Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Cultural Value in The Ati Kebo Seunduhan Tradition Marriage of Demang Aryareja’s Development in Grantung Village, Purbalingga Anissa Pristianingtyas S; Muhammad Iqbal Birsyada
IJTIMAIYA: Journal of Social Science Teaching Vol 6, No 1 (2022): IJTIMAIYA : Journal of Social Science Teaching
Publisher : Program Studi Tadris IPS Fakultas tarbiyah IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/ji.v6i1.14409

Abstract

This study aims to determine: (1) The history of the tradition of Ati Kebo Seunduhan at the marriage of the descendants of Demang Aryareja in the village of Grantung, Purbalingga. (2) The process of implementing the tradition of AtiKebo Seunduhan at the marriage of the descendants of Demang Aryareja in the village of Grantung, Purbalingga. (3) Cultural value contained in the tradition Ati Kebo Seunduhan at the marriage of the descendants of Demang Aryareja in the village of Grantung, Purbalingga. The method used in this research is a qualitative research method with a descriptive approach. In this study, there are two types of data and data sources, namely primary data obtained through interviews and secondary data in the form of books, journals and theses. Data collection techniques used are observation, interviews and documentation. Data analysis techniques used are data collection, data reduction, data presentation, conclution and verification. The technique of checking the validity of the data used was source triangulation and theory triangulation. The result of this study indicate that: (1) The history of the tradition of AtiKeboSeunduhan on the marriage of the descendants of DemangAryareja has been carried out since the 19th century. (2) The process of implementing the Ati Kebo Seunduhan tradition begins with the purchase of buffalo hearts by men, the delivery of Ati Kebo Seunduhan to Demang Aryareja Cemetery and the distribution of Ati Kebo Seunduhan to relatives and neighbors. (3) The cultural values contained in the Ati Kebo Seunduhan tradition are the values of togetherness, kinship, and mutual cooperation.
TRADISI UPACARA ADAT NGASA DALAM KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT DUSUN JALAWASTU CISEURUH Riska Dinda Permata; Muhammad Iqbal Birsyada
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNI 2022
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v6i1.27199

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Sejarah upacara adat Ngasa di Dusun Jalawastu: (2) Prosesi upacara adat Ngasa di Dusun Jalawastu: (3) Konstruksi sosial masyarakat dalam tradisi upacara adat Ngasa di Dusun Jalawastu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh melalui wawancara informan kunci serta data sekunder berupa kajian pustaka. Alat pengumpulan data berupa observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan berupa pengumpulan data sampai dengan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teori. Jumlah informan penelitian ini sebanyak  tujuh orang yang terdiri dari perwakilan pemangku adat, juru kunci, sesepuh, jagabaya dan ketua RT setempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Upacara adat Ngasa di Jalawastu dilakukan  sebagai bentuk perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa: (2) Prosesi tradisi Ngasa di Jalawastu meliputi beberapa beberapa tahap yaitu mempersiapkan gunungan dari hasil panen sampai Ngasa di Pasarean Gedong: (3) Konstruksi sosial masyarakat terhadap tradisi Ngasa adalah sebagai wujud syukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa serta menjaga nafsu, menjaga ketertiban, menjaga ketertiban leluhur, gotong royong, saling menerima, dan mengikuti perintah leluhur.
Penanaman Nilai-Nilai Karakter Multikultural pada Warga Dusun Gokerten Bantul Muhammad Iqbal Birsyada; Sigit Handoko
ABDIMAS DEWANTARA Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/ad.v3i1.5230

Abstract

Secara sosio-kultural, kondisi umum masyarakat dusun Gokerten Desa Srigading pada saat ini rentan akan konflik sosial dikarenakan kurangnya kesadaran terhadap perbedaan pandangan khsusunya dalam memahami budaya dan keagamaan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Perbedaan pemahaman budaya, agama dan golongan organisasi seringkali menyebabkan konflik horizontal diantara kelompok masyarakat. Program pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tujuan mendampingi masyarakakat dusun untuk mengetahui dan memecahkan masalah sosial yang mereka hadapi salah satunya adalah konflik horizontal antar kelompok warga dusun berkenaan dengan perbedaan pemahaman tentang budaya dan keagamaan. Metode yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipasi aktif melalui penyuluhan serta sosialisasi pendidikan multikulrutal. Hasil capaian program pengabdian ini diantaranya adalah terbentuknya kesadaran dan integrasi sosial diantara warga masyarakat. Selain itu masyarakat mampu membuat desain pemecahan masalah-masasalah sosial yang mereka hadapi. Hal tersebut dapat dilihat setelah dilakukan rangkaian kegiatan pengabdian seluruh warga Gokerten tidak ada lagi perbedaan pemahaman khususnya dalam hal budaya dan keagamaan. Setelah diadakan pendampingan, masyarakat mampu mehamami dan menerapkan nilai-nilai pendidikan multikultural. Kondisi masyarakat yang demikian diharapkan dapat mewujudkan tatanan rasa aman, tentram, rukun serta terhindar dari berbagai macam bentuk konflik horizontal. Selain itu terjalinnya hubungan harmonis diantara sesama warga dusun dan terhindar dari berbagai macam konflik sosio-kultural. In socio-cultural conditions, the general condition of the people of Gokerten Village in Srigading Village is currently vulnerable to social conflict due to lack of awareness of the particular differences in understanding culture and religion. Cultural, religious and organizational differences often cause horizontal conflicts among community groups. The community service program is carried out with the aim of assisting hamlet communities to know and solve the social problems they face. The method is carried out using the approach of active participation through counseling and the dissemination of multiculrutal education. The results of the program's achievements include the formation of awareness and social integration among community members. In addition, the community is able to design solutions to the social problems they face. This can be seen after a series of service activities for all residents of Gokerten was no longer a difference in understanding, especially in terms of culture and religion. After holding assistance, the community is able to embrace and apply the values of multicultural education. Such community conditions are expected to create a safe, peaceful, harmonious order and avoid various forms of conflict. Relations between citizens are increasingly harmonious and avoid various kinds of socio-cultural conflicts.
BUDIDAYA TOGA DAN PEMBUATAN PUPUK KOMPOS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGHASILAN WARGA DUSUN SALAKAN Tri Siwi Nugrahani; Herman Budi Susetyo; Muhammad Iqbal Birsyada
DHARMA BAKTI Dharma Bakti Vol 1 No 1 April 2018
Publisher : LPPM IST AKPRIND Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34151/dharma.v1i1.298

Abstract

Some residents in the Salakan Trihanggo sub-district of Gamping Sleman have yard land but not utilized. They also have unkempt chicken pets and chicken manure waste not used for fertilizer. Though the yard can be optimized by planting toga crops and chicken manure waste can be used as material for compostable fertilizer that can be sold and eventually increase income.The lack of knowledge and skills of Salakan villagers in the utilization of land for the cultivation of toga plants and the making of compost fertilizer raises the interest of the team to perform community service activities (PKM) by providing solutions that are conducting training and advisory skills of making compost and toga plant in the form of ginger and kencur. PKM method conducted by the team that is participatory actively and mentoring by giving counseling and training the practice of making compost and cultivation of family medicinal plants (toga) in the form of ginger and kencur. Activities are held for 6 months, from March to August 2018, until the writing of this activity is still ongoing. The activity was followed by 17 people consisting of members of RT community and youth group.
Pergeseran prosesi dan makna dalam tradisi Merti Dusun di desa wisata budaya Dusun Kadilobo Astin Eka Tumarjio; Muhammad Iqbal Birsyada
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21503

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pergeseran dan penurunan tradisi upacara Merti Dusun  seperti penurunan kepercayaan, faktor ekonomi dan perubahan pola pikir masyarakat dalam memaknai prosesi tradisi. Tujuan dari penelitian ini adalah umtuk mengetahui: (1) Bagaimanakah  prosesi upacara Merti Dusun Kadilobo Kecamatan Pakem dan makna tradisi Merti Dusun. (2) Hal-hal apakah  yang menyebabkan penurunan prosesi dan makna tradisi Merti Dusun di Dusun Kadilobo. (3) Apakah ada pergeseran prosesi dan makna dalam tradisi Merti Dusun di Dusun Kadilobo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumetasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.  Pengecekan keabsahan data penelitian menggunakan  triangulasi teori Struktural Fungsional dari Talcott Parsons untuk menganalisis temuan  hasil penelitian. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa: (1) Merti Dusun merupakan upacara tradisi masyarakat di Dusun Kadilobo yang memiliki makna filosofis sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada Allah (2) Adanya penurunan pada prosesi dan makna kuantitas pada tradisi isi karena disebabkan oleh antusias warga yang mulai berkurang. Selain itu lemahnya ekonomi dan pemahaman serta proses internalisasi budaya menjadi salah satu pemicu menurannya tradisi tersebut. Hal lainnya adalah berkenaan dengan kendala pembagian tugas kepanitiaan serta munculnya pola pikir masyarakat yang lebih modern (3) Pergeseran pada prosesi dan makna mengakibatkan berubahnya prosesi Merti Dusun pada setiap tahunnya. Perubahan dan pergeseran makna menjadikan pemahaman baru bagi masyarakat bahwa tradisi Merti Dusun tidak menjadi suatu hal yang harus dilaksanakan secara besar-besaran. The background of this research is that there are shifts and declines in the Merti Dusun ceremonial tradition such as a decline in belief, economic factors and changes in mindset. The purpose of this study was to find out: (1) The Merti Dusun Kadilobo ceremony procession, Pakem District and the meaning of the Merti Dusun tradition. (2) Things that cause a decline in procession and meaning the Merti Dusun tradition in Dusun Kadilobo. (3) Is there a shift in the procession and meaning in the Merti Dusun tradition in Dusun Kadilobo. The method used in this research is a case study qualitative research method. Data collection techniques were carried out by direct observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis techniques used in this research are data reduction, data presentation and conclusion drawing. Data validity check using the Structural Functional theoretical conception of Talcott Parsons to analyze and find the results of the study. The results of this study show that: (1) Merti Dusun is a traditional ceremony of the people in Kadilobo Hamlet which has a philosophical meaning as a form of gratitude and gratitude to God (2) There is a decrease in procession and meaning quantity in the tradition of content because it is caused by the enthusiasm of the residents who are starting to decrease. In addition, the weakness of the economy and understanding and the process of internalizing culture is one of the triggers for the decline of the tradition. Another thing is related to the obstacles in the division of committee tasks and the emergence of a more modern society mindset. (3) The shift in procession and meaning has resulted in changes in the Merti Dusun procession every year. Changes and shift in meaning create a new understanding for the community that the Merti Dusun tradition is not something that must be carried out on a large scale.  
Agama dan ritual: Dinamika konflik Dusun Mangir Lor Sendangsari Pajangan Muhammad Khidir Baihaqi; Muhammad Iqbal Birsyada
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.21657

Abstract

Menurut Dahrendorf dimasyarakat terdapat dua sisi, yakni konflik dan consensus, sehingga konflik adalah hal yang lumrah terjadi di masyarakat akibat dari hubungan psikologis dengan hubungan antagonis yang memiliki tujuan yang berbeda dan akhirnya tidak dapat menjadi satu karena perbedaan pendapat tersebut. Konflik yang terjadi di Mangir Lor adalah konflik antar umat beragama yakni  antara umat Hindu Paguyuban Padma Buana dan Umat Islam Dusun Mangir Lor yang terjadi pada tahun 2019. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap permasalahan terjadinya konflik di Mangir di mana setiap narasumber memiliki cerita versi yang berbeda tentang konflik ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif analisis. Pengumpulan data dengan cara observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan studi Pustaka. Analisa data yang peneliti lakukan meliputi: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi (kesimpulan). Hasil penelitian ini menjawab bahwa konflik yang terjadi di Mangir Lor pada tahun 2019 karena adanya miskomunikasi antara ibu Utiek Suprapti dengan masyarakat Mangir Lor. Masyarakat beranggapan ritual piodalan yang diselenggarakan oleh Ibu Utiek adalah sesat, karena para tamu yang diundang ibu Utiek beragam agama, seperti: Hindu, Budha, Nasrani, Islam, dan aliran kepercayaan. Kesimpulan dari penelitian, penyebab konflik di Mangir Lor  yang paling mencolok adalah karena kurangnya komunikasi dari Ibu Utiek dengan masyarakat yang pada akhirnya menimbulkan  konflik.    According to Dahrendorf in society there are two sides, namely conflict and consensus, so thatk onflik is a common thing that occurs in society due to psychological relationships with antagonistic relationships that have different goals and ultimately cannot become one because of these differences of opinion. The conflict that occurred in Mangir Lor was a conflict between religious people, namely between hindus of Padma Buana Community and Muslims of Mangir Lor Hamlet which occurred in 2019. The purpose of this study is to uncover the problem of conflict in Mangir where each source has a different version of the story about this conflict. The method used in this study is a descriptive qualitative method of analysis. Data collection by means of field observations, interviews, documentation, and literature studies. The data analysis that the researcher conducts includes: data reduction, data presentation, and verification (conclusion). The results of this study answer that the conflict that occurred in Mangir Lor in 2019 was due to a miscommunication between Utiek Suprapti's mother and the Mangir Lor community. People think that the piodalan ritual  organized by Mrs. Utiek is heretical, because the guests invited by Mrs. Utiek are of various religions, such as: Hinduism, Buddhism, Christianity, Islam, and religious traditions.  In conclusion from the researcher, the cause of the conflict in Mangir Lor was because of thenon-establishment of the openness of the communityi kasi from Mrs. Utiek with the community finally a conflict arose.
PENDAMPINGAN NILAI-NILAI KARAKTER MULTIKULTURAL PADA WARGA DUSUN SAWAHAN KALURAHAN PANDOWOHARJO KAPANEWON SLEMAN Muhammad Iqbal Birsyada; Triwahana Triwahana; Darsono Darsono; Siswanta Siswanta; Fahruddin Fahruddin; Bayu Ananto Wibowo
Abdimas Galuh Vol 4, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v4i2.8248

Abstract

Secara kultural pada tiap masyarakat memiliki tata nilai dan kebudayaan masing-masing yang telah disepakati bersama dan diwariskan dari generasi ke-generasi. Kebudayaan yang telah lestari ini jika tidak dirawat dengan baik akan menimbungkan berbagai persoalan seperti perbedaan pemahaman masyarakat yang nantinya jika dibiarkan akan menimbulkan konflik sosial dan disharmoni sosial.  Kegiatan pengabdian ini dilakukan selama tiga pertemuan yang didahului dengan oberservasi awal di lapangan, perkenalan serta persiapan  pendampingan sosialisasi pemantapan nilai-nilai multikultural pada warga Sawahan Pandowoharjo Kapanewon Sleman. Kegiatan ini dilakukan di dalam ruangan pertemuan tempat Dukuh Sawahan Pandowoharjo. Peserta pemantapan nilai-nilai multikultural berjumlah 47 orang. Selain melalui penyuluhan dan sosialisasi juga dilakukan pendampingan selama proses pengabdian berlangsung. Pada penyampaian materi dilakukan presentasi dan tanya jawab dengan peserta yang kemudian diikuti dengan memerikan wawasan dan konsep pengembangan model pemantapan nilai-nilai multikultural kepada warga yang hadir. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah warga masyarakakat Dukuh Sawahan Pandowoharjo mendapatkan pengetahuan baru berkenaan dengan pemahaman multikultural masyarakat. Selain itu juga masyarakat dapat mengembangkan bagaimana mengembangkan nilai dan tradisi budaya lokal yang selama ini sudah menjadi icon masyarakat agar tetap lestari dan diwariskan dari generasi ke generasi. Saran dari pengabdian ini adalah pentingnya komunikasi yang lebih intensif antara warga masyarakarakat. Selain itu perlu dukungan dari pemerintah setempat untuk dapat lebih mendorong nilai dan tradisi budaya yang ada di Sawahan Pandowoharjo agar lebih berkembang maju.Kata kunci: Pemantapan, Nilai-Nilai karakter, Multikultural, Dusun Sawahan
Penguatan publikasi hasil penelitian melalui workshop penulisan karya ilmiah Sekolah Dasar Negeri Tegalrejo Yogyakarta Muhammad Iqbal Birsyada; Ahmad Agung Yuwono Putro
ABDIMAS DEWANTARA Vol 5 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/ad.v5i2.10451

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan penguatan serta pendampingan guru di SD Negeri 3 Tegalrejo 3 Yogyakarta agar mampu melaksanakan penelitian, khususnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK)  dan Publikasi Karya Ilmiah. Target dari kegiatan ini adalah meningkatkan kualitas dan kompentensi guru dalam melaksanakan PTK dan publikasi karya ilmiah. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah metode pendampingan partisipatoris yang dilakukan melalui berberapa teknik seperti ceramah bervariasi, tanya jawab, simulasi dan projek bersama. Hasil yang dicapai dalam kegiatan ini adalah tercapainya kompetensi guru dalam merancang PTK dan menyusun artikel ilmiah yang siap dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah terakreditasi. Hasil yang diperoleh dalam pengabdian yaitu guru dapat menyusun artikel penelitian PTK serta mengunggahnya di jurnal yang dituju. Simpulan dalam kegiatan ini adalah peserta pendampingan mampu membuat rancangan Penelitian Tindakan Kelas dengan baik. Selain itu peserta dapat memilihih publikasi ilmiah yang sesuai dengan tema penelitiannya.   ABSTRACT This activity aims to strengthen and assist teachers at SD Negeri 3 Tegalrejo 3 Yogyakarta so they can conduct research, especially Classroom Action Research (CAR) and Publication of Scientific Work. This activity aims to improve teachers' quality and competence in implementing PTK and publishing scientific papers. The method used in this activity is the participatory mentoring method which is carried out through several techniques such as various lectures, question and answer, simulations, and joint projects. The results achieved in this activity are the achievement of teacher competence in designing PTK and compiling scientific articles that are ready to be published in accredited scientific journals. The results obtained in the service are that teachers can compile CAR research articles and upload them to the intended journal. This activity concludes that the mentoring participants can make Classroom Action Research designs well. In addition, participants can choose scientific publications that are by the research theme.
Inovasi Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Nilai-Nilai Sejarah Perjuangan Pangeran Sambernyowo di Era Masyarakat 5. 0 Muhammad Iqbal Birsyada; Siswanta Siswanta
Diakronika Vol 21 No 1 (2021): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.106 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol21-iss1/179

Abstract

Pendidikan secara esensial dan kultural pada hakikatnya bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas karakter masyarakat dan bangsa. Nilai-nilai esensial tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai cara seperti penguatan nilai-nilai karakter kebangsaan (nation caracter building). Dengan melalui materi-materi di dalamnya maka masyarakat dapat diarahkan untuk memecahkan persoalan-persoalan (social problem) yang sedang mereka hadapi dalam rangka tujuan utamanya adalah penanaman karakter kebangsaan. Pada konteks pendidikan, nilai-nilai karakter kebangsaan ini pada akhirnya akan menjadi dasar dalam bersosialisasi dan berinteraksi masyarakat. Artikel ini bertujuan menganalisis tentang nilai-niai sejarah perjuangan Pangeran Sambernyowo yang kemudian dapat dikembangkan menjadi sebuah prototipe model pendidikan karakter bangsa pada masyarakat era 5. 0. Di era digital dan virtual pada saat ini model pengembangan pendidikan karakter bangsa menjadi sangat vital khususnya untuk proses pewarisan nilai-nilai karakter budaya bagi generasi millennial yang rentan akan krisis sosial-kebangsaan. Selain itu artikel ini juga memberikan langkah-langkah strategis dan inovatif perihal proses penanaman nilai-nilai karakter kebangsaan dari kognitif hingga afektif ke pada peserta didik. Katakunci: Pendidikan, Karakter Bangsa, Nilai-Nilai Sejarah, Perjuangan, Pangeran Sambernyowo, Masyarakat 5. 0.
Strategi Pengembangan Pembelajaran Sejarah Masa Pendudukan Jepang di Indonesia Berbasis Diorama Museum di Sekolah Muhammad Iqbal Birsyada; Dhiniaty Gularso; Muhammad Fairuzabadi
Diakronika Vol 22 No 1 (2022): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.997 KB) | DOI: 10.24036/diakronika/vol22-iss1/272

Abstract

Strategi serta upaya dalam mengajarkan sekaligus memahamkan materi sejarah pada pokok bahasan kependudukan Jepang yang diajarkan di kelas XI dengan Kompetensi Dasarnya adalah (1) menganalisis sifat pendudukan Jepang dan respon bangsa Indonesia, (2) menganalisis peran tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada tataran praksis masih banyak guru sejarah mengalami hambatan dalam setiap pembelajaran karena sulitnya menggambarkan lokasi serta visualisasi sejarah. Oleh sebab itu diperlukan sebuah strategi bagaimana mengajarkan peserta didik dalam memahami sejarah kependudukan Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sekaligus menjelaskan bagaimana museum dapat menginformasikan tentang sejarah kependudukan Jepang sehingga dapat meningkatkan pemahaman peserta didik dalam tiap pembelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian literatur yang dipadukan dengan sumber-sumber media dalam bentuk diorama museum. Melalui pemanfaatan sumber sejarah dapat dianalisis secara kritis, intepretatif sehingga menghasilkan historiografi untuk kepentingan pembelajaran sejarah. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa dalam strategi pengembangan media pembelajaran, museum dapat dipakai sebagai salah satu sarana media pembelajaran sejarah yang interaktif. Diantara museum yang dapat dipakai adalah museum Benteng Vredeburg. Hal ini karena museum menawarkan berbagai sisi yang kompleks dan komperhernsif khusunya dalam hal visualisasi, intepretasi dan generasi dalam mengggambarkan sebuah peristiwa sejarah. Dengan demikian dalam pembelajaran sejarah materi pendudukan Jepang perlu adanya penguatan penggunaan media pembelajaran menggunakan museum.