Claim Missing Document
Check
Articles

Peran terapi komplementer, budaya, dan edukasi dalam penatalaksanaan kanker payudara: Sebuah tinjauan literatur Obert, Hendra August; Uly, Nilawati; Alim, Andi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 6 (2025): Volume 19 Nomor 6
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i6.1198

Abstract

Background: Breast cancer is one of the leading causes of cancer-related deaths among women, especially in developing countries such as Indonesia. Its management is not solely dependent on medical interventions but is also influenced by cultural, psychosocial factors, and patient preferences for non-conventional therapies. Purpose: To examine the role of complementary therapies, culture, and education in the management of breast cancer. Method: A literature review approach was employed using a narrative systematic review. The data sources consisted of scientific articles published in nationally accredited journals, specifically those ranked 2 to 5 in the Science and Technology Index (SINTA). The articles were purposively selected based on their relevance to the study’s focus: the use of complementary and alternative medicine (CAM) in breast cancer patients, the influence of culture on health-seeking behavior and decision-making, and the effectiveness of community education interventions in enhancing knowledge and awareness of breast cancer. Results: CAM such as the use of herbal remedies, spiritual practices, yoga, and massage, has positive potential in improving the quality of life of breast cancer patients, particularly in physical and emotional aspects. Nevertheless, the application of CAM should be carried out cautiously and in integration with conventional medical treatment to avoid the risk of negative interactions. On the other hand, cultural aspects including beliefs in traditional medicine, stigma surrounding cancer, and the dominance of family decision making have been shown to be significant barriers to healthcare access and acceptance. Conclusion: Complementary therapies, cultural factors, and education significantly influence the management of breast cancer. The use of CAM can improve patients’ quality of life, while culture and education affect treatment-seeking behaviors and the success of early detection efforts. Suggestion: A holistic approach that integrates medical, cultural, and educational aspects is essential in breast cancer management to achieve more comprehensive health outcomes.   Keywords: Culture; Breast Cancer; Complementary Therapy; Early Detection; Education.   Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan perempuan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penatalaksanaannya tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor budaya, psikososial, serta preferensi pasien terhadap terapi non-konvensional. Tujuan: Untuk mengkaji peran terapi komplementer, budaya, dan edukasi dalam penatalaksanaan kanker payudara melalui suatu tinjauan literatur. Metode: pendekatan literature review dengan jenis tinjauan sistematis naratif. Sumber data dalam tinjauan ini berasal dari artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal nasional terakreditasi, yaitu jurnal yang termasuk dalam SINTA (Science and Technology Index) peringkat 2 hingga 5. Artikel-artikel ini dipilih secara purposif berdasarkan kesesuaian topik dengan fokus kajian, yaitu penggunaan terapi komplementer dan alternatif Complementary and Alternative Medicine (CAM) pada pasien kanker payudara, pengaruh budaya terhadap perilaku pencarian pengobatan dan pengambilan keputusan, serta efektivitas intervensi edukasi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran terkait kanker payudara. Hasil: Terapi komplementer dan alternatif CAM, seperti penggunaan herbal, spiritual, yoga, dan pijat, memiliki potensi positif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara, terutama dalam aspek fisik dan emosional. Meskipun demikian, penerapan CAM harus dilakukan secara hati-hati dan terintegrasi dengan pengobatan medis konvensional untuk menghindari risiko interaksi negatif. Di sisi lain, aspek budaya, termasuk kepercayaan terhadap pengobatan tradisional, stigma terhadap kanker, serta dominasi keputusan keluarga, terbukti menjadi hambatan signifikan dalam akses dan penerimaan layanan kesehatan. Simpulan: Terapi komplementer, faktor budaya, dan edukasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penatalaksanaan kanker payudara. Penggunaan CAM dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, sementara budaya dan edukasi memengaruhi perilaku pencarian pengobatan dan keberhasilan deteksi dini. Saran: Diperlukan pendekatan holistik yang menggabungkan aspek medis, kultural, dan edukatif dalam penatalaksanaan kanker payudara untuk meningkatkan hasil kesehatan yang lebih menyeluruh.   Kata Kunci: Budaya; Deteksi Dini; Edukasi; Kanker Payudara; Terapi Komplementer.
FAKTOR SOSIAL BUDAYA, PSIKOLOGIS, DAN INTERVENSI TERHADAP PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF: TINJAUAN LITERATUR Lisna; Uly, Nilawati; Alim, Andi
Bina Generasi : Jurnal Kesehatan Vol 17 No 1 (2025): Bina Generasi : Jurnal Kesehatan
Publisher : LPPM STIKES BINA GENERASI POLEWALI MANDAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35907/bgjk.v17i1.447

Abstract

Latar Belakang: Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pertama merupakan anjuran global dari WHO dan UNICEF karena manfaatnya yang besar bagi kesehatan ibu dan bayi. Namun, praktik ini masih menghadapi berbagai hambatan di tingkat individu dan masyarakat. Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis berbagai faktor psikologis, sosial budaya, dan efektivitas intervensi terhadap praktik pemberian ASI eksklusif. Metode: Penelitian ini merupakan literature review naratif yang menganalisis 30 artikel ilmiah nasional dan internasional yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025. Artikel dianalisis secara tematik berdasarkan faktor determinan dan jenis intervensi yang dilaporkan, dengan mempertimbangkan konteks sosial dan budaya yang beragam. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa efikasi diri menyusui, stres, dan depresi postpartum merupakan faktor psikologis utama yang memengaruhi keberhasilan ASI eksklusif. Dukungan sosial dari suami, keluarga, dan tenaga kesehatan sangat membantu mempertahankan praktik menyusui. Nilai budaya lokal juga berperan besar, baik sebagai penguat maupun hambatan, tergantung pada kepercayaan yang berlaku. Intervensi yang terbukti efektif mencakup edukasi menyusui, konseling berbasis budaya, kelompok dukungan ibu, dan penerapan program rumah sakit ramah bayi (BFHI), termasuk inisiasi menyusu dini (IMD) dan rawat gabung. Kesimpulan: Keberhasilan ASI eksklusif membutuhkan pendekatan yang komprehensif, berbasis budaya, dan melibatkan multiaktor. Program promosi menyusui sebaiknya dirancang secara partisipatif dan disesuaikan dengan nilai-nilai lokal agar lebih efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: ASI eksklusif, efikasi diri, dukungan sosial, budaya, intervensi, literature review.
Analisis Kualitas Pelayanan Poli Rawat Jalan tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit di Rumah Sakit Mega Buana Palopo 2025 Hasan, Amrullah; Uly, Nilawati; Sanuddin, Sudirman; Azwar, Muhammad
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KEDOKTERAN Vol. 4 No. 3 (2025): Desember : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrike.v4i3.6954

Abstract

The quality of outpatient services is an essential indicator of hospital performance and patient satisfaction. At Mega Buana Hospital Palopo, patient complaints remain regarding waiting times, limited facilities, and staff communication, highlighting the need for evaluation based on the Ministry of Health Regulation No. 129/Menkes/SK/II/2008. This study aimed to analyze the relationship between human resources, medical staff interactions, service processes, and patient satisfaction with outpatient service quality. This research employed a quantitative design with a cross-sectional approach. A total of 116 patients were selected through accidental sampling. Data were collected using a validated and reliable questionnaire and analyzed using the chi-square test. The results revealed significant associations between human resources (p=0.001), medical staff interactions (p=0.003), and patient satisfaction (p=0.002) with outpatient service quality. The service process, particularly waiting time and queue management, proved to be important factors influencing patients’ perceptions of service quality. Overall, the service quality was categorized as good but not yet fully aligned with the national standards, especially in administrative speed, queue system, and facility comfort. In conclusion, outpatient service quality at Mega Buana Hospital Palopo is influenced by human resources, medical staff interactions, service processes, and patient satisfaction. The findings emphasize the importance of strengthening human resource management, improving the quality of medical staff communication, enhancing queue management, and providing adequate supporting facilities to meet national service standards.
The Influence of Peer Education on Tooth-brushing Behavior in Islamic Environments Kartono, Faradhillah; Uly, Nilawati; A, Ridwan; Aswan
Palita: Journal of Social Religion Research Vol. 10 No. 2 (2025): Palita : Journal of Social Religion Research
Publisher : LP2M IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/pal.v10i2.8049

Abstract

Oral health is a vital component of a child's overall quality of life. The 2018 Indonesian Basic Health Research (Riskesdas) revealed that the prevalence of dental caries exceeded 88%. In Luwu Regency, caries rates among schoolchildren remain high. This study aims to analyze the impact of peer education on tooth-brushing behavior among students of Madrasah Ibtidaiyah (MI) 11 Bonelemo, Bajo Barat, Luwu. The research employed a quantitative experimental approach, with 38 students from grades 3–5 serving as participants, divided into two groups: treatment and control. Class leaders were trained as peer educators to deliver tooth-brushing education grounded in the Health Promotion Model (HPM). The results showed significant improvements in tooth-brushing frequency and quality in the treatment group compared with the control group (p<0.05). It confirms the effectiveness of peer education in encouraging children's health behaviors. In the madrasah context, this approach aligns with Islamic values that emphasize cleanliness, as reflected in the saying of the Prophet Muhammad SAW: "Cleanliness is part of faith."
The Effect of the TEMAN SETIA Program Intervention on Immunosuppressant Medication Adherence in Post-Kidney Transplant Patients at RSCM Jakarta Suhartini, Euis; Nursanti, Irna; Natashia, Dhea; Irawati, Diana; Jumaiyah, Wati; Uly, Nilawati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aims: Chronic Kidney Disease (CKD) poses a significant global health challenge, with an increasing number of kidney transplantations in Indonesia. The success of kidney transplants hinges on adherence to immunosuppressant medications to prevent organ rejection. Non-adherence among post-transplant patients can lead to infections, graft loss, or a return to dialysis. This study evaluated the impact of the TEMAN SETIA program on adherence to immunosuppressant medications among post-kidney transplant patients at Dr. Cipto Mangunkusumo National Referral Hospital (RSCM) in Jakarta. Methods: A pre-post-test design with a control group was utilized. The sample included 28 post-transplant patients meeting inclusion criteria. The TEMAN SETIA program provided patient mentoring to improve adherence. Adherence was assessed before the intervention, one month after, and two weeks post-intervention using a validated questionnaire. Data were analysed using t-tests and repeated measures ANOVA. Results: The control and intervention groups were comparable in demographic and clinical characteristics, though the intervention group had more non-working participants. The program significantly improved adherence (Cohen’s d = 1.97) and knowledge (Cohen’s d = 1.99). While family support increased in both groups, differences were not significant (Cohen’s d = 1.02). A significant group-by-time interaction (F (1.246, 26) = 7.394, p = 0.007, η² = 0.221) demonstrated greater adherence improvements over time in the intervention group. Discussion: The findings demonstrate that the TEMAN SETIA program is an effective intervention for enhancing medication adherence and knowledge among post-transplant patients. The structured mentoring approach provided patients with the necessary support and education to improve their adherence behaviors. Although family support increased in both groups, the changes were not statistically significant, highlighting the need for further exploration of the role of familial involvement in adherence programs Conclusion: The TEMAN SETIA program effectively enhanced medication adherence and knowledge in post-transplant patients. This structured intervention offers a promising strategy to improve outcomes and reduce risks of organ rejection.
ANALISIS FAKTOR YANG BERPENGARUH DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS PARUMPANAI KABUPATEN LUWU TIMUR TAHUN 2024 Stevi Yanti Nopita Sari; Uly, Nilawati; Al-Maidin, Achmad R.Mutaqien; ZAMLI, ZAMLI
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 Desember 2024
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v9i2.1536

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang merupakan penyebab utama kesehatan yang buruk dan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia, TB merupakan penyebab utama kematian dari agent infeksi tunggal dengan peringkat di atas HIV/AIDS. TB disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis, yang menyebar ketika orang yang sakit TB mengeluarkan bakteri ke udara, misalnya dengan batuk. Ini biasanya mempengaruhi paru-paru (TB paru) tetapi juga dapat mempengaruhi organ tubuh lain (TB Ekstra Paru). Sekitar seperempat populasi dunia terinfeksi M. tuberculosis dan dengan demikian berisiko terkena penyakit TB. Tujuan Penelitian: Faktor Yang Berpengaruhi Dengan Kejadian Tb Paru Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Parumpanai Kabupaten Luwu Timur. Penelitian: Responden penelitian yaitu pasien TB Paru dan pasien suspek berjumlah 51 orang. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian analitik korelasi menggunakan rancangan cross sectional dan uji korelasi spearman’s rho menggunakan SPSS 26 for windows. Hasil dan Kesmipulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh status gizi p value = 0,610 > 0,05, tidak terdapat pengaruh income p value = 0,285 > 0,05, Ada pengaruh hygiene rumah dengan dimana nilai p value = 0,003 < 0,05 dengan nilai korelasi sedang, ada pengaruh kebiasaan merokok dengan kejadian TB paru di dimana nilai p value = 0,001 < 0,05 dengan nilai korelasi sedang, serta ada pengaruh riwayat kontak dengan kejadian TB Paru dimana nilai p value = 0,017 < 0,05 dengan nilai korelasi sedang. Saran: masyarakat lebih memperhatikan kesehatannya dengan menjaga asupan gizi, serta pihak terkait mengedukasi masyarakat akan bahaya merokok serta menjaga sanitasi lingkungan.
Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Cegah Stunting Melalui Peningkatan Gizi dan Sanitasi di Kelurahan Pontap Fadli; Uly, Nilawati; Hertiana
Indonesian Journal of Community Dedication Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Journal of Community Dedication (IJCD)
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35892/community.v6i1.1521

Abstract

Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Memberikan pelatihan tentang stunting akan membantu meningkatkan pemahaman kepada kader kesehatan sebagai upaya pencegahan stunting. Kader merupakan bagian terdekat dengan masyarakat memiliki peran penting sebagai agen perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku sehingga dapat menurunkan prevalensi stunting. Tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk melakukan percepatan penurunan stunting melalui pemberdayaan kader kesehatan dalam peningkatan gizi dan sanitasi di Kelurahan Pontap. Metode pelaksanaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dua langkah, yakni sosialisasi dan pelatihan dalam rangka peningkatan pengetahuan kader dalam pengelolaan dan perawatan anak stunting, pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengelola model edukasi yaitu modul edukasi dalam pelaksanaan penyuluhan yang aktif dan kreatif termasuk perencanaan kegiatan penyuluhan, serta peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung program posyandu. Hasil kegiatan PKM ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan peserta setelah pelatihan kesehatan tentang materi pentingnya peningkatan gizi dan sanitasi dalam pencegahan stunting serta materi tentang pemanfaatan modul dalam cegah stunting terdapat perbedaan dimana pengetahuan yang baik sebelum pelatihan sebanyak 4 peserta yang berpengetahuan baik dan meningkat setelah pelatihan serta pendampingan langsung oleh pelaksana sebanyak 14 peserta berpengetahuan baik.
Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Petugas Promosi Kesehatan di Puskesmas Kota Palopo Uly, Evawati; Uly, Nilawati
Mega Buana Journal of Public Health Vol. 2 No. 1 (2023): Mega Buana Journal of Public Health
Publisher : LPPM Universitas Mega Buana Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59183/jdajb226

Abstract

Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap kinerja petugas promosi kesehatan di Puskesmas Kota Palopo. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif analitik dengan pendekatan pendekatan crosssectional dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan angket. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas promkes di Puskesmas Kota Palopo sebanyak 24 orang. Selain itu penarikan sampelnya menggunakan teknik sampling jenuh. Berdasarkan uji fisher’s excat test diperoleh hasil penelitian yaitu p=0,013. Sehingga disimpulkan terdapat pengaruh motivasi terhadap kinerja tenaga kesehatan, demikian maka hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh motivasi terhadap kinerja petugas promosi kesehatan di Puskesmas Kota Palopo.
Pendidikan dan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja: A literature review Arparitna, Ketut Yudi; Uly, Nilawati; Alim, Andi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1668

Abstract

Background: Basic Life Support (BLS) is a crucial skill for managing emergencies such as sudden cardiac arrest. BLS, initiated in adolescence, is believed to improve individual and community preparedness in responding to emergencies. However, the effectiveness of various training methods remains debated. Purpose: To examine the effectiveness of BLS education and training in improving adolescent knowledge and skills. Method: This literature review examined 19 articles published between 2012 and 2025. Articles were obtained from Scopus, the Directory of Open Access Journals (DOAJ), and Google Scholar. Data were analyzed descriptively and qualitatively based on intervention methods, learning outcomes, and the sustainability and limitations of BLS training. Results: Lectures and simulations were effective in improving student knowledge and skills. Innovative approaches, such as audiovisual media, flipped classrooms, and virtual reality, also demonstrated positive results, particularly in psychomotor and affective aspects. However, skill retention tends to decline 3–6 months post-training if there is no further reinforcement. General limitations of the study include a narrow sample size, lack of long-term evaluation, and limited practical tools. Conclusion: Basic Life Support (BLS) education and training have proven effective, but its success is greatly influenced by program sustainability, infrastructure support, and active participant engagement. Curriculum integration, regular retraining, and further research with longitudinal designs are needed to ensure the long-term impact of BLS training on adolescents.   Keywords: Adolescents; Basic Life Support (BLS); Education and Training; Knowledge; Skills.   Pendahuluan: Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan penting dalam penanganan kondisi gawat darurat seperti henti jantung mendadak. BHD yang dimulai sejak usia remaja, diyakini mampu meningkatkan kesiapsiagaan individu dan komunitas dalam merespons kejadian darurat. Namun, efektivitas metode pelatihan yang beragam masih menjadi perdebatan. Tujuan: Untuk mengkaji efektivitas pendidikan dan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja. Metode: Penelitian tinjauan literatur terhadap 19 literatur yang diterbitkan antara tahun 2012-2025. Artikel diperoleh dari basis data Scopus, directory of open access journals (DOAJ), dan Google Scholar. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif berdasarkan metode intervensi, capaian pembelajaran, serta aspek keberlanjutan dan keterbatasan pelaksanaan pelatihan BHD. Hasil: Metode ceramah dan simulasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Pendekatan inovatif, seperti media audiovisual, flipped classroom, dan virtual reality juga memperlihatkan hasil positif, khususnya dalam aspek psikomotorik dan afektif. Namun, retensi keterampilan cenderung menurun dalam 3–6 bulan pasca pelatihan jika tidak ada penguatan lanjutan. Keterbatasan umum dalam studi meliputi cakupan sampel yang sempit, kurangnya evaluasi jangka panjang, serta keterbatasan alat praktik. Simpulan: Pendidikan dan pelatihan BHD terbukti efektif, tetapi keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kesinambungan program, dukungan infrastruktur, dan keterlibatan aktif peserta. Diperlukan integrasi kurikulum, pelatihan ulang berkala, serta riset lanjutan dengan desain longitudinal untuk menjamin dampak jangka panjang pelatihan BHD pada remaja.   Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar (BHD); Keterampilan; Pendidikan dan Pelatihan; Pengetahuan; Remaja.
Withholding dan Withdrawing Life Support Therapy: Tinjauan Literatur Hukum, Etik, dan Sosial Kesehatan Harpandi Rahim; Nilawati Uly; Andi Alim
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.140

Abstract

Kemajuan teknologi kedokteran modern telah memungkinkan perpanjangan hidup secara artifisial melalui terapi penunjang kehidupan, seperti ventilator dan dialisis. Namun, pada kondisi terminal, praktik withholding (tidak memulai terapi) dan withdrawing (menghentikan terapi) life support therapy (WWLST) menimbulkan dilema multidimensi yang mencakup aspek hukum, etik, sosial, dan budaya. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara sistematis berbagai literatur yang membahas WWLST, dengan fokus pada kerangka regulasi, prinsip bioetika, praktik klinis, perspektif agama dan budaya, serta peran informed consent dan advance care planning. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap 32 artikel nasional dan internasional yang dipublikasikan antara tahun 2000 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa di Indonesia, WWLST masih berada dalam wilayah hukum yang ambigu, belum dilindungi secara memadai oleh regulasi nasional, dan kerap menimbulkan konflik antara tenaga medis dan keluarga pasien. Meskipun secara etik WWLST dapat dibenarkan bila dilakukan atas dasar keputusan medis kolektif dan otonomi pasien, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan akibat rendahnya literasi hukum dan etik, serta dominasi nilai-nilai sosial dan keagamaan yang belum sepenuhnya mendukung praktik akhir hayat. Kajian ini merekomendasikan pentingnya penyusunan regulasi komprehensif, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam komunikasi etik, edukasi publik, serta pembentukan tim etik klinis di fasilitas layanan kesehatan sebagai prasyarat utama penerapan WWLST yang bermartabat, legal, dan manusiawi.