Articles
PENDEKATAN TEOLOGIS DALAM MEMAHAMI MAKSUD SYARIAT DAN HUKUM YANG TIDAK DISEPAKATI
Adinda Ayu Kisdiyanti;
Ashif Az Zafi
INCARE, International Journal of Educational Resources Vol 1 No 1 (2020): June 2020
Publisher : FKDP (Forum Komunikasi Dosen Peneliti)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (394.053 KB)
Fiqh proposal is a method in exploring and establishing Islamic law. The science of ushul fiqh is useful to guide the mujtahid in correct syariah law and the results can be accounted for. Through the of fiqh can also be found a way out in solving the arguments that seem to conflict with each other. Even though the arguments in the study of Usul fiqh such as qiyas, istihsan, mursalah problems, istishab, and urf can be used as a basis for establishing laws and issues not clearly explained directly by the text. The scholars agreed to declare God as the party who was authorized to make the law in Islamic law. In this context, God is an makes the Shari'a, determines, raises and as a source of law. On this basis there is no Shari'a in Islam unless it is sourced from God. Because, God created man on earth and God also sets the rules about human life. This phenomenon ultimately encourages writers to conduct scientific research on religion. The approach to religion will experience significant development. This is indicated by an approach to religion that not only focuses on theological aspects, but penetrates other disciplines of the humanities.
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM UPAYA MENINGKATKAN IBADAH PADA SISWA
Rijal Robbi Sulthoni;
Ashif Az Zafi
HIKMAH: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : STAI Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55403/hikmah.v9i1.207
Dengan berkaitannya soal agama. Dalam meningkatkan ibadah pada siswa adalah hal yang baik, seperti yang kita ketahui semakin berkurangnya nilai akan ibadah pada siswa, dengan dimunculkannya peningkatan dalam ibadah pada siswa akan memunculkan peningkatan ibadah. Dibuat aturan dalam sekolah agar mempunyai ketentuan-ketentuan dalam sekolah tersebut. Dan membentuk strategi agar guru mempunyai rancangan sebelum di berikan kepada siswanya.
Euthanasia dalam Pandangan Moral, Kode Etik Kedokteran dan Perspektif Hukum Islam
Zilfania Rahmawati;
Ashif Az Zafi
Alhurriyah Vol 5, No 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30983/alhurriyah.v5i2.3205
The practice of euthanasia in medicine has become a topic that raises various discussions when viewed from different points of view. The existence of differences of opinion that arise from the practice of euthanasia is normal because the practice is related to human life. Based on this, this scientific study aims to determine euthanasia from a moral perspective, a medical code of ethics and in the perspective of Islamic law. The process of collecting data from scientific studies was carried out by means of literature research using qualitative descriptive methods in presenting and analyzing the data obtained. The results of the study show how euthanasia practices are in accordance with the medical code of ethics, moral views and how the law is in Islam.Praktik Euthanasia dalam kedokteran menjadi hal yang menimbulkan berbagai perbincangan bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Adanya perbedaan pendapat yang muncul dari praktik euthanasia merupakan suatu kewajaran karena praktik tersebut berhubungan dengan nyawa manusia. Berdasarkan hal tersebut studi ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui euthanasia dalam pandangan moral, kode etik kedokteran dan dalam perspektif hukum Islam. Proses pengumpulan data studi ilmiah ini dilakukan dengan cara penelitian literatur menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam penyajian dan anlisis data yang diperoleh. Hasil dari penelitian menunjukkan bagaimana praktik euthanasia yang sesuai kode etik kedokteran, pandangan moral dan bagaimana hukumnya dalam agama Islam.
Society's Diversity in Influencing Education (Kudus Tower Case Study in Influencing Islamic Education)
Muhammad Arief Nugroho;
Ashif Az Zafi
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2021): AGUSTUS
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36835/tarbiyatuna.v14i2.1043
The purpose of this article is to find out how Islamic education in the area around the Kudus Tower is influenced religious community, as well as to find out the influence in Islamic education. The process of compiling this study used a qualitative approach. The data collection was done by conducting a literature study. It is known that the influence of a religious community for Islamic education in the area around the Kudus tower includes making students more familiar with Islam, as well as the special attitude of Islamic education institutions in educating their students. The results obtained from this study are Islamic educational institutions around the Kudus tower are growing rapidly and these educational institutions form students who excel in academics and have noble character. The main factor in the formation of the noble character of students is caused by the kiai who become teachers in educational institutions, a religious community environment, upholding the teachings of Islam and also side by side with the tomb of Sunan Kudus which is its own value.
PERBEDAAN MAZHAB EMPAT IMAM BESAR (HANAFI, MALIKI, SYAFI’I, DAN HAMBALI) DALAM PARADIGMA HUKUM FIKIH
luluatul badriyyah;
Ashif Az Zafi
Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman Vol 5, No 1 (2020): Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (543.637 KB)
|
DOI: 10.31604/muaddib.v5i1.65-79
Artikel ini mengangkat tentang perbedaanmazhab empat imam besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dalam paradigma hukum fikih. Dasar hukum yang diambil untuk menetapkan hukum fikih dari keempat mazhab ini berbeda-beda, sehingga hukum fikih yang dikeluarkan atau ditetapkan juga berbeda meskipun terdapat beberapa kesamaan dalam menetapkan hukum fikih. Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan zaman para fuqoha, sehingga hukum yang ditetapkanpun berbeda. Selain itu masalah-masalah yang dihadapi tiap fuqoha berbeda-beda. Ini adalah salah satu penyebab timbulnya perbedaan dari setiap ulama fikih. Tulisan ini dikaji menggunakan metode filsafat.Struktur fundamental dijadikan sebagai landasan filosofis,dan teori postmodern dijadikan sebagai rujukan dari tulisan ini. Oleh karena itu perbedaan pendapat dapat dilihat sebagai fitrah, karena adanya perbedaan zaman, primordialitas, dan geografis manusia. Adanya perbedaan pendapat dari mazhab-mazhab fikih menjadi saling melengkapi, jika dilihat dari perpektif teori system. Dengan begitu kita dapat menemukan bahwa kajian ini mengantarkan pada kesadaran hubungan saling melengkapi antara pendapat ulama fikih.Kata kunci: Empat Mazhab, Perbedaan Mazhab, Hukum Fikih
MENGKONTEKSTUALISASIKAN HADITS TARBAWI BAGI PENDIDIKAN ISLAM DI ERA 4.0
Moh Sholihul Anshori;
Ashif Az Zafi
Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman Vol 5, No 1 (2020): Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/muaddib.v5i1.12-25
Educational development always cannges and has now arrieved at an era known as the era 4.0. But with these developments new callenges arise for Islamic education in this era, namely the moral values of studens and the develovepment of the world of Islamic education wich now seems to be left behind from the west. Then it must be immediately found the right way to deliver teaching Islamic education right now. Namely by using a hadith in wich quality is known , then to be able to maximaze the hadith is by contextualiing it. general religion. So by contextualizing the students will be invited to think actively and have a more real picture and certainly more effective than ( conventional ) metdhos.
TRADISI NAHDLATUL ULAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Ahmad Zulfikri;
Ashif Az Zafi
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 7, No 1 (2020): Vol. 7, No. 1, April 2020
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/wa.v7i1.5504
Salah satu isu di negara Indonesia adalah keberadaan tradisi keagamaan dianggap sebuah tradisi keberagamaan yang bertentangan dengan hukum Islam dan tidak sesuai dengan sunnah Nabi saw. Isu ini adalah masalah yang serius dan harus dijelaskan melalui dalil-dalil yang sesuai dengan pelaksanaan tradisi yang dilakukan oleh warga Nahdliyyin di Indonesia. Dan harus ditemukan dalil hukmi atas diperbolehkannya melaksanakan tradisi tersebut. Menurut kaum modernisme tradisi-tradisi ini termasuk bid’ah dan harus ditinggalkan oleh masyarakat. Sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, Nahdlatul Ulama haruslah mempunyai tendensi atas pelaksanaan tradisinya dalam Al-Qur’an dan as-sunnah. Melalui artikel ini penulis mengulas bagaimana perspektif hukum Islam tentang pelaksanaan tradisi-tradisi keagamaan warga Nahdliyyin dan beberapa contoh tradisi keagamaan yang sering dilakukan warga Nahdliyyin.
Transformasi Budaya Melalui Lembaga Pendidikan (Pembudayaan dalam Pembentukan Karakter)
Ashif Az Zafi
Al Ghazali Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : STAINU Purworejo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pendidikan dianggap sebagai sistem persekolahan. Sistem ini hanyamelihat hubungan struktural antar bagian seperti guru, siswa, kurikulum dansarana prasarana. Namun ternyata lembaga pendidikan dapat dilihat lebih dari ituyaitu sebagai sebuah tempat dalam melakukan transformasi budaya. Lembagapendidikan dan transformasi budaya tidak dapat dipisahkan karena keduanyaterkait dengan nilai. Lembaga pendidikan dapat disamakan dengan sistem sosialkarena didalamnya terjadi proses sosialisasi. Tulisan ini dimaksudkan untukmemberikan kontribusi berupa konsep dalam melakukan transfer nilai sehinggamembentuk karakter melalui lembaga pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian ini,menurut Van Peursen dalam teori perkembangan budaya menyatakan bahwalembaga pendidikan diharapkan dapat memposisikan diri sebagai tahapfungsional. Pada tahap ini lembaga pendidikan sebagai agen transformasi nilaiharus berfungsi dalam memberikan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Dalammelakukan proses pembudayaan nilai agar terbentuk menjadi karakter dapatmenggunakan pendapat dari Pierre Bourdieu mengenai Habitus. Lembagapendidikan dapat melakukan pembiasaan melalui beberapa kegiatan. Pembiasaandapat dilakukan melalui interaksi sosial antar warga sekolah (lembagapendidikan). Pembiasaan yang telah mengakar menjadi pembudayaan harusdijaga dengan kontrol yang dilakukan oleh lembaga pendidikan.
PERNIKAHAN ADAT JAWA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Eka Yuliana;
Ashif Az Zafi
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 8, No 02 (2020): Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30868/am.v8i02.745
Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral bagi kehidupan manusia. Pelaksanaan pernikahan terutama dalam adat jawa berkaitan erat dengan tradisi, namun tradisi atau kebiasaan dalam pernikahan terkadang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada dalam agama islam dan bertentangan dengan syariat. Dengan adanya permasalahan tersebut dapat mengetahui pernikahan menurut adat jawa dan pandangan islam terhadap pernikahan adat jawa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode pengumpulannya menggunakan metode dokumentasi. Peneliti juga menggunakan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan gejala dan fenomena yang sedang terjadi. Ketika masyarakat menggelar pernikahan adat jawa bermaksud untuk melestarikan budaya leluhur tetapi terkadang mengesampingkan sudut pandang dari hukum islam, agama islam sendiri memperbolehkan suatu budaya untuk berkembang asalkan tidak melenceng dari hukum islam yang ada dan apabila tradisi yang dilaksanakan masyarakat melenceng dari hukum islam seharusnya tidak dilaksanakan karena termasuk perbuatan syirik.
Membina Sikap Keagamaan pada Peserta Didik Melalui Pendidikan Agama Islam
Heni Mustaghfiroh;
Ashif Az Zafi
Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34001/tarbawi.v17i2.1646
Di era zaman yang mulai berkembang, kemajuan teknologipun yang semakin canggih sedangkan ajaran nilai-nilai agama bukan juga mengalami peningkatan, namun mengalami pemerosotan. Nilai-nilai agama bukan saja mencakup ajaran dalam beribadah, bertata krama; sopan santun; bersikap sesuai agama atau berakhlak sholeh juga merupakan bagian dari nillai -nilai agama yang mana akhir-akhir ini kurang diperhatikan. Penanaman nilainilai agama harus sudah mulai diajarkan sejak dini walaupun kita tahu memang banyak faktor yang akan mempengaruhinya. Dengan melakukan penelitian ini dimaksudkan agar mengetahui bagaimana perkembangan ajaran serta nilai-nilai agama khususnya dalam hal perkembangan sikap keagamaan siswa. Penulis dalam menulis peneletian ini menggunakan metode pustaka.