Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Analisis Kebutuhan Spiritual dan Rancangan Thaharah Kit bagi Pasien Pasca-Bedah Pengguna Kateter Urine Maharani Maharani; Nursabillah Fitrah; Nys. Faradilla Salsabilla; Zahrotul Aulia; Teddy Supriyadi; Akhmad Faozi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.830

Abstract

Abstrak Banyak pasien pasca-operasi yang menggunakan kateter urine merasa bingung dan ragu mengenai keabsahan shalat mereka akibat adanya aliran urine yang terus-menerus keluar. Masalah ini sering kali terabaikan karena tenaga kesehatan biasanya lebih fokus pada pengobatan medis saja, sehingga kebutuhan spiritual pasien sering terlupakan dan menyebabkan penurunan tingkat kepatuhan ibadah selama masa perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun sebuah panduan praktis thaharah serta rancangan Thaharah Kit bagi pasien pengguna kateter dengan menggabungkan prinsip medis dan aturan agama secara integratif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan wawancara mendalam secara daring terhadap enam orang partisipan yang terdiri dari tenaga kesehatan, pasien, serta tokoh agama berpengalaman. Hasil analisis tematik mengidentifikasi lima tema utama, yaitu: kewajiban ibadah dalam kondisi sakit, hambatan fisik yang membatasi gerak, keraguan pasien akan keabsahan ibadahnya, kurangnya edukasi spiritual dari perawat, serta kebutuhan akan panduan praktis dan instrumen Thaharah Kit. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara pelayanan medis dengan pemenuhan kebutuhan rohani pasien di lapangan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa penyusunan panduan praktis dan penyediaan alat bantu sangat penting untuk membantu pasien tetap dapat beribadah dengan tenang dan benar meski dalam kondisi fisik terbatas. Kontribusi penelitian secara nyata mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ketiga, yaitu menjamin kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua melalui pelayanan kesehatan yang holistik. Abstract Many post-operative patients with urinary catheters feel confused and uncertain about the validity of their prayers due to the persistent urine flow. This issue is often overlooked because healthcare professionals typically focus solely on medical treatment, often neglecting patients' spiritual needs, leading to a decline in adherence to religious practices during treatment. This study aims to develop a practical guide to thaharah (prayer) and a Thaharah Kit (community prayer kit) for catheterized patients, integrating medical principles and religious rules. The method used is a descriptive qualitative approach, conducted through literature review and in-depth online interviews with six participants, including healthcare professionals, patients, and experienced religious leaders. The results of the thematic analysis identified five main themes: the obligation to pray during illness, physical limitations that limit movement, patients' doubts about the validity of their prayers, the lack of spiritual education from nurses, and the need for practical guidance and Thaharah Kit instruments. These findings indicate a significant gap between medical services and the fulfillment of patients' spiritual needs in the field. The study's conclusions emphasize the importance of developing practical guidance and providing assistive devices to help patients maintain calm and correct prayer practices despite their physical limitations. The research contribution significantly supports the achievement of the third Sustainable Development Goal (SDGs), namely ensuring a healthy life and well-being for all through holistic health services.
Bayi Tabung dalam Perspektif Hukum Islam: Peran Perawat dalam Edukasi dan Pengambilan Keputusan Pasien Muslim Neng Nurul Khotimah; Muhammad Fajar Nurfalah; Lenni Rahmadani; Destia Amellia; Ailsa Shakira Alya Maulani; Tedi Supriyadi; Akhmad Faozi; Ida Nurhidayah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.837

Abstract

Infertilitas merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat berdampak pada aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual pasangan suami istri. Fertilisasi in vitro (IVF) atau bayi tabung menjadi salah satu solusi medis untuk mengatasi infertilitas. Namun, bagi pasien Muslim, pelaksanaan IVF perlu mempertimbangkan ketentuan hukum Islam terkait kejelasan nasab dan larangan keterlibatan pihak ketiga. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktek bayi tabung dalam perspektif hukum Islam serta peran perawat dalam pengambilan keputusan. Penelitian menggunakan desain mixed methods dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Populasi penelitian meliputi pasangan suami istri, tenaga kesehatan, dan tokoh agama. Sampel terdiri atas 20 pasangan suami atau istri, 10 tenaga kesehatan, dan 3 ulama dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan PERSIS yang dipilih menggunakan purposive sampling. Variabel yang diteliti meliputi pemahaman mengenai bayi tabung, perspektif hukum Islam, dan peran perawat dalam pengambilan keputusan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis secara deskriptif dan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek bayi tabung diperbolehkan menurut hukum Islam apabila sperma dan ovum berasal dari pasangan suami istri yang sah serta embrio ditanamkan pada rahim istri. Seluruh narasumber menolak penggunaan donor sperma, donor ovum, maupun ibu pengganti. Sebagian besar responden memiliki pemahaman yang baik mengenai bayi tabung dan menjadikan aspek keagamaan sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Praktek bayi tabung dapat diterima dalam Islam dengan memenuhi ketentuan syariah yang berlaku. Pemahaman terhadap hukum Islam menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan sehingga diperlukan edukasi yang komprehensif dan sesuai nilai keagamaan.
Penggunaan Obat Psikotropika terhadap Pasien Gangguan Jiwa dalam Perspektif Islam Dicka Trie Permana; Andika Putra; Yoga Gunawan Rinaldi; Ghaniyyuu Zaidan Aflaha; Muhammad Yusuf; Nauval Abbrar Maula; Tedi Supriyadi; Akhmad Faozi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.845

Abstract

Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) menghadapi tantangan ganda berupa beban penyakit dan stigma sosial yang kuat. Prevalensi skizofrenia/psikosis di Indonesia mencapai 7 per mil penduduk (Riskesdas, 2018), namun penggunaan obat psikotropika sebagai terapi utama sering menimbulkan dilema etis-religius di kalangan masyarakat Muslim. Banyak keluarga ODGJ menolak pengobatan medis karena menganggap psikotropika sebagai zat yang diharamkan, sementara dialog antara tenaga kesehatan dan pemuka agama masih sangat minim.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) semi-terstruktur. Partisipan dipilih secara purposive, terdiri dari tiga tokoh agama mewakili Nahdlatul Ulama (NU), PERSIS, dan Muhammadiyah, serta dua tenaga kesehatan di bidang kejiwaan di Kabupaten Sumedang. Data dianalisis menggunakan analisis tematik deskriptif kualitatif, diperkuat kajian literatur ilmiah dari PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Validitas dijamin melalui pendekatan trustworthiness yang meliputi credibility, dependability, confirmability, dan transferability. Ketiga tokoh agama sepakat bahwa penggunaan obat psikotropika untuk ODGJ pada dasarnya diperbolehkan dalam kondisi darurat berdasarkan kaidah fikih ad-dharuratu tubihu al-mahzurat, dengan syarat tidak ada alternatif lain, dosis sesuai kebutuhan, dan di bawah pengawasan tenaga medis. Terdapat perbedaan penekanan: NU memprioritaskan kolaborasi dengan ahli tasawuf, PERSIS menekankan landasan fiqh (rukhsoh), sedangkan Muhammadiyah mengutamakan analisis manfaat-mudarat dan prioritas obat halal-thayyib. Tenaga kesehatan menegaskan pentingnya pendekatan Bio-Psiko-Sosio-Spiritual dan kolaborasi terstruktur dengan pemuka agama, termasuk penyesuaian regimen obat dengan praktik ibadah.Terdapat titik temu signifikan antara perspektif Islam dan medis dalam penanganan ODGJ. Optimalisasi terapi psikotropika memerlukan pembentukan komite Multi Disiplin yang melibatkan psikiater, ulama, dan bioetikawan, serta edukasi terpadu kepada keluarga dan masyarakat Muslim guna meningkatkan kepatuhan pengobatan, mengurangi stigma, dan mencegah praktik pasung.
Analisis Etika Profesional dan Perspektif Islam terhadap Ketidakjujuran Dokumentasi Keperawatan Berdasarkan Sudut Pandang Praktisi dan Ulama Sinta Nurlaila; Sabrina Aulia Maulida; Nabila Tiara Putri; Aulia Putri Syah Vadysna; Oriza Sativa; Tedi Supriyadi; Akhmad Faozi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.860

Abstract

Ketidakjujuran dalam dokumentasi keperawatan, seperti fenomena "tembak data," masih menjadi masalah serius yang mengancam keselamatan pasien dan integritas profesi akibat beban kerja yang tidak seimbang. Praktek pelaporan yang tidak faktual ini tidak hanya melanggar standar akreditasi, tetapi juga mencerminkan adanya krisis moral dalam tanggung jawab profesional perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketidakjujuran dokumentasi asuhan keperawatan melalui integrasi etika profesional dan perspektif Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan desain deskriptif analitis, melibatkan dua perawat pelaksana dan seorang ulama sebagai informan kunci di Kota Sumedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku tidak jujur dipicu oleh tekanan situasional dan lemahnya supervisi manajerial, yang dalam tinjauan Islam dianggap sebagai pelanggaran prinsip amanah dan sidq yang membahayakan jiwa (Hifz Al-Nafs). Simpulan penelitian menegaskan bahwa kejujuran dokumentasi hanya dapat dijamin melalui keselarasan antara fungsi kontrol manajemen keperawatan dan internalisasi nilai spiritual muraqabah (kesadaran akan pengawasan Tuhan) dalam diri perawat. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) target ke-3, yakni menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia melalui penguatan integritas layanan kesehatan yang akuntabel.
Integrasi Etika Medis dan Perspektif Hukum Islam dalam Tindakan Aborsi Indikasi Medis berdasarkan Urgensi Klinis Astri Agustin; Nazwa Aulia Rahman; Rd. Natasya Aurellia Putri; Annisa Rahma; Rizka Dwi Putri Aghista; Tedi Supriyadi; Akhmad Faozi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.869

Abstract

Aborsi atas indikasi medis sering menimbulkan dilema antara rekomendasi klinis untuk menyelamatkan nyawa ibu dan nilai-nilai keagamaan yang menghormati hak hidup janin, terutama dalam masyarakat religius seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi perspektif keperawatan maternitas dan hukum Islam dalam praktik aborsi indikasi medis serta merumuskan model asuhan holistik yang dapat menjembatani kedua sudut pandang tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Partisipan yang dipilih melalui purposive sampling terdiri dari empat orang, yaitu dua bidan dan dua ahli agama Islam di wilayah Kabupaten Bandung dan Sumedang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan enam tema utama: indikasi dan batasan aborsi medis, peran bidan sebagai edukator, counselor, dan mediator, pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual, perspektif agama yang memberikan kelonggaran (rukhsah) dalam kondisi darurat, dilema etik dalam menghadapi penolakan pasien atau keluarga, serta stigma sosial akibat penyamaan aborsi medis dengan aborsi ilegal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aborsi medis memiliki legitimasi hukum (Undang-Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023) dan dapat dibenarkan secara agama dalam kondisi darurat demi menyelamatkan nyawa ibu sebagai prioritas utama. Kontribusi penelitian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well-being/Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan) melalui dukungan terhadap pelayanan kesehatan maternal yang aman, serta SDGs poin 16 (Peace, Justice and Strong Institutions/Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan pemahaman hukum dan etika yang seimbang dalam praktik aborsi medis.
Efektivitas Penggunaan Ventilator Dalam Memperpanjang Hidup Pasien Menurut Pandangan Islam Syifa Anisa; Arvi Aliviani; Athifah Aulia; Elsa Vita; Fatmaghita Setyoningrum; Karina Gayatri; Tedi Supriyadi; Akhmad Faozi
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 10 No. 2 (2026): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 10/Nomor 2/July/2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of ventilators in modern medicine often raises ethical dilemmas for Muslim families, especially when this technology is no longer capable of restoring consciousness in patients with permanent brain damage. This situation confronts the obligation to preserve life (Hifz an-Nafs) with the prohibition of futile actions (tabzir) and the principle of avoiding harm (la darar wa la dirar). Objective: This study examines the effectiveness of ventilators in depth by integrating medical data and Islamic legal norms to determine the boundary between human efforts and acceptance of Allah's will. Methods: This qualitative case study involved semi-structured interviews with medical personnel (nurses and lecturers) and religious scholars to gain a comprehensive perspective. Results: The findings indicate that ventilators are effective as a "bridge to healing" in acute cases such as pneumonia or post-surgery. However, in terminal conditions or brainstem death, these devices only serve to maintain biological markers without any functional benefit. Therefore, from an Islamic perspective, their discontinuation is permissible for the sake of the patient. Conclusion: Ventilator success is measured not only by biological lifespan, but also by the quality of life and tangible benefits it provides to patients.
Sexual Experiences of Generation Z Men Living with HIV Khalisha Ramadhini; Akhmad Faozi; Ria Inriyana
Genius Journal Vol. 7 No. 2 (2026): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v7i2.995

Abstract

Introduction: Human Immunodeficiency Virus (HIV) remains a major public health issue, particularly among men who have sex with men (MSM). Generation Z (Gen-Z) constitutes an increasing proportion of new HIV infections and is characterized by openness toward identity, sexuality, and digital engagement. Despite this, limited research has explored the sexual experiences of HIV-positive Gen-Z individuals with homosexual orientation, especially within the Indonesian context. Understanding these experiences is crucial to addressing psychosocial needs and improving holistic care. Objective: This study aimed to explore the lived sexual experiences of HIV-positive Gen-Z patients with homosexual orientation who are undergoing antiretroviral treatment at RSUD Umar Wirahadikusumah. Method: A qualitative study with a phenomenological approach was conducted to capture participants’ subjective experiences. Three HIV-positive Gen-Z MSM receiving antiretroviral therapy were recruited using purposive sampling. Data were collected through in-depth, semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis to identify recurring patterns and key themes. Result: Five main themes emerged from the analysis: (1) changes in the meaning of sexuality after HIV diagnosis; (2) fear of HIV transmission and rejection; (3) negotiation of sexual safety and intimacy; (4) experiences of stigma and discrimination; and (5) resilience and self-acceptance shaped by Gen-Z characteristics such as openness, authenticity, and digital literacy. Participants described significant emotional, social, and behavioral adjustments in their sexual lives influenced by health status, social responses, and access to information. Conclusion: The sexual experiences of HIV-positive Gen-Z MSM are shaped by interconnected biological, psychological, social, and generational factors. Gen-Z values contribute to adaptive coping, yet stigma remains a major challenge. These findings highlight the need for holistic, inclusive, and non-discriminatory nursing care, as well as targeted sexual health counseling and stigma-reduction interventions to improve quality of life among HIV-positive Gen-Z MSM.
The Relationship between the Intensity of Social Media Use and Eating Behavior among Nursing Students Aulia Wulandari; Akhmad Faozi; Amanda Puspanditaning Sejati
Genius Journal Vol. 7 No. 2 (2026): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v7i2.997

Abstract

Introduction: The quick development of social media has become an important aspect of students’ lives, including its influence on lifestyle formation and eating behavior patterns. Extensive exposure to visual content, food-related posts, digital advertisements, and online social interactions has the potential to affect tendencies toward uncontrolled eating and emotional eating. Objective: The purpose of this study is to ascertain how nursing students at the Indonesia university of education, Sumedang Campus, use social media in relation to their eating habits. Methods: A quantitative method with a cross-sectional design was used, which included 215 respondents selected through probability sampling. Data were collected using the Social Networking Time Use Scale (SONTUS) to measure social media use intensity and the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ) to assess eating behaviors. Data analysis was conducted using the Chi-Square test. Result: The results indicate a significant relationship between social media use intensity and students’ eating behavior (p-value < 0.05). These findings suggest that higher social media use intensity may influence eating patterns, including tendencies toward uncontrolled eating, emotional eating, and eating triggered by digital environmental cues. Conclusion: This study provides a foundation for developing digital literacy programs and promotive interventions aimed at encouraging healthy eating behaviors among university students.
Co-Authors Ailsa Shakira Alya Maulani Amanda Puspanditaning Sejati Amanda Puspanditianing Sejati Andika Putra Anestia Nur Hanifa Anggraeni, Shelpi Anjani, Shena Ravina Annisa Rahma Arvi Aliviani Astri Agustin Athifah Aulia Aulia Putri Syah Vadysna Aulia Wulandari Balkis Fitriani Faozi Cinta Komala De Intan Fitria Dea Nanda Defira Fauziah Delli Yuliana Rahmat Delli Yuliana Rahmat Delli Yuliana Rahmat Delli Yulliana Rahmat Destia Amellia Desyana Rahmah Arundina Dian Novia Dicka Trie Permana Diding Kelana Setiadi Dolifah, Dewi Eka Rahmawati Elsa Vita Elsya Jaisi Oktorra Fadillah Ramdaniyah Fitri Anugrah Fahma Akbariska Fatmaghita Setyoningrum Fitriyani Ghaniyyuu Zaidan Aflaha Gushela, Priska Tiarany Haryeti, Popon Hikmat Pramajati Hilya Gina Masruroh Hudaya, Ahmad Purnama Ida Nurhidayah Iis Aisyah Iis Aisyah Inayah Sri Wulandari Indri Miani Iskandar, Tasya Cesarina Julia, Regina Karina Gayatri Khalisha Ramadhini Lenni Rahmadani Lindayani, Emi Lira Virna Maharani Maharani Meilany Nurqisthi Mira Ain Nurlita Muhammad Aghna Firdaus Subagja Muhammad Fajar Nurfalah Muhammad Naufal Lukmanul Hakim Muhammad Yusuf Musyrifah Khairunnisa Mutiara Jasmine Nabila Tiara Putri Nabilla Rizky Velly Nadia sriharyani Naisa Syahra Salsabila Najwa Syifa Amalia Nasyir Misbahul Ma’ruf Natasya Kamila Maulida Nauval Abbrar Maula Nayla Fasya Maulidina Nazwa Aulia Rahman nazzar_123 Neng Nurul Khotimah ningrum, dedah - Nursabillah Fitrah Nuryani, Reni Nys. Faradilla Salsabilla Oriza Sativa Pina Permata Pratiwi Rachel Nazwa Sunardita Kusnadi Rasyifa, Zahara Ratika Jawi Lestari Rd. Natasya Aurellia Putri Reva Sri Puspita Revana Putri Amanda Ria Inriyana Ridwan, Heri Rika Salima Rizka Dwi Putri Aghista Roro Nur Fauziyah Rosdiani Rosdiani Rustandi, Kayla Salma Nazarra Sabrina Aulia Maulida Salma Sofiya Nazhiroh Salsa Nazala Salsabil Salsabila Alia Safariyah Sandrina Fitriani Saputra, Syahla' Khairiyah Selma Nuraeni Sinta Nurlaila Siti Nurcholisa Sofi Amelia Putri Sopiah, Popi Sukaesih, Nunung Siti Supriyadi, Tedi Syifa Anisa Tasya Rahadatul Aisar Teddy Supriyadi Tedi Supriadi Tedi Supriyadi Tyas Syahdina Putri Variza, Cindy Rantikal Vina Yulianti Wulan Lindasari, Sri Yoga Gunawan Rinaldi Yulia Luginasari Zahrotul Aulia