Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Penggunaan Virtual Background Seragam pada Pertemuan Daring dari Perspektif Peserta Christie Viviah Chandra; Diah Priharsari; Andi Reza Perdanakusuma
Jurnal Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Edukasi Sistem Informasi Vol 3 No 1 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/justsi.v3i1.56

Abstract

Pertemuan daring menjadi pilihan bagi organisasi maupun komunitas pada kondisi pandemi. Satu di antara platform pertemuan daring yang digunakan di Indonesia adalah Zoom. Zoom memiliki fitur menarik bagi penggunanya yaitu melakukan pergantian latar belakang pengguna dengan gambar atau video. Latar belakang ini sering disebut virtual background dan kemudian dimanfaatkan untuk diseragamkan antar partisipan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mengapa peserta pertemuan daring secara sukarela menggunakan virtual background seragam yang disediakan panitia. Pengumpulan data dilakukan secara kualitatif kepada peserta pertemuan daring dengan melakukan wawancara semi terstruktur. Data yang didapatkan kemudian dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Analisis tematik terdiri dari enam tahapan antara lain memahami data, pengkodean data, pencarian tema, melakukan review tema, pendefinisian dan penamaan tema, dan menganalisis hasil. Dari hasil analisis, didapatkan tema, kategori, dan kode mengenai penggunaan virtual background seragam. Penelitian ini menghasilkan dua tema, yaitu latar belakang dan pengaruh yang terbagi menjadi delapan kategori.
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER Diah Priharsari
Jurnal Sistem Informasi, Teknologi Informasi, dan Edukasi Sistem Informasi Vol 3 No 1 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/justsi.v3i1.85

Abstract

Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PBB mengklasifikasikan Indonesia pada posisi High HDI (Human Development Index). Seperti yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini, di antara beberapa negara di asia pacific, Indonesia berada antara Vietnam dan Filipina. Data tersebut didapatkan tahun 2018, dari United Nation Development Program. Tidak berubah banyak di tahun 2020. Meskipun sampai sekarang, pada penelitian-penelitian ekonomi, masih terdapat perdebatan mengenai hubungan antara investasi teknologi dengan kemajuan ekonomi, bagaimana menghubungkan teknologi dengan indikator-indikator makro ekonomi, tetapi, tidak dapat dipungkiri, hampir semua ahli sepakat bahwa penguasaan teknologi akan meningkatkan kemajuan ekonomi bangsa (Vu et al., 2020). Oleh karenanya, hampir semua negara berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam teknologi. Berdasarkan hasil sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Tufts berdasarkan data 12 tahun, tahun 2008-2019 (Chakravorti et al., 2020). Dijitalisasi Indonesia berada di bawah rata-rata. Tetapi, percepatan dijitalisasi Indonesia di atas rata-rata. Negara-negara lain yang berada di sekitar Indonesia misal: India, Vietnam, dan Azerbaijan. Pada kuadran yang sama, China terlihat jauh di depan. Malaysia, Emirat Arab, Qatar dan beberapa negara lainnya berada pada kuadran di atas kuadran Indonesia. Ada negara-negara yang melaju pesat, misal China dan Korea Selatan. Ada negara-negara dengan sumber daya melimpah, memiliki manusia-manusia pintar yang diperkirakan akan maju, tetapi ternyata jalan di tempat. Mengapa bisa seperti itu? Kalau melihat HDI yang tadi saya sebutkan, Iran misal, HDI di atas Indonesia tetapi digital score-nya dan juga digital momentumnya di bawah Indonesia. Meskipun saya membandingkan dengan kasar dan barangkali akan ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, namun, saya ingin menunjukkan bahwa bisa jadi, ada sesuatu, yang menghalangi atau mempercepat kemajuan teknologi suatu negara di luar teknologi itu sendiri dan berlimpahnya sumber daya yang dimiliki. Dari berbagai macam kemungkinan, saya ingin menggarisbawahi peranan institusi dan organisasi pada pemanfaatan teknologi. Mengapa saya memilih ini? Karena di sekitar saya, menurut saya, banyak perhatian diberikan pada pengelolaan teknologi dan sumber dayanya. Namun tidak cukup banyak perhatian diberikan pada kondisi kontekstual yang melandasi sebuah teknologi dapat dikembangkan, digunakan, dan bermanfaat. Sebuah pandangan kritis dari peneliti-peneliti ternama di bidang sistem informasi seperti Michael myers - bukan saudaranya penyanyi, John Mayer-, Heinz Klein, Orlikowsky, dan Baroudi, mengatakan bahwa kita memiliki kemampuan mengubah situasi kita, tetapi kapasitas untuk berubah dibatasi oleh sistem ekonomi, politik, maupun budaya dominan yang berlaku (Silva, 2007). Pada pandangan ini, pengetahuan diasumsikan berlandaskan pada praktek-praktek di sosial dan sejarah (Marabelli & Galliers, 2017; Zuboff, 1988). Literatur yang saya baca menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara aktor sosial dan teknologi dijital (Priharsari et al., 2020; Priharsari & Abedin, 2021b; van den Broek et al., 2021). Saya memberikan contoh sebuah penelitian yang seringkali saya jadikan contoh juga di kuliah saya. Sebuah penelitian di Taiwan yang dipublikasikan tahun 2012, oleh Mei-Lin Young dan kawan-kawan tentang knowledge management systems (Young et al., 2012). Sudah cukup lama, tapi saya rasa masih relevan untuk saya sebutkan disini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa, knowledge management systems tidak berhasil di Taiwan karena adanya budaya menjaga nama baik diri sendiri dan orang lain yang membuat mereka tidak bebas membagi pengetahuannya. Dari beberapa publikasi saya, serta juga bersumber dari penelitian yang sedang saya lakukan, pelajaran yang saya dapatkan adalah besarnya peranan manusia dan institusi serta organisasi dalam keberhasilan pemanfaatan dan pengembangan teknologi. Saya mengatakan institusi dan organisasi dengan berbeda. Yang saya maksud dengan organisasi adalah Lembaga formal, sedangkan institusi adalah norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat. Dengan kata lain, institusi adalah sesuatu yang lebih abstrak dari organisasi. Saya mempelajari beberapa komunitas online dan saya melihat bahwa komunitas yang cair, terbuka akan perubahan, akan terus-menerus mengubah cara pandang mereka akan sesuatu. Apa yang saya tampilkan ini adalah hasil penelitian saya yang baru saja dipublikasi pada sebuah jurnal, yaitu Information Technology & People (Priharsari & Abedin, 2021a). Dengan mencapai sebuah kesepakatan dan bersama-sama, berkolaborasi, anggota komunitas akan melihat cara baru untuk bekerja sama yang ternyata secara ajaib dapat melihat teknologi yang sama dari sisi berbeda dan memanfaatkannya dengan berbeda. Padahal teknologi yang digunakan tetap. Inovasi-inovasi terjadi meskipun dibatasi ketidakmampuan mengubah teknologi material. Inovasi tersebut juga terjadi pada cara pandang melihat teknologi sehingga mengubah gaya dalam menggunakan teknologi yang kemudian menjadi cara baru memanfaatkan sebuah teknologi. Jadi, inovasi tidak hanya terbatas pada menghasilkan produk baru, melihat barang yang sama dengan perspektif berbeda dan menggunakannya secara berbeda pun juga dapat menjadi sebuah inovasi. Diambil dari Priharsari, D., and Abedin, B. (2021) Orchestrating Value Co-Creation in Online Communities as Fluid Organizations: Firm Roles and Value Creation Mechanisms. Information Technology & People (Priharsari & Abedin, 2021a) Bagaimana aktor sosial mempengaruhi teknologi sudah menjadi perhatian bidang sistem informasi selama beberapa dekade ini. Banyak penelitian telah dilakukan, misalnya: bagaimana cara pandang sistem analis akan mempengaruhi desain sebuah teknologi. Hal itupun dapat dipengaruhi oleh minat tertentu pada grup-grup tersebut. Kita juga mengetahui bahwa implementasi sistem informasi dapat juga mengundang konflik antara berbagai pemangku kepentingan, misalkan demo pengendara ojek saat gojek memperluas pasar. Apa yang saya ingin tegaskan adalah, adanya pandangan yang relatif tidak konvensional yang sering disebut sebagai pandangan kritis, tentang bagaimana teknologi dimaknai (Beckett & Myers, 2018; Hinings et al., 2018; Zuboff, 1988). Biasanya, teknologi dimaknai sebagai artifak yang netral. Artinya apa, artinya teknologi adalah alat yang penggunaannya dan aplikasinya dapat diperkirakan atau deterministik. Pandangan kritis tidak memandang teknologi seperti itu. Pandangan kritis melihat teknologi sebagai artifak yang merupakan hasil pergulatan politik, sehingga mereka membawa sebuah kepentingan tertentu. Sehingga, dapat dikatakan bahwa artifak teknologi tidak murni hasil dari proses desain dan rekayasa, tetapi sebuah produk yang merepresentasikan perbedaan dalam melihat dunia. Saya yakin, grup IT di kampus maupun programmer-nya (misal PSIK) paling paham tentang ini. Oleh karena itu, bagaimana sebuah teknologi bermanfaat bagi penggunanya, dapat dijelaskan dengan pemahaman yang baik tentang bagaimana sejarah dan interpretasi lokal yang berada di sekitar. Teknologi membutuhkan kontekstualisasi, yang artinya apa? Artinya tidak hanya melihat teknologi dari sisi desainer, tetapi juga dari konteks situasi yang melandasi teknologi tersebut diaplikasikan. Misalnya, hal yang menarik dan terjadi di sekitar kita adalah, penggunaan e-mail. Meskipun e-mail dapat diakui sebagai alat komunikasi resmi, di Indonesia secara umum, atau di lingkungan kampus, email seringkali menjadi alat kedua mengalahkan whatsapp. Saya sering melihat situasi responsif pada WA, tidak responsif pada e-mail. Akhir-akhir ini, ada wacana untuk memberikan notifikasi dari aplikasi akademik, atau lainnya yang terotomatis ke WA, bukan ke e-mail. Mengapa dalam sebuah organisasi, lebih mudah menggunakan WA daripada e-mail, sementara organisasi lain, e-mail lebih populer daripada WA? Terkesan sederhana, tetapi implikasi dari hal ini menurut saya luar biasa. Banyak lembaga publik yang mencantumkan e-mail pada websitenya, tetapi saat dikontak ke e-mail tersebut, puluhan hari tidak juga mendapat balasan. Implikasi lainnya, hanya orang-orang tertentu yang memiliki nomor kontak petugas dan kenal dengan mereka yang bisa mendapatkan pelayanan atau informasi lebih baik. Belum lagi dengan kontak pribadi yang tersebar kemana-mana, membuka kemungkinan tidak jelasnya antara jam kerja dan jam istirahat di rumah. Tanpa disadari, hal tersebut berdampak pada kualitas layanan, kepercayaan publik, dan kesejahteraan karyawan. Ada yang berpikir bahwa dengan mewajibkan, nanti karyawan akan menerima dan terbiasa. Saya sering mendengar kalimat, “dipaksa saja dahulu, nanti biasa”. Lalu, apakah dengan mengeluarkan aturan wajib menggunakan e-mail, maka seluruh karyawan akan pasti menggunakan e-mail, sementara sebelumnya sudah terbiasa dengan menggunakan WA? Saya tidak tahu, namun, sudah cukup banyak penelitian terdahulu yang menunjukkan perlawanan kuat dari aktor-aktor sosial terhadap kewajiban menggunakan sebuah teknologi, dapat berakhir pada kegagalan implementasi (Doolin, 2004; von Briel & Recker, 2017; Young et al., 2012). Padahal kita semua tahu betul, investasi teknologi besarannya tidak main-main. Dari contoh sederhana tersebut, kita dapat melihat dimensi teknologi yang tidak hanya terbatas kepada teknologinya saja. Teknologi tersebut membawa misi mengubah, namun manusia juga memiliki kuasa untuk resist, bertahan, memilih tidak menggunakan, atau mencari cara lain menggunakan. Bagi organisasi yang memang ingin melakukan transformasi teknologi, tentunya pemahaman akan situasi kontekstual organisasi mereka sangat diperlukan demi keberhasilan transformasi. Situasi kontekstual ini tidak terbatas pada apa yang ada di organisasi, tetapi juga pada sejarah, sosial, dan psikologi. Sehingga jelas, persoalan teknologi sebetulnya sebuah persoalan multidisipliner. Menyelesaikan persoalan tersebut dibutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang ilmu, baik sosial maupun eksak. Dibutuhkan juga berbagai paradigma, dari positivism, interpretivism, maupun critical perspektif. Semakin banyak variasi disiplin ilmu yang berkolaborasi, semakin banyak ide-ide yang dapat dibangkitkan. Pada penerbitan kali ini, JUST-SI menampilkan 5 naskah yang menunjukkan keragaman implementasi keilmuan sistem informasi di berbagai bidang.
Digitalisasi Marketing Bagi Pelaku UMKM Kabupaten Blitar Siti Azizah; Irfan H. Djunaidi; Diah Priharsari; Mas Ayu Ambayoen; Siti Hamidah
PaKMas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2022): November 2022
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/pakmas.v2i2.1300

Abstract

The purpose of community service through this Doctoral Service Grant is to help market MSME products assisted by the Blitar Regency Livestock and Fisheries Service through the Triple-Helix model with the concept of e-commerce. The expected result is to expand the market of assisted MSME products in Blitar Regency produced by OPS Cooperative, Srikandi Kitchen, MuZa Smoked Salted Eggs and AKBest (Akademi Komunitas Negeri Putra Sang Fajar Blitar). The location of community service activities will be carried out in Blitar Regency from May to August 2022. The steps of the activity are: 1. Coordination to establish triple-helix cooperation  2. Improving the product image of MSMEs 3. Provide counseling on market share, knowing desires and recognizing potential customers 4. Providing online processed product promotion facilities 5. Providing skills about online transactions and the Canva application The result that has been obtained during the activity process is that parties in the triple-helix model can coordinate so that MSMEs are always informed of government programs. Canva application training and social media creation assistance can improve the product image of MSMEs and then also provide skills about market share, and potential consumers in addition to online transactions. The continuation of the program is still needed for assistance in order to maintain business motivation and improve product quality.
Analisis Kesediaan Berbagi Identitas Digital Berdasarkan PMT: Faktor Self Efficacy, Response Efficacy, dan SNS Experience Hanum Dwi Rosidi; Diah Priharsari; Buce Trias Hanggara; Andi Reza Perdanakusuma
JURNAL TECNOSCIENZA Vol. 7 No. 2 (2023): TECNOSCIENZA
Publisher : JURNAL TECNOSCIENZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/tecnoscienza.v7i2.916

Abstract

Pertumbuhan internet telah menyebabkan sejumlah besar pengguna berpartisipasi dalam berbagai online global. Social Networking Sites (SNS) adalah platform virtual dimana pengguna dapat berinteraksi satu sama lain, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan social dan mengumpulkan informasi mengenai anggota situs lainnya. Protection motivation theory (PMT) atau teori motivasi perlindungan adalah teori yang menjelaskan bagaimana situasi sesorang dalam mengelola perilakunya pada saat mengalami risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi diri dan respon efikasi terhadap kekhawatiran informasi privasi dan juga untuk mengetahui kekhawatiran informasi privasi pengguna terhadap kesediannya dalam berbagai identitas secara digital pada social network sites, serta untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara pengalaman menggunakan jejaring social terhadap kesediaanya berbagi identitas secara digital. Penelitin ini menggunakan metode CB-SEM dengan menyebarkan kuesioner kapada pengguna jejaring social dan mendapatkan 309 responden. Setelah dilakukanya pengujian hipotesis, ditemukanya satu hipotesis yang ditolak (tidak diterima) yaitu terdapat perbedaan antara SNS experience terhadap willingness to share digital identities karena memiliki nilai P-Value sebesar 0.239. Dalam hal ini, pengguna belum tentu bersedia membagikan identitas digitalnya meskipun pengguna mempunyai pengalaman yang lama ataupun yang sedikit dalam berjejaring sosial.
Evaluasi Usability Aplikasi Golife berbasis Android dari Perspektif Pengguna dengan menggunakan Metode Use Questionnaire dan Pendekatan Human-Centered Design Arinto Bagas Satyoko; Widhy Hayuhardhika Nugraha Putra; Diah Priharsari
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 4 No 8 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. APLIKASI KARYA ANAK BANGSA (Gojek Indonesia) with one of its products is the application of Golife professional services. Some services such as GoMassage and GoClean are very attractive to users, but there are usability issues including interfaces such as writing that is too small to disproportionate button sizes. Further research was conducted using the USE Questionnaire method and the Human-Centered Design approach, where the use of a questionnaire was needed to measure four aspects of usability namely usefulness, ease of use, ease of learning, and satisfaction. Then the Human-Centered Design approach is needed to identify users and divide into two groups of users and conduct interviews with open-ended questions that are asked to collect the problems faced by users in operating the Golife application. From the interviews gathered, several 12 usability problems faced by users were found, mainly in terms of writing size, lack of icons and descriptions, display inconsistencies, and issues related to button interactions, to be further corrected according to the problems encountered. Recommended improvements to the use of the Golife application generate a new look to increase the value of usability. The value of the results of previous uses is only 53.08% to 85.19% with a significant increase obtained from the user group aged over 40 years from 45.69% (not good enough category), to be 89.60% (very good category).
Evaluasi Kapabilitas Tata Kelola Teknologi Informasi di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pati dengan menggunakan Framework COBIT 5 pada Proses EDM04 dan APO07 Arnold Agung Christianto; Diah Priharsari
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 4 No 10 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Pati has a vital role as the center of the development of the Smart City. Standards in the management of information technology needed to sustain the activities of Diskominfo in the development of Smart City. Seeing from these considerations, it is necessary to evaluate information technology governance. Evaluations are carried out using the COBIT 5 framework. The selection of COBIT 5 is based on COBIT 5 which is more about information technology governance. Meanwhile, the problem found in Diskominfo is lack of human resources. Based on COBIT 5 HR deficiency is one of the pain points that needs to be improved. There is a process associated with this problem is EDM04 which is ensuring optimization of IT resources, as well as APO07 which manages human resources. Evaluations are carried out with capability levels and analysis evaluations are completed to determine what assessments need to be given. The results showed that Diskominfo reached level 1 capability on the EDM04 and APO07 processes. With an achievement level of 75% for EDM04 and 65% for APO07 and a comparison value of 1 with the target capability level at level 2. Regarding the evaluation for the EDM04 process lies 5 points. Whereas in the APO07 process there are 17 points. Then, for level 2 consists of 15 points consisting of 10 activity points and 5 document points.
Analisis dan Perbaikan Proses Bisnis Menggunakan Metode Business Process Improvement (BPI) (Studi Kasus : Bidang Usaha Perikanan Lele di PT. MaksiPlus Utama Indonesia) Fandika Rakhman Nanda; Herman Tolle; Diah Priharsari
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 4 No 10 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

MaksiPlus Utama Indonesia is a distribution company that engaged in fisheries, agriculture, and animal husbandry in Indonesia. The fisheries sector at PT. MaksiPlus Utama Indonesia named Lelenesia has four business processes, including supply, product processing, product sales, and product ordering. While running its business, Lelenesia does not yet have clear and standard business process documentation. There are still obstacles such as the business process carried out in Lelenesia not according to the specified time target. This happened because there were obstacles that hindered the running of business activities in Lelenesia. The expectation of Lelenesia owners is to consider the use and assistance of information systems, business processes can run more efficiently in the future. Based on the problems that have been described, an analysis and improvement is made on the ongoing business processes. The analytical method used is the Business Process Improvement (BPI) conducted from phase 1: Organizing for improvement to phase 3: Streamlining. After get the results of the analysis and evaluation, the next step is to do simulation of business process. The simulation results show that there is a reduction in the total time in the business process that has been repaired, namely, the supply supply process is 169 minutes, the product sales process is 12,846 minutes, and the product ordering process is 1,700 minutes. So it can be concluded that the time needed to run the recommendation business process is more efficient than the current business process in the Catfish Fisheries Business Sector PT. MaksiPlus Utama Indonesia.
Analisis Perbandingan Evaluasi Usability Menggunakan Metode Berbasis Pengguna dan Expert pada Aplikasi Mobile Gapura UB Sabda Norman Hayat; Fatwa Ramdani; Diah Priharsari
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 4 No 10 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gapura UB is an academic portal mobile application to access academic information and services in the Brawijaya University campus environment. Based on the results of interviews with the developers, stated that the application has never been evaluated usability by testing usability to its users or conducted an inspection by an expert. Even though usability evaluation is an important element that makes it possible to add insight into usability problems in the application. This study aims to identify the usability problem of the application and compare the effectiveness of four evaluation methods used in this study: usability testing, interviews, surveys, and heuristic evaluation. Data is collected from users in the student category and expert evaluator. Details of the number of respondents used are usability testing (N = 10), interviews (N = 10), surveys (N = 110), and heuristic evaluation (N = 3). The four methods together identified a total of 44 usability problems: 45% through heuristic evaluation, 24% through surveys, 17% through interviews and 14% from usability testing, with a few similar findings. These problems are then categorized using Usability Taxonomy Problem (UPT) which divides the problem into 5 categories with details of 17 categories of visualness, 6 categories of language, 3 categories of manipulation, 11 categories of task-mapping and 7 others including the category of task-facilitation. The results of this study prove that the four methods are complementary, each method provides a unique insight to improve the usability of the application user interface. The researcher recommends using a multi-method approach when evaluating application usability because it can provide a more comprehensive representation of usability issues.
Evaluasi dan Rekomendasi Perbaikan Information Architecture pada Website menggunakan Human-Centered Design (HCD) (Studi pada: Program Studi Pendidikan IPS ULM Banjarmasin) Aprivisi Ewa Abbas; Retno Indah Rokhmawati; Diah Priharsari
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 4 No 10 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Social Studies Education (PIPS) ULM Banjarmasin is one of the study programs under the auspices of the Faculty of Teacher Training and Education (FKIP) ULM Banjarmasin. PIPS ULM Banjarmasin uses the website as a media delivery information. However, there are still problems found on the website based on the author's observation and interview that conducted to the users and stakeholders of the website such as unfamiliar category naming, grouping content that does not conform to its category, less-updated content and the uninteractive user interface of the website. Based on the problems found, those problems are categorized in the field of website's Information Architecture. To overcome those problems, evaluation and recommendation of solution design are needed. This research uses the Human-Centered Design (HCD) approach to produce an interactive design solution. Card sorting is used to help the compilation of the information content on the solution design based on user needs with the end result of Sitemap. In designing the solution design, guidelines are used to limit the scope of the problems so the problems that had been defined can be focused to be solved. The guidelines which are used came from usability guidelines, the supporting website and the consent of the stakeholders. Once the design of the solution is completed, the increased value of the aspect is achieved. The initial value of success rate aspect was 31.11% and has increased to 91.11%. The initial value of directness aspect was 14.45% and has increased to 60%. The initial value of time spent aspect was 44.37 s and has reduced to 13.49 s. The initial value of first click aspect was 21.11% and has increased to 76.67%. The initial value of destination aspect was 31.11% and has increased to 91.11%.
Pengembangan Sistem Informasi Distribusi Buku Berbasis Web (Studi Kasus: Penerbit Aryoko Indonesia) Dimas Hamdhan Prasetyo; Diah Priharsari
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 4 No 10 (2020): Oktober 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CV. Aryoko Indonesia is a publisher organization using Aryoko Indonesia Publisher as the brand name. It has two types of resellers: agent based resellers and regular resellers. Resellers order books through a desktop application following by WhatsApp for confirmation. This process takes time and involves manual work which has higher human error risks. In addition to that, the desktop application also has limitations. This study was conducted to design and develop a web-based application that overcomes those problems. To develop the application, this study used Waterfall approach which includes Communication, Planning, Modeling, Construction and Deployment. This study also used Business Process Modelling Notation (BPMN) and Unified Modelling Language (UML) to modelling the data and processes. The application was developed by using framework Laravel and tested with white-box testing and black-box testing.
Co-Authors Achmad Rizki Raharjo Adithia Sandi Josua Aditya Rachmadi Admaja Dwi Herlambang Afifah Khairunnisa Agi Putra Kharisma Agung Sudarmawan Ahmad Haydar Aisyah Altus Sholikah Alfan Azizi Alfin Rizqiansi Ansory Alifdaffa Nurfahmi Dekatama Alma Nissa Salsabila Ananda Rizki Oktavianti Ananda Yuke Wahyu Putra Pratama Anatasha Eka Syavina Andi Reza` Perdanakusuma Anggi Riza Amirullah Sidharta Anindya Agustina Damayanti Annisa Meidy Aprivisi Ewa Abbas Ardiansyah Dwi Cahyo Arifatus Sholikhah Arinto Bagas Satyoko Arnold Agung Christianto Arya Saputra Ayu Pramadita Dewi Bagas Noor Rachman Bambang Pramudhita Budhiman Belqis Putri Himmatul Karimah Bernadetta Br Haloho Bhagaskoro Putra Nindyalit Bhaktiar Adi Nugraha Buce Trias Hanggara Budi Santoso Christie Viviah Chandra Denny Sagita Rusdianto Devin Prayogo Devita Natalia Krisdayanti Dewi Yanti Liliana Dhiyaa' Ayu Widaad Citra Dhuha Rizky Ramadhan Dian Ika Fitriani Dika Esa Pramudya Dimas Hamdhan Prasetyo Dio Hilmi Habibi Dwi Cahya Astriya Nugraha Eko Ardyanto Elora Dosi Melindasari Elsa Fajar Prakoso Endar Wahyu Pamungkas Evita Ilma Elina Sari Faizal Bachtiar Fajar Pradana Fandika Rakhman Nanda Faried Fajar Faris Wibowo Putro Fatwa Ramdani, Fatwa Fauzan Zuhdi Wiryawan Ferrinda Aprilia Kautsar Syaharani Hazmi Fikri Nur Hammam Fitria Handayani Gery Raharrdian Sony Ricardo Gilang Pradana Giovani Hasna Indriani Giri Hartono Gumilar Hendra Kusuma Haidar Giri Tidar Hamidah, Siti Hamim Nizar Yudistira Hanifah Muslimah Az-Zahra Hanum Dwi Rosidi Hanum Dwi Rosidi Hening Endawila Noviani Herman Tolle Humam Huwaidi Al-Marzuq I Gede Surya Rahayuda Imam Cholissodin Indira Putri Hendini Intan Sartika Eris Maghfiroh Irfan H. Djunaidi Irfan H. Djunaidi Irtiyah Izzaty Mindiasari Ismiarta Aknuranda Issa Arwani Ivan Arrilya Eka Trexano Johan Fajar Eka Kamalia Fitriana Kariyoto Kariyoto Kevin Naphan Dwiputra Khansa Nabila Ulayya Khoirul Anwar Lalu Muhammad Dzuu Mirrotin Nurkholis Lutfi Fanani Luthfi Baihaqy M. Daffas Athadiansyah M. Gilvy Langgawan Putra M. Radhitya Rivan Pamungkas Malik Fajar Mas Ayu Ambayoen Mas Ayu Ambayoen Mervin Mervin Moch. Fahmi Reza Mohamad Zakaria Al Ansori Mohammad Ilham Pratama Elba Wahid Mohammad Khaafi Radja Rihan Muhammad Arya Dwi Septianto Muhammad Aulia Utama Muhammad Fadhil Risyad Muhammad Faisal Shabri Muhammad Faqih Fahmi Asyifa' Muhammad Fathur Rahman Muhammad Hilal Alifian Muhammad Nicco Gumaisa Muhammad Rayhan Ravandika Muhammad Vionda Novrian Muhammad Wildan Cahya Purnama Munggarhanna Aschi Putra Jayana Nabila Septa Paramita Nadya Nur Fadhila Nanang Yudi Setiawan Neneng Al-Anis Naudhatul Marik Neyla Nuril Fauziyah Nila Ayu Rosyidah Noveria Anggraeni Fiaji Nurma Afi Nirmala Nurma Afi Nirmala Nurul Inayah Rafi Audian Rafly Ardiansyah Ikhsantyo Rahadian Fitra Syakura Raka Rachmanda Putra Rama Arief Permana Ramdaning Puri Pradani Ratih Kartika Dewi Remizar Fahrezi Achyar Firdaus Retno Indah Rokhmawati Ringgo Abriovenandita Risky Danamonika Pratiwi Risma Putri Auliasari Rosaria Indah Sabda Norman Hayat Salsabila Fairuz Rizky Satrio Agung Wicaksono Satrio Hadi Wijoyo Selly Aqidatul Izza Siti Azizah Siti Azizah Siti Hamidah Supraptoa Supraptoa Syahri Awan Purnomo Taufiqurrachman Ilham Tibyani Tibyani Vicky el Fathea Kamiza Vigo Hernando Welly Purnomo Widhy Hayuhardhika Nugraha Putra Wiryawan Yurih Kaloko Yan Giska Pranandita Yushinta Prassanty Antoroputri Yusi Tyroni Mursityo Zahra Aulia Rahmadianti Zainul Anshor Zulvarina, Prima