Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

KOMBUCHA DAN SIFAT FUNGSIONALNYA: STUDI PUSTAKA Faizah; Anis Khairunnisa; Nurul Latifasari; Ajeng Dyah Kurniawati
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 9 No. 5 (2024): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/42pr8595

Abstract

Kombucha adalah minum fermentasi yang dibuat dengan bahan dasar teh dan gula. Beberapa tahun terakhir,  kombucha mengalami peningkatan popularitas yang signifikan. Selain itu, kombucha diketahui memiliki sifat fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan seperti kandungan probiotik dan senyawa antioksidan yang tinggi  seperti vitamin C, polifenol, dan senyawa glukoronat. Berdasarkan sifat fungsional yang terkandung pada kombucha tersebut maka artikel ini bertujuan untuk mengekplorasi sifat fungsional kombucha dan manfaatnya  pada kesehatan manusia. Proses pembuatan kombucha melibatkan berbagai jenis teh seperti teh hitam, hijau,  oolong, dan teh herbal lainnya yang memengaruhi komposisi mikroba, kandungan bioaktif, serta sifat  fungsionalnya. SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) digunakan sebagai starter untuk fermentasi kombucha, menghasilkan lapisan selulosa dan meningkatkan aktivitas antioksidan. Berdasarkan hasil dari  penelitian yang digunakan pada literatur review ini, kombucha memiliki kandungan senyawa bioaktif seperti  polifenol, D-saccharic acid-1,4-lacton (DSL), etanol, asam organik, asam asetat, dan asam glukoronat yang  memberikan berbagai manfaat kesehatan, termasuk detoksifikasi, perlindungan sel dari radikal bebas, dan  peningkatan imunitas. Proses fermentasi juga diketahui mampu meningkatkan kandungan antioksidan dalam  kombucha, menjadikannya sebagai minuman fungsional dengan efek positif terhadap kesehatan seperti  pencegahan kanker dan penyakit kardiovaskular. 
Pengaruh Kecerdasan Emosional, Perilaku Kewargaan Organisasional Terhadap Kinerja Pegawai dengan Kualitas Kehidupan Kerja sebagai Variabel Mediasi pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang Banda Aceh Khairunnisa, Anis; Iskandar, Raihan; Luthfi, Luthfi
Singkite Journal Vol 3 No 1 (2024): Singkite Journal, April 2024
Publisher : Aceh Cooperative Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63855/skt.v3i1.40

Abstract

This research was conducted at STIES Banda Aceh, with research objects being 31 lecturers and 13 educational staff. Data analysis and hypothesis testing in this research used the Structural Equation Model - Partial Least Square (SEM-PLS) method with the SmartPls 4.0 program. The research results show that emotional intelligence and organizational citizenship behavior have a positive and significant influence on employee performance. Other results show that the influence of Emotional Intelligence, Organizational Citizenship Behavior on Performance and fully mediated by Quality of Work Life has a positive and significant influence. The higher the Emotional Intelligence and Organizational Citizenship Behavior, the higher the Quality of Work Life which will ultimately improve employee performance.
Pengaruh Jenis Ikan terhadap Rendemen, Mutu Sensori, dan Tingkat Penjualan Pindang di Unit Pengolahan Ikan X Jembrana Wahyuni, Ni Gusti Ayu Putu Intan Sri; Defira, Citra; Putri, Satiti Kawuri; Khairunnisa, Anis
Sriwijaya FoodTech Journal Vol 1 No 01 (2024): Sriwijaya FoodTech Journal
Publisher : Prodi Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Unit Pengolahan Ikan X merupakan salah satu usaha kecil dan menengah (UKM) yang fokus pada produksi ikan pindang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis ikan terhadap rendemen, mutu sensori, dan tingkat penjualan pindang di Unit Pengolahan Ikan X. Penelitian ini menggunakan empat jenis ikan pindang yakni tongkol (P1), cakalang (P2), lemuru (P3), dan slengseng (P4). Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan, yaitu perbedaan jenis ikan, dan melibatkan analisis rendemen, mutu sensori, serta tingkat penjualan selama tujuh hari. Mutu sensori diuji menggunakan metode hedonik dengan 30 panelis konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ikan berpengaruh signifikan terhadap rendemen, mutu sensori, dan tingkat penjualan (p<0,05). Rata-rata rendemen tertinggi ditemukan pada P4 (82,04%), sedangkan P3 memiliki rendemen terendah (37,02%). Analisis mutu sensori menunjukkan bahwa P1 memiliki tingkat penjualan dan penerimaan tertinggi dalam atribut kenampakan, tekstur, rasa, dan aroma. Sementara itu, P2 menunjukkan tingkat penjualan dan penerimaan terendah untuk semua atribut sensori. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis ikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap persentase rendemen, mutu organoleptik, dan tingkat penjualan terhadap produk pindang. Hasil ini dapat dijadikan acuan dalam memilih bahan baku dan strategi pengembangan produk untuk meningkatkan daya saing pasar.
Effect of Heating Duration in Free Fatty Acid and Sensory Quality of Palm Cooking Oil Trimulya, Agung; Defira, Citra; Khairunnisa, Anis
Sriwijaya FoodTech Journal Vol 2 No 01 (2025): Sriwijaya Foodtech Journal
Publisher : Prodi Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64723/sftj.v2i01.8

Abstract

Palm cooking oil is extensively used for frying in both domestic and industrial settings. However, prolonged heating at high temperatures can lead to chemical and sensory degradation, compromising oil quality and consumer safety. This study aims to evaluate the effect of heating duration on the formation of free fatty acids (FFA) and changes in sensory properties of palm cooking oil. A total of ten heating durations (0 to 270 minutes, at 30-minute intervals) were applied at a constant temperature of 200 °C. FFA levels were quantified using a titrimetric method based on SNI 7709:2019, and sensory analysis was performed by trained panelists. The results showed a significant (p < 0.05) linear increase in FFA content with prolonged heating, exceeding the safety threshold of 0.30% after 90 minutes. Sensory evaluations also revealed a marked decline in aroma, taste, and color starting from the 90-minute point. These changes are attributed to thermal oxidation, hydrolysis, and polymerization reactions that accelerate lipid breakdown. The findings suggest that palm oil should not be used for frying beyond 60–90 minutes at 200 °C to ensure compliance with safety standards and maintain sensory acceptability. This study provides a quantitative basis for determining critical usage limits of palm oil in high-temperature cooking applications.
Karakteristik Warna dan Viskositas Minyak Goreng Bekas dari Pedagang Gorengan di Kota Jambi Putri, Satiti Kawuri; Wulansari, Arnanti; Kurnia, Fitriyan; Nanda, Ririn Fatma; Defira, Citra; Khairunnisa, Anis; Putri, Satiti
Sriwijaya FoodTech Journal Vol 2 No 01 (2025): Sriwijaya Foodtech Journal
Publisher : Prodi Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64723/sftj.v2i01.9

Abstract

Minyak goreng sangat penting dalam pengolahan makanan sehari- hari terutama dalam teknik deep frying. Minyak goreng yang digunakan berulang oleh pedagang gorengan berisiko menurunkan kualitas fisik minyak. Studi ini mengkaji sifat fisik minyak goreng bekas yang digunakan sepuluh pedagang gorengan di Kota Jambi berdasarkan analisis warna dengan metode kolorimetri dan viskositas menggunakan metode viskometer rotasi (Brookfield). Survei deskriptif dilakukan pada sepuluh sampel minyak bekas pedagang gorengan di Kota Jambi. Hasil menunjukkan viskositas minyak bekas antara 48,0-106,8 cP dan warna dari kuning kecoklatan menjadi oranye gelap. Hal ini menandakan telah terjadi kerusakan minyak yang berpotensi menurunkan kualitas dan keamanan pangan.
Pemanfaatan insang ikan tuna (Thunnus sp.) dan lemuru (Sardinella lemuru) sebagai bahan baku pengolahan keripik: Utilization of tuna (Thunnus sp.) and Bali sardinella (Sardinella lemuru) fish gills as raw materials for chips processing Budiadnyani, I Gusti Ayu; Dewi, Resti Nurmala; Panjaitan, Fenny Crista Anastasia; Febrianti, Desy; Utari, Siluh Putu Sri Dia; Khairunnisa, Anis; Nugraha, I Made Aditya
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 6 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(6)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i6.63268

Abstract

Insang merupakan hasil samping perikanan bernilai rendah namun kandungan gizi tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, yaitu keripik. Mengingat insang berfungsi sebagai penyaring zat kimia (logam berat), maka aspek keamanan pangan menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan karakteristik insang ikan tuna dan lemuru dalam kondisi segar dan beku sebagai bahan baku keripik, berdasarkan kandungan proksimat, cemaran logam berat, mikrobiologi, dan tingkat penerimaan konsumen. Penelitian menggunakan empat perlakuan, yakni insang dari tuna segar, tuna beku, lemuru segar, dan lemuru beku (duplo). Analisis proksimat meliputi kadar abu, air, lemak dan protein. Analisis logam berat meliputi Hg, Pb dan Cd. Analisis mikrobiologi terdiri atas TPC, E. coli, Salmonella sp., dan V. cholerae. Tingkat penerimaan konsumen menggunakan uji hedonik dengan parameter ketampakan, aroma, rasa, tekstur, aftertaste dan keseluruhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa insang ikan memiliki kadar protein 14,15–17,62%, lemak 1,61–5,79%, air 65,36–69,19%, dan abu 10,81–14,93%. Pengolahan insang menjadi keripik menghasilkan kadar protein 8,04–9,52%, kadar lemak 19,33–26,75%, kadar air 4,12–4,67%, dan kadar abu 4,66–6,19%. Keripik insang lemuru segar mengandung lemak tertinggi (26,75%) dan keripik tuna beku memiliki protein tertinggi (9,52%). Kandungan logam berat pada insang berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan SNI 7387:2009, dengan kadar Hg 0,01 ppm, Pb 0,02–0,15 ppm, dan Cd 0,02–0,05 ppm. Kandungan mikrobiologi menunjukkan seluruh keripik insang aman dikonsumsi. Analisis hedonik oleh panelis terlatih menunjukkan keripik insang sangat disukai, dengan skor keseluruhan di atas 8,00 dan keripik insang tuna beku memperoleh skor rasa tertinggi (8,90).
Dari Tradisi Menuju Inovasi: Literatur Review tentang Pengolahan Garam dan Potensi Replikasinya di Jembrana Nugraha, I Made Aditya; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Khairunnisa, Anis; Cesrany, Mahaldika; Utami, Diah Ayu Satyari
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 4 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i4.1581

Abstract

Salt is a strategic commodity that plays an important role in daily life, both as food, industrial raw materials, and in the health sector. Salt processing in Indonesia, especially in coastal areas, is generally carried out traditionally, which includes evaporation and boiling techniques. However, traditional salt processing in many areas, including Jembrana, Bali, still faces challenges related to product quality, production efficiency, and limited market access. Innovations in salt processing technology, such as the use of geomembranes and salt houses, have been shown to improve the quality and quantity of salt production. This article aims to review the literature related to traditional and innovative salt processing, and explore the potential for replicating these innovations in Jembrana. The results of the study indicate that Jembrana has great potential to develop an innovation-based salt industry, by adopting the latest technology and strengthening community-based business institutions. However, several gaps in technology, human resources, and institutions must be addressed to create a sustainable and competitive salt industry. With support from various parties, including the government, academics, and local communities, Jembrana has the opportunity to become a leading region in the production of high-quality local salt.
Kajian Jejak Karbon Pada Sistem Energi Berbasis Batu Bara Dalam Industri Pengolahan Hasil Perikanan di Bali Nugraha, I Made Aditya; Desnanjaya, I Gusti Made Ngurah; Dewi, Resti Nurmala; Khairunnisa, Anis; Juniarta, I Nyoman
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 4 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i4.1695

Abstract

MANAJEMEN BUDIDAYA UDANG VANAME BERKELANJUTAN BERBASIS PENDEKATAN SOSIAL, EKONOMI, EKOLOGI, INSTITUSI, DAN TEKNOLOGI: STUDI KASUS DI UJUNG GENTENG, SUKABUMI Anwar, Kasful; Panggabean, Donwil; Malau, Albert Gamot; Mulyadi, Mulyadi; Khairunnisa, Anis
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.121-145

Abstract

Keberlanjutan pengelolaan akuakultur merupakan aspek krusial untuk memastikan produktivitas jangka panjang dan kesehatan lingkungan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi status keberlanjutan budidaya udang vaname (Penaeus vannamei) di kawasan Ujung Genteng, Sukabumi, melalui pendekatan multidimensi yang mencakup dimensi sosial, ekonomi, ekologi, institusional, dan teknologi. Metode yang digunakan adalah Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) berbasis pendekatan multi-dimensional scaling (MDS) yang dimodifikasi untuk memasukkan dimensi teknologi serta validasi melalui ulangan Monte Carlo sebanyak 25 kali. Hasil menunjukkan dimensi teknologi memperoleh skor tertinggi (77,325), mengindikasikan "sangat berkelanjutan", sementara dimensi lainnya, termasuk sosial (59,237), ekonomi (68,236), ekologi (61,856), dan institusional (60,215), dikategorikan sebagai "cukup berkelanjutan". Dimensi sosial, ekonomi, ekologi, dan institusional memiliki atribut sensitif, berpotensi meningkatkan status keberlanjutan dari cukup berkelanjutan menjadi berkelanjutan hingga sangat berkelanjutan, yang meliputi semangat gotong royong dan hubungan dengan pemerintah (sosial), tujuan pemasaran dan penyerapan tenaga kerja (ekonomi), tingkat pemanfaatan lahan dan kualitas air tambak (ekologi) serta skala usaha dan kemitraan kelembagaan (institusional). Penekanan juga diberikan pada integrasi teknologi canggih seperti sistem nanobubble, pemberi pakan otomatis, energi surya, dan pemantauan real-time berbasis IoT. Inovasi-inovasi ini menunjukkan potensi signifikan dalam meningkatkan kadar oksigen terlarut, efisiensi pakan serta pengurangan biaya operasional, yang berkontribusi pada pertumbuhan udang yang lebih baik dan penurunan tingkat kematian. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang mengombinasikan kemajuan teknologi, keterlibatan komunitas, dan dukungan institusional untuk mencapai praktik akuakultur yang berkelanjutan. Rekomendasi untuk penelitian mendatang mencakup pengujian aplikasi yang lebih luas di berbagai lingkungan akuakultur serta pengembangan teknologi adaptif untuk menghadapi tantangan yang muncul di sektor budidaya udang.Sustainability in aquaculture management is essential to ensure long-term productivity and environmental health. This study evaluates the sustainability status of whiteleg shrimp (Penaeus vannamei) farming in Ujung Genteng, Sukabumi, using a multidimensional approach covering social, economic, ecological, institutional, and technological dimensions. The Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) method, based on multi-dimensional scaling (MDS) and modified to include technology, was applied with 25 Monte Carlo iterations for validation. Results indicate that the technological dimension achieved the highest score (77.325), categorized as “highly sustainable”, while other dimensions, including social (59.237), economic (68.236), ecological (61.856), and institutional (60.215), were considered “moderately sustainable”. Sensitive attributes in social, economic, ecological, and institutional dimensions have the potential to improve sustainability status from moderately sustainable become sustainable to highly sustainable, including community cooperation and government relations (social), market orientation and employment absorption (economic), land use intensity and pond water quality (ecological), as well as business scale and institutional partnerships (institutional). The study highlights the role of advanced technologies such as nanobubble systems, automatic feeders, solar energy, and IoT-based real-time monitoring. These innovations can enhance dissolved oxygen levels, improve feed efficiency, reduce operational costs, and ultimately support better shrimp growth and lower mortality rates. Overall, the findings emphasize the importance of a holistic approach combining technological innovation, community involvement, and institutional support to achieve sustainable aquaculture. Future research is recommended to expand applications across diverse aquaculture environments and to develop adaptive technologies for emerging challenges in shrimp farming.
ANALISIS MUTU SENSORI DAN BIAYA PRODUKSI PENGEMBANGAN GARAM RUMPUT LAUT DI DESA PENGAMBENGAN, NEGARA BALI Kurniawati, Made Devi; Anwar, Kasful; Sumandiarsa, Ketut; Rusdiyanto, Edi; Khairunnisa, Anis
Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT) Vol 7, No 2 (2024): JKPT Desember 2024
Publisher : Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpt.v7i2.14880

Abstract

Rumput laut merupakan sumber daya alam yang potensial dengan berbagai manfaat, termasuk sebagai bahan baku garam yang memiliki karakteristik unik dan nilai tambah berbeda dibandingkan garam dapur biasa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh garam rumput laut dengan mutu sensori terbaik dan menganalisis mutu sensori dan biaya produksi garam rumput laut di Desa Pengambengan, Bali, menggunakan jenis rumput laut Ulva lactuca, Gracilaria sp.,dan Sargassum sp. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel, preparasi, pencucian, pengeringan, pembuatan tepung garam, dan uji mutu sensori serta analisis biaya produksi dengan metode full costing. Data hasil analisis diolah menggunakan program SPSS 26 dan analisis statistik menggunakan ragam analisis ANOVA-Duncan. Hasil analisa pengujian menggunakan ANOVA menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan (p <0,05) antara bahan baku rumput laut terhadap mutu sensori garam rumput laut. Mutu sensori terbaik adalah garam rumput laut dari jenis Ulva lactuca pada parameter warna dengan nilai 7.05, rasa 6.58, tekstur 6.49, dan kenampakan 7.36. Kandungan kadar air Ulva lactuca adalah 0.758%, natrium klorida 90.11%, bagian tidak larut dalam air 0.553%, kadmium <0.050 mg/kg, arsen 0.398 mg/kg, dan raksa 0.013 mg/kg, yang semuanya memenuhi standar SNI 3556:2016. Produksi garam rumput laut membutuhkan biaya sebesar Rp 2.508.000. Garam rumput laut dari Ulva lactuca aman dikonsumsi dan memiliki potensi pasar yang baik.