu pada tahun 2013 dan tahun 2015. Kejadian banjir yang pertama mengakibatkan genangan air setinggi + 1.50 meter. Sedangkan kejadian banjir yang kedua, genangan air mencapai 1,00 meter. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur jembatan. Untuk itu perlu dilakukan penanganan yang paling tepat untuk mengantisipasi terjadinya kerusakan pada struktur jembatan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan untuk memilih alternatif penanganan terbaik dengan metode AHP. Tiga kriteria dalam studi ini meliputi waktu pelaksanaan, keamanan kerja dan biaya. Adapun alternatif penanganan meliputi peninggian elevasi jembatan, penambahan bentang jembatan dan normalisasi alur sungai. Kuesioner sejumlah 9 exemplar berisi 12 pertanyaan yang mengandung unsur-unsur dalam kriteria tersebut, jawaban dari tiap pertanyaan berupa angka sesuai dengan skala Saaty. Hasil menunjukkan bahwa berdasarkan seluruh kriteria, alternatif peninggian elevasi jembatan memiliki bobot 41.8 %, alternatif penambahan bentang jembatan dengan bobot 34.7 %, sedangkan alternatif normalisasi alur sungai memiliki bobot 23.5 %. Berdasarkan hasil pembobotan tersebut, alternatif peninggian elevasi jembatan dipilih sebagai solusi alternatif penanganan yang paling tepat untuk menjaga keamanan struktur Jembatan Sulin.
APLIKASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM ASESMEN RISIKO PROYEK KONSTRUKSI DI PULAU LOMBOK: Aplication of Analytic Hierarchy Process (AHP) in Risk Assessment for Construction Projects in Lombok Island Prihatin, Yulianto Saputra; Hariyadi, Hariyadi; Sulistiyono, Heri
Spektrum Sipil Vol 4 No 1 (2017): SPEKTRUM SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proyek konstruksi di Pulau Lombok mengalami peningkatan sebagai konsekuensi dari bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan prasarana infrastruktur. Untuk menyukseskan hal tersebut, Kontraktor harus mampu bekerja sebaik-baiknya dengan mengutamakan kinerja manajemen yang efisien dan dapat mengidentifikasi, mengevaluasi serta mengontrol faktor-faktor risiko yang mungkin akan terjadi secara tak terduga. Tindakan asesmen terhadap faktor-faktor risiko tersebut dilakukan dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP). AHP dapat menyederhanakan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur, strategik dan dinamik, serta menjadikan variabel dalam suatu hirarki. Penelitian ini mempelajari asesmen risiko dalam tahap pelaksanaan proyek konstruksi hanya dari sudut pandang kontraktor. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Data diperoleh dengan cara penyebaran kuesioner pada responden yang telah melaksanakan proyek konstruksi gedung di Pulau Lombok pada tahun 2013-2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 dari 25 faktor risiko yang dominan memengaruhi pelaksanaan proyek konstruksi di Pulau Lombok yang tertinggi diantaranya adalah: kegagalan keuangan pada kontraktor dengan bobot 7,9%, pembayaran tertunda dan tidak sesuai kontrak dengan bobot 7%, perbedaan kuantitas pekerjaan dengan kontrak dengan bobot 6,5% dan komunikasi yang buruk antara pihak yang terlibat dengan bobot 5,9%. Sedangkan prioritas risiko tertinggi dari 9 kelompok risiko adalah kelompok keuangan dengan bobot sebesar 16,9%. Alternatif preventif yang paling realistis dan optimal adalah menyusun schedule yang tepat dengan cara mendapat informasi terbaru dari proyek dengan bobot sebesar 25,9%.