Claim Missing Document
Check
Articles

Mangkunegaran dance style in the custom and tradition of Pura Mangkunegaran Malarsih, Malarsih; Rohidi, Tjetjep Rohendi; Sumaryanto, Totok; Hartono, Hartono
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 17, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v17i2.12128

Abstract

Mangkunagaran dance style is regarded as a cultural identity that is highly upheld by Mangkunagaran’s society. In the organization that lives in Mangkunagaran, the sustainability of Mangkunagaran dance style is protected by the special art institution namely Langen Praja, under a bigger organization in Mangkunagaran namely Reksa Budaya. The existence of Mangkunagaran dance style is in fact related to the custom and tradition in Pura Mangkunagaran. The aim of this research is to find out how Mangkunagaran dance style is and what kind of roles that Mangkunagaran dance style has that may influence the custom and tradition in Pura Mangkunagaran. Methods used in this research is qualitative. Techniques of data collection used were observation, interview, and documentation study and the data validity technique implemented was data triangulation. Meanwhile, the data was analysed by using text analysis towards the Mangkunagaran dance style and the context analysis towards the role of Mangkunagaran dance in the custom and tradition had by Pura Mangkunagaran.
The Tryout of Dance Teaching Media in Public School in The Context of Appreciation and Creation Learning Malarsih, Malarsih
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 16, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v16i1.4561

Abstract

Dance learning through appreciation and creation approach is considered important in public school. This study is aiming at realizing dance media to be used as a tool to educate students as formulated in the school curriculum. Specific target to be accomplished in this study is the realization of dance learning media as one of appreciation and creation educational tool in public school. Further, this study employed developmental research method. The tryout of the product was done to measure the effectivity and creativity of students while the media is implemented in dance learning. The product’s trial result showed that the use of dance learning media that was designed specifically for appreciation and creation approach has succesfully driven the students to be more active and creative. Teacher assistant was less needed by students whenever they have problems related to the dance learning.How to Cite: Malarsih. (2016). The Tryout of Dance Teaching Media in Public School in The Context of Appreciation and Creation Learning. Harmonia: Journal of Arts Research And Education, 16(1), 95-102. doi:http://dx.doi.org/10.15294/harmonia.v16i1.4561
PERAN MASYARAKAT TERHADAP KESENIAN TAYUB DI DESA BEDINGIN KECAMATAN TODANAN KABUPATEN BLORA Sari, Ayu Mustika; Malarsih, Malarsih
Jurnal Seni Tari Vol 5 No 2 (2016): Vol. 5 No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.248 KB) | DOI: 10.15294/jst.v5i2.11509

Abstract

Tayub merupakan kesenian rakyat yang masih digemari oleh masyarakat di Desa Bedingin Kecamatan Todanan Kabupaten Blora. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pertunjukan Tayub dan peran masyarakat terhadap kesenian Tayub. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bentuk pertunjukan Tayub terdiri dari pemain, iringan, tata rias, busana dan tempat pentas. Peran masyarakat dalam pertunjukan Tayub sebagai penonton yang menyaksikan pertunjukan Tayub, pengibing sebagai penari laki-laki yang menari bersama joged, tamu undangan sebagai penikmat Tayub, dan pedagang yang menggelar pusat jajanan menyerupai pasar Tiban di arena pertunjukan. Tujuan diselenggarakan pertunjukan Tayub untuk menghibur masyarakat Desa Bedingin serta melestarikan kesenian yang berkembang di masyarakat.      
PELESTARIAN KESENIAN BABALU DI SANGGAR PUTRA BUDAYA DESA PROYONANGGAN KABUPATEN BATANG Endarini, Adilah; Malarsih, Malarsih
Jurnal Seni Tari Vol 6 No 2 (2017): Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.038 KB) | DOI: 10.15294/jst.v6i2.18280

Abstract

ABSTRAK Kesenian Babalu merupakan kesenian yang digunakan sebagai alat untuk siasat perang dalam melawan penjajah pada jaman dahulu. Kesenian Babalu berasal dari Kabupaten Batang yang dilestarikan di Sanggar Putra Budaya Desa Proyonanggan Kabupaten Batang. Usaha pelestarian Kesenian Babalu dilakukan dengan usaha perlindungan, pemanfaatan dan pengembangan. Pelestarian Kesenian Babalu berjalan dan berkembang di masyarakat Kabupaten Batang yang didukung dengan adanya Sanggar Putra Budaya dan Pemerintah Kabupaten Batang. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk pertunjukan Kesenian Babalu, mendiskripsikan upaya pelestarian Kesenian Babalu di Sanggar Putra Budaya Desa Proyonanggan Kabupaten Batang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik keabsahan data diperiksa dengan metode triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian pada bentuk pertunjukan Kesenian Babalu terdiri dari tiga tahapan, yakni awal, inti, dan akhir. Persiapan awal dalam pertunjukan Kesenian Babalu ditandai dengan bunyi peluit oleh penari Kesenian Babalu lalu penari memasuki panggung dengan ragam gerak kaki doublestep. Inti pertunjukan Kesenian Babalu ditandai dengan ragam gerak diantaranya yaitu ragam gerak langkah tepuk dan ragam gerak silat. Penutup dalam pertunjukan Kesenian Babalu ditandai dengan ragam gerak jalan ditempat lalu para penari keluar panggung. Bentuk Kesenian Babalu dimunculkan melalui elemen dasar tari dan elemen pendukung tari. Elemen dasar tari terdiri dari gerak, ruang, dan waktu. Elemen pendukung tari terdiri dari musik, tata busana, tata rias, tempat pentas, waktu pelaksanaan, tata suara, properti dan penonton. Upaya pelestarian Kesenian Babalu dilakukan melalui tiga tahap yaitu perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan. Upaya perlindungan kesenian Babalu dilakukan melalui pelatihan tari di Sanggar Putra Budaya, Upaya pemanfaatan dilakukan melalui pementasan-pementasan Kesenian Babalu dan upaya perkembangan dilakukan melalui perkembangan gerak, iringan dan tatabusana dalam kesenian Babalu.  Saran bagi 1) Sanggar Putra Budaya agar terus mengembangkan bentuk Kesenian Babalu menjadi lebih baik lagi, 2) Pengelola Sanggar agar terus mengadakan pementasan-pementasan kesenian Babalu 3) Penari Kesenian Babalu agar lebih baik dalam mengekspresikan gerak dalam Kesenian Babalu, 4) Masyarakat di Desa Proyonanggan dan masyarakat di Kabupaten Batang agar ikut serta dalam melestarikan Kesenian Babalu.
Eksistensi Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing Wati, Rosdiana; Malarsih, Malarsih
Jurnal Seni Tari Vol 7 No 1 (2018): Vol 7 No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.988 KB) | DOI: 10.15294/jst.v7i1.22794

Abstract

Tari Ronggeng Bugis temasuk tarian jenaka, yang lucu dan menghibur. Berbeda dengan tari Ronggeng lain, tari Ronggeng Bugis ditarikan oleh laki-laki, selain itu keberadaan tari Ronggeng Bugis sendiri sudah diakui oleh masyarakat Cirebon kota dan Cirebon barat. Masalah penelitian yaitu Bagaimana Eksistensi Tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing Plumbon Cirebon.  Maka tujuan penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui, dan mendeskripsikan bagaimana eksistensi tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing Plumbon Cirebon.Teknik pengumpulan data melalui observasi mengenai tempat penelitian dan bentuk pertunjukan tari Ronggeng Bugis, kemudian wawancara dengan beberapa sumber yaitu ketua sanggar, dinas pariwisata dan budaya Kabupaten Cirebon, kepala sekolah, penari, pelatih, dan penonton. dan dokumentasi penelitian maupun dokumentasi peneliti. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tari Ronggeng Bugis di Sanggar Pringgadhing masih eksis dan dikenal oleh masyarakat Cirebon. dengan pembuktian adanya pementasan tari Ronggeng Bugis sampai tahun 2017 ini. Serta adanya kerjasama dengan instansi pemerintahan seperti dinas kebudayaan dan sekolah, dengan tujuan melestarikan kebudayaan Cirebon dan sebagai sarana pendidikan. Kata Kunci : eksistensi, tari ronggeng
PERKEMBANGAN KESENIAN JARAN JENGGO ASWO KALOKO JOYO GENERASI KE-6 SAMPAI GENERASI KE-7 DESA SOLOKURO KECAMATAN SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN Wulandari, Ayu; Jazuli, Muhammad; Malarsih, Malarsih
Indonesian Journal of Conservation Vol 7, No 1 (2018): IJC
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v7i1.18997

Abstract

Jaran Jenggo art is a circumcision dress art procession using a horse or jaran accompanied by jedor music. Jaran Jenggo art began to develop from the 6th generation to the 7th generation which has been implemented because of various aspects of modern thought, education and economics Making Jaran Jenggo Art Aswo Kaloko Joyo makes art form innovation so that it is not monotonous. It is this change that motivates. Jaran Jenggo Aswo Kaloko Joyo developed the form. The aim of the study was to find out the development. Jaran Jenggo Aswo Art Kaloko Joyo from the 6th generation to the 7th day. This study uses qualitative methods through the Sociology of Arts approach to encode the development of society towards artists in the creation of films. Jaran Jenggo to make it look more attractive. Social change, making Jaran Jenggo Art finally began to rise with innovative forms, accompaniment, costumes and make-up, even to the stage that consisted of the farewell stage which began in the 6th Generation to become a new form and developed until the 7th generation ofization. Jaran Jenggo Art Aswo Kaloko Joyo has found a country that is mature enough in the mood, with the development that creates Jaran Jenggo still has to improve the quality and quality of the art they have.
Seni Postmodern dalam Wujud Konkretnya (Postmodern Art in a Concrete Form) Malarsih, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 6, No 3 (2005)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v6i3.815

Abstract

Seni Postmodern lebih tampak secara konkret sebagai seni adonan, namun bukanadonan dalam tataran kolaborasi. Adonan dalam corak postmodernisme selalumenonjolkan kelokalannya dan bahkan kelokalan itu digunakan sebagai ciriutamanya. Sebagai seni adonan, sekalipun kelokalannya ditonjolkan sebagai ciri,tetap saja kehilangan jiwa yang terdalam yang terdapat pada aslinya. Jiwa yangterdalam dari yang asli berbaur dengan seni massa yang dijadikan bahan dasar untukmewujudkan seni postmodern. Seni postmodern dapat populer karena dukunganmedia massa. Dalam banyak perbincangan dikatakan, seni postmodern ibarat wanitacantik namun kecantikannya hanya ada di wajah. la cantik karena bergincukan senimassa. Jiwanya tetap rapuh, nuraninya terbelenggu kefanaan, berseri namun tanpakedalaman makna.Kata kunci: postmodernisme, budaya massa, seni lokal, modern
Creativity Education Model through Dance Creation for Students of Junior High School Malarsih, M.; Herlinah, H.
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 14, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v14i2.3296

Abstract

This study aims to realize dance as a real product of a dance education process. The product is packaged in a form of audio-visual as well as a scientific publication. As the benefit from this study, the product can be used by school and specifically by dance teacher as a guidance in conducting dance lesson at school. The study on the model of creativity education through the creation is being understood as a form of developmental research. As a developmental research, the research plan is initiated by analyzing the teaching material related to dance lesson, and relate it to the creativity education which has to be accomplished through dance lesson, specifically for Junior High School students. The study will be continued with theoretical/ conceptual analysis and observation which is related to creativity education through the dance creation. In the end of this study, model of creativity education through dance creation is produced, particularly for students of Junior High School level. Results of the study show that, in doing creativity activity through dance creation, the value of the dance as an art is not become the primary aim. Moreover, the main aim of this process is towards the creativity process itself. While producing and creating the dance, two major educational points are derived, which are: the creativity and product value in a form of dance. Based on background of the idea, through this pilot project, the creativity of creating dance for public schools students, especially Junior High School, is possible to be done and used as a dance creativity learning model in Junior High School. Two suggestions are formulated in this study: (1) it is suggested for dance teachers in public schools, in this context is Junior High School teachers, to set their teaching and learning process into the creativity education as it is implied in curriculum. (2) In order to achieve the creativity education itself, the dance creation as one of art subject which is given to schools, should become the main priority in its learning implementation as an instrument to build students character to be more creative in thinking.
APLIKASI TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL RADCLIFFE-BROWN DAN TALCOT PARSONS PADA PENYAJIAN TARI GAMBYONGAN TAYUB DI BLORA JAWA TENGAH Malarsih, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i1.825

Abstract

Kelengkapan sebuah bentuk penyajian tari, antara lain jika ada materitarinya dalam bentuk komposisi gerak secara utuh, pola lantai, musik iringan,dan rias serta busana yang mendukung penyajian tari itu. Penyajian tarigambyongan tayub di Blora poada acara-acara pementasan resmi selalulengkap, dalam arti telah menggunakan komposisi gerak secara utuh, polalantai yang serasi, musik iringan yang tertata, dan rias serta busana yangmenunjang penyajian tari itu. Masing-masing bagian pada tari itu menunjukkansuatu ikatan struktur yang utuh pula. Diantara bagian-bagian yang ada salingberhubungan secara fungsional., namun bukan merupakan suatu hubungansebab akibat. Hubungan bagian atau unsur satu dengan yang lain secarafungsional yangd emikian itu, berkesuaian dengan teori struktural fungsionalRadcliffe-Brown Talcott parsons dalam kaitannya dengan sebuah struktursosial masyarakat sebagaimana diungkapkan oleh Radcliffe-Brown dan TalcottParsons itu.Kata Kunci : Tari gambyongan tayub, strutur fungsional, penyajian tari
Peranan Komunitas Mangkunagaran dalam Meperkembangkan Tari Gaya Mangkunagaran (Role of Mangkunagaran Community to Develop Dance of Mangkunagaran Style) Malarsih, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.795

Abstract

Tari gaya Mangkunagaran merupakan jenis tari klasik Jawa yang masih banyak digunakanuntuk berbagai kepentingan oleh masyarakat pendukungnya. Komunitas Mangkunagarandiprediksi mempunyai andil besar dalam menjaga keeksistensian tari gaya Mangkunagarantersebut. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, adalah bagaimana peranan komunitasMangkunagaran dalam memperkembangkan tari gaya Mangkunagaran. Metode penelitianyang diterapkan adalah kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian, Pura Mangkunagaran.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.Teknik analisis data yang digunakan adalah analilisis interaktif mengikuti alur analisisMiles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan, komunitas Mangkunagaran berperanpenting dalam usaha memperkembangkan tari gaya Mangkunagaran. Usahamemperkembangkan utamanya berkait dengan fungsi dan materi tari gaya Mangkunagaran,yaitu tari itu sebagai sarana upacara perkawinan bagi masyarakat umum, penyambutantamu, pariwisata, festival, dan pertukaran budaya dengan negara sahabat. Perkembanganmateri dilakukan dengan cara mencipta materi tarian baru namun pijakan garapannyamenggunakan sebagian dari unsur tari gaya Mangkunagaran. Selain itu, juga melakukanpelatihan-pelatihan pada masyarakat umum. Berdasar hasil penelitian, disarankan: (1)hendaknya komunitas Mangkunagaran dalam memperkembangkan tari gayaMangkunagaran tetap menggunakan pijakan tari gaya Mangkunagaran yang asli, (2) perluadanya regenerasi untuk pelatih dan juga penari tari gaya Mangkunaran yang loyal terhadapperkembangan tari gaya Mangkunagaran.Kata kunci: peranan, gaya tari, komunitas, fungsi tari, interaksi.