Claim Missing Document
Check
Articles

Mindfulness dan Penerimaan Diri: Studi Pada Ibu Yang Memiliki Anak Cerebral Palsy Layyina, Ulya; Amna, Zaujatul; Faradina, Syarifah; Dahlia, Dahlia
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 7, No 1: Januari 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v7i1.37176

Abstract

Pengasuhan serta bimbingan secara khusus perlu diberikan kepada anak cerebral palsy agar mampu beraktivitas seperti anak normal lainnya. Keadaan tersebut mengakibatkan ibu mengalami kelelahan fisik dan emosional, sehingga ibu tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa anaknya mengalami cerebral palsy. Untuk dapat memiliki penerimaan diri terhadap anak cerebral palsy, maka ibu perlu berada pada kondisi mindfulness sehingga dapat membantu ibu untuk menerima secara utuh terhadap kondisi diri dan anaknya yang mengalami cerebral palsy. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan mindfulness dan penerimaan diri pada ibu yang memiliki anak cerebral palsy. Sebanyak 60 ibu yang memiliki anak cerebral palsy terlibat sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling dan snowball sampling. Mindfulness diukur menggunakan adaptasi Mindfulness Attention and Awareness Scale (MAAS), sementara penerimaan diri diukur menggunakan Bergers Self-Acceptance Scale. Analisis data dilakukan menggunakan pearson correlation, yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara mindfulness dengan penerimaan diri (p= .00, r= .592) yang dapat diartikan bahwa semakin tinggi mindfulness pada ibu yang memiliki anak cerebral palsy, maka semakin tinggi pula penerimaan dirinya.Exceptional consideration and direction should be given to children with cerebral palsy so that they are able to do activities like other normal children. This situation causes the mother to experience physical and emotional tiredness, so she may not easily accept the fact that her child has Cerebral palsy. To be fully accepting of their children with cerebral palsy, mothers may need to engage in a condition of mindfulness that can help them to fully accept the condition of themselves and their children with cerebral palsy. This study aims to determine the relationship between mindfulness and self-acceptance in mothers who have a child with cerebral palsy. A total of 60 mothers who had children with cerebral palsy were involved as research samples selected using purposive sampling method. Mindfulness was measured using an adaptation of the Mindfulness Attention and Awareness Scale (MAAS), while self-acceptance was measured using Berger's Self-Acceptance Scale. Data analysis was conducted using Pearson correlation, which showed that there was a significant positive relationship between mindfulness and self-acceptance (p= .00, r= .592), which can be interpreted that the higher the mindfulness of mothers who have children with cerebral palsy, the higher the self-acceptance.
Dua Dekade Setelah Peristiwa Traumatis: Prevalensi Kesehatan Mental Penyintas Tsunami Aceh Amna, Zaujatul; Santy, Dini Hari; Nurhasanah, Dini; Aristo, Nayomi; Datachi, Siti Tamita
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v40i2.6784

Abstract

The long-term psychological impact of a traumatic natural disaster, such as the 2004 Aceh Tsunami, is still poorly documented in the scientific literature. The purpose of this study was to describe the mental health status of survivors of the 2004 Aceh Tsunami 20 years after the Aceh Tsunami, utilizing a descriptive quantitative research design. The study participants were 197 tsunami survivors selected by purposive sampling, with specific criteria: (1) being victims directly exposed to the 2004 Aceh Tsunami; and (2) being members of the Aceh community. The Mental Health Inventory-18 (MHI-18; α = .93) was utilized as the data collection instrument for mental health in this study. The results of the data analysis showed that the majority of survivors (78.17%) had low mental health or psychological well-being, reflecting ongoing psychological disorders even though 20 years had passed since the disaster. The findings of this study indicate that the psychological impact of the Aceh Tsunami continues in the long term, significantly affecting psychological well-being. The results of this study emphasize the need for special attention to the mental health of disaster survivors, as well as the importance of long-term support programs to mitigate the long-term psychological impacts post-disasters.
Hubungan antara Religious Coping dengan Caregiver Burden pada Pengasuh Utama Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Habibi, Muhammad Alif; Amna, Zaujatul
Jurnal Psikologi Islam Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47399/jpi.v10i2.304

Abstract

Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sering kali tidak mampu untuk melaksanakan peran sesuai dengan harapan keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga membutuhkan perhatian, pengasuhan serta dukungan dari pihak keluarga. Kehadiran keluarga sangat dibutuhkan oleh penderita gangguan jiwa untuk memantau proses pengobatan serta memberikan dukungan emosional. Namun, apabila pengasuh tidak mampu memberikan penanganan yang tepat dapat meningkatkan keparahan penyakit yang dirasakan dan menimbulkan beban pengasuhan (caregiver burden) bagi pengasuh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan koping religius (religious coping), upaya tersebut dilakukan seseorang ketika menghadapi suatu tantangan atau permasalah dengan cara berdoa, berzikir, serta menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religious coping dengan caregiver burden pada pengasuh utama Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis korelasional dan cluster random sampling sebagai teknik pengambilan data. Sebanyak 252 pengasuh utama Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berpartisipasi dalam pengisian alat ukur The Zarit Burden Interview (ZBI): New Short Version dan Iranian Religious Coping Scale (IRCOPE). Hasil analisis data menunjukkan nilai p=0,030 dengan nilai r=0,137 yang artinya terdapat hubungan antara religious coping dengan caregiver burden pada pengasuh utama Orang Dengan Gangguan Jiwa.
KONFLIK PERAN GANDA PADA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA LANGSA Khansa Zayyana; Risana Rachmatan; Eka Dian Aprilia; Zaujatul Amna
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 5 No. 1 (2025): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v5i1.1360

Abstract

Individu yang bekerja sebagai tenaga kesehatan menghadapi banyak tuntutan pekerjaan yang tinggi sehingga memberikan dampak pada kehidupan pribadi, seperti keluarga. Salah satu dampak yang dihasilkan yaitu adanya konflik peran ganda karena ketidakseimbangan dalam memenuhi tuntutan tugas pekerjaan (profesional) dan juga dalam kehidupan berumah tangga. Adapun tujuan penelitian adalah untuk melihat gambaran konflik peran ganda pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan teknik deskriptif. Sebanyak 160 tenaga kesehatan RSUD Langsa terlibat sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik insidental sampling dengan kriteria menikah, memiliki anak, dan bekerja dengan sistem shift. Pengumpulan data penelitian menggunakan alat ukur yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia melalui proses expert review sehingga instrumen penelitian tervalidasi dan reliabel. Hasil analisis data menunjukkan berdasarkan profesinya, diketahui bahwa perawat lebih dominan memiliki konflik dibandingkan profesi tenaga kesehatan lainnya, yaitu dominan mengalami konflik FWC yang berbasis waktu dilihat dari rentang usia, maka tenaga kesehatan dengan rentang usia 26-35 tahun dominan mengalami konflik WFC, usia 36-45 tahun dominan mengalami konflik FWC. Selanjutnya berdasarkan jumlah anak yang dimiliki di dapatkan hasil bahwa tenaga kesehatan dengan jumlah anak 3 dominan mengalami WFC, sedangkan tenaga kesehatan dengan jumlah anak 4 dominan mengalami FWC Individuals who work as health workers deal with many high work demands that impact their personal lives, such as family. One of the resulting impacts is a work-family conflict due to an imbalance in fulfilling the work (professional) duties and also in home life.The research aims to describe work-family conflict to the health workers at the Langsa General Hospital, which was carried out using a quantitative approach with descriptive techniques. All 160 Langsa General Hospital health workers involved as research samples were selected using a non-probability sampling method with an incidental sampling technique with the criteria married, having a child, and working on a shift system. The research data collection used the work-family conflict scale translated into Indonesian through an expert review process so that the research instrument was validated and reliable. The research result according to profession, it is known that nurses were more dominant in conflict than other health worker professions, namely in experiencing time-based FWC conflict from the age range, health workers with an age range of 26-35 years predominantly experience WFC conflict, age 36-45 years predominantly experience FWC conflict. Furthermore, based on the number of children owned, the results show that health workers with three children predominantly experience WFC, while health workers with four children predominantly experience FWC
(PERBEDAAN IDE BUNUH DIRI PADA MASYARAKAT ACEH DITINJAU DARI JENIS KELAMIN) Mauliza, Siti Rahmi; Amna, Zaujatul; Dahlia, Dahlia; Faradina, Syarifah
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 7 No. 1 (2022): PSIKOISLAMEDIA: JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v7i1.13061

Abstract

The suicide cases seem to be a trend in society, where the perpetrators or victims range from children to the elderly, both male and female. Aceh is one of the provinces that shows that suicide cases tend to increase every year. The existence of suicide cases begins with the idea of suicide in every perpetrator and victim. The purpose of this study was to see the differences in suicidal ideation on Aceh’s people based on gender. A total of 406 Aceh’s people 15-52 years were selective using the purposively technuqe in this reasearch. The results showed that the significance value (p) = 0.921, this means that there was no difference in suicide ideation on Aceh’s people based on gender. Besides, results also showed that 93.6% of Aceh people had low suicidal ideation, 62.2% had moderate suicidal ideation, and 0.2% of the sample had high suicidal ideation.  Kasus bunuh diri seakan menjadi trend di masyarakat saat ini, dimana pelaku atau korban mulai dari anak-anak hingga lansia baik laki-laki maupun perempuan. Aceh termasuk salah satu provinsi yang menunjukkan kasus bunuh diri cenderung meningkat setiap tahunnya. Terjadinya kasus bunuh diri diawali dengan adanya ide bunuh diri pada setiap pelaku maupun korban. Tujuan penelitian dilakukan untuk melihat perbedaan ide bunuh diri pada masyarakat Aceh ditinjau dari jenis kelamin. Sebanyak 406 masyarakat  Aceh yang berusia 15-52 tahun terlibat dalam penelitian yang dipilih secara purposive. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi (p)=0,921, hal ini dapat diartikan bahwa tidak terdapat perbedaan ide bunuh diri pada masyarakat Aceh ditinjau dari jenis kelamin. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebanyak 93,6% masyarakat Aceh memiliki ide bunuh diri rendah, 62,2% memiliki ide bunuh diri sedang, dan terdapat 0,2% sampel memiliki ide bunuh diri yang tinggi.
RELIGIOUS COPING AND PARENTAL BURNOUT AMONG MOTHERS WORKING AS NURSES IN ACEH PROVINCE, INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Febriyani; Amna, Zaujatul; Mirza; Iskandar
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 8 No. 1 (2025): OCTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v8i1.262

Abstract

Background: mothers who are employed as nurses encounter dual responsibilities, entailing both onerous workloads in medical facilities and demanding parenting duties in their homes. This dual burden has been shown to heighten the risk of parental burnout. Parental burnout, defined as emotional and physical exhaustion in parenting, has the potential to adversely impact parent-child relationships and child development. One approach to coping with this condition is through religious coping, which involves relying on religious beliefs and practices to manage life's difficulties. Purpose: To examine the relationship between religious coping and parental burnout among mothers working as nurses in Aceh. Methods: Quantitative correlational approach was employed with 173 nurse mothers selected using purposive sampling. Data were gathered using the Iranian Religious Coping Scale and the Parental Burnout Assessment. Results: The result of the study indicated that there was no significant relationship between religious coping and parental burnout. Despite the elevated levels of religious coping exhibited by the participants, particularly through practices such as prayer and salat, there was an absence of indications suggesting parental burnout. Conclusion: While religious coping may offer a mechanism for managing general stress, it is not sufficient to address the complex and multidimensional challenges associated with parental burnout. However, a study of nurse mothers in Aceh revealed that those who exhibited high levels of religious coping did not experience parental burnout. Abstrak Latar Belakang: Ibu yang bekerja sebagai perawat menghadapi tanggung jawab ganda yaitu beban kerja yang tinggi di rumah sakit dan tugas mengasuh anak di rumah, yang meningkatkan risiko mengalami parental burnout. Parental burnout merupakan kondisi kelelahan emosional dan fisik dalam menjalani peran sebagai orang tua, yang dapat berdampak negatif pada hubungan orang tua dan anak serta perkembangan anak. Salah satu pendekatan untuk mengatasi kondisi ini adalah coping religius, yaitu mengandalkan keyakinan dan praktik keagamaan untuk menghadapi kesulitan hidup. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara coping religius dengan parental burnout pada ibu yang bekerja sebagai perawat di Aceh. Metode: Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah sampel sebanyak 173 ibu yang bekerja sebagai perawat, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Iranian Religious Coping Scale dan Parental Burnout Assessment. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara coping religius dan parental burnout. Meskipun tingkat coping religius yang tinggi ditemukan terutama melalui salat dan doa, partisipan tidak menunjukkan tanda-tanda parental burnout. Kesimpulan: Coping religius dapat membantu dalam mengelola stres umum, namun belum cukup kuat mengatasi tantangan parental burnout yang kompleks dan multidimensional.
Gambaran Tingkat Stres, Cemas, dan Depresi Pada Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi: Studi Komparasi Exsa, Priya; Mardhiah, Ainun; Raihan, Gebrina; Luthfiya, Nura; Maqfira, Nurul; Azkiya, Nyak Dara; Qarar, Wan Miftahul; Amna, Zaujatul
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34438

Abstract

A thesis is a scientific paper that is one of the requirements for graduation at the bachelors degree level (S1), which requires students to think critically, work independently, and manage academic pressure well. Writing a thesis often triggers stress, anxiety, and depression, which can affect students' psychological conditions. Gender differences also affect individual responses to academic pressure. The purpose of this study was to determine the level of stress, anxiety, and depression in students who are writing a thesis based on gender using a quantitative approach with a comparative design. 60 students were involved as research samples obtained through accidental sampling techniques, and data were collected online and offline using the DASS-21 instrument, which was then analyzed using the non-parametric independent sample t-test. The results of the study showed differences in the levels of stress, anxiety, and depression between male and female students who are writing a thesis. These findings indicate that students' psychological conditions are influenced by gender factors. The implications of this study can be used as a basis for developing psychological interventions that are more targeted and responsive to gender differences in the university environment.Skripsi merupakan karya tulis ilmiah yang menjadi salah satu syarat kelulusan pada jenjang Sarjana Strata Satu (S1), yang menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, bekerja mandiri, dan mengelola tekanan akademik dengan baik. Proses penyusunan skripsi sering kali memicu stres, kecemasan, dan depresi, yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa. Perbedaan jenis kelamin juga memengaruhi respons individu terhadap tekanan akademik tersebut. Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada mahasiswa yang sedang menyusun skripsi berdasarkan jenis kelamin dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sebanyak 60 mahasiswa terlibat sebagai sampel penelitian yang diperoleh melalui teknik accidental sampling, dan data dikumpulkan secara daring dan luring menggunakan instrumen DASS-21, yang kemudian dianalisis menggunakan uji non-parametrik Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat stres, kecemasan, dan depresi antara mahasiswa laki-laki dan perempuan yang sedang menyusun skripsi. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis mahasiswa dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan intervensi psikologis yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap perbedaan gender di lingkungan perguruan tinggi.
Selera Humor dan Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Menikah Natasya, Meutia; Khairani, Maya; Dahlia, Dahlia; Amna, Zaujatul
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v9i1.18206.2025

Abstract

Marital satisfaction is one of the important factors in order to stabilize the couple's relationship, shape the welfare in the family, the length of the marriage age and can reduce the risk of divorce. One of the things you can do to increase marital satisfaction is to share your sense of humor with your partner. The most important role of humor in marriage lies in increasing intimacy, strengthening bonds, and forming healthier marriages. This study aims to determine the relationship between sense of humor and marital satisfaction in married couples. This quantitative research method involved 60 married couples (120 people) who have children with a marriage age range of (1-10) years who live in Banda Aceh. Research data collection was carried out using two measuring tools, namely Multidimensional Sense of Humor (MSHS) and ENRICH Marital Satisfaction (EMS). The results of data analysis showed a significant value p=0.000 (p <0.05. R 0.255). This can be interpreted that there is a relationship between sense of humor and marital satisfaction in married couples, the higher the sense of humor, the higher the marital satisfaction. 
STEREOTIP “PIDIE KRIET” TERHADAP PERILAKU ALTRUISME Amna, Zaujatul -; Aflah, Ruhul
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 5 No. 2 (2020): PSIKOISLAMEDIA : JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v5i2.7006

Abstract

“Pidie Kriet” diartikan sebagai “Pidie pelit”. “Pidie kriet” merupakan suatu istilah yang melekat pada masyarakat Pidie, Aceh, Indonesia. Istilah tersebut masih berkembang hingga saat ini terutama di masyarakat Pidie, dimana stereotip tersebut berpengaruh bagi individu karena diasosikan seseorang yang berasal dari pidie diasosikan dengan stereotip dengan orang yang pelit. Hal ini tentunya akan memengaruhi perilaku altruisme dari individu tersebut. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stereotip “Pidie Kriet” dengan perilaku altruism, yang dilakukan terhadap 120 mahasiswa Pidie yang dipilih dengan menggunakan teknik sampling insidental. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara stereotip “Pidie Kriet” dengan perilaku altruism (p=0,014, r=0,227).  Hal ini dapat diartikan semakin tinggi stereotype pidie kriet dalam diri individu, maka semakin rendah perilaku altruismenya, dan juga sebaliknya. Hasil penelitian juga menunjukkan pada umumnya subjek memiliki tingkat perilaku altruisme yang tinggi dan stereotip “pidie kriet” yang rendah dalam dirinya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa stereotip "Pidie Kriet" tidak terlalu memengaruhi perilaku altruisme mahasiswa Pidie tersebut.
THE RELATIONSHIP BETWEEN MINDFULNESS AND ACADEMIC RESILIENCE IN STUDENTS OF SYIAH KUALA UNIVERSITY, INDONESIA: CROSS-SECTIONAL STUDY Sarah, Siti; Sari, Kartika; Iskandar; Amna, Zaujatul
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 6 No. 2 (2024): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v6i2.151

Abstract

Background: Students can persist in pursuing education even though there are many demands which are a source of stress and even anxiety and depression. One of the factors of academic resilience comes from within the individual, namely mindfulness. Mindfulness is a state of being attentive and aware of the events at hand. Purpose: This study aims to determine the relationship between mindfulness and academic resilience in Syiah Kuala University students. Method: This study design used quantitative research with a sample of 330 students selected using the probability sampling method with disproportionate stratified random sampling technique. The Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) and the Academic Resilience Scale (ARS-30) were used as research data collection instruments. Results: hypothesis testing using statistical analysis showed a significance value (p)=0.000 (p<0.05). This means that there was a positive relationship between mindfulness and academic resilience in Syiah Kuala University students. It means that the higher the student's mindfulness, the higher the academic resilience, and conversely. On the other hand, the lower the mindfulness, the lower the student's academic resilience ability. Conclusion: This study provides recommendations for future researchers to analyze other factors that influence academic resilience in the hope of producing more comprehensive data. Abstrak Latar Belakang: Mahasiswa mampu bertahan menempuh pendidikan meskipun banyak tuntutan yang menjadi sumber stress hingga kecemasan dan depresi. Salah satu faktor ketahanan akademik berasal dari dalam diri individu, yaitu mindfulness. Mindfulness adalah keadaan penuh perhatian dan sadar terhadap kejadian yang sedang dihadapi. Tujuan: penelitian ialah untuk mengetahui hubungan mindfulness dengan resiliensi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Metode: Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan sampel sebanyak 330 mahasiswa yang dipilih menggunakan metode probability sampling dengan teknik disproportionate stratified random sampling. Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) dan the Academic Resilience Scale (ARS-30) digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Hasil: uji hipotesis menggunakan analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi (p)=0,000 (p<0,05). Artinya terdapat hubungan positif antara mindfulness dan resiliensi akademik pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala, yang artinya semakin tinggi mindfulness pada mahasiswa maka semakin tinggi resiliensi akademik, dan sebaliknya semakin rendah mindfulness, maka semakin rendah kemampuan resiliensi akademik mahasiswa. Kesimpulan: Penelitian ini menyajikan rekomendasi bagi peneliti selanjutnya agar dapat menganalisis faktor lain yang mempengaruhi resiliensi akademik dengan harapan dapat menghasilkan data yang lebih komprehensif.
Co-Authors . Dahlia Achmad Syaukani Aflah, Ruhul Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Afriani Agustian Hasnan Hakim Ainun Mardhiah, Ainun Andra Salsabila Ardian Fahri Aristo, Nayomi Arum Sulistyani Ayu Cahya Ningsih Azkiya, Nyak Dara Bachtiar Akob Cindy Pratiwi Cut Keumala Muqhniy Dahlia Dahlia Dahlia Dahlia Dahlia Datachi, Siti Tamita Dea Rizkiana Aprilia Mukhran Dini Hariyati Adam Dini Nurhasanah Dira Silviana Eka Dian Aprilia Exsa, Priya Faizah, Firsta Faizal Adriansyah Fayza Ramulan Febriyani Ferida, Reni Fifyn Srimulya Ningrum Firman Firdaus Nuzula Fitri, Bella Anugrah Ghina Tsabitah Habibi, Muhammad Alif Haiyun Nisa Hijratul Zulfa Hsiu Chen Lin Hsiu Chen Lin, Hsiu Chen Intan Dewi Kumala, Intan Dewi Intan Mutia Irmayani Irmayani ISKANDAR Jam’an Jamil Kartika Sari Kartika Sari Kartika Sari Khansa Zayyana Layyina, Ulya Luthfiya, Nura Mahira, Zakia Maqfira, Nurul Marty Mawarpury Mauliza, Siti Rahmi Maya Khairani Maya Khairani Maya Khairani Maya Zahara Meutuah, Rizkina Mirza Mirza Mirza Mirza Mirza Misbahul Jannah Misfhilatud Zahra Muhana Sofiati Utami Munifa Nadhira Munira Ayu Muthiatun Nisa Nada Salsabila Nadhira Miranda Nadhira Miranda Nadira Chaharani Nailur Rahmah Natasya, Meutia Naufal Hakim Nida Ul Hasanat Novita Sari Novita Sari Nur Adlina Nurhasanah, Dini Putriani Putriani Qarar, Wan Miftahul Rahmah, Raudhatur Rahmatul Hafidah Raihan, Gebrina Raudhatul Mufidah Raudhatul Wirda Reni Nuryanti Risana Rachmatan Riski Nuwansa Ruhul Aflah Safira Rachmana Safira, Syifa Salsabila, Inas Salsabila, Syifa Samsul Anwar Sarah Hafiza Sharla Aliffia Shaqinah Sinta Bella Siti Hayani Siti Rahmi Mauliza Siti Sarah, Siti Sofyan, Rahmadaini Solly Aryza Syarifah faradina Syifa Salsabila Talitha Fatiyah Mukhyi Ulfarianti Ulfarianti Wida Yulia Viridanda Win Junaidi Yulifa Indri Destiana Zahrani Zahrani Zahratul Aini Zihan Fahira Zuhra, Nabila