Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR-FAKTOR RISIKO DEPRESI PADA IBU PASCABERSALIN : The Risk Factors for Depression in Postpartum Moms Amna, Zaujatul; Khairani, Maya
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 17.1
Publisher : Department of Family and Consumer Sciences, Faculty of Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2024.17.1.28

Abstract

Persalinan membawa berbagai perubahan yang dapat menyebabkan perempuan rentan mengalami depresi pascabersalin. Hal ini tidak hanya berdampak pada ibu tetapi juga pada individu lainnya seperti anak yang baru saja dilahirkan, anak lainnya, pasangan, bahkan anggota keluarga lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko psikologis depresi pascabersalin. Pengumpulan data dilakukan melalui survei sejak April-September 2022 pada ibu pascabersalin yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Instrumen pengumpulan data berupa Alat Asesmen Ibu Postpartum (ASIP), Multidimensional of Perceived Social Support (MPSS), dan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang diberikan kepada 359 sampel penelitian dengan kriteria perempuan berusia 18-40 tahun, pascamelahirkan dengan rentang waktu 4 minggu hingga 1 tahun, dan tidak pernah didiagnosis mengalami gangguan mental oleh profesional. Hasil analisis menunjukkan bahwa regulasi emosi, kepuasan pernikahan, dan dukungan sosial menjadi faktor risiko depresi pascabersalin dalam penelitian ini. Sementara itu, lebih dari sepertiga ibu pascabersalin mengalami depresi kategori ringan (34,2%), sedangkan yang lainnya mengalami depresi kategori sedang (19,8%), bahkan depresi berat (5,6%). Implikasi penelitian terhadap faktor risiko depresi dibahas lebih lanjut dalam artikel ini
Perbedaan motivasi akademik pada mahasiswa laki-laki: studi komparatif berdasarkan penjurusan mahasiswa Dira Silviana; Mahira, Zakia; Amna, Zaujatul; Zuhra, Nabila; Naufal Hakim; Jam’an Jamil; Nadira Chaharani
Jurnal Integrasi Riset Psikologi Vol 4 No 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/intensi.v4i1.4671

Abstract

Motivasi akademik adalah keinginan dalam diri seseorang untuk mencapai tujuan akademiknya. Motivasi akademik berperan penting dalam menentukan keberhasilan mahasiswa karena menjadi sumber dorongan untuk belajar dan mencapai tujuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan motivasi akademik mahasiswa laki-laki antara Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. Sebanyak 100 mahasiswa laki-laki angkatan 2023 berpartisipasi, terdiri dari 50 mahasiswa Fakultas Kedokteran dan 50 mahasiswa Fakultas Teknik. Instrumen yang digunakan adalah Academic Motivation Scale (AMS) – Short Indonesian Version, yang mengukur tiga dimensi motivasi: intrinsik, ekstrinsik, dan amotivasi. Analisis data dilakukan menggunakan Mann-Whitney U Test karena distribusi data tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam motivasi intrinsik, ekstrinsik, maupun amotivasi antara mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik (p > 0,05). Meskipun demikian, data deskriptif memperlihatkan variasi pola distribusi motivasi pada kedua fakultas. Temuan ini berkontribusi pada literatur motivasi akademik dengan menegaskan bahwa konteks fakultas perlu diperhatikan dalam perancangan program pengembangan motivasi mahasiswa. Kata Kunci: fakultas kedokteran, fakultas teknik, mahasiswa laki-laki, motivasi akademik, perbedaan
KESEIMBANGAN PEKERJAAN-KELUARGA DAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI BEKERJA Salsabila, Syifa; Maya Khairani; Kartika Sari; Zaujatul Amna
Dinamika Psikologis: Jurnal Ilmiah Psikologis Vol. 2 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Univeresitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/jdp.v2i1.4723

Abstract

Istri yang bekerja menjadi salah satu isu dalam rumah tangga yang berpotensi menimbulkan konflik dan dapat menyebabkan ketidakpuasan dalam pernikahan. Oleh karena itu dibutuhkan strategi dalam menyeimbangkan karier dan keluarga agar terbentuk keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi keseimbangan pekerjaan-keluarga dengan kepuasan pernikahan pada istri yang bekerja. Penelitian korelasional ini menggunakan Work-Family Balance Scale dan ENRICH Marital Satisfaction Scale untuk mengumpulkan data. Sebanyak 101 istri yang bekerja terlibat dalam penelitian dengan kriteria berstatus menikah, berusia 20-40 tahun, memiliki anak, bekerja lima hari dalam satu minggu dan delapan jam dalam sehari. Pemilihan partisipan dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik pemilihan sampel purposif. Data kemudian dianalisis dengan teknik korelasi Spearman Rho melalui aplikasi JASP 0.16.4.0 for windows. Hasil analisis menunjukkan korelasi positif dan signifikan antara keseimbangan pekerjaan-keluarga dengan kepuasan pernikahan pada istri yang bekerja. Kata Kunci: keseimbangan pekerjaan-keluarga, kepuasan pernikahan, istri yang bekerja
Fear of Missing Out (FoMO) and Learning Disengagement in College Students Rahmah, Raudhatur; Afriani, Afriani; Aprilia, Eka Dian; Sulistyani, Arum; Amna, Zaujatul; Faradina, Syarifah
Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP) Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/gamajop.89151

Abstract

Intensive smartphone use driven by fear of missing out (FoMO) is an early indicator of a student’s learning disengagement. Learning disengagement refers to students’ lack of engagement in the learning process due to distractions caused by smartphone use in the classroom. This research aimed to examine the relationship between FoMO and students’ learning disengagement. The sampling techniques used were multistage cluster sampling and disproportionate stratified random sampling, yielding a sample of 351 students (76 male and 275 female) from several public and private universities in Banda Aceh. Data were collected online and offline using the Learning Disengagement Scale and Online-Fear of Missing Out (ON-FoMO) Scale. Data analysis was conducted using Pearson’s product-moment correlation test. The findings indicate a positive relationship between FoMO and learning disengagement in students (r=0.606; p=0.000, p<0.05), suggesting that higher FoMO is associated with higher learning disengagement. The study indicates the need for strategic policies that require higher education institutions to implement smartphone use rules in class. This policy is important because it can improve students’ digital literacy, enabling them to distinguish between information relevant to academic activities.
Survival Ability And Mental Health Of Women Conflict Survivors In Aceh (1989–2005): A Reflection On Twenty Years Of Peace Reni Nuryanti; Zaujatul Amna; Ardian Fahri; Bachtiar Akob
PURBAWIDYA Vol. 15 No. 1 (2026): Vol. 15(1) Juni 2026
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2026.14409

Abstract

Two decades after the end of the armed conflict in Aceh (1989–2005), issues related to the mental health of women survivors remain highly significant. Military operations conducted during the periods of the Military Operational Zone (DOM), the Humanitarian Pause, Martial Law, and Civil Emergency generated profound trauma that shaped the chronicity of Acehnese women life experiences. This study aims to analyze the forms of survival ability developed by women affected by the conflict and their implications for mental health, drawing on Vigh’s (2008) concept of chronicity. This research employs historical literature studies and fieldwork based on feminist oral history through in-depth interviews and focus group discussions (FGDs) with 42 informants from Pidie, North Aceh, and East Aceh. The findings reveal that women experienced cumulative and multi-layered psychological trauma, manifested as Post-Traumatic Stress Reaction (PTSR), Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), and chronic depression at the same time, women developed survival abilities across four main domains: psychological, social, political, and cultural. The psychological domain is reflected in the optimization of spiritual and emotional coping through religious practices. The social domain is supported by children, families, relatives, communities, and assisting organizations such as Flower Aceh. The political domain is evident in women’s participation in peace movements, while the cultural domain is embodied in local wisdom, including meusare-sare, lullabies such as Dodaidi and Aneuk Yatim, literary works, and traditional dances. These finding confirm that survival abilities rooted in local wisdom and community support play a significant role in strengthening resilience and psychological well-being among women survivors of the Aceh conflict.
Social Support and Postpartum Depression in Acehnese Mothers Maya Khairani; Zaujatul Amna; Nida Ul Hasanat; Muhana Sofiati Utami
Proceedings of the 1st International Conference on Social Science (ICSS) Vol. 4 No. 1 (2025): Proceedings of the 6th International Conference on Social Science (ICSS)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/icss.v4i1.247

Abstract

Pregnancy and childbirth bring various changes that can make women vulnerable to postpartum depression. The consequences of women experiencing this disorder are not only limited to themselves but also have an impact on other individuals, such as their children or other children, spouses, and other family members. Social support is considered a key factor in reducing the risk of postpartum depression. This study aims to determine the role of social support on postpartum depression and the dynamics experienced by postpartum mothers. This study is a quantitative study with purposive sampling techniques. Data were collected through scales and open-ended questionnaires. In the first phase, 142 postpartum mothers completed two psychological scales (EPDS and MPSS). Based on the first phase, 84 mothers experienced symptoms of postpartum depression, and simple regression analysis showed that there was a role of social support in postpartum depression in mothers (F=11.249, p<0.001). Support from friends (p=0.02) and spouse (p=0.00) had a significant role in determining the mother's postpartum depression, while support from family (p=0.58) did not play a significant role. In the second phase, five postpartum women agreed to complete an open-ended questionnaire. Thematic analysis of the qualitative data showed three themes: symptoms of postpartum depression, postpartum activities, and social support.
Perbedaan Kualitas Tidur Mahasiswa Ditinjau Dari Jenis Kelamin Win Junaidi; Munira Ayu; Sinta Bella; Sharla Aliffia Shaqinah; Ulfarianti Ulfarianti; Zaujatul Amna
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30913

Abstract

Sleep quality is an important aspect for college students that directly affects their health, cognitive function, and academic performance in both women and men. Therefore, research on sex differences in sleep quality based on gender among university students is an interesting topic to be studied further, given the biological and psychosocial differences between men and women that can affect their sleep quality. The purpose of this study was to determine the differences in sleep quality between male and female students studying at the university level in Aceh Province using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) as a research data collection instrument. A total of 484 students (241 males and 243 females) were included as research samples, selected by simple randomization. The results of the data analysis showed that there was no difference in sleep quality between the male and female students. In addition, the research findings also explain that both male and female students have poor sleep quality categorization, and it can be assumed that the poor sleep quality experienced by college students can have long-term implications for their physical health and psychological well-being.Kualitas tidur menjadi salah satu aspek penting bagi mahasiswa yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan, fungsi kognitif, dan performa akademiknya baik perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu, penelitian mengenai perbedaan kualitas tidur berdasarkan jenis kelamin di kalangan mahasiswa menjadi topik yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, mengingat adanya perbedaan biologis dan psikososial antara laki-laki dan perempuan yang dapat memengaruhi kualitas tidurnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Propinsi Aceh, dengan menggunakan instrument Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Sebanyak sebanyak 484 mahasiswa (yang terdiri dari 241 mahasiswa laki-laki dan 243 mahasiswa perempuan) terlibat sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kualitas tidur pada mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan. Selain itu, temuan penelitian juga menjelaskan bahwa mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan berada pada kategorisasi kualitas tidur yang buruk, hal ini dapat diasumsikan bahwa kualitas tidur yang buruk yang dialami oleh mahasiswa selama masa kuliah dapat memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologisnya.
Gambaran Burnout pada Mahasiswa Pekerja Paruh Waktu di Banda Aceh Misfhilatud Zahra; Zahratul Aini; Ayu Cahya Ningsih; Riski Nuwansa; Zaujatul Amna
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.28862

Abstract

Burnout adalah suatu kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi, dan perasaan rendah diri yang disebabkan oleh adanya stres kerja yang berkepanjangan. Sebagian mahasiswa bekerja paruh waktu yang rentan mengalami burnout yang disebabkan kelelahan secara fisik maupun emosional karena bekerja yang pastinya dapat berdampak pada kulilahnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian dilakukan yaitu untuk melihat gambaran burnout pada mahasiswa pekerja paruh waktu di Banda Aceh, yang dilakukan dengan teknik deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan link gform yang berisikan data demografi dan juga Maslach Burnout Inventory sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Berdasarkan data yang diterima hanya 46 sampel yang memenuhi kriteria penelitian sebagai mahasiswa pekerja paruh waktu yang terdiri dari 25 mahasiswa laki-laki dan 21 mahasiswa perempuan, yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Secara garis besar hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja paruh waktu mengalami burnout yang sangat tinggi. data menunjukkan bahwa sebanyak 91,3 persen mahasiswa pekerja paruh waktu berada pada level burnout tingkat tinggi, sedangkan 8,7 persen lainnya mengalami burnout tingkat sedang.Burnout is a disorder marked by depersonalization, feelings of inferiority, and emotional weariness brought on by extended periods of stress at work. Some part-time students are vulnerable to burnout brought on by the mental and physical exhaustion of their jobs, and this can definitely affect their academic achievement. The research used descriptive methodologiesto determine if burnout has been defined in Banda Aceh's part-time working student population. Data collection was carried out online using a Google-form link that containing demographic data and also the Maslach Burnout Inventory as research instrument. Based on the data received, only 46 samples met the research criteria as part-time working students consisting of 25 male students and 21 female students, who were selected using purposive sampling technique. In general, the research findings indicate that students who work part-time have very high levels of burnout; up to 91.3 per cent of these students have high levels of burnout, while the remaining 8.7 per cent have moderate levels of burnout.
Hubungan Antara Stres Akademik dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Agustian Hasnan Hakim; Cindy Pratiwi; Fayza Ramulan; Putriani Putriani; Intan Mutia; Zaujatul Amna
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.28833

Abstract

Stres akademik merupakan suatu kondisi berupa tekanan psikologis atau emosional yang dialami mahasiswa sehingga memperburuk kualitas tidurnya, Imana slaah satu penyebabnya yaitu adanya stres akademik yang tentunya berpengaruh terhadap kesejahteraan emosional, mental, dan fisik, serta performansi sisi akademisnya. Adapun yang menjadi tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Sebanyak 70 mahasiswa (yang terdiri dari 19 laki-laki dan 51 perempuan) terlibat sebagai sampel penelitian ini yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Perception of Academic Stress Scale (PASS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian yang dilakukan secara online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stres akademik dengan kualitas tidur (p=0,010, r=.305), hal ini dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi stres akadamik yang dialami mahasiswa maka akan semakin rendah kualitas tidur mahasiswa, dan sebaliknya. Hasil temuan lainnya juga menunjukkan bahwa secara umum hampir secara keseluruhan mahasiswa memiliki kualiats tidur yang rendah (91,5%), sedangkan stres akademik berada pada kategori sedang.Academic stress is a condition in which students experience psychological or emotional pressure that decreases their sleep quality. Academic stress is one of the causes of this condition, which affects students' emotional, mental, and physical health, as well asacademic performance. This study aimed to determine the relationship between academic stress and sleep quality among Syiah Kuala University students. A total of 70 students (19 males and 51 females) selected using the purposive sampling technique were used as samples for this study. The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) and Perception of Academic Stress Scale (PASS) were used to gather data for online study. The findings indicated a correlation between academic stress and sleep quality (r =.305, p = 0.010). This can be explained by the relationship between student sleep quality and academic stress levels; students who experience higher levels of academic stress also experience lower levels of sleep. Additional research findings showed that almost all students had low sleep quality (91.5%), while academic stress was moderate.
Tingkat Kecemasan Berbicara Di Depan Umum Pada Mahasiswa Dini Nurhasanah; Talitha Fatiyah Mukhyi; Raudhatul Wirda; Munifa Nadhira; Ghina Tsabitah; Andra Salsabila; Zaujatul Amna
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28436

Abstract

Kecemasan bebicara di depan umum merupakan masalah psikologis yang sering dialami mahasiswa pada tahun pertama karena merupakan masa peralihan dari lingkungan sekolah ke perguruan tinggi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi baik mahasiswa laki-laki maupun perempuan saat dihadapkan pada tugas untuk berbicara di depan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa laki-lai dan perempuan. Sebanyak 120 mahasiswa baru yang terdiri dari 60 mahasiswa laki-laki dan 60 mahasiswa perempuan terlibat sebagai sampel penelitian ini yang dipilih menggunakan non-probability dengan teknik convinience sampling. Intrumen Personal Report Public Speaking Anxiety Scale (PRPSA) menjadi alat pengumpulan data penelitian yang bersifat unidimensi dengan jumlah item sebanyak 34 ( = 0.84). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa laki-laki dan perempuan di Banda Aceh. Data menunjukkan secara signifikan mahasiswa perempuan memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasisiswa laki-laki. Di sisi lain, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berbicara di depan umum juga lebih tinggi pada mahasiswa dengan rentang usia remaja dibandingkan dengan usia dewasa awal.Public speaking anxiety is a psychological problem that students often experience in their first year because it is a transition period from school to college. This is a challenge faced by both male and female students when faced with the task of speaking in public. This study aims to determine the differences in public speaking anxiety in male and female students. A total of 120 new students consisting of 60 male students and 60 female students were involved as samples for this research who were selected using non-probability with convenience sampling techniques. The Personal Report Public Speaking Anxiety Scale (PRPSA) instrument is a unidimensional research data collection tool with a total of 34 items ( = 0.84). The results of the research analysis show that there are differences in the level of public speaking anxiety among male and female students in Banda Aceh. Data shows that female students have significantly higher levels of anxiety compared to male students. On the other hand, the research results also show that the level of public speaking anxiety is also higher among students in the teenage age range compared to early adulthood.
Co-Authors . Dahlia Achmad Syaukani Aflah, Ruhul Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Agustian Hasnan Hakim Ainun Mardhiah, Ainun Andra Salsabila Ardian Fahri Aristo, Nayomi Arum Sulistyani Ayu Cahya Ningsih Azkiya, Nyak Dara Bachtiar Akob Cindy Pratiwi Cut Keumala Muqhniy Dahlia Dahlia Dahlia Dahlia Dahlia Datachi, Siti Tamita Dea Rizkiana Aprilia Mukhran Dini Hariyati Adam Dini Nurhasanah Dira Silviana Eka Dian Aprilia Exsa, Priya Faizah, Firsta Faizal Adriansyah Fayza Ramulan Febriyani Ferida, Reni Fifyn Srimulya Ningrum Firman Firdaus Nuzula Fitri, Bella Anugrah Ghina Tsabitah Habibi, Muhammad Alif Haiyun Nisa Hijratul Zulfa Hsiu Chen Lin Hsiu Chen Lin, Hsiu Chen Intan Dewi Kumala, Intan Dewi Intan Mutia Irmayani Irmayani ISKANDAR Jam’an Jamil Kartika Sari Kartika Sari Kartika Sari Khansa Zayyana Layyina, Ulya Luthfiya, Nura Mahira, Zakia Maqfira, Nurul Marty Mawarpury Mauliza, Siti Rahmi Maya Khairani Maya Khairani Maya Khairani Maya Zahara Meutuah, Rizkina Mirza Mirza Mirza Mirza Mirza Misbahul Jannah Misfhilatud Zahra Muhana Sofiati Utami Munifa Nadhira Munira Ayu Muthiatun Nisa Nada Salsabila Nadhira Miranda Nadhira Miranda Nadira Chaharani Nailur Rahmah Natasya, Meutia Naufal Hakim Nida Ul Hasanat Novita Sari Novita Sari Nur Adlina Nurhasanah, Dini Putriani Putriani Qarar, Wan Miftahul Rahmah, Raudhatur Rahmatul Hafidah Raihan, Gebrina Raudhatul Mufidah Raudhatul Wirda Reni Nuryanti Risana Rachmatan Riski Nuwansa Ruhul Aflah Safira Rachmana Safira, Syifa Salsabila, Inas Salsabila, Syifa Samsul Anwar Sarah Hafiza Sharla Aliffia Shaqinah Sinta Bella Siti Hayani Siti Rahmi Mauliza Siti Sarah, Siti Sofyan, Rahmadaini Solly Aryza Syarifah faradina Syifa Salsabila Talitha Fatiyah Mukhyi Ulfarianti Ulfarianti Wida Yulia Viridanda Win Junaidi Yulifa Indri Destiana Zahrani Zahrani Zahratul Aini Zihan Fahira Zuhra, Nabila