Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

The Meaning of the Ngaben Ceremony Tradition in the Process of Accepting Grief: An Indigenous Psychology Approach in Bali Grefanti, Risa; Hastangka, Hastangka
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 8 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i8.6850

Abstract

This reflective paper addresses how the Balinese community interprets and performs the Ngaben ceremony as part of the grieving and acceptance process following the loss of a loved one. The main idea of this paper is that cultural rituals such as Ngaben play a significant psychological role in helping individuals and families cope with sorrow. The author was inspired to explore this theme upon observing that Ngaben is not merely an obligatory tradition, but also serves as a form of collective healing that remains relevant today. The purpose of this paper is to describe and explore the meaning of the Ngaben ritual within the framework of Indigenous Psychology. The writing method used is reflective and contextual, referring to the cultural context and spiritual meaning held by the Balinese people. This paper aims to provide a deeper understanding of how local culture functions as a psychological mechanism in the grieving process, and to contribute insight into the importance of culturally-based approaches in psychological studies.
CERITA RAKYAT KEONG MAS DALAM PEMBENTUKAN NILAI MORAL PADA ANAK USIA DINI: PENDEKATAN PSIKOLOGI INDIGENOUS Akhirunnisa, Rosa; Hastangka, Hastangka
Jurnal Education and Development Vol 13 No 3 (2025): Vol 13 No 3 September 2025
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v13i3.7610

Abstract

Penanaman nilai moral pada anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pendidikan karakter yang berkelanjutan. Cerita rakyat sebagai bagian dari budaya lokal mengandung potensi besar dalam menyampaikan nilai-nilai moral secara kontekstual dan bermakna bagi anak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji peran cerita rakyat Keong Mas dalam pembentukan nilai moral anak usia dini melalui pendekatan psikologi indigenous. Pendekatan ini menekankan pentingnya nilai-nilai dan kearifan lokal dalam memahami dan membentuk perilaku manusia sesuai dengan konteks budayanya.Metode yang digunakan adalah studi kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara terhadap guru dan anak usia dini di lembaga pendidikan anak. Analisis difokuskan pada respons anak terhadap tokoh, alur cerita, dan pesan moral dalam cerita Keong Mas. Hasil tulisan menunjukkan bahwa cerita ini efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral seperti empati, kebaikan hati, syukur, dan kasih sayang, karena mengandung simbol budaya yang dekat dengan pengalaman keseharian anak.Dengan menggunakan pendekatan psikologi indigenous, cerita rakyat Keong Mas bukan hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai alat pendidikan yang selaras dengan konteks sosial dan budaya anak. Tulisan ini merekomendasikan penggunaan cerita rakyat lokal dalam pembelajaran moral di usia dini secara lebih sistematis dan sensitif budaya.
PEMETAAN MODEL PEMBELAJARAN PANCASILA PADA PERGURUAN TINGGI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Ilkodar, Saptopo Bambang; Budiman, Lestanta; Hastangka, Hastangka
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 9, No 1 (2020): JANUARI 2020
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v9i1.6083

Abstract

Tulisan ini bermaksud menggambarkan bagaimana para dosen pengasuh matakuliahPendidikan Pancasila pada perguruan tinggi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta melakukanpembelajaran. Maksudnya adalah untuk mengetahui apakah cara mereka melaksanakanpembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan Pancasila secaraumum adalah menumbuhkan pandangan, sikap, dan perilaku mahasiswa yang selaras dengannilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia. Tujuan tersebut termasukranah afektif. Pertanyaan yang hendak dicari jawabannya adalah apakah metode pembelajaranPancasila pada Perguruan Tinggi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan tujuanmembangun ranah afektif. Penelitian ini menggunakan data primer yang dikumpulkan dengan cara wawancaratatap muka. Respondennya adalah para dosen yang mengasuh matakuliah Pendidikan Pancasila,dipilih dengan metode purposive random sampling. Responden berasal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta serta dari perguruan tinggi berbasis keagamaan dan perguruan tinggiberbasis kebangsaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Pancasila pada perguruan tinggidi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta belum sepenuhnya sesuai dengan tujuan yang hendakdicapai. Kondisi yang belum sesuai itu dilakukan oleh lebih dari sepertiga dosen pengasuhmatakuliah Pendidikan Pancasila. Ketidaksesuaian terjadi sejak rancangan perkuliahan,pelaksanaan pembelajaran, penugasan, hingga evaluasinya. Dalam hal rancangan perkuliahan,sebagian dosenn tidak patuh terhadap rancangan yang dia susun sendiri. Bahkan ada sebagiankecil yang tidak membuat rancangan pembelajaran semester. Rancangan perkuliahan jugajarang diubah dan disesuaikan dengan kondisi kebutuhan mutakhir. Dalam proses pengajaran,seperempat dosen mengandalkan ceramah, dan kurang dari lima persen menerapkan metodepembelajaran inovatif. Sedangkan dalam penilaian, sebanyak tiga perempan dosenmengandalkan metode ujian tertulis, sebuah metode yang lebih cocog untuk pembelajaran ranahkognitif.Kata kunci: Pancasila, pembelajaran, perguruan tinggi
EMPAT PILAR MPR RI: POLITIK BAHASA DAN DELEGITIMASI MAKNA PANCASILA (Suatu Telaah Filsafat Bahasa) Hastangka, Hastangka; Armawi, Armaidy; Kaelan, Kaelan
Civis : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 6, No 2 (2017): JULI 2017
Publisher : FPIPSKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/civis.v6i2.1901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis terkait problem penggunaan istilah 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara atau 4 Pilar MPR RI yang menimbulkan banyak kritik dan pertentangan di masyarakat. Istilah 4 Pilar yang mengkatgorikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian dari pilar menjadi polemik sejak MPR RI menggunakan istilah tersebut sebagai program sosialisasinya. Studi ilmu politik dan sosial jarang meneliti dan menganalisis terkait implikasi dari politik bahasa dalam penggunaan istilah kenegaraan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Penelitian ini merupakan bagian dari disertasi yang menganalisis secara kritis tentang penggunaan istilah 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara melalui kajian filsafati yang ditinjau dari perspektif Filsafat Bahasa. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filsafat analitika bahasa. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui kajian pustaka, dan analisis teks wacana yang berkembang tentang polemik dan perdebatan 4 Pilar baik secara online maupun offline. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, penggunaan istilah 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dengan mengkategorikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar tidak tepat. Kedua, penggunaan istilah 4 Pilar tidak dikenal dalam sejarah dan memori kolektif bangsa Indonesia untuk menyebut Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian pilar. Ketiga, penggunaan istilah 4 Pilar oleh MPR RI merupakan kesalahan kategoris. Keempat, kegiatan sosialisasi 4 Pilar yang dilakukan justru mendelegitimasi makna Pancasila dan upaya pembodohan kepada masyarakat.Kata kunci: Empat Pilar, Filsafat, bahasa, Politik bahasa, deligitimasi, makna, Pancasila.
Representasi Lingkungan dalam Sastra Indonesia: Tinjauan Literatur Review Pamungkas, Onok Yayang; Hastangka, Hastangka; Sudigdo, Anang; Fathonah, Siti; Fauzan, Akhmad; Suroso, Eko
Jurnal Kridatama Sains dan Teknologi Vol 4 No 02 (2022): JURNAL KRIDATAMA SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.246 KB) | DOI: 10.53863/kst.v4i02.598

Abstract

The current environmental crisis is an important issue that is the focus of research globally, including in Indonesia. Therefore, this research is an effort to explore trends in environmentally sound literary research in Indonesia. The research process was carried out by combining statistical data combined with descriptive analysis. Therefore, mixed-method research methods are considered appropriate to use.  Research data is a source of literary ecology research trends taken from the Google Scholar database. The data source is Google Scholar. Data retrieval using the Publish or Perish app. The data is taken by entering the keyword "literary ecology" in the Google Scholar database drop-down menu. Once the data is retrieved, it is then analyzed using the Vosviewer application. Vosviewer analysis can display research trends, research topic relationships, research developments from year to year, and various research information, in accordance with the research focus based on data inputted in the application The results of the study show that literary ecology research in Indonesia has only developed in at least the last five years. In quantity, the amount of literary ecology research in Indonesia is increasing. In terms of the quantity of types of relationships with various other scientific terminology, the number is still small. Meanwhile, in terms of research trends with literary ecology research topics have shown progress that continues to develop by involving other sciences. This is certainly a good development in scientific debate, because the issue of environmental crisis discussed through literary ecology involves various other scientific fields for the purpose of solving environmental problems globally. An important implication of this research is that information about literary ecology research trends in Indonesia can be an important source of knowledge to see the efforts of the Indonesian people in their participation in dealing with global environmental problems. Keywords: Literary ecology, Ecocriticalism, Literature Review, Environmental Ethics, Literary Works
Digitalisasi Museum Cakraningrat sebagai Sumber Literasi Edukasi pada Siswa Di Era Disrupsi 5.0 Dellia, Prita; Mutiatun, Siti; Amil, Ahmad Jami’ul; Ismail, Nor Hasimah; Narawi, Mohammad Syawal; Pamungkas, Onok Yayang; Hastangka, Hastangka
Jurnal Kridatama Sains dan Teknologi Vol 5 No 01 (2023): JURNAL KRIDATAMA SAINS DAN TEKNOLOGI
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.12 KB) | DOI: 10.53863/kst.v5i01.682

Abstract

Museums are a source of knowledge and literacy for their visitors. However, so far, museum visitors only stop by and don't discuss comprehensive data related to objects seen by visitors. Others create interest in museums by digitizing the objects in them. So this research is a preliminary study before developing barcodes. This research is a preliminary study prior to the development of learning media for literary language and its barcode-based teaching for reading skills to facilitate the learning process in museums and educate local knowledge about relics that are full of information and knowledge. Understanding the contents of the object description utilizes barcode-based technology. The development design used is Research and Development Borg and Gall. There are seven research stages: problems, information collection, product design, product testing, design revision, design validation, and product revision. The barcode application developed can be used on Android phones or the like by utilizing barcodes, while its development is on the use of technology in objects in museums in Cakraningrat Bangkalan Madura of Ajhar Museum. Keywords: Museum, learning resources, reading literacy, barcode application.
Metode Pancasila dalam Menangkal Radikalisme Hastangka, Hastangka; Ma'ruf, Muhammad
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 18 No. 2 (2021): September 2021
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v18i2.23538

Abstract

AbstractThe rise of the Takfirism phenomenon in society indicates a threatening condition which potentially causes the disintegration of Pancasila. Pancasila as a core value and the basis of national ideology has not been effectively solved the issue of the rise of Takfirism in society. Internal and external factors play an important role in the process of spreading ideas of Takfirism which triggers the emergence of radicalism that eventually leads to acts of terrorism and separatism. The process of searching and finding the right method to build Pancasila as the standard criteria and the validity of values is important to be discussed in the studies and research of Pancasila. This study will explore and describe Pancasila as a method in countering radicalism which is rooted in Takfirism. The method used in this study is a critical study method approach and social phenomenology. The data in this research were obtained through news articles, research reports, study results, scientific journals, and books related to the topic of this research. The result of this research indicates that the Pancasila method as an effort to counter radicalism is very crucial and urgently needed by the state and society in general. Pancasila as a value system and a state system needs to be strengthened by the establishment of the standard criteria and the validity of values that are trustworthy and acknowledged by all social classes.------AbstrakFenomena berkembangnya paham takfirisme yang berada di lingkungan masyarakat telah menunjukkan kondisi yang rawan dan berpotensi pada disintegrasi Pancasila. Pancasila sebagai sumber nilai dan dasar negara belum dapat berperan secara maksimal dalam menangani persoalan maraknya paham takfirisme di kalangan masyarakat. Faktor internal dan eksternal memiliki peran penting dalam proses berkembangnya paham takfirisme yang melahirkan gerakan dan paham radikalisme yang mengarah pada tindakan terorisme dan perpecahan di masyarakat. Proses pencarian dan penemuan metode yang tepat untuk menjadikan Pancasila sebagai standar kriteria dan validitas nilai menjadi penting untuk dideskripsikan dalam kajian dan penelitian tentang kepancasilaan. Studi ini akan mengeksplorasi dan mendeskripsikan tentang Pancasila menjadi metode dalam menangkal paham radikalisme yang berakar dari paham takfirisme. Metode dalam kajian ini menggunakan pendekatan metode kajian kritis dan fenomenologi sosial. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari berita, laporan penelitian, hasil kajian, jurnal ilmiah, dan buku yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini menunjukkan bahwa metode Pancasila sebagai upaya untuk menangkal radikalisme menjadi sangat penting dan dibutuhkan bagi negara dan masyarakat. Pancasila sebagai sistem nilai dan sistem negara perlu diperkuat dengan pembentukan standar kriteria dan validitas nilai yang dapat dipercaya dan diakui oleh seluruh lapisan masyarakat.
Analisis Language Game terhadap Penggunaan Istilah 4 Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Hastangka, Hastangka; Armawi, Armaidy; Kaelan, Kaelan
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 5, No 1 (2019): CaLLs, Juni 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.676 KB) | DOI: 10.30872/calls.v5i1.1695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan istilah 4 Pilar MPR RI yang terdiri atas Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Penggunaan istilah 4 Pilar MPR RI mulai populer sejak MPR RI melakukan sosialisasi program 4 Pilar MPR RI ke berbagai elemen masyarakat dan akademisi. Istilah 4 Pilar MPR RI mulai diperkenalkan oleh MPR RI sejak tahun 2009 sebagai salah satu bentuk penamaan program kegiatan kebangsaan. Namun, istilah ini menjadi polemik di masyarakat dan akademik karena penggunaan istilah 4 pilar MPR RI tidak lazim untuk menyebut Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai kategori varian yang sama disebut pilar. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian disertasi yang mengkritisi dan menganalisis terkait problem istilah dan makna bahasa dalam 4 Pilar MPR RI secara filsafati dengan kerangka teori language game Wittgenstein. Data penelitian ini diperoleh melalui kajian pustaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis verstehen dan interpretasi bahasa untuk mengungkap latar belakang dan problematika penggunaan istilah 4 Pilar MPR RI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah 4 Pilar MPR RI telah menyebabkan distorsi pemaknaan atas Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dan istilah ini tidak mengikuti permainan bahasa yang baik dan benar. This study aims to analyze the use of the terms 4 MPR RI Pillars which consist of Pancasila, the 1945 Constitution, the Republic of Indonesia, and Unity in Diversity. The use of the term 4 The MPR RI pillar began to be popular since the People's Consultative Assembly of the Republic of Indonesia (MPR RI) disseminated the 4 MPR RI Pillars program to various elements of society and academia. The term 4 MPR RI Pillars began to be introduced by the MPR RI since 2009 as one form of naming the national activities program. However, this term is a polemic in society and academics because the use of the terms of the 4 pillars of the MPR RI is not unusual to refer to Pancasila, the 1945 Constitution, NKRI, and Bhinneka Tunggal Ika as the same variant category called pillars. This research is part of a dissertation research that criticizes and analyzes the problems of language terms and meanings in 4 MPR RI Pillars philosophically with the Wittgenstein theory of language game framework. The data of this study were obtained through literature review. The method used in this study uses verstehen analysis methods and language interpretation to uncover the background and problematic use of the term 4 MPR RI Pillars. The results of this study indicate that the use of the term 4 MPR RI Pillar has caused a distortion of the meaning of Pancasila, the 1945 Constitution, NKRI, and Bhinneka Tunggal Ika and this term does not follow the game of good and correct language.
Design Thinking of Indonesia's Post-Jokowi Education Policy Hastangka, Hastangka
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 8, No 1 (2024): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v8i1.6222

Abstract

Education during Jokowi's administration was rarely a topic of discussion. In the 2-year document Jokowi-JK Real Work shows that education is less of a major concern in the Jokowi administration's policy agenda. The three main focuses of the government's policy agenda emphasize infrastructure, human development, and economic deregulation policies. Education is only limited to the mention of increased access and infrastructure of education, and the education index which increased (0.82) from 2014 to 2015. A number of education policy products such as the smart Indonesia card, KIP Kuliah have become a legacy in the Jokowi administration from 2014 to 2024. However, a number of educational problems and challenges have not been fully answered during Jokowi's leadership. This happens because there is no adequate design thinking in overcoming education problems in Indonesia. The purpose of the research is to uncover and analyze the fundamental problems of education and propose the formulation of design thinking of Indonesian education policy after Jokowi. The method used in this study uses a qualitative approach. Data is obtained through literature studies of government policy documents in the field of education, books, scientific journal articles. Data analysis uses interpretive approaches, semiotics, critical discourse analysis, and design thinking. The results of this study show that if we look at post-reform education policy, design thinking education policy has not touched on the fundamental education system, the substance of education, and the culture and ecosystem of education. Therefore, the design thinking proposed after the Jokowi administration is directed to build and strengthen three aspects, namely regulation, governance, and education human resources.
Paradigma dan Reorientasi Konsepsi Penanaman Nilai Nilai Pancasila pada Masyarakat dan Keluarga Budiman, Lestanta; Harta, Lilik Indri; Hastangka, Hastangka
Civic-Culture : Jurnal Ilmu Pendidikan PKN dan Sosial Budaya Vol. 6 No. 1 (2022): June
Publisher : Penerbit STKIP PGRI Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31597/ccj.v6i1.655

Abstract

Isu penting dalam pendidikan masyarakat dan keluarga ialah persoalan karakter dan nilai. Karakter membahas tentang mindset berupa cara pandang dan bersikap atas sesuatu. Karakter ini akan berpengaruh pada perilaku dan tindakan seseorang dalam mengambil pilihan atas nilai, pilihan atas sikap, dan perilaku yang akan dilakukan secara konkret. Perubahan sosial dan politik yang terjadi di Indonesia sejak paska reformasi tahun 1999 telah membawa dampak pada perubahan sikap, perilaku, dan nilai nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kondisi ini tidak hanya berpengaruh pada orientasi nilai dan sikap di masyarakat dan keluarga untuk dapat menumbuhkan kesadaran nasional dan bela negara. Persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat saat ini ialah persoalan orientasi atas nilai-nilai berbangsa dan bernegara di kalangan masyarakat dan keluarga yang berpengaruh pada sikap dan perilaku dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Maraknya aksis intoleransi, tindakan terorisme, gerakan radikalisme dan fundementalisme yang mengarah pada sikap dan perilaku masyarakat menjadi anti Pancasila. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan metode dan model penanaman nilai nilai Pancasila di kalangan masyarakat dan keluarga dan memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah dan lembaga terkait dalam menanamkan nilai nilai Pancasila di kalangan masyarakat dan keluarga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui kajian pustaka, Focus Group Discussion, dan observasi lapangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa paradigma dan konsepsi penanaman nilai nilai Pancasila pada masyarakat dan keluarga perlu menggunakan pendekatan persuasif dan structural untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang peran penting Pancasila sebagai dasar dan pedoman dalam pendidikan masyarakat dan keluarga.