Diana Wibowo
Department Of Orthodontic, University Of Lambung Mangkurat Banjarmasin, Indonesia

Published : 76 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN NILAI INDIKATOR MALOKLUSI RINGAN DENGAN MALOKLUSI BERAT BERDASARKAN INDEKS HMAR (Handicapping Malocclusion Assessment Record) Fitriani Fitriani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusions areithe third major problem in dental health after dental caries and periodontal disease in Indonesia. HMAR (Handicapping Malocclusion Assessment Record) are an index that can be use totmeasure security of malocclusion, introduced by Salzmann in 1986. The HMAR indexrcan be used directly into patients and using a study model. Objective: To analyze the comparison of mild malocclusionaindicator values with severe malocclusion based on HMAR index (Handicapping Malocclusion Assessment Record) in triage patient on RSGM Gusti Hasan Aman. Method: This study use observational analytic withncross sectional approach in October-November 2017. The sample of the research is patient who cameifirst to RSGM Gusti Hasan Aman in triage stages with the range around 12-18 years old and all the oldest teeth have been dated and never do the orthodontic treatment. The sample wasfselected by using simple random sampling method as much as 82 respondents which is consisted of 41 respondents with malocclusion light and 41 respondents with mild malocclusion. Results: The results showedithat the most influential indicator for the occurrence of mild malocclusion was the lower jaw anterior teeth and severe malocclusion was the maxillary anterior teeth jointed on the (Intra Arch Deviation). Statistical analysis with Mann-Whitney test obtained significancetvalue of p=0,000 (p<0.05). Conclusion: Based on the comparison of Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) index value, it can be concluded that the mild malocclusion indicator is bigger than the severe malocclusion indicator ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi berada pada urutan ketiga yang cukup besar dalam masalah kesehatan gigi dan mulut setelahikaries gigi dan penyakit periodontal di Indonesia. Indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) adalah indeks yang dapat mengukur tingkat keparahan maloklusi, yang diperkenalkan oleh Salzmann pada tahun 1986. Indeks HMAR dapat digunakan secararlangsung pada pasien dan ada juga menggunakan model studi. Tujuan: Menganalisis perbandingananilai indikator maloklusi ringan dengan maloklusi berat berdasarkan indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) pada pasien triage RSGM Gusti Hasan Aman. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatanncross sectional pada bulan Oktober-November 2017. Sampel penelitian ini adalah pasien yangipertama kali datang ke stase triage RSGM Gusti Hasan Aman dengan rentang usia 12-18 tahun dan gigi sulung sudah tanggal semua serta belum pernah melakukan perawatan ortodonti. Sampel dipilih menggunakan metodefsimple random sampling berjumlah 82 responden yang terdiri dari 41 responden maloklusi ringan dan 41 responden maloklusi berat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai indikator yang berpengaruh terhadap terjadinya maloklusi ringaniadalah gigi berdesakan anterior rahang bawah dan maloklusi beratiadalah gigi berdesakan anterior rahang atas pada indikator penyimpangan gigi dalam satu rahang (Intra Arch Deviation). Analisis statistik dengan uji Mann-Whitney diperoleh nilai signifikasi sebesar p=0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil perbandingan nilai indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) dapat disimpulkan bahwa indikator maloklusi berat lebih besar daripada indikator maloklusi ringan.
EFEKTIVITAS METODE MENYIKAT GIGI HORIZONTAL DAN ROLL TERHADAP PENURUNAN PLAK PADA ANAK TUNAGRAHITA (Tinjauan pada siswa tunagrahita di SMPLB B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin) Sri Hardianti; Isnur Hatta; Diana Wibowo
Dentin Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The problem of dental and oral hygiene in mentally disabled children is 30% higher than normal children due to the inability of children to brush their teeth independently due to impaired intellectual and adaptive functions. Plaque is a soft layer consisting of a collection of microorganisms that multiply on a matrix formed and attached to the surface of teeth that are not cleaned. Plaque control can be done chemically using anti-bacterial ingredients and also by mechanical means such as brushing teeth. Objective: This study aims to determine the effectiveness of horizontal and roll brushing methods for the reduction of plaque in mentally disabled children in the SMPLB B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin. Method: This study used the Quasi Experimental research method with Time-Series Design. Examination of plaque scores using the Plaque Index of Patient Hygiene Performance (PHP IP). Results: There were significant differences between horizontal brushing and roll brushing in mentally disabled children. Conclusion: Horizontal brushing method is more effective in decreasing plaque in mentally disabled children at SMPLB B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin.Keywords: Horizontal method, roll method, plaque, mentally disabledABSTRAK Latar belakang: Masalah kebersihan gigi dan mulut pada anak tunagrahita lebih tinggi 30% dibandingkan anak normal karena ketidakmampuan anak untuk menggosok gigi secara mandiri akibat gangguan fungsi intelektual dan adaptif. Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak pada suatu matriks yang terbentuk dan melekat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Pengendalian plak dapat dilakukann  dengan cara kimiawi menggunakan bahan anti bakteri dan juga dengan cara  mekanis seperti menggosok gigi. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode menyikat gigi horizontal dan roll terhadap penurunan plak pada anak tunagrahita di SMPLB B/C Dharma Wanita Persatuan Banjarmasin. Metode:Penelitian ini menggunakan metode  penelitianQuasi Experimental denganTime-Series Design. Pemeriksaan skor plak menggunakan Indeks Plak Patient Hygiene Performance (IP PHP).Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antara menyikat gigi metode horizontaldan roll pada anak tunagrahita. Kesimpulan: Menyikat gigi metode horizontal lebih efektif dalam penurunan plak pada anak tunagrahita di SMPLB B/C Dharma Wanita Persatuan BanjarmasinKata kunci: Metode horizontal, metode roll, plak, tunagrahita
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BURUK BERNAFAS MELALUI MULUT DENGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI PADA ANAK SEKOLAH DASAR Dinda Chesya; Diana Wibowo; Aulia Azizah
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: In Indonesia, malocclusion is a very high dental and oral health problem, accounting for about 80% of the population, ranks third after dental caries and periodontal disease. According to Basic Health Research (Riskesdas) data, South Kalimantan is an area with a high incidence of dental and oral health problems, which is around 59.6%, and cases of malocclusion in South Kalimantan are around 12%. This habit is most often done in elementary school children. Elementary school children aged 6-12 years need early diagnosis, because the permanent and primary teeth of this age group are fused in the oral cavity, and the occlusion is still temporary. If a malocclusion is found, it is easier to treat. Purpose: The purpose of the literature study was to determine the relationship between bad mouth breathing habits and the severity of malocclusion in elementary school children. Methods: All reviewed articles were obtained from searching Google Scholar, Pubmed and Science Direct data sources which have a maximum journal publication time of 10 years. Results: Bad habit of breathing through the mouth in elementary school children has a high percentage of 64.52%, and in children who breathe through the nose is 35.48%. The severity of malocclusion in children who have bad habits of mouth breathing is moderate malocclusion. The most cases of malocclusion are cases of class II division 1. Conclusion: There is a relationship between bad mouth breathing habits and the severity of malocclusion in elementary school children. Keywords: Bad habits, mouth breathing, malocclusion ABSTRAKLatar belakang : Di Indonesia, maloklusi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang sangat tinggi, terhitung sekitar 80% dari populasi, menempati urutan ketiga setelah karies gigi dan penyakit periodontal. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Kalimantan Selatan merupakan daerah dengan insiden masalah kesehatan gigi dan mulut yang tinggi yaitu sekitar 59,6%, dan kasus maloklusi yang terjadi di Kalimantan Selatan sekitar 12%. Kebiasaan ini paling sering dilakukan pada anak sekolah dasar. Anak SD usia 6-12 tahun perlu diagnosis dini, karena gigi tetap dan gigi sulung kelompok usia ini menyatu dalam rongga mulut, dan oklusinya masih bersifat sementara. Jika ditemukan maloklusi, lebih mudah untuk dirawat. Tujuan: Tujuan studi literature  untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan buruk bernafas melalui mulut dengan tingkat keparahan maloklusi pada anak sekolah dasar. Metode: Semua artikel yang direview diperoleh dari pencarian sumber data Google Scholar, Pubmed dan Science Direct yang memiliki rentang waktu penerbitan jurnal maksimal 10 tahun terakhir. Hasil: Kebiasaan buruk bernafas melalui mulut pada anak sekolah dasar memiliki persentase tinggi yaitu 64,52%, dan pada anak yang bernafas melalui hidung yaitu 35,48%. Tingkat keparahan maloklusi pada anak yang memiliki kebiasaan buruk bernafas melalui mulut yaitu maloklusi tingkat sedang. Kasus maloklusi yang paling banyak adalah kasus klas II divisi 1. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kebiasaan buruk bernafas melalui mulut dengan tingkat keparahan maloklusi pada anak sekolah dasar. Kata kunci: Bernafas melalui mulut, kebiasaan buruk, maloklusi
GAMBARAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI MENGGUNAKAN HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SDN GAMBUT 10 Muhammad Aufar Rafif Adha; Diana Wibowo; Nolista Indah Rasyid
Dentin Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Maloklusi menduduki urutan ketiga setelah karies gigi dan penyakit periodontal pada masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia dengan prevalensi yang sangat tinggi yaitu sekitar 80%. Keparahan maloklusi dinilai dengan menggunakan indeks maloklusi. Indeks yang digunakan pada penelitian ini adalah Handicapping Malocclusion Assesment Record (HMAR) yang dapat memberikan penilaian ciri-ciri oklusi secara kuantitatif dan objektif. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran keparahan maloklusi dengan menggunakan Handicapping Malocclusion Assesment Record (HMAR) pada siswa SDN Gambut 10. Metode: Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah siswa SDN Gambut 10 kelas 3, 4, 5 dan 6 dengan anak usia 8 hingga 12 tahun. Sampel penelitian berjumlah 52 responden dan pengambilan sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling. Sampel dilakukan pemeriksaan dan penilaian melalui model studi untuk mengetahui tingkat keparahan maloklusi menggunakan indeks Handicapping Malocclusion Assesment Record (HMAR). Hasil: Kasus maloklusi yang paling banyak ditemukan adalah maloklusi ringan, kasus tertentu perlu perawatan yaitu 22 orang (42,3%), diikuti maloklusi berat, perlu perawatan sebanyak 16 orang (30,7%), maloklusi ringan, tidak perlu perawatan sebanyak 10 orang (19,2%) dan maloklusi berat, sangat perlu perawatan sebanyak 3 orang (5,7%). Kesimpulan: Keparahan maloklusi menggunakan HandicappingMalocclusion Assesment Record (HMAR) pada siswa SDN Gambut 10 yang paling banyak ditemukan adalah kategori maloklusi ringan, kasus tertentu perlu perawatan.Kata kunci : Anak-anak, HMAR, keparahan maloklusiBackground: Malocclusion ranks third after dental caries and periodontal disease among dental and oral health problems in Indonesia with a very high prevalence of around 80%. Malocclusion severity can be assessed using a malocclusion index. The index used in this study is the Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) which can provide a quantitative and an objective assessment of occlusion traits. Purpose: To find out the severity of malocclusion using Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) on students of SDN Gambut 10. Methods: This was an observational descriptive study with cross-sectional design. The population in this study were students of SDN Gambut 10 grade 3, 4, 5 and 6 including children in 8 to 12-year age group. Total sample comprised of 52 respondents which was determined by purposive sampling technique. Samples were examined and were assessed with a study model to determine the severity of malocclusion using Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR). Results: The most common case of malocclusion were mild malocclusion in which certain cases require a treatment in the total of 22 people (42.3%). It was followed by severe malocclusion in which cases require treatment in the total of 16 people (30.7%). Mild malocclusion with no treatment required was presented in the total of 10 people (19.2%) and severe malocclusion which requires treatment were observed in the total of 3 people (5.7%). Conclusion: The severity of malocclusion assessed using Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) among students of SDN Gambut 10 is mostly presented in mild malocclusion category in which certain cases require a treatment.
PERBANDINGAN JARAK EKSPANSI ANTARA SUHU NORMAL DAN SUHU TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN MODIFIKASI MODEL STUDI Monatasia Sijabat; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground:Screws can be used to widen the expansion of the dental arch to the transversal, sagittal, anterior and posterior. Expansion screw has the basic ingredients which are made of metal, metal when heated will undergo expansion process. Purpose: Determine the differences within the maxillary dental arch widening between 37oC and 45oC by using screws expansion modification study models. Methods: This type of research conducted an experimental study of pure (true experimental) with only post-test design with control group design and using simple random sampling consisting of two groups of samples immersion at 37oC and 45oC. How to determine the number of samples that was using Lemeshow formula with the number of each group of 10 samples. Removable orthodontic appliance was installed on the model studies of the upper jaw, then screw the expansion was activated. Next, the sample immersed in a water bath with a temperature setting of 37oC and 45oC for 5 minutes, then do measurement distance widening the maxillary dental arch using a sliding digital caliper. Results: Showed that the samples contained within the widening difference maxillary dental arch between 37oC and 45oC, with an average difference interpremolar one time activation was 0.11 mm, 2 times of activation is 0.23 mm, 3 times activation is 0.35 mm and 4 times the activation is 0.48 mm.Conclusion:Based on the results of research conducted can be concluded that there are differences within the maxillary dental arch widening between 37oC and 45oC by using screws expansion modification study models. Values within the maxillary dental arch widening at 45oC higher than at 37oC.  Key words: temperature, screw expansion, dental arch  ABSTRAKLatarBelakang:Sekrupekspansi dapat digunakan untuk memperlebar lengkung gigi ke arah transversal, sagital, anterior maupun posterior. Sekrup ekspansi memiliki bahan dasar yang terbuat dari logam, apabila logam dipanaskan akan mengalami proses pemuaian.Tujuan:Untukmengetahuiperbedaanjarak pelebaran lengkung gigi rahang atas antara suhu 37oC dan suhu 45oC dengan menggunakan sekrup ekspansi pada modifikasi model studi. Metode: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan post-test only with control group design dan menggunakan simple random sampling yang terdiri dari dua kelompok yaitu perendaman sampel pada suhu 37oC dan suhu 45oC. Cara menentukan jumlah sampel yaitu menggunakan rumus Lemeshow dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 10 sampel.  Peranti ortodonti lepasan dipasang pada model studi rahang atas, kemudian sekrup ekspansi diaktivasi. Selanjutnya, sampel direndam di dalam water bath dengan pengaturan suhu sebesar 37oC dan 45oC selama 5 menit, setelah itu dilakukan pengkuran jarak pelebaran lengkung gigi rahang atas menggunakan sliding caliper digital. Hasil: Menunjukkanbahwapadasampelterdapat perbedaan jarak pelebaran lengkung gigi rahang atas antara suhu 37oC dan suhu 45oC, dengan rata-rata perbedaan interpremolar 1 kali aktivasi adalah 0,11 mm, 2 kali aktivasi adalah 0,23 mm, 3 kali aktivasi adalah 0,35 mm dan 4 kali aktivasi adalah 0,48 mm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan jarak pelebaran lengkung gigi rahang atas antara suhu 37oC dan suhu 45oC dengan menggunakan sekrup ekspansi pada modifikasi model studi. Nilaijarakpelebaranlengkunggigirahangataspadasuhu 45oC lebihbesardibandingkanpadasuhu 37oC.  Kata kunci: suhu, sekrup ekspansi, lengkung gigi
PERBANDINGAN DAYA LENTING TERHADAP JARAK POSISI KOIL PEGAS JARI DARI BASIS AKRILIK Tara Syifa Hisanah; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Orthodontic treatment is one of the main dental to fix malocclusion. Treatment in orthodontic needs is divided into fixed and removable appliances. finger spring is components on a removable appliances that can. Wire length, wire diameter and spacing position of the coil on spring finger, can influence resilience. The length of the wire can be extended with the addition of a coil to obtain a more effective resilience. Purpose: Analyze the comparative resilience of the spring coil position finger with a distance of 2 mm, 8 mm and 14 mm from the base acrylic. Method: This study is a pre-experimental design with one shoot study design. This study uses a simple random sampling consisting of 3 treatment groups that spring coil position finger with a distance of 2 mm, 8 mm and 14 mm of acrylic base with a wire diameter of 0.6 mm and 3 mm diameter coil. Results: Data Do Shapiro-Wilk test and Levene's test to obtain normally distributed data and homogeneous. Data were analyzed using parametric tests One Way ANOVA p value = 0.000 (p <0.05), which showed a significant difference in the resilience of the most effective is the treatment group with a finger spring coil position 8 mm distance of 39.1 g / mm2. Conclusion: Based on the results of research can be concluded that there is a comparison of the resilience of the coil spring finger position distance of acrylic base.  Key words : Resilience, Distance Of Coil Position, Finger Spring.  ABSTRAKLatar Belakang: Perawatan ortodonti adalah salah satu perawatan untuk memperbaiki maloklusi gigi. Alat yang digunakan dalam perawatan ortodonti terbagi menjadi peranti cekat dan peranti lepasan. Peranti lepasan mempunyai komponen yang dapat menghasilkan pergerakan gigi salah satunya adalah pegas jari. Jarak posisi koil pada pegas jari, panjang kawat dan diameter kawat dapat mempengaruhi daya lenting. Panjang kawat  dapat diperpanjang dengan penambahan koil untuk mendapatkan daya lenting yang lebih efektif. Tujuan: Untuk menganalisis perbandingan daya lenting pada pegas jari dengan jarak posisi koil 2 mm, 8 mm dan 14 mm dari basis akrilik. Metode: Penelitian pre eksperimental dengan rancangan one shoot study design. Penelitian ini menggunakan simple random sampling yang terdiri dari 3 kelompok perlakuan yaitu pegas jari dengan jarak posisi koil 2 mm, 8 mm dan 14 mm dari basis akrilik dengan diameter kawat 0,6 mm dan diameter koil 3 mm. Hasil: Dilakukan uji data Shapiro-wilk dan Levene’s test sehingga didapatkan data terdistribusi normal dan homogen. Data dianalisis  menggunakan uji parametrik One Way Anova didapatkan nilai p = 0,000 (p < 0,05)  yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna dan daya lenting paling efektif  yaitu pada kelompok perlakuan pegas jari dengan jarak posisi koil 8 mm sebesar 39,1 gr/mm2. Kesimpulan: Terdapat perbandingan daya lenting terhadap jarak posisi koil pegas jari dari basis akrilik.   Kata-kata kunci: Daya Lenting, Jarak Posisi Koil, Pegas Jari.
EFEK PERENDAMAN MINUMAN PROBIOTIK TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTIK LEPASAN STAINLESS STEEL Peniasi Peniasi; Diana Wibowo; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Background: Stainless steel orthodontic wire is widely used because have a relatively high durability and ease of use. Resilience is the ability of a wire to move in the direction specified after activation. Factors that can affect the resilience of orthodontic wire in the oral cavity is acid content from probiotic drinks. Probiotic drinks are beverages containing lactic acid bacteria (C3H6O3) that can live in stomach acid. Consuming probiotic drinks can cause the release of nickel ions (Ni) and chromium (Cr) on the wire. Purpose: This study aims to determine changes in resistance of orthodontic stainless steel orthodontic resilience to immersion in probiotic drinks for 13 hours at 37 ° C. Method: The research type was the correct experimental study with pre and post test with control group design consisting of 2 groups, that group of probiotic drinking treatment and saline solution control group. The sample in this study 20 samples divided into 2 groups, and the measurement of resilience using gauge force meter. Result: Research data then analyzed by Independent parametric test (t-test) and Independent test (t-tes) result obtained showed value (p> 0,05). Conclusions: there is no alteration of resilience on stainless steel removable orthodontic wire soaked in probiotic drink after immersion for 13 hours with temperature 37˚C.ABSTRAKLatar belakang: Kawat ortodontik stainless steel merupakan kawat yang banyak digunakan karena memiliki daya lenting relatif tinggi serta pemakaian yang  nyaman. Daya lenting merupakan kemampuan suatu kawat untuk bergerak kearah yang ditentukan setelah dilakukannya aktivasi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi daya lenting kawat ortodontik dalam rongga mulut yaitu kandungan asam dalam minuman probiotik. Minuman probiotik merupakan minuman yang mengandung bakteri asam laktat (C3H6O3) yang mampu hidup dalam asam lambung. Banyaknya mengkonsumsi minuman probiotik dapat menyebabkan pelepasan ion nikel (Ni) dan kromiun (Cr) pada kawat. Tujuan penelitian: Mengetahui adanya perubahan daya lenting pada kawat ortodontik lepasan stainless steel terhadap perendaman dalam minuman probiotik selama 13 jam dengan suhu 37˚C. Metode dan Bahan: Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian true eksperimental dengan rancangan pre and post test with control group design yang terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan minuman probiotik dan kelompok kontrol larutan salin. Jumlah sampel dalam penelitian ini 20 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok, dan pengukuran daya lenting menggunakan alat gauge force meter. Hasil penelitian: Data penelitian kemudian dianalisis dengan uji parametrik Dependent (t-tes) dan uji Independent (t-tes) hasil yang didapatkan menunjukan nilai (p>0,05 ). Kesimpulan: Tidak terdapat perubahan daya lenting pada kawat ortodontik lepasan stainless steel yang direndam dalam minuman probiotik  setelah dilakukan perendaman selama 13 jam dengan suhu 37º C.
PENGARUH APLIKASI BONDING ANTIBAKTERI TERHADAP JUMLAH BAKTERI LACTOBACILLUS ACIDOPHILUS YANG MELEKAT PADA TUMPATAN RESIN KOMPOSIT BIOAKTIF Muhammad Muamar Khadafi; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Diana Wibowo
Dentin Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Adhesion of Lactobacillus acidophilus can cause secondary caries and failure of tooth restorations. One of the secondary caries prevention methods is the use of bioactive composite resins which have antibacterial properties. The antibacterial effect is further enhanced by the use of bonding which has antibacterial monomers. The two-step adhesive system in the 6th generation bonding has acid monomers which have been shown to significantly inhibit bacterial growth. Objective: To determine and analyze the effect of bonding application with antibacterial content on the amount of attachment of Lactobacillus acidophilus to bioactive composite resin restoration. Methods: This study design used true experimental with a post-test only design with control group design using 39 premolars 1 tooth divided into 3 groups: the treatment group that was given bonding and the control group that did not use bonding. Results: The results of the One Way ANOVA showed a significant difference (p = 0.000). Post hoc Bonferroni test results showed a significant difference (p = 0.000) between the treatment group and the control group. Conclusion: In the use of antibacterial, non-antibacterial bonding, and without bonding, there were significant differences in the number of attachments of Lactobacillus acidophilus to the restoration material.Keywords: Antibacterial, Bioactive Composite Resin, Lactobacillus acidophilus.ABSTRAKLatar Belakang: Perlekatan Lactobacillus acidophilus dapat menyebabkan terjadinya karies sekunder dan kegagalan restorasi gigi. Salah satu metode pencegahan karies sekunder adalah dengan penggunaan resin komposit bioaktif yang memiliki sifat antibakteri. Efek antibakteri semakin ditingkatkan dengan penggunaan bonding yang memiliki monomer antibakteri. Sistem adhesive  two step pada bonding generasi ke-6 memiliki monomer asam yang terbukti signifikan menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis pengaruh aplikasi bonding dengan kandungan antibakteri terhadap jumlah perlekatan bakteri Lactobacillus acidophilus pada material restorasi resin komposit bioaktif. Metode: Desain penelitian ini menggunkan penelitian eksperimental murni (true experimental) dengan rancangan post test only with control group design  menggunakan 39 gigi premolar 1 dibagi menjadi 3 kelompok: kelompok perlakuan yang diberi bonding dan kelompok kontrol yang tidak menggunakan bonding. Hasil: Hasil uji statistik One Way Anova menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,000). Hasil uji Post hoc bonferoni  menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,000) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kesimpulan: Pada penggunaan bonding antibakteri, bonding non-antibakteri, dan tanpa bonding terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah bakteri Lactobacillus acidophilus yang melekat pada material restorasi.Kata kunci : Antibakteri, Lactobacillus acidophilus, Resin Komposit Bioaktif.
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA REMAJA Hikmah Nurfajri Suala; Diana Wibowo; Raden Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: The condition of oral health in Indonesia and the world remains a serious problem. One of the dental and oral health problems with a high prevalence is malocclusion. Malocclusion can be experienced by children, adolescents, and adults. Malocclusion require proper treatment by performing orthodontic treatment. Orthodontic treatment needs can be measured by using a malocclusion index, one of them is the Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN).  Purpose: The purpose was to determine the need  of orthodontic treatment based on  the Index of Orthodontic Treatment Need in  adolescents. Methods: The literature review with the narrative review analysis method by looked for similarities and dissimilarities, provided viewpoint, compared, and created summaries. Results: The need of orthodontic treatment based on the Index of Orthodontic Treatment Need showed an average of 60.5% of adolescents did not need orthodontic treatment with the lowest prevalence of 22.4% and the highest prevalence of 96.6%, at the same time,  adolescents who urgently needed orthodontic treatment an average of 20.6%, with the lowest prevalence  approximately 0.028% and the highest  prevalence of 63.3%. Conclusion: The level of orthodontic treatment needs based on the Index of Orthodontic Treatment Need showed that an average of 60.5% of adolescents did not need orthodontic treatment and an average of 20.6% of adolescents were in highly need of orthodontic treatment. Through this study, the community was expected to take care of dental and oral health, especially related to malocclusion to prevent the increase of  orthodontic treatment needs. Keywords: adolescents, index, orthodontic treatment need, school children ABSTRAKLatar belakang: Kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia maupun dunia masih menjadi masalah serius. Salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi adalah maloklusi. Maloklusi dapat dialami oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Kondisi maloklusi membutuhkan penanganan yang tepat yaitu dengan melakukan perawatan ortodontik. Kebutuhan perawatan ortodonti seseorang dapat diukur menggunakan indeks maloklusi, salah satunya dengan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN). Tujuan: Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need pada remaja. Metode: Literature review dengan metode analisis narrative review dengan mencari kesamaan, mencari ketidaksamaan, memberikan pandangan, membandingkan, dan membuat ringkasan. Hasil: Kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need menunjukkan rata-rata 60,5% remaja tidak membutuhkan perawatan ortodonti dengan prevalensi paling rendah sebesar 22,4% dan prevalensi paling tinggi adalah 96,6%, sedangkan remaja yang sangat membutuhkan perawatan ortodonti rata-rata 20,6% dengan prevalensi paling rendah sekitar 0,028% dan prevalensi paling tinggi adalah 63,3%. Kesimpulan: Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need menunjukkan bahwa rata-rata 60,5% remaja tidak membutuhkan perawatan ortodonti dan rata-rata 20,6% remaja sangat membutuhkan perawatan ortodonti. Melalui studi ini masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan gigi dan mulutnya khususnya terkait maloklusi untuk mencegah peningkatan kebutuhan perawatan ortodonti. Kata kunci: anak sekolah, indeks, kebutuhan perawatan ortodonti, remaja
HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI SISWA SMPN 1 MARABAHAN Novarina Haryanti; Diana Wibowo; Ika Kusuma Wardani
Dentin Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusion can be treated with orthodontic treatment. The essentials in orthodontic treatment are the factor of socioeconomic status (education, work, and income). The parents with high socioeconomic are capable to give the awareness to conducting visits to the dentist for giving dental and oral health knowledge and treatment, compared with the parents with low socioeconomic. Purpose: Aims to find the correlation between the parent’s socioeconomic status with the orthodontic treatment need level students in SMPN 1 Marabahan. Methods: Observational analytic research with a cross-sectional study. The sample was taken by Simple Random Sampling. The research sample were 46 respondents. Data were obtained by questionnaire and Handicapping Malocclusion Assessment Record. Results: The parent’s education that is SMA/SMK/MA/Equal and Diploma/Bachelor has the most frequency, which is 21 people. The Permanent Employee has the most frequency, which is 28 people. The highest frequency is at the middle economy level, which is 32 people. The orthodontic treatment need level in score 20 or higher has the most frequency, which is 28 students. The result of the Spearman analysis test obtained that significances are 0,014, 0,036, and 0,042 (p-value <0,05). Conclusion: There is a correlation between the parent’s socioeconomic status with the orthodontic treatment need level students in SMPN 1 Marabahan Keywords: the socioeconomic status, malocclusion, orthodontic treatment need level ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi dapat dirawat dengan perawatan ortodonti. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam perawatan ortodonti adalah faktor status sosial ekonomi, yaitu pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Orang tua dengan status sosial ekonomi tinggi mampu memberikan kesadaran untuk melakukan kunjungan ke dokter gigi dalam hal pemberian pengetahuan anak tentang kesehatan gigi dan mulut dan perawatan gigi dibandingkan orang tua dengan sosial ekonomi rendah. Tujuan: Mengetahui hubungan status sosial ekonomi orang tua dengan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti siswa SMPN 1 Marabahan. Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan Simple Random Sampling. Sampel penelitian berjumlah 46 responden. Data diperoleh dengan kuesioner dan Handicapping Malocclusion Assessment Record. Hasil: Tingkat pendidikan orang tua pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/Sederajat dan Diploma/Sarjana memiliki frekuensi terbanyak, yaitu 21 orang. Tingkat pekerjaan Pegawai Tetap memiliki frekuensi terbanyak, yaitu 28 orang. Frekuensi terbanyak pada tingkat pendapatan ekonomi menengah, yaitu 32 orang. Tingkat kebutuhan perawatan ortodonti pada skor 20 ke atas memiliki frekuensi terbanyak, yaitu 28 siswa. Hasil uji analisis Spearman diperoleh signifikansi secara berurutan, yaitu 0,014, 0,036, dan 0,042 (p-value <0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan tingkat kebutuhan perawatan ortodonti siswa SMPN 1 Marabahan. Kata kunci: status sosial ekonomi, maloklusi, tingkat kebutuhan perawatan ortodonti
Co-Authors Agung Satria Wardhana Agung Satria Wardhana Ainna Dewi Iriani Akhmad Aufayed Ma’rifatullah Alexander Sitepu Andi Qathrah Nadia Salsabila Arifin, Rahmad Aspriyanto, Didit Aulia Azizah Aulia Rahimah Bayu Indra Sukmana Cecep Hadyan Khairusy Chairunnisa Chairunnisa Chairunnisa Chairunnisa Della Alya Aaliyah Dewi Nurdiana Dewi Puspitasari Dewi Puspitasari Dilla Mayarani Dinda Ayu Febrianti Dinda Chesya Dinie Muthia Iflah Dwi Kurniawan, Fajar Kusuma Dwiki Azhar Elda Rosemarwa Erine Febrianti Erwan Ridha Muzakki Eva Nor Jennah Fachriani, Fachriani Feroza, Nur Avia Firdaus, I Wayan Arya Krishnawan Fitriani Fitriani Hamdani, Riky Hapizah, Elvina Hatta, Isnur Herawani Herawani Hikmah Nurfajri Suala Husnul Mariah I Made Yudha Dharmawan Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar Iflah, Dinie Muthia Ika Kusuma Wardani Indri Indah Tari Irnamanda D.H., Irnamanda Isty Assadjadah Noormahmudah Juli Harnida Purwaningayu Khairusy, Cecep Hadyan Kholish Atikah Azzam Kusma Syafira Isnaini Larasitae G Banjang Malinda. M, Okky Melan Anisa Monatasia Sijabat Muhammad Akbar Rezalinoor Muhammad Arya Danendra Muhammad Aufar Rafif Adha Muhammad Muamar Khadafi Nada Putri Ariska Nadya Fatimah Alzahrah Najma Nor Shalehah Natasya Nurul Izzati Nelma Yulita Nolista Indah Rasyid Nor Sakinah Novarina Haryanti Novilia Pangestu Nur Annisa Islamiyati Nur Avia Feroza Nurah Tajjalia Okky Malinda. M Pangestu, Novilia Peniasi Peniasi Priska E. Siagian Rachmad Yamani Rahmad Arifin Raket Rizki Rahmaningtyas Ratu Rini Alfikri Renie Kumala Dewi Restika Hidayati Reysa Rosdayanti Rezalinoor, Muhammad Akbar Rosihan Adhani, Rosihan RR. Ella Evrita Hestiandari Sabila Maghfuroh Aqsha Syahari Sabilal Arief Saidatun Nisa Saiful Akhyar Lubis Sakinah, Nor Sandria Aprilano Sari, Galuh Dwinta Sarifah, Norlaila Setyawardhana, Raden Harry Dharmawan Sherli Diana Sherly Nuralisa Sinay Sity Noormazidah Sri Hardianti Syada, Akbar Nazarullah Syada, Akbar Nazarullah Tara Syifa Hisanah Tri Putri, Deby Kania Utami, Juliyatin Putri Widodo Widodo Widodo Widodo Yasmina Aulia Yuni Kusumawati Yusrinie Wasiaturrahmah Z. Paramitha, Andi Irmaya Zairin Noor Helmi Zairin Noor Helmi