Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH PEMASANGAN CONTROLLED MODULUS COLUMN (CMC) PADA DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN TANAH LUNAK Julita Hayati; Alfredo, Alexander; Sitepu, Arif Rahman Hakim; Syuhada, Syahidus
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 31 No 1 (2026): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jtsa.v31i1.5773

Abstract

The construction of a structure on soft soil has the potential for structural failure. This phenomenon occurs because the low bearing capacity of soft soil is accompanied by high compressibility, resulting in large settlements and low stability. This problem needs to be solved by soil improvement. In the Indrapura–Kisaran STA 112 + 500 Toll Road Construction Project, soil will be filled more than the ground's bearing capacity. Therefore, a soil improvement method using a Controlled Modulus Column (CMC) is necessary. The analysis method used in this study uses analytical methods and the finite element method (FEM). The analysis was performed by comparing the bearing capacity and settlement in conditions without improvement (preloading) and with improvement using CMC. The installation of CMC with a spacing of 1 meter, a diameter of 0.42 meters, an LTP thickness of 1 meter, and a concrete quality of 16.41 MPa showed an increase in soil bearing capacity of 30%. The rise in ground bearing capacity also affected soil compressibility, resulting in a reduction of up to 68% in soil settlement. Therefore, installing CMC on soft soil effectively increases bearing capacity and reduces settlement. Ground stability is improved, with the safety factor rising to 2.11. Keyword: bearing capacity, Controlled Modulus Column (CMC), settlement, soft soil, soil improvement
Pendampingan Teknis Pengelolaan Limbah Industri Batching Plant dan Asphalt Mixing Plant dalam Mendukung Penyediaan Material Konstruksi Beton Ribowo, Anggarani Budi; Susanti, Junita Eka; Kurniawan, Rahmat; Dwiyana, Putri Ayu; Saputra, Cahyo Agung; Prayogi, Galih Rio; Fitriana, Indri Rahmandhani; Hayati, Julita; Mardika, M Gilang Indra; Aprilia, Ayu Sinta; Khanza, Ayu Kamila; Michael, Michael; Yudi, Ahmad; Nadi, Muhammad Abi Berkah; Wirawan, Nugraha Bintang
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 3 (2026): Bulan Februari
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i3.1232

Abstract

Industri Batching Plant dan Asphalt Mixing Plant (AMP) berperan strategis dalam penyediaan material konstruksi, namun aktivitas operasionalnya menghasilkan limbah padat dan cair yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola secara optimal. Sebagai upaya mendukung pengelolaan limbah yang berkelanjutan, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Sumatera (ITERA) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Provinsi Lampung dengan fokus pada pendampingan identifikasi, pengolahan, dan pemanfaatan limbah industri sebagai bahan baku alternatif beton non-struktural ramah lingkungan. Metode kegiatan meliputi observasi lapangan untuk mengidentifikasi jenis dan volume limbah, pengambilan sampel sludge beton, sisa agregat, serta debu produksi AMP, pengujian karakteristik fisik material di laboratorium, dan perancangan variasi campuran beton dengan substitusi sebagian agregat menggunakan material limbah yang telah melalui proses pengeringan dan pengayakan. Evaluasi dilakukan melalui pengujian kuat tekan beton pada beberapa variasi komposisi limbah. Hasil menunjukkan bahwa pada komposisi limbah 20%–30%, beton non-struktural mampu mencapai kuat tekan rata-rata 12,73 MPa dan masih memenuhi persyaratan teknis untuk aplikasi seperti paving block dan elemen pracetak ringan. Namun, pada komposisi 75%, kuat tekan menurun signifikan menjadi 5,85 MPa. Dengan ketersediaan limbah sekitar 1–2 ton per minggu, pemanfaatan optimal pada kisaran 20%–30% berpotensi mendukung produksi beton non-struktural berkelanjutan serta penerapan prinsip ekonomi sirkular di sektor konstruksi.
Analisis Pengaruh Kuat Tarik Geosintetik Pada Perkuatan Tanah Lunak Metode Geosynthetic Encased Stone Columns (GESC) Julita Hayati; Syahidus Syuhada; Celvin Shahroni
Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Volume 9 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/be.v9i1.32

Abstract

Infrastructure development must consider soil conditions to avoid settlement and bearing capacity failure. This problem can occur if construction is carried out on soft soil due to the nature of soft soil, which has low load-bearing capacity and high compressibility. Soft soil is found in the Indrapura-Kisaran Toll Road Construction Project at STA 112+550 and has a geometry that requires a high embankment, necessitating soil reinforcement to address the issue. In this study, the Geosynthetic Encased Stone Columns (GESC) method was used with variations in geosynthetic tensile strength of 150 kN/m, 200 kN/m, 300 kN/m, and 400 kN/m. The analysis process conducted in this study involves analyzing the bearing capacity and settlement conditions without and with reinforcement using analytical and numerical methods. Generally, the magnitude of bearing capacity and reduction in settlement due to reinforcement with geosynthetic-encased stone columns is influenced by the tensile strength of the geosynthetic, spacing, and installation pattern. After reinforcement, the soil-bearing capacity increased by 75 to 84%. In addition, due to the GESC reinforcement, there was a reduction in settlement of up to 86% using the analytical method and 61.8% using the numerical method. There was an increase in the stability of the embankment, where before reinforcement the stability was 1,453, and after reinforcement, it became 1,596 to 1,828.
Studi Daya Dukung dan Distribusi Beban Fondasi Tiang Bor Terhadap Static Loading Test Yang Terinstrumentasi Julita Hayati; Muhammad Faisal Nugraha; Syahidus Syuhada
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1255

Abstract

Abstrak   Dalam merancang sebuah fondasi diperlukan pengujian lapangan untuk mengevaluasi kemampuan dan kinerja struktur serta memverifikasi kemampuan fondasi yang terpasang dalam menaham beban yang telah direncanakan. Uji pembebanan yang terinstrumentasi dapat dilakukan untuk mengetahui daya dukung fondasi dan secara spesifik mencatat perilaku beban-deformasi yang diterima tiang selama uji pembebanan. Oleh karena itu peneliti bermaksud menganalisis daya dukung aksial dan distribusi beban pada fondasi bored pile terhadap hasil static loading test terinstrumentasi vibrating wire strain gauge dan tell-tale ekstensometer. Penelitian ini menggunakan persamaan empiris  dan program geoteknik dalam mengestimasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa daya dukung aksial static loading test lebih besar dibandingkan dengan daya dukung teoritisnya sehingga menunjukkan fondasi mampu menahan beban yang direncanakan. Distribusi beban hasil instrumentasi menunjukkan >90% beban telah terdistribusi pada selimut tiang sehingga perlu dilakukan pemendekan tiang.   Kata kunci: daya dukung aksial, distribusi beban, Static Loading Test, Tell-Tale Eksensometer, VWSG     Abstract   In designing a foundation, field testing is necessary to evaluate the capacity and performance of the pile and verify the installed foundation's ability to resist the structure load. Instrumented loading tests can be conducted to determine the load-bearing capacity of the foundation and the load-deformation behavior experienced by the piles during the loading test. Therefore, the researchers analyze the axial load-bearing capacity and load distribution on the bored pile foundation based on the results of the static loading test using an instrumented VWSG and Tell-Tale Extensometer. This research uses empirical equations and geotechnical programs. The analysis results show that the axial bearing capacity from the static loading test is greater than its theoretical bearing capacity, indicating that the foundation can withstand the structural load. The load distribution from the instrumentation results shows that >90% of the load has been distributed to the skin friction pile, so pile shortening is necessary.   Keywords: axial bearing capacity, load distribution, Static Loading Test, Tell-Tale Eksensometer, VWSG
Studi Daya Dukung dan Distribusi Beban Fondasi Tiang Bor Terhadap Static Loading Test Yang Terinstrumentasi Julita Hayati; Muhammad Faisal Nugraha; Syahidus Syuhada
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 15 No. 2 (2025): Teras Jurnal (September)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v15i2.1255

Abstract

Abstrak   Dalam merancang sebuah fondasi diperlukan pengujian lapangan untuk mengevaluasi kemampuan dan kinerja struktur serta memverifikasi kemampuan fondasi yang terpasang dalam menaham beban yang telah direncanakan. Uji pembebanan yang terinstrumentasi dapat dilakukan untuk mengetahui daya dukung fondasi dan secara spesifik mencatat perilaku beban-deformasi yang diterima tiang selama uji pembebanan. Oleh karena itu peneliti bermaksud menganalisis daya dukung aksial dan distribusi beban pada fondasi bored pile terhadap hasil static loading test terinstrumentasi vibrating wire strain gauge dan tell-tale ekstensometer. Penelitian ini menggunakan persamaan empiris  dan program geoteknik dalam mengestimasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa daya dukung aksial static loading test lebih besar dibandingkan dengan daya dukung teoritisnya sehingga menunjukkan fondasi mampu menahan beban yang direncanakan. Distribusi beban hasil instrumentasi menunjukkan >90% beban telah terdistribusi pada selimut tiang sehingga perlu dilakukan pemendekan tiang.   Kata kunci: daya dukung aksial, distribusi beban, Static Loading Test, Tell-Tale Eksensometer, VWSG     Abstract   In designing a foundation, field testing is necessary to evaluate the capacity and performance of the pile and verify the installed foundation's ability to resist the structure load. Instrumented loading tests can be conducted to determine the load-bearing capacity of the foundation and the load-deformation behavior experienced by the piles during the loading test. Therefore, the researchers analyze the axial load-bearing capacity and load distribution on the bored pile foundation based on the results of the static loading test using an instrumented VWSG and Tell-Tale Extensometer. This research uses empirical equations and geotechnical programs. The analysis results show that the axial bearing capacity from the static loading test is greater than its theoretical bearing capacity, indicating that the foundation can withstand the structural load. The load distribution from the instrumentation results shows that >90% of the load has been distributed to the skin friction pile, so pile shortening is necessary.   Keywords: axial bearing capacity, load distribution, Static Loading Test, Tell-Tale Eksensometer, VWSG
Studi Pengaruh Kedalaman Penetrasi dan Konsistensi Tanah Terhadap Kestabilan Dinding Sheet Pile Kantilever Ariel Krisar Abyasa; Julita Hayati
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2026): Teras Jurnal (September 2026)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i2.1368

Abstract

Abstrak   Kinerja dinding sheet pile kantilever sangat dipengaruhi oleh konsistensi tanah. Studi ini mengevaluasi kinerja dinding sheet pile kantilever dengan memfokuskan analisis pada pengaruh rasio kedalaman penetrasi terhadap kedalaman galian (D/H) dan variasi konsistensi tanah. Menggunakan pemodelan numerik berbasis metode elemen hingga (FEM) dengan Hardening Soil Model, penelitian ini mensimulasikan respons struktur pada empat jenis tanah homogen, yaitu lempung lunak, lempung kaku, pasir lepas, dan pasir padat sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio D/H meningkatkan nilai SF secara linear, sedangkan reduksi defleksi dan momen lentur bersifat nonlinier (hiperbolik). Secara kuantitatif, pada galian terdalam (H = 12 m), stiff clay menunjukkan stabilitas tertinggi dengan SF 1,024 sedangkan medium dense sand dengan SF 1,005. Temuan krusial menunjukkan bahwa soft clay hanya mampu menahan galian maksimum hingga 4 m (SF = 1,01), sementara loose sand mencapai batas kritis pada kedalaman 9 m. Analisis deformasi mengidentifikasi adanya zona sensitif, yaitu rentang rasio D/H di mana penambahan penetrasi memberikan reduksi defleksi paling signifikan. Zona ini berada pada rasio D/H 1,5–4,0 untuk tanah lempung kaku dan pasir, serta bergeser ke rasio yang lebih tinggi, yaitu 6,5–9,0, untuk lempung lunak. Penambahan penetrasi di luar rentang tersebut terbukti tidak efektif secara marginal dalam meningkatkan stabilitas karena dinding telah mencapai kondisi yang stabil. Pada tanah lempung lunak penggunaan perkuatan tambahan, seperti angkur, sangat direkomendasikan guna memitigasi risiko kegagalan basal heave.   Kata kunci: dinding sheet pile, rasio D/H, faktor keamanan, defleksi lateral, momen lentur.   Abstract The performance of cantilever sheet pile walls is significantly influenced by soil consistency. This study evaluates the performance of cantilever sheet pile walls, focusing the analysis on the effects of the penetration depth-to-excavation depth ratio (D/H) and variations in soil consistency. Utilizing numerical modeling based on the finite element method (FEM) with the hardening soil model, this research simulates the structural response across four types of homogenous soils: soft clay, stiff clay, loose sand, and medium-dense sand. The results indicate that increasing the D/H ratio linearly improves the safety factor (SF), whereas the reductions in deflection and bending moment exhibit non-linear (hyperbolic) behavior. Quantitatively, at the deepest excavation (H = 12 m), stiff clay shows the highest stability with an SF of 1.024, while medium dense sand has an SF of 1.005. Crucial findings reveal that soft clay can only sustain a maximum excavation depth of up to 4 m (SF = 1.01), while loose sand reaches its critical limit at a depth of 9 m. Deformation analysis identifies a sensitive zone, defined as the D/H ratio range where further penetration yields the most significant reduction in deflection. This zone spans a D/H ratio of 1.5–4.0 for stiff clay and sandy soils, shifting to a higher range of 6.5–9.0 for soft clay. Penetration beyond this range provides negligible marginal benefits in enhancing stability because the wall has already reached a stable condition. For soft clay soils, the implementation of additional reinforcement, such as anchors, is highly recommended to mitigate the risk of basal heave failure.   Keywords: sheet pile wall, D/H ratio, safety factor, lateral deflection, bending moment.
Studi Pengaruh Kedalaman Penetrasi dan Konsistensi Tanah Terhadap Kestabilan Dinding Sheet Pile Kantilever Ariel Krisar Abyasa; Julita Hayati
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol 16 No 2 (2026): Teras Jurnal (September 2026)
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i2.1368

Abstract

Abstrak   Kinerja dinding sheet pile kantilever sangat dipengaruhi oleh konsistensi tanah. Studi ini mengevaluasi kinerja dinding sheet pile kantilever dengan memfokuskan analisis pada pengaruh rasio kedalaman penetrasi terhadap kedalaman galian (D/H) dan variasi konsistensi tanah. Menggunakan pemodelan numerik berbasis metode elemen hingga (FEM) dengan Hardening Soil Model, penelitian ini mensimulasikan respons struktur pada empat jenis tanah homogen, yaitu lempung lunak, lempung kaku, pasir lepas, dan pasir padat sedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio D/H meningkatkan nilai SF secara linear, sedangkan reduksi defleksi dan momen lentur bersifat nonlinier (hiperbolik). Secara kuantitatif, pada galian terdalam (H = 12 m), stiff clay menunjukkan stabilitas tertinggi dengan SF 1,024 sedangkan medium dense sand dengan SF 1,005. Temuan krusial menunjukkan bahwa soft clay hanya mampu menahan galian maksimum hingga 4 m (SF = 1,01), sementara loose sand mencapai batas kritis pada kedalaman 9 m. Analisis deformasi mengidentifikasi adanya zona sensitif, yaitu rentang rasio D/H di mana penambahan penetrasi memberikan reduksi defleksi paling signifikan. Zona ini berada pada rasio D/H 1,5–4,0 untuk tanah lempung kaku dan pasir, serta bergeser ke rasio yang lebih tinggi, yaitu 6,5–9,0, untuk lempung lunak. Penambahan penetrasi di luar rentang tersebut terbukti tidak efektif secara marginal dalam meningkatkan stabilitas karena dinding telah mencapai kondisi yang stabil. Pada tanah lempung lunak penggunaan perkuatan tambahan, seperti angkur, sangat direkomendasikan guna memitigasi risiko kegagalan basal heave.   Kata kunci: dinding sheet pile, rasio D/H, faktor keamanan, defleksi lateral, momen lentur.   Abstract The performance of cantilever sheet pile walls is significantly influenced by soil consistency. This study evaluates the performance of cantilever sheet pile walls, focusing the analysis on the effects of the penetration depth-to-excavation depth ratio (D/H) and variations in soil consistency. Utilizing numerical modeling based on the finite element method (FEM) with the hardening soil model, this research simulates the structural response across four types of homogenous soils: soft clay, stiff clay, loose sand, and medium-dense sand. The results indicate that increasing the D/H ratio linearly improves the safety factor (SF), whereas the reductions in deflection and bending moment exhibit non-linear (hyperbolic) behavior. Quantitatively, at the deepest excavation (H = 12 m), stiff clay shows the highest stability with an SF of 1.024, while medium dense sand has an SF of 1.005. Crucial findings reveal that soft clay can only sustain a maximum excavation depth of up to 4 m (SF = 1.01), while loose sand reaches its critical limit at a depth of 9 m. Deformation analysis identifies a sensitive zone, defined as the D/H ratio range where further penetration yields the most significant reduction in deflection. This zone spans a D/H ratio of 1.5–4.0 for stiff clay and sandy soils, shifting to a higher range of 6.5–9.0 for soft clay. Penetration beyond this range provides negligible marginal benefits in enhancing stability because the wall has already reached a stable condition. For soft clay soils, the implementation of additional reinforcement, such as anchors, is highly recommended to mitigate the risk of basal heave failure.   Keywords: sheet pile wall, D/H ratio, safety factor, lateral deflection, bending moment.
PENGARUH CURAH HUJAN, KEMIRINGAN LERENG SERTA BEBAN GEMPA TERHADAP STABILITAS LERENG DENGAN METODE KESETIMBANGAN BATAS Arif Rahman Hakim Sitepu; Agnes Dallis Evalinesuri; Julita Hayati; Syahidus Syuhada; Andry Yuliyanto; Elian Zhafira; Anggarani Budi Ribowo
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 No. 1 (2024): STATIKA JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v10i1.576

Abstract

Lereng saat hujan sering mengalami kelongsoran, maka dilakukan penelitian menggunakan metode kesetimbangan batas yaitu metode bishop untuk mencari nilai faktor of safety (FOS) lereng dengan kemiringan lereng 30,45, dan 60. Intensitas hujan yang digunakan yaitu 20 mm/jam, 50 mm/jam, dan 100 mm/jam. Longsor juga disebabkan oleh gempa, pada pemodelan digunakan percepatan gempa sebesar 0,304. Berdasarkan hasil analisis, pengaruh dari curah hujan dan percepatan gempa mengakibatkan nilai FOS menurun. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai FOS tereduksi rata-rata 1,4% terhadap hujan, 18% terhadap kemiringan, dan 37% terhadap gempa. Hal ini menunjukkan bahwa lereng yang tidak stabil akibat dari adanya gaya gravitasi yang mendoorng material terjatuh kebawah serta adanya infiltrasi air hujan dan menambah berat tanah karena kenaikan air pori tanah. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng pada kondisi stabil pada kemiringan 30 karena FOS>1,5 dalam kondisi statik dan FOS>1 dalam kondisi dinamik.
Penentuan Soil Behavior Type (SBT) dan Konsistensi Tanah Hasil Uji Cone Penetrometer Test (CPT) di Masjid At Tanwir ITERA Sebagai Langkah Awal Perencanaan Pondasi. Syahidus Syuhada; Cahyo Agung Saputra; Rahmat Kurniawan; Arif Rahman Hakim Sitepu; Julita Hayati; M. Abi Berkah Nadi; Ayu Sinta Aprilia; Erlina Kurnianingtyas
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 No. 1 (2024): STATIKA JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v10i1.579

Abstract

Cone Penetration Test (CPT), atau yang dikenal sebagai sondir, merupakan metode penyelidikan geoteknik yang sering digunakan untuk menentukan profil tanah dan kedalaman lapisan tanah keras. Robertson mengembangkan metode klasifikasi tanah yang berbasis pada data CPT, yang memungkinkan interpretasi stratigrafi tanah serta estimasi sifat-sifat mekanis tanah, seperti kekuatan geser dan konsolidasi. Selain efisien dari segi biaya, CPT juga memberikan keuntungan dalam hal kecepatan pelaksanaan di lapangan dibandingkan metode uji tanah lainnya. Penelitian ini menyajikan metode untuk mengklasifikasikan jenis perilaku tanah (Soil Behavior Type/SBT) berdasarkan data CPT menggunakan pendekatan dari Robertson. Hasil analisis ini tidak hanya membantu mengidentifikasi jenis tanah seperti lempung, lanau, pasir, dan kerikil, tetapi juga memberikan wawasan penting dalam desain fondasi, penentuan kapasitas dukung tanah, dan penanganan risiko geoteknik lainnya, seperti potensi likuifaksi dan stabilitas lereng. Pada penelitian ini dilakukan 4 titik pengujian untuk menentukan stratigrafi tanah yang ada di sekitar Masjid At Tanwir ITERA, Lampung Selatan. Dengan menggunakan SBT dari Robertson, didapatkan hasil kira – kira dari kedalaman 0 – 3 m dari permukaan tanah merupakan formasi tanah berbutir halus dan 3 - 6.8 m diisi oleh tanah berbutir kasar. Untuk konsistensi tanah yang didapatkan merupakan jenis tanah Stiff di permukaan dan Medium Dense – Dense untuk lapisan sampai kedalaman tanah keras.
ANALISIS DAYA DUKUNG TIANG BOR MENGGUNAKAN METODE EMPIRIK DARI DATA PENGUJIAN SONDIR: ANALISIS DAYA DUKUNG TIANG BOR MENGGUNAKAN METODE EMPIRIK DARI DATA PENGUJIAN SONDIR Arif Rahman Hakim Sitepu; Riyan Hari Putra; D. Nofria Riska; Rahmat Kurniawan; Cahyo Agung Saputra; Syahidus Syuhada; Julita Hayati; Erdina Tyagita Utami
STATIKA: Jurnal Teknik Sipil Vol. 10 No. 2 (2024): STATIKA : JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Politeknik Raflesia Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53494/jts.v10i2.714

Abstract

Proyek pembangunan bangunan bertingkat, menggunakan fondasi tiang bor (bore pile) sebagai struktur utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung fondasi dengan membandingkan metode Meyerhof dan metode Aoki dan De Alencar berdasarkan data hasil uji sondir (Cone Penetration Test). Data sondir dianalisis untuk menentukan nilai qc, tahanan ujung, dan tahanan gesek. Perhitungan daya dukung fondasi dilakukan hingga diperoleh nilai daya dukung ultimit dan daya dukung ijin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Meyerhof menghasilkan daya dukung ultimit sebesar 118,084 ton, lebih tinggi dibandingkan metode Aoki dan De Alencar yang menghasilkan daya dukung sebesar 72,338 ton. Hal ini menunjukkan bahwa metode Meyerhof mempertimbangkan kontribusi tahanan gesek dan tahanan ujung, sedangkan metode Aoki dan De Alencar hanya mempertimbangkan tahanan ujung. Pemilihan metode perhitungan daya dukung fondasi harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan struktur untuk memastikan desain yang aman dan efisien.