Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Antara Iron Deficiency Anemia dan Tingkat Depresi Pada Remaja Putri Qurani Yuniar Rhamadhany; Linda Amalia; Upik Rahmi
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.44977

Abstract

Anemia defisiensi besi (IDA) merupakan salah satu masalah gizi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat berdampak pada gangguan suasana hati, termasuk depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara anemia defisiensi besi dengan tingkat depresi pada remaja putri di SMPN 2 Cimenyan, Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 78 responden yang dipilih secara purposive sampling. Status anemia ditentukan berdasarkan kadar hemoglobin <12 g/dL dan tingkat depresi diukur menggunakan kuesioner PHQ-9. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher's Exact. Hasil menunjukkan bahwa 51,3% responden mengalami anemia dan sebagian besar dari mereka mengalami depresi ringan (52,5%) dan sedang (30%). Tidak ada remaja anemia yang berada dalam kondisi normal. Selain itu, kelompok non-anemia juga menunjukkan adanya depresi, termasuk depresi sangat berat (2,6%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status anemia dan tingkat depresi (p = 0,030). Temuan ini menunjukkan bahwa anemia defisiensi besi dapat berkontribusi terhadap gangguan suasana hati pada remaja putri, sehingga penting dilakukan skrining gizi dan kesehatan mental secara rutin. Kata Kunci: Anemia defisiensi besi, depresi, remaja putri, status gizi, kesehatan mental
The Relationship Between Knowledge Level about Physical Activity and Depression Among Pre-Elderly Individuals Naswa Aulianisa; Upik Rahmi; Dhika Dharmansyah
ACTIVE: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/active.v14i3.36837

Abstract

This study aims to determine the relationship between knowledge about physical activity and depression in the pre-elderly group in the working area of the Ledeng Community Health Center (Regional Technical Implementation Unit), Bandung City. The method used is a descriptive correlational study with a cross-sectional approach, where data is collected over a period of time. The study sample consisted of 50 pre-elderly people aged 45–59 years selected using accidental sampling techniques. The instruments used included a questionnaire on the level of knowledge of physical activity and the Beck Depression Inventory-II (BDI-II). Data were analyzed descriptively and inferentially using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. The results showed that the majority of respondents had good knowledge of physical activity (56%) and experienced minimal depression (82%). Statistical tests showed a relationship between knowledge of physical activity and levels of depression in the pre-elderly (p = 0.000). These results indicate that the better the pre-elderly people's understanding of physical activity, the less prone they are to developing depression. Thus, efforts to improve health education regarding the importance of physical activity need to be strengthened as a strategy to prevent depression and improve well-being in the pre-elderly group.
PERAN INTERVENSI STATIONARY BIKE DALAM MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA DEWASA MUDA DENGAN GAYA HIDUP SEDENTARY Ariyanto, Muhammad Wahyu; Rahmi, Upik; Salasa, Sehabudin
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.37695

Abstract

Perilaku sedentary life pada dewasa muda semakin meningkat dan berkontribusi terhadap gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. Aktivitas fisik aerobik diketahui memiliki efek positif terhadap kesehatan mental, namun penelitian spesifik yang mengkaji penggunaan stationary bike sebagai intervensi terstruktur pada dewasa muda sedentary masih terbatas. Penelitian ini memiliki kebaruan pada penggunaan stationary bike sebagai intervensi aerobik terstruktur yang ditujukan pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary, sebelumnya lebih banyak diteliti secara umum pada aktivitas fisik tanpa fokus pada satu modalitas latihan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi stationary bike terhadap tingkat kecemasan pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan kelompok eksperimen dan kontrol menggunakan pendekatan pretest-posttest. Sampel berjumlah 40 responden yang dibagi menjadi dua kelompok. Intervensi berupa latihan stationary bike dilakukan tiga kali seminggu selama empat minggu dengan durasi 30 menit per sesi. Tingkat sedentary diukur menggunakan Sedentary Behaviour Questionnaire (SBQ) dan kecemasan diukur menggunakan Zung’s Self-rating Anxiety Scale (ZSAS). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor kecemasan yang signifikan pada kelompok eksperimen setelah intervensi (P-value = 0,000), sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan skor kecemasan yang juga signifikan (P-value = 0,026). Analisis perbandingan antar kelompok pada tahap posttest menunjukkan perbedaan tingkat kecemasan yang bermakna secara statistik antara kelompok eksperimen dan kontrol (p = 0,001). Disimpulkan bahwa intervensi stationary bike efektif dalam menurunkan kecemasan pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary.
The Effect of Lemon Aromatherapy Inhalation on Pain Scale Reduction in Patients after Lower Extremity Fracture Surgery Rahmi, Upik; Fitriana, Lisna Anisa; Anggraeni, Syifa Fadhilah
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 11, No 2 (2025): Volume 11, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v11i2.89936

Abstract

Introduction: Fractures are disruptions in the continuity of bone structure that may involve nerve injury, leading to postoperative pain and discomfort. Postoperative pain is a common and inevitable condition that requires effective management to prevent complications and enhance patient comfort. In addition to pharmacological therapy, non-pharmacological interventions such as aromatherapy are increasingly used as complementary approaches in pain management. Lemon aromatherapy is believed to have analgesic and relaxing properties that can help reduce pain perception after surgery. Objective: This study aimed to examine the effectiveness of lemon aromatherapy inhalation in reducing pain intensity among patients following lower extremity fracture surgery. Methods: A quasi-experimental study with a two-group pretest–posttest design was conducted at a hospital. A total of 20 postoperative patients with lower extremity fractures were recruited using a total sampling technique. The intervention involved inhalation of lemon aromatherapy by applying 5–6 drops of lemon essential oil onto a tissue placed on the patient’s chest for 30 minutes, accompanied by deep breathing exercises. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS). Data analysis included tests of normality and homogeneity, paired sample t-tests, independent sample t-tests, and n-gain analysis. Results: The results showed a significant reduction in pain intensity after the intervention (p = 0.000). The mean pain score decreased from 7.9 (severe pain) before the intervention to 4.6 (mild pain) after the intervention, indicating a clinically meaningful improvement. Conclusion: Lemon aromatherapy inhalation is effective in reducing postoperative pain intensity among patients after lower extremity fracture surgery and may be considered a complementary nursing intervention for postoperative pain management.
GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG MANAJEMEN PELAYANAN HOSPITAL HOMECARE DI RSUD AL-IHSAN JAWA BARAT Rahmi, Upik; Ramadhanti, Dewi
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7483

Abstract

ABSTRAKHomecare merupakan layanan kesehatan yang dilakukan dirumah pasien. Konsep ini telah dikembangkan oleh William Rathon sejak tahun 1859 di liverpool yang dinamakan perawatan dirumah dalam bentuk kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati pasien yang sakit dan tidak bersedia dibawa ke rumah sakit. Di Indonesia, konsep homecare ini merupakan solusi paling tepat untuk mengantisipasi jumlah pasien yang tidak tertampung di rumah sakit. Dengan konsep homecare maka pasien yang sakit dengan kriteria tertentu (terutama yang tidak memerlukan peralatan rumah sakit) tidak lagi harus ke rumah sakit, tetapi tenaga kesehatan yang mendatangi rumah pasien dengan fokus utama pada kemandirian pasiendan keluarganya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan perawat tentang manajemen pelayanan hospital homecare di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat pada tanggal 26-27 Mei 2016 dengan jumlah populasi 10 orang serta jumlah sampel 10 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran pengetahuan perawat tentang menejemen pelayanan hospital homecare di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat diperoleh kategori terbanyak yaitu lima orang responden (50%) memiliki pengetahuan cukup, kategori kurang tiga orang responden (30%) memiliki pengetahuan kurang dan untuk pengetahuan dengan kategori baik sebanyak dua orang responden (20%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan perawat tentang manajemen pelayanan hospital homecare di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat adalah kategori cukup yaitu lima orang responden (50%). Oleh karena itu maka peneliti merekomendasikan agar pihak kesehatan lebih mengembangkan pengetahuan tentang homecare agar tercipta kesehatan yang holistik. ABSTRACTHomecare is supportive care provide in the home. The modern concept of providing nursing care in the home was developed by William Rathbone of Liverpool, England, in 1859. In Indonesia, The concept of homecare is solution for anticipate amount of patient in the hospital. In manner of this concept for patient have a spesific character like unneed some hospital’s instrumentation, patient unneed to go to hospital but a nurse come to a patient’s home, but a nurse have to come to a patient home for a focus, that is a patient to be autonomous in activity daily living. This research for find out of nurse’s knowledge about hospital homecare service management (HHSM) in Al-Ihsan Provience’s Hospital Jawa Barat. It is conducted using descriptive quantitative study in 26-27 May 2016, and involved 10 population and 10 samples. Simple total sampling was used as the technique and closed questionnaire was used as the instrument. The findings of the study show that most nurse’s in Al-Ihsan Provience’s Hospital Jawa Barat ( five respondents) have adequate knowledge about HHSM (50%); next, three respondents (30%) have low knowledge about HHSM; and two respondents (20%) have good knowledge about HHSM. To conclude, the nurse in Al-Ihsan Provience’s Hospital Jawa Barat’s knowledge about HHSM is adequate. Therefore, the health professionals are suggested to actively conduct more counseling and re-evaluation about homecare, especially about HHSM, in hospital settings. 
PENGETAHUAN SISWA KELAS XI TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL Rahmi, Upik; Gustini, Kiki; Purwandari, Asih
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9248

Abstract

Prevalensi PMS di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di negara maju. Usia remaja (15 – 24 tahun) merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi memberikan kontribusi hampir 50% dari semua kasus PMS. Di Indonesia, berdasarkan Laporan Survei Terpadu dan Biologis Perilaku (STBP) oleh Kementrian Kesehatan RI (2011), prevalensi penyakit menular seksual (PMS) pada tahun 2011 dimana infeksi gonore dan klamidia sebesar 179 % dan sifilis sebesar 44 %. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui  pengetahuan siswa  kelas XI tentang penyakit menular seksual. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 24 Bandung pada tanggal 4, 5, 8, 9 dan 11 Juni 2015 dengan jumlah populasi 359 orang serta jumlah sampel 190 orang.  Pengambilan sampel menggunakan   random sampling. Instrumen yang digunakan  kuesioner . Hasil penelitian ini menunjukkan  pengetahuan siswa  kelas XI tentang Penyakit Menular Seksual di SMA  diperoleh     119 orang   (62,63%)   pengetahuan cukup  59 orang  (31,05%)  pengetahuan kurang  12 orang   (6,32%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan siswa  kelas XI tentang penyakit menular seksual di SMA Negeri 24 Bandung adalah cukup 119 orang (62,63%). Oleh karena itu  peneliti merekomendasikan agar petugas kesehatan dapat lebih aktif lagi dalam memberikan penyuluhan tentang sistem reproduksi khususnya mengenai penyakit menular seksual di lingkungan sekolah. ABSTRACT The prevalence of Sexually Transmitted Disease (STD) in developing countries is higher than in advanced countries. The adolescence (15-24 years old) contributes for 25% to all sexually active population, but contributes 50% to all STD cases. According to Report of Integrated and Biologic Behavior Survey conducted by Health Ministry of Indonesian Republic (2011), the prevalence of STD in Indonesia in 2011 shows that gonorrhea and Chlamydia infection is 179% and syphilis is 44%. This study aims at discovering XI grade students of 24 Senior High School Bandung’s knowledge about STD. It is conducted using descriptive quantitative study in 4, 5, 8, 9 and 11 June 2015, and involved 359 population and 190 samples. Simple random sampling was used as the technique and closed questionnaire was used as the instrument. The findings of the study show that most XI grade students of 24 Senior High School Bandung (119 respondents) have adequate knowledge about STD (62.63%); next, 59 respondents (31.05%) have low knowledge about STD; and 12 respondents (6.23%) have good knowledge about STD. To conclude, the XI grade students of 24 Senior High School Bandung’s knowledge about STD is adequate. Therefore, the health professionals are suggested to actively conduct more counseling about reproduction system, especially about STD, in school settings.
Impact of Mangosteen Peel and Centella asiatica on Cognitive Function in Healthy Older Adults Fitriana, Lisna Anisa; Rahmi, Upik; Ghaida, Nafisa Siti; Komarudin, Komarudin; Fitri, Mustika
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia Vol 11, No 2 (2025): Volume 11, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v11i2.95087

Abstract

Introduction: The increasing elderly population in Indonesia is accompanied by a growing risk of cognitive decline and dementia. Current pharmacological interventions have limited effectiveness and may cause adverse effects, highlighting the need for safe, natural-based alternatives. Mangosteen peel (Garcinia mangostana) and gotu kola (Centella asiatica) possess neuroprotective, antioxidant, and anti-inflammatory properties that may enhance cognitive function in older adults. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of mangosteen peel and Centella asiatica extract supplementation in improving cognitive function among the elderly. Methods: A quasi-experimental pretest–posttest two-group study was conducted among 26 elderly residents at Griya Lansia Garut selected by purposive sampling. The intervention group received combined mangosteen peel and Centella asiatica supplementation for four weeks. Cognitive function was measured using MMSE, TMT-A, and Forward Digit Span, with data analyzed using Wilcoxon and Mann–Whitney tests (p0.05). Results: The intervention group showed significant improvements in MMSE scores (Δ=2.15; p0.001), processing speed and attention as measured by TMT-A (p=0.021), and working memory as measured by Forward Digit Span (p0.001). Between-group comparisons revealed significant differences in MMSE (p0.001) and TMT-A score changes (p=0.008), whereas no significant difference was observed for Forward Digit Span (p=0.458). Conclusion: Supplementation with mangosteen peel and Centella asiatica extracts may improve global cognitive function and attention in elderly individuals. This combined botanical intervention shows promise as a supportive non-pharmacological strategy for preventing cognitive decline; however, larger randomized controlled trials are required to confirm its efficacy and safety.
Intekoneksi antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati pada mahasiswa keperawatan Margareth, Yovanetha Maria; Rahmi, Upik; Nasution, Lina Anisa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2350

Abstract

Background: Empathy is a fundamental competency for nursing students to build therapeutic relationships and effective communication. This ability is at risk of declining due to the phenomena of alexithymia and social media addiction. Although the impact is significant, the maladaptive use of social media as a coping mechanism for alexithymia often goes unnoticed in the context of nursing education. Identifying the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy is crucial. Purpose: To analyze the relationship between social media addiction, alexithymia, and empathy, as well as to examine the mediating role of alexithymia in nursing students. Method: This study used a quantitative cross-sectional design on 197 nursing students selected through simple random sampling. Data were collected using the SMAS-SF, TAS-20, and JSPE-R questionnaires, then analyzed using path analysis. Results: The majority of respondents experienced high levels of social media addiction (57.4%), alexithymia (39.1%), and high empathy (77.7%). The path analysis results proved that alexithymia acted as the main mediator, social media addiction was significantly related to alexithymia (p=0.000) and alexithymia was significantly related to empathy (p=0.002), while the direct relationship between social media addiction and empathy was not significant (p=0.206). Conclusion: This study proves that alexithymia acts as the primary mediator. Social media addiction indirectly reduces empathy through blunted emotional sensitivity. The implications of this study emphasize the need for attention to the phenomenon of social media addiction related to alexithymia in order to maintain empathy competence in nursing students. Suggestion: Further research is recommended to apply a longitudinal or experimental design to conduct further testing of the causal relationship between variables.   Keywords: Alexithymia; Empathy; Nursing Students; Social Media.                                                                                                                                         Pendahuluan: Empati merupakan kompetensi fundamental bagi mahasiswa keperawatan untuk membangun hubungan terapeutik dan komunikasi efektif. Kemampuan ini berisiko menurun akibat fenomena alexithymia dan kecanduan media sosial. Meskipun dampaknya signifikan, penggunaan media sosial maladaptif sebagai mekanisme koping terhadap alexithymia sering kali luput dari perhatian dalam konteks pendidikan keperawatan. Identifikasi keterkaitan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati krusial untuk dilakukan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kecanduan media sosial, alexithymia, dan empati, serta menguji peran mediator alexithymia pada mahasiswa keperawatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional pada 197 mahasiswa keperawatan yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SMAS-SF, TAS-20, dan JSPE-R, kemudian dianalisis dengan path analysis. Hasil: Mayoritas responden mengalami kecanduan media sosial tingkat tinggi (57.4%), kondisi alexithymia (39.1%), dan memiliki empati yang tinggi (77.7%). Hasil path analysis membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama, kecanduan media sosial berhubungan signifikan dengan alexithymia (p=0.000) dan alexithymia berhubungan signifikan dengan empati (p=0.002), sementara hubungan langsung antara kecanduan media sosial dengan empati tidak signifikan (p=0.206). Simpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa alexithymia bertindak sebagai mediator utama dalam hubungan antara kecanduan media sosial dan empati. Kecanduan media berpengaruh secara tidak langsung melalui tumpulnya sensitivitas emosi. Implikasi studi ini menekankan perlunya perhatian dalam fenomena kecanduan media sosial yang berhubungan dengan alexithymia guna mempertahankan kompetensi empati pada mahasiswa keperawatan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk menerapkan desain longitudinal atau eksperimental guna melakukan pengujian lebih lanjut mengenai hubungan kausalitas antar variabel.   Kata Kunci: Alexithymia; Empati; Mahasiswa Keperawatan; Media Sosial.
Pengaruh brisk walking exercise terhadap kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe-2 Rahmat, Fauziah Amanda; Rahmi, Upik; Salasa, Sehabudin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2383

Abstract

Background: Sleep quality disturbance is a common problem among patients with type 2 diabetes mellitus and is associated with poor glycemic control and decreased quality of life. Physical activity, particularly moderate-intensity exercise such as brisk walking, is considered a simple non-pharmacological intervention that may improve sleep quality. However, evidence regarding its effectiveness in primary healthcare settings remains limited. Purpose: To analyze the effect of brisk walking exercise on sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus Method: This study employed a quasi-experimental pretest-posttest design with a control group. Patients with type 2 diabetes mellitus were purposively selected and assigned to intervention and control groups. The intervention group participated in a brisk walking exercise program for 8 weeks (three times per week), while the control group received no intervention. Sleep quality was assessed using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) before and after the intervention. Data were analyzed using descriptive statistics, paired t-test or Wilcoxon test, and independent t-test with a significance level of 0.05. Results: The intervention group showed a significant improvement in sleep quality after the brisk walking program, as indicated by a lower mean PSQI score than the control group. Statistical analysis demonstrated a significant difference in posttest sleep quality scores between groups (p < 0.001). Conclusion: Brisk walking exercise significantly improves sleep quality in patients with type 2 diabetes mellitus. This finding supports the role of structured physical activity as an effective non-pharmacological approach to improving sleep quality in patients with diabetes. Suggestion: Future research is recommended to develop designs with longer intervention durations, larger sample sizes, and involving more diverse populations to increase the generalizability of the findings. Furthermore, the use of objective measures of sleep quality, such as actigraphy or polysomnography, should be considered to complement the subjective measures of the PSQI and minimize potential response bias.   Keywords: Brisk Walking Exercise; Sleep Quality; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Gangguan kualitas tidur merupakan masalah yang sering dialami oleh pasien diabetes melitus tipe 2 dan berhubungan dengan kontrol glikemik yang buruk serta penurunan kualitas hidup. Aktivitas fisik aerobik intensitas sedang, seperti brisk walking exercise, merupakan intervensi nonfarmakologis sederhana yang berpotensi memperbaiki kualitas tidur. Namun, bukti empiris penerapannya di layanan kesehatan primer masih terbatas. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh brisk walking exercise terhadap kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sampel pasien diabetes melitus tipe 2 dipilih secara purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi menjalani brisk walking exercise selama 8 minggu (3 kali/minggu), sedangkan kelompok kontrol tidak menerima perlakuan. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji paired t-test atau Wilcoxon, serta independent t-test dengan tingkat kemaknaan 0.05. Hasil: Terdapat peningkatan kualitas tidur yang bermakna pada kelompok intervensi setelah pemberian brisk walking exercise. Perbandingan skor PSQI posttest antara kelompok intervensi dan kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (p < 0.001). Simpulan: Brisk walking exercise berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas tidur pada pasien diabetes melitus tipe 2. Intervensi ini dapat dipertimbangkan sebagai pendekatan keperawatan nonfarmakologis yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan kualitas tidur pasien diabetes di layanan kesehatan primer. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan desain dengan durasi intervensi yang lebih panjang, jumlah sampel yang lebih besar, serta melibatkan populasi yang lebih beragam untuk meningkatkan generalisasi temuan. Selain itu, penggunaan alat ukur objektif kualitas tidur seperti actigraphy atau polysomnography perlu dipertimbangkan guna melengkapi pengukuran subjektif PSQI dan meminimalkan potensi bias respon.   Kata Kunci: Brisk Walking Exercise; Diabetes Mellitus Type 2; Kualitas Tidur.
Efektivitas latihan senam poundfit high-intensity interval training (HIIT) terhadap kualitas tidur pada dewasa muda sedentary lifestyle Isaura, Gionovie Khalisha; Rahmi, Upik; Rohaedi, Slamet; Wahdini, Ridha
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2328

Abstract

Background: Sleep quality disturbances are highly prevalent among young adults and are closely associated with sedentary behavior, defined as waking activities performed in a sitting or reclining position with low energy expenditure for prolonged periods. Among university students, sedentary time exceeding 7 hours per day has been linked to poorer sleep quality. Although high-intensity physical activity is known to improve sleep quality, evidence regarding music-based High-Intensity Interval Training (HIIT), such as poundfit, remains limited. Purpose: To examine the effectiveness of poundfit-based HIIT on sleep quality among sedentary young adults. Methods: A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group. A total of 40 female participants with high sedentary time, defined as more than 7 hours per day spent sitting or reclining while awake, were assessed using the Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Participants were allocated into an intervention group (n = 20) and a control group (n = 20). The intervention group participated in poundfit-based HIIT sessions three times per week for four weeks, with each session lasting 45-60 minutes. Sleep quality was measured using the Indonesian version of the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), which has demonstrated good validity and reliability, with Cronbach’s alpha of 0.741. Data were analyzed using the Wilcoxon test, independent sample t-test, and effect size calculation. Results: The intervention group showed a significant reduction in PSQI scores from 8.35 ± 2.21 to 4.15 ± 2.18 (p < 0.001; r = 0.85), while the control group showed no significant change (p = 0.198). A significant difference in PSQI score changes was found between the intervention and control groups (p = 0.001). Conclusion: Poundfit-based HIIT is effective in improving sleep quality among young adults with high sedentary behavior of more than 7 hours per day. This intervention may serve as a practical and clinically meaningful physical activity program. Suggestion: Poundfit-based HIIT as a structured physical activity to improve sleep quality among university students with a sedentary lifestyle. The program can be effectively performed three times per week for four weeks, with a duration of 45-60 minutes per session. For less optimal outcomes, additional light-to-moderate physical activity, sleep hygiene education, and stress management are recommended. This intervention is considered more applicable and motivating for university students than conventional physical exercise in the context of promotive nursing care.   Keywords: High-Intensity Interval Training (HIIT); Poundfit; Sedentary Behavior; Sleep Quality; Young Adults.   Pendahuluan: Gangguan kualitas tidur banyak terjadi pada dewasa muda dan berkaitan erat dengan perilaku sedentari, yaitu aktivitas saat terjaga yang dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring dengan pengeluaran energi rendah dalam waktu yang lama. Pada mahasiswa, waktu sedentari lebih dari 7 jam per hari telah dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih buruk. Meskipun aktivitas fisik intensitas tinggi diketahui dapat meningkatkan kualitas tidur, bukti mengenai latihan High-Intensity Interval Training (HIIT) berbasis musik, seperti poundfit, masih terbatas. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas latihan poundfit berbasis HIIT terhadap kualitas tidur pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary. Metode: Penelitian desain kuasi-eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group. Sebanyak 40 partisipan perempuan dengan waktu sedentari tinggi, yaitu lebih dari 7 jam per hari dalam posisi duduk atau berbaring saat terjaga, dinilai menggunakan Sedentary Behavior Questionnaire (SBQ). Partisipan dibagi menjadi kelompok intervensi (n = 20) dan kelompok kontrol (n = 20). Kelompok intervensi mengikuti latihan poundfit berbasis HIIT sebanyak 3 kali per minggu selama 4 minggu, dengan durasi 45-60 menit setiap sesi. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) versi bahasa Indonesia yang telah menunjukkan validitas dan reliabilitas baik dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0.741. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, independent sample t-test, dan perhitungan effect size. Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan penurunan skor PSQI yang signifikan dari 8.35 ± 2.21 menjadi 4.15 ± 2.18 (p < 0.001; r = 0.85), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p = 0.198). Terdapat perbedaan perubahan skor PSQI yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0.001). Simpulan: Latihan poundfit berbasis HIIT efektif dalam meningkatkan kualitas tidur pada dewasa muda dengan perilaku sedentari tinggi lebih dari 7 jam per hari. Intervensi ini dapat menjadi program aktivitas fisik yang praktis dan bermakna secara klinis. Saran: Latihan HIIT berbasis poundfit sebagai aktivitas fisik terstruktur untuk meningkatkan kualitas tidur mahasiswa dengan gaya hidup sedentari. Program ini efektif dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu dengan durasi 45-60 menit per sesi. Pada hasil yang belum optimal, diperlukan tambahan aktivitas fisik ringan hingga sedang, edukasi sleep hygiene, dan manajemen stres. Intervensi ini dinilai lebih aplikatif dan memotivasi mahasiswa dibandingkan latihan fisik konvensional dalam konteks keperawatan promotif.   Kata Kunci: Dewasa Muda; Kualitas Tidur; High-Intensity Interval Training (HIIT); Perilaku Sedentari; Poundfit.
Co-Authors Achmad, Bayu Fandhi Afianti Sulastri, Afianti Ahmad Zaeri Sya&#039;rani Al Ghumayda Andria Pragholapati Anggraeni Putri, Laila Anggraeni, Syifa Fadhilah Anggudi, Ridha Wahdini Anguni, Ridha Wahdini Aninda Dinar Widiantari ariyanto, muhammad wahyu Asilah Sholeha Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih Budi Somantri, Budi Dadang Darmawan Dadang Darmawan Dadang Darmawan Dadang Darmawan Darmawati, Irma Dharmansyah, Dhika Dyna Apriany Ewa Zuzanna Krzyż Farida Murtiani Farida Murtiani Finardi, Kalamda Ilman Firdaus, Muhammad Ghifari Ghaida, Nafisa Siti Gustini, Kiki Gustini, Kiki Handayani, Roswati Hanna Goenawan Haryono, Tono Heriadi, Ronny Herry Susanto Hidayah, Annisa Nurul Imam Tri Sutrisno Irawati, Diana Isaura, Gionovie Khalisha Khoerunisa Amalia Komarudin Komarudin Linda Amalia Lisna Anisa Fitriana, Lisna Anisa Lisna Anisa Fitriani Lisna Annisa Fitriana Maiszha, Dian Margareth, Yovanetha Maria Marliah, Napisatul Maulana, Boyke Murtiani, Farida Mustika Fitri Narawangsa, Asri Nasution, Lina Anisa Naswa Aulianisa Natashia, Dhea Nina Sutresna Nisa Yusrina Nur Alifah, Nisa Yusrina Nur Norma Norma Nova Sylviana Novi Malisa, Novi Padilah, Farhan Isma Perdani, Agni Laili Permana, Adit Pitriani, Pipit Purwandari, Asih Purwati, Nyimas Heny Puspita, Asih Purwandari Wahyoe Qurani Yuniar Rhamadhany Rahmat, Fauziah Amanda Ramadhanti, Dewi Ramadhanti, Dewi Ratih Putri Salasa, Sehabudin Sari, Anita Rapika Septian Andriyani, Septian Setiawan Setiawan Setiawan, Guling Simbolon, Hot Marsitta Angelica Slamet Rohaedi, Slamet Sri Sumartini Sri wulandari Suci Tuty Putri, Suci Tuty Surdiniaty Ugelta Surdiniaty, Surdiniaty Susi Gustina Tanti Wijayanti Tirta Adikusuma Suparto, Tirta Adikusuma Wahdini, Ridha Wahyoe, Asih Purwandari Wahyuningtyas, Oktaviani Rizqi Wardany, Nadia Sintia Widiyaningsih Widiyaningsih Worang, Pingkan Priscilla Mareta Yoanita Suryani Zahra, Mutiara Alya