Claim Missing Document
Check
Articles

Analysis of Determinants of Puskesmas Drug Availability in South Sorong District Year 2024 Tonglo, Ruhama Utami; Uly, Nilawati; Iskandar, Ishaq; Zamli, Zamli
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i1.1516

Abstract

Background: Drug availability at Puskesmas (Community Health Centers) is essential for delivering quality public health services. Multiple factors such as the roles of doctors, pharmaceutical personnel, patients, and drug distributors are thought to influence this availability. Objectives: This study aimed to analyze the determinants affecting drug availability at Puskesmas in South Sorong Regency in 2024. Methods: A quantitative approach was used, with data analyzed through statistical tests including the T-test, F-test, and coefficient of determination to assess both partial and simultaneous effects of the independent variables. Results: The analysis revealed that there were no significant partial or simultaneous effects of the roles of doctors, pharmaceutical personnel, patients, and drug distributors on drug availability (p > 0.05). The coefficient of determination (R²) was 0.153, indicating that only 15.3% of the variation in drug availability could be explained by these factors. Conclusions: The study concludes that the roles of doctors, pharmaceutical personnel, patients, and drug distributors have no significant influence on drug availability at Puskesmas in South Sorong Regency. The low coefficient of determination suggests that other unexamined factors may play a more dominant role in determining drug availability in these health facilities.
Evaluation of Logistics Management for Basic Immunization Vaccines at the Pharmaceutical Installation, South Sorong District Health Office, Southwest Papua Pasaribu, Handara Graha; Uly, Nilawati; Al-Maidin, Achmad R. Muttaqien; Zamli, Zamli
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i1.1518

Abstract

Background: Pharmaceutical services are direct and responsible healthcare services aimed at ensuring optimal therapeutic outcomes and improving patients’ quality of life. Pharmaceutical personnel play a crucial role not only in vaccine production but also in the management of vaccine logistics, including storage, distribution, and administration. Vaccination is estimated to prevent two to three million deaths annually from vaccine-preventable diseases such as diphtheria, tetanus, pertussis, and measles across all age groups. Objective: This study aims to evaluate the management of vaccine logistics at the Pharmaceutical Installation of the South Sorong District Health Office in Southwest Papua, Indonesia. Methods: This research employed a qualitative approach using in-depth interviews with key informants and applied inductive thematic analysis to interpret the data. Results: The findings reveal that although vaccine management practices have been implemented adequately, several challenges remain. These include limited internet connectivity, poor road infrastructure, and logistical delays, all of which hinder the efficiency and effectiveness of vaccine distribution. Conclusion: Strengthening infrastructure and improving digital systems are essential to enhancing the effectiveness of vaccine logistics management. Strategic efforts are needed to overcome these operational barriers to ensure consistent and equitable vaccine availability in remote regions
Evaluation of the Leprosy Program Implementation at Teminabuan Health Center, South Sorong District, Using the CIPP Evaluation Model Onim, Florence; Uly, Nilawati; Al-Maidin, Achmad R. Muttaqien; Zamli, Zamli
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/htj.v11i1.1527

Abstract

Background: Leprosy is a chronic infectious disease that poses significant challenges and impacts family well-being. In 2023, 75 cases were recorded and treated in South Sorong. Objective: This study aimed to evaluate the implementation of the leprosy program at Teminabuan Health Center using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. Methods: A descriptive qualitative approach was applied, using observation and in-depth interviews with three key informants. Data validation was conducted through triangulation. Results: Context evaluation showed collaboration between health workers and community cadres in raising awareness and promoting early examination. Input evaluation revealed program management by a designated officer with support from several units but highlighted issues such as limited staff, lack of integrated data systems, and insufficient drug supply. Process evaluation indicated that outreach was done through leaflets and discussions, field screening, and referrals, though stigma and behavior change remained challenges. Product evaluation found that activities included contact tracing, medication monitoring, and referrals, but training for health workers was inadequate. Conclusion: While context and process aspects were satisfactory, input and product components need improvement, particularly in human resources, logistics, and system integration to enhance program effectiveness
Pelatihan Diabetes Educator Bagi Programmer Prolanis Se-Kota Palopo Uly, Nilawati; Fadli; Heriyanti, Hera
Mega Buana Journal of Innovation and Community Service Vol. 1 No. 1 (2022): Juli Tahun 2022
Publisher : LPPM Universitas Mega Buana Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59183/cj163677

Abstract

Upaya mengurangi peningkatan penderita penyakit kronis dan meminimalisir pembiayaan kesehatan untuk penyakit kronis, salah satu upaya BPJS kesehatan bekerjasama dengann FKTP merancang suatu program yaitu PROLANIS dengan target pemenuhan rasio PROLANIS yang rutin mengikuti kegiataan PROLANIS dengan indikator 75 % kehadiran. Tujuan program ini untuk mendorong peserta penderita penyakit kronis diantaranya Diabetes Melitus tipe 2 agar mencapai kualitas hidup yang optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke FKTP memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM tipe 2. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ada beberapa kegiatan dalam PROLANIS yang meliputi konsultasi, edukasi, home visite, dan pemantauan status kesehatan. Sebagai bentuk pelayanan promotif dan preventif maka harus dilakukan oleh seorang educator yang kompeten. Metodepembelajaran yang digunakan adalah classical dan practicum.
Withholding dan Withdrawing Life Support Therapy: Tinjauan Literatur Hukum, Etik, dan Sosial Kesehatan Rahim, Harpandi; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.140

Abstract

Kemajuan teknologi kedokteran modern telah memungkinkan perpanjangan hidup secara artifisial melalui terapi penunjang kehidupan, seperti ventilator dan dialisis. Namun, pada kondisi terminal, praktik withholding (tidak memulai terapi) dan withdrawing (menghentikan terapi) life support therapy (WWLST) menimbulkan dilema multidimensi yang mencakup aspek hukum, etik, sosial, dan budaya. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara sistematis berbagai literatur yang membahas WWLST, dengan fokus pada kerangka regulasi, prinsip bioetika, praktik klinis, perspektif agama dan budaya, serta peran informed consent dan advance care planning. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap 32 artikel nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2000 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa di Indonesia, WWLST masih berada dalam wilayah hukum yang ambigu, belum dilindungi secara memadai oleh regulasi nasional, dan kerap menimbulkan konflik antara tenaga medis dan keluarga pasien. Meskipun secara etik WWLST dapat dibenarkan bila dilakukan atas dasar keputusan medis kolektif dan otonomi pasien, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan akibat rendahnya literasi hukum dan etik, serta dominasi nilai-nilai sosial dan keagamaan yang belum sepenuhnya mendukung praktik akhir hayat. Kajian ini merekomendasikan pentingnya penyusunan regulasi komprehensif, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam komunikasi etik, edukasi publik, serta pembentukan tim etik klinis di fasilitas layanan kesehatan sebagai prasyarat utama penerapan WWLST yang bermartabat, legal, dan manusiawi.
Efektivitas Pendidikan dan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Remaja: Tinjauan Literatur Ketut Yudi Arparitna; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.143

Abstract

Latar belakang: Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan penting dalam penanganan kondisi gawat darurat seperti henti jantung mendadak. Pendidikan BHD yang dimulai sejak usia remaja diyakini mampu meningkatkan kesiapsiagaan individu dan komunitas dalam merespons kejadian darurat. Namun, efektivitas metode pelatihan yang beragam masih menjadi perdebatan. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas berbagai metode pendidikan dan pelatihan BHD dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa sekolah menengah atas (SMA), serta mengevaluasi tantangan dan keberlanjutan hasil pelatihan tersebut. Metode: Kajian dilakukan melalui tinjauan literatur terhadap 40 artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2012 hingga 2025. Artikel diperoleh dari basis data Scopus, DOAJ, dan Google Scholar. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif berdasarkan metode intervensi, capaian pembelajaran, serta aspek keberlanjutan dan keterbatasan pelaksanaan pelatihan BHD. Hasil: Mayoritas studi menunjukkan bahwa metode ceramah dan simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Pendekatan inovatif seperti media audiovisual, flipped classroom, dan Virtual Reality juga memperlihatkan hasil positif, khususnya dalam aspek psikomotorik dan afektif. Namun, retensi keterampilan cenderung menurun dalam 3–6 bulan pasca pelatihan jika tidak ada penguatan lanjutan. Keterbatasan umum dalam studi meliputi cakupan sampel yang sempit, kurangnya evaluasi jangka panjang, serta keterbatasan alat praktik. Kesimpulan: Pendidikan dan pelatihan BHD terbukti efektif, tetapi keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kesinambungan program, dukungan infrastruktur, dan keterlibatan aktif peserta. Diperlukan integrasi kurikulum, pelatihan ulang berkala, serta riset lanjutan dengan desain longitudinal untuk menjamin dampak jangka panjang pelatihan BHD pada remaja.
Paparan Kebisingan dan Gangguan Pendengaran pada Nelayan serta Pekerja Kelautan: Tinjauan Literatur Iin Fatimah Hanis; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.144

Abstract

Latar Belakang: Kebisingan mesin kapal, kompresor, dan tekanan air saat menyelam menempatkan nelayan serta penyelam tradisional pada risiko tinggi Noise-Induced Hearing Loss (NIHL). Tujuan: Meringkas bukti ilmiah 2015–2024 tentang hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran dan dampak non-auditori di sektor kelautan serta menilai intervensi yang telah diujikan. Metode: Telaah naratif terhadap 34 artikel (24 nasional; 10 internasional) yang diidentifikasi dalam dokumen. Ekstraksi mencakup desain, sampel, paparan, dan temuan utama. Hasil: Durasi kerja ≥ 10 tahun, intensitas kebisingan > 85 dBA, frekuensi penyelaman tinggi, dan usia > 40 tahun secara konsisten terkait peningkatan ambang dengar hingga tuli sensorineural. Kebisingan juga memicu gangguan fisiologis (hipertensi, kelelahan), psikologis (stres), serta komunikasi. Intervensi edukasi melalui Program Konservasi Pendengaran (PKP) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengukur kebisingan. Sistem alarm berbasis sensor dan peredam mesin tradisional menurunkan intensitas 5–10 dB namun adopsinya masih terbatas. Kesimpulan: Kebisingan merupakan determinan utama gangguan pendengaran pada pekerja kelautan. Edukasi, hearing-protection devices (HPD), rekayasa akustik, serta kebijakan K3 spesifik sektor perikanan dibutuhkan untuk perlindungan berkelanjutan.
ANALISIS FAKTOR KESIAPAN PENERAPAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) DI RSUD PONGTIKU KABUPATEN TORAJA UTARA Sarti Tambing; Nilawati Uly; Ishaq Iskandar
Jurnal Mitrasehat Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v14i2.478

Abstract

Latar belakang: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) merupakan salah satu lembaga pelayanan kesehatan yang memiliki peranan penting dalam menyediakan pelayanan medis kepada masyarakat. Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan kesehatan dibentuklah Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebagai wujud pengelolaan rumah sakit untuk meningkatkan kemandirian keuangan dan pelayanan rumah sakit melalui pemisahan antara fungsi manajemen dan fungsi pelayanan. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi penyusunan BLUD yaitu komunikasi, ketersediaan sumber daya, kesiapan tim internal dan struktur administrasi, namun ketika tidak berjalan optimal, keempat faktor tersebut akan menjadi penghambat. Oleh karena itu penting untuk menilai faktor apa saja yang mempengaruhi kesiapan BLUD. Tujuan: Untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi kesiapan RSUD Pongtiku menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di Kabupaten Toraja Utara. Metode: Penelitian bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penentuan informan diambil secara purposive sampling yang terdiri dari 2 yaitu informan kunci (Pimpinan Rumah Sakit) dan informan biasa (tim BLUD). Hasil: Implikasi teoritis menunjukkan bagaimana penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) dapat meningkatkan efisiensi operasional dan transparansi pengelolaan keuangan dalam organisasi publik. Kesimpulan: Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya perencanaan strategi yang melibatkan berbagai pihak termasuk penyediaan insentif dan kebijakan pendukung. Pembentukan tim BLUD yang kompeten dan penyusunan dokumen administratif yang lengkap.
Pengaruh Prenatal Yoga terhadap Persiapan dan Hasil Persalinan: Suatu Tinjauan Literatur Yenni; Nilawati Uly; Andi Alim
Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Akademi Kebidanan Bunga Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54100/bemj.v8i2.443

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan dan persalinan merupakan fase penting yang melibatkan perubahan fisiologis dan psikologis signifikan pada ibu. Ketegangan emosional seperti kecemasan, stres, dan nyeri dapat memengaruhi jalannya persalinan serta meningkatkan risiko komplikasi obstetri. Salah satu intervensi non-farmakologis yang banyak dikaji untuk mengurangi risiko tersebut adalah prenatal yoga, yang menggabungkan latihan fisik, pernapasan, relaksasi, dan meditasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis pengaruh prenatal yoga terhadap persiapan persalinan (kesiapan psikologis, efikasi diri, dan kecemasan) serta hasil persalinan (durasi kala persalinan, nyeri, outcome neonatal, dan adaptasi fisiologis). Metode: Studi ini menggunakan desain tinjauan literatur sistematis dengan menganalisis 38 artikel ilmiah dari database PubMed, ScienceDirect, Scopus, Cochrane Library, Google Scholar, dan Portal Garuda. Kriteria inklusi mencakup studi yang mengevaluasi intervensi prenatal yoga dengan hasil berupa indikator fisik dan psikologis selama kehamilan dan persalinan. Analisis dilakukan secara naratif dan deskriptif. Hasil: Hasil tinjauan menunjukkan bahwa prenatal yoga efektif menurunkan intensitas nyeri persalinan, mempercepat proses persalinan (terutama kala I dan II), serta mengurangi kecemasan dan depresi ibu hamil. Selain itu, yoga juga meningkatkan kesiapan psikologis dan efikasi diri, memperbaiki outcome persalinan seperti berkurangnya ruptur perineum dan tindakan seksio sesarea, serta meningkatkan kondisi neonatal seperti berat badan lahir dan umur gestasi. Di sisi lain, yoga berkontribusi pada regulasi fisiologis tubuh melalui peningkatan variabilitas denyut jantung, aktivasi sistem saraf parasimpatis, dan penurunan kadar kortisol. Kesimpulan: Prenatal yoga merupakan intervensi komplementer yang aman dan efektif untuk meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan dan memperbaiki hasil kehamilan. Diperlukan integrasi yoga dalam layanan antenatal serta penelitian lanjutan dengan desain eksperimental untuk memperkuat bukti ilmiah ini.
Pendidikan dan Komunikasi dalam Kesehatan Reproduksi Remaja: Systematic Literatur Review terhadap Faktor Risiko dan Strategi Intervensi Ambali, Defyanti Dwi; Uly, Nilawati; Alim, Andi
Jurnal Promotif Preventif Vol 8 No 4 (2025): Agustus 2025: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v8i4.2047

Abstract

Kesehatan reproduksi remaja merupakan isu krusial yang berkaitan erat dengan kesiapan generasi muda menghadapi masa dewasa secara sehat dan bertanggung jawab. Artikel ini menyajikan tinjauan Sistematic Literature Review (SLR) dengan menggunakan diagram PRISMA terhadap literatur ilmiah yang membahas faktor-faktor risiko dan strategi intervensi dalam pendidikan serta komunikasi kesehatan reproduksi pada remaja yang telah melewati tahap screening judul, abstrak, dan full-text review. Tinjauan dilakukan terhadap 11 artikel penelitian yang dipublikasikan antara tahun 2017 hingga 2025, dengan fokus pada pendidikan, komunikasi, lingkungan sosial, media edukasi, dan nilai-nilai budaya lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan, minimnya komunikasi dalam keluarga, serta pengaruh negatif dari media dan teman sebaya menjadi faktor utama yang meningkatkan kerentanan remaja terhadap masalah reproduksi. Sebaliknya, strategi intervensi seperti penggunaan media edukasi kontekstual (leaflet, video, dan modul), pelibatan orang tua dalam komunikasi terbuka, serta integrasi nilai kearifan lokal terbukti efektif dalam meningkatkan literasi dan sikap positif remaja terhadap kesehatan reproduksi. Studi ini merekomendasikan pendekatan pendidikan yang holistik, berbasis budaya, dan kolaboratif lintas sektor untuk menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pertumbuhan remaja secara sehat dan berdaya dalam isu reproduksi.