Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

REVIEW : FORMULASI DAN KARAKTERISASI FITOSOM-EKSTRAK HIDROFILIK & HIDROFOBIK : METODE HIDRASI LAPIS TIPIS DAN PENGUAPAN PELARUT: REVIEW : FORMULATION AND CHARACTERIZATION PHYTOSOME-EXTRACT HYDROPHYLIC & HYDROPHOBIC : THIN LAYER HIDRATION & SOLVENT EVAPORATION METHODE Siti Fauziyah ZD Sutisna; Anis Yohana Chaerunisaa
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i2.360

Abstract

Penggunaan obat tradisional dalam memelihara kesehatan telah dilakukan sejak zaman dahulu hingga saat ini. Banyak ekstrak tumbuhan telah diketahui komposisi kimia dan efek terapeutiknya. Namun keterbatasan dari phytokonstituen seperti kelarutan dan masalah penyerapan yang rendah, dan ukuran molekul yang besar membatasi penyerapannya melintasi membran lipid biologis. Sehingga berdampak pada biovailabilitas yang rendah. Fitosom merupakan teknologi yang diperkenalkan untuk mengatasi rendahnya penyerapan bahan aktif alam, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas karena peningkatan kemampuannya untuk melintasi membran seluler dan masuk ke dalam sirkulasi darah. Tinjauan ini bertujuan untuk memaparkan fitosom dalam system penghantaran obat terutama fitokonstituen beserta metode formulasi fitosom-fitokonstituen dan karakterisasinya. Metode penguapan pelarut meliputi jumlah ekstrak dan fosfolipid dengan rasio perbandingan 1:1, 1:2, 1:3 dilarutkan dalam pelarut organik lalu dilakukan reflux untuk menguapkan pelarut, residu yang dihasilkan ditambahkan pelarut non polar, disaring dan dikeringkan lalu disimpan di suhu kamar. Metode Hidrasi Lapis tipis meliputi persiapan kompleks ekstrak-fitosom dengan jumlah rasio 1:5 ditambahkan pelarut polar, diaduk dengan stirrer lalu pelarut diuapkan dengan rotary evaporator, lapisan film yang terbentuk ditambahkan buffer lalu di-ultasonikasi dan didinginkan selama maksimal 24 jam.
Modifikasi Viskositas Kappa Karagenan Sebagai Gelling Agent Menggunakan Metode Polymer Blend Anis Yohana Chaerunisaa; Patihul Husni; Fairuzati Anisah Murthadiah
Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry Vol. 12 No. 2 (2020): Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry
Publisher : Pendidikan Kimia FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jisic.v12i2.12040

Abstract

[ Viscosity Modification of Kappa Carrageenan as Gelling Agent Using Polymer Blend Method ] Gelling agent merupakan zat hidrokoloid yang dapat meningkatkan viskositas dan menstabilkan sediaan gel. Karagenan sebagai salah satu gelling agent memiliki konsistensi yang kaku dan padat. Untuk mendapatkan gel karagenan dengan viskositas yang memenuhi standar suatu gelling agent, tetapi memiliki sifat fisikokimia dan stabilitas yang memenuhi syarat, maka diperlukan modifikasi pada kappa karagenan. Salah satu metode modifikasi gelling agent adalah metode polymer blend. Modifikasi viskositas dari gel karagenan dilakukan dengan mencampurkan kappa karagenan dengan berbagai tipe gelling agent yaitu iota karagenan, carbomer 940, natrium karboksimetilselulosa, natrium alginat, dan gelatin dengan perbandingan 10:90, 20:80, 30:70, 40:60, 50:50. Hasil penelitian menunjukan bahwa modifikasi terbaik yang sesuai dengan standar gel adalah pada campuran gel kappa karagenan : carbomer 940 dengan perbandingan 90:10 dan campuran gel kappa karagenan : natrium karboksimetil selulosa dengan perbandingan 70:30. Percampuran kappa karagenan dengan iota karagenan, carbomer 940, natrium karboksimetil selulosa (NaCMC), natrium alginat dan gelatin mempengaruhi viskositas, sineresis, swelling ratio, kekuatan gel dan kekerasan gel, namun tidak mempengaruhi pH dan rheologi dari gel.
Aktivitas Antibakteri Fraksi Teraktif Kulit Batang Trengguli (Cassia fistula L.) Terhadap Propionibacterium acnes Isolat Klinis dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dalam Sediaan Salep Tiana Milanda; Septiyani Mustikawati; Anis Yohana Chaerunisaa
Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry Vol. 13 No. 1 (2021): Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry
Publisher : Pendidikan Kimia FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jisic.v13i1.13049

Abstract

[Antibacterial Activity of the Most Active Fraction of Trengguli Bark (Cassia fistula L.) Against Propionibacterium acnes Clinical Isolate and Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 in Ointment Preparation] Infeksi bakteri pada kulit umumnya disebabkan oleh Propionibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa. Tanaman trengguli (Cassia fistula L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri yang sangat kuat. Pada penelitian ini dilakukan formulasi sediaan salep antibakteri dari fraksi teraktif kulit batang trengguli. Evaluasi fisik dan uji aktivitas terhadap kedua bakteri uji dilakukan terhadap sediaan dengan pengujian stabilitas setelah 28 hari penyimpanan. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi agar. Nilai Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) ditentukan dengan metode mikrodilusi. Formula salep dibuat dengan konsentrasi fraksi teraktif 2–4 X KHTM. Karakteristik fisik dari sediaan yang diamati meliputi perubahan organoleptik, pH, dan viskositas selama penyimpanan. Profil Kromatografi Lapis Tipis dari fraksi dibandingkan antara sebelum dan setelah dibuat sediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat sebagai fraksi teraktif memiliki KHTM dan KBM sebesar 175 dan 350 ppm untuk Propionibacterium acnes, serta 400 dan 800 ppm untuk Pseudomonas aeruginosa. Dari hasil evaluasi terhadap formula dapat disimpulkan bahwa karakteristik fisik dari sediaan salep basis hidrofob dan hidrofil tidak berubah  selama 28 hari penyimpanan. Dari kedua jenis salep tersebut, salep basis hidrofil memiliki aktivitas lebih baik dengan diameter zona hambat yang tidak mengalami perubahan selama 28 hari penyimpanan.
REVIEW : FORMULASI DAN KARAKTERISASI FITOSOM-EKSTRAK HIDROFILIK & HIDROFOBIK : METODE HIDRASI LAPIS TIPIS DAN PENGUAPAN PELARUT: REVIEW : FORMULATION AND CHARACTERIZATION PHYTOSOME-EXTRACT HYDROPHYLIC & HYDROPHOBIC : THIN LAYER HIDRATION & SOLVENT EVAPORATION METHODE Siti Fauziyah ZD Sutisna; Anis Yohana Chaerunisaa
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i2.360

Abstract

Penggunaan obat tradisional dalam memelihara kesehatan telah dilakukan sejak zaman dahulu hingga saat ini. Banyak ekstrak tumbuhan telah diketahui komposisi kimia dan efek terapeutiknya. Namun keterbatasan dari phytokonstituen seperti kelarutan dan masalah penyerapan yang rendah, dan ukuran molekul yang besar membatasi penyerapannya melintasi membran lipid biologis. Sehingga berdampak pada biovailabilitas yang rendah. Fitosom merupakan teknologi yang diperkenalkan untuk mengatasi rendahnya penyerapan bahan aktif alam, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas karena peningkatan kemampuannya untuk melintasi membran seluler dan masuk ke dalam sirkulasi darah. Tinjauan ini bertujuan untuk memaparkan fitosom dalam system penghantaran obat terutama fitokonstituen beserta metode formulasi fitosom-fitokonstituen dan karakterisasinya. Metode penguapan pelarut meliputi jumlah ekstrak dan fosfolipid dengan rasio perbandingan 1:1, 1:2, 1:3 dilarutkan dalam pelarut organik lalu dilakukan reflux untuk menguapkan pelarut, residu yang dihasilkan ditambahkan pelarut non polar, disaring dan dikeringkan lalu disimpan di suhu kamar. Metode Hidrasi Lapis tipis meliputi persiapan kompleks ekstrak-fitosom dengan jumlah rasio 1:5 ditambahkan pelarut polar, diaduk dengan stirrer lalu pelarut diuapkan dengan rotary evaporator, lapisan film yang terbentuk ditambahkan buffer lalu di-ultasonikasi dan didinginkan selama maksimal 24 jam.
REVIEW ARTIKEL: MANAJEMEN RISIKO MUTU, METODE SERTA PENERAPANNYA DALAM INDUSTRI FARMASI Harsanti, Bunga Dacilia; Chaerunisaa, Anis Yohana
Farmaka Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v19i1.30720

Abstract

Manajemen Risiko Mutu (QRM) merupakan salah satu aspek penting dalam industri farmasi. Hal ini karena QRM dapat menilai, mengontrol, mengkomunikasikan dan mengkaji risiko sepanjang siklus hidup produk sehingga kualitas obat dapat terjaga. Risiko adalah ketidakpastian yang mungkin terjadi. Risiko juga secara umum didefinisikan sebagai kombinasi dari kemungkinan terjadinya bahaya dan tingkat keparahannya. Pedoman ICH Q9 membantu industri farmasi untuk mengelola risiko yang mungkin terjadi dalam siklus hidup produk. Berdasarkan pedoman tersebut, proses manajemen risiko terdiri dari penilaian risiko, pengendalian risiko, komunikasi risiko dan tinjauan risiko. Melalui proses ini, industri farmasi dapat mengurangi kemungkinan risiko dan menjaga kualitas obat. Artikel ini akan membahas proses manajemen risiko dalam industri farmasi dan alat apa saja yang dapat digunakan untuk menilai risiko sehingga industri farmasi dapat meluncurkan produk yang lebih aman ke pasar yang pada akhirnya menguntungkan industri dan pasien.
Pengembangan Peptida Antimikroba Sintesis (KR-12) dalam Sistem Vesikular Liposom Apriani, Diana Kurnia; Dwiya, Reiva Farah; Chaerunisaa, Anis Yohana; Rostinawati, Tina
Majalah Farmasetika Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v9i2.51534

Abstract

Peptida Antimikroba (PAM) merupakan salah satu kandidat yang memiliki potensi sebagai anti-infeksi baru yang memiliki aktivitas biologi yang luas dengan peptida yang panjang. Peptida antimikroba dengan jumlah peptida yang lebih pendek juga menarik untuk dikembangkan yaitu peptida antimikroba sintesis KR-12. Namun, peptida antimikroba memiliki keterbatasan dalam hal stabilitas. Liposom merupakan pembawa vesikular yang dapat digunakan sebagai pembawa untuk mengatasi keterbatasan peptida sintesis KR-12. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi dan karakterisasi liposom berbahan aktif antimikroba sintesis KR-12 dengan variasi waktu sonikasi dan hidrasi. Metode yang digunakan pada formulasi liposom yaitu metode hidrasi lapis tipis dengan pengecilan ukuran partikel menggunakan sonikator. Liposom KR-12 yang dihasilkan menunjukkan liposom dispersi berwarna putih susu, berbau khas lesitin dan tanpa endapan. Terdapat variasi formula yaitu F1 (8:2) (30 menit sonikasi, 100 menit hidrasi); F2 (8:2) (45 menit sonikasi, 120 menit hidrasi); F3 (9:1) (30 menit sonikasi, 100 menit hidrasi); F4 (9:1) (45 menit sonikasi, 120 menit hidrasi). Berdasarkan hasil didapatkan ukuran partikel berturut yaitu 311,3 nm; 300,0 nm; 298,8 nm; 254,2 nm. Nilai indeks polidispersitas sebesar 0,393; 0,457; 0,354; dan 0,294, serta zeta potensial sebesar -71,2 mv; -56,3 mv; -68,48; dan -53,9 mv. Waktu sonikasi dan hidrasi yang lebih lama menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil. Konsentrasi kolesterol yang lebih rendah menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil. Berdasarkan hasil analisis efisiensi enkapsulasi didapatkan hasil yaitu F4 88,76%; F3 97,75%; F2 96,09%; F1 99,37%. Waktu hidrasi mempengaruhi penjerapan KR-12, semakin lama waktu hidrasi, semakin tinggi penjerapan KR-12 pada liposom. Preparasi  liposom KR-12 dengan metode hidrasi lapis tipis optimal pada waktu sonikasi 45 menit dan waktu hidrasi 120 menit
SOSIALISASI PEMANFAATAN PEWARNA ALAMI PADA PENGOLAHAN KERUPUK LAKAR DI UMKM N&N JATINANGOR Muhaimin, Muhaimin; Chaerunisaa, Anis Yohana; Milanda, Tiana; Maisyarah, Intan Timur; Lestari, Uce; Dewi, Mayang Kusuma; Mardiana, Lia; Erlianti, Karina
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 5 (2023): Volume 4 Nomor 5 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i5.21970

Abstract

UMKM N&N yang berada di Desa Jatiroke, Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat merupakan satu-satunya UMKM yang memproduksi kerupuk lakar dengan bahan dasar singkong. Awal produksi kerupuk lakar menggunakan pewarna makanan sintetis yang berada dipasaran. Mengingat bahayanya penggunaan pewarna sintetis pada makanan akan berdampak pada kesehatan manusia salah satunya adalah timbulnya reaksi alergi pada jangka waktu yang pendek dan timbulnya penyakit kanker pada jangka waktu yang lama. Oleh karena itu untuk menghindari pengunaan pewarna sintetis pada kerupuk lakar, maka tim PKM (Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat) Universitas Padjadjaran Bandung mengadakan sosialisasi pemanfaatan pewarna alami yang berasal dari bahan alam seperti wortel (warna orange), buah naga (warna merah fanta), bayam (warna hijau) dan ubi ungu (warna ungu) untuk dijadikan pewarna pada pengolahan kerupuk lakar yang sehat dan hygienis. Adapun tujuan sosialisasi atau penyuluhan pada UMKM N&N adalah untuk mendapatkan produk kerupuk lakar yang sehat dan bebas dari pewarna sintetis, sehingga dapat meningkatkan daya tarik bagi konsumen untuk mengkonsumsinya. Hasil dari penyuluhan penggunaan pewarna alami pada makanan telah diterapkan oleh UMKM N&N pada pengolahan kerupuk lakar dengan penggunaan 4 pewarna alami seperti wortel, bayam, buah naga dan ubi ungu sehingga dapat menambah varian warna dari kerupuk lakar yang dihasilkan. Selain itu kegiatan PKM ini juga memberikan kebermanfaatan kepada UMKM N&N dengan bantuan kemasan kerupuk berupa standing pouch sehingga dapat menambah nilai jual kerupuk lakar dan dapat dijual pada pasar retail seperti minimarket dan supermarket. Kerupuk lakar yang diproduksi oleh UMKM N&N diberi nama merek dagang kerupuk lakar ANIA.
Kajian Literatur: Bahan Herbal Sebagai Zat Aktif Dalam Kosmetik Bentuk Masker Sheet Chaniago, Rahadatul Aisy; Chaerunisaa, Anis Yohana
Indonesian Journal of Biological Pharmacy Vol 3, No 3 (2023): IJBP (Desember)
Publisher : Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijbp.v3i3.47452

Abstract

Perkembangan zaman berjalan seiring meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap kesehatan. Bidang perawatan dan kecantikan termasuk bidang kesehatan yang banyak diminati oleh masyarakat, termasuk kosmetik. Sheet mask menjadi salah satu kosmetik yang banyak diminati di Asia. Penggunaan bahan alami dalam masker memiliki daya tarik lebih bagi pengguna sehingga banyak penelitian mengembangkan masker dari herbal. Oleh karenanya, melalui artikel ini diharapkan dapat mengetahui bagaimana formulasi sediaan sheet mask dari bahan alam, evaluasi sediaan dan efektivitas penggunaannya. Metode yang digunakan dalam menyusun artikel ini yaitu melalui penelusuran pustaka dari berbagai sumber data seperti Google Scholar, Garuda, Directory of Open Access Journals, dan PubMed. Terdapat 35 artikel yang digunakan dalam kajian literatur ini. Berdasarkan pengkajian diketahui sheet mask bahan alam banyak diformulasikan sebagai antioksidan, moisturizer, antibakteri, anti-hiperpigmentasi, dan anti-penuaan. Berbagai bahan alam dapat dikombinasikan dan diformulasikan dengan eksipien tertentu untuk meningkatkan kualitas sediaan. Berdasarkan evaluasi sediaannya, sheet mask dari bahan alam tidak mengiritasi kulit. Efektivitas dan aktivitas beberapa sheet mask masih belum diketahui tetapi beberapa lainnya memiliki efektivitas yang dapat terlihat setelah pemakaian empat minggu. Oleh karena itu, berbagai formula yang dikaji berpotensi untuk dikembangkan menjadi sediaan siap pakai setelah dilakukan pengujian efektivitas dan aktivitas lebih lanjut.
Solvent Type Effect on Preparation of Ethyl Cellulose Microparticles Muhaimin, Muhaimin; Chaerunisaa, Anis Yohana
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v10i3.38460

Abstract

The purpose of this study was to investigate effect of solvent type on solidification rate of ethylcellulose (EC) microparticles and particle size/distribution of emulsion droplets/hard microparticlesduring the solvent evaporation process using focused beam reflectance measurement (FBRM). ECmicroparticles were prepared by an O/W-solvent evaporation method using various solvents, includingdichloromethane, dichloromethane:methanol (1:1), ethyl acetate, and chloroform. The particle size/distribution of emulsion droplets/hard microparticles was monitored by FBRM. The morphology ofEC microparticles was characterized by scanning electron microscopy (SEM). The transformation ofemulsion droplets into solid microparticles for all solvents occured within the first 10-60 min. Thesquare weighted mean chord length of EC microparticles which were prepared using chloroform wassmallest value, but the chord counts was no the highest. The chord length distribution (CLD) measuredby FBRM showed that microparticles with a larger diameter give a wider CLD and a lower peaknumber of particles. SEM data shows that the morphology of microparticles was influenced by type ofsolvent. FBRM can be used to monitor the development of microparticle CLDs online and detect thetransformation of emulsion droplets into solid microparticles during the solvent evaporation process.The microparticle CLD and transformation processes are influenced by the type of solvent.
Quantitative Analysis of Mineral in Seawater Concentrate from Pamekasan, Madura Using XRF and ICP-OES Methods Hartesi, Barmi; Wardhana, Yoga Windu; Muhaimin, Muhaimin; Sriwidodo, Sriwidodo; Khairinisa, Miski Aghnia; Dewi, Mayang Kusuma; Chaerunisaa, Anis Yohana
Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry Vol. 16 No. 1 (2024): Journal of The Indonesian Society of Integrated Chemistry
Publisher : Pendidikan Kimia FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jisic.v16i1.34656

Abstract

Seawater concentrate from Pamekasan is a product with high mineral content. The mineral content analysis of Pamekasan seawater concentrate was conducted using a comparative test of results from X-Ray Fluorescence Spectrometry (XRF) and Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectrometry (ICP-OES). This mineral content testing used a skin moisture device. The essential minerals found in Pamekasan seawater concentrate through analysis are Mg, Cl, K, Ca, Cr, Mn, Cu, and Zn. Statistical analysis results from XRF and ICP-OES on market products showed no significant difference in average results; however, there was a significant difference in average results in the samples. The most recommended method for analyzing seawater mineral concentrate from Pamekasan is ICP-OES due to its wider detection range and lower matrix interference.