Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JOGED

ANALISIS MAKNA TOPENG SEBAGAI PROPERTI TARI PADA PERTUNJUKAN BEDUG KEROK Fajri, Samsul; Malarsih, Malarsih; Hartono, Hartono
Joged Vol 23, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i2.14164

Abstract

RINGKASANInstrumen atau objek pelengkap yang disebut properti inilah yang memberi makna yang dalam pada sebuah pertunjukan tari. Untuk mengetahui dan menganalisis makna topeng yang digunakan sebagai penyangga tari dalam pertunjukan Bedug Kerok di Kampung Seni Yudha Asri, Desa Mander, Kecamatan Bandung, dan Kabupaten Serang Banten merupakan tujuan dari penelitian ini. Pendekatan semiotik berdasarkan teori Roland Barthes digunakan untuk mendefinisikan sinyal dan makna dalam metode penelitian kualitatif deskriptif. Di sanggar seni Yudha, pengumpulan data dilakukan dengan berbagai metode, antara lain observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Analisis makna dalam penelitian ini didasarkan pada pendekatan semiotika Roland Barthes yang membedakan antara makna denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil dari penelitian ini berupa gambaran menyeluruh tentang topeng reformasi, salah satu properti tari yang digunakan dalam pertunjukan Bedug Kerok, dan maknanya. ABSTRACTA complementary instrument or object called property is what gives a dance performance its deep meaning. Finding out and analyzing the significance of a masks utilized as a dance prop in the Bedug Kerok show in the Yudha Asri Art Village, Mander Village, Bandung District, and Serang Banten Regency was the goal of the research. A semiotic approach based on Roland Barthes' theory is utilized to define signals and meanings in the descriptive qualitative research method. In the Yudha art studio, data were gathered using a variety of methods, including observation, interviews, documentation, and library research. The analysis of meaning in this study is based on Roland Barthes' semiotic approach, which distinguishes between denotation, connotation, and myth meanings. The outcome of this investigation takes the shape of a thorough description of the reform mask, a dance property that is used in the Bedug Kerok performance, and its significance. 
Penyajian Tari Topeng Klana Cirebon Gaya Gegesik dalam Konteks Budaya Pesisir sebagai Sumber Kearifan Lokal Pramadanti, Triana; Malarsih, Malarsih; Hartono, Hartono
Joged Vol 23, No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i1.12764

Abstract

RINGKASANTari topeng klana gaya Gegesik merupakan salah satu gaya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Namun tidak sedikit masyarakat yang dapat memahami bagaimana pentingnya menjaga dan melestarikan tari topeng klana gaya Gegesik dengan mempelajari isi dari unsur-unsur tari yang terdapat di dalamnya yang tertuang dalam bentuk penyajian tari. Dengan memahami komponen-komponen yang ada di dalamnya, tari topeng klana gaya Gegesik akan tetap terjaga keasliannya tanpa mengubah satu hal apapun yang menjadi pakem tari topeng klana gaya Gegesik. Tari topeng klana gaya Gegesik memiliki daya tarik yang tinggi untuk ditampilkan dalam acara acara upacara, penyambutan tamu agung, maupun mengisi event-event baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun di luar pemerintahan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnokoreologi sebagai pisau bedah untuk mengkaji komponen teks pada tari. Terdapat 8 komponen teks dalam tari topeng klana gaya Gegesik yaitu gerak, penari, rias, busana, pola lantai, music, property, tempat pertunjukan. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Setelah penelitian, ditemukan bahwa bentuk penyajian tari topeng klana gaya Gegesik memiliki 8 komponen yang saling berkaitan dan tidak dapat mengubah keaslian di dalamnya, dengan demikian tari topeng klana Cirebon gaya Gegesik memiliki unsur-unsur yang tidak dapat diubah begitu saja dan memiliki makna dan nilai yang tersirat disetiap gerak, musik, kostum dan unsur-unsur lainnya.ABSTRACTGegesik-style Klana mask dance is one of the styles that have survived to the present day. The importance of maintaining and preserving the Gegesik-style Klana mask dance, which is comprised of dance elements presented in the form of a dance perfomance, is understood by a few people who have studied its dance elements. By comprehending the elements contained therein, the Gegesik style of the masked Klana dance will maintain its authenticity without altering a single aspect of the Gegesik style masked Klana dance's standard. Gegesik-style Klana mask dance has excellent appeal for ceremonial events, welcoming guests, and filling in events organized by government and non-government organizations. This study used qualitative research and an ethnochoreological methodology as a scalpel to investigate the textual components of dance. The Gegesik style Klana mask dance has eight text components: movement, dancers, make-up, clothing, floor patterns, music, property, and place of performance. Collecting data was done with observation, interviews, and document analysis. After conducting research, the researcher discovered that the form of perfomance of the Gegesik-style masked Klana dance consists of eight interrelated components that cannot be changed without altering its authenticity. Consequently, the Gegesik-style Cirebon masked Klana dance contains elements that cannot be easily altered, as well as meanings and values implicit in every movement, music, costume, and another component.
Co-Authors Adhitya Darmantho Agus Cahyono Agus Cahyono Agus Cahyono Agus Cahyono Agustiina, Inna Amanatillah, Dwi Nisa' Andi Tenri Juli Astari Anik Purwati Anita Widyati Astari, Andi Tenri Juli Ayu Mustika Sari Ayu Wulandari Azkia Ismiati Balqis, Lale Alia Deasylina Da Ary Deasylina da Ary Dewi Purnama Sari Dyah Ayu K, Rakanita Dyah Indriyani, Putri Eko Sugiarto Ekowati, Yunik Endang Ratih E.W. Endarini, Adilah Eny Kusumastuti Fajri, Samsul Frizia Nuary Novalia, Frizia Nuary Novalia H. Herlinah Halimah Agustina Harefa, Mega Suryawan Harist Harjanti Wijaya Mulia Catur Tunggal Hartono & Wahyu Lestari Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono Hartono, Hartno Hartono, Hartono Ika Merdekawati, Ika Khakimah, Putri Lelyana Lely Aryani Maria Magdalena Cita Hapsari Mawasti, Frihastyayu Bintyar Moh Hasan Bisri Muhammad Fazli Taib Bin Saearani Muhammad Jazuli Muhammad Jazuli Najah, Alfiyatun Nanda Resma Yulianti Naomi Diah Budi Setyaningrum Nastiti, Laras Shantika Nurul Dwi Rahayuningtyas Pramadanti, Triana Pramana, Andi Dwi Resqi Rahina Nugrahani Rinda Lorensa Kombong Rohidi, Tjetjep Rohendi Samsul Fajri Siti Rahmadani Nur Bakhtiar Slamet Haryono Solly Aryza Sumaryanto, Totok Sumaryanto. F, Totok Sunarto Sunarto Syahrul Syah Sinaga Thesya Ramyta Rizki Treny Hera Tri Marhaeni Pudji Astuti Triana Pramadanti Udi Utomo Usrek Tani Utina Wadiyo Wadiyo Wahyu Lestari Wati, Rosdiana Widarwati Widarwati Widarwati, Widarwati Widodo Brotosejati Widodo Widodo Wisnugraha, Azhardi Witriani, Rani Zulfa Dwi Febriani